CAMPUR ADUK

Thursday, March 5, 2020

KOMUNIKASI POLITIK

Indro, ya asik nonton Tv yang acaranya bagus banget. Saat iklan gitu, ya Indro beranjak dari duduknya di ruang tengah....ya menuju ruang tamu di mana Dono lagi duduk santai dan membaca buku yang judulnya "Komunikasi Politik".

"Tumben Don...kamu baca buku komunikasi politik?" tanya Indro.

"Cuma...nambah wawasan...saja," kata Dono.

"Oh...begitu. Don...bagaimana komunikasi politik yang di sampaikan para elit politik ketika mereka membicarakan tentang program-program pemerintahan ketika di publikasikan di Tv?" saut Indro.

"Bagus sih. Walau...kenyataannya...banyak rencana dan perancaannya agar terlihat bagus dengan tujuan mempengaruhi penonton Tv atau di realita kenyataannya," kata Dono.

"Oh...begitu," kata Indro.

"Bisa di bilang...sih pencitraan...tujuannya," saut Kasino yang asik main game on line di Hpnya.

"Pencitraan toh. Ah...sudahlah aku mau nonton Tv lagi. Oh...iya Don...apa pendapat..kamu penampilan Putri hari ini gitu?" kata Indro.

"Entar...aku buka jaringan media sosial...untuk memeriksanya dulu," kata Dono.

"Ok...aku tunggu," kata Indro.

Dono pun menghidupkan leptopnya dan segera membuka jaringan media sosial. Saat vidio pun terlihat jelas di tonton Dono baru deh Dono berkata "Cantik dan anggun...penampilan Putri hari ini".

"Cantik dan anggun...toh. Pujian untuk Putri," kata Indro.

"Kalau...gitu gak usah dibahas lagi..aku mau nonton Tv, ya acaranya Tukul," kata Indro.

"Iya," kata Dono.

Indro pun kembali ke ruang tengah untuk menonton Tv dengan penuh kesantaian. Dono pun segera menutup media sosial dan segera mulai mengetiknya di leptopnya. Kasino pun berhenti main game on line di Hpnya dan segera ke ruang tengah untuk nonton Tv bersama Indro.

"Acara...Tukul hari ini...bintang tamunya Rafi," kata Kasino.

"Iya....," saut Indro.

"Tambah seru dong acaranya Tukulnya," kata Kasino.

"Iya," saut Indro.

Kasino pun kembali diam dan asik menonton Tv bersama Indro. Dono, ya tetap asik mengetik di leptopnya. Tapi tiba-tiba....terdengar suara dari luar, ya Dono pun bergerak dari duduknya dan melihat ke luar dari jendela kaca.

"Oh......pergerakan organisasi yang ada di daerah sini...untuk mendukung kemenangan di pilkada..toh," kata Dono.

Dono pun kembali duduk lagi di sofa dan mengetik di leptopnya. Dengan serius Dono terus mengetik dengan baik di leptopnya.Tiba-tiba Dono berhenti mengetik.

"Kenapa aku....selalu berpikir seputar politik...begini? Ini...gara-gara aku baca buku...komunikasi politik. Isi kepala...ku, gak jauh-jauh dari isi buku yang aku baca," kata Dono.

Dono pun lebih baik menghentikan mengetik di leptopnya dan segera menyimpan hasil ketikannya. Ya bergeraklah Dono ke ruang tengah untuk nonton Tv bersama teman-teman dengan ke santaian gitu di malam yang tenang banget banget.

TUKUL DAN PEPY

Tukul sedang asik duduk di bawah pohon yang rindang. Pepy, ya menghampiri Tukul yang sedang duduk santai.

"Tukul, ayo kita pulang!" kata Pepy.

"Udah...selesai mengumpulkan bunga liar di daerah sini?" kata Tukul.

"Sudah...nie!!!" kata Pepy sambil menunjukkan seikat bunga liar.

"Ayolah, kita pulang!" kata Tukul.

"Iya," saut Pepy.

Tukul dan Pepy pun berjalan bersamaan menuju rumah. Saat di persimpangan jalan. Megi keluar dari rumahnya, ya ingin ke warung Ibu Minah. Tukul dan Pepy, iya melihat Megi. Tukul yang suka sama Megi, ya bertindak sesuatu dengan meminta bunga liarnya Pepy di bagi dua. Ya Pepy pun membagi bunga liar jadi dua ikat gitu.  Tukul pun segera memberikan bunga liar kepada Megi.

Ya Megi menerima dengan baik, bunga pemberian Tukul. Mulailah Megi mencium seikat bunga gitu. Tahu-tahu ekor lebah ada di hidung Megi. Paniklah Megi dengan lebah di hidungnya, karena takut di entup. Tukul pun panik melihat lebah di hidung Megi. Maka itu Tukul, ya sepontan saja mengambil seikat bunga di tangan Megi dan segera di pukul ke mukanya Megi dengan tujuan mematikan lebah tersebut.

Usaha...Tukul berhasil untuk mematikan lebah dengan di pukul pake seikat bunga. Megi marah banget, karena satu kesalahan Tukul....ya mengusir lebah pake seikat bunga kena kemuka Megi.

Rasa marah tidak terbendung gitu pada diri Megi walau Tukul sudah meminta maaf gitu. Megi pun menampar Tukul dengan keras dan berkata "Putus".

Megi pun pergi meninggalkan Tukul dengan memegang pipinya. 

"Baru...jadian udah...putus. Eeee....kesal," kata Tukul.

Pepy pun mendekati Tukul.

"Yang...sabar, ya Tukul," nasehat Pepy.

"Sabar...bisa. Pipi...ku sakit di tampar Megi," kata Tukul yang kesal.

"Sudah...lah...jangan di perpanjang. Pulang aja yuk!!!" kata Pepy.

"Ayo...pulang!!!" kata Tukul.

Tukul dan Pepy, ya berjalan bersama menuju rumah gitu. Saat pengkolan gang gitu. Vega baru pulang dari urusan kuliah gitu dan membayar ongkos ojek on line ke tukang ojek. Vega pun mau masuk rumah. Tukul pun, ya niat untuk memberikan bunga gitu ke Vega...jadi meminta Pepy membagi bunga yang di bawanya. Pepy pun membagi bunga tersebut, ya jadi seikat bunga. Tukul segera memberikan bunga ke Vega gitu. Vega menerima bunga dari Tukul, tapi langsung di pukul ke muka Tukul.

"Aku tidak suka...kamu!!!" kata Vega yang kesal.

Vega langsung masuk rumahnya. Tukul diam di tempat gitu. Pepy, ya mendekati Tukul.

"Yang...sabar...ya Tukul," nasehat Pepy.

"Dua..kali. Aku di perlakuan cewek seperti ini. Apa aku yang sial apa aku yang bodoh?!" kata Tukul.

"Kamu...sudah tahu..jawabannya Tukul," kata Pepy.

"Iya, aku...tahu. Ayo kita pulang dan jangan lagi berurusan dengan cewek!" kata Tukul.

"Iya," saut Pepy.

Tukul dan Pepy, iya berjalan menuju rumahnya dan akhirnya...ya sampai di rumah gitu. Tukul, ya segera duduk santai di teras gitu. Pepy menaruh seikat bunga liar di dalam pot kaya gitu dan di pajang di meja tamu.

"Bagus...bunganya di pajang di sini," kata Pepy.

Pepy pun ke dapur, ya untuk masak gitu. Tukul yang duduk santai di teras gitu, jadi jenuh maka itu masuk rumah. Pepy pun telah masak ayam goreng dan di taruh di meja makan dan di tutup tudung saji gitu. Tukul pun membuka tudung saji dan mengambil ayam goreng dan segera di makannya.

"Emmmm...enaknya ayam goreng ini," kata Tukul.

Pepy, ya masih sibuk masak sayur kangkung di tumis gitu. Bau harum masakan Pepy, ya tercium Tukul.

"Bau...enak," kata Tukul.

Pepy pun selesai masak sayur kangkung dan di taruh di meja makan. Pepy dan Tukul, ya duduk bareng gitu dan segera makan bersama gitu.

"Sayur...kangkung ini benar enak... Pepy..!!!" pujian Tukul.

"Iya," saut Pepy.

Tukul dan Pepy menikmati makannya dengan baik-baik. 

"Oh..iya, Pepy...kalau...buat vidio...tema memasak....gimana pendapat kamu?" kata Tukul.

"Ide...yang bagus. Sama...kaya...acara di Tv..gitu," kata Pepy.

"Iya...Pepy. Menceritakan dari proses memasak makanan sampai rasa dari masakan yang kamu buat Pepy," kata Tukul dengan penuh antusias.

"Menciptakan rasa kesan yang enak pada masakan aku buat. Bagus banget," kata Pepy.

"Jadi..kita sepakat membuat vidio tema masakan," kata Tukul.

"Sepakat," saut Pepy.

Tukul dan Pepy, terus makan sampai kenyang gitu. Setelah itu di bereskab piring dan gelas kotor di cuci di belakang oleh Pepy. Sedang Tukul sudah menyiapkan kamera dari Hp gitu untuk membuat vidio yang bertema memasak. Pepy pun mulai memasak makan di dapur gitu dan di rekam Tukul. Selang berapa saat. Jadi juga masakan buatan Pepy dan juga vidio masakan.

Tukul dan Pepy memeriksa hasil vidio masakan. 

"Bagus...hasilnya," kata Pepy.

"Iya..bagus," kata Tukul.

Tukul pun segera mempublikasikannya ke jaringan Youtobe dan juga vidio di kirim kan ke teman-teman Tukul dan Pepy lewat jaringan sosial media. Di tunggu dengan baik oleh Tukul dan Pepy komentar dari teman-teman yang paling baik gitu.

"Ternyata...tanggapan di teman kita...tentang vidio memasak kita. Positif," kata Tukul.

"Kalau tanggapannya baik. Berarti...aku..ingin membuat vidio masakan yang lain," kata Pepy.

"Aku...siap membantu," kata Tukul.

Tukul dan Pepy, ya sepakat untuk membuat vidio memasak lagi. Waktu telah menjelang magrib dan mulai terdengar suara azan gitu, jadi ya Tukul dan Pepy mengakhiri urusan mereka berdua sementara waktu dan bergegas untuk pergi ke mesjid untuk sholat magrib.

Wednesday, March 4, 2020

KOTAK HITAM

Pintu di ketuk. Indro, ya mendengarnya dengan baik. Segera di bukalah pintu. Ternyata tidak ada orang.

"Apa aku di kerjain...ya?" celoteh Indro.

Tapi ada sebuah kotak hitam di lantai.

"Kotak...hitam apa ya?" celoteh Indro.

Indro pun ingin memegang kotak hitam tersebut. Dono, ya melihat Indro ingin memegang kotak hitam tersebut dan langsung berteriak "Jangan di sentuh kotak hitam tersebut!".

Indro, ya keburu memegang kotak hitam tersebut. Keluarlah cahaya yang menyilaukan mata. Indro pun menghilang begitu. 

"Aku...gagal melarang Indro memegang kotak hitam tersebut. Sekarang....entah di mana keberadaan Indro," kata Dono.

Kasino pun mendekati Dono, saat ia baru sampai di rumah.

"Ada...apa Don?" tanya Kasino.

"Indro....menghilang. Gara-gara menyentuh kotak hitam di lantai," kata Dono.

