CAMPUR ADUK

Sunday, October 24, 2021

MENIKAH DENGAN RASA CINTA

Budi dan Abdul duduk di depan rumah Budi, ya sambil menikmati minuman kopi dan juga gorengan.

"Setiap hari di jalankan dengan baik untuk jadi sukses di bidang kerjaan, ya bidang usaha," kata Abdul.

"Seandainya saja aku menemukan harta karun dan jadi orang kaya raya," kata Budi.

"Omongan Budi mengarah pada bentuk khayalan, ya Budi?" kata Abdul.

"Ya bisa di bilang begitu sih, ya omongan ku bentuk khayalan," kata Budi.

Budi mengambil tahu goreng di piring, ya di makan dengan baik tahu goreng lah.

"Memang sih. Seandainya menemukan harta karun, ya jadi orang kaya. Keinginan ku bisa cepat terwujud dengan baik," kata Abdul.

Abdul mengambil tahu goreng di piring, ya di makan dengan baik tahu goreng.

"Kalau Abdul jadi orang kaya, ya pastinya segera melamar Putri. Memberikan kelayakan hidup yang baik, pada Putri. Pasti lamaran Abdul di terima sama Putri, ya dasarnya menikah karena ada rasa cinta di antara teman SMA. Pokoknya cerita lamarannya Abdul dengan Putri, ya kaya cerita Aladdin melamar putri Jasmine," kata Budi.

"Kalau Budi jadi kaya gimana dari harta karun?!" kata Abdul.

"Ya bersenang-senang dengan kekayaan yang aku miliki, ya paling aku inginkan punya motor gede gitu, ya terlihat gagah saja kalau punya motor gede gitu. Lalu aku mencari cewek cantik dan juga kaya, ya aku lamarlah jadi istri ku. Pasti cewek mau dengan aku karena aku kaya. Kan cewek ingin hidup layak dengan baik," kata Budi.

"Berarti Budi, ya sama aja dengan aku. Kalau kaya ingin cepat menikah," kata Abdul.

"Aku merasa menikah tanpa cinta. Hidup penuh dengan berpura-pura. Beda dengan Abdul yang menyukai Putri, ya ada rasa cinta dari proses perteman di SMA sampai sekarang," kata Budi.

Budi mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik.

"Memang sih Budi. Menikah tanpa cinta, ya rasa menjalankan hubungan rumah tangga, ya penuh dengan berpura-pura," kata Abdul menegaskan omongan Budi.

Abdul mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi lah. Budi menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Ya...semua itu masih khayalan. Kenyataan aku dan Abdul, ya masih berusaha keras menjadi orang kaya," kata Budi.

Abdul menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Untuk menjadi orang kaya harus kerja keras. Kata orang-orang pintar untuk menjadi kaya, ya kerja pintarlah," kata Budi.

"Kerja pintar. Kecerdasaan di gunakan dengan baik, ya agar bisa jadi kaya. Banyak contoh sih : orang-orang yang jadi kaya karena kerja pintarnya," kata Abdul.

"Emmmm," kata Budi.

Abdul teringat sesuatu.

"Budi. Aku ada kerjaan lain dengan teman, ya lumayan hasilnya. Jadi aku pamit. Udahan ngobrolnya. Sedangkan main catur lain waktu saja!" kata Abdul.

"Ooooo iya Abdul," kata Budi.

"Assalamualaikum," kata Abdul.

"Waalaikumsalam," kata Budi.

Budi melihat Abdul, ya meninggalkan rumah Budi, ya dengan menggunakan motorlah. Ya Abdul membawa motornya dengan baik ke tempat temannya, ya urusan kerjaan lah. 

"Eko tidak main kesini, ya ada urusan kerjaan juga dengan temannya," kata Budi.

Budi mengangkat piring berisi gorengan di meja dan juga gelas berisi kopi di bawa ke dalam rumah langsung ke dapur. Setelah itu, ya Budi duduk di ruang tengah dan segera menyetel Tv. Acara Tv yang di tonton Budi, ya sinetron lah karena memang sinetron tema cinta bagus sih.

Saturday, October 23, 2021

NAMA JUGA MANUSIA

Budi dan Eko duduk di depan rumah Budi, ya sambil menikmati minum kopi dan juga makan gorengan.

"Berita tentang covid-19 masih di beritakan di Tv," kata Budi. 

Budi mengambil tahu goreng di piring, ya di makan dengan baik tahu goreng. 

"Memang program kerja pemerintahan, ya urusannya kesehatan pada manusia," kata Eko. 

Eko mengambil tempe goreng di piring, ya di makan dengan baik tempe goreng. 

"Aku lulusan SMA, ya patuh saja dengan peraturan di buat pemerintahan, ya ngari aman saja," kata Budi. 

"Mengikuti ini dan itu. Yang pastinya jadi aman," kata Eko.

Eko mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi lah.

"Ada berita tentang covid-19, ya orang menentang aturan yang tetapkan. Jadinya heboh gitu," kata Budi.

Budi mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi lah. Eko menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Nama juga manusia. Di sisi ini patuh. Di sisi sana, ya tidak patuh," kata Eko.

Budi menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Memang nama juga manusia. Ada manusia yang baik dan ada juga manusia yang buruk," kata Budi.

"Eeeemmm," kata Eko.

"Manusia yang struktur di dalam tubuhnya rusak, ya mudah terkena penyakit kan Eko?!" kata Budi.

"Kalau urusan itu aku mana tahu lah. Aku bukan dokter gitu. Saran ku tanya sama dokter lah!" kata Eko.

"Sekedar obrolan saja harus nanya sama dokter urusan kesehatan. Kaya acara di Tv saja, yang berkaitan dengan urusan kesehatan," kata Budi.

"Dengan pemahaman keilmuan seorang dokter, ya bisa menolong orang yang sakit, ya jadi sehat," kata Eko.

"Iya sih aku akui. Pemahaman keilmuan seorang dokter, ya bisa menolong orang yang sakit, ya jadi sehat," kata Budi menegaskan omongan Eko.

"Sudah ah lebih baik main catur saja!" kata Budi.

"Ok. Main catur!" kata Eko.

Eko mengeluarkan catur di bawah meja dan di taruh dengan baik, ya papan catur di atas meja. Eko dan Budi menyusun dengan baik, ya bidak catur di atas papan catur.

"Kapan urusan covid-19 ini berakhir ya?!" kata Budi.

"Mana aku tahu. Aku kan bukan orang pemerintahan dan juga bukan dokter. Ya cuma pemuda yang lulusan SMA saja. Masih kurang dalam hal ilmu ini dan itu," kata Eko.

"Aku dan Eko memang sama lulusan SMA, ya sudah tidak tahu.....kapan covid-19 berakhir? Kalau nyari aman, ya ikutin peraturan yang telah di tetapkan," kata Budi.

"Budi pemuda yang baik," kata Eko.

"Terima kasih Eko di puji pemuda yang baik, ya sama dengan Eko juga. Eko pemuda yang baik," kata Budi.

"Emmmm," kata Eko.

"Eko kalau urusan cewek. Ada cewek yang sifatnya baik dan juga ada cewek sifatnya buruk kan?!" kata Budi.

"Memang sih. Ada cewek yang sifatnya baik dan ada cewek sifatnya buruk. Sama saja dengan cowoklah, ada yang baik dan buruk," kata Eko.

"Nama juga manusia ya kan Eko?!" kata Budi.

"Nama juga manusia!" kata Eko menegaskan omongan Budi.

Budi dan Eko main catur dengan baik.

UJIAN DAN KETERBUKAAN

Eko dan Budi duduk di depan rumah sambil menikmati minum kopi dan makan gorengan. Eko main gitar, ya bernyanyi. Budi ikut bernyanyi juga lah. 

Lirik lagu yang dinyanyikan Eko dan Budi dengan judul 'Kupu-Kupu Malam' :

Ada yang benci dirinya
Ada yang butuh dirinya
Ada yang berlutut menyintanya
Ada pula yang kejam menyiksa dirinya
Ini hidup wanita si kupu-kupu malam
Bekerja bertaruh seluruh jiwa-raga
Bibir senyum kata halus merayu memanja
Kepada setiap mereka yang datang
Dosakah yang dia kerjakan?
Sucikah mereka yang datang?
Kadang dia tersenyum dalam tangis
Kadang dia menangis di dalam senyuman
O-oh, apa yang terjadi terjadilah
Yang dia tahu Tuhan penyayang umat-Nya
O-oh, apa yang terjadi terjadilah
Yang dia tahu hanyalah menyambung nyawa
Ada yang benci dirinya
Ada yang butuh dirinya
Ada yang berlutut menyintanya
Ada pula yang kejam menyiksa dirinya
Ini hidup wanita si kupu-kupu malam
Bekerja bertaruh seluruh jiwa-raga
Bibir senyum kata halus merayu memanja
Kepada setiap mereka yang datang
Dosakah yang dia kerjakan?
Sucikah mereka yang datang?
Kadang dia tersenyum dalam tangis
Kadang dia menangis di dalam senyuman
O-oh, apa yang terjadi terjadilah
Yang dia tahu Tuhan penyayang umat-Nya
O-oh, apa yang terjadi terjadilah
Yang dia tahu hanyalah menyambung nyawa

***

Eko dan Budi selesai menyanyi, ya Eko berhenti main gitar dan gitar di taruh di samping kursi.

