CAMPUR ADUK

Thursday, April 12, 2018

MELINDUNGI ORANG YANG DI SAYANGIN

Dono berbicara dengan ayahnya Wulan di depan rumah. Wulan yang sedikit khawatir keluar dari rumah untuk melihat suasana. Terlihat dengan jelas oleh ke dua mata Wulan. Dono sedang bicara dengan berani dengan Ayah Wulan. Percakapan dua orang laki-laki dewasa membuat Wulan terdiam di tempat. Dono dengan tegas untuk menentang ayah Wulan. Akhirnya pembicaraan berakhir di menangkan oleh Dono. Sang ayah Wulan pergi dari rumah Dono dengan mobil mewahnya.

Dono pun bergerak masuk ke dalam rumah. Tapi Wulan menghadang Dono masuk di depan pintu.

"Apa yang kamu lakukan berani menetang ayah saya?" kata Wulan.

"Saya tidak menentang ayah Wulan. Hanya memberikan sedikit solusi. Bahwa lebih baik kamu di sini untuk menenangkan diri dari pada kamu ikut pulang  bersamanya," kata Dono sedikit naif.

"Apa....kamu tahu sebenarnya apa yang saya resahkan?" tanya Wulan.

"Saya tidak begitu tahu apa yang kamu resahkan?. Kan saya bukan peramal. Tetapi yang saya tahu kamu butuh bantuan. Karena ada masalah keluarga yang sedang kamu hadapi," kata Dono.

"Itu sih..memang benar. Ayah ku orangnya keras sekali. Banyak peraturan di buatnya dalam menjalankan urusan keluarga. Saya menjadi tertekan," kata Wulan.

"Ya...sudahlah....saya mau masuk ke dalam rumah," kata Dono.

Dono pun masuk ke dalam rumah. 

"Tunggu dulu saya belum selesai bicara," kata Wulan.

Dono terus masuk ke dalam rumah dan mengabaikan panggilan Wulan. 

"iiihh...seperti biasanya.......cuek," gerutu Wulan.

Wulan pun masuk ke dalam rumah dan mengintilin Dono sampai dapur.

"Mas Dono......," kata Wulan membujuk.

Dono mendengar kata panggilan Wulan yang lembut. Sontak Dono menjawabnya "Apa adek Wulan yang cantik dan manis."

"Iiiih...seperti biasanya.....pandai memuji...," saut Wulan.

"Mau..apa dek Wulan...?" tanya Dono.

Wulan langsung duduk di lantai dapur dengan bersila. Dono pun ikut mengikutin Wulan duduk dilantai.

"Sebenarnya...apakah mas Dono sanggup menghadapi ayah Wulan?" tanya Wulan.

"Iya sebenarnya.......saya juga hanya berusaha jentelmen aja menghadapi ayah Wulan. Walau sebenarnya saya sudah mati langkah dalam permainan ini," kata Dono.

"Maksudnya...skakmat," saut Wulan.

"Ya..begitulah. Ayah Wulan orang yang keras sekali dalam membuat peraturan rumah tangga. Sampai-sampai Wulan tertekan. Saya hanya bisa melindungi orang saya sukai sebatas memberikan pelindungan dan kenyaman saja," kata Dono.

"Bagaimana kalau ayah saya memperkaraan masalah ini ke polisi, dengan alasan penculikan anak gadis ?" tanya Wulan.

"Ah......taktik lama. Saya tidak takut. Selama saya masih jalan kebaikan. Alloh SWT selalu bersama saya. Kan saya niat menolong dan melindungi orang yang saya sayangin dengan sekuat tenaga dan harta saya," kata Dono.

"Jadi mas Dono ...bener sayang sama Wulan?," tanya Wulan.

"Gimana ya......menjawabnya...ya....," kata Dono.

"Beneran.....sayang atau tidak?," kata Wulan dengan tegas.

"Ya...sayang deh.....," jawab Dono dengan santai.

"Iiiiih...dengan biasanya..jawabannya tidak meyakinkan," kata Wulan.

"Ya..udah diam dulu.....di situ..saya akam memasakkan sesuatu yang enak buat dek Wulan," perintah Dono.

"Iya.....," jawab Wulan dengan sedikit manyun.

Dono pun langsung mengambil bahan di dalam kulkas dan di taruh di atas meja.

"Mas Dono mau masak apa?," tanya Wulan.

"Sesuatu yang enak .....," jawab Dono.

Dono mulai mengolah bahan makan dengan terampil. Dengan cermat  Dono memasak makan yang enak. Dengan santai Wulan bangun dari duduknya dan melihat kebolehan Dono memasak. Selang beberapa saat masakan jadi dibuat oleh Dono. Lalu Dono menyajikan di piring yang cantik.

"Silakan di coba........masakan saya," kata Dono.

"Baiklah saya coba," saut Wulan.

Wulan mulai menyendok nasi putih dan lauknya telur gorengnya. Dengan perlahan sendok berisi makan di masukkan ke dalam mulut Wulan. 

