Bobo telah selesai membuat pistol dari kayu dan pelurunya karet, ya segera pergi ke rumah Andi dengan membawa mainan plastik tentara. Sampai di rumah Andi, ya terlihat Andi sedang asik main tembak-tembakan pada pistol karetnya untuk menjatuhkan mainan plastik tentara yang di jejer dengan baik di lantai. Ya Bobo ikutan juga gitu main tembak-tembakan, sampai Heru dateng ke tempat Andi.
Di jejerkan mainan plastik tentara, ya sepuluh. Bobo pun sedang memegang pistol karet yang ia buat sendiri. Di tembakin oleh Bobo maninan plastik tentara satu persatu sampai jatuh semuanya.
"Aku penembak jitu," kata Bobo.
"Bobo, kalau di tembak dari jarak sejengkal sih....otomatis kena semuanya," kata Andi.
"Ya...deh. Jarak tembaknya aku atur lagi, jadi satu meter," kata Bobo.
"Masih kurang Bobo, ya tambah satu meter lagi!" kata Andi.
"Jauh amat nanti susah menembak mengenai sasarannya," kata Bobo.
"Ya....usahakan kena sasarannya!" kata Andi.
"Baiklah," saut Bobo.
Bobo pun mulai menembak mainan plastik tentara yang di jejer sepuluh gitu. Ya....Bobo banyak gagal mengenai mainan plastik tentara.
"Gagal terus. Cuma kenanya empat," kata Bobo.
"Ketahuan kamu tidak penembak jitu, jika jaraknya jauh," kata Andi.
"Iya," saut Andi.
"Sekarang giliran aku!" kata Andi.
"Silakan!!!!" kata Bobo.
Andi pun bersiap untuk menembak dengan pistol karet yang di buatnya sendiri. Ya mainan plastik tentara sudah di jejer sepuluh gitu. Di tembakkin mainan plastik tentara dengan serius oleh Andi sampai kena. Ternyata Andi cuma bisa lima yang kena sampai mainan plastik tentara terpental terkena karet, ya roboh lah.
"Ternyata aku....bisanya lima, lebih dari Bobo sih..
.satu," kata Andi.
"Iya....deh kamu hebat lebih satu dari aku!" pujian Bobo.
"Yo....i," saut Andi.
Heru dateng ke rumah Andi, ya membawa pistol karet yang lebih panjang bentuknya dari Bobo dan Andi dan juga membawa mainan plastik tentara.
"Bobo, Andi.....ayo kita bertaruh mainan plastik tentara!" kata Heru menantang.
"Baiklah, berapa taruhannya?" kata Andi.
"Sepuluh mainan plastik tentara. Karena pertaruhan peluru karetnya ya.....sepuluh juga," kata Heru.
"Taruhan yang cukup banyak," kata Bobo.
"Aku....setuju," kata Andi.
"Gimana dengan kamu..
Bobo?" tanya Heru.
"Iya....setujuh, sepuluh....kan," jawab Bobo.
"Ayo mulai. Permainannya!!!!" kata Heru.
Heru pun menjejerkan sepuluh mainan plastik tentara dan setelah itu suitan dengan Andi dan Bobo untuk menentukan siapa yang akan mulai permainannya. Ya ternyata Andi duluan, lalu Heru dan terakhir Bobo.
Andi bersiap menembak mainan plastik tentara dari jarak dua meter. Dengan serius banget Andi menembak sasaran, ya dengan di jatah peluru karetnya sepuluh berarti tidak boleh gagal nembak. Ya....akhirnya Andi hanya bisa tujuh. Ya gantian dengan penembak berikutnya Heru. Dengan serius Heru menembak mainan plastik tentara. Akhirnya sih Heru hanya bisa sembilan saja.
"Sembilan lebih dari Andi. Tapi sayang satu gagal," kata Heru.
Giliran Bobo untuk menembak mainan plastik tentara dengan penuh serius banget. Usaha Bobo berhasil menembak sepuluh mainan plastik tentara.
"Aku berhasil. Aku pemenangnya," kata Bobo yang senang banget.
"Aku...kalah," kata Andi.
"Aku juga kalah," kata Heru.
"Ini taruhannya Bobo, sepuluh mainan plastik tentara," kata Heru sambil memberikan mainan plastik tentara ke tangan Bobo.
"Terima kasih," kata Bobo.
"Iya....aku serahkan sepuluh....mainan plastik tentara ke kamu Bobo," kata Andi sambil memberikan mainan plastik tentara ke tangan Bobo.
"Terima kasih.....," kata Bobo.
Hari pun mulai sore, ya mengakhiri permainan hari ini. Ya Bobo dan Heru ya pulang ke rumah masing-masing dan pamitan dengan Andi. Sampai di persimpangan jalan, ya Bobo dan Heru pisah jalan. Sampai lah Bobo di rumah.
"Aku pulang Ibu," kata Bobo.
"Iya, saut Ibu yang sibuk melipet baju dedek bayi.
Bobo pun segera ke kamarnya menaruh mainannya di meja belajar, ya setelah keluar dari kamar untuk mandi. Setelah tubuh Bobo harum, ya habis mandi. Seperti biasanya Bobo mengerjakan PRnya di kamarnya dengan penuh serius.
CAMPUR ADUK
Wednesday, January 22, 2020
MAIN GASING
Bobo yang masuk rumah, ya segera berganti pakaian gitu, lalu makan dan setelah itu masuk kamar lagi untuk mengerjakan PR. Hanya sebentar saja sih Bobo selesai mengerjakan PRnya. Ya berniat mau main gitu ke rumah Andi.....untuk bermain gasing yang baru di belinya seusai pulang sekolah.
"Ibu, Bobo mau main ke rumah Andi. Untuk main gasing," katanya.
"Iya, Bobo mainlah....tetapi jangan pulangnya sore-sore!" kata Ibu.
"Iya, Ibu," kata Bobo.
Bobo pun keluar dari rumah. Ibu ya biasa sibuk momong dedek bayi, ya sambil ini dan itu beres rumah dan juga masih sempet nyantai nonton Tv......pastinya berita.
Bobo berjalan menuju rumahnya Andi. Ya sampai juga di rumahnya Andi. Sedang Andi asik main gasing gitu di teras rumahnya.
"Andi, ayo kita adu gasing!" kata Bobo.
"Ayo," kata Andi.
"Tetapi mana Heru?" kata Bobo.
"Heru bentar lagi dateng kesini!" kata Andi.
Andi pun masuk ke dalam rumahnya dan mengambil baskom yang besar banget, ya di bawa ke teras rumah sih.
"Ayo kita adu gasing," kata Andi menaruh baskom yang besar di lantai.
"Loh... pake baskom yang ukuran besar?" tanya Bobo.
"Katanya....adu gasing," kata Andi.
"Iya sih. Tapi kan adu....gasingnya yang cuma lamanya gasing berputar, jadi gak pake baskom," kata Bobo.
"Gak serulah.....Bobo kalau hanya lamanya gasing berputar. Yang serunya di adu aja. Saat gasing masuk ke dalam baskom kan nanti berbenturan gitu dari proses pergerakan gasing berputarnya," penjelasan Andi.
"Iya-iya.....kaya di film kartunnya. Pasti bayangan roh pada gasing muncul," kata Bobo.
"Gak mungkinlah roh gasing muncul. Itu cuma cerita film kartun, ya hayalan saja," kata Andi.
"Sudahlah ayo......main!" kata Bobo.
"Ayo!!!" kata Bobo.
Bobo dan Andi mulai adu gasingnya, ya terbuat dari plastik gitu. Alat pemutar pada gasing di tarik dengan kuat dan cepat. Gasing jatuh di baskom yang besar, ya berputar dan berbenturan dan kembali lagi berbenturan.
"Gasing ku yang pasti menang," kata Bobo.
"Gasing ku lah...yang pasti menang," kata Andi.
Bobo dan Andi lagi asik melihat gasing yang masih berputar dan beradu ketika kerdekatan. Heru dateng juga ke rumah Andi, ya bawa gasing.
"Teman-teman...aku ikut main gasing," kata Heru.
Andi dan Bobo...kaget melihat gasing yang di bawa Heru.
"Kok, gasing kayu," kata Bobo.
"Iya, gasing kayu....dengan ukuran besar," kata Andi.
"Inikan...gasing tradisional," kata Heru.
"Iya sih gasing tradisional. Tapi kan kalau di adu...gasing ku hancur," kata Andi.
"Kalau di adu dengan kayu melawan plastik, ya plastik ya hancur," kata Bobo.
"Adu...lama berputar saja!!!!" kata Heru.
"Kalau adu lama berputar sih gak ada masalah sih. Mau gasing kayu mau pun gasing plastik....sih," kata Andi.
"Iya gak ada masalah," saut Bobo.
"Tapi....tunggu dulu deh. Jangan-jangan gasing kamu....itu gasing tengkorak, kaya di film-film gitu," kata Andi.
"Hiii serem," saut Bobo.
"Bukan lah," kata Heru.
Gasingnya Bobo menang dan tetap bertahan, ya masih berputar gitu. Sedangkan gasing Andi berhenti. Ya mulai lah adu gasing lagi, tapi tidak pake baskom yang besar. Gasing Andi berputar cepat, ya namanya gasing zaman sekarang sih bercahaya dan bunyi lagi, ada lagunya. Gasingnya Bobo....ya berputar, tetapi ya biasa-biasa aja karena beli yang murah harganya sesuai dengan uang jajannya. Gasingnya Heru uang terbuat dari kayu dan sebenarnya itu gasing mainan Kakeknya Heru saat ia masih muda, ya sekarang di mainkan dengan baik. Di tunggu lama banget adu lamanya gasing berputar, ya akhirnya gasingnya Bobo dan Andi kalah dengan gasingnya Heru yang terbuat dari kayu.
"Aku memang," kata Heru yang senang.
Ya kembali di adu lagi sih gasing untuk membuktikan pemenang sejatinya. Eeee berkali-kali....gasing Heru menang. Bobo dan Andi muram durja karena kalah.
Hari sudah sore, ya mengakhirilah permainan gasing. Bobo pulang bersama Heru ya menuju rumah masing-masing. Sedang Andi membereskan semua benda yang di gunakan untuk main gasing. Saat melewati rumah yang tua gitu, ya terdengar suara bayi, tapi tidak ada orang sama sekali di situ....ya termasuk bayi juga.
Bulu kuduk Bobo berdiri dan berkata "Setan".
"Hussss!!!! Ngomong apa kamu Bobo?!!" kata Heru.
"Setan....
Heru. Ada suara bayi tapi gak ada orangnya. Sepi tahu keadaan di sini!!!" kata Bobo.
"Jangan takut Bobo...ini cuma mainan...Paman Eko, yang membuat Kincir dari kayu sebagai sumber energi untuk menghidupkan suara mainan yaitu suara bayi. Setiap angin bertiup, ya suara bayi pun berbunyi," penjelasan Heru sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah kincir yang terbuat dari kayu.
"Oh....cuma mainan. Itu namanya iseng," kata Bobo.
"Iseng-iseng, tapi kreatif Paman Eko," pujian Heru.
"Iya...sih kreatif," kata Bobo.
Bobo dan Heru melanjutkan perjalanan. Sampai di persimpangan, ya pisah jalannya menuju rumah masing-masing. Bobo segera cepat sampai ke rumah, dengan berjalan cepat. Sampai juga di rumah, ya masuk rumah sih.
"Ibu...aku pulang," kata Bobo.
"Iya," saut Ibu.
Bobo pun segera menaruh gasingnya di dalam kamarnya, ya tepatnya di atas meja belajar. Lalu Bobo keluar dari kamar untuk mandi. Baru setelah itu makan malam bersama Ibu dan Ayah, ya dedek bayi yang masih minum susu pake botol.
"Ibu, Bobo mau main ke rumah Andi. Untuk main gasing," katanya.
"Iya, Bobo mainlah....tetapi jangan pulangnya sore-sore!" kata Ibu.
"Iya, Ibu," kata Bobo.
Bobo pun keluar dari rumah. Ibu ya biasa sibuk momong dedek bayi, ya sambil ini dan itu beres rumah dan juga masih sempet nyantai nonton Tv......pastinya berita.
Bobo berjalan menuju rumahnya Andi. Ya sampai juga di rumahnya Andi. Sedang Andi asik main gasing gitu di teras rumahnya.
"Andi, ayo kita adu gasing!" kata Bobo.
"Ayo," kata Andi.
"Tetapi mana Heru?" kata Bobo.
"Heru bentar lagi dateng kesini!" kata Andi.
Andi pun masuk ke dalam rumahnya dan mengambil baskom yang besar banget, ya di bawa ke teras rumah sih.
"Ayo kita adu gasing," kata Andi menaruh baskom yang besar di lantai.
"Loh... pake baskom yang ukuran besar?" tanya Bobo.
"Katanya....adu gasing," kata Andi.
"Iya sih. Tapi kan adu....gasingnya yang cuma lamanya gasing berputar, jadi gak pake baskom," kata Bobo.
"Gak serulah.....Bobo kalau hanya lamanya gasing berputar. Yang serunya di adu aja. Saat gasing masuk ke dalam baskom kan nanti berbenturan gitu dari proses pergerakan gasing berputarnya," penjelasan Andi.
"Iya-iya.....kaya di film kartunnya. Pasti bayangan roh pada gasing muncul," kata Bobo.
"Gak mungkinlah roh gasing muncul. Itu cuma cerita film kartun, ya hayalan saja," kata Andi.
"Sudahlah ayo......main!" kata Bobo.
"Ayo!!!" kata Bobo.
Bobo dan Andi mulai adu gasingnya, ya terbuat dari plastik gitu. Alat pemutar pada gasing di tarik dengan kuat dan cepat. Gasing jatuh di baskom yang besar, ya berputar dan berbenturan dan kembali lagi berbenturan.
"Gasing ku yang pasti menang," kata Bobo.
"Gasing ku lah...yang pasti menang," kata Andi.
Bobo dan Andi lagi asik melihat gasing yang masih berputar dan beradu ketika kerdekatan. Heru dateng juga ke rumah Andi, ya bawa gasing.
"Teman-teman...aku ikut main gasing," kata Heru.
Andi dan Bobo...kaget melihat gasing yang di bawa Heru.
"Kok, gasing kayu," kata Bobo.
"Iya, gasing kayu....dengan ukuran besar," kata Andi.
"Inikan...gasing tradisional," kata Heru.
"Iya sih gasing tradisional. Tapi kan kalau di adu...gasing ku hancur," kata Andi.
"Kalau di adu dengan kayu melawan plastik, ya plastik ya hancur," kata Bobo.
"Adu...lama berputar saja!!!!" kata Heru.
"Kalau adu lama berputar sih gak ada masalah sih. Mau gasing kayu mau pun gasing plastik....sih," kata Andi.
"Iya gak ada masalah," saut Bobo.
"Tapi....tunggu dulu deh. Jangan-jangan gasing kamu....itu gasing tengkorak, kaya di film-film gitu," kata Andi.
"Hiii serem," saut Bobo.
"Bukan lah," kata Heru.
Gasingnya Bobo menang dan tetap bertahan, ya masih berputar gitu. Sedangkan gasing Andi berhenti. Ya mulai lah adu gasing lagi, tapi tidak pake baskom yang besar. Gasing Andi berputar cepat, ya namanya gasing zaman sekarang sih bercahaya dan bunyi lagi, ada lagunya. Gasingnya Bobo....ya berputar, tetapi ya biasa-biasa aja karena beli yang murah harganya sesuai dengan uang jajannya. Gasingnya Heru uang terbuat dari kayu dan sebenarnya itu gasing mainan Kakeknya Heru saat ia masih muda, ya sekarang di mainkan dengan baik. Di tunggu lama banget adu lamanya gasing berputar, ya akhirnya gasingnya Bobo dan Andi kalah dengan gasingnya Heru yang terbuat dari kayu.
"Aku memang," kata Heru yang senang.
Ya kembali di adu lagi sih gasing untuk membuktikan pemenang sejatinya. Eeee berkali-kali....gasing Heru menang. Bobo dan Andi muram durja karena kalah.
Hari sudah sore, ya mengakhirilah permainan gasing. Bobo pulang bersama Heru ya menuju rumah masing-masing. Sedang Andi membereskan semua benda yang di gunakan untuk main gasing. Saat melewati rumah yang tua gitu, ya terdengar suara bayi, tapi tidak ada orang sama sekali di situ....ya termasuk bayi juga.
Bulu kuduk Bobo berdiri dan berkata "Setan".
"Hussss!!!! Ngomong apa kamu Bobo?!!" kata Heru.
"Setan....
Heru. Ada suara bayi tapi gak ada orangnya. Sepi tahu keadaan di sini!!!" kata Bobo.
