CAMPUR ADUK

Thursday, October 21, 2021

SEKEDAR OBROLAN

Eko dan Budi duduk di depan rumah Eko, ya sambil menikmati minum kopi makan gorengan.

"Berita di Tv masih membicarakan tentang intoleransi dan juga radikalisme," kata Budi.

"Nama juga berita di Tv," kata Eko.

Eko mengambil bakwan goreng di piring, ya di makan dengan baik bakwan goreng.

"Kadang berita seperti itu di abaikan, ya tidak di anggap karena manusia terlalu sibuk dengan kerjaan dan juga keilmuannya rendah, ya dari tingkat SD sampai SMA. Sedangkan dari tingkat perkuliahan sampai mendapat gelar sarjana, ya telah memahami dengan baik berita tentang intoleransi dan radikalisme, ya sangat berbahaya jika di jalankan karena menimbulkan kekacauan dan juga perpecahaan antara suku sampai agama," kata Budi.

"Orang yang berpendidikan tinggi kan lebih banyak lagi membedah isi buku dan juga penelitian ini dan itu. Di sebut golongan intelektual lah," kata Eko.

Eko yang telah habis makan bakwan goreng, ya mengambil lagi bakwan goreng di piring, ya di makan lah bakwan goreng.

"Lulusan SMA. Banyak kurang ilmunya. Ya harus banyak belajar dari keadaan saja, ya dari berita di Tv saja di manfaatkan dengan baik untuk menambah khasanah keilmuan ku," kata Budi.

Budi mengambil tahu goreng di piring, ya di makan dengan baik tahu goreng.

"Yang penting mau belajar," kata Eko.

Eko mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi lah.

"Iya sih. Aku sadar dengan keadaan ku. Jadinya aku belajar dengan baik," kata Budi.

Budi mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi lah. Eko menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Sedangkan berita di Tv tentang artis, ya masih saja berita ini dan itu....penuh dengan kontraversi kan....Budi?!" kata Eko.

Budi menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Ya....berita artis dari dulu sampai sekarang, ya selalu kontraversi ini dan itu. Sensasi ini dan itu," kata Budi.

"Tetap saja sekedar berita saja," kata Eko.

"Iya sih sekedar berita saja," kata Budi.

"Ya lebih baik main catur," kata Eko.

"Ok main catur," kata Budi.

Eko telah mengambil papan catur di bawah meja dan papan catur di taruh di atas meja. Eko dan Budi menyusun dengan baik bidak catur di atas papan catur.

"Eko. Kenapa orang telah mendapatkan gelar Haji dan juga gelar pendidikan agama, ya gelar profesor, ya tetap tidak bisa mendengarkan roh?!" kata Budi.

"Kalau itu sih. Aku tidak tahu lah. Aku cuma lulusan SMA?!" kata Eko.

"Memang sih aku dan Eko lulusan SMA saja sih.  Masalahnya kenapa pemuda itu bisa mendengarkan roh ya?!" kata Budi.

"Mungkin karena semua dasar ilmu. Kalau ilmu benar, ya berarti bisa mendengarkan roh," kata Eko.

"Berarti. Pemuda yang bisa mendengarkan roh, ya orang jujur karena ilmu agamanya benar. Sedangkan yang tidak bisa mendengarkan roh, ya ilmu tidak jujur, jadi ilmu agama tidak benar, ya Eko?!" kata Budi.

"Yaaaaa main kemungkinan saja," kata Eko.

"Jadi main kemungkinan, ya antara iya dan tidak. Ya sudahlah. Sekedar obrolan saja!" kata Budi.

"Eeeeemmmmm," kata Eko.

Eko dan Budi main catur dengan baik.

JANDA

Budi dan Abdul duduk di depan rumah Budi, ya sambil menikmati minum kopi dan makan gorengan.

"Janda," kata Budi.

"Ada apa dengan Janda. Jangan-jangan Budi dekat dengan Janda. Sampai ngomong Janda?!" kata Abdul.

Abdul mengambil tahu goreng di piring, ya di makan dengan baik tahu goreng.

"Aku sih tidak dekat dengan Janda. Hanya saja ada cerita tentang Janda," kata Budi.

Budi mengambil bakwan goreng di piring, ya di makan dengan baik bakwan goreng lah.

"Oooo Budi tidak dekat dengan Janda. Hanya ada cerita tentang Janda. Cerita Budi!" kata Abdul.

"Baiklah aku cerita tentang Janda. Seorang cewek miskin menikah dengan cowok miskin. Hidup penuh cerita kemiskinan lah. Sampai-sampai ketika beras tidak ada di dapur untuk di jadikan nasi, ya makananlah. Ceweknya, ya meminta beras sama ibunya untuk menyambung hidup. Ibunya dari awal telah menasehati anaknya agar tidak menikah dengan pemuda miskin dan tidak jelas asal usulnya. Tetap saja ceweknya ngeyel karena cinta sama cowoknya. Sampai suatu hari, ya cowoknya ketahuan selingkuh lah, ya sampe menghamili selingkuhannya lah. Mau enggak mau, ya cewek itu cerai dari suaminya dan menyesal karena memilih cowok miskin yang tidak jelas asal usulnya karena cinta. Cewek itu jadi janda deh," ceritanya Budi.

"Oooo begitu ceritanya. Ceweknya buta karena cinta sama cowoknya," kata Abdul.

Abdul mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi.

"Ceweknya tidak mau mendengarkan nasehat ibunya, ya tetap ngeyel dengan cintanya sama cowoknya," kata Budi.

Budi mengambil gelas berisi kopi di meja, ya kopi di minum dengan baik. Abdul menaruh gelas berisi kopi meja.

"Cewek miskin. Memang keadaannya sih. Ya harusnya belajar dari keadaanya, ya agar hidup bisa berubah," kata Abdul.

Budi menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Memang seharusnya belajar dari keadaan dirinya miskin dan berusaha mengubah nasifnya dengan kerja, ya bukannya menikah sih. Berharap pada cowok ternyata cowoknya tidak bisa di jadikan panutan dengan baik," kata Budi

"Nasifnya seorang cewek miskin dan juga janda lagi," kata Abdul.