"Jadi......gara-gara....kotak hitam ini, Indro menghilang. Memangnya kotak hitam ini asalnya dari mana?" kata Kasino.

"Entahlah aku tidak tahu. Tapi kalau...di lihat baik-baik ada tulisan kuno kayanya tulisan kuno dari Mesir," kata Dono.

"Aku...melihat baik...tulisan kuno dari Mesir," kata Indro.

"Semoga Indro...bisa menyelesaikan misinya. Jadi bisa cepat pulang," kata Dono.

"Aku...berdoa agar Indro berhasil dari misinya," kata Kasino.

***

Indro berada di gurun pasir dengan keadaan pingsan. Seekor onta dan seorang yang mengendarainya. Turunlah orang berada di atas onta dan berusaha membangunkan orang yang tergeletak begitu saja di gurun pasir.

Ya...Indro pun sadar dari keadaannya pingsan dan berkata "Dimana...aku?".

Orang yang menolong Indro pun berkata "Kamu....berada di Mesir".

"Mesir," kata Indro.

Indro pun melihat sekelilingnya dengan baik, ternyata gurun pasir yang luas banget. Indro pun berkenalan dengan orang yang menolongnya. Jadi Indro tahu siapa yang menolongnya bernama Celopatra, panggilannya Celo. Ya Celo pun siapa orang yang ia tolong bernama Indro.

Indro pun memutuskan ikut Celo ke kota, ya naik onta gitu karena Celo bawa satu ekor onta untuk di tunggangi. Perjalanan pun berjalan dengan baik Indro dan Celo, ya sampai di kota. Celo dan Indro di hadang oleh preman pasar gitu dan ingin merampas onta dan barang bawaan. Sebenarnya takut melawan preman pasar gitu. Tapi Celo dengan berani melawan preman pasar dengan menggunakan tongkat sebagai senjata. Ya...Indro ikutan juga bertarung melawan preman pasar. Indro dan Celo berhasil mengalahkan para preman pasar gitu dan datenglah...para prajurit yang menjaga keamanan kota untuk menangkap para preman pasar untuk di masukkan ke penjara. 

Setelah urusan selesai dengan preman pasar, ya Celo dan Indro pun segera menuju penjualan onta untuk di jual onta tersebut. Hasilnya penjualan onta lumayan buat Celo. Mulailah rencana Celo untuk masuk ke dalam istana, ya Indro ikut membantu Celo untuk masuk istana dengan menyamar gitu...menjadi pelayan istana.

Usaha Celo dan Indro, ya berhasil sih masuk istana. Ternyata, ketahuan oleh prajurit yang menjaga istana, jadi Celo dan Indro dihadapkan kehadapan Raja mesir. 

Raja pun menyidang Celo dan Indro di aula istana.

"Kalian berani...masuk istana ini," kata Raja.

"Aku...berani masuk istana ini karena...ini istana aku," kata Celo yang tegas banget.

Indro terkejut dengan omongan Celo, ya termasuk Raja.

"Siapa.....sebenarnya, kamu ini....gadis muda yang berani?" kata Raja.

"Aku....Celopatra. Aku selamat dari usaha kamu ingin membunuh ku dasar penasehat kerajaan yang menyamar jadi ayahku," kata Celo dengan terus terang.

Prajurit istana melihat dengan baik wajah Celo, ya ternyata putri kerajaan Mesir. Maka itu, para prajurit istana yang setia langsung berpihak pada Celopatra. Raja, yang kedoknya sudah ketahuan Celo, ya masih mengelak dengan cara menyerang Celo dengan sebuah pedang di tangannya. Indro yang sigap, ya menolong Celo dengan melompat ke arah Celo untuk menghindari serangan pedang Raja. Prajurit yang berpihak Celo pun mengangkat senjata dan begitu juga dengan prajurit di pihak Raja. Jadilah pertempuran di aula istana. Raja terus menyerang Celo, tapi Celo tidak tinggal diam saja jadi melawan dengan mengambil pedang prajurit. Adu pedang antara Raja dan Celo. Sampai Celo, ya terpojok dengan serangan pedangnya Raja. Indro pun menolong lagi Celo dengan berusaha mengalahkan Raja. Pertarungan adu pedang antara Indro dan Raja sangat sengit banget. 

Pada akhirnya, Indro bisa mengalahkan Raja dan perang di aula istana pun berhenti. Celo pun menyiram wajah Raja dengan cairan membatal penyamarannya dan wajahnya kembali semula menjadi penasehat kerajaan. Celo pun menyuruh prajurit untuk memasukkan penasehat kerajaan ke dalam penjara beserta prajurit yang mengikutinya. Celo pun membebaskan ayahnya yang di penjara oleh penasehat kerajaan. Raja yang asli kembali memerintah kerajaan. Indro, ya senang telah menolong teman baiknya ternyata seorang putri kerajaan Mesir. Indro pun bersenang-senang di istana yang megah, selama sebulan di temanin oleh Celo.

Indro, ingin balik ke rumah tapi tidak tahu caranya. Sampai Indro menemukan kotak hitam lagi di sebuah tempat penyimpanan kerajaan, ya di temanin Celo. Indro ingin menyentuh kotak hitam tersebut, tapi sebelumnya Indro...bertanya ke Celo berkaitan dengan kotak hitam.

Ya...Celo pun menceritakan sebenarnya asal usul kotak hitam ke Indro bahwa kotak hitam di berasal dari langit dan di temukan oleh Celo sendiri di taman istana. Indro pun mengerti cerita dari Celo tentang kotak hitam. Maka itu, Indro pun berkata ke Celo "Saat kita berpisah Celo. Terima kasih atas segalanya...selama aku tinggal di istana".

"Iya, sama-sama," kata Celo.

Indro pun menyentuh kotak hitam dan cahaya yang menyilaukan mata dan menghilangkan Indro begitu saja. Celo pun ke luar dari ruangan yang menyimpan kotak hitam dan ruang penyimpanan pun di kunci rapat-rapat. 

***

Indro pun sampai di rumah. Dono pun membangun Indro yang tidur di sofa. Ya Indro pun bangun dari tidurnya.

"Aku ada...di rumah. Jadi aku berhasil pulang ke rumah," kata Indro yang senang sekali.

"Iya, kamu...berhasil kembali pulang ke rumah...Indro. Berarti...misi mu telah selasai," kata Dono.

"Berapa...lama...aku...pergi ke Mesir, Don?" tanya Indro.

"Ya...paling cuma satu hari penuh," kata Dono.

"Satu...hari penuh. Kayanya..aku...sebulan...di Mesir," kata Indro.

"Mungkin....jawabannya...hanya ruang waktunya beda aja. Jangan-jangan kamu pergi Mesir ...itu tempat alamnya Jin," kata Dono.

"Alam...Jin. Bisa jadi. Waktunya beda sih," kata Indro.

"Sudahlah...jangan di bahas lagi. Aku...mau main PS 4," kata Indro.

"Iya," saut Dono.

Indro pun ke ruang tengah dan segera menghidupkan PS 4 dan di mainkan. Dono, ya mau ke kamar untuk mengetik gitu. Kasino ke luar dari kamarnya dan berpapasan dengan Dono.

"Don,.....Indro.....udah balik dari Mesir?" tanya Kasino.

"Udah. Lagi asik main PS 4," kata Dono.

"Oh...begitu. Aku..ikut main PS 4 sama Indro...ah!!!" kata Kasino.

"Iya," saut Dono.

Kasino, ke ruang tengah untuk main PS 4 bersama Indro. Dono, ya segera mengetik di leptopnya dengan penuh ketenangan di dalam kamar.

Tuesday, March 3, 2020

NETRAL BRO!!!

Surya berdiri tegak sambil memegang mikrofon. Mulai Surya menyanyikan lagu.

Isi lagu :

"Biarkah waktu teruslah....berputar
Mencintai kamu penuh rasa sabar
Meski sakit hati ini kau tinggalkan
Ku ikhlas tuk bertahan
Cintaku padamu begitu besar
Namun kau tak pernah bisa me....rasakan
Telah kini  kau ucapkan selamat tinggal
Membuat keresahan

....Meninggalkan ku tanpa perasaan
.....Hingga ku jatuhkan air mata
.....Kekecewaan ku sungguh tak berharap
Biarkan ku terus bertahan

Jangan pernah kau coba untuk berubah
Tak relakan yang indah hilang lah sudah
Jangan pernah kau coba untuk berubah
Tak relakan yang indah hilang lah sudah

...Meninggalkan ku tanpa....perasaan
Hingga ku jatuhkan air mata
.....Kekecewaan ku sungguh tak berharap
Biarlah ku terus bertahan

Jangan pernah kau coba untuk berubah
Tak relakan yang indah hilang lah sudah
Jangan pernah kau coba untuk berubah
Tak relakan yang indah hilang lah sudah
Jangan pernah kau coba untuk berubah
Ku relakan yang indah dalam hatinya
Wooooo....na....nana
Na.....naaa.....oooooo"

Surya, ya selesai menyanyikan lagunya dengan baik. Tora, ya bertepuk tangan dan berkata "Bagus....bagus, aku jadi terharu mendengarkannya".

"Mulai..deh ngeledeknya. Bilang...aja jelek gitu," kata Surya.

"Kok, tahu," saut Tora.

"Tahu...lah. Suara aku...pas...pas.....pasan. Alias lumayan gitu," kata Surya.

"Tapi, Surya bagus kok. Dengerin deh rekaman di Hp....aku," kata Dita.

"Ini...malah di rekam di Hp," kata Surya.

"Hasilnya bagus kok. Kenapa ya Surya bilang....pas...pas...pasan...ya?" kata Dita.

"Becandaan. Kalau gak di buat gitu....kan, gak seru," kata Tora.

"Emang...bener," saut Surya.

"Jadi...cuma...becandaan toh. Aku....serasa...di bodohin...gitu," kata Dita.

"Siapa sih...yang bodohin....Dita. Lawan Surya," kata Surya menunjukkan keberaniannya.

"Iya, siapa...yang membodohin...Dita. Lawan aku Tora," kata Tora dengan penuh keberanian.

"Kalian....ini kenapa sih?Bukannya...kalian berdua! Merasa...gak!!!" kata Dita.

"Enggak tuh," kata Surya dan Tora yang ngeles gitu.

"Kelihatan...tahu, bohongnya. Males...ah....main sama kalian berdua," kata Dita.

Dita pun ngambek keluar dari ruangan gitu.

"Wah...Dita..ngambek...Tora, gimana ini?" kata Surya.

"Biarin....aja nanti masuk lagi," kata Tora.

"Kalau begitu lebih baik kita nonton Tv aja," saran Surya.

"Boleh juga," Tora.

Surya pun menyetel Tv dan memilih chenel Tv yang menarik acara Tvnya dengan remot. Tora, ya mengikuti saja apa maunya Surya. Acara Tv yang di pilih adalah lawak. Surya dan Tora, asik menonton Tv. Dita yang masih kesal, ya sebenarnya gak kesal sih cuma alasan saja gitu....tujuannya beli makanan kecil di minimarket terdekat.

Tora, ya kepikiran sesuatu dan berkata "Surya kenapa...menyanyikan lagunya ST 12 atau di sebut sekarang Setia Band, Jangan Pernah Berubah  atau ada kaitannya dengan perlombaan menyanyi lagu pop, Indonesian Idol...gitu?"