"Jangan takut Bobo...ini cuma mainan...Paman Eko, yang membuat Kincir dari kayu sebagai sumber energi untuk menghidupkan suara mainan yaitu suara bayi. Setiap angin bertiup, ya suara bayi pun berbunyi," penjelasan Heru sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah kincir yang terbuat dari kayu.
"Oh....cuma mainan. Itu namanya iseng," kata Bobo.
"Iseng-iseng, tapi kreatif Paman Eko," pujian Heru.
"Iya...sih kreatif," kata Bobo.
Bobo dan Heru melanjutkan perjalanan. Sampai di persimpangan, ya pisah jalannya menuju rumah masing-masing. Bobo segera cepat sampai ke rumah, dengan berjalan cepat. Sampai juga di rumah, ya masuk rumah sih.
"Ibu...aku pulang," kata Bobo.
"Iya," saut Ibu.
Bobo pun segera menaruh gasingnya di dalam kamarnya, ya tepatnya di atas meja belajar. Lalu Bobo keluar dari kamar untuk mandi. Baru setelah itu makan malam bersama Ibu dan Ayah, ya dedek bayi yang masih minum susu pake botol.
Monday, January 20, 2020
MAIN BULUTANGKIS
Usai sudah pendidikan hari ini. Bobo pun segera berjalan santai menuju rumahnya. Sampai di lapangan gitu. Ya Bobo melihat temannya sedang main pesawat terbang yang bertenaga karet. Bobo pun mendekati temannya itu.
"Bejo...asik banget main pesawat terbang," kata Bobo.
"Iya, Bobo," kata Bejo.
"Pesawatnya beli apa buat sendiri?" tanya Bobo.
"Buat sendiri Bobo," kata Bejo.
"Hebat banget buat pesawat terbang dengan tenaga karet," pujian Bobo.
"Iya, hoby sih..... karena itu aku mencontoh dari vidio di Youtobe untuk membuat pesawat terbang bertenaga karet," kata Bejo yang jujur banget.
"Oh begitu, Aku pulang ya!!!" kata Bobo.
"Iya, Bobo," kata saut Bejo.
Bejo terus main pesawat terbang tenaga karet dengan asik banget. Bobo ya...berjalan cepat menuju rumahnya. Tapi tiba-tiba Bobo berpikir dan berceloteh "Apa karena berita viral tentang Bapak yang bisa merakit pesawat dengan biaya murah meriah...ya? Katanya hoby. Berarti Bejo pun sama dengan Bapak tersebut......, ya hoby juga. Tapi yang buat Bejo adalah mainan pesawat terbang bertenaga karet".
Bobo pun tidak memikirkan lagi tentang pesawat terbang bertenaga karet, ya segera berjalan sampai di rumah. Ya benar sampai di rumah dan sudah masuk rumah.
"Aku pulang," kata Bobo.
"Bobo!!!" panggil Ibu.
"Iya, Ibu," kata Bobo sambil mendekati Ibu.
"Ganti baju dan makan ya. Ibu sudah masak untuk Bobo!!!" kata Ibu.
"Iya, Ibu," kata Bobo
Bobo segera kekamarnya untuk berbenah diri. Ibu sedang momong dedek bayi, ya sambil nonton berita gitu. Bobo pun keluar dari kamar dan segera makan ya di meja makan. Dengan santai Bobo menikmati makan buatan Ibu sampai perut kenyang.
Setelah itu. Bobo mengambil raket dan kok di meja dan segera mendekati Ibu.
"Ibu..., Bobo main ke lapangan. Main bulutangkis....kaya juara bulutangkis yang ada di Tv," kata Bobo.
"Iya, tapi ingat pulangnya jangan sore-sore!" kata Ibu.
"Iya....Ibu," kata Bobo.
Bobo pun keluar dari rumah. Ya segera berlari menuju lapangan. Di lapangan Andi sudah menunggu. Bejo yang main pesawat terbang dengan tenaga karet di lapangan ya sudah pulang dari tadi.
"Hay, Andi....jadi kita main bulutangkisnya," kata basa basi Bobo.
"Jadi!!!! Aku sudah bawa raketnya," kata Andi sambil menunjukkan raket yang di pegang Andi.
"Ayo kita main," kata Bobo.
"Ayo," kata Andi.
Bobo mulai memukul kok dengan raketnya ke arah Andi, ya kok pun di kembalikan Andi. Terus menerus permainan bulutangkis masih seimbang antara Bobo dan Andi. Angin bertiup kencang, jadi kok terbawa angin. Bobo meleset memukulnya.
"Aku gagal," kata Bobo.
"Yes, aku dapet poin satu dan Bobo masih nol. Bobo tidak bisa membalikan koknya ke aku!" kata Andi yang bangga pada dirinya.
"Ayo mulai lagi!!!" kata Bobo yang sudah siap memukul kok pake raketnya.
"Aku siap!!!" kata Andi.
Mau di pukul kok oleh Bobo. Dateng Heru, ya berteriak memanggil teman-temannya "Bobo, Andi".
"Woy....Heru," kata Bobo dan Andi bersamaan.
"Ikut main bulutangkis....Bobo, Andi," kata Heru.
"Ya...udah sini. Ganti...in aku aja," kata Bobo.
"Asik main," kata Heru.
"Lawan ku di ganti," kata Andi.
Bobo memberikan kok kepada Heru.
"Ayo mulai main bulutangkisnya," kata Heru.
"Ayo...mulai!!!!" kata Andi.
Heru memukul koknya dengan raketnya yang di tujukan ke Andi, ya Andi bisa membalikan kok ke Heru. Permainan masih seimbang antara Andi dan Heru. Bobo asik menonton saja. Eee tahu-tahu Wati ya dateng ke lapangan bawa raket dan kok juga. Jadi Bobo main bulutangkis dengan Wati.
Heru memukul dengan sangat kuat, ya Andi berusaha untuk mengembalikan kok ke Heru, tapi gagal.
"Aku dapet poin satu dan Andi nol," kata Heru yang senang.
"Ayo mulai lagi!!!" kata Andi.
Andi pun memukul kok dengan raketnya ke arah Heru, ya berhasil di kembalikan. Permainan antara Andi dan Heru masih seimbang. Bobo dan Wati, ya Bobo berhasil mendapatkan satu poin dan Wati masih nol. Wati pun memukul kok dengan raketnya ke arah Bobo, ya bisa di kembalikan Bobo dengan baik. Permainan antara Bobo dan Wati masih seimbang.
Waktu terus berjalan dengan semestinya sampai sore. Ya permainan bulutangkis pun selesai juga. Wati pun menang mengalahkan Bobo. Sedangkan Heru berhasil mengalahkan Andi.
"Hari ini seneng banget main bulutangkis," kata Heru.
"Ya....jelas kamu seneng. Menang main bulutangkis dari aku," saut Andi.
"Iya," kata Heru.
"Wati juga menang, ya berhasil mengalahkan aku dalam permainan bulutangkis," kata Bobo.
"Iya," saut Wati yang senang tapi malu, ya...nama juga cewek.
Bobo dan teman-teman bubar dari main bulutangkisnya, balik ke rumah masing-masing. Sampai di rumah.
"Ibu, aku pulang," kata Bobo.
"Iya," saut Ibu.
Ya Bobo segera mandi gitu biar bau kecut dari tubuhnya hilang. Setelah itu, ya Bobo mengerjakan PRnya di kamarnya.
Sunday, January 19, 2020
MAIN YOYO KAYU
Seusai pendidikan di sekolah, ya Bobo keluar dari sekolah bersama teman-temannya. Di samping gerbang sekolah ada Bapak-bapak pedagang kaki lima berjualan mainan gitu. Bobo tertarik gitu, ya temannya tertarik juga.
Bobo membeli sebuah yoyo kayu dan di bayarnya dengan uang pas. Bapak penjual mainan kaki lima, ya senang sih dagangan mainannya laris manis gitu dan dalam hati mengucap syukur "Alhamdulilah". Sedangkan teman-temannya, ya membeli mainan yang sama dengan Bobo atau beda seperti robotan, pistol air, seruling bambu dan masih banyak lainnya.
Bobo pun berjalan menuju rumahnya dengan santai bermain yoyo. Saat di rumahnya Andi, ya Bobo melihat Andi sedang bermain yoyo dengan mahirnya, sampai yoyo berputar stabil, ya lama gitu dan talinya di mainkan Andi.
Bobo ingin tahu gimana memainkan yoyo seperti Andi? Ya Bobo mendekati Andi, alias bertamu gitu. Andi dengan senang hati mengajarkan Bobo untuk bisa mahirnya main yoyo kayu.
"Bobo, talinya pada yoyo di renggangkan gitu, jadi ketika dimainkan maka yoyo akan berputar tetap dan tidak langsung kembali ke tangan kita. Tali pun di mainkan di buat apa pun, yang penting yoyo tetap berputar setabil," penjelasan Andi.
"Oh begitu," kata Bobo.
Ya Bobo mengikuti arahan Andi pada yoyonya, segera di mainkan gitu. Yoyo berputar dengan stabil dan lama banget dan tali bisa di mainkan dengan baik baru yoyo kembali ke tangan Bobo dengan baik.
"Aku bisa memainkan yoyo kayu ini dengan baik," kata Bobo.
"Cepat belajar kamu Bobo," pujian Andi.
Heru ya melihat Bobo dan Andi asik main yoyo di teras rumah, ya bertamu gitu.
"Hey teman aku ikutan main bersama kalian," kata Heru.
"Her....kamu beli yoyo juga?" tanya Bobo.
"Iya," saut Heru.
"Yoyo kamu besar juga ya....Heru," kata Andi.
"Iya, aku beli....yoyo yang besar dan juga aku pasang batu api di yoyo ini," kata Heru.
"Iya, itu batu api," kata Andi.
"Iya....batu api di pasang di yoyo...kamu Her...," kata Bobo.
Heru pun memainkan yoyo kayu dengan baik dan berputar stabil dan lama, ya di dekatkan ke lantai gitu....jadinya terjadi gesekan pada batu api dan lantai....ya timbullah percikan api.
"Hebat, muncul api di yoyo kamu Her," kata Bobo yang antusias.
"Iya, muncul percikan api di yoyo kamu Her," kata Andi.
Heru langsung menarik talinya dan kembali ketangannya yoyo yang di mainkan.
"Hebat yoyo ku!" kata Heru yang bangga.
"Hebat," kata Andi.
"Hebat," kata Bobo.
Bobo yang teringat pesan Ibu "Bobo segera pulang seusai sekolah, jangan main dulu". Bobo pun permisi untuk pulang ke pada teman-temannya. Ya Andi dan Heru membiarkan Bobo pulang sih, tetap Andi dan Heru melanjutkan main yoyo kayu dengan asik.
Bobo pun berlari dengan kencang menuju rumahnya. Belum sampai di rumahnya, Bobo melihat anak yang sedang main yoyo, tetapi bukan yoyo kayu tapi terbuat dari plastik dan kalau di mainkan lampunya hidup dan mengeluarkan suara kaya lagu gitu.
"Yoyo modern toh. Sedangkan yoyo ku...ini terbuat dari kayu dan memang mainan tradisional," celoteh Bobo.
Bobo pun mengabaikan anak yang main yoyo modern gitu, ya segera ke rumahnya. Sampai di rumah Bobo.
"Aku pulang," kata Bobo.
Ibu pun keluar dari kamar, ya menidurin adek bayi dan mendatangi Bobo yang main yoyo.
"Bobo, telat pulang lagi," kata Ibu.
"Maaf Ibu. Bobo main dulu...ke tempat Andi. Ini main yoyo kayu yang Bobo beli di Bapak pedagang mainan yang jualan di sekolah," kata Bobo.
"Mainan lagi. Ya udah ganti baju mu setelah itu makan. Ibu masak makan yang enak kesukaan kamu!" kata Ibu.
"Iya Ibu," kats Bobo.
Bobo segera ke kamarnya menaruh tas di meja belajar beserta yoyo, ya sekalian berbenah diri dan setelah itu makan gitu.
"Ayam goreng yang dibalut dengan tepung berbumbu," kata Bobo.
Bobo makan dengan nikmat masakan Ibu. Setelah perut kenyang, ya Bobo masuk kamarnya untuk mengerjakan PRnya dengan baik. Sampai waktu terus berjalan sesuai dengan rencananya, ya Bobo selesai mengerjakan PRnya. Ya Bobo biasa langsung memainkan yoyo kayu dengan penuh kecerian.
Bobo membeli sebuah yoyo kayu dan di bayarnya dengan uang pas. Bapak penjual mainan kaki lima, ya senang sih dagangan mainannya laris manis gitu dan dalam hati mengucap syukur "Alhamdulilah". Sedangkan teman-temannya, ya membeli mainan yang sama dengan Bobo atau beda seperti robotan, pistol air, seruling bambu dan masih banyak lainnya.
Bobo pun berjalan menuju rumahnya dengan santai bermain yoyo. Saat di rumahnya Andi, ya Bobo melihat Andi sedang bermain yoyo dengan mahirnya, sampai yoyo berputar stabil, ya lama gitu dan talinya di mainkan Andi.
Bobo ingin tahu gimana memainkan yoyo seperti Andi? Ya Bobo mendekati Andi, alias bertamu gitu. Andi dengan senang hati mengajarkan Bobo untuk bisa mahirnya main yoyo kayu.
"Bobo, talinya pada yoyo di renggangkan gitu, jadi ketika dimainkan maka yoyo akan berputar tetap dan tidak langsung kembali ke tangan kita. Tali pun di mainkan di buat apa pun, yang penting yoyo tetap berputar setabil," penjelasan Andi.
"Oh begitu," kata Bobo.
Ya Bobo mengikuti arahan Andi pada yoyonya, segera di mainkan gitu. Yoyo berputar dengan stabil dan lama banget dan tali bisa di mainkan dengan baik baru yoyo kembali ke tangan Bobo dengan baik.
"Aku bisa memainkan yoyo kayu ini dengan baik," kata Bobo.
"Cepat belajar kamu Bobo," pujian Andi.
Heru ya melihat Bobo dan Andi asik main yoyo di teras rumah, ya bertamu gitu.
"Hey teman aku ikutan main bersama kalian," kata Heru.
"Her....kamu beli yoyo juga?" tanya Bobo.
"Iya," saut Heru.
"Yoyo kamu besar juga ya....Heru," kata Andi.
"Iya, aku beli....yoyo yang besar dan juga aku pasang batu api di yoyo ini," kata Heru.
"Iya, itu batu api," kata Andi.
"Iya....batu api di pasang di yoyo...kamu Her...," kata Bobo.
Heru pun memainkan yoyo kayu dengan baik dan berputar stabil dan lama, ya di dekatkan ke lantai gitu....jadinya terjadi gesekan pada batu api dan lantai....ya timbullah percikan api.
"Hebat, muncul api di yoyo kamu Her," kata Bobo yang antusias.
"Iya, muncul percikan api di yoyo kamu Her," kata Andi.
Heru langsung menarik talinya dan kembali ketangannya yoyo yang di mainkan.
"Hebat yoyo ku!" kata Heru yang bangga.
"Hebat," kata Andi.
"Hebat," kata Bobo.
Bobo yang teringat pesan Ibu "Bobo segera pulang seusai sekolah, jangan main dulu". Bobo pun permisi untuk pulang ke pada teman-temannya. Ya Andi dan Heru membiarkan Bobo pulang sih, tetap Andi dan Heru melanjutkan main yoyo kayu dengan asik.
Bobo pun berlari dengan kencang menuju rumahnya. Belum sampai di rumahnya, Bobo melihat anak yang sedang main yoyo, tetapi bukan yoyo kayu tapi terbuat dari plastik dan kalau di mainkan lampunya hidup dan mengeluarkan suara kaya lagu gitu.
"Yoyo modern toh. Sedangkan yoyo ku...ini terbuat dari kayu dan memang mainan tradisional," celoteh Bobo.
Bobo pun mengabaikan anak yang main yoyo modern gitu, ya segera ke rumahnya. Sampai di rumah Bobo.
"Aku pulang," kata Bobo.
Ibu pun keluar dari kamar, ya menidurin adek bayi dan mendatangi Bobo yang main yoyo.
"Bobo, telat pulang lagi," kata Ibu.
"Maaf Ibu. Bobo main dulu...ke tempat Andi. Ini main yoyo kayu yang Bobo beli di Bapak pedagang mainan yang jualan di sekolah," kata Bobo.
"Mainan lagi. Ya udah ganti baju mu setelah itu makan. Ibu masak makan yang enak kesukaan kamu!" kata Ibu.
"Iya Ibu," kats Bobo.
Bobo segera ke kamarnya menaruh tas di meja belajar beserta yoyo, ya sekalian berbenah diri dan setelah itu makan gitu.
"Ayam goreng yang dibalut dengan tepung berbumbu," kata Bobo.
Bobo makan dengan nikmat masakan Ibu. Setelah perut kenyang, ya Bobo masuk kamarnya untuk mengerjakan PRnya dengan baik. Sampai waktu terus berjalan sesuai dengan rencananya, ya Bobo selesai mengerjakan PRnya. Ya Bobo biasa langsung memainkan yoyo kayu dengan penuh kecerian.