"Kelanjutan ceritanya. Cewek itu punya anak sih, ya di urus dengan baik dan cewek itu kerja dengan baik dengan kemampuan dirinya cewek itu. Hasil dari kerjanya, ya pas-pasan lah. Cewek itu statusnya janda, ya agak genit gitu. Karena sudah status janda, ya tidak pernah di belay lah. Maka itu cewek itu dekat dengan cowok, ya ingin sih meluluhkan hati cowok. Agar cowok itu menikahi cewek itu, ya janda itu," kata Budi.

"Oooooo begitu cerita kelanjutannya," kata Abdul.

"Yang aku pertanyakan itu. Cewek kalau sudah tidak belay cowok jadi genit ya Abdul?!" kata Budi.

"Ya iyalah. Tapi tidak semuanya cewek sih. Tergantung dari ceweknya sih," kata Abdul.

"Kalau begitu sih. Agak jauh-jauh dari janda ah. Takut kena janda. Kan perawan masih banyak," kata Budi.

"Lebih baik jauh dari janda. Dekatnya sama perawan," kata Abdul menegaskan omongan Budi.

"Ya sudahlah lebih baik main catur saja!" kata Budi.

"Ok. Main catur!" kata Abdul.

Budi telah mengambil papan catur di bawah meja, ya di taruh di atas meja papan catur. Budi dan Abdul menyusun dengan baik bidak catur di papan catur. Keduanya main catur dengan baik.

Wednesday, October 20, 2021

SAMA AJA

Budi dan Eko duduk depan rumah Budi, ya sambil menikmati minum kopi dan makan gorengan.

"Hidup artis enak ya Eko?! " kata Budi.

"Hidup artis enak. Kalau menurut ku sama aja dengan keadaan kita. Harus bekerja keras demi hidup ini layak dengan baik, ya jauh dari kemiskinan," kata Eko.

Eko mengambil tahu goreng di piring, ya di makan dengan baik tahu tahu goreng. 

"Urusan kerja keras sih, ya memang sama aja dengan kita. Tujuannya jauh dari kemiskinan. Yang aku maksud sih.....tenarnya seperti bintang bersinar di kagumi semua orang karena ilmunya," kata Budi. 

Budi mengambil bakwan goreng di piring, ya bakwan di makan dengan baik bakwan goreng lah. 

"Kan zaman SMA, ya sudah merasakan di kagumi sama teman-teman karena band kita bagus, ya itu pun sudah cukup bagi ku," kata Eko. 

"Ya bagi Eko sudah cukup. Bagi ku sih masih kurang sih," kata Budi. 

"Budi. Budi....demi tenar seperti bintang yang di puja-puja," kata Eko. 

Eko mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik lah kopi. 

"Kalau di pikir dengan baik dengan keadaan aku yang sibuk kerja demi hidup, ya aku memang cuma ingin saja tenar seperti bintang yang di puja-puja," kata Budi. 

Budi mengambil gelas kopi di meja, ya di minum dengan baik kopilah. Eko menaruh gelas berisi kopi meja. 

"Keadaan juga menyadarkan Budi. Sibuk kerja demi hidup. Sedangkan ingin tenar seperti bintang di puja-puja, ya sekedar saja keinginan," kata Eko. 

Budi menaruh gelas berisi kopi di meja. 

"Aku telah dewasa. Aku tahu memilih yang baik untuk ku, ya sampai urusan cewek lah," kata Budi. 

"Memang urusan memilih, ya harus pemikiran yang matang, ya dewasa. Termasuk urusan cewek. Karena seumur hidup kita harus bersama dengan cewek yang kita sukai, ya menerima kekurangan dan kelebihan cewek yang kita sukai," kata Eko. 

"Persoalan tentang cerita perselingkuhan di acara Tv, ya di bicarakan dengan baik. Sekedar obrolan saja," kata Budi. 

"Urusan tentang perselingkuhan di acara Tv, ya bicarakan dengan baik. Memang sekedar obrolan saja. Ya baik di ambil. Yang buruk di buang jauh-jauh. Jadi bahan pembelajaran," kata Eko. 

"Omongan Eko kaya orang kuliahan saja. Padahal hanya lulusan SMA," kata Budi. 

"Kan aku bergaul dengan siapa pun, ya jadinya aku ambil ilmu orang-orang dari tingkat ilmunya sama dengan ku sampai lebih dari aku. Tujuannya aku tetap belajar dalam keadaan pergaulan. Yang baik di ambil. Yang buruk di buang jauh-jauh," kata Eko. 

"Memang Eko. Dengan keadaan kita yang hanya lulusan SMA, ya harus bisa beradaptasi dengan baik dengan lingkungan. Apalagi di pengaruhi dengan perkembangan zaman saat ini teknologi dan informasi," kata Budi. 

"Belajar di mana pun dengan keadaan apapun, ya jadinya pintar," kata Eko. 

"Pintar," kata Budi. 

Budi mengambil tahu goreng di piring di makan dengan baik, ya tahu gorenglah. 

"Hidup ini terus berjuang demi tujuan yang kita inginkan tercapai," kata Eko. 

"Ketika perjuangan kita telah berhasil, ya sujud syukur dari doa dan usaha yang di jalankan dengan baik," kata Budi. 

Budi mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi lah. 

"Omongan Budi benar sekali. Ketika telah berhasil dari apa yang di usahakan, ya pastinya sujud syukur karena doa dan usaha yang di jalankan dengan baik, ya menghantarkan pada keberhasilan," kata Eko mengaskan omongan Budi. 

Budi menaruh gelas berisi kopi di meja. 

"Main catur saja Eko!" kata Budi. 

"Ok. Main catur!" kata Eko. 

Budi mengambil papan catur di bawah meja, ya papan catur di taruh di atas meja. Budi dan Eko menyusun bidak catur dengan baik di atas papan catur. Keduanya main catur dengan baik. 

JANJI PUTIH

Budi ke rumah Abdul dengan menggunakan motor lah. Abdul duduk di depan rumah sedang main gitar dan bernyanyi, ya sambil menikmati minum teh gelas dan makan gorengan. 