"Ah....cuma..iseng...aja. Nyanyian lagu pop," kata Surya.

"Biasanya....?" tanya Tora.

"Ya...pop sih," kata Surya.

"Itu...mah sama aja!!!" kata Tora.

"Dita...lama...amat. Ngambeknya udah keterlaluan...ini mah," kata Surya.

"Lama...banget. Apa kita yang keterlaluan sama Dita," kata Tora.

"Keterlaluan apa?" tanya Surya.

"Ya...becandaannya," kata Tora.

"Biasa....itu mah," saut Surya.

"Iya...juga...biasa," kata Tora.

Dita pun masuk ke dalam ruangan dan melihat Tora dan Surya nonton Tv dan segera duduk bersama Tora dan Surya.

"Aku...beli makan banyak," kata Dita.

"Makan.....," kata Surya dan Tora bersamaan.

"Iya...makan," saut Dita.

"Bukannya tadi...ngambek!!!" kata Surya.

"Iya....ngambek.Tahu-tahu...kembali, bawa makan yang banyak. Aneh...ini mah," kata Tora.

"Dita...kan cuma becanda," katanya dengan terus terang.

"Wah...kita kena!!!!" kata Surya.

"Beneran...kita, kena becandaannya Dita.Ya...sudah bagi makannya!!!!" kata Tora.

"Ini...makannya," kata Dita sambil memberikan satu bungkus keripik singkong ke Tora.

"Mana punya aku!" kata Surya.

"Ini...aku kasih!" kata Dita sambil memberikan satu bungkus keripik pisang.

Tora dan Surya, ya segera membuka bungkus makanan dan memakan makanan di dalam plastik masing-masing.

"Enak," kata Tora.

"Iya, enak," kata Surya.

Dita, ya mengambil remot tv dan mengganti chanel Tv dengan acara suku afrika, ya film jadul sih.

"Kenapa film ini....Dita?" tanya Surya.

"Aku...ingin...bertanya saja, ya pandangan pria berkaitan tentang apa yang di tonton," kata Dita.

"Pertanyaan apa....aku bisa jawabnya. Ya gak Tora!" kata Surya.

"Iya, aku bisa...jawabnya dengan baik," saut Tora yang asik makan keripik singkong.

"Ok...baiklah. Di film ini ada suku afrika yang kulitnya hitam dan ada suku kulit putihnya....dong sebagai lawan main dalam film ini. Pertanyaannya...adalah cewek suku kulit hitam dan suku kulit putih cantikan mana?" kata Dita.

"Cantik...mana cewek kulit hitam dan putih? Jawabannya....sama-sama cantiknya,...Netral Bro!!!.... ya gak Tora!" kata Surya.

"Idem....jawabannya sama dengan Surya. Netral alias....sama cantiknya suku kulit hitam dan suku kulit putih....karena yang di bahas cewek. Kalau cewek....pasti...cantiklah. Cewek di bilang ganteng namanya...tomboy dong," penjelasan Tora.

"Kalian...bener-bener...sehat menilai sesuatu," kata Dita.

"Yo....i," kata Tora dan Surya bersamaan.

Dita, pun menggantikan chanel Tv pake remot....ke tontonan acara yang di tonton Surya dan Tora...yang awal. Dita pun meninggalkan ruangan karena ada urusan kerjaan. Surya dan Tora, ya santailah...nonton Tv, karena gak ada kerjaan.

Monday, March 2, 2020

ISENG AJA!!!

Indro, ya lagi buka Hpnya dan ada sebuah foto cewek berjilbab. Dono yang sedang asik mengetik gitu di leptopnya, ya Indro pun menunjukkan foto cewek di Hpnya.

"Don....cantik gak cewek ini?" kata Indro.

Dono, ya berhenti mengetik gitu dan melihat foto cewek di Hpnya...Indro.

"Emmm. Gimana..ya. Mau jujur atau bohong?" kata Dono.

"Yang bohongnya dulu!" kata Indro.

"Biasa..aja," kata Dono.

"Kalau..jujurnya!" kata Indro.

"Biasa...aja," kata Dono.

"Kok...jawabnya sama aja," kata Indro.

Kasino, ya berhenti dari main game di Hpnya dan bergerak  ke tempat duduknya Indro dan Dono untuk melihat foto di Hpnya Indro.

"Ceweknya...cantik," kata Kasino.

"Cantik. Berarti pandai menilai," kata Indro.

Kasino, ya kembali duduk di tempatnya dan segera main game di Hpnya. 

"Kasino...aja bilang cantik foto cewek di Hp ini. Kenapa kamu, Don.....cuma menanggapinya dengan santai. Ya Biasa aja!!!!" kata Indro.

"Indro...Indro....Indro. Cantik itu relatif. Tergantung orang yang memandangnya. Aku...ngomongnya...biasa aja berarti biasa aja," kata Dono.

"Kalau..menurut Dono begitu, ya benarlah. Pandangan Dono," saut Kasino sambil main game di Hpnya.

"Jadi....biasa aja toh. Kalau yang ini Don!" kata Indro, ya sambil menunjukkan foto cewek lagi di Hpnya.

Dono pun terkejut dengan foto yang di tunjukkan Indro.

"Wulan dan Rara," kata Dono.

"Mana..yang cantik Don?" tanya Indro.

"Susah untuk aku...pilih. Mana yang cantik," kata Dono.

"Ya...pilih salah satu. Apa susahnya!" ujar Indro yang memaksa.

"Ok....aku pilih. Rara. Pasti bertanya lagi," kata Dono.

"Iya, kenapa Rara. Bukannya Wulan. Hayoooo kenapa Rara?" kata Indro yang penuh antusias banget.

"Ya...kan. Nanya lagi. Jawabannya ga ada!" kata Dono yang tegas.

"Ya...selesai deh permainannya," kata Indro.

"Oh..iya, Don. Rara..yang nyata atau maya di Tv....cantikan yang mana?" tanya Kasino sambil main game di Hp.

"Kok. Ikut...mainan kaya Indro, Kasino?" kata Dono.

"Nimbrung aja. Gak di jawab juga apa-apa? Cuma permainan," kata Kasino.

"Jadi...jawabannya Don?" ujar Indro yang memaksa Dono.

"Untuk menyenangkan semuanya jawabannya....tidak ada jawaban," kata Dono yang tegas.

"Ya...jadinya tanda tanya deh," kata Indro.

"Terserah Dono," saut Kasino.

Dono, ya kembali mengetik di Hpnya. Indro, ya menonton Tv on line di Hpnya. Kasino, ya biasalah tetap asik main game di Hpnya. Tiba-tiba Indro terpikir sesuatu tentang berita hari ini dan berkata pada kedua temannya "Apa pendapat kalian berdua berkaitan dengan virus korona. Ya....tentang penanggulangan Pemerintah Indonesia menghadapi masalah virus korona?" 

Dono, ya berhenti mengetik di leptopnya dan berkata "Sudah sesuailah proses penanggulangannya".

"Pendapat, aku...sih gak jauh beda dengan Dono. Jadi idem," saut Kasino.

"Jadi...sudah...sesuai prosedur yang baik dilakukan Pemerintahan Indonesia," kata Indro.

"Sip benar sekali," kata Dono dan Kasino bersamaan.

Dono, ya kembali mengetik di leptopnya. Indro, ya asik nonton Tv on line, yang di tonton adalah Net. Kasino, asik main game di Hpnya.

Saturday, February 29, 2020

SANTAI DI RUMAH

Dono lagi asik santai di halaman belakang, ya sambil baca buku. Indro, ya nemenin Dono duduk di halaman belakang, ya sambil baca artikel di jaringan internet pake Hpnya.

"Artis dan Artis," celoteh Indro.

Dono pun mengentikan baca bukunya dan di taruh di meja, lalu membuka toples dan mengambil keripik pisang. Dono, ya menikmati makan keripik pisang. 

"Artis lagi dan lagi," celoteh Indro.

Dono pun minum, teh anget untuk menghilangkan rasa seret di tenggorokannya. Indro pun selesai juga baca artikelnya di Hpnya.

"Enak...ya Don, jadi artis?" kata Indro.

"Jadi..artis. Ya ada enaknya dan juga tidak enaknya," kata Dono.

"Jadi dua toh pokok permasalahannya. Kalau enak jadi artis?" kata Indro.

"Enaknya jadi artis. Saat artis itu berdiri di atas panggung, contohnya penyanyi. Ia menunjukkan pesona dirinya dengan penampilan yang cantik banget, bagaikan burung merak yang sedang menunjukkan keindahan dari bulunya cantik," kata Dono.

"Indah di pandang mata karena melihat pesona kecantikan yang menajubkan dan akhirnya yang menonton pun bersorak sorai sambil bertepuk tangan tanda kagum. Gimana dengan gak enaknya....Don?" kata Indro.

"Gak...enaknya. Ya...artis tersebut kembali menjadi dirinya sendiri seperti burung kecil yang tidak ada nilai harganya dan kadang keluar kata-kata dari mulutnya 'Aku letih banget mengejar karir sampai puncak, terkadang aku kecewa dengan hasilnya....tidak sesuai kenyataan'," kata Dono.

"Jadi hidup jadi artis....penuh dengan panggung sandiwara," kata Indro.

"Iya, tepat sekali Indro. Panggung sandiwara. Peran yang terus di mainkan jika jadi artis, sesuai lakon yang ia mainkan," tegas Dono.

"Kadang...lebih baik jadi orang biasa-biasa aja dari pada jadi artis," kata Indro.

"Seperti itulah...pilihan," tegas Dono.

Indro pun mengambil keripik pisang di toples dan segera memakannya. Dono pun kembali membaca bukunya. Indro, ya minum teh anget untuk menghilangkan rasa seret makan keripik pisang. Kasino, ya selesai membereskan tanaman di pot dan duduk bersama Dono dan Indro. Ya Indro pun segera main game di Hpnya. Kasino, segera menuangkan tekok kecil yang berisi teh yang masih anget ke gelas dan segera di minumnya teh anget.

"Segernya," kata Kasino.

Kasino pun mengambil keripik di toples dan segera di makannya.

"Oh..iya. Dono, Indro...hari minggu....cuma di rumah aja. Gak ada kegiatan yang lain?" kata Kasino.

Dono, ya menghentikan baca bukunya dan berkata "Gak ada kegiatanlah".

Indro pun menghentikan main gamenya di Hpnya dan berkata "Gak ada kegiataan gitu. Cuma seperti ini, kebiasaan di rumah".

Kasino pun minum teh angetnya.

"Jadi..gak ada rencana kemana gitu?" kata Kasino.

"Rencana...main kemana? Kalau ke pantai di daerah sini. Ah sudah biasa. Harusnya luar biasa gitu," kata Indro.

"Kalau...mau luar biasa. Kenapa gak ke pulau Natuna atau ke pulau Subaru. Kan di sana pantainya bagus banget," saran Dono.

"Kejauhan..itu Don. Sekalian aja ke pulau Sabang, di Aceh," kata Indro.

"Wah...wah...wah. Berarti..tidak ada rencana kemana-mana...ini mah. Ya udahlah. Jalanin kebiasaan setiap hari di rumah," kata Kasino.

"Setuju," kata Dono dan Indro bersamaan.