"Emmmmm...," suara hati Wulan.

Wulan pun dengan pelan-pelan mengunyah makanan.

"Gimana.....rasanya...?," tanya Dono.

Wulan pun dengan seksama mengunyah makannya. 

"Gimana rasanya...?," tanya Dono kembali.

Lagi-lagi Wulan hanya diam saja menikmati makannya.

"Rasanya..........enak banget," kata hati Wulan.

Wulan yang penasaran dengan rasa masakan Dono. Mulailah Wulan melahap habis makan buatan Dono.

"Kalau begitu...masakan saya di sukai adek Wulan," kata Dono.


 Wulan pun menyelesaikan makannya dengan meminum segelas air putih.

"Menurut saya masakan..mas Dono tidak begitu enak...," kata Wulan.

Dono pun terkejut dengan omongan Wulan.

"Ya...saya coba lagi.......membuat makan yang enak buat kamu," kata Dono yang optimis.

Dono pun langsung membereskan semua peralatan memasaknya dan sekalian piring bekas makan Wulan.

"Sebenarnya....masakan mas Dono enak...tapi.....saya...tidak mau mengungkapkan yang sebenarnya," kata hati nurani Wulan.

Wulan pun membantu Dono membersihkan peralatan memasak. Selang berapa saat semuanya bersih dan di taruh di tempatnya. Setelah semuanya selesai Dono  masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Begitu dengan Wulan masuk ke dalam kamar di lantai dua untuk beristirahat.

Wednesday, March 7, 2018

PINTU MAAF

Malam begitu larut di sebuah rumah yang besar banget. Dono dateng bertamu ke rumah Wulan dengan penampilan yang kinclong abis. Dono mencoba untuk masuk ke dalam rumahnya Wulan. Tapi Dono tetap merasa takut di tolak masuk oleh Wulan. Dengan sekian lama berpikir dan meneguhkan pendiriannnya Dono masuk ke dalam rumah melewati pintu gerbang yang tidak di tutup. 

Langkah pasti Dono untuk meminta maaf sekian kalinya. Sampai di depan pintu rumah Wulan. Dono pun mengetuk pintu dan tidak lupa mengucapkan salam "Asalamualaikum." Dono dengan bersabar menunggu di depan pintu. Di sisi lain Wulan melihat Dono dari balkon rumah lantai dua untuk memastikan siapa tamu yang dateng?.

"Lagi-lagi dia....cowok gak setia," gerutu Wulan denga suara kecil.

Dua orang gadis cantik mendatengin Wulan yang lagi melihatin ulah Dono  sedang berdiri menunggu pintu di bukain. Lalu  ke dua gadis itu juga melihat tingkah Dono yang lucu.

"Cepetan..bukain pintu........gak baik loe tamu di biarin begitu saja.....dosa tahu," kata Saskia.

"Ia...itu bener kata Saskia. Hormatin dia sebagai tamu saja. Jangan bawa perasaan. Tujuan awal aja orang yang bertamu. Satu mempelacar silaturahmi, ke dua panjang umur, dan ke tiga memudahkan rezeki," kata Soimah.

"Kata-kata kamu ...Imah kaya Ustajah aja," saut Wulan.

"Kan...memang bener.......Saoimah.........itu Ustajah.........," saut Saskia.

"Oh...iya...saya lupa. Kalau setelah lulus SMP.... Saoimah di pondokin sama orang tuanya. Setelah itu kuliah.......meningkatkan kariernya dengan menyanyi....sesuai jalur hoby saja," kata Wulan.

"Ini sih gara-gara urusan cinta yang kacau.  Cowok selingkuh......... ceweknya sakit hati. Tapi masih mengenang kenangan bersama dengan orang di sukai. Tetap saja kalau jengkel karena melanggar komitmen," kata Saskia.

"Gimana...ya...sebernya saya masih cinta. Tapi namanya selingkuh susah juga di maafinkan," kata Wulan.

"Itu...sih...bener....., Tapikan gak di tinggal nikahkan..... Jadi sakitnya kan gak begitu parah. Dan apalagi cowoknya sudah mengaku bersalah?," kata Saskia.

"Udah maafin...aja........ Jalanin hubungan selayaknya teman aja......biar tidak tambah dosa. Itulah kalau bermain dengan perasaan. Tahu rasa senangnya dan tahu rasa sakitnya," kata Soimah.

"Bener juga...saya anggap pelajaran aja hal ini. Saya maafin aja Mas Dono......., tapi saya tidak menganggap dia...orang pantas mengisi hati saya. Agar tidak menjadi penyakit. Kalau berkepanjangan saya....yang bingung jadi beban pikiran. Nanti kuliah saya terhambat gara-gara cowok gak setia," kata Wulan.

"Nah...itu jawabannya di maafin........ Jadi kamulah gadis yang baik hati yang mampu menghapuskan segala kesalahan orang....di sengaja atau tidak sengaja. Alloh SWT bersama orang.........yang berserah diri pada jalan kebaikan," saut Soimah.