"Hidup ini lika liku dalam menjalankan hidupkan, ya Eko?!" kata Budi.

"Memang hidup penuh dengan lika liku," kata Eko.

"Kadang ujian yang pait, ya bisa saja jatuh pada jalan kehidupan menjadi kupu-kupu malam," kata Budi.

"Ya memang ujian pahit, ya menjadi kupu-kupu malam," kata Eko.

"Sebagai manusia yang bijak, ya harus bisa membimbing manusia yang lain, ya agar kembali ke jalan kebaikkan lagi," kata Budi.

"Budi kan bukan Ustad. Cuma lulusan SMA," kata Eko.

"Aku mengerti ilmu agama," kata Budi.

"Memang Budi mengerti ilmu agama. Tapi kurang paham. Ya lebih paham sih, ya para Ustad lah untuk membimbing manusia di jalan kebaikan," kata Eko.

"Aku paham omongan Eko," kata Budi.

"Niat baik Budi, ya aku pujilah. Karena Budi ingin membimbing manusia yang jatuh pada ujian yang pait dan kembali ke jalan penuh dengan kebaikkan," kata Eko.

"Terima kasih Eko," kata Budi.

"Eeeemmmm," kata Eko.

"Eko aku mau nanya sesuatu," kata Budi.

"Tentang apa?!" kata Eko.

Eko mengambil bakwan goreng di piring, ya di makanlah bakwan goreng.

"Tentang seorang cewek yang mungkin menyukai seorang cowok sih," kata Budi.

Budi mengambil tempe goreng di piring, ya di makanlah tempe goreng.

"Terus!!!" kata Eko.

"Cowok itu ingin lihat nilai-nilai yang di raih cewek itu pada pendidikan SMA-nya, ya cewek itu menunjukkan dengan baik nilai-nilai yang di raih cewek itu dengan baik. Ya cowok itu menilai dengan baik sih apa yang usahakan cewek itu saat di menjalankan pendidikannya," kata Budi.

"Tandanya cewek itu telah membuka hatinya dengan baik," kata Eko.

Eko mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi lah.

"Jadi cewek itu telah yakin dengan cowok yang menyukainya, ya Eko?!" kata Budi.

"Iya lah cewek itu telah membuka hatinya untuk cowok yang di sukainya. Cowoknya, ya memang menyukai cewek itu. Emmmm. Cerita kenyataan ada sih," kata Eko.

Eko mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi lah. Budi menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Memang aku dapatkan cerita ini dari kenyataan seseorang yang menjalankan jalan cerita tentang urusan cinta," kata Budi.

Eko menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Ada kesamaan cerita yang aku dapatkan dan juga Budi. Ya tidak masalah sih. Memang bisa terjadi di mana-mana cerita ini," kata Eko.

"Emmm," kata Budi.

"Cowok dan cewek yang di omongin Budi, ya pacaran kan?!" kata Eko.

"Iya sih pacaran dan juga sampai menikah," kata Budi.

"Sifat cowok menguji dan sifat keterbukaannya seorang cewek. Urusan cinta, ya biasalah," kata Eko.

"Urusan cinta, ya biasalah. Banyak cerita yang ini dan itu," kata Budi.

"Ya sudahlah main catur saja!" kata Eko.

"Ok. Main catur!" kata Budi.

Eko telah mengambil papan catur di bawah meja, ya papan catur di taruh di atas meja. Eko dan Budi menyusun dengan baik bidak catur di papan catur.

"Squid game," kata Budi.

"Squid game, ya sama aja seperti permainan catur saja," kata Eko.

"Iya juga ya. Kalau di pikir dengan baik. Kan ada strategi dalam permainan dan juga ada yang menang dan kalah. Tekan juga ada jika permainan sudah terdesak ketika mau kalah," kata Budi. 

"Emmmm," kata Eko.

Eko dan Budi bermain catur dengan baik.

Friday, October 22, 2021

ADA CERITA

Budi dan Abdul duduk di depan rumah Budi. Keduanya menikmati keadaan sambil minum kopi dan makan gorengan. Ya Budi bermain gitar dan juga bernyanyi. Abdul ikutan bernyanyi.

Lirik lagu yang dinyanyikan Budi dan Abdul dengan judul 'Ada Cerita' :

Hapus air mata yang mengalir di wajahmu
Tak perlu kau bersedih
Cinta tak mungkin bisa tuk melebur menjadi satu
Karena kita berdua berbeda
Jangan tanyakan mengapa
Aku pun tak ada jawabnya
Bisa kau tangisi lagi
Biarlah berlalu
Dalam hatiku takkan mungkin hilang
Meski dirimu tak lagi bersamaku
Ada cerita di kehidupan nanti
Kita bertemu
Kan kupastikan kita bersatu
Nana
Semua kisah di antara kita
Kan kujaga seumur hidupku
Dalam hatiku takkan mungkin hilang
Meski dirimu tak lagi bersamaku
Ada cerita di kehidupan nanti
Kita bertemu
Kan kupastikan kita bersatu
Dalam hatiku takkan mungkin hilang
Meski dirimu tak lagi bersamaku
Ada cerita di kehidupan nanti
Kita bertemu
Kan kupastikan kita bersatu hu

***

Budi dan Abdul selesai bernyanyi, ya Budi berhenti main gitar, ya gitar di taruh di samping kursi.

"Teman dekat cewek itu. Bisa saja menaruh hati pada kita, ya sembunyi-sembunyi kan Abdul?!" kata Budi.

"Kadang terang-terangan," kata Abdul.

"Benaran ada yang terang-terangan?. Padahal yang aku tahu sih cewek kan punya sifat malu, ya jadinya lebih baik cowok duluan menyatakan cinta sama cewek. Salah satunya menyatakan cinta, ya dengan permainan gombal-gombalan, ya sebenarnya beneran, ya tipu muslihatnya permainan," kata Budi.

"Beneran ada!" kata Abdul yang tegas.

"Ternyata beneran ada," kata Budi.

"Kadang cewek itu menunjukkan perhatian lebihnya. Ketika cowok yang di sukainya sakit," kata Abdul.

"Kalau ada ikatan hubungan pacaran, ya cewek memberikan perhatian lebih pada cowoknya yang sedang sakit," kata Budi.

"Bukan itu maksudnya Budi! Cewek belum ada ikatan dengan cowok, ya sekedar teman saja. Memang cowoknya tahu kalau ceweknya suka sama diri cowok itu. Ketika dapet kabar cowok sakit, ya hati tuh cewek berdetak berbeda dan berpikir khawatir banget sama cowok yang ia suka. Cewek itu peduli dengan cowok itu, ya dateng ke rumahnya untuk mencari tahu kebenaran tentang cowok itu," kata Abdul.

"Ooooo teman tapi ada rasa cinta," kata Budi.

"Iya. Teman tapi ada rasa cinta," kata Abdul menegaskan omongan Budi.

Abdul mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi lah.

"Apakah cowok itu jadian sama cewek itu?!" kata Budi.

Budi mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi lah. Abdul menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Mau cewek itu sih jadian sama cowok yang di sukai. Kenyataan tetap kenyaatan. Cewek itu tidak jadian sama cowok itu. Seberapa cinta cewek sama cowok. Ya pada akhirnya keputusan juga pada cowok lah, ya mau menerima cewek itu apa tidak," kata Abdul.

Budi menaruh gelas berisi kopi di taruh di meja.

"Kasihan juga cewek itu. Sudah perhatian lebih sama cowok, khawatir karena cowok yang di sukai cewek itu sakit. Tetap tidak jadian, ya jadi pacar sampai menikah gitu," kata Budi.

"Sebenarnya sih bisa jadian Budi. Tapi ada hal-hal yang tidak bisa menyatukan cowok itu dan cewek itu," kata Abdul.

"Status sosial, ya Abdul!" kata Budi.

"Bukan," kata Abdul.

"Bukan. Jadi apa?" kata Budi.

Abdul pun memberikan tahu Budi tentang kenapa cowok dan cewek itu tidak bisa bersatu dengan ikatan pacaran sampai menikah? Budi mendengarkan dengan baik omongan Abdul dan memahami dengan baik omongan Abdul.

"Jadi begitu toh. Pantes tidak bisa bersatu," kata Budi.

"Nama juga urusan cinta. Ada yang bersatu dan ada yang tidak," kata Abdul.

"Lebih baik main catur saja!" kata Budi.

"Ganti main lain!" kata Abdul.

"Oooo ini saja main kartu gaplek saja!" kata Budi.

"Ok. Main kartu gablek!" kata Abdul.