Dono, ya kembali baca bukunya dan Indro, ya kembali main game di Hpnya. Kasino, ya beranjak dari duduk bersama Dono dan Indro dan masuk ke dalam rumah, ya ke ruang tengah untuk menonton Tv. Kasino pun memilih chanel Tv yang menarik gitu dan chanel yang di pilih Kasino adalah RRI, yang sedang menayangkan lagu-lagu yang menarik. Dengan santai Kasino menikmati tontonan di Tv, di hari minggu yang tenang banget banget.

NGOBROL BIASA!!!

Surya, ya sedang asik duduk di kafe sambil minum jus jeruk. Tora dateng kafe sih setelah urusannya selesai dengan Istrinya.

"Surya....maaf telat," kata Tora sambil duduk bersama Surya.

"Iya, aku maafkan," kata Surya.

Tora pun mesen minuman sama pelayan kafe yaitu jus alpukat. Pelayan kafe, ya segera menyediakan pesanan dengan cepat. Ya di tunggu sih dateng juga minuman jus alpulkat dan di taruh di meja oleh pelayan kafe.

"Terima kasih," kata Tora.

"Iya, silakan menikmati," kata pelayan kafe.

Pelayan kafe, kembali ke posisinya menunggu pesanan dari pengunjung yang dateng di kafe.

"Dita...mana?" tanya Tora.

"Paling kerjaanya belanja di mall. Biasa...cewek...belanja lama, banyak milih ini dan itu," kata Surya.

"Oh...begitu," saut Tora.

***

Dita yang di omongin Tora dan Surya, ya lagi asik milih baju gitu di mall dan akhirnya bersin.

"Aku...flu, atau ada yang ngomongin aku. Biasanya...sih. Tora dan Surya..nie," kata Dita yang berprasangka.

Dita pun meneruskan memilih bajunya yang ingin ia beli.

***

"Oh...Surya, hari ini jadi suting....acara malam malam di Net?" tanya Tora.

"Jadi...lah. Udah di kontrak ngisi acara," kata Surya.

"Tema...apa yang di angkat hari ini?" tanya Tora.

"Biasalah. Keadaan kita gini, bercerita saja!!!!" kata Surya.

"Oh...iya, ngomong-ngomong. Dari tadi minum jus terus. Kapan makannya?" kata Tora.

"Oh...iya aku lupa pesan. Tapi yang bayar kamu, Tora," kata Surya.

"Kok aku, kamu yang ngundang main di kafe jadi aku yang harus bayar," kata Tora.

"Becanda. Tetap aku yang bayar," kata Surya.

"Kalau gitu aku suka," kata Tora.

Surya dan Tora memesan makan sama pelayan kafe, ya makan yang di pilih ayam bakar gitu. Segera secepat mungkin pelayan kafe, ya menyajikannya. 

"Oh...iya, acara pencarian bakat masih terus ada di Tv...kaya lancar-lancar saja...ya Surya," kata Tora.

"Lancarlah...masih banyak peminatnya, untuk mengubah nasif dari bukan siapa-siapa menjadi sesuatu yang luar biasa alias artis yang populer," kata Surya.

"Iya juga. Berarti banyak yang dateng ke Jakarta untuk mencari peruntungan jadi orang sukses," kata Tora.

"Banyak yang dateng ke Jakarta. Maka itu, pertumbuhan ekonomi di Jakarta pesat...jadilah kota metropolitan. Banyak memberikan harapan masa depan yang lebih baik. Beda dengan kota yang lain. Kuncinya itu media berkembang pesat di Jakarta....jadi daya tarik," penjelasan Surya.

"Bener kamu, Surya. Medialah kunci...sukses di kota Jakarta, memberikan satu harapan untuk menjadi orang sukses," kata Tora.

Pelayan kafe dateng, ya menyajikan makan pesan. 

"Terima kasih," kata Tora.

"Iya, silakan di makan," kata pelayan kafe.

Pelayan kafe pun kembali ke tempatnya lagi untuk menunggu pengunjung yang pesan gitu. Tora dan Surya segera menyantap makanan.

"Enak," kata Tora.

"Enak...banget," kata Surya.

Surya dan Tora, terus asik makan. Dita, ya selesai juga dari beli baju di mall, ya buru-buru dateng ke kafe. Terlihat oleh Dita, ya Tora dan Surya asik makan gitu. Segera Dita masuk ke dalam kafe. 

"Tora, Surya...maaf telat," kata Dita sambil duduk di sebelah Surya.

"Telat banget," kata Surya.

"Benar-benar telat," kata Tora.

"Maaf...deh," kata Dita kembali.

"Iya, di maafkan," saut Surya dan Tora bersamaan.

Dita pun memesab minum ke pelayan kafe, ya jus jeruk gitu. Segera pelayan kafe menyiapkan pesanan gitu. 

"Oh..iya, ngobrol tentang apa kalian berdua?" tanya Dita.

"Apa..ya?" kata Surya.

"Apa...ya?" kata Tora.

Pesanan pun dateng dan di taruh di meja oleh pelayan kafe.

"Terima kasih," kata Tora.

"Kok...Tora yang ngomong. Harusnya aku. Terima kasih," kata Dita.

"Iya, silakan," kata pelayan kafe.

Tora dan Surya selesai makan dan berkata bersamaan "Kenyang". Gita, ya lagi asik minum jus jeruknya.

"Tora, ayo kita ke studio untuk suting, acara malam malam!" kata Surya.

"Ayo!!!" kata Tora.

Tora dan Surya beranjak dari tempat duduk untuk membayar makanan di kasir. 

"Tunggu...aku belum selesai," kata Dita yang masih minum jus jeruknya.

"Cepetan!!!" kata Surya.

"Cepetan!!!!" kata Tora.

"Iya," saut Dita.

Dita selesai minum jus jeruknya. Surya telah membayar semuanya makan dan minuman di kasir. Ya segera keluar dari kafe Surya dan Tora. Dita, ya ngekor dari belakang. Ketiganya, jalan bersama akhirnya menuju studio Tv untuk kerja, mengisi acara Tv....malam malam.

Friday, February 28, 2020

BILY DAN TEMAN

Bily, ya lagi asik duduk di taman sambil menikmati pemandangan sekitar. Rafi mendatengi Bily, ya langsung berkata "Woy....kok duduk di sini, ngapa gak ke dalem?"

"Lagi...asik lihat keadaan lingkungan," kata Bily.

"Lingkungan," saut Rafi.

Dengan seksama Rafi melihat keadaan lingkungan, dimana terlihat manusia yang sibuk dengan urusannya masing-masing.

"Rafi, kalau semua manusia di kota ini...terinfeksi...virus mematikan, kaya film-film gitu. Dampak pada ekonomi di kota ini bagaimana, ya?" tanya Bily.

"Terinfeksi virus mematikan, terkena pada manusia dan dampak ekonomi pada kota ini?" Ya....lumpuhlah...ekonomi kota ini, karena yang menggerakkan sektor ekonomi modern dan tradisional adalah manusia," kata Rafi.

"Wah....hancur deh," kata Bily.

"Ya...memang hancurlah," tegas Rafi.

"Ya sudahlah ngobrol di sini dan santai di sini. Ayo masuk ke dalem yuk!" kata Bily.

"Dari tadi...diajak ke dalem," kata Rafi.

Rafi dan Bily pun beranjak dari duduk di taman, ya berjalan menuju sebuah gedung. Sampailah di dalam ruangan. Ya Bily duduk sendirian di dalam gedung sambil nonton vidio lucu di Youtobe pada Hpnya. Rafi sedang ngobrol dengan Slavina, ya urusan pribadi biasalah rumah tangga.

Kevin masuk ruangan tersebut dan melihat Bily sedang asik nonton Youtobe pada Hpnya.

"Hey, teman asik...sendirian nih!" kata Kevin.

"Kamu, Kevin. Iya, abisnya...nunggu Rafi selesai dulu urusannya dengan Slavina," kata Bily sambil menghentikan tontonannya di Hpnya.

"Main, tik tok yuk. Ya tujuannya asik-asik aja gitu," saran Kevin.

"Boleh juga...main tik tok," kata Bily.

Bily dan Kevin pun, ya sepakat main tik tok, ya pake Hpnya Bily. Setelah itu Bily dan Kevin menonton hasilnya dari rekaman di Hpnya Bily.

"Boleh...juga hasilnya," kata Kevin.

"Lucu....juga," kata Bily.

"Astaga...aku ada urusan yang lain, Bily..ngobrolnya udahan ya. Ada urusan penting. Biasa..urusan pribadi," kata Kevin.

"Iya," kata Bily.

Kevin, ya meninggalkan Bily lagi sendirian di ruangan tersebut. Bily pun membagikan hasil dari main tik toknya, ya ke teman-temannya dengan tujuannya tanggapan dari teman-teman gitu. Wal hasil, banyak komentar yang....lumayan asik gitu lebih tepatnya tujuannya becandaan gitu. Bily pun tertawa sendiri membaca komentar tersebut, ya perasaan dirinya senang banget. Tiba-tiba, Bily teringat dengan almarhum Kakaknya, Olga. Bily yang tadinya perasaannya bahagia, jadi sedih. 

"Tidak..ada yang tahu umur manusia itu berapa lama untuk bisa hidup di dunia ini, hanya Tuhan yang tahu," celoteh Bily.

Bily pun menghilangkan kesedihannya dengan main game di Hpnya, ya on line. Rafi pun selesai dengan urusan dengan Slavina, ya segera menghampiri Bily.

"Bily, ayo...kita kerja!" kata Rafi.

"Ayo!!!" saut Bily, ya segera menghentikan main game di Hpnya.

Bily dan Rafi yang sepakat, ya keluar dari ruangan tersebut, dan menuju ruangan lain untuk mengisi acara di Tv, ya suting gitu. Rafi menunjukkan kebolehannya sebagai host yang handal begitu dengan Bily. Tema yang di angkat dalam acara Tv pun mulai jadi lebih menarik lagi sampai-sampai semuanya jadi heboh banget karena di obrolin Bily dan Rafi beserta bintang tamu.

Waktu pun berjalan sesuai dengan rencananya, ya suting acara Tv pun selesai juga. Bily dan Rafi kembali duduk santai di ruangan. Karena Rafi masih ada urusan, ya sibuk dengan Slavina, biasalah ngobrol panjang dengan penuh keasikan. Bily pun kembali asik nonton Tv on line di Hpnya untuk memeriksa hasil dari suting hari ini.

"Hasilnya bagus. Tema yang angkat juga menarik," kata Bily.

Bily pun menghentikan nonton Tvnya di Hpnya, karena teringat urusan penting di rumah. Saat berpapasan dengan Rafi, ya Bily berkata "Rafi...balik pulang!"

"Iya, hati-hati di jalan!" kata Rafi.

Bily pun terus berjalan keluar gedung. Rafi dan Slavina mengakhiri pembicaraan keduanya, ya suting acara Tv dengan acara di bawakan keduanya. Bily pun masuk mobilnya dan segera di bawa dengan baik. Memang sih keadaan kota Jakarta, padat merayap gitu. Tetap saja Bily santai bawa mobilnya dan sampai juga di rumah.