Lirik lagu yang dinyanyikan Abdul dengan judul 'Janji Putih' :

Danke banya lai Tuhan
Su kasih dia par beta
Inikah tulang tusuk
Yang Tuhan ambel dar beta?
Bahagia sio nona e
Beta bahagia, sayang
Danke banya sayang e
Mau hidop deng beta, selamanya, ho-oh
Beta janji, beta jaga
Ale untuk selamanya
Beta janji akan setia
Hanya untuk satu cinta
Ini cinta yang beta punya
Dari relung hati jiwa
Cuma par ale sajalah
Cinta ni abadi s'lamanya, ho-wo-ho
Oh-uh-oh, cinta ni abadi s'lamanya
Beta janji, beta jaga
Ale untuk selamanya
Beta janji akan setia
Hanya untuk satu cinta
Ini cinta beta punya
Dari relung hati jiwa
Cuma par ale sajalah
Cinta ni abadi s'lamanya
Beta janji, beta jaga
Ale untuk selamanya
Beta janji akan setia
Hanya untuk satu cinta, oh
Ini cinta
(Beta punya) Beta punya
(Dari relung hati jiwa) Hu-hu
Cuma ale, nona
(Cuma par ale sajalah)
Cuma ale, nona
Cuma par ale sajalah
Cinta ni abadi (cinta ni abadi)
Selamanya

***

Budi sampai di rumah Abdul, ya memarkirkan motor dengan baik di halaman depan rumah Abdul lah. Budi duduk dengan baik. Abdul selesai menyanyi dan main gitar.

"Budi. Eko mana?!" kata Abdul.

Abdul menaruh gitar di samping kursi.

"Ooooo Eko. Masih ada urusan dengan teman kerjanya. Setelah urusan selesai, ya Eko ke sini. Ngumpul sama kitalah," kata Budi.

"Eko masih ada urusan toh," kata Abdul.

"Abdul nyanyiin lagu apa barusan?!" kata Budi.

"Judul lagunya 'Janji Putih'...," kata Abdul.

"Oooooo 'Janji Putih'...," kata Budi.

"Cowok mencari cewek yang baik untuk di jadikan kekasih hati, ya tulang rusuk sejatinya cowok, ya cewek itu," kata Abdul.

"Omongan Abdul sih, ya menuju pada Putri lagi," kata Budi.

"Kalau memang omongan ku mengarah pada Putri kenapa ?!" kata Abdul.

"Ya gak kenapa-kenapa sih. Lumrah bagi cowok yang menyukai cewek yang di sukainya. Harapannya, ya ingin bersama dengan cewek yang di sukai. Tapi kenyataan tidak bisa bersama karena keadaan kondisi Abdul," kata Budi.

"Nama juga nasif aku. Orang miskin yang berusaha menjadi orang yang mampu dengan baik. Menyukai cewek, ya teman SMA. Status sosial, ya aku orang miskin dan Putri orang kaya," kata Abdul.

"Memang nasif orang miskin, ya aku sama lah. Berusaha dengan baik, ya agar jadi orang mampu. Berusaha juga mendapatkan cewek yang cantik dan kaya. Abdul masih mending, ya menyukai teman SMA, ya Putri. Jelas orang yang di sukai Abdul. Sedang aku, ya masih bertualang mencari cewek yang aku sukai dengan baik," kata Budi.

"Aku telah berjanji pada diri ku, ya ingin menyatakan cinta pada Putri. Walau pun di tolak, ya tidak ada masalah lah. Nama juga usaha," kata Abdul.

"Abdul telah berjanji untuk menyatakan cinta sama Putri, tapi tahu resikonya di tolak sama Putri. Kalau di terima dengan baik sama Putri, ya janji putihnya Abdul selalu mencintai Putri dengan baik kan Abdul?!" kata Budi.

"Iyalah kalau di terima Putri. Aku berjanji dengan baik, ya bisa di bilang janji putih pada Putri untuk selalu mencintainya dengan baik," kata Abdul.

"Putih tanda kesucian. Ya cinta Abdul penuh dengan kesucian dengan janjinya, ya selalu mencintai Putri dengan baik," kata Budi.

"Emmmmm," kata Abdul.

Eko dateng ke rumah Abdul, ya Eko memarkirkan motornya dengan baik di halaman depan rumahnya Abdul.

"Akhirnya datang juga Eko," kata Abdul.

"Emmm," kata Budi.

"Abdul, Budi sedang asik ngobrol apa?!" kata Eko

Eko duduk dengan baiklah.

"Ngobrol tentang janji putihnya Abdul," kata Budi.

"Janji putih kaya lagu saja?!" kata Eko.

"Memang," kata Budi dan Abdul bersamaan.

"Oooooo jadi beneran lagu toh!" kata Eko.

"Eko sudah enak, ya sudah mendapatkan kekasih hatinya, ya Purnama. Jadi telah memenuhi janji pada diri untuk selalu mencintai Purnama dengan baik, ya bisa di bilang janji putih sih," kata Budi.

"Kalau mau di bilang urusan aku dan Purnama....janji putih, ya bolehlah. Semua berkat dari usaha dan doa," kata Eko.

"Memang untuk mendapatkan cewek yang di sukai, ya dengan usaha dan juga doa," kata Abdul menegaskan omongan Eko.

"Kadang ujiannya tetap sama. Di tolak sama cewek yang di sukai," kata Budi.

"Resikonya," kata Eko.

"Resiko di tolak cewek, ya jadinya patah deh, ya sakit di hati," kata Abdul.

"Ya sudahlah. Abdul, Eko. Lebih baik main kartu remi saja!" kata Budi.

"Ok," kata Abdul dan Eko bersamaan.

Abdul mengambil kartu remi di bawah meja dan di kocok dengan baik kartu. Abdul membagikan kartu remi dengan baik, ya main cankulan lah. Ketiganya main kartu remi dengan baik, ya sambil menikmati makan gorengan dan minum teh gelas lah.

SATU NAMA TETAP DIHATI

Abdul duduk di depan rumah, ya sedang main gitar dan bernyanyi, ya sambil menikmati minum kopi dan juga makan gorengan.

