CAMPUR ADUK

Thursday, December 20, 2018

BUNG HATTA WAKIL PRESIDEN R.I. PERTAMA PEMBACA DAN PENULIS YANG TEKUN

1.SEMANGAT BELAJAR SEORANG ANAK DESA

Murid yang Pandai

Tidak dapat diduga lebih dulu kalau dari kota Bukit tinggi, Sumatera Barat akan lahir seorang anak laki-laki yang kemudian akan dikenal sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia yang pertama. Anak laki-laki ini adalah Mohammad Hatta. Ia lahir di Bukittinggi tanggal 12 Agustus 1902. Ayahnya bernama Haji Muhammad Djamil yang meninggal di usia muda, 30 tahun. Kala itu usia Hatta baru delapan bulan. Hatta kemudian dibesarkan oleh ibunya bernama Siti Saleha. Ibunya pula yang meneruskan usaha ayahnya untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka sehari-hari.

Di daerah Bung Hatta umumnya orang-orang berdagang sebagai mata pencariaannya. Dan masyarakat di situ juga sangat rajin mengikuti pengajian-pengajian. Tak salah kalau di tempat itu banyak surau berdiri, tempat mendalami ilmu agama. Bahkan kakek Bung Hatta yang bernama Syaikh Abdurrahman mempunyai banyak santri yang datang dari segala penjuru tanah air, bahkan santrinya ada yang dari Semenanjung Malaya. Kakek Bung Hatta ini mendapat sebutan Syaikh nan Tuo.

Setelah ayahnya meninggal, ibu Bung Hatta menikah lagi dengan seorang pedagang yang berasal dari Palembang. Haji Ning namanya. Sejak kecil Hatta terlihat sangat akrab dengan ayahnya tirinya itu. Ia belum tahu kalau Haji Ning bukan ayah kandungnya. Ia baru mengetahui setelah usianya 10 tahun. Sekalipun ia baru tahu setelah cukup besar tetapi hubungan mereka tetap akrab.

Suatu hari paman dari ayah Bung Hatta, Syaikh Arsyad seorang ulama di Batu Hampar berpesan kepadanya agar ia tidak boleh menjadi anak penakut. Ia tidak boleh merasa terpencil sekalipun berada di tempat yang jauh dan sunyi. Sebab Allah akan selalu menyertainya. Pesan ini seperti tanda akan hari-hari yang akan dijalaninya kelak. Dan memang pesan ini merasuk dalam hatinya. Dalam hidupnya Bung Hatta taat dalam menjalankan ibadah. Ia tidak terpengaruh oleh keadaan di sekitarnya bahkan ketika suatu hari ia harus menempuh pendidikannya di luar negeri.

Masuk Sekolah

Waktu pertama masuk sekolah dasar, Hatta sempat masuk Sekolah Rakyat Bukittinggi sebelum kemudian pindah ke sekolah ELS (Europese Lagere School). Sekolah dasar ini untuk anak-anak orang kulit putih. Hatta bersekolah di Bukittinggi sampai kelas 4. Naik ke kelas 5 sampai kelas 7 ia meneruskannya di Padang. Semasa ia sekolah di Bukittinggi ia telah belajar bahasa Inggris, Di ELS Padang ia belajar bahasa Perancis. Sekolah di ELS ini diselesaikan Hatta pada tahun 1917.

Hatta memang anak pandai. Oleh sebab itu selesai dari ELS di Padang ia berniat melanjutkan sekolahnya di HBS (Hogere Burger School) di Jakarta. HBS adalah sekolah menengah Belanda yang harus ditempuh selama 5 tahun. Sayangnya ibunya melarangnya. Hatta dianggap masih anak-anak. Usianya ketika itu masih sekitar 14 tahun. Ibunya katakan, anak seusia Hatta belum bisa berpisah dengan orang tua.

Sebagai anak yang baik Hatta menuruti keinginan orang tuanya. Pada tahun 1917 ia pun masuk MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs)  -setingkat sekolah menengah pertama0. Pada tahun 1919 Hatta menyelesaikan pendidikannya di MULO dengan baik.Ketika masuk di MULO Hatta sudah tertarik dengan kegiatan berorganisasi. Ia memilih masuk JBS (Jong Sumatranen Bon- Perkumpulan Pemuda Sumatera). Pada awalnya ia mendapat kepercayaan jadi bendahara. Kemudian tak seberapa lama menjadi sekretaris merangkap bendahara cabang Padang.

Dalam hal pendidikan Hatta betul-betul perhatian. Sewaktu di Padang dan Bukittinggi Hatta selain bersekolah, sorenya ia mengaji. Bahkan di Bukittinggi Hatta telah mempelajari bahasa Arab (nahwu dan sharaf), sebuah pelajaran dasar untuk mempermudah mempelajari figh dan tafsir.

Sekalipun masih disebut remaja, selam di Padang Hatta sudah tahu memperluas pergaulannya. Ia bergaul dengan para tokoh Serikat Usaha. Di kantor serikat Usaha Hatta dapat membaca surat kabar-surat kabar, baik itu terbitan Jakarta ataupun Padang sendiri. Di surat kabar Utusan Hindia Hatta mengenal tulisan HOS Tjokroaminoto, di Neratja ia mengenal nama Haji Agus Salim.

Sekolah ke Jakarta

Setelah menamatkan pendidikannya di MULO, Hatta akhirnya diizinkan melanjutkan sekolahnya di PHS (Prins Hendrik Handels School - Sekolah Dagang Prins Hendrik) di Jakarta. Menurut Bung Hatta, sekolah ini menumbuhkan sifat dan cara yang cepat, tepat, dan teratur dalam hal belajar. Selama di PHS Hatta belajar dengan sungguh-sungguh, sebab di sekolahnya guru memberi pelajaran yang bukan sekedar hafalan, tetapi mengembangkan daya pikir.

Seperti waktu di Padang, Hatta yang suka  bergaul dan berorganisasi kemudian berkenalan dengan para tokoh pergerakan terkemuka dari Sumatera, seperti Lam-djumin Datuk Tumenggung, seorang wedana yang bekerja di Kantoor voor Indlandsche Zaken - Ksntor Urusan Bumiputera, juga berkenalan dengan Abdoel Moeis dan Haji Agus Salim serta Sultan Muhammad Zain, seorang ketua Persatuan Guru Hindia Belanda. Orang-orang terkenal ini dikenalnya di Jakarta.

Hobi lain dari Hatta adalah membaca. Ia banyak membaca buku, koran, dan majalah. Dari apa yang dibacanya ditambah lagi dengan melihat nasib sesamanya yang sangat menderita akibat penjajahan, maka di hatinya mulai timbul cita-cita nasional, yakni sebuah kemerdekaan bagi bangsanya. Hal ini sering Hatta berbicara dengan Bahder Djohan, teman akrabnya semasih di Padang, Bukittinggi, dan Jakarta jika mereka berdua berjalan-jalan Sabtu petang.

Di Jakarta Bung Hatta tinggal di Kampung Lima Tanah Abang. Di situ Hatta bergaul dengan siapa saja. Termasuk dengan Loyok yang bekerja pada Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM), sebuah perusahaan pelayaran Belanda. Hatta dengan Loyok juga sering bertukar pendapat dan pengalaman tentang nasib bangsanya yang terjajah dan tertindas.

Dasar kepandaian Hatta tetap terlihat semasa ia sekolah di PHS. Ia menyelesaikan sekolahnya tepat waktu dan menempati urutan ketiga. Dan Hatta tidak mau berhenti belajar. Ia berkeinginan melanjutkan pendidikannya ke negeri Belanda. Atas bantuan dana dari Serikat Islam di Padang dan dapat beasiswa dari pihak Belanda, akhirnya Hatta bisa berangkat ke Belanda.

Di Negeri Belanda

Bung Hatta meninggalkan Indonesia untuk belajar di Belanda pada tahun 1921. Tetapi sebelum ia berangkat sempat timbul perbedaan pendapat dalam keluarganya. Hatta merupakan keturunan ulama dari ayahnya. Sedangkan dari pihak ibunya ia keturunan pengusaha. Kedua keluarga ini berbeda keinginan tentang masa depan Hatta. Pihak keluarga ayahnya menghendaki agar Bung Hatta melanjutkan pendidikannya ke Mekkah atau ke Mesir, dengan tujuannya mendalami Islam. Sedangkan pihak ibunya menginginkan agar Bung Hatta melanjutkan pelajarannya di sekolah umum. Namun akhirnya pihak ibunya yang menang. Pihak ibunya beralasan, Hatta tepat melanjutkan sekolahnya ke Belanda karena pendidikan terakhirnya di PHS (Prins Hendrik Handels School).

Akhirnya Bung Hatta menginjakkan kakinya di Belanda bulan September 1921. Di sanalah ia melihat dan merasakan perbedaan yang cukup jauh antara Negeri Belanda dengan Minangkabau dan Jakarta.