BALAP SEPEDAH
Hari minggu yang cerah banget. Bobo membuat sebuah kincir dari kertas dan gagangnya dari bambu, ya jadi sih dengan penuh keseriusan dan kesabaran membuat kincir.
"Aku berhasil membuat mainan kincir," kata Bobo yang senang.
Bobo langsung memasang kincir di sepedahnya, ya di ikat kuat agat tidak jatuh.
"Ibu, Bobo main sepedah," kata Bobo dengan keras.
"Iya, hati-hati ya....nak mainnya!" kata Ibu.
Bobo mulai menggoes sepedahnya dengan pelan dan akhirnya kencang gitu, sepedah melaju dengan sangat cepat sekali. Kincir di pasang di sepedah pun berputar dengan sangat cepat sekali.
"Aku suka, kincir yang aku buat berputar dengan baik," kata Bobo yang senang.
Bobo pun sampai di lapangan, ya sepedah di rem....seketika sepedah berhenti.
"Heru, Andi!" panggilan Bobo.
"Bobo," kata Heru dan Andi bersamaan.
Heru dan Andi yang mendekati Bobo, ya lagi naik sepedah sih keadaan Heru dan Andi.
"Sepedah mu kamu pasang kincir, ya Bobo?" kata Heru.
"Bagus...kan, aku buat sendiri....kincirnya," kata Bobo.
"Bagus....Bobo," pujian Heru.
"Iya...bagus," pujian tambahan Andi.
"Oh...iya, jadi gak balap sepedahnya. Kaya acara lomba balap motor...gitu yang di tayangkan di Tv," kata Bobo.
"Jadi. Lokasi untuk kita berlomba di lapangan," kata Heru.
"Berapa putaran dalam perlombaan ini, mengelilingi lapangan?" tanya Andi.
"Tiga ....aja," kata Heru.
"Setuju...tiga," kata Bobo.
"Ok, tiga," kata Andi.
Bobo dan teman-teman bersiap di lapangan gitu, untuk perlombaan balap sepedah. Wati pun lewat daerah situ, ya di panggil Bobo untuk jadi wasit yang menentukan mulainya perlombaan balap sepedah dan juga menentukan siapa pemenang dalam sepedah sekaligus sepoter. Wati menerima permintaan Bobo, Heru dan Andi.
"3..., 2.....1," kata Wati.
Bobo, Heru dan Andi mulai mengayuh sepedahnya dengan sangat cepat mengelilingi lapangan. Andi berada di depan yang ke dua Heru dan yang terakhir Bobo. Balapan menjadi seru banget karena ketiganya yang bertanding tidak mau mengalah. Putaran ke dua, kedudukan pun berubah. Heru pertama, Andi ke dua dan terakhir adalah Bobo.
Wati terus menyemangati teman-temannya yang sedang balapan. Putaran ketiga dan terakhir. Posisi pun berubah. Bobo pertama, Andi ke dua dan terakhir Heru. Sampai di garis penentuan. Posisi tidak berubah, ya Wati menyaksikan siapa juara satu, dua dan tiga.
"Ha.....capek," kata Bobo.
"Iya capek. Bobo kamu yang menang," kata Heru.
"Ha....ha...ha. Bener-bener melelahkan. Yang menang kamu Bobo," kata Andi.
"Iya....aku menang. Ha..ha..ha," kata Bobo mengatur nafasnya.
"Balap sepedahnya udah selesai. Jadi aku pulang dulu. Ibu sudah menunggu di rumah," kata Wati.
"Iya, terima kasih Wati," kata Bobo.
"Terima kasih Wati," kata Heru dan Andi bersamaan.
"Iya," jawab Wati.
Wati pun meninggalkan teman-temannya di lapangan, ya berjalan menuju rumahnya.
"Hari sudah sore. Kita akhiri saja balap sepedahnya," kata Heru.
"Iya," kata Andi.
"Iya," kata Bobo.
Ya....Bobo, Heru dan Andi meninggalkan lapangan gitu mengayuh sepedah mereka ke rumah masing-masing. Bobo hampir sampai rumahnya. Ya melihat adek laki-laki yang menyukai kincir yang di pasang di sepedah Bobo. Ya....Bobo memberikan kincir tersebut.
"Terima kasih Kak....," kata adek laki-laki.
"Iya," kata Bobo.
Bobo pun segera ke rumahnya, ya sampai gitu dan menaruh sepedah di tempat biasanya Bobo menaruh sepedahnya, ya di garasi dan juga hari menjelang magrib.
"Aku pulang," kata Bobo di dalam rumah.
Ibu mendekati Bobo.
"Anak.....Ibu bau kecut, mandi sana!" kata Ibu.
"Iya, Ibu. Abis main sepedah dan juga balapan sepedah dengan teman-teman," kata Bobo.
"Bobo, pake sabun dan sampo yang baru Ibu beli, agar menghilangkan bau kecut kamu!" kata Ibu.
"Iya, Ibu," kata Ibu.
Bobo pun ke kamar mandi untuk mandi. Ayah pun baru pulang dari main futsal bersama teman-teman kantornya, ya bertemu Ibu di ruang tengah yang masih ngurus dedek bayi.
"Ayah....segera mandi....ya. Abis olah raga futsal.....bau kecut tuh!" kata Ibu.
"Iya...Iya," saut Ayah.
Ayah langsung mandi, ya setelah Bobo selesai mandi. Baru deh semuanya duduk di meja makan dan makan malam sudah di siapkan Ibu.
"Ayah dan anak sudah harum. Ibu suka," kata Ibu.
"Iya," kata Ayah dan Bobo bersamaan.
Ayah, Ibu dan Bobo menikmati makan malam. Eee ketinggalan dedek bayi yang di beri Ibu minum susu pake botol.
"Aku berhasil membuat mainan kincir," kata Bobo yang senang.
Bobo langsung memasang kincir di sepedahnya, ya di ikat kuat agat tidak jatuh.
"Ibu, Bobo main sepedah," kata Bobo dengan keras.
"Iya, hati-hati ya....nak mainnya!" kata Ibu.
Bobo mulai menggoes sepedahnya dengan pelan dan akhirnya kencang gitu, sepedah melaju dengan sangat cepat sekali. Kincir di pasang di sepedah pun berputar dengan sangat cepat sekali.
"Aku suka, kincir yang aku buat berputar dengan baik," kata Bobo yang senang.
Bobo pun sampai di lapangan, ya sepedah di rem....seketika sepedah berhenti.
"Heru, Andi!" panggilan Bobo.
"Bobo," kata Heru dan Andi bersamaan.
Heru dan Andi yang mendekati Bobo, ya lagi naik sepedah sih keadaan Heru dan Andi.
"Sepedah mu kamu pasang kincir, ya Bobo?" kata Heru.
"Bagus...kan, aku buat sendiri....kincirnya," kata Bobo.
"Bagus....Bobo," pujian Heru.
"Iya...bagus," pujian tambahan Andi.
"Oh...iya, jadi gak balap sepedahnya. Kaya acara lomba balap motor...gitu yang di tayangkan di Tv," kata Bobo.
"Jadi. Lokasi untuk kita berlomba di lapangan," kata Heru.
"Berapa putaran dalam perlombaan ini, mengelilingi lapangan?" tanya Andi.
"Tiga ....aja," kata Heru.
"Setuju...tiga," kata Bobo.
"Ok, tiga," kata Andi.
Bobo dan teman-teman bersiap di lapangan gitu, untuk perlombaan balap sepedah. Wati pun lewat daerah situ, ya di panggil Bobo untuk jadi wasit yang menentukan mulainya perlombaan balap sepedah dan juga menentukan siapa pemenang dalam sepedah sekaligus sepoter. Wati menerima permintaan Bobo, Heru dan Andi.
"3..., 2.....1," kata Wati.
Bobo, Heru dan Andi mulai mengayuh sepedahnya dengan sangat cepat mengelilingi lapangan. Andi berada di depan yang ke dua Heru dan yang terakhir Bobo. Balapan menjadi seru banget karena ketiganya yang bertanding tidak mau mengalah. Putaran ke dua, kedudukan pun berubah. Heru pertama, Andi ke dua dan terakhir adalah Bobo.
Wati terus menyemangati teman-temannya yang sedang balapan. Putaran ketiga dan terakhir. Posisi pun berubah. Bobo pertama, Andi ke dua dan terakhir Heru. Sampai di garis penentuan. Posisi tidak berubah, ya Wati menyaksikan siapa juara satu, dua dan tiga.
"Ha.....capek," kata Bobo.
"Iya capek. Bobo kamu yang menang," kata Heru.
"Ha....ha...ha. Bener-bener melelahkan. Yang menang kamu Bobo," kata Andi.
"Iya....aku menang. Ha..ha..ha," kata Bobo mengatur nafasnya.
"Balap sepedahnya udah selesai. Jadi aku pulang dulu. Ibu sudah menunggu di rumah," kata Wati.
"Iya, terima kasih Wati," kata Bobo.
"Terima kasih Wati," kata Heru dan Andi bersamaan.
"Iya," jawab Wati.
Wati pun meninggalkan teman-temannya di lapangan, ya berjalan menuju rumahnya.
"Hari sudah sore. Kita akhiri saja balap sepedahnya," kata Heru.
"Iya," kata Andi.
"Iya," kata Bobo.
Ya....Bobo, Heru dan Andi meninggalkan lapangan gitu mengayuh sepedah mereka ke rumah masing-masing. Bobo hampir sampai rumahnya. Ya melihat adek laki-laki yang menyukai kincir yang di pasang di sepedah Bobo. Ya....Bobo memberikan kincir tersebut.
"Terima kasih Kak....," kata adek laki-laki.
"Iya," kata Bobo.
Bobo pun segera ke rumahnya, ya sampai gitu dan menaruh sepedah di tempat biasanya Bobo menaruh sepedahnya, ya di garasi dan juga hari menjelang magrib.
"Aku pulang," kata Bobo di dalam rumah.
Ibu mendekati Bobo.
"Anak.....Ibu bau kecut, mandi sana!" kata Ibu.
"Iya, Ibu. Abis main sepedah dan juga balapan sepedah dengan teman-teman," kata Bobo.
"Bobo, pake sabun dan sampo yang baru Ibu beli, agar menghilangkan bau kecut kamu!" kata Ibu.
"Iya, Ibu," kata Ibu.
Bobo pun ke kamar mandi untuk mandi. Ayah pun baru pulang dari main futsal bersama teman-teman kantornya, ya bertemu Ibu di ruang tengah yang masih ngurus dedek bayi.
"Ayah....segera mandi....ya. Abis olah raga futsal.....bau kecut tuh!" kata Ibu.
"Iya...Iya," saut Ayah.
Ayah langsung mandi, ya setelah Bobo selesai mandi. Baru deh semuanya duduk di meja makan dan makan malam sudah di siapkan Ibu.
"Ayah dan anak sudah harum. Ibu suka," kata Ibu.
"Iya," kata Ayah dan Bobo bersamaan.
Ayah, Ibu dan Bobo menikmati makan malam. Eee ketinggalan dedek bayi yang di beri Ibu minum susu pake botol.
Saturday, January 18, 2020
BELAJAR MEMASAK
Seusai mengerjakan PR, ya Bobo keluar kamarnya. Segera Bobo menghidupkan Tv, biasa ingin nonton acara kesukaannya. Ternyata Bobo salah mencet chenel Tv di remot, ya jadinya nonton acara memasak sih lebih tepatnya pertarungan memasak gitu.
Bobo bebenar memperhatikan teknik memasak setiap juru memasak yang berlomba.
"Aku ingin mencoba memasak," kata Bobo.
Bobo mematikan tontonannya pake remot dan setelah itu ke dapur, ya kebetulan sih Ibu mau memasak.
"Ibu, Ibu, Ibu..... Bobo ingin belajar memasak," kata Bobo dengan antusias banget.
"Tumben ingin belajar memasak. Biasanya kerjanya buat mainan....Bobo," kata Ibu.
"Abisnya. Bobo melihat tontonan di Tv, perlombaan memasak gitu. Jadi ingin seperti orang-orang yang pandai memasak. Kaya di Tv," kata Bobo.
"Dasar kamu Bobo, Pak Tiru. Segala hal di Tv kamu tiru. Ya sudah Ibu ajarkan, mempung dedek bayi lagi tidur di kamar," kata Ibu.
"Asik belajar memasak," kata Bobo yang antusias banget.
"Jadi Bobo mau masak apa?" tanya Ibu.
"Cepat dan mudah Ibu," kata Bobo.
"Nasi," kata Ibu.
"Kok, nasi," saut Bobo.
"Nasi lebih mudah memasaknya, dan pokok makanan. Zaman sekarang memasak nasi lebih mudah karena perkembangan teknologi yang disebut rice cooker," penjelasan Ibu.
"Ibu, masak lainnya aja. Ikan gitu," permintaan Bobo.
"Ikannya mudah Bobo. Di olenin dengan baik langsung di goreng sampai matang dan diangkat," penjelasan singkat Ibu.
"Iya, Ikan aja Ibu," kata Bobo.
"Ya sudah ambil ikannya di kulkas!" kata Ibu.
"Siap Ibu," saut Bobo.
Bobo mengambil Ikan di kulkas, segera di olenin dan di bimbing Ibu dengan baik. Ya selang berapa saat sih jadi ikan goreng yang di masak Bobo.
"Sekarang kamu bisa memasak Bobo," kata Ibu.
"Bobo sudah pinter memasak," kata Bobo yang senang.
Bobo ya terus memasak dengan Ibu bukan sekedar masak ikan goreng, nasi, sayur, dan sambe goreng. Semua makan di taruh di meja makan. Ayah pulang dari kantor, ya biasa benah diri dulu baru makan malam bersama.
Ayah duduk bersama Ibu dan Bobo satu meja makan.
"Masak banyak malam ini?" tanya Ayah.
"Bobo yang ingin belajar memasak, gara-gara nonton Tv. Jadi hari ini masak banyak makan hasil Bobo belajar masak, ya Ibu bimbing dengan baik," penjelasan Ibu.
"Oh begitu," kata Ayah.
Ayah mencoba masakan yang di masak Bobo.
"Emmm.....enak Bobo...masakan...Bobo. Anak pinter," pujian Ayah.
"Bobo pinter memasak. Terima kasih Ibu, Ayah," kata Bobo yang antusias banget senang di puji Ayah.
"Anak kamu....pinter, Ibu," kata Ayah.
"Anak kamu juga...Ayah," saut Ibu.
Ayah dan Ibu, ya beserta Bobo melanjutkan makan malam dengan penuh kebahagian satu keluarga. Dedek bayi bangun dan menangis, ya biasa Ibu langsung ke kamar untuk menenangkan dedek bayi. Ayah dan Bobo selesai makan malan, ya biasa nonton Tv di malam minggu yang tenang.
Bobo bebenar memperhatikan teknik memasak setiap juru memasak yang berlomba.
"Aku ingin mencoba memasak," kata Bobo.
Bobo mematikan tontonannya pake remot dan setelah itu ke dapur, ya kebetulan sih Ibu mau memasak.
"Ibu, Ibu, Ibu..... Bobo ingin belajar memasak," kata Bobo dengan antusias banget.
"Tumben ingin belajar memasak. Biasanya kerjanya buat mainan....Bobo," kata Ibu.
"Abisnya. Bobo melihat tontonan di Tv, perlombaan memasak gitu. Jadi ingin seperti orang-orang yang pandai memasak. Kaya di Tv," kata Bobo.
"Dasar kamu Bobo, Pak Tiru. Segala hal di Tv kamu tiru. Ya sudah Ibu ajarkan, mempung dedek bayi lagi tidur di kamar," kata Ibu.
"Asik belajar memasak," kata Bobo yang antusias banget.
"Jadi Bobo mau masak apa?" tanya Ibu.
"Cepat dan mudah Ibu," kata Bobo.
"Nasi," kata Ibu.
"Kok, nasi," saut Bobo.
"Nasi lebih mudah memasaknya, dan pokok makanan. Zaman sekarang memasak nasi lebih mudah karena perkembangan teknologi yang disebut rice cooker," penjelasan Ibu.
"Ibu, masak lainnya aja. Ikan gitu," permintaan Bobo.
"Ikannya mudah Bobo. Di olenin dengan baik langsung di goreng sampai matang dan diangkat," penjelasan singkat Ibu.
"Iya, Ikan aja Ibu," kata Bobo.
"Ya sudah ambil ikannya di kulkas!" kata Ibu.
"Siap Ibu," saut Bobo.
Bobo mengambil Ikan di kulkas, segera di olenin dan di bimbing Ibu dengan baik. Ya selang berapa saat sih jadi ikan goreng yang di masak Bobo.
"Sekarang kamu bisa memasak Bobo," kata Ibu.