Lirik lagu yang dinyanyikan Abdul dengan judul 'Satu Nama Tetap Dihati' :

Ada satu nama suatu masa dulu
Pernah bawa dan beri bahagia
Hingga saat ini
Masih ku abadikan di dalam hatiku
Dengan satu rasa dalam satu cinta
Sewaktu kita bersama dulu
Hanya kita yang tahu
Dalam mana telah cinta
Kita memutik
Walau akhir ini seakan terpisah
Oleh masa dan suasana tak dipinta
Namun percayalah tidak sedikit pun
Kasihku kepadamu surut dan berubah
Pasti suatu masa kan bersama lagi
Engkau dan aku pasti jua nikmati
Cinta yang istimewa
Walau ku tak pasti bilakah masanya
Kau dan aku akan bertemu
Untuk kita kembalikan keindahan dulu
Walau akhir ini seakan terpisah
Oleh masa dan suasana tak dipinta
Namun percayalah tidak sedikit pun
Kasihku kepadamu surut dan berubah
Pasti suatu masa kan bersama lagi
Engkau dan aku pasti jua nikmati
Satu cinta yang indah
Walau ku tak pasti bilakah masanya
Kau dan aku akan bertemu
Untuk kita kembalikan keindahan dulu
Dengan satu rasa dalam satu cinta
Sewaktu kita bersama dulu
Kusemat di dalam hati
Hingga kita kan bertemu
Kemudian hari

***

Budi sampai di rumah Abdul, ya memarkirkan dengan baik motornya di halaman depan rumah Abdul. Budi duduk dengan baik. Abdul selesai main gitar dan bernyanyi.

"Budi mana Eko?!" kata Abdul.

"Eko ada urusan dengan Purnama," kata Budi.

"Jadi Eko tidak main ke sini karena ada urusan dengan Purnama. Ya enggak masalah sih," kata Abdul.

"Oiya Abdul. Habis nyanyiin lagu apa?!" kata Budi.

"Lagunya Eye dengan judul 'Satu Nama Tetap Dihati'..." kata Abdul.

"Sayang sekali. Aku tidak ada nama cewek yang ada di dalam hati ku," kata Budi.

"Aku pahamlah keadaan Budi yang berjuang mendapatkan cewek yang di sukai Budi. Maka itu, ya mana ada nama cewek yang terukir di hati Budi," kata Abdul.

"Nama juga berjuang demi sesuatu yang diinginkan. Kan sama aja dengan Abdul, ya mengukir nama cewek di sukai di hati Abdul, ya Putri!" kata Budi.

"Ya aku akui sih. Satu nama yang ada di hati ku, ya terukir dengan baik Putri," kata Abdul.

"Cewek yang berkesan untuk Abdul dari zaman SMA sampai sekarang," kata Budi.

"Ya begitulah ceritanya," kata Abdul.

"Oooo iya Abdul. Gimana dengan kerjaan Abdul?!" kata Budi.

"Baiklah. Gimana dengan kerjaan Budi?!" kata Abdul.

"Ya Baiklah," kata Budi.

"Syukur alhamdulillah. Urusan kerjaan, ya berjalan dengan baik," kata Abdul.

"Emmm," kata Budi.

"Oooo iya Budi ngopi apa enggak?!" kata Abdul.

"Ngopilah!" kata Budi.

"Ok aku buatkan," Abdul.

Abdul beranjak dari duduknya, ya membawa gitarnya. Abdul masuk ke dalam rumah dan menaruh gitar di atas meja ruang tamu, ya Abdul langsung ke dapur untuk membuat kopilah. Budi mengambil koran di meja, ya di baca dengan baik, ya sambil makan gorengan lah. 

"Berita di koran, ya keadaan kota Bandar Lampung, ya menarik juga beritanya," kata Budi.

Budi membaca terus berita ini dan itu, ya sampai berita tentang artis yang ini dan itulah. Abdul selesai membuat kopi di dapur, ya di bawa dengan baik kopi ke depan rumah. Di depan rumah, ya Abdul menaruh gelas berisi kopi di meja dengan baik. Abdul duduk dan berkata "Kopinya Budi!"

Budi menghentikan baca korannya, ya koran di taruh di meja. 

"Kopi," kata Budi.

Budi mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopilah.

"Orang-orang yang punya cita-cita jadi penyanyi dan ikut dalam perlombaan ajang menyanyi di acara Tv. Sampai akhirnya perjuangan orang-orang itu menjadi juara menyanyi. Hebat juga perjuangannya," kata Abdul.

Budi menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Memang sih...hebat perjuangannya sampai jadi juara. Ya sama halnya dengan juara di bidang olahraga, ya termasuk orang-orang hebat dalam perjuangannya meraih gelar juara," kata Budi.

"Hidup penuh dengan perjuangan," kata Abdul.

"Emmm," kata Budi.

"Seadainya aku sudah jadi sukses. Aku segera ke Jakarta untuk menemui Putri dan menyatakan perasaan cinta ku, ya melamarnya lah," kata Abdul.

"Seandainya apa beneran itu?!" kata Budi.

"Masih seandainya. Kan kenyataannya aku masih berjuang dengan baik, ya agar usahaku berkembang dengan baik," kata Abdul.

"Ok. Ok. Ok. Abdul masih berjuang kenyaataannya. Maka itu seadainya!" kata Budi.

"Hal yang aku takutin, ya di tolak sama Putri," kata Abdul.

"Cewek biasa menolak cowok karena cowoknya belum masuk kreteria cewek dan juga ceweknya sudah punya cowok," kata Budi.

"Apa Putri sudah punya pacar ya?!" kata Abdul.

"Mana aku tahu. Putri punya pacar atau enggak?!" kata Budi.

"Sudahlah ngomongin tentang Putri. Satu nama tetap di hati ku," kata Abdul.

"Emmmm," kata Budi.

"Main catur saja!" kata Abdul.

"Ok. Main catur!" kata Budi.

Abdul telah mengambil papan catur di bawah meja dan di taruh di atas meja papan catur. Abdul dan Budi menyusun dengan baik, ya bidak catur di papan catur. Keduanya main catur dengan baik. Sedangkan Eko, ya sedang ngobrol dengan asik sama Purnama di ruang tamu. Sedangkan Putri yang di sukai Abdul dan keberadaan Putri di Jakarta. Putri sedang ngobrol asik di rumahnya, ya di ruang tamu dengan teman-teman kuliah, ya ceweklah.

Tuesday, October 19, 2021

GALA GALA

Budi dan Eko duduk di depan rumah Budi sedang bernyanyi dan main gitar, ya Budi lah. Ya Budi dan Eko sambil menikmati minum kopi dan juga makan gorengan.