Di Belanda Bung Hatta meihat hak rakyat sangat diakui dan ditegakkan dengan benar. Keadilan sangat dijunjungi tinggi. Sungguh jauh berbeda dengan keadaan di Tanah Airnya. Di tanah air ia melihat pekerjaan tanam paksa, pajak yang tinggi, rodi, tidak adanya hak-hak rakyat. Kemerdekaan berbicara pun tidak ada sama sekali.

Perbedaan memang ia lihat di negara tempat belajarnya itu, tetapi Hatta tidak pernah merasakan rendah diri dalam bergaul dengan anak-anak kulit putih. Ia berpendapat, bahwa dirinya setaraf dengan anak-anak Belanda itu. Bahkan dirinya tidak perlu kalah dalam hal apa pun dengan mereka. Ia sama sekali tidak merasa sebagai seorang anak jajahan.

Kegiatannya berorganisasi di Indonesia, kembali diteruskannya di Belanda. Di sana Bung Hatta langsung ikut Perhimpunan Hindia (Indische Vereniging) yang dalam tahun 1925 berubah menjadi Perhimpunan Indonesia (Indonesische Vereniging). Perhimpunan ini didirikan pada tahun 1908 dengan tujuan membela kepentingan Indonesia. Setelah tiga tokoh Partai Hindia Belanda (Indische Partij) bermukim di Belanda di antaranya Suwardi Surjaningrat (Ki Hadjar Dewantara), Douwes Dekker, dan Tjipto Mngunkusumo perhimpunan ini semakin mantap.

Ketika itu mahasiswa Indonesia yang belajar di Belanda cukup banyak juga, Namun yang bergabung dengan Perhimpunan Indonesia hanya sebagian kecil saja. Penasihat Belanda untuk para mahasiswa Indonesia mencatat, untuk tahun 1924 saja berjumlah 673 mahasiswa yang belajar di Belanda. Tapi pada tahun 1929 jumlah mahasiswa Indonesia menurun tajam menjadi 109. Sedangkan anggota Perhimpunan Indonesia saat itu berjumlah 20 orang saja. Penurunan jumlah mahasiswa ini disebabkan karena berdirinya beberapa sekolah tinggi di Indonesia, misalnya Sekolah Tinggi Teknik di Bandung (1920), Sekolah Tinggi Hukum (1924) dan Sekolah Tinggi Kedokteran (1927), keduanya di Jakarta.
Sekalipun jumlah anggota Perhimpunan Indonesia semakin hari semakin sedikit, namun Hatta masih tetap teguh dengan bentuk perjuangannya tersebut. Semangatnya tidak putus.


2. SAMPAI DI PENJARA DI BELANDA

Ke Berbagai Negara

Kegiatan Bung Hatta untuk mendapatkan dukungan negara-negara asing bagi kemerdekaan Indonesia terus berlanjut. Ia menghadiri Kongres Demokrasi Internasional di Bierville, Perancis. Pertemuan ini dihadiri 31 utusan dari berbagai bangsa, sebagian besar dari Asia. Di pertemuan di Bung Hatta hadir sebagai wakil Persatuan Indonesia. Di pertemuan ini Bung Hatta berharap mendapatkan pengakuan sidang guna memakai kata "Indonesia", mengganti kata "Hindia Belanda", baik dalam pertemuan itu ataupun dalam pembicaraan-pembicaraan tentang kata "Indonesia".

Dari Perancis, Bung Hatta pergi lagi ke Brussel mengikuti Kongres Internasional yang berbicara tentang "menentang kolonialisme". Kehadirannya didampingi teman-temannya antara lain Nazir Pamontjak, Ahmad Subardjo, Gatot Tanumihardja, dan Abdul Manaf. Mereka tidak hanya mewakili Perhimpunan Indonesia saja, melainkan juga mewakili Konsentrasi Nasional di Indonesia.

Di kongres ini utusan Indonesia mendapatkan pengakuan dari para hadirin, bahwa Indonesia sangat menderita; bahwa kepentingan rakyat tidak diperhatikan pemerintah; bahwa tidak ada kebebasan dan kedaulatan di Indonesia. Akhirnya kongres itu menyatakan bersimpati atas berbagai kejadian di Tanah Air, dan menuntut pemerintah Belanda untuk memberikan kebebasan penuh terhadap rakyat Indonesia.

Ditahan

Apa yang dilakukan Hatta, berjuang untuk kemerdekaan Indonesia dengan caranya sendiri, ternyata mendapat tantangan berat. Ketika ia dan teman-temannya sedang berada di Jenewa ia mendapat kabar kantor Perhimpunan Indonesia dan tempat tinggalnya di Belanda telah digeledah polisi. Beberapa surat penting telah disita. Sedangkan rumah-rumah rekan Bung Hatta juga ikut digeledah, khususnya mereka yang giat di Perhimpunan Indonesia. Berita tentang penggeledahan itu disiarkan lewat surat-surat kabar Belanda secara mencolok. Karena itu berita ini mendapat perhatian besar bagi masyarakat Belanda khususnya.

Beberapa surat kabar itu menuduh Bung Hatta melarikan diri, padahal  tidak. Kepergian Bung Hatta ke Gland, Swiss, tak lain menghadiri Liga Wanita Internasional untuk Perdamaian dan Kemerdekaan. Di situ Bung Hatta memberikan pidato. Ia mengutarakan harapannya agar terwujud kemerdekaan bagi bangsanya.

Setelah penggeledahan itu pemerintah Belanda menangkap Bung Hatta. Demikian pula beberapa rekannya, di antaranya Ali Santroamidjojo, Nazir Pamontjak, dan Abdulmadjid Djojohadiningrat. Mereka dituduh telah menjadi anggota perkumpulan terlarang; terlihat dalam pemberontakan di Indonesia; dan menghasut untuk menentang Kerajaan Belanda.

Bung Hatta dan ketiga rekannya akhirnya meringkuk dalam tahanan. Setelah lima setengah bulan mereka baru diadili. Tetapi tuduhan atas mereka dibatasi pada yang ketiga saja, yakni menghasut untuk menentang Kerajaan Belanda. Masing-masing mereka dituntut tiga tahun penjara bagi Bung Hatta, dan dua tahun bagi Abdulmadjid Djojohadiningrat.

Di dalam tahanan Bung Hatta tidak berubah sama sekali seperti masih hidup bebas di luar. Ia mengisi waktunya sebaik mungkin. Ia tetap menulis. Ia mempersiapkan pembelaannya dari dalam tahanan. Kalau soal menggunakan waktu, Bung Hatta dikenal sangat teratur. Sampai-sampai penjaga tahanan kagum melihat keteraturan waktu yang Hatta lakukan. Membaca pun tetap dilakukan Hatta. Ia membawa bahan bacaan ke dalam kamar tahanannya. Bahan-bahan bacaan itu di antaranya majalah Indonesia Merdeka. Bung Hatta menyusun pembelaannya dengan judul Indonesie Vrij (Indonesia Merdeka).

Sewaktu akan disidang atas permintaan hakim melalui pembela Mr. J.E.W. Duys, seorang anggota parlemen Belanda, Mr. Mobach, dan Nn. Mr. Weber, Bung Hatta tidak jadi membacakan keseluruhan pembelaannya di depan hakim. Duys yang justru tampil sebagai pembela. Pembelaannya betul-betul berdasarkan keadilan. Oleh karena itu, pengadilan akhirnya membebaskan Bung Hatta dan teman-temannya. Pengadilan sepertinya membenarkan perjuangan mereka, paling tidak sama sekali tidak keberatan.

Kembali Berjuang

Penahanan terhadap dirinya tidak menyurutkan langkah Bung Hatta untuk berpidato. Pada tahun 1930, kembali Bung Hatta diundang untuk berpidato di depan mahasiswa-mahasiswa Indologi di Utrecht. Bung Hatta menjelaskan bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia erat kaitannya dengan bangsa-bangsa lain di seluruh dunia. Bung Hatta menolak anggapan yang mengatakan, bahwa penjajahan Belanda terhadap Indonesia merupakan perkembangan menurut kehendak Tuhan. Ia menandaskan, bahwa peraturan jajahan sangat merugikan rakyat.

Dari Belanda Bung Hatta juga menulis sebuah karangan berjudul De Vernietiging der PNI (Penghancuran PNI). Tulisannya ini menanggapi tentang hukuman yang dijatuhkan bagi empat pemimpin PNI, yakni Bung Karno dan tiga teman lainnya. Bung Hatta dan teman-temannya yang tergolong dalam Perhimpunan Indonesia (PI) pun melayangkan surat atas penahanan keempat tokoh PNI tersebut. Bung Hatta menilai, pengadilan terhadap keempat temannya itu hanyalah suatu sandiwara. Para saksi yang hadir sudah diatur untuk memberatkan ke empat temannya itu.