"Bobo sudah pinter memasak," kata Bobo yang senang.
Bobo ya terus memasak dengan Ibu bukan sekedar masak ikan goreng, nasi, sayur, dan sambe goreng. Semua makan di taruh di meja makan. Ayah pulang dari kantor, ya biasa benah diri dulu baru makan malam bersama.
Ayah duduk bersama Ibu dan Bobo satu meja makan.
"Masak banyak malam ini?" tanya Ayah.
"Bobo yang ingin belajar memasak, gara-gara nonton Tv. Jadi hari ini masak banyak makan hasil Bobo belajar masak, ya Ibu bimbing dengan baik," penjelasan Ibu.
"Oh begitu," kata Ayah.
Ayah mencoba masakan yang di masak Bobo.
"Emmm.....enak Bobo...masakan...Bobo. Anak pinter," pujian Ayah.
"Bobo pinter memasak. Terima kasih Ibu, Ayah," kata Bobo yang antusias banget senang di puji Ayah.
"Anak kamu....pinter, Ibu," kata Ayah.
"Anak kamu juga...Ayah," saut Ibu.
Ayah dan Ibu, ya beserta Bobo melanjutkan makan malam dengan penuh kebahagian satu keluarga. Dedek bayi bangun dan menangis, ya biasa Ibu langsung ke kamar untuk menenangkan dedek bayi. Ayah dan Bobo selesai makan malan, ya biasa nonton Tv di malam minggu yang tenang.
Friday, January 17, 2020
RAJA DAN RATU DAUN
Bobo sampai di rumahnya.
"Aku pulang Ibu," kata Bobo.
"Iya, Ibu...lagi repot ngurus adik bayi," kata Ibu.
Bobo, ya segera ke kamar untuk menaruh tas sekolah di kasur, berganti pakaian. Bobo pun menemui Ibunya.
"Ibu..., Bobo mau main," katanya.
"Makan dulu, isi perut mu yang kosong!" kata Ibu.
Bobo tidak bisa membantah, jadinya menjawab "Iya, Ibu".
Bobo pun ke meja makan, ya makan gitu untuk mengisi perutnya kosong sampai kenyang gitu. Baru Bobo pergi main. Berjalanlah Bobo ke lapangan di mana teman-temannya sudah di sana. Heru dan Andi sedang ngumpulkan daun gitu, ya Bobo ikutan juga sambil bertanya "Kita main apaan sih....ngumpulin daun seperti ini?".
"Main....Raja dan Ratu Daun," kata Andi yang sibuk memetik daun dari pohon.
"Tapi....kan, Ratu Daunnya gak ada," kata Bobo.
"Ada....nanti Wati ke sini, main sama kita," kata Heru yang sibuk memetik daun di pohon.
"Oh gitu," saut Bobo.
Bobo, Andi dan Heru telah cukup mengumpulkan daun-daun. Mulai ketiganya merangkainya menjadi mahkota dan jubah....Raja dan Ratu Daun. Dengan cekatan ketiganya menbuatnya, jadi deh. Wati pun dateng ke lapangan.
"Pakaikan mahkota Ratu Daun ke Wati, ya beserta gaun daun!" kata Andi.
"Ok beres," kata Heru dan Bobo bersamaan.
"Jadi aku harus pake ini?" kata Wati.
"Iya, kamu....Ratunya!" kata Andi.
"Baiklah," kata Wati.
Wati memakai mahkota daun dan gaun daun, jadilah Ratu Daun.
"Siapa Rajanya?" tanya Bobo.
"Aku," kata Andi.
"Aku," kata Heru.
"Sudah-sudah aku yang memutuskan sebagai penasehat agung," kata Bobo.
"Jadi....Bobo, jadi penengahnya," kata Andi.
"Kalau di pikir baik-baik lebih baik, Bobo jadi penengah saja. Ya sudahlah jadi penasehat agung yang mendampingi Ratu Daun," kata Heru.
"Setuju, jadi aku jadi Rajanya yang merebutkan cintanya Ratu Daun," kata Andi.
"Aku juga...Raja yang merebutkan hatinya Ratu Daun," kata Heru.
"Ya....sudah di posisi masing-masing!" kata Bobo.
Dateng Bejo dengan membawa Hp gitu.
"Teman-teman sedang main apa?" tanya Bejo.
"Raja dan Ratu Daun," kata Heru.
"Kaya berita Tv aja yang lagi viral banget. Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat," kata Bejo.
"Ya, memang idenya dari Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat, ya cuma di adaptasikan aja jadi mainan anak-anak aja. Pake daun yang kami kenakan," kata Andi.
"Kalau begitu, aku rekam ya......pake Hp!" kata Bejo.
"Iya," jawab semuanya.
Mulai ceritanya. Raja Andi dan Raja Heru sedang berhadapan untuk merebutkan cintanya dari Ratu Wati. Penasehat Agung, Bobo yang menjadi penengah dari perangnya dua Raja. Bejo yang merekam tiap adegan yang di mainkan teman-temannya. Raja Heru menang dalam perang, ya cuma main suit aja gitu. Lalu mulailah Raja Heru di sandingkan dengan Ratu Wati.
Pernikahan dua kerajaan pun terjadi dengan baik. Raja dan Ratu Daun bersatu. Ya Bejo terus merekamnya gitu momentnya yang bagus gitu.
"Cat, Bagus ....adegan yang diambil jadi deh Raja dan Ratu Daun," kata Bejo.
"Mana aku lihat," kata Bobo.
"Aku mau lihat. Aku cantik gak," kata Wati.
"Pasti aku terlihat gagah, aku mau lihat," kata Heru.
"Aku mau lihatnya," kata Andi.
Bejo menunjukkan rekaman di Hpnya ke teman-temannya.
"Bagus banget ya," kata Semuanya.
Hari sudah sore. Ya Bobo dan teman-teman mengakhiri main Raja dan Ratu Daun, ya pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan senang gitu. Bobo sampai di rumahnya.
"Aku pulang Ibu," kata Bobo.
"Bobo, mandi nak....udah sore!" perintah Ibu.
"Iya...Ibu," kata Bobo.
Bobo ke kamar mandi, ya mandi gitu. Setelah itu pake baju bersih di kamar, ya baru deh Bobo belajar untuk mengulas pelajaran yang di ajarkan guru, agar lebih paham gitu.
Ibu masuk kamar Bobo yang asik belajar gitu.
"Nak tadi main apa, sama teman-teman kamu?" tanya.
"Raja dan Ratu Daun," kata Bobo.
"Bobo, jadi penasehat agung....ya jadi penengah gitu. Yang dekat dengan Ratu gitu," cerita Bobo.
"Penengah toh. Ya...udahlah...lanjutkan belajarnya nak!" kata Ibu.
"Iya, Ibu," saut Bobo.
Bobo pun melanjutkan belajarnya dan Ibu keluar dari kamarnya, ya segera ngurus dedek bayi seperti biasanya.
"Aku pulang Ibu," kata Bobo.
"Iya, Ibu...lagi repot ngurus adik bayi," kata Ibu.
Bobo, ya segera ke kamar untuk menaruh tas sekolah di kasur, berganti pakaian. Bobo pun menemui Ibunya.
"Ibu..., Bobo mau main," katanya.
"Makan dulu, isi perut mu yang kosong!" kata Ibu.
Bobo tidak bisa membantah, jadinya menjawab "Iya, Ibu".
Bobo pun ke meja makan, ya makan gitu untuk mengisi perutnya kosong sampai kenyang gitu. Baru Bobo pergi main. Berjalanlah Bobo ke lapangan di mana teman-temannya sudah di sana. Heru dan Andi sedang ngumpulkan daun gitu, ya Bobo ikutan juga sambil bertanya "Kita main apaan sih....ngumpulin daun seperti ini?".
"Main....Raja dan Ratu Daun," kata Andi yang sibuk memetik daun dari pohon.
"Tapi....kan, Ratu Daunnya gak ada," kata Bobo.
"Ada....nanti Wati ke sini, main sama kita," kata Heru yang sibuk memetik daun di pohon.
"Oh gitu," saut Bobo.
Bobo, Andi dan Heru telah cukup mengumpulkan daun-daun. Mulai ketiganya merangkainya menjadi mahkota dan jubah....Raja dan Ratu Daun. Dengan cekatan ketiganya menbuatnya, jadi deh. Wati pun dateng ke lapangan.
"Pakaikan mahkota Ratu Daun ke Wati, ya beserta gaun daun!" kata Andi.
"Ok beres," kata Heru dan Bobo bersamaan.
"Jadi aku harus pake ini?" kata Wati.
"Iya, kamu....Ratunya!" kata Andi.
"Baiklah," kata Wati.
Wati memakai mahkota daun dan gaun daun, jadilah Ratu Daun.
"Siapa Rajanya?" tanya Bobo.
"Aku," kata Andi.
"Aku," kata Heru.
"Sudah-sudah aku yang memutuskan sebagai penasehat agung," kata Bobo.
"Jadi....Bobo, jadi penengahnya," kata Andi.
"Kalau di pikir baik-baik lebih baik, Bobo jadi penengah saja. Ya sudahlah jadi penasehat agung yang mendampingi Ratu Daun," kata Heru.
"Setuju, jadi aku jadi Rajanya yang merebutkan cintanya Ratu Daun," kata Andi.
"Aku juga...Raja yang merebutkan hatinya Ratu Daun," kata Heru.
"Ya....sudah di posisi masing-masing!" kata Bobo.
Dateng Bejo dengan membawa Hp gitu.
"Teman-teman sedang main apa?" tanya Bejo.
"Raja dan Ratu Daun," kata Heru.
"Kaya berita Tv aja yang lagi viral banget. Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat," kata Bejo.
"Ya, memang idenya dari Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat, ya cuma di adaptasikan aja jadi mainan anak-anak aja. Pake daun yang kami kenakan," kata Andi.
"Kalau begitu, aku rekam ya......pake Hp!" kata Bejo.
"Iya," jawab semuanya.
Mulai ceritanya. Raja Andi dan Raja Heru sedang berhadapan untuk merebutkan cintanya dari Ratu Wati. Penasehat Agung, Bobo yang menjadi penengah dari perangnya dua Raja. Bejo yang merekam tiap adegan yang di mainkan teman-temannya. Raja Heru menang dalam perang, ya cuma main suit aja gitu. Lalu mulailah Raja Heru di sandingkan dengan Ratu Wati.
Pernikahan dua kerajaan pun terjadi dengan baik. Raja dan Ratu Daun bersatu. Ya Bejo terus merekamnya gitu momentnya yang bagus gitu.
"Cat, Bagus ....adegan yang diambil jadi deh Raja dan Ratu Daun," kata Bejo.
"Mana aku lihat," kata Bobo.
"Aku mau lihat. Aku cantik gak," kata Wati.
"Pasti aku terlihat gagah, aku mau lihat," kata Heru.
"Aku mau lihatnya," kata Andi.
Bejo menunjukkan rekaman di Hpnya ke teman-temannya.
"Bagus banget ya," kata Semuanya.
Hari sudah sore. Ya Bobo dan teman-teman mengakhiri main Raja dan Ratu Daun, ya pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan senang gitu. Bobo sampai di rumahnya.
"Aku pulang Ibu," kata Bobo.
"Bobo, mandi nak....udah sore!" perintah Ibu.
"Iya...Ibu," kata Bobo.
Bobo ke kamar mandi, ya mandi gitu. Setelah itu pake baju bersih di kamar, ya baru deh Bobo belajar untuk mengulas pelajaran yang di ajarkan guru, agar lebih paham gitu.
Ibu masuk kamar Bobo yang asik belajar gitu.
"Nak tadi main apa, sama teman-teman kamu?" tanya.
"Raja dan Ratu Daun," kata Bobo.
"Bobo, jadi penasehat agung....ya jadi penengah gitu. Yang dekat dengan Ratu gitu," cerita Bobo.
"Penengah toh. Ya...udahlah...lanjutkan belajarnya nak!" kata Ibu.
"Iya, Ibu," saut Bobo.
Bobo pun melanjutkan belajarnya dan Ibu keluar dari kamarnya, ya segera ngurus dedek bayi seperti biasanya.
Thursday, January 16, 2020
KREATIF
Saat jam istirahat. Bobo ngobrol dengan Andi dan Heru, ya dengan seru banget menceritakan film anak-anak yang mereka bertiga sukai 'Power Rangers Ninja Steel'. Jam istirahat pun berakhir, ya biasa Bobo dengan teman-teman duduk di bangku masing-masing untuk menjalankan pendidikan dengan baik.
Bobo, ya serius mendapatkan pendidikan yang baik dari gurunya. Sampai waktu pun mengakhiri pendidikan sekolah. Bobo pun pulang bersama teman-teman, karena sepakat ngumpul di rumah Andi. Tapi sebelumnya Bobo dan teman-teman membeli karton dan kertas lipat di warung Ibu Minah.
Sampai di rumah Andi. Ya di mulai rencana Bobo dan teman-teman membuat pedang-pedangan dari karton dan juga senjata bintangnya. Bobo dan Heru bingung membuat senjata bintang dari kertas gitu. Andi pun mengambil buku origami membuat senjata ninja yang berbentuk bintang.
Bobo mempelajari dengan seksama caranya membuat bintang dari kertas lipat, ya begitu dengan Heru. Sedang Andi sudah duluan membuatnya, jadilah bintang, yang di gunakan sebagai senjata rahasia ninja.
Bobo dan Heru mencobanya dengan pelan-pelan melipat kertas, ya berhasil membuatnya dari satu jadi sampai sepuluh bintang yang warna-warni di buat.
Pedang pun yang terbuat dari karton pun telah selesai juga, ya terakhir membuat topengnya. Bobo dan teman-teman membuat topeng dengan mencontoh dari topeng yang di beli Andi di toko mainan.
Usaha kerasnya Bobo, Andi dan Heru berhasil membuat topeng ninja.
"Ayo kita mainkan," kata Bobo.
"Ayo," saut Andi dan Heru bersamaan.
Bobo pun sudah pake topeng ninja yang dibuatnya sendiri dari kertas karton berwarna merah, pedang berwarna merah dan bintang yang di gunakan senjata ninja. Andi pun memakai topeng berwarna biru, ya jelas pedangnya berwarna biru juga. Sedangkan Heru pun memakai topeng berwarna hijau, ya pedangnya juga berwarna hijau juga.
Mulailah pertarungan di antara ninja-ninjaannya dan di rekam pake Hp, ya bergantian gitu terkadang ya ketiganya masuk ke dalam rekaman pake Hp. Waktu pun makin menjelang sore. Bobo dan Heru pamitan untuk pulang, Andi mempersilakannya.
Bobo dan Heru pulang ke rumahnya dengan perasaan senang sekali habis main ninja-ninjaan. Ketika di persimpangan jalan, ya Bobo dan Heru pisah gitu karena jalan ke rumah ya bedalah. Sampai di rumahnya Bobo. Ya biasa Ibu mulai bertanya ke Bobo "Bobo, kamu dari mana. Jam segini....baru pulang?".
"Maaf...Ibu, Bobo sepulang sekolah main di rumah Andi. Ya main ninja-ninjaan, kaya Power Rangers Ninja Steel," kata Bobo yang jujur sambil memberikan benda yang di buatnya dari kertas karton dan kertas lipat.
Ibu berpikir "Kreatif sih membuat mainan sendiri dari karton dan kertas lipat. Tapi acara Tv....anak-anak pasti di ikuti anak-anak, ya suka gitu. Masih banyak positifnya".
"Bu, Bobo ganti baju dulu," katanya.
"Iya, Bobo....lain kali langsung pulang dulu ke rumah, baru pergi main," nasehat Ibu.
"Iya, Ibu," jawab Bobo.
Bobo pun menaruh mainan ninjanya di meja belajarnya, ya di kamarnya. Segera Bobo berbenah diri dan setelah itu makan. Ya biasa Bobo belajar untuk mengulang pelajaran di sekolah, agar lebih paham lagi.
Tapi melihat mainan di atas meja. Bobo memainkan ninja-ninjaan sendirian di dalam kamar, ya di rekam pake Hpnya sendiri.
Ibu mendengar suara gaduh di dalam kamarnya Bobo.
"Bobo, suara gaduh apa di dalam kamar?" kata Ibu dengan suara keras.
"Maaf....Ibu, Bobo main ninja-ninja sendirian!" kata Bobo dengan suara keras.
"Oh...," kata Ibu.
Bobo pun mengentikan mainannya, ya melanjutkan belajar gitu dengan baik.
Bobo, ya serius mendapatkan pendidikan yang baik dari gurunya. Sampai waktu pun mengakhiri pendidikan sekolah. Bobo pun pulang bersama teman-teman, karena sepakat ngumpul di rumah Andi. Tapi sebelumnya Bobo dan teman-teman membeli karton dan kertas lipat di warung Ibu Minah.