Bily pun biasa di rumah memperhatikan Ibu tercinta karena itulah yang paling penting buat diri Bily, ya setelah urusan kerjaan suting di Tv. Sampai akhirnya duduk di sendirian di kamarnya, ya main PS 4 untuk menghabiskan waktunya di rumah dengan penuh kebahagian.

Thursday, February 27, 2020

JALAN KEHIDUPAN

Kadir sedang asik duduk di pinggir pantai sambil memandang langit. Doyok, ya mendekati Kadir yang sedang asik duduk gitu.

"Kadir," kata Doyok.

"Kamu, Doyok," saut Kadir.

Doyok pun menikmati pemandangan pantai yang indah bersama Kadir.

"Diseberang lautan ada apa ya, Yok?" tanya Kadir.

"Pulaulah," jawab Doyok.

"Pulau, berarti sebuah negara atau kerajaan...ya di pulau seberang...ya, Yok," kata Kadir.

"Iya, kali," saut Doyok.

"Kalau...kita tinggal di pulau seberang sana hidup kita lebih baik dari pada hidup di sini," kata Kadir.

"Mungkin juga. Tapi, banyak kabar di seberang sana banyak peraturannya. Nama juga negara lain," kata Doyok.

"Banyak...peraturan ini dan itu. Wah hidup nambah sulitlah...gak bebas seperti burung terbang," kata Kadir.

"Nama..juga hidup di zaman sekarang. Banyak peraturan yang mengatur manusia, agar aman dan disiplin," kata Doyok.

"Kayanya lebih baik zaman dulu, ya. Kalau kita pergi ke seberang sana dengan kapal, ya memang sih lama. Ketika sampai di sana kita cuma beradaptasi dengan lingkungan sudah jadi warga di pulau tersebut. Kalau sekarang sih mustahil. Karena peraturan ini dan itu.....jadinya ribet," kata Kadir.

"Omongan kamu, Kadir ada benernya...lebih baik...hidup di zaman dulu dari pada zaman sekarang banyak peraturan. Ya...banyak penyakit yang berkembang di pulau ini dan itu, itu semuakan karena faktor banyaknya populasi manusia," kata Doyok.

"Iya..juga, ya banyak penyakit yang berkembang. Padahal banyak orang meninggal....kan karena kerusakan sistem tubuh akibat apa yang di minum dan makan sampai apa yang ia kerjakan?!" kata Kadir.

"Takdir manusia itu yang lahir, hanya manusia itu sendiri yang menentukan," kata Doyok.

"Bener juga omongan kamu, Doyok. Sudahlah...nyantai di sini, pulang yuk!" kata Kadir.

"Ayok!!!" saut Doyok.

Kadir dan Doyok pun bangun dari duduknya di pasir putih. Berjalan keduanya, ya menuju rumah. 

"Yok, ngelaut gak hari ini?" tanya Kadir.

"Enggaklah. Aku ada kerjaan. Biasalah....pacaran dengan Iyem," kata Doyok.

"Oh...begitu," saut Kadir.

Kadir dan Doyok, ya sampai di rumah. Doyok segera berbenah diri untuk pergi ke rumah Iyem. Kadir sibuk mengerjakan memperbaiki jaring ikan yang rusak. 

"Kadir, aku pergi...kencan dulu," kata Doyok.

"Iya," saut Kadir.

Doyok dengan santai berjalan menuju rumah Iyem, untuk pacaran gitu. Kadir, ya tetap sibuk membenarkan jaring ikan.

"Enak juga, ya hidup...jadi orang kaya," celoteh Kadir.

Kadir tetap serius memperbaiki jaring ikan, ya sampai selesai. Hari terlihat, ya sore gitu. Kadir pun ingin pergi memancing. Doyok pulang dari urusannya pacaran dengan Iyem.

"Kadir..mau kemana?" tanya Doyok.

"Mau...mancing. Suntuk di rumah," kata Kadir.

"Gak..usah mancing, lebih baik ikut aku...nonton acara dangdutan di kampung sebelah," kata Doyok.

"Dangdutan di kampung sebelah, jauh itu mah...Yok. Pake apa kita ke sana?" kata Kadir.

"Nebeng truk, yang lewat kesana," kata Doyok.

"Ok, boleh juga," saut Kadir.

Kadir dan Doyok, ya berangkat menuju kampung sebelah untuk nonton dangdutan. Ya apa di omongin Doyok bener, jadi nebeng truk yang lewat daerah sini menuju kampung sebelah. Selang berapa saat sampai juga di tempat untuk nonton dangdutan.

Doyok dan Kadir, ya menonton di antara penonton yang menonton gitu. Biduan yang menyanyi panggung sih, penyanyi kampung yang sudah terkenal gitu....Elvi dan Dorce. Semua orang terbawa suasana lagu-lagu yang bagus di nyanyikan biduan.

"Bagus...ya Doyok...acara dangdutannya," kata Kadir.

"Iya," saut Doyok.

Doyok dan Kadir, ya terus menonton dangdutan sampai larut malam banget. Usai sih acara dandutannya. Doyok dan Kadir ingin pulang, karena gak ada kendaraan menuju arah pulang ke rumah, ya terpaksa numpang tidur di rumahnya Tile, ya teman Doyok dan Kadir.

Tile, ya mempersilakan Doyok dan Kadir untuk menginap satu hari di rumahnya.

"Doyok perlu gak kita lapor RT, kalau kita tinggal di rumah Tile," kata Kadir.

"Sebenarnya peraturan sih, ya harus lapor RT gitu, kalau warga yang asing tinggal di salah satu warga di sini. Tapi biarin...lah, cuma tegoran. Ngantuk gak usah di bahas lagi," kata Doyok.

"Iya," saut Kadir.

Kadir dan Doyok pun segera tidur dengan tenang. Esok paginya. Ya Doyok dan Kadir pamitan gitu sama Tile untuk pulang ke rumahnya. Saat Doyok dan Kadir lewat rumahnya RT, ya ada orangnya sih. Pak RT menunjukkan sikap tidak suka sama Doyok dan Kadir, ya gak dianggaplah sama Doyok dan Kadir...jadi terus berjalan keluar dari kampung tersebut, ya nyari tebengan mobil yang menuju rumah sih. Doyok dan Kadir naik mobil truk lagi menuju rumahnya. Selang berapa saat, ya sampai di daerah rumahnya. 

Doyok dan Kadir, ya berjalan menuju rumahnya. Sampai di rumah.

"Doyok, ngelaut gak hari ini?" tanya Kadir.

"Iya, nanti sore aja. Capek. Mau istirahat," kata Doyok.

"Oh...gitu," saut Kadir.

Doyok pun tidur di kamarnya. Sedangkan Kadir, ya sibuk membereskan rumah.

"Enaknya jadi orang kaya, Ah cuma harapan saja...kenyataan hidup tetap miskin. Sebenarnya, ya gak miskinlah. Makan minum cukup dan tempat tinggal juga aman, ya tidak takut di usir pemilik tanah...kaya orang-orang tinggal di kota. Oh..iya, cuma miskin keadaan....saja," celoteh Kadir.

Kadir pun terus mengerjakan ini dan itu, ya sampai waktu pun telah sore. Doyok pun sudah siap untuk ngelaut, ya begitu juga dengan Kadir. Keduanya pergi kelaut denga sanpan tradisional tidak pake motor, karena mesin motor lagi rusak..jadi pake dayung dan layar yang di tiup angin laut. Doyok dan Kadir berada di tengah lautan. Keduanya bekerja sama untuk menjaring ikan. Sampai akhirnya sampan penuh ikan, ya Doyok dan Kadir segera mendayung sampan sampai ke pantai.

"Hari..ini kita dapet ikan banyak," kata Doyok.

"Iya, keberuntungan hari ini," kata Kadir.

Kadir dan Doyok pun membawa ikan ke rumah, ya segera di olah jadi ikan asin. Baru ikan asin jadi di jual gitu. Kadir pun berhasil memperbaiki mesin motor, ya jadinya kalau melaut gak capek-capek mendayung lagi. Hasil penjualan ikan asin, ya lumayan. Doyok membagi uang hasil penjualan ikan asin ke Kadir dengan sama rata.

"Aku...kaya. Berkat usaha aku," kata Kadir.

"Iya, kita kaya Kadir. Kalau kemarin kita miskin, ya ada masalah ini dan itu. Dengan sabar kita berusaha menghadapi ujian, ya pada akhirnya kaya lagi," kata Doyok.

"Hidup.....roda berputar. Hari ini kaya, esok miskin. Hari ini miskin esok kaya. Siklus kehidupan. Harus di jalanin dengan penuh tanggungjawab," kata Kadir.

"Benar omongan kamu Kadir," saut Doyok.

Doyok dan Kadir terus bekerja sama dengan baik memenuhi hidup mereka berdua hanya sebagai nelayan saja.

ATENG SI PENDEKAR KATEK

Siang hari yang tenang, Ateng sedang asik tiduran di bawah pohon yang rindang. Udara bertiup sepoy-sepoy membuat keadaan jadi sejuk banget. Buah jambu kelutuk yang matang berwarna kuning, jatuh karena di tiup udara cukup kencang sih.

Jambu kelutuk yang membentur tanah bersuara "Plukk", Ateng bangun dari tidur-tidurannya. Segera Ateng mencari buah kelutuk itu. Di cari-cari, ya ketemu jambu kelutuk yang masak, segera Ateng mengambilnya dan menghusap-usap dibajunya, di makan.

"Manis buah jambu ini," kata Ateng.

Ateng pun segera menghabiskan buah jambu kelutuk. Lalu melihat pohon jambu kelutuk dengan seksama.

"Wah banyak buah yang masak," kata Ateng.

Ateng yang betubuh kecil alias kate karena memang kodar dirinya, ya di terima dengan baik sih oleh Ateng. Segera Ateng melompat dengan teknik silatnya untuk mengambil buah jambu kelutuk yang mateng berwarna kuning.

Ateng yang dapet banyak buah jambu kelutuk yang mateng, ya meninggalkan tempat tersebut. Dengan santai Ateng berjalan, ya sambil makan buah kelutuk. Saat melewati aliran sungai, ada gadis yang di gangu oleh dua orang laki-laki. Ya Ateng mau menolong gadis tersebut, tapi keburu di tolong dengan seorang laki-laki tinggi. Ateng mengenal laki-laki tersebut berkata "Iskah".

Ateng ya duduk aja di bawah pohon pisang sambil makan jambu kelutuknya. Iskah, ya bertarung habis-habisan melawan dua penjahat gitu. Ya menang Iskah, karena mengerahkan ilmunya yang hebat sampe tuh dua penjahat tungganglanggang dari situ. Gadis yang di tolong Iskah, ya berterima kasih gitu. Iskah biasa aja, karena niat baik. Gadis itu pun pergi meninggalkan Iskah. Ateng pun menghampiri Iskah.

"Iskah...jambu," kata Ateng.

"Engak Ateng. Ateng.....ngapain di sini?" kata Iskah.

"Lihat...Iskah bertarung tadi, Seru banget...Iskah mengalah...dua penjahat tengil," kata Ateng.

"Kenapa kamu tidak bantu aku?" kata Iskah.

"Iskah...hebat...bisa ngalahkan dua penjahat itu, ya jadi gak usah di tolong," kata Ateng.

"Iya...benar juga sih. Aku hebat mengalahkan dua penjahat tengil," kata Iskah.

"Ayo kita pulang ke padepokan!" kata Ateng.