Budi mengambil kartu gablek di bawah meja, ya segera di kocok dengan baik kartu gablek. Budi membagikan kartu gablek dengan baik. Keduanya main kartu gablek dengan baik sambil menikmati minum kopi dan makan gorengan.

ADA SIH

Budi dan Eko duduk di depan rumah Budi sambil menikmati minum kopi dan makan gorengan. 

"Eko. Dalam kehidupan ini. Ada orang yang tidak suka dengan keadaan kita, ya jadinya orang itu menghina-hina kan?!" kata Budi.

"Ada sih. Bisa di ambil cerita. Jadi contoh : orang kaya sombong menghina orang miskin....," kata Eko.

"Ternyata ada," kata Budi.

Budi mengambil bakwan goreng di piring, ya di makan dengan baik bakwan goreng.

"Apa agama juga di hina-hina, ya perselisihan antar agama yang satu dengan lain?!" kata Budi.

"Yang aku tahu sih permain anak-anak. Contohnya : patung nabi isa di salip. Umatnya meminta bantuan pada nabi isa. Gimana nabi isa bisa menolong umatnya, ya diri nabi isa saja di salip," kata Eko.

Eko mengambil bakwan goreng di piring, ya di makan dengan baik.

"Memang sih. Yang aku tahu juga permainan anak-anak. Seperti omongan Eko. Contoh juga : di mesjid tempat yang di anggung semua orang, sendah jepit saja hilang di mesjid, ya gimana dengan kotak amal, ya pasti hilang," kata Budi.

Budi mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik.

"Urusan sendal sih. Aku sih pernah kejadian. Mungkin karena orang yang ngambil sendal ku itu, ya suka dengan sendal ku, ya jadinya aku ikhlasin saja," kata Eko.

Eko mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik. Budi menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Kalau sendal sih aku juga. Kalau kotak amal, ya kebangetan sih yang ngambil kotak amal. Padahal memang benar sih kotak amal di curi orang, ya sama sih ceritanya di berita di Tv. Pengurus mesjidnya, ya was-was menjaga mesjid sampai menuduh orang yang numpang di mesjid di tuduh pencuri lah," kata Budi.

Eko menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Memang ada pengurus mesjid pemikiran sampai segitunya menuduh orang. Buruk sangka pada orang, ya jadinya dosa," kata Budi.

"Kalau sampai kejadian begitu sih, ya buruk sangka pada orang, ya di tuduh pencuri. Berarti pengurus mesjidnya, ya ilmunya kurang ngawain dari ilmunya," kata Eko.

"Memang kurang memahami ilmu," kata Budi.

"Pencuri kotak amal kalau di cari, ya orang miskin lah. Padahal orang miskin itu, ya berhak dapet bantuan dari mesjid dari kotak amal itu. Belum waktunya di berikan kepada orang miskin, ya sudah di curi sama orang miskin," kata Eko.

"Jadi pencuri kan karena keadaan ekonomi salah satunya. Dan yang kedua, ya memang karena pekerjaannya pencuri jadi merugikan orang lain," kata Budi.

"Nama juga realitanya kehidupan ini," kata Eko.

"Orang-orang yang menghina agama islam di cap kafir ya Eko?!" Budi.

"Katanya ulama sih yang mengajarkan sih. Sampai masuk dalam hukum penghinaan, ya kata berita di Tv. Tapi berbenturan dengan ajaran islam ada berkaitan dengan urusan taubatnya manusia, ya di mana manusia bisa salah karena sengaja dan tidak sengaja," kata Eko.

"Ajaran islam tentang taubat-nya manusia," kata Budi.

"Emmm," kata Eko.

"Ya sudahlah lebih baik main catur saja!" kata Budi.

"Ok. Main catur!" kata Eko.

Eko mengambil papan catur di bawah meja, ya di taruh di atas meja papan catur. Eko dan Budi menyusun bidak catur di papan catur dengan baik. Keduanya main catur dengan baik.

TIDAK BISA KELAIN HATI

Abdul duduk di depan rumah sedang menyanyi dan main gitar, ya sambil minum teh gelas dan makan gorengan.

Lirik lagu yang dinyanyikan Abdul dengan judul 'Rena' :

Rena Rena Rena kusayang padamu
Rena Rena Rena kucinta padamu
Aku sangat rindu pada dirimu
Sudah lama aku tiada bertemu
Rena Rena Rena kusayang padamu
Hanya satu dalam hatiku
Cinta kasihku padamu
Sunggung tiada duanya
Di dalam dunia
Namamu terlukis indah
Bagai intan mutiara
Memancarkan cahaya
Cahaya asmara
Rena Rena Rena kusayang padamu
Rena Rena Rena kucinta padamu
Aku sangat rindu pada dirimu
Sudah lama aku tiada bertemu
Rena Rena Rena kusayang padamu
Hanya satu dalam hatiku
Cinta kasihku padamu
Sunggung tiada duanya
Di dalam dunia
Namamu terlukis indah
Bagai intan mutiara
Memancarkan cahaya
Cahaya asmara
Rena Rena Rena kusayang padamu
Rena Rena Rena kucinta padamu
Aku sangat rindu pada dirimu
Sudah lama aku tiada bertemu
Rena Rena Rena kusayang padamu

***

Budi sampai di rumah Abdul, ya memarkirkan motornya dengan baik di depan rumah Abdul lah. Budi duduk dengan baik. Abdul selesai menyanyi dan main gitarnya.

"Budi. Eko main kesini apa enggak?!" kata Abdul.

"Eko ada urusan dengan Purnama, ya biasalah urusan cinta," kata Budi.

"Ooooo. Eko ada urusan dengan Purnama," kata Abdul

"Ooooo iya Abdul barusan nyanyiin lagu apa?!" kata Budi.

"Lagu Muchsin Alatas dengan judul 'Rena'..." kata Abdul.

"Hayooooo Abdul. Jangan-jangan Abdul menyukai cewek yang bernama Rena ya?!" kata Budi.

"Urusan lagu di kaitkan sama urusan aku suka sama cewek yang namanya Rena. Ya enggak lah Budi. Sekedar menyanyi saja!' kata Abdul.

"Aku kirain, ya cewek yang di sukai Abdul nama Rena. Ternyata tidak," kata Budi.

Budi mengambil tahu goreng di piring, ya di makan dengan baik tahu goreng lah. Abdul menaruh gitar di samping kursi dan segera mengambil teh gelas di meja, ya di minum dengan baik sama Abdul.

"Oooo iya Abdul. Cewek yang dekat dengan Abdul. Siapa namanya?!" kata Budi.

Abdul menaruh teh gelas di meja.

"Putri," kata Abdul.

"Yang aku maksud bukan Putri. Tapi kenalan Abdul, ya baru dan jadi teman gitu?!" kata Budi.

"Kalau itu sih rahasia deh," kata Abdul.

"Terserahlah Abdul!" kata Budi.

Budi mengambil teh gelas di meja, ya teh gelas di cucuk dengan sedotan, ya segera di minum dengan baik sama Budi.

"Ok nama Tasya," kata Abdul.

Budi kaget mendengar namanya Tasya. Budi menaruh teh gelas di meja.

"Apa aku tidak salah denger Abdul. Namanya Tasya?!" kata Budi.

"Tidak salah nama Tasya," kata Abdul.

"Tasya. Nama artis, ya temannya Putri, ya artis. Aneh?!!!" kata Budi.

"Budi. Aku becanda kok. Nama cewek yang dekat dengan aku, ya rahasia deh," kata Abdul.

"Emmmm. Aku kena becandaan Abdul. Tetap nama cewek yang dekat dengan Abdul, ya di sukai gitu, ya itu tetap rahasia," kata Budi.

"Misteri lebih menarik kan?!" kata Abdul.

"Iya. Misteri lebih menarik," kata Budi.

"Main catur saja!" kata Abdul.

"Ok. Main catur saja!" kata Budi.

Abdul telah mengambil papan catur di bawah meja dan di taruh papan catur di atas meja. Abdul dan Budi menyusun dengan baik bidak catur di atas papan catur.

"Abdul sudah mulai kelain hati karena sudah dekat dengan cewek," kata Budi.

"Kelain hati. Aku masih menyukai Putri, ya tidak bisa kelain hati," kata Abdul.

"Tetap tidak bisa kelain hati. Putri tetap di sukai Abdul," kata Budi.

"Emmmm," kata Abdul.

Abdul dan Budi main catur dengan baik. Sedangkan Eko, ya sedang ngobrol dengan asik bersama Purnama di ruang tamu di rumahnya Purnama lah. Sedangkan Putri yang keberadaannya di Jakarta, ya tepatnya di rumahnya. Putri sedang asik mendengarkan musik di kamarnya sambil mengerjakan tugas kuliahnya, ya mengetik di leptop dengan baiklah.

IYA DAN TIDAK

Budi dan Eko duduk di depan rumah Budi, ya sambil menikmati minum kopi dan gorengan. 

"Kenapa orang menunjuk ke atas sambil menyebut Tuhan?!" kata Budi. 