"Kalau saya...pikir...itu yang lebih baik. Di maafin aja.....kan dia sudah sungguh-sungguh....meminta maafnya selama sebulan ini. Ya sudah waktunya memaafkan dia............. Tapi....tidak menjalin hubungan sebagai pacar...hanya teman......... Karena penghiatannya tidak di maafin oleh kaum wanita. Tidak setia dengan komitmen. Pemimpin yang bodoh," kata Saskia.

Wulan merasa lega d hatinya dengan dukungan ke dua sahabatnya. Lalu Wulan turun dari lantai dua dan menuju ruang tamu dan membuka pintu sembari menjawab salam dari Dono "Waalikumsalam."

"Dek Wulan .......seperti biasanya....Mas Dono.....meminta maaf karena kebodohan saya yang menyalahin janji yang kita sepakatin berdua," kata Dono dengan penuh kejujuran.

"Iya....Wulan maafin," kata Wulan.

"Hore....saya...di maafin...Wulan......... Jadi....kita lanjutin hubungan kita," saut Dono.

"Et..... kalau masalah itu Wulan tidak mau. Lebih baik Wulan teman aja.......dengan Mas Dono. Karena Mas Dono......tidak bisa menjaga perjanjian yang kita sepakatin. Wulan masih sakit karena penghiatan itu. Walau Wulan berusaha melupakannya...tetap saja......kenangan itu menyakitkan," kata Wulan.

"Jadi...cuma temanan...aja.....ya........," kata Dono yang merunduh malu.

"Ya....temen aja," tegas Wulan.

"Ini...ada sedikit kue .....Mas Dono beli di jalan.........untuk Wulan dan teman-teman," kata Dono.

"Kok tahu..........ada temen-temen Wulan main di sini," saut Wulan.

"Ya...tahulah....... tuh.........sendalnya," saut Dono.

"Oh..iya.........bener...sendal Saskia dan Saoimah," kata Wulan.

Dengan perasaan malu Wulan mengambil  kantong kresek berwarna putih yang di sodorkan Dono. Dengan pelan-pelan Wulan melihat isi kantong kresek untuk memastikan kue apa yang di beli Mas Dono?. 

"Astafirohhulazim...........kue kesukaan Wulan," kata Wulan dengan suara kecil.

"Dek Wulan ....Mas Dono pulang dulu...ya," kata Dono dengan murung.

"Iya...Mas...Dono," saut Wulan.

Dono pun meninggalkan Wulan yang berdiri di depan pintu. Selang berapa saat pun Wulan masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. Dengan perasaan senang Dono mendapatin pintu maaf dari Wulan. Tapi satu sisi Dono pun pupus harapannya karena Wulan meminta hanya menjadi teman. Dono sadar banget dengan kebodohannya melukai hati orang yang di cintainya. Dono murung sampai di rumah dan duduk diam di sofa ruang tamu sambil menonton sinetron bertemakan cinta. Sedangkan Kasino dan Indro langsung berbaur bersama Dono yang sedang asik nonton sinetron. Suasana jadi hidup lagi. Karena kebersamaan dengan teman-teman terbaik Dono mulai menghilangkan semua rasa kegelisahannya.

ASIK-ASIK DI TAMAN

Sore yang indah di sebuah taman. Indro sedang asik makan es krim dan duduk dibawah pohon yang rindang selesai lari mengelilingi taman. Sambil matanya memandangin pemandangan yang indah. Dono pun melihat Indro yang sedang asik sendirian. Langsung Dono menghampiri Indro dan langsung duduk di sebelahnya.

"Lagi...nontonin cewek cantik daerah sini," kata Dono.

"Engak," saut Indro mengelak.

"Ngaku..aja.... kan gak di tangkep ini," kata Dono.

"Maksud mu polisi atau pacar!" kata Indro.

"Ya....itu sih sama aja. Pacar juga kaya polisikan.....jagain kita supaya tidak selingkuh sana sini," kata Dono.

"Iya...kaya...kamu yang selingkuhin Wulan dengan janda genit......mau kawin lagi," kata Indro menyindir.

"Jangan omongin itu......saya.....yang salah..tahu. Yang bener Wulan. Saya adalah pria yang gak setia....ternyata," kata Dono yang murung.

"Jangan lebay Dono. Saya tahu...sifat asli kamu yang sebenarnya. Kamu cuma iseng aja main di belakang Wulan. Padahal...kamu takut kehilangan Wulan. Dan sampai sekarang aja....curhatnya tentang Wulan. Gara-gara ketahuan selingkuh," kata Indro.

"Kok...tahu," saut Dono.

"Dari Kasino...menceritakan semua usaha kamu untuk meminta maaf agar Wulan mau menerima kamu lagi," kata Indro.

"Iya..itu bener. Ya....tetap saja saya di tolak sekian kalinya. Saya masih bingung untuk memulihkan hubungan saya dengan Wulan," kata Dono.

"Sabarin aja.................. Kan caranya sama ketika kamu mengejar Wulan menyatakan perasaan kamu padanya. Bahwa kamu suka dan cinta," kata Indro.