Sampai di rumah Andi. Ya di mulai rencana Bobo dan teman-teman membuat pedang-pedangan dari karton dan juga senjata bintangnya. Bobo dan Heru bingung membuat senjata bintang dari kertas gitu. Andi pun mengambil buku origami membuat senjata ninja yang berbentuk bintang.
Bobo mempelajari dengan seksama caranya membuat bintang dari kertas lipat, ya begitu dengan Heru. Sedang Andi sudah duluan membuatnya, jadilah bintang, yang di gunakan sebagai senjata rahasia ninja.
Bobo dan Heru mencobanya dengan pelan-pelan melipat kertas, ya berhasil membuatnya dari satu jadi sampai sepuluh bintang yang warna-warni di buat.
Pedang pun yang terbuat dari karton pun telah selesai juga, ya terakhir membuat topengnya. Bobo dan teman-teman membuat topeng dengan mencontoh dari topeng yang di beli Andi di toko mainan.
Usaha kerasnya Bobo, Andi dan Heru berhasil membuat topeng ninja.
"Ayo kita mainkan," kata Bobo.
"Ayo," saut Andi dan Heru bersamaan.
Bobo pun sudah pake topeng ninja yang dibuatnya sendiri dari kertas karton berwarna merah, pedang berwarna merah dan bintang yang di gunakan senjata ninja. Andi pun memakai topeng berwarna biru, ya jelas pedangnya berwarna biru juga. Sedangkan Heru pun memakai topeng berwarna hijau, ya pedangnya juga berwarna hijau juga.
Mulailah pertarungan di antara ninja-ninjaannya dan di rekam pake Hp, ya bergantian gitu terkadang ya ketiganya masuk ke dalam rekaman pake Hp. Waktu pun makin menjelang sore. Bobo dan Heru pamitan untuk pulang, Andi mempersilakannya.
Bobo dan Heru pulang ke rumahnya dengan perasaan senang sekali habis main ninja-ninjaan. Ketika di persimpangan jalan, ya Bobo dan Heru pisah gitu karena jalan ke rumah ya bedalah. Sampai di rumahnya Bobo. Ya biasa Ibu mulai bertanya ke Bobo "Bobo, kamu dari mana. Jam segini....baru pulang?".
"Maaf...Ibu, Bobo sepulang sekolah main di rumah Andi. Ya main ninja-ninjaan, kaya Power Rangers Ninja Steel," kata Bobo yang jujur sambil memberikan benda yang di buatnya dari kertas karton dan kertas lipat.
Ibu berpikir "Kreatif sih membuat mainan sendiri dari karton dan kertas lipat. Tapi acara Tv....anak-anak pasti di ikuti anak-anak, ya suka gitu. Masih banyak positifnya".
"Bu, Bobo ganti baju dulu," katanya.
"Iya, Bobo....lain kali langsung pulang dulu ke rumah, baru pergi main," nasehat Ibu.
"Iya, Ibu," jawab Bobo.
Bobo pun menaruh mainan ninjanya di meja belajarnya, ya di kamarnya. Segera Bobo berbenah diri dan setelah itu makan. Ya biasa Bobo belajar untuk mengulang pelajaran di sekolah, agar lebih paham lagi.
Tapi melihat mainan di atas meja. Bobo memainkan ninja-ninjaan sendirian di dalam kamar, ya di rekam pake Hpnya sendiri.
Ibu mendengar suara gaduh di dalam kamarnya Bobo.
"Bobo, suara gaduh apa di dalam kamar?" kata Ibu dengan suara keras.
"Maaf....Ibu, Bobo main ninja-ninja sendirian!" kata Bobo dengan suara keras.
"Oh...," kata Ibu.
Bobo pun mengentikan mainannya, ya melanjutkan belajar gitu dengan baik.
MEMBUAT BUNGA KERTAS
Bobo berjalan santai menuju rumahnya. Saat melewati rumah Wati, ya Bobo melihat sih Wati yang duduk di teras sambil membuat bunga kertas gitu. Bobo tertarik sih ingin membuat bunga kertas, tapi teringat dengan omongan Ibunya "Bobo, seusai sekolah langsung pulang ke rumah!".
Wati yang asik membuat bunga, ya melihat Bobo gitu, jadi di panggil gitu "Bobo sini, mampir ke rumah aku!"
"Iya, Wati," saut Bobo.
Bobo pun mengabaikan pesan Ibunya, ya jadinya mampir ke rumah Wati.
"Wati, kamu suka bunga....ya!" tanya Bobo.
"Iya, maka itu...aku salurkan rasa suka ku dengan bunga, ya dengan membuat bunga kertas," kata Wati.
"Boleh aku di ajarkan membuat bunga kertas juga," permintaan Bobo.
"Ayo aku ajari membuat bunga kertas, gampang kok," kata Wati.
Bobo pun mengikuti arahan Wati dalam membuat bunga kertas, dari membuat pola bentuk bunga dari kertas dan gunting. Kawat yang di potong pake tang, untuk batang bunga. Kertas kraf yang potong yang ukurannya sudah di atur. Terakhir di satukan semuanya, maksudnya di rangkai jadi satu bunga mawar yang cantik banget.
"Aku berhasil membuat bunga kertas yang cantik," kata Bobo.
"Bobo, kamu mudah pahamnya," pujian Wati.
"Iya," kata Bobo yang malu dengan menunduk.
Bobo terus merangkai bunga kertas sampai menjadi 7 tangkai bunga mawar kertas yang cantik banget. Bobo pun melihat jam dinding.
"Astaga udah sore, pasti aku di marahin Ibu," kata Bobo.
Bobo pun permisi pulang gitu, ya Wati mempersilakan Bobo gitu. Dan juga Bobo meminta bunga mawar kertas yang di rangkainya itu ke Wati, ya untuk Bobo gitu. Wati ya memberikan 7 tangkai bunga ke Bobo, ya di tambah 3 tangkai buatan Wati, jadinya menjadi 10 tangkai. Tak lupa Bobo berterima kasih pada Wati, yang telah mengajarkan membuat bunga kertas gitu. Ya Wati menganggapnya biasa aja, karena teman satu kelas dan satu sekolahan lagi.
Bobo pun segera berlari menuju rumahnya. Sampai di depan rumah. Bobo ya segera masuk rumah.
"Aku pulang Ibu," kata Bobo.
"Bobo!!!" panggilan Ibu.
Bobo pun di sidang Ibu di ruang tamu.
"Bobo, kenapa pulangnya sore. Ibu pesan ke kamu. Selesai sekolah langsung pulang ke rumah!"
"Iya, Ibu...maaf Bobo salah, tapi Bobo di suruh mampir di rumah Wati, yang sedang membuat bunga kertas ini. Ini bunganya buat Ibu," kata Bobo.
"Bunga ini cantik juga. Siapa yang membuat bunga ini?" kata Ibu.
"Bobo....Ibu, yang mengajarkan Wati. Bunga mawar kertas itu hasilnya," kata Bobo yang jujur.
"Pinter juga Wati membuat bunga kertas ini, Bobo kamu juga pinter bisa membuat bunga kertas ini. Ya...sudahlah Ibu maafkan. Sekarang kamu mandi dan makan!" kata Ibu.
"Terima kasih Ibu," kata Bobo, sambil memeluk Ibu tercinta.
"Anak manja Ibu," katanya.
Bobo pun melepaskan pelukannya ke Ibunya, ya segera berbenah diri, mandi sore dan makan gitu. Ibu pun menaruh bunga mawar kertas buatan Bobo di taruh di dalam pot keramik dan di taruh di meja ruang tamu.
Ibu pun, ya biasa sih ngurus dedek bayi, yang butuh perhatian lebih gitu. Bobo selesai mandi dan makan di meja makan gitu. Ya Ibu tetap mengawasi Bobo, sambil gitu. Setelah perut terisi kenyang, ya Bobo mau nonton Tv, ya biasa acara anak-anak tapi sebelum Tv di hidupkan Bobo melihat bunga mawar kertasnya di pajang di ruang tamu oleh Ibu.
"Cantik," kata Bobo yang bangga dengan karyanya sendiri membuat bunga kertas.
Bobo pun duduk di sofa, ya Tv di hidupkan gitu dan acara kesukaan pun di tayangkan. Ibu seperti biasa menemani Bobo nonton Tv, ya acara anak-anak sambil momong dedek bayi.
Wati yang asik membuat bunga, ya melihat Bobo gitu, jadi di panggil gitu "Bobo sini, mampir ke rumah aku!"
"Iya, Wati," saut Bobo.
Bobo pun mengabaikan pesan Ibunya, ya jadinya mampir ke rumah Wati.
"Wati, kamu suka bunga....ya!" tanya Bobo.
"Iya, maka itu...aku salurkan rasa suka ku dengan bunga, ya dengan membuat bunga kertas," kata Wati.
"Boleh aku di ajarkan membuat bunga kertas juga," permintaan Bobo.
"Ayo aku ajari membuat bunga kertas, gampang kok," kata Wati.
Bobo pun mengikuti arahan Wati dalam membuat bunga kertas, dari membuat pola bentuk bunga dari kertas dan gunting. Kawat yang di potong pake tang, untuk batang bunga. Kertas kraf yang potong yang ukurannya sudah di atur. Terakhir di satukan semuanya, maksudnya di rangkai jadi satu bunga mawar yang cantik banget.
"Aku berhasil membuat bunga kertas yang cantik," kata Bobo.
"Bobo, kamu mudah pahamnya," pujian Wati.
"Iya," kata Bobo yang malu dengan menunduk.
Bobo terus merangkai bunga kertas sampai menjadi 7 tangkai bunga mawar kertas yang cantik banget. Bobo pun melihat jam dinding.
"Astaga udah sore, pasti aku di marahin Ibu," kata Bobo.
Bobo pun permisi pulang gitu, ya Wati mempersilakan Bobo gitu. Dan juga Bobo meminta bunga mawar kertas yang di rangkainya itu ke Wati, ya untuk Bobo gitu. Wati ya memberikan 7 tangkai bunga ke Bobo, ya di tambah 3 tangkai buatan Wati, jadinya menjadi 10 tangkai. Tak lupa Bobo berterima kasih pada Wati, yang telah mengajarkan membuat bunga kertas gitu. Ya Wati menganggapnya biasa aja, karena teman satu kelas dan satu sekolahan lagi.
Bobo pun segera berlari menuju rumahnya. Sampai di depan rumah. Bobo ya segera masuk rumah.
"Aku pulang Ibu," kata Bobo.
"Bobo!!!" panggilan Ibu.
Bobo pun di sidang Ibu di ruang tamu.
"Bobo, kenapa pulangnya sore. Ibu pesan ke kamu. Selesai sekolah langsung pulang ke rumah!"
"Iya, Ibu...maaf Bobo salah, tapi Bobo di suruh mampir di rumah Wati, yang sedang membuat bunga kertas ini. Ini bunganya buat Ibu," kata Bobo.
"Bunga ini cantik juga. Siapa yang membuat bunga ini?" kata Ibu.
"Bobo....Ibu, yang mengajarkan Wati. Bunga mawar kertas itu hasilnya," kata Bobo yang jujur.
"Pinter juga Wati membuat bunga kertas ini, Bobo kamu juga pinter bisa membuat bunga kertas ini. Ya...sudahlah Ibu maafkan. Sekarang kamu mandi dan makan!" kata Ibu.
"Terima kasih Ibu," kata Bobo, sambil memeluk Ibu tercinta.
"Anak manja Ibu," katanya.
Bobo pun melepaskan pelukannya ke Ibunya, ya segera berbenah diri, mandi sore dan makan gitu. Ibu pun menaruh bunga mawar kertas buatan Bobo di taruh di dalam pot keramik dan di taruh di meja ruang tamu.
Ibu pun, ya biasa sih ngurus dedek bayi, yang butuh perhatian lebih gitu. Bobo selesai mandi dan makan di meja makan gitu. Ya Ibu tetap mengawasi Bobo, sambil gitu. Setelah perut terisi kenyang, ya Bobo mau nonton Tv, ya biasa acara anak-anak tapi sebelum Tv di hidupkan Bobo melihat bunga mawar kertasnya di pajang di ruang tamu oleh Ibu.
"Cantik," kata Bobo yang bangga dengan karyanya sendiri membuat bunga kertas.
Bobo pun duduk di sofa, ya Tv di hidupkan gitu dan acara kesukaan pun di tayangkan. Ibu seperti biasa menemani Bobo nonton Tv, ya acara anak-anak sambil momong dedek bayi.
Tuesday, January 14, 2020
BERMAIN LAYANG-LAYANG
Pendidikan sekolah selesai, ya segera pulang ke rumah. Selang berapa saat Bobo sampai di rumahnya.
"Aku pulang!!" kata Bobo.
Bobo masuk rumah.
"Bobo ganti baju kamu, setelah itu makan. Ibu telah menyiapkan di meja makan!" kata Ibu.
"Iya Ibu," saut Bobo.
Bobo pun masuk ke kamarnya, menaruh tas di meja belajar dan berganti pakaian. Baru deh makan gitu. Ibu tetap sibuk merawat dedek bayi. Bobo selesai makannya.
"Ibu....Bobo mau main layang-layang di lapangan," kata Bobo.
"Iya," saut Ibu
Bobo pun mengambil layang-layang di kamarnya, ya beserta benang senar yang digulung di kaleng bekas susu. Bobo pun keluar rumah.
"Bobo...jangan sore-sore pulangnya!" teriak Ibu.
"Iya....Ibu," saut Bobo dengan suara keras.
Bobo berjalan berjalan menuju lapangan, ya di tengah jalan bertemu Heru dan Angga yang ingin main layang-layang. Ketiga sahabat jadi main layang-layang di lapangan. Sampai di lapangan...segera di terbangkan layang-layang Bobo, Heru dan Angga.
Dengan penuh kebahagiaan ketiga sahabat memainkan layang-layang mereka bertiga yang melayang di udara.
"Bobo, ada yang mau ngadu layangan kamu tuh!" kata Heru.
"Iya, dari tadi itu layangan itu menyebut aku," kata Bobo.
"Lawan aja Bobo!" kata Angga.
Bobo memainkan layangan dengan baik karena memang di adu dengan layangan yang lain, tetapi tidak tahu siapa yang memainkannya. Pertarungan layang-layang sengit di udara. Bobo terus mengulur benangnya agar bisa memutuskan layang-layang lawan, efeknya gesekan gitu.
Usaha Bobo pun berhasil mengalahkan layang-layang lawannya.
"Aku menang," kata Bobo.
"Ya, hebat kamu Bobo!" pujian Heru.
"Hebat kamu Bobo!" pujian Angga.
"Bobo gitu," kata Bobo dengan bangga.
Bobo kembali asik main layang-layang bersama teman-teman. Sampai waktu berganti begitu cepat sekali, ya sore gitu. Bobo teringat omongan Ibunya "Pulangnya jangan sore-sore!".
Bobo segera menurunkan layang-layangnya yang terbang di udara. Heru dan Angga juga. Setelah layang-layang sudah di tangan, ya segera Bobo meninggalkan lapangan. Heru dan Angga juga. Saat di persimpangan jalan, ya Bobo berpisah dengan teman-temanya. Segera Bobo berjalan menuju rumahnya.
Sampai di rumah.
"Aku pulang," kata Bobo.
Bobo segera masuk kamarnya dan menaruh layang-layang beserta benang yang di gulung di kaleng bekas susu. Baru deh Bobo keluar dari kamar, langsung ke kamar mandi untuk mandilah. Selang berapa saat. Bobo pun telah segar banget dan memakai baju yang bersih dan segera duduk di sofa di ruang tengah untuk nonton Tv acara anak-anak di chanel RTV.
Ibu duduk juga bersama Bobo, ya biasa sih Ibu masih gedong dedek bayi yang masih butuh perhatian yang lebih gitu.
"Bobo gimana main layang-layang kamu?" tanya Ibu.
"Senang Ibu. Bobo berhasil mengalahkan lawan yang nyebot Bobo saat main layang-layang dengan asik gitu sama teman-teman di lapangan," cerita Bobo.
"Anak Ibu yang pinter," pujian Ibu.
Bobo pun senang mendengar Ibu memujinya. Bobo pun kembali asik nonton Tv gitu, yang acaranya anak-anak. Ya Ibu menemani Bobo nonton Tv dengan asik juga, padahal masih repot ngurus dedek bayi, adiknya Bobo.
"Aku pulang!!" kata Bobo.
Bobo masuk rumah.
"Bobo ganti baju kamu, setelah itu makan. Ibu telah menyiapkan di meja makan!" kata Ibu.
"Iya Ibu," saut Bobo.
Bobo pun masuk ke kamarnya, menaruh tas di meja belajar dan berganti pakaian. Baru deh makan gitu. Ibu tetap sibuk merawat dedek bayi. Bobo selesai makannya.
"Ibu....Bobo mau main layang-layang di lapangan," kata Bobo.