"Ayo!!!" saut Iskah.

Ateng dan Iskah pun berjalan menuju padepokan dengan santai keduanya. Sampai di padepokan ternyata padepokan hancur gitu. Ateng dan Iskah menolong teman-temannya seperguruan yang tergeletak di tanah semuanya. Ada temannya Ateng dan Iskah, ya sekarat gitu....jadi tanya siapa yang menyerang padepokan.

Sebelum meninggal temannya Ateng dan Iskah terucap satu kata "Darto". 

"Darto. Mengkhianatin...perguruan ini," kata Ateng.

"Tuh...orang harus bayar semua kejahatannya pada perguruan," kata Iskah.

Ateng dan Iskah, membereskan mayat teman-temannya untuk di makam baik-baik. Esok harinya. Ateng dan Iskah, ya meninggalkan padepokan untuk mencari Darto. Dari satu desa ke desa, Ateng dan Iskah mencari Darto dengan bertanya pada warga. Wal hasil tidak ada petunjuk. Sampai suatu ketika. Terjadi keributan di warung makan. Ada 6 orang mengkroyok satu orang, ya pemuda gitu jadi pertarungan yang tidak seimbang. Maka itu Ateng dan Iskah menolong pemuda tersebut karena terlihat baik dari perangainya, walau ya sedikit tingkahnya gila.

Pertarungan jadi sengit banget, pada akhirnya yang menang adalah Ateng, Iskah dan juga pemuda. Setelah para penjahat tungganglanggang dari situ, baru deh Ateng dan Iskah berkenalan dengan pemuda, ya sedikit gila.

Ternyata namanya Wiro Sableng. Ya Wiro pun tahu, nama orang yang menolongnya Ateng dan Iskah. Wiro pun ingin membantu Ateng dan Iskah untuk menemukan orang yang telah menghancurkan perguruan. Jadi kesepakatan terjadi. Ateng, Iskah dan Wiro...pun berjalan bersama untuk mencari Darto. Sambil bertanya dengan warga yang di temui, akhirnya di ketahuilah keberadaan Darto. Segeralah Ateng dan kawan-kawan bergegas ke sebuah kaki bukit, ya sebuah padepokan tempat berkumpul para penjahat. Di depan padepokan ada penjaga yang menghadang Ateng dan kawan-kawan untuk masuk ke dalam untuk menemui Darto. Apa boleh buat?! Ya Ateng dan kawan-kawan menghajar para penjaga padepokan dan akhirnya keluar semua orang-orang yang ada di dalam perguruan, ya termasuk Darto.

Pertarungan terus berlangsung sampai satu demi satu tumbang. Ateng pun akhirnya bertarung dengan Darto. Dengan sengitnya Ateng mengeluarkan jurus-jurus silatnya, ya sama dengan Darto. Ateng behasil mengalahkan Darto sampai tersungkur di tanah.

Ateng mau membunuh Darto dengan jurus silatnya untuk membales kematian teman-temannya.

"Ampun...Ateng," permohonan Darto.

Ateng menghentikan serangannya ke Darto.

"Aku...tidak berniat membunuh teman-teman, tapi aku adalah....guru di perguruan ini," kata Darto sambil menyerang Ateng.

Ateng terkena serangan Darto.

"Dasar pengkhianat," kata Ateng.

"Aku...ingin jadi pendekar terhebat di negeri, maka itu aku berpura-pura jadi murid di perguruan yang di bangun oleh Kakeknya Iskah. Dengan sabar aku menunggu waktu yang tepat untuk menghancurkan perguruan. Hal hasil aku berhasil," kata Darto yang sombong.

"Selama....ini..itu niat kamu," kata Ateng sambil menahan sakitnya.

Darto pun mulai menyerang Ateng. Tapi di tolong oleh Iskah dan Wiro. Ternyata Darto mengerahkan ilmu yang hebat banget sampai Iskah dan Wiro, kalah banget.

"Jadi...cuma segini, kemampuan kamu,..Iskah yang akan mewariskan perguruan yang telah aku hancurkan. Dan...siapa kamu, aku tidak kenal?" kata Darto.

"Sombong...benar!!!" kata Iskah.

"Emang sombong kamu itu. Kenalkan aku....Wiro Sableng," katanya. 

"Wiro...Sableng, pantes gila," kata Darto.

Wiro pun bangkit dari keadaannya, ya menyerang Darto dengan jurus-jurus andalannya. Darto bisa mengimbangi serangan Wiro. Sampai-sampai Wiro mengeluarkan pukulan matahari yang di lancarkan ke Darto, ya Darto pun mengeluarkan telapak kelabang beracun ke Wiro. 

Terjadi benturan yang hebat ketika kedua kekuatan itu berbenturan dan hasil Darto yang menang. Wiro memuntahkan darah. Iskah, ya...ingin menghajar Darto maka itu menyerangnya denga jurus-jurus hebat yang selama ini di sembunyikan Iskah. Darto mulai kewalahan menghadapi Iskah, maka itu Darto mengeluarkan tapak kelabang beracunnya. Ya Ishak pun mengeluarkan tapak bisa ular cobra. Benturan kekuatan keduanya sangat hebat banget. Darto meningkatka kekuatannya, ya Ishak juga. Tiba-tiba Darto terpental.

"Aku kalah....sama Ishak," kata Darto yang berusaha bangun dari keadaannya.

"Aku...membantu..Ishak..demi menghancurkan....kamu," kata Ateng.

"Ternyata...kamu, Ateng..menyalurkan tenaga dalem di belakangnya Ishak untuk meningkatkan serangan tenaga dalem Ishak. Kalau begitu...aku akan menghancurkan kalian bertiga," kata Darto.

"Siapa takut," jawab Ateng, Iskah dan juga Wiro.

Darto mengeluarkan sebuah kerisnya.

"Waduh...keris pusaka...mau di pake Darto," kata Iskah.

"Kacau..ini..mah," kata Ateng.

"Aku, yang menghadapinya pake...kapak maut nagageni 212," kata Wiro.

Wiro pun mulai mengerahkan tenaga dalemnya untuk melancarkan jurus pamungkasnya. Kapak pun di lempar ke Darto, ya Darto pun mengeluarkan tenaga dalam yang hebat sambil melempar kerisnya.

Benturan kekuatan kedua senjata pusaka sangat dasyat banget banget. Darto mengerahkan semua tenaga dalemnya untuk mengalahkan Wiro. Ya Wiro pun mengerahkan seluruh tenaga dalem dengan semangat yang berapi-api dan akhirnya mengalahkan Darto dengan kapak maut nagageni 212 tertancap di kepalanya Darto. Sedangkan keris pun jatuh ke tanah.

"Aku...kalah," kata terakhir Darto.

Darto pun meninggal dunia, ya kapak di cabut Wiro dan di simpan.

"Kita bales dendam ini benar gak sih?" tanya Ateng.

"Sebenarnya...bales dendam sih salah, ya....tapi kalau para penjahat tidak di berantas maka makin merajalela kejahatan di mana-mana," kata Iskah.

"Oh..begitu," saut Ateng.

"Sudah...mengalahkan banyak orang dan sampai terjadi pembunuhan masih bertanya kaya anak kecil," kata Ateng.

"Aku...memang anak kecil," saut Ateng.

"Ateng-Ateng...tubuh..mu kecil, kaya anak kecil. Tapi pikiran kamu..itu dewasa," kata Iskah.

"Cuma...becanda," kata Ateng.

"Becanda, orang katek bisa becanda juga," kata Wiro sambil tertawa.

"Ayo..kita tinggalkan tempat sini!" kata Iskah.

"Ayo," jawab Ateng dan Wiro bersamaan.

Iskah, Ateng dan Wiro meninggalkan tempat tersebut, tapi sebelum pergi....ya Ateng mengambil keris pusaka yang curi Darto. Saat di desa, ya Wiro bepisah dengan Ateng dan Iskah karena harus mencari tujuan yang lain. Iskah dan Ateng terus melanjutkan perjalanannya sampai ke padepokan dan di akhir cerita.....padepokan pun di bangun lagi oleh Iskah sebagai guru besar di perguruan. Ya Ateng jadi wakilnya Iskah untuk mengajar murid-murid yang belajar silat.

Wednesday, February 26, 2020

MEMBANTU TEMAN

Doyok sedang asik duduk di pinggir warung di pinggir jalan, ya tutup sih. Otoy, ya nemenin Doyok gitu.

"Ngapain kita di sini Doyok?" kata Otoy.

"Lihat....rumah di sana ada cewek cantiknya," kata Doyok.

"Mana-mana," saut Otoy.

"Disana!" kata Doyok sambil menunjuk rumah yang ada cewek cantiknya.

Otoy melihat dengan seksama, ya ternyata ada cewek cantik gitu.

"Iya...cantik ceweknya, anak orang kaya," kata Otoy.

"Memang anak orang kaya. Ya....ada pacarnya dateng ke rumah itu. Gak seru," kata Doyok.

"Iya, ada pacarnya. Gak seru," saut Otoy.

Ali Oncom menghentikan laju motornya, ya berhenti tepat di depan Otoy dan Doyok yang sedang asik duduk melihat lingkungan sekitar.

"Doyok, Otoy...lagi ngapain di sini beduan. Kaya orang pacaran," kata Ali Oncom.

"Lagi...asik lihat cewek cantik di rumah itu," kata Doyok sambil tangannya menunjuk ke arah rumah ada cewek cantiknya.

Ali Oncom melihat cewek cantik di yang di tunjunkan Doyok.

"Waw...cantik banget, bahenol," kata Ali Oncom.

Ali Oncom, ya biasa bertindak ingin godain cewek cantik tersebut. Otoy dan Doyok menghalangi Ali Oncom.

"Ali...jangan kesana. Ada pacarnya. Jangan cari perkara," saran Doyok.

"Benar...omongan Doyok. Jangan cari perkara," kata Otoy.

Ali Oncom melihat dengan seksama lagi, ya ternyata ada pacarnya.

"Andai saja gak ada pacarnya. Aku...mulai deh pendekatannya," kata Ali Oncom.

"Bukan...kamu..aja Ali yang mau sama cewek cantik itu. Aku juga," kata Otoy.

"Bagaimana dengan kamu....Doyok?" tanya Ali Oncom.

"Ya...ingin mendapatkan cewek cantik itulah," kata Doyok.

"Udahlah..jangan bahas cewek cantik itu. Lebih baik kita bahas kerjaan," kata Otoy.

"Kerja...apa ya?" kata Doyok.

"Kalau...aku sih modal motor...aku, ya sudah kerja jadi tukang ojek pangkalan atau...yang tren sekarang ojek on line," kata Ali Oncom.

"Enak..juga, Ali punya motor bisa ngojek. Aku....gak punya apa-apa?" kata Doyok.

"Aku...sih, ya bisalah jadi nyopir angkot..gitu di tempat Pak Teguh. Walau, hasilnya pas-pasan," kata Otoy.

"Kalian...berdua udah dapet kerjaan. Gimana...dengan aku," kata Doyok.

"Saran...aku ya, Doyok. Lebih baik jadi pengemis aja di pinggir jalan. Cepet dapet duit," kata Ali Oncom.

"Bener..itu saran Ali. Doyok, ngemis aja!" kata Otoy.