"Nama juga manusia, ya dapet dari belajar," kata Eko. 

"Apa karena Nabi Muhammad naik ke langit dan mendapatkan perintah sholat?!" kata Budi. 

"Ya bisa jadi sih," kata Eko. 

"Agama lain juga memuja langit untuk menyatakan Tuhan yang di sembah," kata Budi. 

"Iya juga ya agama lain," kata Eko. 

"Langit seisinya ini kekuasaan Tuhan. Ya Tuhan satu," kata Budi. 

"Tuhan Maha Esa. Allah SWT," kata Eko menegaskan omongan Budi. 

"Ooo iya Eko. Makelar tanah itu ada yang bener ada yang tidak kan?!" kata Budi. 

"Memang sih makelar tanah di kota Bandar Lampung ini, ya ada yang bener ada juga tidak," kata Eko. 

"Orang nyari uang dengan jalan jadi makelar tanah," kata Budi. 

"Gejala keadaan ekonomi di kota Bandar Lampung," kata Eko. 

"Ada kaitan dengan orang-orang partai politik apa enggak tentang makelar tanah itu?!" kata Budi. 

"Ada kaitan dengan orang partai politik ada juga tidak," kata Eko. 

"Ooooo iya Eko. Aku telah baca buku. Ya aku telah tahu tentang jawaban pemuda yang bisa mendengarkan roh dan juga orang yang telah naik Haji dan juga punya gelar pendidikan agama sampai profesor, tapi tidak bisa mendengarkan roh," kata Budi.

"Terus!!!!" kata Eko. 

"Pemuda yang mendengarkan roh itu, ya jalan agama jujur, ya benar agama. Sedangkan orang tidak mendengarkan roh itu, ya tidak jujur, ya tidak benar agama," Kara Budi. 

"Jadi?!" kata Eko. 

"Kemungkinan, ya antara iya dan tidak," kata Budi. 

"Kemungkinan, ya antara iya dan tidak," kata Eko.

"Memang jawabannya lebih baik kemungkinan, ya antara iya dan tidak," kata Budi. 

"Kan aku buat kemungkinan antara iya dan tidak karena aku kan lulusan SMA. Aku butuh banyak baca buku untuk dapat menjawab dengan baik. Sedangkan Budi telah baca buku dengan baik. Kok jadinya jawabannya lebih kemungkinan antara iya dan tidak?!" kata Eko. 

"Aku jelaskan dengan baik Eko. Kenapa lebih baik kemungkinannya antara iya dan tidak?!" kata Budi. 

"Silakan jelaskan Budi!" kata Eko. 

Eko mendengarkan dengan baik penjelasan Budi, ya sampai Eko mengerti banget.

"Jadi begitu Eko," kata Budi. 

"Aku mengerti Budi. Memang lebih baik kemungkinannya, ya antara iya dan tidak," kata Eko. 

"Misteri banget kan," kata Budi. 

"Iya misteri banget," kata Eko. 

"Kalau mau tentang kebenarannya sih, ya ada dalam buku sih," kata Budi. 

"Buku itu. Budi pinjem dari siapa?!" kata Eko. 

"Dari temen yang telah lulus kuliah, ya sarjana sih. Kata Eko kan belajar dari pergaulan dari ilmunya setingkat kita, ya SMA, ya sampai ilmunya lebih dari kita, ya sarjana. Yang baik di ambil. Yang buruknya di buang. Kalau belajar dalam pergaulan," kata Budi. 

"Oooo dari temen Budi yang pendidikannya sarjana. Budi pinter!" kata Eko. 

"Terima kasih Eko di puji pinter," kata Budi. 

Budi mengambil gelas berisi kopi, ya di minum dengan baik kopi lah. 

"Emmmm," kata Eko. 

Eko mengambil gelas berisi kopi, ya di minum dengan baik kopi lah. Budi menaruh gelas berisi kopi di meja. 

"Dengan baca buku dengan baik, ya aku tahu jawaban dari pertanyaan yang aku lah," kata Budi. 

Eko menaruh gelas berisi kopi di meja lah. 

"Pengetahuan bertambah karena baca buku, ya beda dengan orang tidak baca buku, ya pengetahuannya sebatas gitu gitu saja," kata Eko. 

"Emmmmm," kata Budi. 

"Main catur saja!" kata Eko. 

"Ok. Main catur!" kata Budi. 

Budi mengambil papan catur di bawah meja dan di taruh papan catur di atas meja. Budi dan Eko, ya menyusun dengan baik bidak catur di atas papan catur.

"Sarjana itu pemikirannya kritis ya Eko?!" kata Budi. 

"Ada kritis ada yang enggak," kata Eko. 

"Jika aku menyudutkan orang pendidikan tinggi dari gelar S1 sampai S3, ya profesor dengan sebuah pertanyaan, di anggap tidak masalah dalam pendidikan, ya Eko?!" kata Budi. 

"Ya tidak ada masalah sih. Nama juga pendidikan. Belajar jadi pintar. Yang salah di benarkan dan yang benar tetap benar," kata Eko. 

"Oooo begitu," kata Budi. 

 Keduanya main catur dengan baik. 

Thursday, October 21, 2021

SEKEDAR OBROLAN

Eko dan Budi duduk di depan rumah Eko, ya sambil menikmati minum kopi makan gorengan.

"Berita di Tv masih membicarakan tentang intoleransi dan juga radikalisme," kata Budi.

"Nama juga berita di Tv," kata Eko.

Eko mengambil bakwan goreng di piring, ya di makan dengan baik bakwan goreng.

"Kadang berita seperti itu di abaikan, ya tidak di anggap karena manusia terlalu sibuk dengan kerjaan dan juga keilmuannya rendah, ya dari tingkat SD sampai SMA. Sedangkan dari tingkat perkuliahan sampai mendapat gelar sarjana, ya telah memahami dengan baik berita tentang intoleransi dan radikalisme, ya sangat berbahaya jika di jalankan karena menimbulkan kekacauan dan juga perpecahaan antara suku sampai agama," kata Budi.

"Orang yang berpendidikan tinggi kan lebih banyak lagi membedah isi buku dan juga penelitian ini dan itu. Di sebut golongan intelektual lah," kata Eko.

Eko yang telah habis makan bakwan goreng, ya mengambil lagi bakwan goreng di piring, ya di makan lah bakwan goreng.

"Lulusan SMA. Banyak kurang ilmunya. Ya harus banyak belajar dari keadaan saja, ya dari berita di Tv saja di manfaatkan dengan baik untuk menambah khasanah keilmuan ku," kata Budi.

Budi mengambil tahu goreng di piring, ya di makan dengan baik tahu goreng.

"Yang penting mau belajar," kata Eko.

Eko mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi lah.

"Iya sih. Aku sadar dengan keadaan ku. Jadinya aku belajar dengan baik," kata Budi.

Budi mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi lah. Eko menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Sedangkan berita di Tv tentang artis, ya masih saja berita ini dan itu....penuh dengan kontraversi kan....Budi?!" kata Eko.

Budi menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Ya....berita artis dari dulu sampai sekarang, ya selalu kontraversi ini dan itu. Sensasi ini dan itu," kata Budi.

"Tetap saja sekedar berita saja," kata Eko.

"Iya sih sekedar berita saja," kata Budi.

"Ya lebih baik main catur," kata Eko.

"Ok main catur," kata Budi.

Eko telah mengambil papan catur di bawah meja dan papan catur di taruh di atas meja. Eko dan Budi menyusun dengan baik bidak catur di atas papan catur.

"Eko. Kenapa orang telah mendapatkan gelar Haji dan juga gelar pendidikan agama, ya gelar profesor, ya tetap tidak bisa mendengarkan roh?!" kata Budi.

"Kalau itu sih. Aku tidak tahu lah. Aku cuma lulusan SMA?!" kata Eko.

"Memang sih aku dan Eko lulusan SMA saja sih.  Masalahnya kenapa pemuda itu bisa mendengarkan roh ya?!" kata Budi.

"Mungkin karena semua dasar ilmu. Kalau ilmu benar, ya berarti bisa mendengarkan roh," kata Eko.

"Berarti. Pemuda yang bisa mendengarkan roh, ya orang jujur karena ilmu agamanya benar. Sedangkan yang tidak bisa mendengarkan roh, ya ilmu tidak jujur, jadi ilmu agama tidak benar, ya Eko?!" kata Budi.

"Yaaaaa main kemungkinan saja," kata Eko.

"Jadi main kemungkinan, ya antara iya dan tidak. Ya sudahlah. Sekedar obrolan saja!" kata Budi.

"Eeeeemmmmm," kata Eko.

Eko dan Budi main catur dengan baik.

JANDA

Budi dan Abdul duduk di depan rumah Budi, ya sambil menikmati minum kopi dan makan gorengan.

"Janda," kata Budi.

"Ada apa dengan Janda. Jangan-jangan Budi dekat dengan Janda. Sampai ngomong Janda?!" kata Abdul.