"Iya," saut Ibu
Bobo pun mengambil layang-layang di kamarnya, ya beserta benang senar yang digulung di kaleng bekas susu. Bobo pun keluar rumah.
"Bobo...jangan sore-sore pulangnya!" teriak Ibu.
"Iya....Ibu," saut Bobo dengan suara keras.
Bobo berjalan berjalan menuju lapangan, ya di tengah jalan bertemu Heru dan Angga yang ingin main layang-layang. Ketiga sahabat jadi main layang-layang di lapangan. Sampai di lapangan...segera di terbangkan layang-layang Bobo, Heru dan Angga.
Dengan penuh kebahagiaan ketiga sahabat memainkan layang-layang mereka bertiga yang melayang di udara.
"Bobo, ada yang mau ngadu layangan kamu tuh!" kata Heru.
"Iya, dari tadi itu layangan itu menyebut aku," kata Bobo.
"Lawan aja Bobo!" kata Angga.
Bobo memainkan layangan dengan baik karena memang di adu dengan layangan yang lain, tetapi tidak tahu siapa yang memainkannya. Pertarungan layang-layang sengit di udara. Bobo terus mengulur benangnya agar bisa memutuskan layang-layang lawan, efeknya gesekan gitu.
Usaha Bobo pun berhasil mengalahkan layang-layang lawannya.
"Aku menang," kata Bobo.
"Ya, hebat kamu Bobo!" pujian Heru.
"Hebat kamu Bobo!" pujian Angga.
"Bobo gitu," kata Bobo dengan bangga.
Bobo kembali asik main layang-layang bersama teman-teman. Sampai waktu berganti begitu cepat sekali, ya sore gitu. Bobo teringat omongan Ibunya "Pulangnya jangan sore-sore!".
Bobo segera menurunkan layang-layangnya yang terbang di udara. Heru dan Angga juga. Setelah layang-layang sudah di tangan, ya segera Bobo meninggalkan lapangan. Heru dan Angga juga. Saat di persimpangan jalan, ya Bobo berpisah dengan teman-temanya. Segera Bobo berjalan menuju rumahnya.
Sampai di rumah.
"Aku pulang," kata Bobo.
Bobo segera masuk kamarnya dan menaruh layang-layang beserta benang yang di gulung di kaleng bekas susu. Baru deh Bobo keluar dari kamar, langsung ke kamar mandi untuk mandilah. Selang berapa saat. Bobo pun telah segar banget dan memakai baju yang bersih dan segera duduk di sofa di ruang tengah untuk nonton Tv acara anak-anak di chanel RTV.
Ibu duduk juga bersama Bobo, ya biasa sih Ibu masih gedong dedek bayi yang masih butuh perhatian yang lebih gitu.
"Bobo gimana main layang-layang kamu?" tanya Ibu.
"Senang Ibu. Bobo berhasil mengalahkan lawan yang nyebot Bobo saat main layang-layang dengan asik gitu sama teman-teman di lapangan," cerita Bobo.
"Anak Ibu yang pinter," pujian Ibu.
Bobo pun senang mendengar Ibu memujinya. Bobo pun kembali asik nonton Tv gitu, yang acaranya anak-anak. Ya Ibu menemani Bobo nonton Tv dengan asik juga, padahal masih repot ngurus dedek bayi, adiknya Bobo.
CANTIK, KUAT DAN TEGAR
Kasino sedang asik duduk di ruang tamu, ya sambil baca berita terbaru lewat Hpnya. Indro baru selesai mengerjakan kerjaannya di dapur, ya duduk bersama Kasino di ruang tamu.
"Kasino sedang baca berita apa?" tanya Indro.
"Lagi asik baca berita miss Belgia 2020, Celine yang terjatuh saat berjalan di catwalk gitu," kata Kasino.
"Mana aku lihat!" kata Indro.
"Pake Hp kamu Indro!" kata Kasino.
"Iya," saut Indro.
Indro pun mengambil Hpnya di meja belajar di kamarnya, ya segera mencari berita tentang miss Belgia 2020.
"Iya, Kasino. Miss Belgia 2020, Celine mengalami keserimpet pada langkah kakinya saat jalan di catwalk. Tetap sih. Cantik, kuat dan tegar banget gitu masalah yang di hadapinya. Padahal ya...memang gak sengajalah apalagi acara live lagi!?" kata Indro.
"Cantik, kuat dan tegar. Pujian yang hebat kamu Indro. Menilai sosok miss Belgia 2020, Celine," kata Kasino.
"Aku mau nonton Tv," kata Indro.
"Iya, sana!!!" kata Kasino.
Indro pun duduk di ruang tengah, ya nyetel Tv gitu dan mencari acara yang menarik gitu. Kasino ya....main game lah di Hpnya. Dono selesai mengetiknya di leptopnya, langsung keluar dari kamar dan duduk bersama Indro di ruang tengah untuk nonton Tv yang acara sinetron cinta gitu. Indro dan Dono asik nonton sinetron. Kasino asik juga main game di Hpnya.
MAIN KETAPEL
Hujan pun turun sangat deras. Bobo berlari dengan kencang menuju rumahnya, ya sampai sih. Bobo pun berganti pakaian gitu, di kamarnya. Teringat Bobo dengan Beny, ya membicarakan buat mainan yaitu ketapel gitu. Di luar rumah hujan masih deras. Dengan sabar Bobo bersabar menunggu hujan berhenti, sambil baca buku.
Hujan berhenti juga. Bobo mengambil gergaji dan segera ke halaman belakang untuk mencari batang pohon berbentuk 'Y'. Di cari-cari, ya depet gitu batang berbentuk 'Y', di pohon jambu. Segera batang pohon di potong oleh Bobo dengan gergaji.
"Aku berhasil mendapatkan batang yang bagus untuk buat ketapel," kata Bobo.
Bobo masuk rumah dan segera memotong karet ban bekas motor untuk karet ketapel. Dengan serius gitu memotong karet ban bekas motor, ya jadi dua dan panjang. Setelah itu baru di kaitkan dengan kayu yang berbentuk 'Y'.
"Aku berhasil membuat ketapel," kata Bobo.
Bobo mulai memainkan ketapel dengan pelurunya batu kerikil yang di arahkan di kaleng bekas minuman......di halaman belakang.
"Gelonteng," suara batu kerikil mengenai kaleng bekas susu.
"Aku berhasil menembak kaleng itu. Aku penembak jiku, kaya Usop.....temannya Lufy," kata Bobo.
Burung pun mencelok di pohon yang rindang gitu.
"Aku ingin menembak burung dengan ketapel yang aku buat," kata Bobo.
Bobo pun mengarahkan ketapelnya ke pohon yang ada burung gitu, walau hanya burung kutilang. Beberapa kali di lepaskan batu kerikil ke arah burung kutilang. Tapi tidak kena gitu....karena sasaran yang tembak Bobo, ya bergerak gitu.
"Gagal lagi," kata Bobo.
Bobo terus main ketapelnya. Ibu baru pulang dari rumah saudara dengan dedek bayi di gendong
Ibu. Seperti biasa Ibu memeriksa keadaan rumah. Terdengar suara gaduh di halaman belakang.
"Bobo!!!" panggilan Ibu.
"Iya, Ibu," kata Bobo.
"Bobo lagi ngapain?" tanya Ibu.
"Bobo lagi main ketapel Ibu," kata Bobo yang jujur.
Ibu melihat keadaan di sekitarnya.
"Bobo kamu menembak burung yang main di pohon, ya...?" tanya Ibu.
"Iya, Ibu," kata Bobo yang jujur.
"Bobo. Anak Ibu yang baik. Jangan main ketapel lagi dan sasaran yang kamu tembak itu makluk hidup. Kasihan Bobo," Ibu menasehatin Bobo.
"Iya, Ibu...Bobo tidak main ketapel lagi," kata Bobo yang menunduk.
"Sekarang lebih baik kamu belajar ke kamar sana!" perintah Ibu.
"Iya, Ibu," kata Bobo.
Bobo pun masuk ke dalam rumah, ya langsung ke kamarnya dan menaruh ketapel di dalam laci meja belajar. Karena di suruh Ibu belajar, ya Bobo nurut aja apa kata Ibu. Bobo pun belajar dengan serius mempelajari pelajaran yang sudah ia pelajari agar lebih paham lagi. Ibu mengurus dedek bayi yang masih butuh banyak perhatian gitu. Waktu berjalan dengan semestinya. Hari berganti malam gitu. Ayah pulang. Ya Ibu sudah menyiapkan makan malam. Bobo sudah di meja makan untuk makan malam. Ayah berganti pakaian, baru deh makan malam bersama. Bobo senang makan malam bersama Ayah dan Ibu, ya beserta adik Bobo yang masih bayi.
Hujan berhenti juga. Bobo mengambil gergaji dan segera ke halaman belakang untuk mencari batang pohon berbentuk 'Y'. Di cari-cari, ya depet gitu batang berbentuk 'Y', di pohon jambu. Segera batang pohon di potong oleh Bobo dengan gergaji.
"Aku berhasil mendapatkan batang yang bagus untuk buat ketapel," kata Bobo.
Bobo masuk rumah dan segera memotong karet ban bekas motor untuk karet ketapel. Dengan serius gitu memotong karet ban bekas motor, ya jadi dua dan panjang. Setelah itu baru di kaitkan dengan kayu yang berbentuk 'Y'.
"Aku berhasil membuat ketapel," kata Bobo.
Bobo mulai memainkan ketapel dengan pelurunya batu kerikil yang di arahkan di kaleng bekas minuman......di halaman belakang.
"Gelonteng," suara batu kerikil mengenai kaleng bekas susu.
"Aku berhasil menembak kaleng itu. Aku penembak jiku, kaya Usop.....temannya Lufy," kata Bobo.
Burung pun mencelok di pohon yang rindang gitu.
"Aku ingin menembak burung dengan ketapel yang aku buat," kata Bobo.
Bobo pun mengarahkan ketapelnya ke pohon yang ada burung gitu, walau hanya burung kutilang. Beberapa kali di lepaskan batu kerikil ke arah burung kutilang. Tapi tidak kena gitu....karena sasaran yang tembak Bobo, ya bergerak gitu.
"Gagal lagi," kata Bobo.
Bobo terus main ketapelnya. Ibu baru pulang dari rumah saudara dengan dedek bayi di gendong
Ibu. Seperti biasa Ibu memeriksa keadaan rumah. Terdengar suara gaduh di halaman belakang.
"Bobo!!!" panggilan Ibu.
"Iya, Ibu," kata Bobo.
"Bobo lagi ngapain?" tanya Ibu.
"Bobo lagi main ketapel Ibu," kata Bobo yang jujur.
Ibu melihat keadaan di sekitarnya.
"Bobo kamu menembak burung yang main di pohon, ya...?" tanya Ibu.
"Iya, Ibu," kata Bobo yang jujur.
"Bobo. Anak Ibu yang baik. Jangan main ketapel lagi dan sasaran yang kamu tembak itu makluk hidup. Kasihan Bobo," Ibu menasehatin Bobo.
"Iya, Ibu...Bobo tidak main ketapel lagi," kata Bobo yang menunduk.
"Sekarang lebih baik kamu belajar ke kamar sana!" perintah Ibu.
"Iya, Ibu," kata Bobo.
Bobo pun masuk ke dalam rumah, ya langsung ke kamarnya dan menaruh ketapel di dalam laci meja belajar. Karena di suruh Ibu belajar, ya Bobo nurut aja apa kata Ibu. Bobo pun belajar dengan serius mempelajari pelajaran yang sudah ia pelajari agar lebih paham lagi. Ibu mengurus dedek bayi yang masih butuh banyak perhatian gitu. Waktu berjalan dengan semestinya. Hari berganti malam gitu. Ayah pulang. Ya Ibu sudah menyiapkan makan malam. Bobo sudah di meja makan untuk makan malam. Ayah berganti pakaian, baru deh makan malam bersama. Bobo senang makan malam bersama Ayah dan Ibu, ya beserta adik Bobo yang masih bayi.
INVESTASI
Dono sedang asik duduk santai di warungnya Nabila, ya sambil menikmatin teh manis dan gorengan yang enak buatan Nabilayang cantik dan baik hatinya. Indro baru selesai urusannya dengan teman Dodo, urusan kerja, nama kerennya bisnis gitu.
Indro ke warungnya Nabila, ya untuk santai gitu.
"Nabila biasa kopi item satu gelas!" kata Indro sambil duduk bersama Dono.
"Iya, Abang," saut Nabila.
"Indro, kayanya kamu serius banget sama Dodo, aku melihat dari kejauhan gitu," kata Dono.
"Iya. Aku sedang ada kerjaan sama Dodo. Ya kerjaan gitu. Pasti menguntungkan. Sama dengan usaha Nabila," kata Indro.
"Kedai Kopi," saut Dono.
"Nanti...Nabila usaha ada pesaingnya dong," kata Nabila sambil menaruh gelas kopi di meja.
"Benar itu omongan Nabila. Pesaing bisnis," tambahan Dono.
"Namanya juga usaha. Pesaing dalam kerja yang sama sih gak ada apa-apa...kan. Aku dan Dodo berusaha mencari rezeki dengan cara baik," kata Indro.
"Iya deh. Aku mengerti," saut Dono.
"Nabila juga mengerti," saut Nabila.
"Kalau mengerti bagus itu," kata Indro sambil menyeruput kopi panasnya yang enak banget.
Dono membuka Hpnya dan menonton Tv online, ya di pilih chanel Tv yang di sukai dan acaranya berita gitu.
"Don, nonton apa ?" tanya Indro.
"Biasa berita hari ini. Topik paling utama sih biasa Pak Joko Widodo masih kaitannya dengan Investasi sih," kata Dono.
"Wah bagus tuh berita tentang Investasi. Kalau berhasil dalam kerja sama untuk penanaman modal di Indonesia. Benarlah....Indonesia maju di segala bidang," kata Indro yang antusias banget.
"Ya iya kamu senang urusan investasi. Kerjaan kamu, Indro dan Dodo. Iya sama aja investasi, ya bisnis kaya orang gedean gitu. Kalau usaha kamu berjalan baik, Indro. Aku...Investasi ke usaha kamu. Bagi-bagi keuntungan gitu dengan kesepakatan yang baik gitu," kata Dono.
"Itu tahu. Bahwa investasi itu menjanjikan keuntungan....kan," tambahan Indro.
"Abang Indro. Bukan Mas Dono tahu. Tapi sudah di jalankan di kedai kopi Nabila. Ya pada saat itu usaha Nabila mengalami kesulitan keuangan gitu, karena modal kedai kopi ini di pake untuk berobat Ayah, sakit. Ya untung aja ada Mas Dono, yang menyelamat usaha kedai kopi Nabila. Cuma kesepakatan bagi hasil aja gitu. Sampai sekarang bertahan," cerita Nabila.
"Wah....wah Dono. Kamu bukan tiori yang kamu ucapkan, tapi udah praktek toh. Hebat...kamu. Don," kata Indro.
"Namanya juga bisnis. Bisa modal besar atau modal kecilkan. Kalau itu menjanjikan apa salahnya, ya di jalankan dengan baik. Pasti untung," kata Dono.
"Bener-bener pandai membaca peluang bisnis.... kan Don," kata Indro.
"Yo.....i," saut Dono yang asik nonton Tv pake Hpnya, online lagi.
Indro terus makan gorengan sambil menikmati kopi yang enak. Nabila melayanin pembeli yang berkunjung di kedai kopi Nabila gitu. Dono senang sekali pertumbuhan dari usaha yang dijalankan oleh Nabila, ya kerja sama dalam penaman modal di usaha Nabila berjalan baik.
Indro ke warungnya Nabila, ya untuk santai gitu.
"Nabila biasa kopi item satu gelas!" kata Indro sambil duduk bersama Dono.
"Iya, Abang," saut Nabila.
"Indro, kayanya kamu serius banget sama Dodo, aku melihat dari kejauhan gitu," kata Dono.
"Iya. Aku sedang ada kerjaan sama Dodo. Ya kerjaan gitu. Pasti menguntungkan. Sama dengan usaha Nabila," kata Indro.
"Kedai Kopi," saut Dono.
"Nanti...Nabila usaha ada pesaingnya dong," kata Nabila sambil menaruh gelas kopi di meja.
"Benar itu omongan Nabila. Pesaing bisnis," tambahan Dono.
"Namanya juga usaha. Pesaing dalam kerja yang sama sih gak ada apa-apa...kan. Aku dan Dodo berusaha mencari rezeki dengan cara baik," kata Indro.
"Iya deh. Aku mengerti," saut Dono.
"Nabila juga mengerti," saut Nabila.
"Kalau mengerti bagus itu," kata Indro sambil menyeruput kopi panasnya yang enak banget.
Dono membuka Hpnya dan menonton Tv online, ya di pilih chanel Tv yang di sukai dan acaranya berita gitu.
"Don, nonton apa ?" tanya Indro.