"Kalian..berdua kalau ngasih...saran yang bener donk. Malah di suruh jadi pengemis. Memang ia sih, kerjaannya pengemis berpura-pura demi dapet uang. Tapi...masalahnya peraturan sekarang ini pengemis dan gelandangan apa lagi tukang parkir liar, ya di tangkep sapol PP dan Polisi. Uang dapet gak seberapa, aku di penjara," kata Doyok.

"Kalau..Doyok..di penjara. Repot juga," saut Otoy.

"Iya..juga, kalau Doyok di penjara...repot juga. Ah..solusi yang lain..untuk Doyok. Ya paling cuma dagang aja!" kata Ali Oncom.

"Dagang, saran yang bagus tuh," saut Otoy.

"Masalahnya..modal dagangnya?" kata Doyok dengan terus terang.

"Sebagai..teman aku bantu deh," kata Ali Oncom.

"Aku..bantu....juga...urunannya," kata Otoy.

"Masalahnya...lagi..dagangnya di mana?" tanya Doyok.

"Di depan rumah, kosan kamu!" kata Ali Oncom tegas.

"Depan rumah," saut Doyok.

"Bener...depan rumah!" kata Otoy.

"Ok, gak ada masalah," kata Doyok.

Obrolan ketiganya pun selesai dengan kesepakatan. Doyok dan Otoy, ya naik motor Ali Oncom. Segera Ali Oncom membawa motornya dengan baik ke rumah kos-kosannya Doyok. Sampai di rumah Doyok. Ali Oncom, Otoy dan Doyok mulai buat warung kecil-kecilan di depan rumah kos-kosan Doyok dengan modal ya minim banget.

Doyok pun bersemangat dagang gitu setiap hari. Satu minggu berlalu. Otoy dan Ali Oncom, ya main ke rumah kos-kosannya Doyok.

"Gimana jualan kamu Doyok?" tanya Ali Oncom.

"Lumayan...hasilnya. Pas...pasan segala-segalanya," kata Doyok.

"Berarti...ada hasil donk," kata Otoy.

"Iya," saut Doyok.

"Kalau...begitu urusan kita semua selesai donk, karena sudah punya pekerjaan tetap masing-masing," kata Ali Oncom.

"Yo,i," saut Doyok dan Otoy bersamaan.

Saat asik ngobrol. Ada..cewek cantik lewat rumah gitu, keluar dari mobil mewah. Doyok, Otoy dan Ali Oncom...asik memandangin cewek cantik tersebut. Eeee...keluar pacarnya dari mobil mewah tersebut, gendut dan gayanya kaya bos gitu.

"Wah..gak seru, cewek itu sudah punya pacar," kata Doyok.

"Iya..gak..seru, kalau udah punya pacar...cewek itu," saut Otoy.

"Memang gak seru. Tapi masalahnya tuh..cewek mau sama pacarnya yang gendut itu, ya," kata Ali Oncom.

"Biasa...cewek zaman..sekarang. Modal cantik dapetin...cowok tajir agar hidupnya gak susah," kata Doyok.

"Bener...itu apa yang di omongin Doyok," saut Otoy.

"Enak..jadi orang kaya, bisa dapet cewek cantik," kata Ali Oncom.

"Bener..omongan mu, Ali. Enak jadi orang kaya, bisa dapet cewek cantik," saut Otoy.

"Iya...enak jadi orang kaya, bisa dapet cewek cantik. Gak..seperti kita ini. Miskin dan juga jomlo," kata Doyok.

"Kita, loe kali...Doyok...yang jomlo. Kalau aku ada pacarlah," kata Ali Oncom.

"Kalau aku..sudah punya bini," saut Otoy.

"Maaf deh. Aku...yang jomlo sendirian. Sudahlah jangan di bahas lagi. Aku mau jualan!" kata Doyok.

"O...iya, aku ada orderan," kata Ali Oncom.

"Aku...juga..lagi target setoran hari ini," kata Otoy.

Otoy dan Ali Oncom, ya meninggalkan kos-kosan Doyok untuk mengerjakan pekerjaan yang di jalankan keduanya. Doyok, ya dengan sabar menunggu warga sekitar yang membeli di warungnya.

Tuesday, February 25, 2020

BAHAS KABAR BURUK DAN KABAR BAIK

Bagong sedang asik baca koran yang ia beli dari loker koran langganan, ya sambil menikmati kopi dan singkong rebus di teras rumah. Petruk yang selesai menyapu halaman depan rumah dan sudah memasukkan sampah yang di kemas di plastik dan di masukkan ke tong sampah. Petruk pun mencuci tangannya pake sabun dan di bilas dengan air daru keran, baru deh duduk bersama Bagong. Petruk, ya mengambil gelas kopi Bagong dan berkata "Bagi...kopinya Gong, haus!"

"Iya," saut Bagong asik baca koran.

Petruk, menghilangkan rasa hausnya dengan minum kopi dan juga rasa capeknya menyapu halaman depan dengan duduk santai. Bagong pun selesai juga baca koran dan menaruh koran di meja, ya Bagong segera makan singkong rebus.

Petruk, ya mengambil korannya yang di taruh di meja oleh Bagong. Dengan seksama Petruk membaca koran yang berita utamanya tentang banjir.

"Kabar buruk," celoteh Petruk.

Bagong, ya mendengar sih omongan Petruk tapi tidak di gubris karena asik makan singkong rebus dan minum kopi. Petruk pun terus membaca ke topik yang lain tentang sepak bola bahwa Indonesia menang dalam pertandingan sepak bola melawan Thailand.

"Kabar baik...dari dunia olahraga," celoteh Petruk.

Bagong, ya mendengar omongan Petruk sih tapi tidak di gubris lagi karena asik makan singkong rebus dan minum kopi. Petruk pun selesai baca koran dan di taruh koran di atas meja.

"Bagong...apa pendapat..kamu tentang berita banjir yang di beritakan koran?" tanya Petruk.

"Kabar buruk sih, ya sesuai omongan kamu.....Petruk. Ya kalau pendapat aku...sih. Kurangnya menjaga lingkungan saja. Dari hal sampah di buang sembarang tempat, ketika hujan...ya sampah tersebut menyumbat saluran air. Gorong-gorong yang tertutup, ya alasannya sih agar tidak mencium bau busuk dari gorong-gorong tersebut, tapi ketika hujan deras yang curah hujannya tinggi banget dan air yang harus di buang ke gorong-gorong ternyata saluran kecil untuk di lalui air yang volumenya besar...ya akhirnya tergenang semuanya.....alias banjir deh. Yang terakhir sih kebanyakan orang-orang tinggal di kawasan dekat aliran sungai, ketika volume air sungai naik kesana kesini tidak bisa tertampung di aliran sungai karena hujan yang lebat banget jadinya banjir deh," penjelasan Bagong.

"Kurangnya...menjaga lingkungan dan kurangnya memperhatikan saluran air....di buat lancar agar tidak menimbulkan banjir," kata Petruk.

"Manusia...itu yang berbuat, ya pasti manusia itu sendiri yang kena akibat dari apa yang di kerjakan?! Hukum sebab akibat," kata Bagong.

"Sebab akibat. Benar kamu...Bagong. Oh ya...Bagong apa pendapat..kamu tentang Indonesia menang dalam pertandingan sepak bola melawan Thailand?" kata Petruk.

"Kabar baik sih, ya sesuai dengan omongan kamu....Petruk. Pendapat aku sih....bagus sih, itu semua itu berkat usaha yang keras dari tim sepak bola Indonesia yang mati-matian...untuk mengalahkan Thailand demi jadi juara. Ya...mengharumkan nama Indonesia dalam pertandingan sepak bola," penjelasan Bagong.

"Bagus toh. Usaha...yang keras. Benar kamu.....Bagong," kata Petruk.

Gareng, ya baru pulang dari rumah Pak RT dan memarkirkan motornya di depan rumah. Gareng pun duduk bersama Bagong dan Petruk. Segera Gareng mengambil singkong rebus di piring, ya segera memakannya.

"Bagong....buang sampah sekarang, motornya udah dateng tuh!" perintah Petruk.

"Iya, kalau untuk menjaga lingkungan agar bersih...ya tidak boleh males...kan," kata Bagong.

"Benar...sekali," saut Petruk dan Gareng bersamaan.

Bagong pun segera mengambil sampah di dalam tong yang sudah di kemas dengan baik gitu dalam wadah plastik, ya segera di bawa ke penampungan sampah...ya cukup jauh maka itu pake motor. Bagong pun membawa motornya dengan baik sampai ke tempat penampungan sampah, ya segera sampah yang di bawa Bagong di taruh baik di penanpungan sampah. 

"Selesai...juga kerjaan hari ini," kata Bagong.

Bagong pun segera pulang dengan membawa motornya dengan baik. 

Sunday, February 23, 2020

EMAIL DARI TEMAN

Dono lagi asik duduk di ruang tamu, ya lagi baca email di leptopnya dari temannya dengan penuh keseriusan. Kasino, ya sedang duduk santai sambil baca buku. Indro nonton berita di ruang tengah, ya berkaitan dengan politik. Saat iklan, Indro meninggalkan tontonannya, ya duduk bersama Dono dan Kasinbo di ruang tamu.

"Don...apa tanggapan kamu tentang politik dinasti?" tanya Indro.

"Dinasti. Turun menurun. Istilah Bapak mewariskan keanaknya. Ya gak ada masalah sih. Kalau sanggup duduk di pemerintahan," kata Dono.

"Kalau menurut mu Kasino?" tanya Indro.

Kasino, ya menghentikan baca bukunya dan berkata "Ya...gak ada masalahlah, politik dinasti. Di persilakan aja. Biar perpolitikan di Indonesia jadi menarik dalam merebutkan kursi di jabatan di pemerintahan. Ya gak...Don!".

"Yo, i. Zaman now, yang terpenting pinter dan mampu berkuasa apalagi masih muda. Semangat masa mudanya lebih berapi-api dalam menjalankan roda pemerintahan," kata Dono.

"Iya, juga...ya. Tapi, bagaimana...orang sudah lama berkecimpung di politik....gak bisa naik karena di kalahkan generasi yang muda?" kata Indro.

"Itu sih. Gak ada masalah banget. Ya terpenting dalam politik mampu memanipulasi suara di masyarakat dengan cara baik, kadang cara yang menurut orang buruk...ya sebenarnya gak juga sih. Ya politik uang. Contohnya begini. Aku terjun politik. Punya anggaran dana yang cukup banyak sih, lalu aku membentuk organisasi kemasyarakatan seperti partai politik strukturnya, tapi generasi muda direkrut semua untuk aku jadi pemimpin di daerah, jadinya sih Independen...sih. Waktunya pemilu. Masa aku ya...aku kerahkan untuk memilih aku. Politik uangnya jadi bersih, tidak kotor...karena aku membangun organisasi muda mudi di masyarakatkan, mereka ada kerjaan. Bukan tujuan untuk aku jadi pemimpin saja tapi mengarahkan ke bidang-bidang aku akan bangun dengan kebijaksanaan aku. Bidang tersebut berjalan baik dan aku jadi pemimpin terpilih, ya tinggal penyesuaian aja. Aku tidak meninggalkan apa yang aku bangun, jadi semua generasi muda yang ikut aku....ya kerja semuanya," penjelasan Dono.

"Gimana...menurut kamu, Kasino...contoh yang di berikan Dono?" tanya Indro.