Lirik lagu yang di nyanyikan Budi dan Eko berjudul 'Gala Gala' :

Kini 'ku telah kembali
Kembali padamu, kasih
Setelah lama kutinggal pergi
Lama sudah 'ku menanti
Menanti memadu kasih
Penuh rasanya rindu di hati
Oh, tiada terkira
Rindu segala-gala-galanya
Oh, tiada terkira
Rindu segala-gala-gala-gala-galanya
Oh, tiada terkira
Rindu segala-gala-galanya
Oh, tiada terkira
Rindu segala-gala-gala-gala-galanya
Kurindu gayamu ketika bercanda
Tawa lepas renyah ceria
Kurindu gayamu ketika bermanja
Meluluhkan segenap jiwa
Kurindu bagaimana engkau membujuk
Ketika 'ku merajuk
Kurindu bagaimana engkau mengasihi
Ketika kubersedih
Kini 'ku telah kembali
Kembali padamu, kasih
Setelah lama kutinggal pergi
Lama sudah 'ku menanti
Menanti memadu kasih
Penuh rasanya rindu di hati
Oh, tiada terkira
Rindu segala-gala-galanya
Oh, tiada terkira
Rindu segala-gala-gala-gala-galanya
Oh, tiada terkira
Rindu segala-gala-galanya
Oh, tiada terkira
Rindu segala-gala-gala-gala-galanya
Kurindu gayamu ketika bercanda
Tawa lepas renyah ceria
Kurindu gayamu ketika bermanja
Meluluhkan segenap jiwa
Kurindu bagaimana engkau membujuk
Ketika 'ku merajuk
Kurindu bagaimana engkau mengasihi
Ketika kubersedih

***

Budi dan Eko berhenti bernyanyi, ya Budi berhenti main gitar.

"Menyukai cewek, ya selalu rindu tentang cewek itu, ya kan Eko?!" kata Budi.

"Memang sih. Menyukai cewek, ya selalu rindu ingin bersamanya. Cinta segala-galanya tentang diri cewek tersebut yang di sukai dengan baik," kata Eko menegaskan omongan Budi.

"Ketika cewek curhat tentang dirinya ada masalah yang ini dan itu, ya sebagai cowok harus mengerti keadaan diri cewek tersebut. Cowok harus memberikan masukan yang baik, ya agar urusan masalah cewek itu cepat selesai," kata Budi.

"Kadang masukan cowok ke cewek, ya enggak kena kepermasalahan cewek. Jadinya cewek masih kesal dengan persoalaan yang menimpa dirinya," kata Eko.

"Iya sih kadang masukan cowok ke cewek, ya enggak kena kepermasalahan cewek. Cowok telah berusaha dengan sebaik mungkin mengertiin keadaan cewek," kata Budi yang menegaskan omongan Eko.

"Sebaliknya, ya kadang cewek berusaha mengertiin keadaan cowok yang ada masalah. Pada cowok bertindak dengan baik menyelesaikan masalahnya, ya dengan bantuan teman-temannya. Seperti ketika aku punya masalah, ya Budi menolong aku. Begitu juga ketika Budi punya masalah, ya aku menolong Budi dengan baik. Jadinya saling tolong menolong sesama teman," kata Eko.

"Teman yang baik selalu tolong menolong untuk menyelesaikan masalah yang menimpa. Nama juga ujian hidup," kata Budi.

"Sedangkan cewek, ya menyelesaikan masalahnya dengan cara sendiri dan juga bantuan teman-temannya cewek lah," kata Eko.

"Jadinya sih cewek dan cowok, ya sama aja ketika menyelesaikan masalah. Dengan cara sendiri dan juga bantuan teman-temannya," kata Budi menegaskan omongan Eko.

"Aku pinjam gitarnya Budi!" kata Eko.

"Niiiieeee," kara Budi.

Budi memberikan gitar pada Eko dan Eko mengambil gitar dari tangan Budi lah. Eko memainkan gitar dan bernyanyi. Budi, ya ikutan nyanyilah.

Lirik lagu yang dinyanyikan Eko dan Budi dengan judul 'Cuma Kamu' :

Haa-haa
Hmm-hmm
Haa-haa
Hm-hm-hm-hmm
Cuma kamu sayangku di dunia ini
Cuma kamu cintaku di dunia ini
Tanpa kamu sunyi kurasa dunia ini
Tanpa kamu hampa kurasa dunia ini
Cuma (cuma) kamu (kamu) sayangku di dunia ini
Cuma (cuma) kamu (kamu) cintaku di dunia ini
Tiada kalimat dapat melukiskan
Betapa sayangku kepada dirimu
Tiada ibarat sebagai umpama
Betapa cintaku kepada dirimu
Itu dapat kurasa dari pandang matamu
Itu dapat kurasa dari belai tanganmu (wo-ho-ho-hoo-hoo)
Cuma kamu sayangku di dunia ini
Cuma kamu cintaku di dunia ini
Tanpa kamu sunyi kurasa dunia ini
Tanpa kamu hampa kurasa dunia ini
Cuma (cuma) kamu (kamu) sayangku di dunia ini
Cuma (cuma) kamu (kamu) cintaku di dunia ini

***

Eko dan Budi selesai menyanyikan lagu, ya Eko menyelesaikan main gitarnya. Gitar di taruh Eko di samping kursi. Budi mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi lah.

"Cuma Purnama yang aku sukai," kata Eko.

Eko mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopilah. Budi menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Memang sih Eko mencintai Purnama dengan baik," kata Budi.

Eko menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Nama juga kisah cinta aku dan Purnama. Rindu segala-galanyalah," kata Eko.

"Aku sih ingin sekali merasakan seperti Eko dan Purnama....urusan cinta. Kenyataan tetap kenyataan aku berusaha mendapatkan cewek yang aku sukai," kata Budi.

"Aku sebagai teman, ya mengerti keadaan Budi lah," kata Eko.

"Lebih main catur saja Eko!" kata Budi.

"Ok main catur saja!" kata Eko.

Budi telah mengambil papan catur di bawah meja, ya di taruh di atas meja. Budi dan Eko menyusun bidak catur dengan baik di papan catur. 

"Kalau urusan cinta para artis di Tv gimana Eko?!"kata Budi.