Ketika Bung Hatta berada di Belanda, ia pernah mengungkapkan kecintaannya terhadap Tanah Air yang ditinggalkannya. Ia menulis puisi yang menggambarkan keindahan negeri Indonesia sebagai suatu kekayaan Tuhan. Judul puisinya Beranda Indera. Kata Bung Hatta Tanah Air tidak hanya meliputi Sumatera ataupun Jakarta saja. Bung Hatta berkeinginan bangsa Indonesia bisa berkembang dengan baik dan terlepas dari cengkeraman penjajah.

Kembali ke Indonesia

Setelah belajar bertahun-tahun di Belanda dan aktif berjuang bagi bangsanya sampai ke berbagai negara, akhirnya Bung Hatta mampu menyelesaikan ujian doktoralnya pada tanggal, 5 Juli 1932. Ia singgah dulu di Singapura sebelum kembali ke tanah air. Di sana ia mengunjungi kenalannya, sekedar bersilaturahmi. Namun polisi rahasia membuntutinya kemana Bung Hatta pergi. Demikian juga sesampainya di Tanjung Priok, inspektur polisi memeriksa barang-barangnya, terutama buku-bukunya.

Bung Hatta beruntung mempunyai kerabat dekat yang boleh dibilang cukup berada. Ia tinggal bersama Dahlan Sutan Lembaq Tuah, kakak iparnya yang pensiunan pemilik sekolah. Sedangkan buku-bukunya di tempatkan di rumah pamannya yang punya toko Djohan Djohor di Pasar Senen, Jakarta.

Tidak tampak sedikit pun rasa takut pada diri Bung Hatta sekalipun kehadirannya dimata-matai polisi. Di Jakarta ia langsung bergabung dengan kawan-kawannya yang secita-cita di Pendidikan Nasional Indonesia (selanjutnya disebut PNI-Baru). Semua itu memudahkan baginya dalam menempatkan diri menjadi pemimpin PNI-Baru. Ia membagi waktunya sebaik mungkin. Empat hari di Jakarta dan tiga hari di Bandung, tempat kedudukan pimpinan pusat PNI-Baru.

Untuk semakin majunya PNI-Baru, Bung Hatta mendidik para anggotanya sebaik mungkin. Sebelum menjadi anggota mereka harus lulus ujian organisasi PNI-Baru. Untuk para pengajarnya juga diberi ketentuan, yaitu harus benar-benar memahami isi surat kabar Daulat Ra'jat, termasuk juga tulisan Bung Hatta: In-donesie Vrij (Indonesia Merdeka), tujuan Pergerakan Nasional di Indonesia, dan pidato pembelaan Sukarno pada pengadilan di Bandung yang berjudul: Indonesia Menggugat. Menurut Bung Hatta ketentuan seperti itu dibuat agar mereka yang mau menjadi anggota PNI-Baru tidak ikut-ikutan, tapi harus mempunyai semangat juang.

Sewaktu Bung Hatta ada di Bandung, ia bertemu dengan Bung Karno. Ini untuk pertama kalinya mereka bertemu muka. Sebelumnya di antara mereka hanya saling mengenal melalui tulisan. Keduanya sering menulis di berbagai surat kabar. Mereka berharap pertemuan ini dapat menyatukan PNI-Baru dan Partindo (Partai Indonesia). Tapi, kenyataannya pertemuan mereka tidak menghasilkan harapan itu. Bung Hatta dan Bung Karno memilih berjuang dengan cara masing-masing walaupun tujuan mereka sama, ingin lepas dari penjajahan bangsa asing.

Setelah beberapa waktu Bung Hatta berada di Jakarta dan Bandung, ia kembali pulang ke kampungnya untuk mengunjungi keluarganya. Di sana ia juga memperkenalkan organisasinya PNI-Baru kepada masyarakat luas. Selama di Padang Bung Hatta bertemu dengan Taher Marah Sutan. Orang yang telah banyak berjasa ketika ia masih di MULO Padang. Taher Marah Sutan juga yang membantunya mencarikan sebagian biaya untuk menuntut ilmu di Belanda.

Selama di Padang Bung Hatta memanfaatkan waktunya untuk berpidato di Islamic College, suatu sekolah menengah Islam di Padang. Tetapi beberapa waktu kemudian, tanpa sebab yang jelas, Bung Hatta terkena passenstelsel, suatu peraturan yang menyebabkan seseorang tidak dibenarkan tinggal atau mengunjungi daerah tertentu, dalam hal ini dari daerah itu. Ia diantarkan ke kapal KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij) oleh pejabat-pejabat setempat. Meskipun bagi Bung Hatta keadaan itu membingungkan dan menyedihkan, tapi ia menerimanya dengan lapang dada.

Ditangkap di Jakarta

Dipulangkan dari Padang, Bung Hatta menuju Jakarta. Di Jakarta usaha Bung Hatta untuk membebaskan bangsanya dari penjajahan tidak berhenti. Bersama teman-temannya ia terus berjuang. Usahanya baru berhenti ketika suatu hari ia ditangkap. Bung Hatta dan seorang temannya dimasukkan ke penjara di Glodok. Temannya yang lain ada yang dimasukkan ke penjara Sukamiskin, Bandung; penjara Banceuy, juga di Bandung. Syahrir, temannya juga dimasukkan ke penjara Cipinang.

Bagi Bung Hatta dan teman-temannya penahanannya ini tidak terlalu mengejutkan. Mereka sudah menyadari resiko dari perjuangan mereka. Karena itulah dalam tahanan di Glodok, semangat Bung Hatta tetap menyala. Ia tidak menyerah. Ia kemudian menulis beberapa karangan sekalipun ia kesulitan mendapatkan kertas di penjara itu.

Setelah beberapa waktu ditempatkan di penjara Glodok, datang keputusan baru untuk memindahkan Bung Hatta ke Digul. Digul merupakan tanah buangan yang sangat ditakuti oleh orang pergerakan, sebutan bagi mereka yang berjuang untuk kemerdekaan. Tapi Bung Hatta tidak bisa berbuat apa-apa. Ia terpaksa menerima keputusan itu. Sekalipun demikian tetap saja Bung Hatta bersemangat menulis. Dari sana ia menulis ke berbagai surat kabar, seperti Pemandangan (Jakarta), Adil (Solo), Panjil Islam, dan Pedoman Masyarakat (Medan).

Baru setelah setahun di sana Bung Hatta bersama Sjahrir dipindahkan ke Banda Neira, di kepulauan Maluku. Kepindahan Bung Hatta itu tepat bulan Desember 1935. Tempat ini jauh lebih baik daripada Digul. Baik dari sudut kesehatan dan lingkungan pergaulan. Setelah tujuh tahun di sana,mereka kembali dipindahkan. Kali itu dipindahkan ke Sukabumi.


3. MEMPERSIAPKAN KEMERDEKAAN

Kerjasama dengan Jepang

Penaklukan dan pendudukan Jepang atas Hindia Belanda merupakan peristiwa yang membawa perubahan besar dan menyeluruh bagi pergerakan nasional. Pihak Belanda menyerah terhadap Jepang pada tanggal, 8 Maret 1942, dari Jenderal Ter Porrten (Belanda) kepada Jenderal Hitoshi Imamura (Jepang) di Kalijati, Jawa Barat.

Setelah pendudukan Jepang di Indonesia resmi berdiri, maka pihak Jepang mengajak kerjasama para tokoh pergerakan. Salah satunya dengan Bung Hatta. Ia bersedia kerjasama karena yakin Jepang akan kalah dengan Sekutu. Ia berpikir juga dengan bekerjasama bisa dimanfaatkan untuk menyusun kekuatan rakyat.

Mula-mula Bung Hatta menjadi penasihat pemerintah militer Jepang. Ia berkantor sendiri dengan staf yang dipilihnya sendiri. Para staf Bung Hatta itu umum-nya orang-orang pergerakan. Kantor Penasihat Umum tempat Bung Hatta bertugas ini berfungsi sebagai penghubung antara pihak Jepang dengan para pemimpin Indonesia. Lama kelamaan, kantor ini juga menjadi penampungan keluh-kesah rakyat atas perlakuan pihak Jepang. Dengan kenyataan inilah Bung Hatta menyampaikan sarannya kepada pemerintah.

Pada pertengahan tahun 1942, Bung Karno kembali ke Jawa dari pembuangannya. Ia segera bergabung dengan Bung Hatta. Jumlah penasihat kemudian menjadi empat orang, yang dikenal sebagai Empat Serangkai, terdiri dari Bung Karno, Bung Hatta, Ki Hadjar Dewantara, dan K.H. Mas Mansoer.

Empat Serangkai ini menjadi terkenal sehingga ketika pemerintah Jepang membentuk organisasi "Tiga A" (untuk kepentingan Jepang) dan dijauhi oleh Empat Serangkai ini kemudian membentuk Putera (Pusat Tenaga Rakyat). Bahan ini didirikan atas desakan Bung Karno dan kawan-kawan yang mendambakan terciptanya suatu gerakan rakyat untuk mencapai tujuan nasional. Pelantikan Putera dilakukan oleh Gunseikan (kepada Pemerintahan militer), Mayor Jenderal Okasaki Seizaburo di depan rakyat di lapangan Ikada (kini lapangan Monas).