"Pemikiran, yang idialis untuk seorang pemimpin. Tapi memang benar sih cara itu lebih baik. Karena di lingkungan kita sendiri....ada pergerakan politik, ya di biayai oleh, ya mantan pejabat yang lalu....untuk menggeser pejabat yang sekarang. Ya haus kekuasaan gitu," kata Kasino.

"Berarti....tidak ada masalah toh. Ya terpenting pandai menyusun strategi toh untuk jadi pemenang di pemilu di daerah," kata Indro.

"Yo,i...," saut Dono dan Kasino bersamaan.

Dono, ya kembali fokus membaca email di leptopnya.Ya Kasino pun kembali baca bukunya. Indro pun ingin tahu apa yang di baca Dono di emailnya?. Saat Indro membaca baik-baik emailnya Dono, ya terkejut dan berkata "Politik semuanya Don!"

"Iya, kiriman dari teman. Aku meminta dari teman, untuk memberitahu aku pergerakan di daerah. Ya tujuannya aku tidak terjebak permainan politik di zaman now lagi, yang ambisius untuk duduk jadi pejabat di pemerintahan daerah sampai pusat," penjelasan Dono.

"Ada...bagusnya..Don. Jaga-jaga....agar tidak terjebak...oleh permainan politik yang buruk," saut Kasino, yang menghentikan baca bukunya.

"Ada...benar juga omongan Kasino. Kita ini generasi muda, yang tidak ingin terjun di politik. Tapi tahu bagaimana berpolitik yang baik ? Dan Juga tahu...juga mencari informasi yang baik dan benar di masyarakat yang sedang berpolitik," kata Indro.

"Tepat banget omongan...Indro," kata Kasino.

"Pinter....kamu..Indro," pujian Dono.

"Ya...sudahlah, gak usah dibahas lagi. Aku mau nonton Tv lagi!" kata Indro.

"Iya...sana!" saut Kasino.

"Iya," saut Dono.

Indro pun langsung pindah duduk bersama Dono dan Kasino di ruang tamu ke ruang tengah untuk nonton Tv, ya berita gitu. Kasino, ya asik baca buku lagi dan Dono, ya selesai baca email dari temannya segera nulis di Blognya dengan penuh keseriusan.

Saturday, February 22, 2020

SENI BUDAYA

Indro selesai juga memasak, ya segera membawa sepiring tahu goreng ke ruang tamu dan segera di taruh di meja. Dono lagi asik nonton Tv on line dari Hpnya. Indro, ya mendekati Dono untuk melihat apa yang di tonton Dono?.

"Sinden....," kata Indro.

"Iya," saut Dono.

"Tumben...nonton...perlombaan sinden!" kata Indro.

"Ya...nyari suasana aja yang menyenangkan....gitu," kata Dono.

"Oh...begitu," kata Indro.

Indro pun makan tahu goreng, ya Dono ikut juga makan tahu goreng dan menghentikan nonton Tv on line di Hpnya. Kasino baru selesai urusannya dengan Selfi, biasalah lari pagi keliling komplek sekalian pacaran gitu...gaya anak muda zaman now, sehat dan cinta. Sampai di depan rumah Kasino ya mengucap salam "Asalamualaikum".

"Waalaikumsalam," jawab Dono dan Indro bersamaan.

Kasino pun menaruh gelas es jus buah di dalam plastik ke meja.

"Don..., Indro...es jus buah!" kata Kasino.

"Es...jus buah," kata Indro yang antusias.

"Iya," kata Dono.

Indro dan Dono, ya mengambil es jus buah dari dalam plastik dan segera di minumnya.

"Segarnya," kata Indro.

"Iya, segar," kata Dono.

"Tahu...goreng," kata Kasino, ya sambil mengambil tahu goreng di piring dan segera memakannya.

"Kasino...gimana lari paginya dengan Selfi?" tanya Indro.

"Ya...asik-asik...aja gitu," kata Kasino.

"Oh...asik...toh," saut Indro.

Dono, asik lagi nonton Tv on line, ya acaranya perlombaan sinden.

"Don...nonton apa?" tanya Kasino.

"Sinden," jawab Dono.

"Oh...sinden. Tapi...kok...aneh hari ini Don, nonton acara sinden?" saut Kasino.

"Ya....suasana..hari..ini, aku memilih...nonton acara sinden. Tujuannya....memahami seni budaya saja," penjelasan Dono.

"Oh...begitu toh," saut Kasino.

Kasino pun minum es jus buahnya.

"Kasino, mau pendapat...kamu tentang cewek?" kata Indro.

"Pendapat aku tentang cewek, apa itu?" kata Kasino.

"Kalau cewek jomblo....lebih menunjukkan dirinya gitu. Maksudnya gerak geriknya, agar di terima sama cowok yang di sukai cewek jomlo?" kata Indro.

"Ya....memang iyalah. Dari pola cewek itu bicara ke cowok, menatap ke cowok, espresi...wajahnya dan paling utama sih mulai deh...lebih agresif gitu...mau nempel sama cowok, ya dengan alasan gak sengaja atau sengaja alias modus," penjelasan Kasino.

"Bener...omongan....Kasino. Modus...nya cewek agar bisa jadi sama cowok yang di sukai," saut Dono yang tegas, ya sambil nonton Tv on line di Hp.

"Kalau...itu bener..cewek yang di temui aku kemarin, ya ada gejalanya...sama yang di omongin Kasino. Wah modus. Untung saja...aku tipe setia sama pacar, jadi tidak masuk perangkap cewek tersebut. Tapi ada teman aku, yang memanfaatkan keadaan itu. Ya jadinya selingkuh," kata Indro.

"Kalau selingkuh sih gak usah di omongin. Yang pacar bisa selingkuh apalagi yang sudah menikah," kata Kasino yang tegas.

"Ya...udah gak perlu di bahas lagi, lebih baik aku main PS 4," kata Indro.

Indro, ya beranjak dari duduknya bersama Dono, ya ke ruang tengah untuk main PS 4. Kasino pun beranjak juga dari duduk bersama Dono di ruang tamu, ke kebelakang untuk berbenah diri, baru setelah itu main PS 4 bersama Indro. Dono tetap serius mempelajari tontonan yang ia tonton di Hpnya, ya tentang perlombaan sinden.

"Bagus......musik yang mengirinya dan juga olah vokalnya peserta sinden," celoteh Dono.

Dono pun menonton perlombaan sinden, ya sampai selesai baru setelah itu nonton wayang kulit, ya tetap nonton di Tv on line di Hpnya. Dono terus santai di rumah di hari minggu yang tenang banget-banget.

Friday, February 21, 2020

BISA DI BILANG SIH!!!

Dono santai duduk di halaman belakang sambil baca buku tentang kerajaan masa lalu. Kasino asik, main game PS 4  sendirian di ruang tengah. Indro selesai masak di dapur, ya segera duduk bersama Dono di halaman belakang sambil membawa bakwan goreng yang masih anget.

"Makan...Don!" kata Indro sambil menaruh piring yang berisi bakwan goreng di meja.

"Iya," kata Dono.

Dono pun menaruh bukunya di meja dan mengambil bakwan goreng, ya segera di makan. Indro mengambil buku yang di baca Dono, ya dari atas meja. Dengan seksama Indro membaca buku tentang kerajaan. Dono, ya menikmati bakwan goreng.

"Enak, Indro....bakwan goreng buatan kamu.," pujian Dono.

"Iya, terima kasih Don," saut Indro yang masih asik baca buku tentang kerajaan.

Dono mulai seret makan bakwan goreng, ya segera berlari menuju kulkas berada. Ya segera Dono mengambil minuman teh botol di dalam kulkas dan meminumnya. 

"Segernya," kata Dono.

Dono pun kembali ke halaman belakang, ya dengan membawa teh botol...dua gitu. Saat Indro haus, ya Dono memberikan satu botol yang di bawanya. Indro segera meminum teh botol tersebut.

"Seger," kata Indro.

Dono, ya menaruh botol minumnya di meja dan segera mengambil bakwan goreng di piring. Saat Dono mau memakan bakwan goreng. Kucing kesayangan Indro, ya dateng mendekati Dono. Tanpa pikir panjang sih, Dono memotong bakwan goreng jadi dua dan segera di berikan ke Kucing. 

"Bagi-bagi...makan," kata Dono.

Kucing yang makan bakwan goreng di lantai dengan serius banget, nama juga binatang.

"Don," kata Indro.

Dono yang asik makan bakwan goreng, ya saut "Apa?".

"Berita...tentang kerajaan masih ada apa tidak?" tanya Indro.

"Gak...ada lagi, karena berita tentang kerajaannya...sudah habis untuk di bahas. Kalau....sinetronnya masih...ada. Sinetron Kembalinya Raden Kian Santang," kata Dono.

"Apa pendapat mu dengan Sinetron Kembalinya Raden Kian Santang?" tanya Indro.

"Bagus...aja sih," jawab Dono.

"Bagus toh. Oh...iya Don. Agama..bisa di bilang kerajaan Tuhan?" kata Indro.

"Ya...benar sih. Agama bisa di bilang kerajaan Tuhan. Maka itu banyak Agama yang berkembang di Indonesia ini....terus menggalakkan dakwahnya untuk menunjukkan kebenaran Agama masing-masing. Tetap...aja ada benturan dari beda Agama. Maka itu Agama di Indonesia di atur dalam Undang-Undang....agar tidak terjadi benturan....pemahaman. Kalau, jadi benturan pemahaman yang kacau, maka akan tersulutlah api peperangan. Jadilah perang Agama atau juga di sebut perang Kerajaan Ketuhanan dengan bawa bendera masing-masing sesuai Agama yang dianut," penjelasan Dono.

"Wah...kacau. Kalau sampai perang Agama. Jadinya neraka kehidupan," kata Indro.

"Maka..itu pentingnya pertahanan di dalam negeri di kuatkan. Ya militerlah...yang bergerak untuk menentramkan semua itu. Tujuannya...jangan sampai terjadi perang di dalam negeri," kata Dono.

"Bener....kamu, Don. Militer harus kuat berdasarkan komando dari pemimpin yang memegang kemiliteran...agar menjaga stabilitas keamanan di dalam mau pun dari luar. Bisa...aja. Pemahaman...dari luar atau asing, bisa aja pemicu...peperangan di dalam negeri..ya kan Don?" kata Indro.

"Ya...bisalah. Karena paling di khawatirkan itu. Pemahaman dari luar tersebut, ya ngomporin agar terjadi perang di dalam negeri. Maka itu pentingnya disini.....saling menghormati Agama, Suku dan lain sebagainya....agar tidak memicu....peperangan. Hidup jadi...damai deh," kata Dono.

"Kalau...tenangkan. Bisa santai baca buku, ya sambil makan bakwan goreng," kata Indro.

"Benar seratus persen," kata Dono.

Indro pun kembali membaca buku, ya tentang kerajaan. Dono asik makan bakwan goreng dan juga baca buku lain, ya komik. Kasino, tetap asik main game PS 4 di ruang tengah.

CAMPUR ADUK

JAB PYAAR KISISE HOTA HAI

Malam hari. Setelah nonton Tv yang acara menarik dan bagus....DA8 di chenel INDOSIAR, ya seperti biasa sih Budi dengan santai di depan rumah...

CAMPUR ADUK