"Kisah cinta para artis di Tv, ya sebagai contoh yang baik," kata Eko.

"Contoh yang baik," kata Budi.

"Ya tetap sih urusan cinta. Ada yang baik dan buruk," kata Eko.

"Iya sih. Urusan cinta. Ada yang baik dan ada yang buruk. Nama hidupnya manusia di pengaruhi dengan keadaan ini dan itu, masalah yang menimpa manusia dalam menjalankan hidup ini," kata Budi.

"Emmmm," kata Eko.

Eko dan Budi main catur dengan baiklah.

MENDENGARKAN DENGAN BAIK

Budi sedang duduk di depan rumahnya sedang main gitar dan bernyanyilah, ya sambil menikmati minum kopi dan juga makan gorengan lah.

Lirik lagu yang dinyanyikan Budi dengan judul 'Andai Ku Tahu' :

Andai ku tahu
Kapan tiba ajalku
Ku akan memohon
Tuhan, tolong panjangkan umurku
Andai ku tahu (ku tahu)
Kapan tiba masaku
Ku akan memohon
Tuhan, jangan Kau ambil nyawaku
Aku takut
Akan semua dosa-dosaku
Aku takut
Dosa yang terus membayangiku
Andai ku tahu
Malaikat-Mu 'kan menjemputku
Izinkan aku
Mengucap kata taubat pada-Mu
Aku takut
Akan semua dosa-dosaku
Aku takut
Dosa yang terus membayangiku
Ampuni aku
Dari segala dosa-dosaku
Ampuni aku
Menangis ku bertaubat pada-Mu
Aku manusia (aku manusia)
Yang takut neraka
Namun aku juga (namun aku juga)
Tak pantas di surga
Andai ku tahu (ku tahu)
Kapan tiba ajalku
Izinkan aku
Mengucap kata taubat pada-Mu
Aku takut
Akan semua dosa-dosaku
Aku takut
Dosa yang terus membayangiku
Ampuni aku
Dari segala dosa-dosaku
Ampuni aku
Menangis ku bertaubat pada-Mu

***

Eko sampai di rumah Budi, ya memarkirkan motornya dengan baik di halaman depan rumah Budi. Eko duduk dengan baik. Budi telah selesai dari menyanyi dan main gitarnya.

"Berita di Tv tentang Maulid Nabi," kata Eko.

"Memang beritanya  di Tv tentang Maulid Nabi dan juga ada acara Tv yang berkaitan dengan Maulid Nabi," kata Budi.

"Di mesjid daerah sini, ya ada yang mengadakan acara Maulid Nabi," kata Eko.

"Memang ada sih yang mengadakan acara Maulid Nabi. Acara baca al-quran, nyanyi lagu sholawat dan nasehat. Ya kedengaran dengan baik, ya toanya mesjidlah," kata Budi.

"Memang sih kedengaran dengan baik. Aku dan Budi mendengarkannya dengan baik," kata Eko.

"Mendengarkan dengan baik," kata Budi.

"Oooo iya barusan tadi Budi nyanyi lagu apa?!" kata Eko.

"Mau tahu yang biasa aja apa mau tahu banget?!" kata Budi.

"Gaya anak gaul...Budi. Ya mau tahu banget lah!" kata Eko.

"Lagunya Ungu dengan judul 'Andai Ku Tahu' ...," kata Budi.

"Ooooo lagunya Ungu yang berjudul 'Andai Ku Tahu'..," kata Eko.

"Selagi masih hidup, ya taubat bagi yang sadar punya dosa, ya pemberitahuan pada manusia yang berbuat dosa. Dari dosa kecil sampai dosa yang besar," kata Budi.

"Yang sadar taubat. Yang tidak sadar, ya ada sampai mati, ya tidak bisa taubat. Pastinya tuh manusia masuk neraka!" kata Eko.

"Manusia itu makluk yang pandai menyembunyikan kesalahan kecil sampai besar, ya contohnya saja : mencuri," kata Budi.

"Sampai-sampai manusia yang merasa dirinya hebat, ya menganiyaya manusia lain, ya jadi preman gitu," kata Eko.

"Kalau preman sampai membunuh manusia, ya pantes masuk penjara dan juga pantes masuk neraka," kata Budi.

"Emmmm," kata Eko.

"Eko...ngopi nggak?!" kata Budi.

"Ya kopi," kata Eko.

Budi beranjak dari duduknya, ya masih megang gitar sih. Eko pun berkata "Minjem gitarnya Budi!" 

Budi memberikan gitarnya pada Eko, sambil berkata "Nieee gitarnya!" 

Eko mengambil gitar dari tangan Budi. Ya Budi bergerak masuk ke dalam rumah langsung ke dapur untuk membuat kopi lah. Eko memainkan gitar dan bernyanyi.

Lirik lagu yang dinyanyikan Eko dengan judul 'Tombo Ati' :

He di-de da-da da di de
Da-da di do-de da-re rei-ra
Tombo ati iku limo perkarane
Kaping pisan, moco Qur'an lan maknane
Kaping pindo, sholat wengi lakonono
Kaping telu, wong kang sholeh kumpulono
Kaping papat, kudu weteng ingkang luwe
Kaping limo, dzikir wengi ingkang suwe
Salah sawijine sopo biso ngelakoni
Mugi-mugi Gusti Allah nyembadani
Tombo ati iku limo perkarane
Kaping pisan, moco Qur'an lan maknane
Kaping pindo, sholat wengi lakonono
Kaping telu, wong kang sholeh kumpulono
Kaping papat, kudu weteng ingkang luwe
Kaping limo, dzikir wengi ingkang suwe
Salah sawijine sopo biso ngelakoni
Mugi-mugi Gusti Allah nyembadani
He di-de da-da da di de
Da-da di do-de da-re rei-ra
Obat hati ada lima perkaranya
Yang pertama, baca Qur'an dan maknanya
Yang kedua, sholat malam dirikanlah
Yang ketiga, berkumpullah dengan orang sholeh
Yang keempat, perbanyaklah berpuasa
Yang kelima, dzikir malam perpanjanglah
Salah satunya siapa bisa menjalani
Moga-moga Gusti Allah mencukupi
Obat hati ada lima perkaranya
Yang pertama, baca Qur'an dan maknanya
Yang kedua, sholat malam dirikanlah
Yang ketiga, berkumpullah dengan orang sholeh
Yang keempat, perbanyaklah berpuasa
Yang kelima, dzikir malam perpanjanglah
Salah satunya siapa bisa menjalani
Moga-moga Allah Ta'ala mencukupi
Moga-moga Allah Ta'ala mencukupi

***

Budi selesai membuat kopi di dapur, ya di bawalah kopi ke depan rumah. Di depan rumah, ya kopi di taruh di meja. Budi duduk dengan baik, ya ikut bernyanyi dengan Eko. Sampai lagu selesai di nyanyikan Eko dan Budi, ya Eko berhenti main gitarnya.