Harapan banyak orang terhadap Putera sudah begitu kuat. Bagi Bung Hatta sendiri, Putera telah banyak membantu mencapai tujuan perjuangan nasional. Hal ini membuat Jepang tidak puas. Djawa Hokokai (Himpunan Kesetian Rakyat) pun mereka dirikan atas keinginan balatentara Jepang di Jawa pada tanggal, 1 maret 1944. Badan ini sebagai pengganti Putera. Pergantian ini membuat sedih dan bingung masyarakat.

Susunan pengurus badan ini juga berbeda jauh dengan Putera. Kalau Putera pengurusnya lebih banyak orang-orang pergerakan, namun sebaliknya di Djawa Hokokai dikuasai pemerintah Jepang. Kepada Kantornya memang Bung Karno tetapi wakilnya seorang Jepang juga. Bung Hatta sendiri menjadi sebagai Dewan Djawa Hokokai yang diketuai oleh Hayashi Kyujiro.

Suatu hari Menteri Asia Timur Raya, Aoki, berkunjung ke Jakarta dan bertemu dengan Bung Hatta. Ia mewakili Empat Serangkai. Kenapa Aoki, Bung Hatta menceritakan kekecewaan rakyat Indonesia terhadap sikap Jepang yang tidak menghiraukan Indonesia untuk mereka. Sementara Philipia dan Birma sudah dieberikan kemerdekaan, tetapi Indonesia tidak. Bung Hatta juga menuntut agar bendera Merah-Putih boleh berkibar, dan Indonesia menjadi satu pemerintahan. Mendengar apa yang dikatakan Bung Hatta, Menteri Aoki berjanji akan membicarakan hal tersebut dengan Perdana Menteri Tojo di Tokyo.

Janji Aoki ditepati walau belum sepenuhnya. Setengah tahun kemudian, setelah pertemuannya dengan Bung Hatta, parlemen Jepang memberi kesempatan kepada penduduk di Jawa untuk ambil bagian dalam pemerintahan selekas mungkin.

Persiapan Kemerdekaan

Keinginan untuk segera merdeka membuat tokoh-tokoh pergerakan membentuk Badan penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Anggotanya terdiri dari 62 orang Indonesia, termasuk delapan orang Jepang, seorang di antaranya menjadi wakil ketua. Dalam beberapa kali rapat tak seorang Jepang pun yang angkat bicara. Juga tidak memberikan pengarahan. Orang-orang Indonesia bebas menyuarakan keinginannya.

Pekerjaan BPUPKI ini dilanjutkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). PPKI ini dibentuk oleh pemerintah pendudukan Jepang pada permulaan Agustus 1945. Di sini Bung Hatta menjadi anggota Panitia, malah jadi orang kedua setelah Bung Karno. Setelah terbentuknya PPKI Bung Hatta dan Bung Karno dipanggil oleh Panglima Angkatan Perang Jepang di Asia Tenggara ke Saigon, Vietnam. Mereka berangkat dengan seorang teman lainnya. Kepada mereka dibicarakan kemungkinan mendirikan pemerintahan sendiri. Janji yang sama diberikan oleh Perdana Menteri Jepang sebulan setelah pertemuan itu.

Pada masa-masa akhir pendudukan Jepang, berbagai bentuk usaha merampungkan kemerdekaan terkuat lebar. Terutama semakin majunya tentara Sekutu menggempur dan mundurnya tentara Jepang dalam peperangan.

Menjadi Wakil Presiden

Kemerdekaan Indonesia yang dijanjikan Jepang akan diberikan tanggal 18 Agustus. Tapi manusia berencana Tuhan yang menentukan. Setelah mendengar kekalahan Jepang dari tentara sekutu, pemuda-pemuda Indonesia segera mendesak Bung Karno dan Bung Hatta menyatakan kemerdekaan Indonesia sesegera mungkin.

Tanggal, 17 Agustus 1945, sepuluh menit sebelum jam 10 pagi, Bung Hatta berangkat ke Pegangsaan Timur No.56. Bung Hatta tiba tepat pada waktunya. Upacara pembacaan Proklamasi Kemerdekaan pun segera dimulai. Terlebih dahulu Bung Hatta berbicara singkat, sebelum Bung Karno membaca teks proklamasi.

Kami Bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Naskah ini ditandatangani oleh Bung Karno dan Bung Hatta.

Keesokan harinya diadakan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Pemilihan ini diadakan di tengah pembicaraan tentang Undang-undang Dasar. Bung Karno dan Bung Hatta akhirnya terpilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden.


4. MENCINTAI BUKU

Hatta dan Buku

Hatta dan Buku dapat diibaratkan seperti ikan dan air, tidak terpisahkan. Demikian senangnya Bung Hatta membaca sampai  ia memiliki perpustakaan yang menyimpan buku-bukunya. Setiap hari ia membaca buku. Isteri Bung Hatta pernah memberikan keterangan kepada salah seorang tamunya, "Saya ini sebenarnya adalah isteri ketiga dari Hatta." Tamunya pun heran, isteri Bung Hatta segera memberikan penjelasan, "Isteri pertama buku, kedua ibadatnya, sedang yang ketiga adalah saya sendiri."

Isteri Bung Hatta mungkin bercanda, tapi kita dapat mengerti kalau memang bagi Bung Hatta yang sangat penting dalam hidupnya ialah buku, kemudian sembahyang, dan setelah itu barulah isterinya.

Bung Hatta bukan hanya seorang pembaca buku yang tekun, tetapi juga ia memelihara bukunya dengan hati-hati. Ketika ia dibuang ke Diikul (Irian Jaya) tahun 1933, berpeti-peti bukunya harus ikut serta ke tanah pembuangan itu. Dengan buku itulah Bung Hatta menghibur hatinya. Teman-temannya boleh meminjam bukunya. Tetapi tidak boleh sembarangan. Apabila mengembalikan buku, tidak lantas boleh pergi atau pinjam buku yang lain lagi, tetapi harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, seperti:

"Sudah saudara baca seluruhnya?"

"Sudah," jawab peminjam buku.

"Sudah dipahami benar-benar?"

"Sudah."

"Coba saudara tersangka maksud pasal sekian!"

"Coba terangkan lagi maksud pasal sekian!"

Demikian seterusnya, semua isi buku itu ditanyakan, Apabila tidak bisa menerangkan, disuruh baca kembali sampai bisa menerangkannya kepada Bung Hatta. Jika buku yang dipinjam kedapatan rusak, tak usah sampai sobek, misalnya kotor saja bekas dibolak-balik, akibatnya tidak boleh meminjam lagi, dihukum sebulan atau lebih. Letak buku-buku dalam lemarinya pun selalu tersusun rapi dan bersih. Cerita ini didapat dari seorang bekas Digulis yang pernah mendapat hukuman dari Bung Hatta.

Cerita lain tentang bagaimana buku menjadi bagian penting dalam hidup Bung Hatta disampaikan Aboe Bakar Lubis berikut ini:

Pada suatu hari ada pengumuman, bahwa Bung Hatta akan memberi kursus sosiologi, yaitu ilmu yang mempelajari sifat keadaan dan pertumbuhan masyarakat, bagi orang yang berminat. Saya segera mendaftarkan diri. Kursus dilakukan seminggu sekali, di Sekolah Perguruan Rakyat di Jalan Cikini.

Saya sangat tertarik dengan mata pelajarannya, sehingga saja rajin datang tiap minggu dan mempelajari diktat saya berikan, yang sudah diketik rapi dan dijilid.

Ternyata diktat (catatan) yang diberikan tidak memuaskan saya, karena terlalu singkat, terlalu padat, maka saya memberanikan diri bertanya:

"Apakah saya boleh meminjam beberapa buku yang disebut dalam diktat?"

"Buat apa?" Bung Hatta balik bertanya.

Saya pun mengatakan kalau saya ingin mengetahui lebih banyak daripada yang ada di dalam diktat.

"Kamu boleh pinjam satu buku dulu, dengan syarat bukunya tidak boleh kotor, tidak boleh dicoret-coret atau ditulisi, halamannya tidak boleh dilipat-lipat dan harus kembali pada waktu yang ditetapkan," kata Bung Hatta.

Saya meminta waktu satu bulan untuk membacanya, tetapi Bung Hatta hanya mau memberikan waktu dua minggu. Saya tawar sampai tiga minggu, dengan alasan saya masih harus kuliah dan bukunya ditulis dengan bahasa Jerman. Akhirnya disetujui.

Buku itu saya perlakukan dengan hati-hati sekali, tidak ada halaman yang saya lipat-lipat, dan bukunya saya berikan sampul kertas koran. Setelah tiba waktunya, buku saya kembalikan dan mau minta pinjam buku yang lain.

Sekali ini permintaan saya disambut dengan pertanyaan, "Yang saudara baca sebenarnya apa?"

Saya pun menerangkan apa yang saya pelajari. Bung Hatta tampak senang. Seterusnya saya boleh meminjam buku, tanpa diadakan pertanyaan lagi.