"Iya kamu bener.... Indro, tapi awalkan jalan mulus karena tidak ada noda keburukan. Kalau sekarang sih noda keburukan dari kesalahan selingkuh ini...yang susah......di maafin," kata Dono.

"Kamu kaya gak tahu cewek...aja..........Kita sungguh di tolak apalagi yang biasa-biasa aja!. Alasan yang pertama keinginan hati, yang ke dua materi, dan terakhir kejelasan hubungan yang lebih tepatnya pacaran atau menikah," kata Indro.

"Wah....bingung juga..ya," saut Dono.

Indro berajak dari duduknya dan membuang gelas es krimnya di sebuah tong sampah.  Setelah itu kembali duduk bersama Dono untuk melihat pemandangan yang indah di taman.

"Indro..benerkan kamu memandangin cewek daerah sini?" tanya Dono.

"Sudah tahu...masih..nanya... Kaya gak tahu mata lelaki," saut Indro.

"Saya...gak...tahu tuh," kata Dono.

"Ngeles.....aja............ Kaya bajai. Tuh...Wulan berdiri di belakang kamu," kata Indro.

"Haaaaaa.....beneran Wulan berdiri di belakang saya?" tanya Dono.

"Ya...iyalah.......ngapain saya bohong," kata Indro.

Dono yang mati ketakutan dengan keberadaan Wulan. Lalu mencoba menoleh kebelakang untuk memastikan omongan Indro.

"Haaaaaa.............gak ada," terkejut Dono.

"Kena ....batu saya bohongin. Ketahuan cinta mati sama Wulan," kata Indro.

"Dasar loe Indro bohongin saya," saut Dono.

"Bodok............," kata Indro.

Pelan-pelan Wulan menghampiri Dono dan Indro dan langsung berdiri di belakang Dono. Indro pun terkejut dengan ke datangan Wulan.

"Dono...Wulan.....dateng," kata Indro salah tingkah.

"Ah......kamu..mau bohongin saya lagi kan Indro," kata Dono.

"Kali..ini gak.............benerean Wulan berdiri di belakang kamu," kata Indro.

"Mana mungkin...Wulan. Biasanya jam segini...masih kuliah........," kata Dono.

"Beneran.......Dono. Tadi itu cuma mainan...sekarang ini sungguhan," saut Indro.

"Beneran........Wulan di belakang saya?" tanya Dono.

"Iya....," saut Indro.

Dono berdiri dari duduknya dan memutarbalik. Terlihat dengan jelas Wulan yang jutek abis.

"Dek......maafin.....saya....ya karena kehilafan saya sejenak," kata Dono menunduk kepala.

"Maafinnya entaran...... Anterin Wulan pulang ke rumah," katanya dengan tegas.

"Tetapi...saya gak bawa motor...Dek Wulan," kata Dono.

"Gak mau tahu.........yang penting anterin Wulan pulang," kata Dono.

"Dono...minjem aja sama dengan tukang ojek pangkalan aja. Cepetan sana....," saut Indro.

"Iya..bener juga.......," kata Dono.

"Dono hati-hati di jalan. Kayanya lampu kuning Dono......ada perubahan dari usaha kamu," kata Indro.

"Hus........," saut Dono.

Dono dan Wulan berjalan menuju tempat pangkalan ojek di pinggir gang. Sedang Indro beranjak dari duduknya dan melakukan lari keliling taman sekali lagi agar tubuhnya sehat dan bugar.

Tuesday, March 6, 2018

KETAHUAN SELINGKUH

Siang hari cerah Dono duduk di sebuah kafe kopi di pinggir jalan. Sambil menikmati secangkit kopi Dono menonton pertandingan sepak bola di Hp kesayangannya. Datang Kasino langsung menepuk pundak Dono dari belakang.

"Woy serius amat Dono...?" tanya Kasino.

Sontak Dono pun terkejut sekali, lalu menoleh kebelakang.

"Oh kamu Kasino," saut Dono.

Kasino langsung duduk di sebelah Dono.

"Ngomong-ngomong kamu sendirian Dono....biasanya kencan sama Wulan?" tanya Kasino.

"Ah..jangan Wulan.........," kata Dono cembetut.

"Kenapa Dono........jangan putus...sama Wulan ya?," tanya Kasino.

"Eee.....," saut Dono.

Lalu pelayan kafe kopi dateng menghampiri Kasino dan Dono.

"Pesan apa mas?" tanya pelayan kafe.

"Seperti biasanya....Bonbon..," kata Kasino.

"Kopi manis dan soto babat," kata Bonbon.

"Sip...itu, cepetan  ya...saya laper," kata Kasino.

"Ok...beres Mas Kasino," kata Bonbon.

Pelayan kafe kopi masuk ke dalam.

"Dono beneran di putusin?" tanya Kasino.

"Hampir di putusin Wulan...gara-gara saya ketahuan selingkuh sama Dewi," kata Dono.