Abdul mengambil tahu goreng di piring, ya di makan dengan baik tahu goreng.

"Aku sih tidak dekat dengan Janda. Hanya saja ada cerita tentang Janda," kata Budi.

Budi mengambil bakwan goreng di piring, ya di makan dengan baik bakwan goreng lah.

"Oooo Budi tidak dekat dengan Janda. Hanya ada cerita tentang Janda. Cerita Budi!" kata Abdul.

"Baiklah aku cerita tentang Janda. Seorang cewek miskin menikah dengan cowok miskin. Hidup penuh cerita kemiskinan lah. Sampai-sampai ketika beras tidak ada di dapur untuk di jadikan nasi, ya makananlah. Ceweknya, ya meminta beras sama ibunya untuk menyambung hidup. Ibunya dari awal telah menasehati anaknya agar tidak menikah dengan pemuda miskin dan tidak jelas asal usulnya. Tetap saja ceweknya ngeyel karena cinta sama cowoknya. Sampai suatu hari, ya cowoknya ketahuan selingkuh lah, ya sampe menghamili selingkuhannya lah. Mau enggak mau, ya cewek itu cerai dari suaminya dan menyesal karena memilih cowok miskin yang tidak jelas asal usulnya karena cinta. Cewek itu jadi janda deh," ceritanya Budi.

"Oooo begitu ceritanya. Ceweknya buta karena cinta sama cowoknya," kata Abdul.

Abdul mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi.

"Ceweknya tidak mau mendengarkan nasehat ibunya, ya tetap ngeyel dengan cintanya sama cowoknya," kata Budi.

Budi mengambil gelas berisi kopi di meja, ya kopi di minum dengan baik. Abdul menaruh gelas berisi kopi meja.

"Cewek miskin. Memang keadaannya sih. Ya harusnya belajar dari keadaanya, ya agar hidup bisa berubah," kata Abdul.

Budi menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Memang seharusnya belajar dari keadaan dirinya miskin dan berusaha mengubah nasifnya dengan kerja, ya bukannya menikah sih. Berharap pada cowok ternyata cowoknya tidak bisa di jadikan panutan dengan baik," kata Budi

"Nasifnya seorang cewek miskin dan juga janda lagi," kata Abdul.

"Kelanjutan ceritanya. Cewek itu punya anak sih, ya di urus dengan baik dan cewek itu kerja dengan baik dengan kemampuan dirinya cewek itu. Hasil dari kerjanya, ya pas-pasan lah. Cewek itu statusnya janda, ya agak genit gitu. Karena sudah status janda, ya tidak pernah di belay lah. Maka itu cewek itu dekat dengan cowok, ya ingin sih meluluhkan hati cowok. Agar cowok itu menikahi cewek itu, ya janda itu," kata Budi.

"Oooooo begitu cerita kelanjutannya," kata Abdul.

"Yang aku pertanyakan itu. Cewek kalau sudah tidak belay cowok jadi genit ya Abdul?!" kata Budi.

"Ya iyalah. Tapi tidak semuanya cewek sih. Tergantung dari ceweknya sih," kata Abdul.

"Kalau begitu sih. Agak jauh-jauh dari janda ah. Takut kena janda. Kan perawan masih banyak," kata Budi.

"Lebih baik jauh dari janda. Dekatnya sama perawan," kata Abdul menegaskan omongan Budi.

"Ya sudahlah lebih baik main catur saja!" kata Budi.

"Ok. Main catur!" kata Abdul.

Budi telah mengambil papan catur di bawah meja, ya di taruh di atas meja papan catur. Budi dan Abdul menyusun dengan baik bidak catur di papan catur. Keduanya main catur dengan baik.

Wednesday, October 20, 2021

SAMA AJA

Budi dan Eko duduk depan rumah Budi, ya sambil menikmati minum kopi dan makan gorengan.

"Hidup artis enak ya Eko?! " kata Budi.

"Hidup artis enak. Kalau menurut ku sama aja dengan keadaan kita. Harus bekerja keras demi hidup ini layak dengan baik, ya jauh dari kemiskinan," kata Eko.

Eko mengambil tahu goreng di piring, ya di makan dengan baik tahu tahu goreng. 

"Urusan kerja keras sih, ya memang sama aja dengan kita. Tujuannya jauh dari kemiskinan. Yang aku maksud sih.....tenarnya seperti bintang bersinar di kagumi semua orang karena ilmunya," kata Budi. 

Budi mengambil bakwan goreng di piring, ya bakwan di makan dengan baik bakwan goreng lah. 

"Kan zaman SMA, ya sudah merasakan di kagumi sama teman-teman karena band kita bagus, ya itu pun sudah cukup bagi ku," kata Eko. 

"Ya bagi Eko sudah cukup. Bagi ku sih masih kurang sih," kata Budi. 

"Budi. Budi....demi tenar seperti bintang yang di puja-puja," kata Eko. 

Eko mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik lah kopi. 

"Kalau di pikir dengan baik dengan keadaan aku yang sibuk kerja demi hidup, ya aku memang cuma ingin saja tenar seperti bintang yang di puja-puja," kata Budi. 

Budi mengambil gelas kopi di meja, ya di minum dengan baik kopilah. Eko menaruh gelas berisi kopi meja. 

"Keadaan juga menyadarkan Budi. Sibuk kerja demi hidup. Sedangkan ingin tenar seperti bintang di puja-puja, ya sekedar saja keinginan," kata Eko. 

Budi menaruh gelas berisi kopi di meja. 

"Aku telah dewasa. Aku tahu memilih yang baik untuk ku, ya sampai urusan cewek lah," kata Budi. 

"Memang urusan memilih, ya harus pemikiran yang matang, ya dewasa. Termasuk urusan cewek. Karena seumur hidup kita harus bersama dengan cewek yang kita sukai, ya menerima kekurangan dan kelebihan cewek yang kita sukai," kata Eko. 

"Persoalan tentang cerita perselingkuhan di acara Tv, ya di bicarakan dengan baik. Sekedar obrolan saja," kata Budi. 

"Urusan tentang perselingkuhan di acara Tv, ya bicarakan dengan baik. Memang sekedar obrolan saja. Ya baik di ambil. Yang buruk di buang jauh-jauh. Jadi bahan pembelajaran," kata Eko. 

"Omongan Eko kaya orang kuliahan saja. Padahal hanya lulusan SMA," kata Budi. 

"Kan aku bergaul dengan siapa pun, ya jadinya aku ambil ilmu orang-orang dari tingkat ilmunya sama dengan ku sampai lebih dari aku. Tujuannya aku tetap belajar dalam keadaan pergaulan. Yang baik di ambil. Yang buruk di buang jauh-jauh," kata Eko. 

"Memang Eko. Dengan keadaan kita yang hanya lulusan SMA, ya harus bisa beradaptasi dengan baik dengan lingkungan. Apalagi di pengaruhi dengan perkembangan zaman saat ini teknologi dan informasi," kata Budi. 

"Belajar di mana pun dengan keadaan apapun, ya jadinya pintar," kata Eko. 

"Pintar," kata Budi. 

Budi mengambil tahu goreng di piring di makan dengan baik, ya tahu gorenglah. 

"Hidup ini terus berjuang demi tujuan yang kita inginkan tercapai," kata Eko. 

"Ketika perjuangan kita telah berhasil, ya sujud syukur dari doa dan usaha yang di jalankan dengan baik," kata Budi. 

Budi mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi lah. 

"Omongan Budi benar sekali. Ketika telah berhasil dari apa yang di usahakan, ya pastinya sujud syukur karena doa dan usaha yang di jalankan dengan baik, ya menghantarkan pada keberhasilan," kata Eko mengaskan omongan Budi. 

Budi menaruh gelas berisi kopi di meja. 

"Main catur saja Eko!" kata Budi. 

"Ok. Main catur!" kata Eko. 

Budi mengambil papan catur di bawah meja, ya papan catur di taruh di atas meja. Budi dan Eko menyusun bidak catur dengan baik di atas papan catur. Keduanya main catur dengan baik. 

JANJI PUTIH

Budi ke rumah Abdul dengan menggunakan motor lah. Abdul duduk di depan rumah sedang main gitar dan bernyanyi, ya sambil menikmati minum teh gelas dan makan gorengan. 