Ketika kami masih di Bukittinggi, saya yang ditugaskan mengurus buku-buku yang disimpan di rumah kami di kota itu. Di sini kita bisa melihat bagaimana sayang dan hematnya Bung Hatta kepada buku. Yang saya banggakan dalam pergaulan saya dengan Bung Hatta, ialah bahwa saya termasuk dalam sebagian kecil orang, yang dapat datang ke rumah beliau, langsung naik ke atas bibliotek (taman pustaka), dan meminjam buku tanpa ada pertanyaan apa-apa dari darinya, paling banyak dikatakan: "Habis baca, kembalikan!"


SUMBER-SUMBER BACAAN

Djohan, Bahder, "Potret Seorang Pemimpin: Bung Hatta," dalam Bung Hatta Mengabdi pada Cita-cita Perjuangan Bangsa, Jakarta, Panitia Peringat-an Ulang Tahun Bung Hatta ke-70, 1972.
Noer, Deliar, Mohammad Hatta: Biografi Politik, Jakarta, LP3ES, 1990.
Roem, Mohammad, Bunga Rampai dari Sejarah, Jakarta, Bulan Bintang, 1972.
Rose, Mavis, Indonesia Free. A Political Biography of Mohammad Hatta, Ithaca, N.Y., Cornel Modern Indonesia Project, 1987.
Soedarto M.W., Seribu Hari dengan Bung Karno, Jakarta, Yayasan Marinda, 1990.
Soenario, "Bung Hatta di Mata Seorang Teman Sebaya," dalam Bung Hatta Mengabdi pada Cita-cita Perjuangan Bangsa, Jakarta, Panitia Peringatan Ulang Tahun Bung Hatta ke-70, 1972.
Sukarno, Autobiography as told to Cindy Adams Hongkong, Gunung Agung, 1966.
Sukarno, Fatmawati, Catatan Kecil Bersama Bung Karno, Jakarta, Delha Rohita, 1978.
Wijaya, I. Wangsa, Mengenang Bung Hatta Jakarta, Haji Masagung, 1988.


Karya: Ida Cynthia dan Yant Kaiy

ROBOHNYA SURAU KAMI

Kalau beberapa tahun yang lalu Tahun datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bus, Tuan akan berhenti di dekat pasar. Melangkahlah menyusuri jalan raya arah ke barat. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tuhan di jalan kampungku. Pada simpang kecil ke kanan, simpang yang kelima, membeloklah ke jalan sempit itu. Dan di ujung jalan itu nanti akan Tuhan temui sebuah surau tua. Di depannya ada kolam ikan, yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi.

Dan di pelantaran kiri surau itu akan Tuhan temui seorang tua yang biasanya duduk di sana dengan segala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadah. Sudah bertahun-tahun ia sebagai garin surau itu. Orang-orang memanggilnya kakek.

Sebagai penjaga surau, kakek tidak mendapatkan apa-apa. Ia hidup dari sedekah yang dipungutnya sekali sejumat. Sekali enam bulan ia mendapat seperempat dari hasil pemunggahan ikan emas dari kolam itu. Dan sekali setahun orang-orang mengantarkan fitrah kepadanya. Tapi sebagai garin ia tak begitu dikenal. Ia lebih dikenal sebagai pengasah pisau. Karena ia begitu mahir dengan pekerjaannya itu. Orang-orang suka minta tolong kepadanya, sedang ia tak pernah minta imbahan apa-apa. Orang-orang perempuan yang minta tolong mengasah pisau atau gunting, memberinya sambal sebagai imbalan. Orang laki-laki yang minta tolong, memberinya imbalan rokok, kadang-kadang uang.Tapi yang paling sering diterimanya ialah ucapan terima kasih dan sedikit senyum.

Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi. Ia sudah meninggal. Dan tinggallah surau itu tanpa penjaganya. Hingga anak-anak menggunakannya sebagai tempat bermain, memainkan segala apa yang disukai mereka. Perempuan yang kehabisan kayu bakar, sering suka mencopoti papan dinding atau lantai di malam hari.

Jika Tuan datang sekarang, hanya akan menjumpai suatu gambaran yang mengesankan suatu kesucian yang bakal roboh. Dan kerobohan itu kian  hari kian cepat berlangsungnya. Secepat anak-anak berlari di dalamnya, secepat perempuan mencopoti kayu-kayunya dan yang terutama ialah sifat masa bodoh manusia sekarang yang tak hendak memelihara apa yang dijaga lagi.

Dan biang keladi dari kerobohan ini ialah sebuah dongengan yang tak dapat di sangkal kebenarannya. Beginilah kisahnya.

Setiap hari aku datang pula mengupah kepada kakek. Biasanya Kakek gembira menerimaku, karena aku suka memberinya uang. Tapi sekalli ini Kakek begitu muram. Di sudut benar ia duduk dengan lututnya mengak menopang tangan dan dagunya. Pandangan sayu ke depan, seolah-olah ada sesuatu yang megamuk pikirannya. Sebuah beklek susu yang berisi minyak kelapa, sebuah asahan halus, kulit sol panjang, dan pisau cukur tua berserakan di sekitas kaki Kakek. Tidak pernah aku melihat Kakek begitu durja dan belum pernah salamku tak disahutinya seperti saat itu. Kemudian aku duduk di sampingnya dan aku jamah pisau cukur itu. Dan aku Tanya Kakek: "Pisau siapa, Kek?"

"Ajo Sidi,"

"Ajo Sidi?"

Kakek tak menyahut. Maka aku ingat Ajo Sidi, si pembual itu. Sudah lama aku tak ketemu dia. Dan aku ingin keemu dia lagi. Aku seneng mendengar bualannya. Ajo Sidi bisa memikat orang-orang dengan bualannya yang aneh-aneh sepanjang hari. Tapi kini jarang terjadi karena ia begitu sibuk dengan pekerjaannya. Sebagai pembual, sukses terbesar baginya ialah karena semua pelaku-pelaku yang diceritakannya menjadi model orang untuk diejek dan ceritanya menjadi pameo akhirnya. Ada-ada saja orang-orang sekitar kampungku yang mencocoki watak dari pelaku-pelaku ceritanya. Ketika sekali ia menceritakan bagaimana sifat seorang katak, dan kebetulan ada pula seorang yang ketagihan jadi pemimpin yang berkelakuan seperti katak itu, maka untuk selanjutnya pemimpin tersebut kami sebutkan pemimpin katak.

Tiba-tiba aku ingat lagi pada Kakek dan kedatangan Ajo Sidi kepadanya. Apakah Ajo Sidi telah membuat bualan tentang Kakek? Dan bualan itukah yang mendurjakan Kakek? Aku ingin tahu. Lalu aku Tanya kakek lagi.

"Apa ceritanya, Kek?"

"Siapa?"

"Ajo Sidi"

"Kurang ajar dia." Kakek menjawab lesu.

"Kenapa?"

"Mudah-mudahan pisau cukur ini, yang kuasah tajam-tajam ini, menggorok tenggorokannya."

"Kakek marah?"

"Marah? Ya, kalau aku masih muda, tapi aku sudah tua. Orang tua menahan ragam. Sudah lama aku tak marah-marah lagi. Takut kalau imanku rusak karenanya, ibadatku rusak karenanya. Sudah lama aku berbuat baik, beribadah, bertawakal kepada Tuhan. Sudah begitu lama aku menyerahkan diriku kepadaNya. Dan Tuhan akan mengasihi orang yang sabar dan tawakal."

Ingin tahuku dengan cerita Ajo Sidi yang memurungkan Kakek jadi memuncak. Aku Tanya lagi Kakek: "Bagaimana katanya, Kakek?" Tapi kakek diam saja. Berat hatinya bercerita barangkali. Karena aku telah berulang-ulang bertanya, lalu ia bertanya kepadaku.

"Kau kenal padaku, bukan? Kau tahu apa yang kulakukan semua, bukan? Terkutukkah perbuatanku? Dikutuki Tuhankah semua perbuatanku?"

Tapi aku tak perlu menjawabnya lagi sebab aku tahu, kalau Kakek sudah membuka mulutnya, dia takkan diam lagi. Aku biarkan Kakek dengan pertanyaannya sendiri.

"Sedari mudaku aku di sini, bukan? Tak kuingat punya istri, punya anak, punya keluarga seperti orang-orang, tahu? Tak kupikirkan hidupku sendiri. Aku tak ingin jadi kaya, bikin rumah. Segala kehidupanku lahir batin, kuserahkan kepada Allah Swt. Tak pernah aku menyusahkan orang lain. Lalat seekor aku enggan membunuhnya, tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk. Umpan neraka. Marahkah Tuhan kalau itu yang kulakukan, sangkamu? Akan dikutukinya aku mengabdi kepadanya? Tak kupikirkan hari ini esokku, karena aku yakin Tuhan itu ada dan pengasih-penyayang kepada umatNya yang tawakal. Aku bangun pagi-pagi. Aku bersuci. Aku pukul beduk membangunkan manusia dari tidurnya, supaya bersujud kepada-Nya. Aku sembahyang setiap waktu, siang malam, pagi sore. Aku sebut-sebut nama-Nya selalu. Aku puji-puji Dia. Aku baca kitabNya. Alhamdulillah, kataku bila aku menerima karunia-Nya. Astagfirullah, kataku bila terkejut. Masya Allah, kataku bila aku kagum. Apakah salahnya pekerjaanku itu? Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk."