"Wah.....pantes...manyun di sini. Beneran selingkuh sama Dewi ternyata. Dasar cowok gak setia," kata Kasino sedikit kesel.

"Kasino...kenapa nyolot sih ngomongnya?" tanya Dono.

"Dono........., Wulan cantik dan baik. Susah loe dapetin gadis seperti dia. Eh main api dibelakangnya. Apalagi dengan Dewi. Janda centil...itu. Suaminya yang pernah hidup bersamanya pun bingung menghadapi ke liaran dia," kata Kasino.

"Maksudnya .......Saipul..........," saut Dono.

"Ia........Saipul. Jadi gimana dengan pernyatan Wulan dengan hubungan kalian?" tanya Kasino.

"Wulan.......marah selama satu bulan ini. Saya sudah berkali-kali minta maaf...gak di maafin. Padahal sudah di bujuk dengan banyak hadiah. Tetep aja........di tolak," kata Dono.

"Dono.......sekali sudah mengoyak hati wanita karena perselingkuhan. Wanita tersebut akan jengkel kepada kamu Dono. Karena kamu di cap penghianat. Karena kamu menghilangkan kepercayaan. Wulan berusaha setia ...eh kamunya yang ga kuat dengan ujian.....dari wanita..yang lain," kata Kasino.

"Saya...menyesal sekali......., tapi ya..udahlah...saya terus berusaha minta maaf. Agar dapet kepercayaan lagi. Walau saya tahu untuk mendapat maaf dari Wulan mustahil," kata Dono.

"Ya...jelas.... Dono........ sakit hatinya gak ada obatnya," saut Kasino.

Pelayan kafe kopi pun dateng membawa pesan Kasino dan di taruh di meja.

"Silakan Mas Kasino," kata Bonbon.

"Iya...terima kasih....Bonbon.....dengan pelayan yang baik dan rapih," kata pujian dari Kasino.

"Sama-sama Mas," saut Bonbon.

Pelayan kafe kopi masuk ke dalam. Kasino segera menikmati soto yang enak.

"Kasino....saya boleh nanya gak!?" kata Dono.

"Nanya apa?" saut Kasino.

"Mana yang bener diantara para pemimpin agama dimuka bumi sekarang ini?" kata Dono.

"Oh..itu..jawabannya...gak ada jawabannya. Karena semua pemimpin agama menunjukkan kebenaran dari kebenaran masing-masing. Sampai-sampai karena fanatik menciptakan perang. Pada akhirnya kehancuran di mana-mana. Pada hal itu cuma keegoisan manusia di dasarkan pemahaman atau keyakinan mereka belajar agama saja," kata Kasino.

"Oh...begitu ya, saya jadi bingung. Bagaimana dengan kebenaran para pemimpin kita saat ini yang menjabat di Indonesia untuk mensejahterahkan bangsa?" tanya Dono.

"Oh itu......... Kalau itu sih jawabannya. Sesuai saja dengan Pancasila dan UUD 1945. Lalu kebijakan yang mereka ambil dan di laksanakan harus selaras dan bersinambungan. Istilah kata jangan melanggar peraturan atau menyalahgunakan fasilitas negara demi kepentingan individu atau kelompok. Yang tujuannya pencitraan saja. Pada akhirnya yang terlihat ada ego dan kesombongan dari pemimpin. Yang penting menunduk malu.............pada dasarnya. Para pemimpin yang memimpin negeri ini adalah rakyat jelatah. Mereka di percaya untuk membangun negeri bukan menghancurkannya demi ego. Yang lebih tepatnya memperkaya diri sendiri dan kaumnya," kata Kasino.

"Kaya.....sih belum..kelop...Kasino," saut Dono.

"Ya...itu cuma pandangan saya berdasarkan luasnya saja. Kalau di persempit jawaban dari kebenaran para pemimpin kita saat ini yang menjabat di Indonesia untuk mensejahterahkan bangsa....................belum lah..masih..banyak yang harus di perbaiki.......karena pada awalnya banyak melanggar peraturan di Era Soeharto samai Era Joko Widodo,"kata Kasino.

"Kalau...begitu...sih....susah....untuk jadi bagus," kata Dono.

"Ya..iya..lah. Pemimpin itu jadi contoh dan panutan untuk anak bangsa. Kalau pemimpin pinter ya...otomatis rakyatnya pinter. Kalau pemimpinnya bodoh.....ya...rakyatnya bodoh juga," kata Kasino.

"Kalau itu saya setuju. Kalau Pemimpinnya memberi contoh melanggar peraturan....ya...anak buahnya melanggar peraturan," kata Dono menambahkan.

"Ya...itulah....jawabannya............getahnya itulah. Aib malu yang dibuat oleh para pemimpin yang tidak berpikir dua kali. Yang meruntuhkan tatanan pemerintahan dengan ke egoan atau kesombongan. Apalagikan di publikasikan di seluruh media...... Tambah kacaunya," kata Kasino.

"Kalau begitu saya mau ke rumah Wulan aja deh.....membujuk Wulan memaafkan saya karena kehilafan saya," kata Dono.