Lirik lagu yang dinyanyikan Abdul dengan judul 'Janji Putih' :

Danke banya lai Tuhan
Su kasih dia par beta
Inikah tulang tusuk
Yang Tuhan ambel dar beta?
Bahagia sio nona e
Beta bahagia, sayang
Danke banya sayang e
Mau hidop deng beta, selamanya, ho-oh
Beta janji, beta jaga
Ale untuk selamanya
Beta janji akan setia
Hanya untuk satu cinta
Ini cinta yang beta punya
Dari relung hati jiwa
Cuma par ale sajalah
Cinta ni abadi s'lamanya, ho-wo-ho
Oh-uh-oh, cinta ni abadi s'lamanya
Beta janji, beta jaga
Ale untuk selamanya
Beta janji akan setia
Hanya untuk satu cinta
Ini cinta beta punya
Dari relung hati jiwa
Cuma par ale sajalah
Cinta ni abadi s'lamanya
Beta janji, beta jaga
Ale untuk selamanya
Beta janji akan setia
Hanya untuk satu cinta, oh
Ini cinta
(Beta punya) Beta punya
(Dari relung hati jiwa) Hu-hu
Cuma ale, nona
(Cuma par ale sajalah)
Cuma ale, nona
Cuma par ale sajalah
Cinta ni abadi (cinta ni abadi)
Selamanya

***

Budi sampai di rumah Abdul, ya memarkirkan motor dengan baik di halaman depan rumah Abdul lah. Budi duduk dengan baik. Abdul selesai menyanyi dan main gitar.

"Budi. Eko mana?!" kata Abdul.

Abdul menaruh gitar di samping kursi.

"Ooooo Eko. Masih ada urusan dengan teman kerjanya. Setelah urusan selesai, ya Eko ke sini. Ngumpul sama kitalah," kata Budi.

"Eko masih ada urusan toh," kata Abdul.

"Abdul nyanyiin lagu apa barusan?!" kata Budi.

"Judul lagunya 'Janji Putih'...," kata Abdul.

"Oooooo 'Janji Putih'...," kata Budi.

"Cowok mencari cewek yang baik untuk di jadikan kekasih hati, ya tulang rusuk sejatinya cowok, ya cewek itu," kata Abdul.

"Omongan Abdul sih, ya menuju pada Putri lagi," kata Budi.

"Kalau memang omongan ku mengarah pada Putri kenapa ?!" kata Abdul.

"Ya gak kenapa-kenapa sih. Lumrah bagi cowok yang menyukai cewek yang di sukainya. Harapannya, ya ingin bersama dengan cewek yang di sukai. Tapi kenyataan tidak bisa bersama karena keadaan kondisi Abdul," kata Budi.

"Nama juga nasif aku. Orang miskin yang berusaha menjadi orang yang mampu dengan baik. Menyukai cewek, ya teman SMA. Status sosial, ya aku orang miskin dan Putri orang kaya," kata Abdul.

"Memang nasif orang miskin, ya aku sama lah. Berusaha dengan baik, ya agar jadi orang mampu. Berusaha juga mendapatkan cewek yang cantik dan kaya. Abdul masih mending, ya menyukai teman SMA, ya Putri. Jelas orang yang di sukai Abdul. Sedang aku, ya masih bertualang mencari cewek yang aku sukai dengan baik," kata Budi.

"Aku telah berjanji pada diri ku, ya ingin menyatakan cinta pada Putri. Walau pun di tolak, ya tidak ada masalah lah. Nama juga usaha," kata Abdul.

"Abdul telah berjanji untuk menyatakan cinta sama Putri, tapi tahu resikonya di tolak sama Putri. Kalau di terima dengan baik sama Putri, ya janji putihnya Abdul selalu mencintai Putri dengan baik kan Abdul?!" kata Budi.

"Iyalah kalau di terima Putri. Aku berjanji dengan baik, ya bisa di bilang janji putih pada Putri untuk selalu mencintainya dengan baik," kata Abdul.

"Putih tanda kesucian. Ya cinta Abdul penuh dengan kesucian dengan janjinya, ya selalu mencintai Putri dengan baik," kata Budi.

"Emmmmm," kata Abdul.

Eko dateng ke rumah Abdul, ya Eko memarkirkan motornya dengan baik di halaman depan rumahnya Abdul.

"Akhirnya datang juga Eko," kata Abdul.

"Emmm," kata Budi.

"Abdul, Budi sedang asik ngobrol apa?!" kata Eko

Eko duduk dengan baiklah.

"Ngobrol tentang janji putihnya Abdul," kata Budi.

"Janji putih kaya lagu saja?!" kata Eko.

"Memang," kata Budi dan Abdul bersamaan.

"Oooooo jadi beneran lagu toh!" kata Eko.

"Eko sudah enak, ya sudah mendapatkan kekasih hatinya, ya Purnama. Jadi telah memenuhi janji pada diri untuk selalu mencintai Purnama dengan baik, ya bisa di bilang janji putih sih," kata Budi.

"Kalau mau di bilang urusan aku dan Purnama....janji putih, ya bolehlah. Semua berkat dari usaha dan doa," kata Eko.

"Memang untuk mendapatkan cewek yang di sukai, ya dengan usaha dan juga doa," kata Abdul menegaskan omongan Eko.

"Kadang ujiannya tetap sama. Di tolak sama cewek yang di sukai," kata Budi.

"Resikonya," kata Eko.

"Resiko di tolak cewek, ya jadinya patah deh, ya sakit di hati," kata Abdul.

"Ya sudahlah. Abdul, Eko. Lebih baik main kartu remi saja!" kata Budi.

"Ok," kata Abdul dan Eko bersamaan.

Abdul mengambil kartu remi di bawah meja dan di kocok dengan baik kartu. Abdul membagikan kartu remi dengan baik, ya main cankulan lah. Ketiganya main kartu remi dengan baik, ya sambil menikmati makan gorengan dan minum teh gelas lah.

SATU NAMA TETAP DIHATI

Abdul duduk di depan rumah, ya sedang main gitar dan bernyanyi, ya sambil menikmati minum kopi dan juga makan gorengan.

Lirik lagu yang dinyanyikan Abdul dengan judul 'Satu Nama Tetap Dihati' :

Ada satu nama suatu masa dulu
Pernah bawa dan beri bahagia
Hingga saat ini
Masih ku abadikan di dalam hatiku
Dengan satu rasa dalam satu cinta
Sewaktu kita bersama dulu
Hanya kita yang tahu
Dalam mana telah cinta
Kita memutik
Walau akhir ini seakan terpisah
Oleh masa dan suasana tak dipinta
Namun percayalah tidak sedikit pun
Kasihku kepadamu surut dan berubah
Pasti suatu masa kan bersama lagi
Engkau dan aku pasti jua nikmati
Cinta yang istimewa
Walau ku tak pasti bilakah masanya
Kau dan aku akan bertemu
Untuk kita kembalikan keindahan dulu
Walau akhir ini seakan terpisah
Oleh masa dan suasana tak dipinta
Namun percayalah tidak sedikit pun
Kasihku kepadamu surut dan berubah
Pasti suatu masa kan bersama lagi
Engkau dan aku pasti jua nikmati
Satu cinta yang indah
Walau ku tak pasti bilakah masanya
Kau dan aku akan bertemu
Untuk kita kembalikan keindahan dulu
Dengan satu rasa dalam satu cinta
Sewaktu kita bersama dulu
Kusemat di dalam hati
Hingga kita kan bertemu
Kemudian hari

***

Budi sampai di rumah Abdul, ya memarkirkan dengan baik motornya di halaman depan rumah Abdul. Budi duduk dengan baik. Abdul selesai main gitar dan bernyanyi.

"Budi mana Eko?!" kata Abdul.

"Eko ada urusan dengan Purnama," kata Budi.

"Jadi Eko tidak main ke sini karena ada urusan dengan Purnama. Ya enggak masalah sih," kata Abdul.

"Oiya Abdul. Habis nyanyiin lagu apa?!" kata Budi.

"Lagunya Eye dengan judul 'Satu Nama Tetap Dihati'..." kata Abdul.

"Sayang sekali. Aku tidak ada nama cewek yang ada di dalam hati ku," kata Budi.

"Aku pahamlah keadaan Budi yang berjuang mendapatkan cewek yang di sukai Budi. Maka itu, ya mana ada nama cewek yang terukir di hati Budi," kata Abdul.

"Nama juga berjuang demi sesuatu yang diinginkan. Kan sama aja dengan Abdul, ya mengukir nama cewek di sukai di hati Abdul, ya Putri!" kata Budi.

"Ya aku akui sih. Satu nama yang ada di hati ku, ya terukir dengan baik Putri," kata Abdul.

"Cewek yang berkesan untuk Abdul dari zaman SMA sampai sekarang," kata Budi.

"Ya begitulah ceritanya," kata Abdul.

"Oooo iya Abdul. Gimana dengan kerjaan Abdul?!" kata Budi.

"Baiklah. Gimana dengan kerjaan Budi?!" kata Abdul.

"Ya Baiklah," kata Budi.

"Syukur alhamdulillah. Urusan kerjaan, ya berjalan dengan baik," kata Abdul.

"Emmm," kata Budi.

"Oooo iya Budi ngopi apa enggak?!" kata Abdul.

"Ngopilah!" kata Budi.

"Ok aku buatkan," Abdul.

Abdul beranjak dari duduknya, ya membawa gitarnya. Abdul masuk ke dalam rumah dan menaruh gitar di atas meja ruang tamu, ya Abdul langsung ke dapur untuk membuat kopilah. Budi mengambil koran di meja, ya di baca dengan baik, ya sambil makan gorengan lah. 