Ketika Kakek terdiam agak lama, aku menyerahkan tanyaku: "Ia katakan Kakek begitu, Kek?"

"Ia tak mengatakan aku terkutuk. Tapi begitulah kira-kiranya." Dan aku melihat mata Kakek berlinang. Aku jadi belas kepadanya. Dalam hati aku mengumpati Ajo Sidi yang begitu memukul hati Kakek. Dan ingin tahuku menjadikan aku nyinyir bertanya. Dan akhirnya Kakek bercerita juga.

"Pada suatu waktu, "kata Ajo Sidi memulai" di akhirat Tuhan Allah memeriksa orang-orang yang sudah berpulang. Para malaikat bertugas di sampingnya. Di tangan mereka tergenggam daftar dosa dan pahala manusia. Begitu banyaknya orang yang diperiksa. Maklum dimana-mana ada perang. Dan di antara orang-orang yang diperiksa itu ada seorang yang di dunia dinamai Haji Saleh. Haji Saleh itu tersenyum-senyum saja, karena ia sudah begitu yakin akan dimasukkan ke sorga. Kedua tangannya ditopangkannya di pinggang sambil membusungkan dada dan menekurkan kepala ke kuduk. Ketika dilihatnya orang-orang yang masuk neraka, bibirnya menyunggingkan senyum ejekan. Dan ketika ia melihat orang yang masuk sorga ia melambaikan tangannya, seolah hendak mengatakan "Selamat ketemu nanti". Bagai tak habis-habisnya orang yang berantri, begitu panjangnya. Susut yang di muka, bertambah yang di belakang. Dan Tuhan dengan segala sifat-Nya.

Akhirnya sampailah giliran Haji Saleh. Sambil senyum bangga ia menyembah Tuhan. Lalu Tuhan mengajukan pertanyaan pertama.

"Engkau?"

"Aku Saleh. Tapi karena aku sudah ke Mekah, Haji Saleh namaku"

"Aku tidak tanya nama. Nama bagiku tidak perlu. Nama hanya buat engkau di dunia."

"Ya, Tuhanku."

"Apa kerjamu di dunia?"

"Aku menyembah Engkau selalu, Tuhanku."

"Lain?"

"Segala tengah-Mu, kuhentikan, Tuhanku. Tak pernah aku berbuat jahat, walaupun dunia seluruhnya penuh dengan dosa-dosa yang dihulubalangkan iblis laknat itu."

"Lain?"

"Ya, Tuhanku, tak ada pekerjaanku selain dari beribadah menyembahMu, menyebut-nyebut namaMu. Bahkan dalam kasihMu, ketika aku sakit, namaMu menjadi buah bibir juga. Dan aku selalu juga berdoa, mendoakan kemurahan hati-Mu untuk menginsafkan umatMu."

"Lain?"

Haji Saleh tak dapat menjawab lagi. Ia telah menceritakan segala yang telah ia kerjakan. Tapi ia insyaf bahwa pertanyaan Tuhan bukan asal bertanya saja, tentu ada lagi yang belum dikatakannya. Tapi menurut pendapatnya, ia telah menceritakan segalanya. Ia tak tahu lagi apa yang harus dikatakannya. Ia termenung dan menekurkan kepalanya. Api neraka tiba-tiba menghawakan kehangatannya ke tubuh Haji Saleh. Dan ia menangis. Tapi setiap air matanya mengalir, diisap kering oleh hawa panas neraka itu.

"Lain lagi? Tanya Tuhan.

"Sudah hambamu ceritakan semuanya, oh Tuhan yang Maha Besar, lagi Pengasih dan Penyayang. Adil dan Mahatahu. "Haji Saleh yang sudah kuyu mencobakan siasat merendahkan diri dan memuji Tuhan, dengan pengharapan semoga Tuhan bisa berbuat lembut kepadanya dan tidak salah tanya kepadanya.

Tapi Tuhan bisa bertanya lagi. "Tak ada lagi?"

"O, oo, oo, anu Tuhanku. Aku selalu membaca Kitab-Mu."

"Lain?"

"Sudah kuceritakan semuanya, O, Tuhanku. Tapi kalau ada yang aku lupa mengatakannya, akupun bersyukur karena engkaulah yang Mahatahu.

"Sungguh tidak ada lagi yang kau kerjakan di dunia selain yang kuceritakan tadi?"

"Ya, itulah semuanya, Tuhanku."

"Masuk kamu."

Dan malaikat dengan sigap menjewer Haji Saleh ke neraka. Haji Saleh tidak mengerti kenapa ia dibawa ke neraka. Ia tak mengerti apa yang dikehendaki Tuhan kepadanya dan ia percaya Tuhan tidak khilaf.

Alangkah tercengangnya Haji Saleh, karena di neraka itu banyak teman-temannya di dunia, terpanggang hangus merintih kesakitan. Dan ia tambah tak mengerti lagi dengan keadaan dirinya, karena semua orang yang dilihatnya di neraka tak kurang ibadatnya dari dia sendiri. Bahkan ada salah seorang yang telah  sampai empat belas kali ke Mekah dan bergelar Saleh pula. Lalu Haji Saleh mendekati mereka, lalu bertanya kenapa mereka di neraka semuanya. Tapi sebagaimana Haji Saleh, orang-orang itupun mengerti pula.

"Bagaimana Tuhan kita ini?" kata Haji Saleh kemudian.

"Bukankah kita disuruhNya taat beribadat,  teguh beriman? Dan itu semua sudah kita kerjakan selama hidup kita. Tapi kini kita dimasukkan ke neraka."

"Ya, Kami juga berpendapat demikian. Tengoklah itu, orang se negeri kita, dan tak kurang ketaatnnya beribadat."

"Ini sudah tidak adil."

"Memang tidak adil, "kata orang-orang itu mengulang ucapan Haji Saleh.

"Kalau begitu, kita harus minta kesaksian kesalahan kita. Kita harus mengingatkan Tuhan kalau-kalau Ia khilaf memasukkan kita ke neraka ini."

"Benar. Benar. Benar," Sorakan yang lain membenarkan Haji Saleh.

"Kalau Tuhan tak mau mengakui kekhilafanNya bagaimana?" Suatu suara melengking di dalam kelompok orang banyak itu.

"Kita protes. Kita resolusikan," kata Haji Saleh.

"Apa kita revolusikan juga?" Tanya suara yang lain, yang rupanya di dunia menjadi pemimpin gerakan revolusioner.

"Itu tergantung pada keadaan, "kata Haji Saleh. Yang penting sekarang, mari kita berdemonstrasi saja, banyak yang kita peroleh," sebuah suara menyela.

"Setuju. Setuju. Setuju." Mereka bersorak beramai-ramai. Lalu mereka bersama-sama menghadap Tuhan.

Dan Tuhan bertanya: "Kalian mau apa?"

Haji Saleh yang jadi pemimpin dan juru bicara tampil ke depan. Dan dengan suara yang menggeletar dan berirama indah, ia memulai pidatonya:

"O, Tuhan kami Yang Maha besar. Kami yang menghadap-Mu ini adalah umatMu yang paling taat beribadat, yang paling taat menyembah-Mu, memuji-muji kebesaran-Mu, mempropagandakan keadilan-Mu dan lain-lainnya. Kitab-Mu kami hafal di luar kepala kami. Tak sesat sedikit pun kami membacanya. Akan tetapi, Tuhan yang Mahakuasa, setelah kami Engkau panggil kemari, Engkau masukkan kami ke neraka. Maka sebelum terjadi hal-hal yang tak diingini, maka di sini, atas nama orang-orang yang cinta pada-Mu, kami menuntut agar hukuman yang Kau jatuhkan kepada kami ditinjau kembali dan masukkan kami ke sorga sebagaimana yang Engkau janjikan dalam kitab-Mu."

"Kalian di dunia tinggal di mana?" Tanya Tuhan.

"Kami ini adalah umatmu yang tinggal di Indonesia, Tuhanku."

"Ya, Benarlah itu, Tuhanku."

"Tanahnya yang maha kaya raya, penuh oleh logam, minyak, dan berbagai tambang lainnya, bukan?"

"Benar. Benar. Benar. Tuhan kami itulah negeri kami. "Mereka mulai menjawab serentak. Karena fajar kegembiraan telah membayang di wajarnya kembali. Dan yakinlah mereka sekarang. Tuhan telah khilaf menjatuhkan hukuman kepada mereka itu.

"Di negeri, di mana tanahnya begitu subur, hingga tanaman tumbuh tanpa ditanam?"