"Ya....udah...semoga sukses Dono," saut Kasino.

Dono langsung meninggalkan Kasino lagi asik makan.

"Loh...Dono......bayar dulu....minuman kamu ini," teriak Kasino.

"Kasino...tolong...bayarin dulu.....................," teriak Dono.

"Iya...udah.......sana...urus Wulan......... Gara-gara cewek........lupa bayar kopi," gerutu Kasino.

"Terima kasih Kasino," teriak Dono.

"Ya.....," saut Kasino.

Dono bergegas pergi ke rumah Wulan. Sedangkan Kasino asik menikmati makan dan minumnya di kafe kopi pinggir jalan.

Thursday, February 22, 2018

PERI NILA

Bola energi berwarna emas terbang di langit malam seperti kunang-kunang. Saat itu Awin sedang berjalan dan melihat bola energi. Sontak Awin mengejarnya  dengan cepat bola energi sampai ke sebuah rumah tua. Dengan perlahan-lahan Awin masuk ke dalam rumah tua. Bola energi masuk ke dalam sebuah kotak. Awin langsung menutup kotak kecil tersebut.

"Saya bisa kaya dengan makluk di dalamnya," celoteh Awin.

Awin pun membawa kotak kecil di bawa keluar dari rumah tua. Tapi tiba-tiba ada seorang Bapak-Bapak memergokin Awin keluar dari rumah. 

"Kamu...maling...ya?" tanya Bapak-Bapak penjaga rumah.

"Sial...........kayanya kena...batu saya karena ulah saya yang sedikit nakal," gerutu Awin.

Awin diam di tempat. Bapak-Bapak penjaga rumah mendekati Awin. Lalu Awin berpikir pendek.

"Ah...bodok...ah.......yang penting saya kabur," gerutu Awin.

Awin berlari dengan sekuat tenaga.

"Wah....bener...maling," teriak Bapak-Bapak penjaga rumah.

Sontak Bapak-Bapak penjaga rumah mengejar Awin. Lalu Awin membelok di satu gang kecil dan masuk ke dalam rumah yang rimbun dengan pepohonan. 

" kayanya saya aman di sini," celoteh Awin dengan suara kecil.

Bapak-Bapak penjaga rumah mencari Awin kesana-kesini. Tapi hal hasil tidak menemukan Awin.

"Sembunyi ke mana anak itu...," gerutu Bapak-Bapak penjaga rumah.

Bapak-Bapak penjaga rumah langsung pergi ke jalan yang lain. Awin duduk diam sampai ketiduran. Hari pun berganti pagi Awin bangun.

"Loh...saya..ketiduran toh di sini sampai pagi," kata Awin.

Awin bergerak keluar dari taman dan menuju jalan utama. Terlihat orang sekitar sibuk dengan aktivitasnya. Awin dengan santai membawa kotak yang berisi bola energi sampai rumah. Selang berapa saat sampai di kontrakannya. Lalu Awin melihat Ibu pemilik kontrakan sudah setembai di depan pintu rumah kontrakan Awin. 

"Saya..lupa hari ini..........waktu untuk bayaran....uang kontrakan. Tapi saya....belum punya uang. Lebih baik kabur ah. Hidup di kota Jakarta kalau gak ada sanak famili...ya gelandangan deh," kata Awin.

Awin pun berbalik arah menuju  sebuah tempat yang sepi yang cukup jauh dari tempat kontrakannya. Selang berapa lama Awin melihat sebuah gubuk kecil. Dengan perlahan-lahan Awin menuju gubuk kecil di lahan yang tertutup. Tak di sangka dan di duga. Awin melihat ada orang di dalam gubuk. Awin dengan hati-hati mengintip dari balik gubuk.

"Haaaaaaa......mesummmmmmmmmmmmmmmm," kata terkejut Awin.

Awin lupa dan langsung menutup mulut dengan tangan kanan. 

"Siapa yang berteriak..itu...?" kata pria.

"Kacau...warga....," kata wanita.

Awin tetap diam di samping gubuk. Pria dan wanita keluar dari gubuk, lalu pergi dengan cepat meninggalkan tempat tersebut. Awin mendengarkan langkah mereka pergi. Makin lama makin menjauh pria dan wanita dari gubuk. Awin bangun dari persembunyiannya dan melihat pria dan wanita terlihat kacau.

"Bener-bener dunia sudah...rusak. Orang nikah gampang. Eh...malah main yang haram.....lebih banyak di lakukan orang berpikir pendek. Orang gila lebih banyak di dunia ini," gerutu Awin.

Awin langsung duduk di sebuah kursi tua. Lalu membuka kotak berisi bola energi. Tiba-tiba terlihat seekor makluk berwarna emas. Awin mencoba untuk memegang makhuk tersebut. Ternyata sang makluk terbangun dan mencoba untuk terbang. Dengan cepat Awin menangkapnya dengan tangan kanannya.

"Mau...lari kemana?," kata Awin.

"Lepaskan...saya...," kata makluk berwarna emas.