"Biasa berita hari ini. Topik paling utama sih biasa Pak Joko Widodo masih kaitannya dengan Investasi sih," kata Dono.
"Wah bagus tuh berita tentang Investasi. Kalau berhasil dalam kerja sama untuk penanaman modal di Indonesia. Benarlah....Indonesia maju di segala bidang," kata Indro yang antusias banget.
"Ya iya kamu senang urusan investasi. Kerjaan kamu, Indro dan Dodo. Iya sama aja investasi, ya bisnis kaya orang gedean gitu. Kalau usaha kamu berjalan baik, Indro. Aku...Investasi ke usaha kamu. Bagi-bagi keuntungan gitu dengan kesepakatan yang baik gitu," kata Dono.
"Itu tahu. Bahwa investasi itu menjanjikan keuntungan....kan," tambahan Indro.
"Abang Indro. Bukan Mas Dono tahu. Tapi sudah di jalankan di kedai kopi Nabila. Ya pada saat itu usaha Nabila mengalami kesulitan keuangan gitu, karena modal kedai kopi ini di pake untuk berobat Ayah, sakit. Ya untung aja ada Mas Dono, yang menyelamat usaha kedai kopi Nabila. Cuma kesepakatan bagi hasil aja gitu. Sampai sekarang bertahan," cerita Nabila.
"Wah....wah Dono. Kamu bukan tiori yang kamu ucapkan, tapi udah praktek toh. Hebat...kamu. Don," kata Indro.
"Namanya juga bisnis. Bisa modal besar atau modal kecilkan. Kalau itu menjanjikan apa salahnya, ya di jalankan dengan baik. Pasti untung," kata Dono.
"Bener-bener pandai membaca peluang bisnis.... kan Don," kata Indro.
"Yo.....i," saut Dono yang asik nonton Tv pake Hpnya, online lagi.
Indro terus makan gorengan sambil menikmati kopi yang enak. Nabila melayanin pembeli yang berkunjung di kedai kopi Nabila gitu. Dono senang sekali pertumbuhan dari usaha yang dijalankan oleh Nabila, ya kerja sama dalam penaman modal di usaha Nabila berjalan baik.
Monday, January 13, 2020
IBU SELALU MEMBIMBING
Seusai sekolah, ya Bobo segera pulang ke rumahnya. Dengan santai Bobo berjalan menuju rumahnya, memang dekat sih jarak dari rumah ke sekolahan. belalang melompat dari semak satu ke semak yang lain. Bobo pun bergerak cepat menangkap belalang tersebut. Saat belalang mencelok gitu. Ya Bobo mau menangkapnya dengan tangan kanannya.
Belalang langsung lompat lagi.
"Wah aku gagal menangkap belalang," kata Bobo.
Bobo berusaha lagi menangkap belalang lagi. Usaha keras Bobo berhasil menangkap belalang.
"Aku senang nangkap belalang," kata Bobo.
Bobo pun segera berlari menuju rumahnya. Ya sampai di rumah. Ibu memeriksa keadaan anaknya baru pulang sekolah.
"Apa yang di tangan mu itu Bobo?" tanya Bobo.
"Anu, Ibu. Belalang, jadi mainan Bobo," katanya dengan jujur.
"Bobo, anak Ibu yang baik dengerin omongan Ibu yang sayang sama Bobo," kata Ibu.
"Iya," saut Bobo.
"Bobo, sebaiknya itu belalang lebih baik di lepas saja. Karena belalang lebih baik hidup bebas dari pada kamu jadikan mainan. Kasihan....belalangnya," kata Ibu.
"Iya, Bobo lepas belalang ini. Tidak Bobo jadikan mainan Bobo," katanya.
Bobo pun melepaskan belalang tersebut. Belalang pun melompat dan melompat menuju semak-semak.
"Anak Ibu yang pinter.....," pujian Ibu.
"Bobo pintar."
"Ganti pakaian mu, makan setelah itu kerjakan PR kamu....Bobo!" kata Ibu.
"Iya...Ibu," kata Bobo.
Bobo segera kekamarnya untuk berganti pakaian, lalu ke ruang makan untuk makan. Ibu sudah menyiapkan makan yang enak untuk Bobo. Dengan tenang dan lahap Bobo menikmati makanan yang enak buatan Ibu tersayang sampai Bobo....kenyang.
Setelah makan, ya Bobo mengerjakan PR gitu. Memang Bobo agak kesulitan mengerjakan PR karena soalnya susah untuk di jawab oleh Bobo. Ibu pun membantu Bobo untuk menyelesaikan kesulitan Bobo dalam mengerjakan PR dengan membimbingnya dengan baik.
Pelan-pelan Bobo mengerti dan bisa menyelesaikan PRnya. Setelah itu Ibu membolehkan Bobo main game, karena telah menyelesaikan tugasnya sebagai pelajar yang punya tanggungjawab pada pendidikannya. Ibu tetap mengawasi Bobo, walau sibuk dengan urusan benahin rumah dan dedek bayi yang lucu, adik Bobo.
Saturday, January 11, 2020
WAKTU BERLALU CEPAT SEKALI
Malam minggu yang tenang sekali. Anji duduk di taman sambil memandang langit, ya lumayan lah ada bintang gitu. Memang udara dingin banget, karena abis hujan tadi sore. Andika pun duduk sebelah Anji dan memberikan minuman botol yang di belinya pada pedagang daerah pinggiran taman.
Andika melihat anak muda mudi membawa motornya untuk berkumpul di taman, atau di daerah lain untuk menikmati indahnya malam minggu.
"Hidup kita sudah terlalu tua ya," kata Anji.
"Iya, zaman kita dulu sama berkeliling malam mingguan pake motor untuk menikmati malam yang panjang," kata Andika.
"Begitulah. Kalau sekarang sih....kita hanya sekedarnya....saja. Sudah repot urusan kerjaan dan rumah tangga," kata Anji.
"Bener-bener cepat berlalu. Sampai teman kita, yang pernah kita rebutkan....Popy. Meninggal dunia...di usia muda, karena penyakit di idapnya," kata Andika.
"Jadinya, kita hanya bisa mengikhlaskan kepergian Popy untuk selamanya," kata Anji.
"Sudah....yuk pulang," kata Andika.
"Ayok," saut Anji.
Andika dan Anji beranjak dari duduknya di taman. Anji mulai teringat tentang rubik berita tentang pemberitaan....ya KPK...gitu jadi berkata ke Andika "Apa tanggapan kamu dengan OTT, yang di lakukan oleh KPK?"
"Anji, jangan merusak suasana menikmat malam minggu dengan urusan pemerintahan yang ini dan itu," kata Andika.
"Cuma....obrolan antara aku dan kamu, Andika.....," kata Anji.
"Berita tentang pemerintahan itu....tidak akan habis-habisnya sampai manusia itu puas mendapatkan yang ia inginkan. Kadang jatuh pun....pasti bangun lagi....demi melanjutkan hidup. Kalau meninggal selesai....jadi kenangan semua orang, tetapi masih di manfaatkan menjadi nilai sejarah yang di ajarkan....ke generasi yang baru. Padahal generasi....sekarang. Kamu, Anji....bisa melihat....sendirikan. Bisa sama seperti kita dulu atau lebih dari kita....bisa aja....buruknya lebih dari kita," kata Andika.
"Aku paham..banget. Tapi mau di kata apa...inilah hidup di generasi sekarang," kata Anji.
Sampai juga di rumahnya Andika, ya jadinya berpisahlah....Anji pun berjalan terus menuju rumahnya. Andika masuk rumah, ya biasa membimbing anaknya masih umur 3 tahun dan istrinya yang selalu pengertian.
Anji pun sampai di rumahnya. Ya seperti biasa di sambut istri tercinta, tapi rumah tangga Anji belum di karunai anak....walau sudah di jalankan selama 3 tahun, tetap hubungan harmonis dan tidak ingin pisah. Beda dengan teman Anji, si Teguh perceraian karena salah Teguh yang selingkuh. Belum lagi temannya Anji, si Lisa di ceraikan suaminya karena tidak bisa memberikan anak, padahal itu hanya alasan saja untuk menikah lagi dengan pacar gelapnya gitu. Ya Lisa menerima keadaannya gitu.
Malam minggu ini, Anji ngobrol dengan asik dengan istri tercinta, ya sambil menonton Tv yang filmnya bagus dan romantis.
KUDA LUMPING
Seusai sekolah. Toto segera pulang ke rumahnya dengan berjalan kaki. Sebelum sampai di rumah, terdengar suara gendang yang di tabuh.
"Jangan-jangan ada acara kuda lumping di daerah sini," kata Toto.
Toto pun mau menonton acara kuda lumping, tetapi harus pulang dulu. Sampai di rumah. Toto segera berganti pakaian dan makan untuk mengisi perutnya kosong. Baru deh pergi untuk menonton acara kuda lumpingan. Di tengah jalan bertemu dengan Heru sedang mengayuh sepedahnya. Ya Toto ikut sepedah Heru di belakang, karena tujuan Heru sama dengan Toto....ingin menonton acara kuda lumping.
Sampai di lapangan penuh dengan warga sekitar menonton kuda lumping. Toto dan Heru pun terbawa suasana acara kuda lumping yang meriah banget.
"Bagus ya," kata Toto.
"Iya, budaya tradisional di hidupkan," kata Heru.
"Yang punya hajat, orang jawa. Maka acaranya kuda lumping," kata Toto.
"Iya, kebiasaan orang jawa. Kalau punya hajat, pasti ada kuda lumpingan di daerah sini," kata Heru.
"Aku dan kamu, Her...jawa. Maka suka kesenian tradisional seperti kuda lumping," kata Toto.
"Idem," kata Heru
Toto dan Heru menghentikan pembicaraannya dan kembali asik menonton kuda lumping dengan penuh kemeriahan gitu.
Thursday, January 9, 2020
SELISIH HARGA
Seusai sholat jum'at. Dono dan Kasino duduk teras mesjid, ya nyantai gitu.
"Kasino, ngomong kemarin potong rambut.....mahal gak....harga yang di tetapkan di daerah sini?" tanya Dono.
"Ya....masih murah sih. Karena menetapkan harganya sesuai keadaan daerah sini," kata Kasino.
"Kalau di daerah lain, pulau lain yang lebih tinggi harga penetapan potong rambutnya. Tetapi tetap saja masyarakat tidak mengeluh tuh," kata Dono.
"Kan....Dono, tiap daerah...kan pertumbuhan ekonominya beda-beda. Ya tergantung jenis usaha besar yang berkembang di tiap daerah," tambahan Kasino.
"Benar....kamu, Kasino. Karena di pulau lain itu. Banyak perusahaan yang modalnya besar banget, ya gajinya tinggi pula," kata Dono.
"Kalau di daerah sini perusahaan sedikit. Ya kalau di naikin sesuai dengan pulau yang lain yang perkembangan ekonominya tumbuh pesat. Pasti pada ngeluh. Karena memang susah pertumbuhan ekonomi di daerah sini," kata Kasino.
Indro menghampiri Dono dan Kasino yang asik ngobrol.
"Don, Kasino....ngomongin apa?" tanya Indro.
"Selisih harga di daerah sini dan daerah lain," kata Dono.
"Iya, selisih harga," kata Kasino.
"Oh....ekonomi. Di lihat dari lingkungan berdasarkan harga penetapan di daerah sini dan di daerah lain," kata Indro.
"Udahan ngobrolnya lebih baik pulang," kata Dono.
"Iya....pulang," kata Kasino.
"Jadi udahan....ngobrolnya....masalah ekonomi di lingkungan," kata Indro.
"Iya, toh.....cuma sekedar ngobrol aja," kata Dono.
"Iya....sekedar ngobrol, tapi serius lah. Kalau masih urusan dengan ekonomi. Di pulau ini dan pulau itu. Atau daerah sini dan daerah situ. Padahal....kesannya....basa basi aja," kata Kasino.
"Oh....begitu. Ayo pulang," kata Indro.
Dono, Kasino dan Indro berjalan menuju rumah. Tiba-tiba Dono teringat janji dengan Rara, jadinya Dono tidak jadi pulang ke rumah, ya langsung bergerak menuju rumah Rara.
"Biasa....yang lagi kasmaran," kata Kasino.
"Iya....," saut Indro.
Kasino dan Indro berjalan sambil ngobrol yang asik gitu, ya gak jauh-jauh masih menyambung masalah ekonomi di lingkungan. Sampai di rumah juga. Kasino, ya seperti biasa mengerjakan pekerjaannya seperti biasanya dikamarnya, pembukuan. Indro seperti biasa nyetel Tv, ya ingin tahu perkembangan yang baru dari pemberitaan dari Tv di daerah sini dan daerah sana dengan mengganti chanel Tv saja pake remot.
"Kasino, ngomong kemarin potong rambut.....mahal gak....harga yang di tetapkan di daerah sini?" tanya Dono.
"Ya....masih murah sih. Karena menetapkan harganya sesuai keadaan daerah sini," kata Kasino.
"Kalau di daerah lain, pulau lain yang lebih tinggi harga penetapan potong rambutnya. Tetapi tetap saja masyarakat tidak mengeluh tuh," kata Dono.
"Kan....Dono, tiap daerah...kan pertumbuhan ekonominya beda-beda. Ya tergantung jenis usaha besar yang berkembang di tiap daerah," tambahan Kasino.
"Benar....kamu, Kasino. Karena di pulau lain itu. Banyak perusahaan yang modalnya besar banget, ya gajinya tinggi pula," kata Dono.
"Kalau di daerah sini perusahaan sedikit. Ya kalau di naikin sesuai dengan pulau yang lain yang perkembangan ekonominya tumbuh pesat. Pasti pada ngeluh. Karena memang susah pertumbuhan ekonomi di daerah sini," kata Kasino.
Indro menghampiri Dono dan Kasino yang asik ngobrol.
"Don, Kasino....ngomongin apa?" tanya Indro.
"Selisih harga di daerah sini dan daerah lain," kata Dono.
"Iya, selisih harga," kata Kasino.
"Oh....ekonomi. Di lihat dari lingkungan berdasarkan harga penetapan di daerah sini dan di daerah lain," kata Indro.
"Udahan ngobrolnya lebih baik pulang," kata Dono.
"Iya....pulang," kata Kasino.
"Jadi udahan....ngobrolnya....masalah ekonomi di lingkungan," kata Indro.
"Iya, toh.....cuma sekedar ngobrol aja," kata Dono.
"Iya....sekedar ngobrol, tapi serius lah. Kalau masih urusan dengan ekonomi. Di pulau ini dan pulau itu. Atau daerah sini dan daerah situ. Padahal....kesannya....basa basi aja," kata Kasino.
"Oh....begitu. Ayo pulang," kata Indro.
Dono, Kasino dan Indro berjalan menuju rumah. Tiba-tiba Dono teringat janji dengan Rara, jadinya Dono tidak jadi pulang ke rumah, ya langsung bergerak menuju rumah Rara.
"Biasa....yang lagi kasmaran," kata Kasino.
"Iya....," saut Indro.
Kasino dan Indro berjalan sambil ngobrol yang asik gitu, ya gak jauh-jauh masih menyambung masalah ekonomi di lingkungan. Sampai di rumah juga. Kasino, ya seperti biasa mengerjakan pekerjaannya seperti biasanya dikamarnya, pembukuan. Indro seperti biasa nyetel Tv, ya ingin tahu perkembangan yang baru dari pemberitaan dari Tv di daerah sini dan daerah sana dengan mengganti chanel Tv saja pake remot.
AIR MATA LIRA
Dono berjalan menuju rumah seusai mengaji di mesjid. Ketika melewati gardu biasa di gunakan warga jaga malam. Ada sesosok gadis cantik duduk gardu dan sedang menangis.
Dono sebenarnya gak ikut campur urusan orang, apalagi cewek, takut ketiban sial. Di lihat seksama oleh Dono, gadis yang menangis di gardu.
"Loh, Lira," kata Dono.
Dono pun mendekati Lira.
"Lira kenapa kamu menangis?" tanya Dono.
Lira pun melihat Dono dengan baik dan berkata "Anu....anu....Mas....".
"Jangan-jangan kamu putus cinta ya," kata Dono memotong omongan Lira.
Lira menangis lagi karena dengan omongan Dono "Putus".
"Waduh....kacau. Beneran ini mah. Lira putus cinta," kata Dono yang bingung melihat Lira nangis.
Lira pun berhenti menangisnya dan beranjak dari tempat duduknya di gardu dan berjalan gitu aja.
"Lira, kamu mau kemana?" tanya Dono.
"Pulang," kata Lira.
Motor pun berhenti di samping Dono.
"Ada apa Don?" tanya Toing.
"Ini....Lira nangis. Gimana.....anterin Lira pulang ke rumahnya dari pada jalan sendirian karena patah hati," kata Dono.
"Ok, beres aku anter Lira ke rumahnya," kata Toing.