"Bagi manusia yang menyakini ajaran agama islam dengan baik, ya selalu menjalankan segala aturan agama dengan baik. Terus menerus di jalan kan. Malahan terus di sempurnakan dengan cara mempelajari dan juga memahami ilmu agama islam dengan baik," kata Budi.

"Contohnya orang-orang sholeh," kata Eko.

Eko menaruh gitar di samping kursi dan segera mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik. 

"Orang sholeh yang telah menjalankan ajaran agama islam dengan baik, ya hati menjadi tenang, ya tentram banget," kata Budi.

Budi mengambil gelas berisi kopi di meja, ya segera di minum dengan baik kopi lah. Eko menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Memang sih hati tenang, ya tentram banget," kata Eko menegaskan omongan Budi.

Eko menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Maulid Nabi, kita cuma di rumah saja Budi?!" kata Eko.

"Ya di rumah saja lah. Kan kedengaran dari sini, ya toanya mesjid yang sedang mengadakan acara Maulid Nabi," kata Budi.

"Memang sih kedengaran dari sini, ya toanya mesjid yang sedang mengadakan acara Maulid Nabi. Ya sudahlah sama-sama mendapatkan pahala, ya karena mendengarkan acara Maulid Nabi di mesjid yang di isi acara ini dan itu," kata Eko.

"Emmmm," kata Budi.

"Kalau begitu main catur saja!" kata Eko.

"Ok. Main catur!" kata Budi.

Budi mengambil papan catur di bawah meja dan di taruh di atas meja papan catur. Budi dan Eko menyusun dengan baik bidak catur di papan catur. Keduanya main catur dengan baik.

Monday, October 18, 2021

MISTERI KEHIDUPAN

Budi dan Eko duduk di depan rumah Budi, ya sambil menikmati minum kopi dan makan gorengan. Tiba-tiba terdengar dari mesjid yang cukup jauh, ya pemberitahuan tentang orang meninggal dunia. Budi dan Eko langsung berkata dengan baik "Inalilahi wainalilahi rojiun."

"Misteri kehidupan," kata Budi.

"Kok ngomong misterinya kehidupan?!" kata Eko.

"Umur manusia kan tidak ada yang tahu Eko. Tahu-tahu dapet kabar dari pemberitahuan dari mesjid, ya pake toa tentang orang meninggal," kata Budi.

"Memang sih umur tidak tahu, jadi misterinya kehidupan tentang manusia yang meninggal," kata Eko menegaskan omongan Budi.

"Yang meninggal itu sudah cukup menikmati kehidupan ini dengan baik. Meninggal di umur 71 tahun," kata Budi.

"Manusia berharap sih, ya menikmati umur lebih lama lagi. Ya 100 tahun," kata Eko.

"Harapan manusia menikmati hidup lebih lama, ya umur 100 tahun. Tetap saja keputusannya telah di sesuaikan dengan takdir masing-masing manusia yang hidup di muka bumi ini," kata Budi.

"Ya begitulah," kata Eko.

Eko mengambil tahu goreng di meja, ya tahu goreng di makan dengan baik.

"Eko aku punya pertanyaan," kata Budi.

"Tentang apa?!" kata Eko.

"Tentang keyakinan," kata Budi.

"Keyakinan," kata Eko.

"Iya keyakinan tentang agama yang ku yakinin. Mungkin sama dengan orang-orang yang resah dan ingin bertanya pada seorang tentang keyakinan agama yang di jalaninnya," kata Budi.

Budi mengambil tahu goreng di meja, ya tahu goreng di makan dengan baik.

"Mungkin lah!" kata Eko.

Eko mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi.

"Apa kah benar jalan agama yang aku yakini ini?!" kata Budi.

Budi mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi. Eko menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Kalau itu sih. Cukup di yakini dan di jalankan dengan baik, ya sudah benarlah agama yang di yakini Budi. Ya sama dengan aku," kata Eko.

Budi menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Cukup di yakini dan di jalankan dengan baik. Tidak adakah petunjuk lainnya," kata Budi.

"Petunjuk. Kan ada di dalam kitab-kitab agama jawabannya tentang pertanyaan manusia," kata Eko.

"Di kitab-kitab ajaran jawabannya toh," kata Budi.

"Mungkin dari satu cerita. Tentang pemuda yang dapat mendengarkan suara roh. Pemuda itu di beritahukan tentang kebenaran agama. Jadi agama itu di katakan benar, ya agama tersebut mengarahkan pada manusia untuk di jalan kebaikan," kata Eko.

"Selama di jalan kebaikan maka jalan agama ku benar, ya Eko?!" kata Budi.

"Ya iyalah. Selama di jalan kebaikan maka jalan Budi benar!" kata Eko.

"Berarti tetap agama itu cukup di yakini dan di jalanin dengan baik saja," kata Budi.

"Ya begitulah," kata Eko.

"Ya sudahlah. Aku hanya perlu membuang keraguan aku tentang agama yang ku yakini. Maka aku tetap terus menyakini agama yang aku yakini dengan baik, ya di jalanin dengan baik seperti biasanya. Contoh yang baik, ya orang tua ku. Meyakini agama dan di jalanin dengan baik agama, ya tanpa ada keraguan sedikit pun," kata Budi.

"Orang tua jadi contoh yang baik untuk anaknya dalam menyakini dan menjalankan agama dengan baik," kata Eko menegaskan omongan Budi.

"Kalau begitu. Main catur saja!" kata Budi.

"Ok. Main catur saja!" kata Eko.

Ya Budi telah mengambil papan catur di bawah meja, ya di taruh papan catur di atas meja. Budi dan Eko mulai menyusun dengan baik bidak catur di papan catur.