"Haaaaa.., kamu bisa bicara....?," tanya Awin.

"Ia...saya..bisa bicara....cepat lepaskan saya. Nanti saya kabulkan permintaan kamu," kata makluk berwarna emas.

"Beneran.......," kata Awin.

"Iya...," saut makluk berwarna emas.

Awin membuka  tangan kanannya. Makluk berwarna emas langsung duduk diam di tangan Awin.

"Cepat sebutkan permintaan kamu...., tapi cuma...satu.....saja. Karena saya banyak-banyak saya akan di hukum oleh para Dewa," kata makluk berwarna emas.

"Tunggu...dulu...Dewa...apa saya gak salah denger.......?," tanya Awin.

"Ia...Dewa....Saya ini peri. Wujudnya aja kaya kumbang berwarna emas," kata makluk berwarna emas.

"Kalau...begitu...nama kamu siapa?," tanya Awin.

"Peri.....Nila," katanya dengan tegas.

"Nila..toh. Nama saya Awin," katanya dengan lembut sekali.

"Ya..udah....Awin salam..kenal...cepat.......satu permintaan saja," kata Nila.

"Apa...ya.............?  oh...ini saja uang 1 Milyar aja deh," kata Awin.

"Hanya 1 Milyar aja. Sama dengan kontes dangdut yang lagi di perebutkan. Ah..urusan mudah buat kaum seperti...saya mengabulkannya," kata Nila.

Dengan kemampuan sihir Nila memunculkan uang 1 Milyar di dalam koper di atas kursi. Awin pun terkejut dengan kemampuan Nila. 

"Sekarang kamu buka koper itu!," perintah Nila.

"Baik," saut Awin.

Awin pun membuka koper dengan pelan-pelan. Telihat uang 1 Milyar.

"Waaw...kerennnn," kata Awin.

"Saya sudah mengabulkan permintaan  kamu..jadi saya pergi dulu," kata Nila.

"Ya......sampai jumpa lagi Nila," kata Awin.

"Males...bertemu dengan kamu lagi.....," gerutu Nila sambil terbang ke langit berubah menjadi bola energi.

Awin pun menutup kopernya.

"Sekarang...saya..mau ngapain dengan uang ini ya. Begini saja saya nikahin aja Zaskia.......teman kontrakan saya sekalian bayar kontrakan sama Ibu pemilik kontrakan supaya urusan beres. Setelah itu buat usaha kedai makanan," kata Awin.

Awin bergegas  dari gubuk di lahan yang tertutup. Selang berapa saat sampai di kontrakan. Awin segera menyelesaikan urusannya dengan Ibu pemilik kontrakan. Lalu melamar Zaskia. Selang satu minggu Awin dan Zaskia mengadakan pesta pernikahan dan seminggu berikutnya usaha kedai makan Awin di mulai.

Wednesday, February 21, 2018

MENGALAHKAN EGO

Waktu pun berlalu begitu cepat. Acara pengajian pun selesai dengan kebaikan. Awin keluar dari mesjid dengan berjalan kaki menuju rumahnya. Saat sendirian di tengah jalan sambil memandangin bintang di langit. Awin bertemu dengan temannya yang bernama Yitno. Langsung bersalaman keduanya tanda jalan silaturahmi keduanya baik. Lalu  keduanya pun melepaskan jabatan tangannya. Awin dan Yitno pun duduk di sebuah warung yang sudah tutup untuk berbincang.

"Ngomong-ngomong gimana urusan mu dengan Chika?" tanya Yitno.

"Oh.....Chika...sudah lama meninggal," jawab Awin dengan penuh kesenduhan.

"Inalilahi wainailahi rojiun............ saya sebagai teman turut bersedih....kamu kehilangan orang yang kamu sukai," kata Yitno.

"Iya.......saya tahu...umur keputusan Alloh SWT," kata Awin.

"Namanya umur siapa yang tahu? hanya Alloh SWT yang tahu. Jadi Chika meninggal di usia mudakan," kata Yitno.

"Iya.......umur 23 tahun........, di mana ia ingin menikah di usia muda. Tapi kehendak Alloh SWT yang menentukan jawabannya. Ia telah tutup usia," kata Awin.

"Yang sabar.......ya..Awin........ inilah bentuk ujian dalam menjalanin hidup. Apa yang kita inginkan belum tentu bisa kita dapatkan?," kata Yitno.

"Jelas........lah...semua itu. Saya bersabar untuk mencari karier yang baik untuk kelangsungan hidup. Eh.....orang saya sukai telah meninggal dunia. Rasa kehilangan inilah gak ada obatnya. Banyak gadis mencoba untuk masuk ke dalam hati ini  sebagai pengganti yang baik. Tetap tidak bisa," kata Awin.

"Mungkin kamu terlalu cinta," saut Yitno.

"Mungkin juga....tetapi sebenarnya saya sudah mengikhlaskan Chika dari dulu. Saya membuka diri sama seperti dulu ketika Chika masuk ke dalam hati saya. Yaitu mengalahkan ego saya," kata Awin.