Toing pun menghampiri Lira dengan motornya dan mengajaknya Lira ikut dengannya, ya di anterin ke rumah Lira. Lira pun menerima niat baiknya Toing yang mau mengantarkan Lira ke rumahnya.
Lira duduk di belakang, ya Toing membawa motornya dengan baik ke rumah Lira. Dono pun senang melihat Lira di antar pulang oleh Toing. Sampai di rumah.
"Asalamualikum," salam Dono.
"Waalaikumsalam," jawab Indro dengan suara banter.
Dono masuk rumah, ya langsung ke ruang tengah melihat Indro yang asik nonton Tv.
"Asik nonton Indro," kata Dono.
"Iya, musik dangdut," kata Indro.
"Oh...gitu," kata Dono.
Dono pun ke kamarnya dan segera menghidupkan leptopnya, ya seperti biasa mengetik.
"Ide ceritanya apa ya?" kata Dono yang berpikir.
"Oh iya, cerita tentang Lira yang menangis di gardu karena patah hati," kata Dono.
Dono langsung mengetik dengan penuh ide dan ide yang baik dari dalam dirinya. Indro terus asik nonton Tv, yang acaranya musik dangdut. Kasino pun masuk rumah dan tidak lupa mengucap salam "Asalamualaikum".
"Waalaikumsalam," jawab Indro dengan suara banter.
Kasino langsung berjalan ke ruang tengah dan melihat Indro asik nonton Tv.
"Indro asik nonton Tvnya," kata Kasino.
"Iya, acara musik dangdut," kata Indro.
"Emmm," kata Kasino.
Kasino pun masuk ke kamarnya untuk berbenah diri. Dono pun selesai mengetiknya di kamarnya, ya keluar dari kamar dan duduk bersama Indro untuk nonton Tv.
"Don hari ini mengetik tentang apa?" tanya Indro.
"Patah hati, ada gadis di daerah sini yang gagal dalam urusan percintaannya. Ya aku angkat ceritanya," kata Dono.
"Oh begitu," kata Indro.
Indro tidak nanya lagi ke Dono dan kembali asik nonton Tv, ya begitu juga dengan Dono yang asik nonton Tv....acara musik dangdut.
Dono sebenarnya gak ikut campur urusan orang, apalagi cewek, takut ketiban sial. Di lihat seksama oleh Dono, gadis yang menangis di gardu.
"Loh, Lira," kata Dono.
Dono pun mendekati Lira.
"Lira kenapa kamu menangis?" tanya Dono.
Lira pun melihat Dono dengan baik dan berkata "Anu....anu....Mas....".
"Jangan-jangan kamu putus cinta ya," kata Dono memotong omongan Lira.
Lira menangis lagi karena dengan omongan Dono "Putus".
"Waduh....kacau. Beneran ini mah. Lira putus cinta," kata Dono yang bingung melihat Lira nangis.
Lira pun berhenti menangisnya dan beranjak dari tempat duduknya di gardu dan berjalan gitu aja.
"Lira, kamu mau kemana?" tanya Dono.
"Pulang," kata Lira.
Motor pun berhenti di samping Dono.
"Ada apa Don?" tanya Toing.
"Ini....Lira nangis. Gimana.....anterin Lira pulang ke rumahnya dari pada jalan sendirian karena patah hati," kata Dono.
"Ok, beres aku anter Lira ke rumahnya," kata Toing.
Toing pun menghampiri Lira dengan motornya dan mengajaknya Lira ikut dengannya, ya di anterin ke rumah Lira. Lira pun menerima niat baiknya Toing yang mau mengantarkan Lira ke rumahnya.
Lira duduk di belakang, ya Toing membawa motornya dengan baik ke rumah Lira. Dono pun senang melihat Lira di antar pulang oleh Toing. Sampai di rumah.
"Asalamualikum," salam Dono.
"Waalaikumsalam," jawab Indro dengan suara banter.
Dono masuk rumah, ya langsung ke ruang tengah melihat Indro yang asik nonton Tv.
"Asik nonton Indro," kata Dono.
"Iya, musik dangdut," kata Indro.
"Oh...gitu," kata Dono.
Dono pun ke kamarnya dan segera menghidupkan leptopnya, ya seperti biasa mengetik.
"Ide ceritanya apa ya?" kata Dono yang berpikir.
"Oh iya, cerita tentang Lira yang menangis di gardu karena patah hati," kata Dono.
Dono langsung mengetik dengan penuh ide dan ide yang baik dari dalam dirinya. Indro terus asik nonton Tv, yang acaranya musik dangdut. Kasino pun masuk rumah dan tidak lupa mengucap salam "Asalamualaikum".
"Waalaikumsalam," jawab Indro dengan suara banter.
Kasino langsung berjalan ke ruang tengah dan melihat Indro asik nonton Tv.
"Indro asik nonton Tvnya," kata Kasino.
"Iya, acara musik dangdut," kata Indro.
"Emmm," kata Kasino.
Kasino pun masuk ke kamarnya untuk berbenah diri. Dono pun selesai mengetiknya di kamarnya, ya keluar dari kamar dan duduk bersama Indro untuk nonton Tv.
"Don hari ini mengetik tentang apa?" tanya Indro.
"Patah hati, ada gadis di daerah sini yang gagal dalam urusan percintaannya. Ya aku angkat ceritanya," kata Dono.
"Oh begitu," kata Indro.
Indro tidak nanya lagi ke Dono dan kembali asik nonton Tv, ya begitu juga dengan Dono yang asik nonton Tv....acara musik dangdut.
Wednesday, January 8, 2020
CINTA
Indro sudah keadaan tenang dan rapih bangat. Kamera di hidupkan oleh Kasino.
"Selamat malam semuanya. Hari ini berjumpa kembali dengan aku, Indro. Host yang ganteng dan keren, walau terlihat bersinar di kepala. Maklum keturunan jidat lebar gitu. Untung saja bukan keturunan tuyul. Hiiiii hantu....., takut. Ok, Aku tidak membahas tentang hantu. Aku akan membahas tentang 'Cinta' saja. Maka itu tema hari ini......'Cinta'. Dan narasumber hari ini, biasa Dono".
Dono pun muncul di ruang tamu.
"Semuanya tepuk tangan kehadiran tamu kita, Dono!" kata Indro.
Indro pun bertepuk tangan. Dono ya terlihat tenang, tapi tersipu malu banyak yang bertepuk tangan pada dirinya. Kasino ya sebenarnya menghidupkan vidio orang tepuk tangan, agar suasana meriah banget.
"Dono, terima kasih bisa hadir di acara aku yang eskulisif banget....banget," kata Indro.
"Iya, kebetulan aku tidak acara. Jadi main ke sini," kata Dono.
"Ok....ok...baiklah. Silakan duduk!" kata Indro.
"Iya," saut Dono.
Dono pun duduk sofa yang di sediakan begitu juga Indro.
"Dono. Aku mulai perbincangan ini. Singkat padat dan berisi," kata Indro yang basa-basi gitu.
"Silakan," kata Dono.
"Apa pendapat Dono tentang cinta?" tanya Indro.
"Cinta itu. Perasaan aja. Ibarat makan aja. Aku suka makan itu, nama cinta. Kalau aku tidak suka dengan makan itu, maka aku tidak cinta, mungkin bisa membenci makan tersebut," penjelasan Dono.
"Mudah di pahami kalau cinta di ibaratkan makanan....ya. Aku suka....suka. Bagaimana penonton?" kata Indro.
Kasino pun menghidupkan vidio dan suara manusia yang berteriak "Suka".
"Terima kasih. Terima kasih. Kalau semua penonton suka," kata Indro.
"Dono. Agak sedikit mengorek-ngorek perjalan hidup kamu, ya berkaitan dengan cinta," kata Indro.
"Silakan aja. Tidak masalah kalau urusan pribadi kok," kata Dono.
"Ok baiklah. Don. Pernahkah kamu patah hati?" kata Indro yang antusias.
"Patah hati. Pernah sih. Rasanya itu. Sakitnya tuh di sini di dalam hati ku. Sakit....sakit....sakit. Ya sakit banget gitu," penjelasan Dono.
"Wah kalau patah hati itu sakit. Jangan bermain cinta," kata Indro.
"Namanya juga. Perjalan hidup pencarian pasangan. Ya wajar aja lika likunya. Ada yang bahagia, ada juga tidak bahagia. Apa yang kita rencanakan belum tentu tujuannya sukses," kata Dono.
"Biasa itu, lebih tepatnya. Ada yang tepat janji dan ada yang ingkar janji dalam menjalankan hubungan percintaan," tambahan Indro.
"Benar...kamu Indro. Kayanya lebih baik kamu jadi narasumbernya, bukan aku," kata Dono.
"Ah....Dono gitu. Kalau aku jadi narasumbernya. Aku kerjaan jadi host berhenti. Di ganti orang lain. Kalau yang menggantiin bisa naikin reting. Kalau gak. Acara ini kan di ganti acara lain," kata Indro.
"Jujur banget....omongan Indro," pujian Dono.
"Terima kasih. Terima kasih. Gimana dengan penonton suka dengan acara ini?" kata Indro.
Kasino menghidupkan vidio, orang yang berteriak "Suka".
"Terima kasih. Terima kasih. Kalau semua penonton suka pada ku. Aku cinta kalian semuanya," kata Indro.
Kasino menghidupkan vidio, semua orang yang berteriak "Cinta".
"Sekali lagi. Aku terima kasih. Ok.....kembali ke leptop. Salah punya pelawak terkenal Tukul. Ok kembali ke pertanyaan. Dono. Kabarnya sudah punya pasangan, baik dan cantik. Apa yang membuat mu tertarik pada pasangan kamu tersebut...
Don?" kata Indro.
"Sama...omongan kamu tadi Indro. Baik dan cantik," kata Dono.
"Kalau gitu kita sama. Selera tentang cewek. Baik dan cantik. Oh ternyata waktu telah di hujung acara. Kalau begitu. Terima kasih, ya Dono. Mau main ke tempat aku. Kapan-kapan kita ngobrol lagi dengan tema yang lainnya," kata Indro.
"Iya. Siap hadir kalau di minta," kata Dono.
"Ok. Acara ini telah usai. Dengan tema yang menyenangkan. Sampai jumpa di lain waktu dengan tema yang lebih menarik. Da...da..da," kata Indro.
Kasino menghidupkan vidio, semua orang pun bertepuk tangan. Kasino pun berkata "Cat, bagus".
"Siplah. Aku berhasil membuat vidio, kaya INI TALKSHOW," kata Indro.
"Nyenengin teman apa salahnya," kata Dono.
"Bagus. Bagus. Semuanya bagus. Sesuai dengan rencana padat dan singkat," pujian Kasino.
"Kalau begitu. Aku pergi kawan-kawan ke rumah Rara," kata Dono.
"Iya. Hati-hati jalan," kata Indro.
"Idem," saut Kasino.
Dono keluar dari rumah, ya lewat pintu depan walau banyak barang-barang yang di gunakan untuk set acara Indro. Ya Indro dan Kasino beres-beres setelah rekaman acara selesai dan telah di simpan baik-baik.
Saturday, January 4, 2020
OBROLAN DI HARI MINGGU
Dono lagi asik makan bakso di tempat langganannya, tepatnya sih di pinggiran pasar gitu. Indro yang selesai belanja keperluan rumah, ya mampir ke untuk makan bakso. Indro pun melihat Dono, asik makan bakso, ya segera duduk bersamanya.
"Bang baksonya satu mangkok!" kata Indro yang memesan bakso.
"Baik Bang, minumnya apa ni," kata Abang penjual bakso.
"Biasa, es teh manis," kata Indro.
"Es teh manis," kata Abang penjual bakso.
Dono terus menikmati makan baksonya. Tiba-tiba ada orang gila lewat situ dan berkata pada semua orang yang asik makan bakso.
"Minta uang!" kata orang gila.
Semua mengabaikan omongan orang gila tersebut.
"Panjang umur juga orang itu," kata Dono.
"Iya, Dono.....orang gila panjang umur," kata Indro.
Orang gila pun yang minta uang meninggalkan tempat tersebut. Abang penjual bakso menyajikan mangkok bakso dan gelas es teh manis di meja. Indro segera menikmati makan baksonya. Kasino selesai potong rambut, ya segera ke tempat penjual bakso untuk makan bakso.
Melihat Dono dan Indro yang asik makan bakso, segera duduk bersama teman-teman.
"Abang pesan bakso satu mangkok, minumnya teh botol sosro!" kata Kasino.
"Bang, maaf teh botol sosronya gak ada, yang ada es teh manis," kata Abang penjual bakso.
"Ya sudah, es teh manisnya!" kata Indro.
"Es teh manis," kata Abang penjual bakso.
Dono selesai makan baksonya dan asik minum es teh manisnya. Hp pun di keluarkan Dono, ya biasa untuk melihat berita yang terbaru.
"Beberapa hari ini, berita selalu berkaitan dengan banjir aja," kata Dono.
"Memang berita yang terus di beritakan masalah banjir aja. Polanya pun tetap sama aja," kata Indro.
"Iya memang ada itu beritanya. Kalau di lihat lingkungan sekitar kita yang ada orang dagang semuanya. Kalau di angkat beritanya, paling harga barang di pasar...contohnya harga cabe sekilonya seginilah segitulah," kata Kasino.
Abang penjual bakso menyajikan mangkok bakso dan gelas es teh manis di meja. Ya Kasino segera makan bakso. Abang penjual bakso membereskan pekerjaan yang lain.
"Omongan kamu benar Kasino. Kalau kaitannya dengan berita yang diangkat di lingkungan," kata Dono.
"Gimana dengan proses penanggulan bencana, ya banjir sih?" tanya Indro.
"Kerja pihak-pihak terkait, pemerintahan, sudah sesuai sih," kata Dono.
"Oh, begitu. Jadi kenapa bisa jadi banjir dan siapa yang akan di salahkan. Biasanya berita selalu menyudutkan satu sistem di lapisan apapun?" kata Indro.
"Itu bener omongan Indro. Siapa yang harus di salahkan sampai bencana banjir?" saut Kasino.
"Kalau di berita sih, biasalah....bencana alam gitu. Tapi ya....siapa yang menanganin suatu daerah tersebut agar tidak terkena banjir. Masalah banjir kan terjadi berkali-kali. Ya pastinya sih kalau kesimpulan aku sih. Salah semuanya," kata Dono.
"Salah semuanya. Berarti masyarakat dong," kata Indro.
"Kalau masyarakat sih, ya benar sih. Memang yang terkena banjir. Lebih tepatnya sih masyarakat yang tinggal di kawasan rawan banjir," tambahan Kasino.
"Kalau proses sistem aliran sungai bagus sih, maka tidak akan banjir, walau di kala hujan. Volume air yang di tertampung langsung ke aliran sungai, tidak melebar ke sana ke sini," kata Dono.
"Benar kamu Don. Semua karena aliran sungainya. Ya paling saluran sungai menjadi kecil karena ada yang membuat perumahan di pinggiran sungai sampai membuang sampah di sungai," kata Indro.
"Ya....jelas itu sih. Masyarakat di sekitar tersebut....yang terkena banjir karena kesalahan di buat mereka. Untung saja kerja pemerintahan dan penanggulangan bencana aktif, ya banyak yang selamat," tambahan Kasino.
"Ya...sudah gak sudah di bahas lagi," kata Dono.
"Iya, obrolan sambil menikmati makan bakso dan es teh manis," kata Indro.
"Idem," saut Kasino.
"Oh iya, makan dan minum. Indro dan Kasino, aku yang bayar. Aku cabut duluan dari sini. Biasa ada janjian dengan Rara," kata Dono
"Terima kasih Don," kata Indro.
"Aku, Idem...Don," kata Kasino.
Dono pun beranjak dari duduknya bersama Indro dan Kasino, ya segera membayar ke Abang penjual bakso. Baru setelah itu Dono berjalan menemui Rara, yang sedang belanja di toko baju. Indro dan Kasino menikmati makan bakso dan es teh manis dengan asik banget.
Subscribe to:
Comments (Atom)
CAMPUR ADUK
BAD NEWS BEARS
Malam hari, ya bulan bersinar dengan baik. Setelah nonton Tv yang acaranya menarik dan bagus...tema cinta di chenel MDTV, ya seperti biasa s...
CAMPUR ADUK
-
1. Asal Usul Pangeran Jayakusuma Alkisah cerita, ada sebuah kerajaan yang besar di daerah Timur dengan rajanya yang bernama Prabu Braw...
-
Sekurang-kurangnya sepuluh atau lima belas orang, laki-laki dan perempuan, berdiri dalam satu deretan panjang, berbaris dari belakang dan...
-
Pagi indah sekali di Baturaden. Matahari bersinar cerah menimpa pohon-pohon ceramah yang kelihatan hijau berkilat. Puncak Gunung Slamet m...
