"Benar, Tuhanku. Hingga kami tak mendapat apa-apa. Sungguh laknat mereka itu."

"Di negeri yang selalu kacau balau itu, hingga kamu dengan kamu selalu berkelahi,  sedang hasil tanahmu yang lain orang lain juga yang mengambilnya, bukan?"

"Benar, Tuhanku. Tapi bagi kami soal harta benda itu, kini tak mau tahu. Yang penting bagi kami ialah menyembah dan memuja Engkau."

"Engkau rela tetap melarat, bukan?"

"Betul, kami rela sekali, Tuhanku."

Karena kerelaanmu itu anak cucumu tetap melarat, bukan?"

"Ada, Tuhanku."

"Kalau ada, kepada kau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua? Sedang harta bendamu kau biarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri Engkau negeri yang kaya raya tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak menyuruh engkau semuanya beramal di samping beribadat. Bagaimana engkau bisa beramal kalau engkau miskin? Engkau kira aku ini suka pujian, masuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan menyembah-Ku saja. Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka. Hai malaikat, halaulah mereka ini ke neraka. Letakkan di keraknya."

Semua jadi pucatnya pasi ingin juga kepastian apakah yang dikerjakannya di dunia itu salah atau benar. Tapi ia tak berani bertanya kepada Tuhan,  ia bertanya saja kepada malaikat yang menggiring mereka itu.

"Salahkah menurut pendapatmu, kalau kami menyembah Tuhan di dunia?" Tanya Haji Saleh.

"Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat bersembahyang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu  sendiri, melupakan kehidupan anak-istrimu sendiri, hidup mereka kucar-kacir selamanya. Itulah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis. Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak mempedulikan mereka sedikitpun."

Demikian cerita Ajo Sidi yang kudengar dari Kakek. Cerita yang memurungkan Kakek. Dan besoknya, ketika aku mau turun rumah pagi-pagi istriku bertanya, apa aku tak pergi menjenguk.

"Siapa yang meninggal?" tanyaku kaget.

"Kakek."

"Kakek?"

"Ya. Tadi subuh Kakek kedapatan mati di suraunya dalam keadaan yang ngeri sekali. Ia menggorok lehernya dengan pisau cukur."

"Astaga. Ajo Sidi punya gara-gara," kataku seraya melangkah secepatnya meninggalkan istriku yang tercengang-tercengang.

Aku cari Ajo Sidi ke rumahnya, tapi aku berjumpa sama istrinya saja. Lalu aku Tanya dia.

"Dia sudah pergi," jawab istri Ajo Sidi.

"Tidakkah ia tahu Kakek meninggal?"

"Sudah. Dan ia pesan agar dibelikan kafan buat Kakek tujuh lapis."

"Dan sekarang" tanyaku kehilangan akal sungguh mendengar segala peristiwa oleh perbuatan Ajo Sidi yang tidak sedikitpun bertanggung jawab.

"Dan sekarang ke mana dia?"

"Kerja."

"Kerja?" tanyaku mengulangi hampa.

"Ya. Dia pergi kerja."

Tuesday, December 18, 2018

CINTA DASARNYA KEIMANAN

Siang hari yang cukup panas. Dono sedang duduk di bawah pohon yang rindang sambil memegang batu krikil. Lalu Dono melempar batu kerikil  dengan sangat kuat ke kali untuk menghilangkan rasa gundah di dadanya. Indro pun dateng menghampiri Dono dengan membawa buah mangga yang matang. Indro langsung duduk bersama Dono sambil memberikan buah mangga.

Dengan senang hati Dono menerima pemberian Indro. Dengan segera keduanya menguli mangga dengan gigi mereka yang tajam. Dono dengan lahap menyantap daging buah mangga dengan lahap sampai belepotan. Indro tersenyum melihat ulah Dono yang masih seperti anak kecil. Dono dengan cepat melahap buah mangga yang manis dan tersisa hanya bijinya. Sedangkan Indro masih melahap buah mangga dengan santai sambil menikmati pemandangan sekitar.

Dono beranjak dari duduknya sambil melempar biji buah mangga ke kali. Lalu Dono mencuci mukanya di air kali yang jernih sekali.

"Segar," kata Dono.

Dono kembali duduk bersama Indro yang sedang asik makan buah mangga. 

"Dono mau tambah buah mangganya!" kata Indro sambil menyodorkan buah mangga.

"Ah..gak kenyang," saut Dono.

"Oh..begitu."

Indro pun menyelesaikan makan buah mangganya dan beranjak dari duduknya menuju kali untuk membersihkan mukanya dengan air yang bersih dan jernih. Tiba-tiba Dono berteriak dengan keras "Suntuk." Indro terkejut dengan ulah Dono yang aneh. Dengan segera Indro mendekati temannya yang lagi gundah gulana.

"Dono sebenarnya kamu punya masalah apa cerita dong?" tanya Indro.

"Masalah saya sih gak rumit Indro. Cuma urusan perasaan saja kok," kata Dono.

"Kalau cuma perasaan aja sih jangan di bawa dengan emosi tetap normal aja seperti orang biasa tidak punya masalah," kata Indro.

"Itu benar sih kamu Indro. Tapi kalau teringat jadi beban. Sebenarnya saya yang salah juga sih kurang tegas dalam urusan perasaan," kata Dono.

"Semua orang yang berurusan dengan cinta pasti punya dilema. Karena masalahnya sih urusannya di gantung juga salah di langengin dengan kepastian pernikahan juga salah juga. Ujung-ujung putus. Kalau di cari pokok permasalahannya cuma ekonomi," kata Indro.

"Iya...benar kamu Indro urusannya cuma ekonomi. Padahal saya sudah lama berpacaran dengan Wulan. Niatnya sih mau menikahinya. Tapi gimana ya.....pekerjaan cuma tukang ojek. Otomatis kehidupan sehari-hari lebih pas-pasan banget," kata Dono.

"Kalau masalahnya ketahuan ekonomi kamunya lebih kerja keras lagi demi diri kamu. Bukan demi Wulan. Kan kamu belum menikah dengan Wulan  dan juga yang pertama kali membuka hatinya kan Wulan bukan kamu," kata Indro.

"Ya..iya..sih. Wulan sendiri membuka hatinya duluan. Setiap bertemu dengan Wulan terlihat banget berharap saya mengatakan suka pada dirinya. Padahal saya tahu cewek membuka hatinya sama aja membuka bajunya sendiri. Alias benteng keimanannya  sudah gak ada lagi," kata Dono.

"Ya..mau gimana lagi Dono. Kalau cewek sudah suka dengan cowok. Maka cowok yang lain hanya penghalangnya. Padahal Wulan masih di kejar-kejar dengan Rangga. Setiap hari dateng ke rumah Wulan berharap cintanya di terima. Eh malah Wulannya memberikan hatinya kepada kamu....Dono. Sedangkan kamu..Dono..pusing untuk menjalankan hidup," kata Indro.

"Mau gimana lagi.....ya seperti itulah perjalan cinta saya. Wulan gadis yang mempesona dengan kecantikannya. Banyak penjantan mengejarnya untuk mendapatkan hatinya. Tetap saja saya mendapatkannya. Alasannya sih saya tidak pencemburuan dan saya juga tipe yang bukan mendiktenya. Maka itu Wulan nyaman dengan saya. Kalau di bilang pacaran juga enggak. Malah terlihat seperti perteman saja. Maka menghilangkan kecurigaan orang dengan hubungan saya dengan Wulan. Saya juga pun pasrah kehadapan Alloh SWT. Supaya di beri petunjuk yang baik. Eeee...seling beberapa minggu..... Wulan pun..hijrah memakai hijab. Sontak hati saya pun terkejut sekali dengan kesungguhan Wulan yang berubah menjadi muslimah yang baik. Saya pun akhirnya memberanikan diri untuk menyatakan perasaan saya pada Wulan. Tapi ternyata Wulan sudah tahu dengan perasaan saya...walau belum bicara sepatah kata pun menyatakan cinta. Malah saya di suruh untuk pergi ke mesjid untuk menjalankan kewajiban sebagai muslim yang baik menegakkan sholat lima waktu. Dari situlah saya makin suka banget dengan Wulan...karena Ridho Alloh SWT melindungi dirinya. Pada akhirnya hatinya  Wulan yang terbuka hanya untuk saya sekarang tertutup oleh ke imanan. Saya sangat bersyukur sekali menemukan jodoh saya sesuai petunjuk Alloh SWT. Maka itu sekarang saya terus menjaga jarak dengan Wulan sampai waktunya tiba saya meminang Wulan dengan Bilmilahirohmannirohim," kata Dono.

"Kalau begitu sih gak ada masalah lagi kan Dono. Cuma sekarang bagaimana mendapatkan rezeki yang banyak untuk menikahi Wulan?," kata Indro.

"Itulah...masalahnya? Saya ingin membahagiakan orang saya cintai dengan harta yang halal. Tapi namanya hidup dari keluarga  miskin....ya..pas-pasan banget. Sedangkan Wulan dari anak orang kaya," kata Dono.