"Bener juga......Awin. Kebanyakan gadis tidak bisa mengalahkan ego kamu. Tapi saya pun punya ego juga tetap saja kalah dengan orang yang saya sukai. Padahal kita adalah cowok yang setia. Seperti saya yang setia dengan istri saya bernama Mira dan di karunia buah hati yang cantik jelita bernama Putri," kata Yinto.

"Alhamdulilah........Alloh SWT selalu menyertai kamu Yitno...yang selalu mematuhi perintahnya dan menjauhi larangannya," kata Awin.

"Alhamdulilah hirobil alamin .....Alloh SWT beserta saya," kata Yitno.

Yitno dan Awin pun menghentikan pembicaraan karena hari makin larut sekali. Yitno terus menjauh dari Awin berjalan menuju rumahnya. Sedangkan Awin terus melangkah pasti menuju rumahnya.

KERASNYA PENDIRIAN

Malam begitu larut sekali. Awin duduk dengan santai selesai sholat isya. Lalu seorang Bapak-Bapak menyodorkan tangannya kehadapan Awin. Sontak Awin pun mengulurkan tangannya dan bersalaman. Tak lama melepaskan jabatan tangan.

"Oh ya Win udah ada pasangan ?" tanya Bapak Antok.

"Belum Pak," jawab Awin.

"Ngomong-ngomong umur berapa sekarang?" tanya Bapak Antok.

Awin berpikir sejenak ketika mendengar pertanyaan itu. Tetap saja Awin menjawab dengan tegas "Masuk 33 Pak."

"Oh gak berniat untuk menikah?" tanya kembali Bapak Antok.

"Menikah..........toh, kalau maunya gadisnya saya tolak Pak. Tapi Kalau mau saya baru saya tunjukan kepemimpinan saya yang baik," kata Awin lugas.

"Oh......begitu................ Jadi ke putusan seorang seorang kepemimpinan toh. Kalau gadisnya bener-bener suka..........sama kamu gimana........?" ujar Bapak Antok.

"Ya.........tetap saya tolak......Pak.........," tukas Awin.

"Tolak....juga.......walau gadis itu bener-bener mencintai mu secara terang-terangan dan sembunyi-sembunyi?," tanya Bapak Antok lagi.

"Tetap....di tolak. Karena saya belajar menjadi seorang pemimpin yang komitmen dengan keputusan yang saya buat dan tidak akan goyah walau bentuk ujian apapun?," pernyataan Awin yang tegas.

"Baik...lah...keputusan kamu. Padahal saya mau menawarkan anak saya," kata Bapak Antok.

"Saya...sudah mengerti dari awal pembicaraan. Bapak menawarkan Lisa anak semata wayang Bapak. Tapi tetap saya berpegang teguh dengan pendirian saya. Yaitu menolak keinginan dari seorang gadis, walaupun orang tuanya berniat baik menjodohkannya dengan saya," kata Awin.

"Ok.......kamu orang keras dengan pendirian kamu," kata Bapak Antok.

Bapak Antok beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari mesjid. Awin pindah dari duduk dan bersandar di dinding mesjid. Lalu Andre mendekati Awin.

"Awin...benaran..menolak.....Lisa.........yang cantik jelita......?" tanya Andre.

"Beneran, walau pun sebenarnya saya tahu kalau Lisa menyukai saya," kata Awin.

"Awin kenapa menolak Lisa?" tanya Andre.

"Saya tidak suka," jawab Awin.

"Oh...begitu..... Ada alasan yang lain?" tanya kembali Andre.

"Saya suka bertindak sesuai keinginan saya. Walau gadis yang saya sukai menolak saya. Itu lebih baik dari pada gadis yang menyukai saya dan saya tidak punya perasaan sama sekali dengannya," kata Awin.

"Tapi jalan ini lebih mudah kalau gadisnya mau. Dari pada gadisnya yang menolak kamu," kata Andre.

"Tetap saja saya tidak punya  perasaan sama Lisa," kata Awin.

"Awin zaman now ini lebih baik mengalah untuk urusan gadis. Bukan keras kepala dengan prinsip," kata Andre.

"Terserah kalau di bilang begitu. Tapi namanya pemimpin sekali mengeluarkan keputusan susah untuk di mencabut keputusannya. Karena tujuannya untuk menjadi seorang pemimpin yang bijak dalam menjalankan hidup yang lebih baik," kata Awin.

"Kalau masalah kebijaksanaan saya.......lebih baik bersifat fleksibel......saja agar tidak extrim," kata Andre.

"Oh.....," saut Awin.

Awin dan Andre menghentikan pembicaraan. Duduk dengan santai dan khusuk di mesjid mendengarkan ceramah Ustat Andi yang baru di mulai.

CAMPUR ADUK

JAB PYAAR KISISE HOTA HAI

Malam hari. Setelah nonton Tv yang acara menarik dan bagus....DA8 di chenel INDOSIAR, ya seperti biasa sih Budi dengan santai di depan rumah...

CAMPUR ADUK