"Berita di koran, ya keadaan kota Bandar Lampung, ya menarik juga beritanya," kata Budi.

Budi membaca terus berita ini dan itu, ya sampai berita tentang artis yang ini dan itulah. Abdul selesai membuat kopi di dapur, ya di bawa dengan baik kopi ke depan rumah. Di depan rumah, ya Abdul menaruh gelas berisi kopi di meja dengan baik. Abdul duduk dan berkata "Kopinya Budi!"

Budi menghentikan baca korannya, ya koran di taruh di meja. 

"Kopi," kata Budi.

Budi mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopilah.

"Orang-orang yang punya cita-cita jadi penyanyi dan ikut dalam perlombaan ajang menyanyi di acara Tv. Sampai akhirnya perjuangan orang-orang itu menjadi juara menyanyi. Hebat juga perjuangannya," kata Abdul.

Budi menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Memang sih...hebat perjuangannya sampai jadi juara. Ya sama halnya dengan juara di bidang olahraga, ya termasuk orang-orang hebat dalam perjuangannya meraih gelar juara," kata Budi.

"Hidup penuh dengan perjuangan," kata Abdul.

"Emmm," kata Budi.

"Seadainya aku sudah jadi sukses. Aku segera ke Jakarta untuk menemui Putri dan menyatakan perasaan cinta ku, ya melamarnya lah," kata Abdul.

"Seandainya apa beneran itu?!" kata Budi.

"Masih seandainya. Kan kenyataannya aku masih berjuang dengan baik, ya agar usahaku berkembang dengan baik," kata Abdul.

"Ok. Ok. Ok. Abdul masih berjuang kenyaataannya. Maka itu seadainya!" kata Budi.

"Hal yang aku takutin, ya di tolak sama Putri," kata Abdul.

"Cewek biasa menolak cowok karena cowoknya belum masuk kreteria cewek dan juga ceweknya sudah punya cowok," kata Budi.

"Apa Putri sudah punya pacar ya?!" kata Abdul.

"Mana aku tahu. Putri punya pacar atau enggak?!" kata Budi.

"Sudahlah ngomongin tentang Putri. Satu nama tetap di hati ku," kata Abdul.

"Emmmm," kata Budi.

"Main catur saja!" kata Abdul.

"Ok. Main catur!" kata Budi.

Abdul telah mengambil papan catur di bawah meja dan di taruh di atas meja papan catur. Abdul dan Budi menyusun dengan baik, ya bidak catur di papan catur. Keduanya main catur dengan baik. Sedangkan Eko, ya sedang ngobrol dengan asik sama Purnama di ruang tamu. Sedangkan Putri yang di sukai Abdul dan keberadaan Putri di Jakarta. Putri sedang ngobrol asik di rumahnya, ya di ruang tamu dengan teman-teman kuliah, ya ceweklah.

Tuesday, October 19, 2021

GALA GALA

Budi dan Eko duduk di depan rumah Budi sedang bernyanyi dan main gitar, ya Budi lah. Ya Budi dan Eko sambil menikmati minum kopi dan juga makan gorengan.

Lirik lagu yang di nyanyikan Budi dan Eko berjudul 'Gala Gala' :

Kini 'ku telah kembali
Kembali padamu, kasih
Setelah lama kutinggal pergi
Lama sudah 'ku menanti
Menanti memadu kasih
Penuh rasanya rindu di hati
Oh, tiada terkira
Rindu segala-gala-galanya
Oh, tiada terkira
Rindu segala-gala-gala-gala-galanya
Oh, tiada terkira
Rindu segala-gala-galanya
Oh, tiada terkira
Rindu segala-gala-gala-gala-galanya
Kurindu gayamu ketika bercanda
Tawa lepas renyah ceria
Kurindu gayamu ketika bermanja
Meluluhkan segenap jiwa
Kurindu bagaimana engkau membujuk
Ketika 'ku merajuk
Kurindu bagaimana engkau mengasihi
Ketika kubersedih
Kini 'ku telah kembali
Kembali padamu, kasih
Setelah lama kutinggal pergi
Lama sudah 'ku menanti
Menanti memadu kasih
Penuh rasanya rindu di hati
Oh, tiada terkira
Rindu segala-gala-galanya
Oh, tiada terkira
Rindu segala-gala-gala-gala-galanya
Oh, tiada terkira
Rindu segala-gala-galanya
Oh, tiada terkira
Rindu segala-gala-gala-gala-galanya
Kurindu gayamu ketika bercanda
Tawa lepas renyah ceria
Kurindu gayamu ketika bermanja
Meluluhkan segenap jiwa
Kurindu bagaimana engkau membujuk
Ketika 'ku merajuk
Kurindu bagaimana engkau mengasihi
Ketika kubersedih

***

Budi dan Eko berhenti bernyanyi, ya Budi berhenti main gitar.

"Menyukai cewek, ya selalu rindu tentang cewek itu, ya kan Eko?!" kata Budi.

"Memang sih. Menyukai cewek, ya selalu rindu ingin bersamanya. Cinta segala-galanya tentang diri cewek tersebut yang di sukai dengan baik," kata Eko menegaskan omongan Budi.

"Ketika cewek curhat tentang dirinya ada masalah yang ini dan itu, ya sebagai cowok harus mengerti keadaan diri cewek tersebut. Cowok harus memberikan masukan yang baik, ya agar urusan masalah cewek itu cepat selesai," kata Budi.

"Kadang masukan cowok ke cewek, ya enggak kena kepermasalahan cewek. Jadinya cewek masih kesal dengan persoalaan yang menimpa dirinya," kata Eko.

"Iya sih kadang masukan cowok ke cewek, ya enggak kena kepermasalahan cewek. Cowok telah berusaha dengan sebaik mungkin mengertiin keadaan cewek," kata Budi yang menegaskan omongan Eko.

"Sebaliknya, ya kadang cewek berusaha mengertiin keadaan cowok yang ada masalah. Pada cowok bertindak dengan baik menyelesaikan masalahnya, ya dengan bantuan teman-temannya. Seperti ketika aku punya masalah, ya Budi menolong aku. Begitu juga ketika Budi punya masalah, ya aku menolong Budi dengan baik. Jadinya saling tolong menolong sesama teman," kata Eko.

"Teman yang baik selalu tolong menolong untuk menyelesaikan masalah yang menimpa. Nama juga ujian hidup," kata Budi.

"Sedangkan cewek, ya menyelesaikan masalahnya dengan cara sendiri dan juga bantuan teman-temannya cewek lah," kata Eko.

"Jadinya sih cewek dan cowok, ya sama aja ketika menyelesaikan masalah. Dengan cara sendiri dan juga bantuan teman-temannya," kata Budi menegaskan omongan Eko.

"Aku pinjam gitarnya Budi!" kata Eko.

"Niiiieeee," kara Budi.

Budi memberikan gitar pada Eko dan Eko mengambil gitar dari tangan Budi lah. Eko memainkan gitar dan bernyanyi. Budi, ya ikutan nyanyilah.

Lirik lagu yang dinyanyikan Eko dan Budi dengan judul 'Cuma Kamu' :

Haa-haa
Hmm-hmm
Haa-haa
Hm-hm-hm-hmm
Cuma kamu sayangku di dunia ini
Cuma kamu cintaku di dunia ini
Tanpa kamu sunyi kurasa dunia ini
Tanpa kamu hampa kurasa dunia ini
Cuma (cuma) kamu (kamu) sayangku di dunia ini
Cuma (cuma) kamu (kamu) cintaku di dunia ini
Tiada kalimat dapat melukiskan
Betapa sayangku kepada dirimu
Tiada ibarat sebagai umpama
Betapa cintaku kepada dirimu
Itu dapat kurasa dari pandang matamu
Itu dapat kurasa dari belai tanganmu (wo-ho-ho-hoo-hoo)
Cuma kamu sayangku di dunia ini
Cuma kamu cintaku di dunia ini
Tanpa kamu sunyi kurasa dunia ini
Tanpa kamu hampa kurasa dunia ini
Cuma (cuma) kamu (kamu) sayangku di dunia ini
Cuma (cuma) kamu (kamu) cintaku di dunia ini

***

Eko dan Budi selesai menyanyikan lagu, ya Eko menyelesaikan main gitarnya. Gitar di taruh Eko di samping kursi. Budi mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi lah.

"Cuma Purnama yang aku sukai," kata Eko.

Eko mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopilah. Budi menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Memang sih Eko mencintai Purnama dengan baik," kata Budi.

Eko menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Nama juga kisah cinta aku dan Purnama. Rindu segala-galanyalah," kata Eko.

"Aku sih ingin sekali merasakan seperti Eko dan Purnama....urusan cinta. Kenyataan tetap kenyataan aku berusaha mendapatkan cewek yang aku sukai," kata Budi.

"Aku sebagai teman, ya mengerti keadaan Budi lah," kata Eko.

"Lebih main catur saja Eko!" kata Budi.

"Ok main catur saja!" kata Eko.