"Dono...jangan ngomongin status kalau urusan cinta tambah jadi beban. Yang benar adalah kamu bertangungjawab demi orang kamu cintai. Kan lampu hijau sudah di dapetin dari orangtua Wulan. Karena kesungguhan kamu Dono dalam menjalankan hidup layaknya muslim yang baik dan mengalahkan Rangga dengan segala kekayaannya untuk mendapatkan Wulan," kata Indro.

"Itu semuanya memang benar. Tapi urusan hubungan saya menangkan semuanya dengan pertolongan Alloh SWT. Tetap saja saya manusia biasa...yang banyak kekurangan...berusaha lebih demi orang saya cintai," kata Dono.

"Kan saya sudah bilang...jangan demi Wulan tapi demi diri kamu dulu urusan menggapai rezeki yang lebih baik. Nanti Alloh SWT yang akan mengerakkan Wulan lagi demi kamu," kata Indro.

"Benar..juga. Kalau begitu saya lebih baik kerja dari pada kelamaan nyantai di sini. Terima kasih Indro atas semua sarannya," kata Dono.

"Iya sama-sama," jawab Indro.

Dono  dan Indro beranjak dari duduk menuju pulang ke rumah masing -masing. Seperti biasanya Dono langsung bergerak cepat untuk bekerja dengan motornya menjadi tukang ojek.

Karya: No

INFORMAN

Malam begitu indah sekali di kota Batam. Dono berjalan menuju taman kota. Rasa letih mulai terasa oleh Dono karena melakukan perjalanan jauh. Dono langsung duduk yang menurutnya nyaman dan langsung memanggil seorang pemuda yang berjual minuman aqua botol. Pemuda yang menjajakan minuman menghampiri Dono dan menyodorkan salah satu jualannya. Dengan penuh sigap Dono langsung mengambil botol aqua yang di sodorkan padanya dan langsung membayar dengan uang pas.

Pemuda langsung berterima kasih dan mulai pergi menjauh dari Dono dan menjajakan kembali jualannya. Sambil asik minum air segar dari botol aqua untuk menghilangkan dahaga. Dono sambil menyaksikan pemandangan yang lumayan seru. Banyak orang-orang yang berkumpul di taman kota untuk bermain dan ngobrol dengan teman-teman. 

Lalu tiba-tiba duduk di sebelah Dono seorang pemuda yang tampan bersama pacarnya yang cantik jelita. Dono sedikit terkejut sekali sampai berkata "Kamu Indro.....sama dengan Saskia."

"Yoi....," saut Indro.

"Jadi kalian jadian pacarannya...?," tanya Dono.

"Lihat..sendiri...kami berdua jalan bareng."

Saskia terlihat diam dam malu di lihat Dono. Tetap saja Dono mengerti keadaan Indro dan Saskia yang lagi kasmaran.

"Oh iya..tumben main ke sini sendirian mana demenan kamu Dono?." tanya Indro.

"Ah itu sih gak usah di tanya urusan itu. Saya lagi ingin sendiri saja."

"Ohhh..sendiri."

"Gimana keadaan kota Batam ini setelah saya pulang ke Jakarta?."

"Cerita kota Batam ini....masih sama Dono. Masih tahap pertumbuhan ekonomi. Sedangkan masalah kejahatan di masyarakat seperti biasanya masih banyak penipu dan pencopet. Ya...namanya juga banyak orang yang merantau ke kota ini agar bisa jadi sukses dan kaya. Ternyata gagal dan menjadi orang brengsek."

"Tindakan dari pihak berwajib?," tanya Dono.

"Ah..itu sih.....gak ada gunanya. Polisi mondar-mandir pun untuk menjaga keamanan masih ada kejahatan di tempat biasa. Maklum penjahatnya berpura-pura menjadi pahlwan alias penolong. Saat kesempatan ada baru deh menipu dan mencuri. Maklum Dono...haram halam hantam di kota ini."

"Jadi bener dong infonya. Kalau banyak orang yang merantau di kota Batam bukan orang baik saja. Malahan orang jahat alias berengsek."

"Ya..begitulah. Nama juga kota Batam....... Harapan dan impian semua orang ke sini menjadi sukses dan kaya. Tapi kenyataan nihil kalau tidak di imbangi dengan skill."

"Kalau begitu saya lebih berhati-hati."

"Ya..udah kalau begitu saya mau jalan lagi sama Saskia."

"Ya...."

Indro dan Saskia pun meninggalkan Dono yang sedang duduk sendirian. Berdasarkan informasi yang di dapatkan Indro dengan santai mengeluarkan Hp langsung mengetik beberapa lokasi tempat kejahatan dan di kirimkan ke temannya di kepolisian. Setelah itu baru Dono pulang ke kosannya. Pesan singkat masuk ke Hpnya teman Dono bernama Kasino. Dengan tanggap Kasino yang bekerja di kepolisian bergerak menyisisiri area yang banyak terjadi kejahatan beserta anggota polisi lainnya.

Selang beberapa saat pergerakan Kasino dan kawan-kawan mendapatkan hasil. Kasino menangkap preman yang berpura-pura menjadi tukang parkir dan berlangganan main game online di warnet dan sekaligus salah satu penjual narkoba berjenis sabu-sabu. Sedang anggota polisi yang lain mengamankan anak-anak jalan yang nakal kerjaannya ngelem. Kasino dan anggota polisi membawa para penjahat ke kantor untuk di diperiksa dan di penjara. Saat mau pulang. Kasino mendapat kiriman pesan singkat lagi. Ternyata ada warga masyarakat yang menyamar menjadi polisi untuk mencari keuntungan. Kasino langsung pergi ke lokasi dan menangkap penjahat tersebut.

Kasino pun terkejut sekali dengan sindikat yang nyamar jadi anggota polisi ini. Ternyata bukan orang pribumi saja tetapi orang cina juga.  Kasino beserta anggota polisi langsung membawa para penjahat ke kantor polisi. Kasino merasa lega dan tenang sekali setelah menangkap para pembuat onar di kota Batam.  

Semenjak itulah kota Batam menjadi lebih aman dan damai karena Dono dateng ke kota Batam dan memberikan informasi di mana-mana terjadi kejahatan sampai polisi yang asli pun di tangkap karena salah menggunakan wewenangnya sebagai penegak hukum alias korupsi dijalanan.

Monday, October 22, 2018

ASUMSI

Pagi yang cukup cerah di kediaman Dono. Terlihat Dono lagi asik nonton Tv. Indro langsung duduk di samping Dono dan asik makan mengunyah makanan. Dono yang lagi fokus nonton berita tentang penembakan peluru nyasar. Indro langsung memukul pundaknya Dono cukup kuat.  Dengan terkejutnya Dono sampai berkata "copot-copot."

"Apa yang copot Dono?."

"Ya jantung saya."

"Makanya jangan serius banget nonton berita. Sampai-sampai saya duduk dekat kamu malah gak sadar."

"Masalahnya Indro...Saya lagi asik nonton berita tentang penembakan di gedung DPR. Berdasarkan ceritanya sih peluru nyasar. Tapi kalau kena manusiakan jadi pembunuhan kan?."

"Ia..... Tapi di Indonesia ada hukum yang mengaturnya untuk menyelesaikan permasalahan yang di proses supaya selesai dengan baik. Agar tidak timbul asumsi yang aneh-aneh. Karena banyak berita bohong di Indonesia. Pada akhirnya susah membedakan antara jujur atau bohong. Penonton jadi dibingungkan denga ulah pembuat berita. Pada akhirnya asumsi penonton bukan-bukan. Apalagi urusan dengan nyawa. Harus tegas urusan hukumnya. Karena sengaja atau tidak sengaja tetap di nyatakan bersalah. Alias telah membunuh manusia atau juga disebut menghilangkan nyawa manusia. Hukumannya berat sekali. Karena nyawa lebih berharga dari harta."

"Jadi bisa di kategorikan teror penembakan..dong."

"Bisalah....karena mengancam nyawa. Maka itu hukum di Indonesia mencegah penggunaan senjata api. Jadi gak sembarangan orang menggunakan senjata api."

"Jadi orang menembakan senjata api ke gedung DPR bersalah ya."

"Iya....karena faktor utama adalah keteledoran dalam penggunaan senjata api."

"Wah otomatis deh di penjara....."

"Iya itulah hukuman bagi orang teledor dalam penggunaan senjata api."

"Jadi kasusnya di tutup dong."

"Iya di tutup."

Dono kembali asik nonton acara selanjutnya dan Indro dengan santai juga nonton Tv sambil mengunyah makan. Kadang Dono pun meminta makan Indro dan langsung di beri dengan gratis. Dono dengan asik mengunyah makanan
sambil nonton Tv.


Karya: No

CAMPUR ADUK

JAB PYAAR KISISE HOTA HAI

Malam hari. Setelah nonton Tv yang acara menarik dan bagus....DA8 di chenel INDOSIAR, ya seperti biasa sih Budi dengan santai di depan rumah...

CAMPUR ADUK