Budi telah mengambil papan catur di bawah meja, ya di taruh di atas meja. Budi dan Eko menyusun bidak catur dengan baik di papan catur. 

"Kalau urusan cinta para artis di Tv gimana Eko?!"kata Budi.

"Kisah cinta para artis di Tv, ya sebagai contoh yang baik," kata Eko.

"Contoh yang baik," kata Budi.

"Ya tetap sih urusan cinta. Ada yang baik dan buruk," kata Eko.

"Iya sih. Urusan cinta. Ada yang baik dan ada yang buruk. Nama hidupnya manusia di pengaruhi dengan keadaan ini dan itu, masalah yang menimpa manusia dalam menjalankan hidup ini," kata Budi.

"Emmmm," kata Eko.

Eko dan Budi main catur dengan baiklah.

MENDENGARKAN DENGAN BAIK

Budi sedang duduk di depan rumahnya sedang main gitar dan bernyanyilah, ya sambil menikmati minum kopi dan juga makan gorengan lah.

Lirik lagu yang dinyanyikan Budi dengan judul 'Andai Ku Tahu' :

Andai ku tahu
Kapan tiba ajalku
Ku akan memohon
Tuhan, tolong panjangkan umurku
Andai ku tahu (ku tahu)
Kapan tiba masaku
Ku akan memohon
Tuhan, jangan Kau ambil nyawaku
Aku takut
Akan semua dosa-dosaku
Aku takut
Dosa yang terus membayangiku
Andai ku tahu
Malaikat-Mu 'kan menjemputku
Izinkan aku
Mengucap kata taubat pada-Mu
Aku takut
Akan semua dosa-dosaku
Aku takut
Dosa yang terus membayangiku
Ampuni aku
Dari segala dosa-dosaku
Ampuni aku
Menangis ku bertaubat pada-Mu
Aku manusia (aku manusia)
Yang takut neraka
Namun aku juga (namun aku juga)
Tak pantas di surga
Andai ku tahu (ku tahu)
Kapan tiba ajalku
Izinkan aku
Mengucap kata taubat pada-Mu
Aku takut
Akan semua dosa-dosaku
Aku takut
Dosa yang terus membayangiku
Ampuni aku
Dari segala dosa-dosaku
Ampuni aku
Menangis ku bertaubat pada-Mu

***

Eko sampai di rumah Budi, ya memarkirkan motornya dengan baik di halaman depan rumah Budi. Eko duduk dengan baik. Budi telah selesai dari menyanyi dan main gitarnya.

"Berita di Tv tentang Maulid Nabi," kata Eko.

"Memang beritanya  di Tv tentang Maulid Nabi dan juga ada acara Tv yang berkaitan dengan Maulid Nabi," kata Budi.

"Di mesjid daerah sini, ya ada yang mengadakan acara Maulid Nabi," kata Eko.

"Memang ada sih yang mengadakan acara Maulid Nabi. Acara baca al-quran, nyanyi lagu sholawat dan nasehat. Ya kedengaran dengan baik, ya toanya mesjidlah," kata Budi.

"Memang sih kedengaran dengan baik. Aku dan Budi mendengarkannya dengan baik," kata Eko.

"Mendengarkan dengan baik," kata Budi.

"Oooo iya barusan tadi Budi nyanyi lagu apa?!" kata Eko.

"Mau tahu yang biasa aja apa mau tahu banget?!" kata Budi.

"Gaya anak gaul...Budi. Ya mau tahu banget lah!" kata Eko.

"Lagunya Ungu dengan judul 'Andai Ku Tahu' ...," kata Budi.

"Ooooo lagunya Ungu yang berjudul 'Andai Ku Tahu'..," kata Eko.

"Selagi masih hidup, ya taubat bagi yang sadar punya dosa, ya pemberitahuan pada manusia yang berbuat dosa. Dari dosa kecil sampai dosa yang besar," kata Budi.

"Yang sadar taubat. Yang tidak sadar, ya ada sampai mati, ya tidak bisa taubat. Pastinya tuh manusia masuk neraka!" kata Eko.

"Manusia itu makluk yang pandai menyembunyikan kesalahan kecil sampai besar, ya contohnya saja : mencuri," kata Budi.

"Sampai-sampai manusia yang merasa dirinya hebat, ya menganiyaya manusia lain, ya jadi preman gitu," kata Eko.

"Kalau preman sampai membunuh manusia, ya pantes masuk penjara dan juga pantes masuk neraka," kata Budi.

"Emmmm," kata Eko.

"Eko...ngopi nggak?!" kata Budi.

"Ya kopi," kata Eko.

Budi beranjak dari duduknya, ya masih megang gitar sih. Eko pun berkata "Minjem gitarnya Budi!" 

Budi memberikan gitarnya pada Eko, sambil berkata "Nieee gitarnya!" 

Eko mengambil gitar dari tangan Budi. Ya Budi bergerak masuk ke dalam rumah langsung ke dapur untuk membuat kopi lah. Eko memainkan gitar dan bernyanyi.

Lirik lagu yang dinyanyikan Eko dengan judul 'Tombo Ati' :

He di-de da-da da di de
Da-da di do-de da-re rei-ra
Tombo ati iku limo perkarane
Kaping pisan, moco Qur'an lan maknane
Kaping pindo, sholat wengi lakonono
Kaping telu, wong kang sholeh kumpulono
Kaping papat, kudu weteng ingkang luwe
Kaping limo, dzikir wengi ingkang suwe
Salah sawijine sopo biso ngelakoni
Mugi-mugi Gusti Allah nyembadani
Tombo ati iku limo perkarane
Kaping pisan, moco Qur'an lan maknane
Kaping pindo, sholat wengi lakonono
Kaping telu, wong kang sholeh kumpulono
Kaping papat, kudu weteng ingkang luwe
Kaping limo, dzikir wengi ingkang suwe
Salah sawijine sopo biso ngelakoni
Mugi-mugi Gusti Allah nyembadani
He di-de da-da da di de
Da-da di do-de da-re rei-ra
Obat hati ada lima perkaranya
Yang pertama, baca Qur'an dan maknanya
Yang kedua, sholat malam dirikanlah
Yang ketiga, berkumpullah dengan orang sholeh
Yang keempat, perbanyaklah berpuasa
Yang kelima, dzikir malam perpanjanglah
Salah satunya siapa bisa menjalani
Moga-moga Gusti Allah mencukupi
Obat hati ada lima perkaranya
Yang pertama, baca Qur'an dan maknanya
Yang kedua, sholat malam dirikanlah
Yang ketiga, berkumpullah dengan orang sholeh
Yang keempat, perbanyaklah berpuasa
Yang kelima, dzikir malam perpanjanglah
Salah satunya siapa bisa menjalani
Moga-moga Allah Ta'ala mencukupi
Moga-moga Allah Ta'ala mencukupi

***

Budi selesai membuat kopi di dapur, ya di bawalah kopi ke depan rumah. Di depan rumah, ya kopi di taruh di meja. Budi duduk dengan baik, ya ikut bernyanyi dengan Eko. Sampai lagu selesai di nyanyikan Eko dan Budi, ya Eko berhenti main gitarnya.

"Bagi manusia yang menyakini ajaran agama islam dengan baik, ya selalu menjalankan segala aturan agama dengan baik. Terus menerus di jalan kan. Malahan terus di sempurnakan dengan cara mempelajari dan juga memahami ilmu agama islam dengan baik," kata Budi.

"Contohnya orang-orang sholeh," kata Eko.

Eko menaruh gitar di samping kursi dan segera mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik. 

"Orang sholeh yang telah menjalankan ajaran agama islam dengan baik, ya hati menjadi tenang, ya tentram banget," kata Budi.

Budi mengambil gelas berisi kopi di meja, ya segera di minum dengan baik kopi lah. Eko menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Memang sih hati tenang, ya tentram banget," kata Eko menegaskan omongan Budi.

Eko menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Maulid Nabi, kita cuma di rumah saja Budi?!" kata Eko.

"Ya di rumah saja lah. Kan kedengaran dari sini, ya toanya mesjid yang sedang mengadakan acara Maulid Nabi," kata Budi.

"Memang sih kedengaran dari sini, ya toanya mesjid yang sedang mengadakan acara Maulid Nabi. Ya sudahlah sama-sama mendapatkan pahala, ya karena mendengarkan acara Maulid Nabi di mesjid yang di isi acara ini dan itu," kata Eko.

"Emmmm," kata Budi.

"Kalau begitu main catur saja!" kata Eko.

"Ok. Main catur!" kata Budi.

Budi mengambil papan catur di bawah meja dan di taruh di atas meja papan catur. Budi dan Eko menyusun dengan baik bidak catur di papan catur. Keduanya main catur dengan baik.

CAMPUR ADUK

BAD NEWS BEARS

Malam hari, ya bulan bersinar dengan baik. Setelah nonton Tv yang acaranya menarik dan bagus...tema cinta di chenel MDTV, ya seperti biasa s...

CAMPUR ADUK