"Hidup pun harus di nikmati dengan baik," kata Budi.

"Ya begitulah. Hidup harus di nikmati dengan baik," kata Eko menegaskan omongan Budi.

"Tetap saja kehidupan ini masih penuh dengan misterinya kehidupan. Yang ini dan itu," kata Budi.

"Ya begitulah," kata Eko.

Eko dan Budi main catur dengan baik.

CINTA SUCI

Budi dan Abdul duduk di depan rumah Budi sambil menikmati minum kopi dan makan gorengan. Memang keadaan lingkungan basa sih karena habis hujan sih. Budi dan Abdul menikmati kopi panas, ya jadinya anget deh keadaan di dalam tubuh sih. Budi main gitar dan bernyannyi, ya Abdul pun menyanyi sih.

Lirik lagu yang dinyanyikan Eko yang berjudul 'Cinta Suci' :

Hidup ini takkan indah
Tanpa kau ada di hati
Ceria ini takkan ada
Tanpa kau ada di sisi
Kekasihku, kau bunga mimpiku
Tiada yang lain hanya dirimu
Yang kusayang dan selalu kukenang
'Kan selalu bersama dalam suka dan duka
Dirimu satu yang kumau
Takkan lagi ada selain dirimu
Cinta suci hanyalah untukmu
Dengarlah kasih, kaulah dambaanku
Walau 'kan datang badai menghadang
Kita 'kan selalu bersama
Tetap satu dalam cinta
Tiada yang mampu merubah
Dirimu satu yang kumau
Takkan lagi ada selain dirimu
Cinta suci hanyalah untukmu
Dengarlah kasih, kaulah dambaanku
Wajah manis yang lembut dan ayu
Bagaikan untaian mutiara
Takkan kulepas hingga akhir masa
'Kan selalu bersama dalam suka dan duka
Dirimu satu yang kumau
Takkan lagi ada selain dirimu
Cinta suci hanyalah untukmu
Dengarlah kasih, kaulah dambaanku
Dengarlah kasih, kaulah dambaanku

***

Selesai menyanyikan lagu, ya Budi dan Abdul, ya Budi selesai main gitar dan gitar di taruh di samping kursi.

"Cinta suci ku persembahkan pada gadis yang mengisi hati ku dari SMA sampai sekarang," kata Abdul.

"Emmmmm. Abdul. Masing saja urusan cintanya sama Putri. Padahal belum pernah menyatakan cinta sama Putri, ya dari SMA sampai sekarang. Apa lagi jarak juga. Abdul di Bandar Lampung dan Putri di Jakarta," kata Budi.

"Budi. Budi. Kan sekedar saja di kaitkan dengan lagu yang baru kita nyanyikan," kata Abdul.

Abdul mengambil tahu goreng di piring, ya di makan dengan baik tahu goreng.

"Ooooo sekedar toh. Jadi sudah bisa melupakan Putri, ya Abdul?!" kata Budi.

Budi mengambil bakwan goreng di piring, ya di makan dengan baik bakwan goreng lah.

"Sebenarnya belum bisa melupakan Putri. Cantik pembawaan Putri dan juga karakter pembawaan Putri yang baik yang membuat ku terkesan dan terkenang, ya ingin bersamanya," kata Abdul.

"Benar-benar Putri susah untuk di lupakan sama Abdul," kata Budi.

"Emmm," kata Abdul.

Abdul mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi sama Abdul.

"Mungkin dengan cewek lain, ya di jadiin pacar sama Abdul, ya bisa melupakan Putri?!" kata Budi.

Budi mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi sama Budi. Abdul menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Maksudnya cewek yang aku baru jadiin teman gitu?!" kata Abdul.

Budi menaruh gelas berisi kopi di meja lah.

"Iya maksud ku itu sih. Cewek yang baru Abdul jadiin teman. Kemungkinan besarkan bisa di jadiin pacar," kata Budi.

"Memang cewek itu cantik. Cuma pembawaan tuh cewek, ya menurut ku kurang sih kena ke hati," kata Abdul.

"Ooooo masih di pertimbangkan dengan baik," kata Budi.

"Apa mungkin aku membandingkan dengan Putri, ya cewek yang baru jadi teman ku itu?!" kata Abdul.

"Kalau di pikir dengan baik sih. Abdul memang membandingkan cewek yang baru di jadiin temen itu dengan Putri dari segi pembawaan diri seorang cewek yang dapat membuat Abdul terkesan sampai ke hati," kata Budi.

"Haaaa. Cinta suci, ya hanya untuk Putri seorang, cewek yang membuat ku terkesan sampai di ke dalam hati," kata Abdul.

"Abdul mikirin Putri. Sedang Putri mikirin Abdul apa enggak ya?!" kata Budi.

"Mana aku tahu," kata Abdul.

"Kalau begitu sih lebih baik kita main catur saja!" kata Budi.

"Ok. Main catur!" kata Abdul.

Ya Budi telah mengambil papan catur di bawah meja dan di taruh di atas meja. Budi dan Abdul, ya menyusun dengan baik bidak catur di papan catur. Keduanya main catur dengan baik lah. Sedangkan Eko ada urusan dengan Purnama, ya ngobrol asik di ruang tamu sih. Sedang Putri yang berada di Jakarta, ya di rumahnya lah. Putri di kamarnya sedang mengetik kerjaannya, ya tugas kuliahnya lah dengan baik.

Sunday, October 17, 2021

HAL HEBAT

Budi masih di perjalanan menuju ke rumah Eko, ya menggunakan motornya lah. Eko duduk di depan rumah sedang menyanyi dan juga main gitar, ya sambil menikmati minum teh gelas dan juga gorengan.

Lirik lagu yang dinyanyikan Eko dengan judul 'Hal Hebat' :

Di hidup ini
Telah kusinggahi banyak cinta
Namun tak pernah aku temui cinta
Sekuat aku menginginkan dia
Hal hebat kurasakan
Kini dicintai seseorang
Yang 'ku pun mencintai
Itu sempurna
Takkan siakan dia
Belum tentu ada yang seperti dia
Satu dunia tahu aku bahagia
Banyak pasang mata saksinya
Takkan duakan dia
Belum tentu esok 'kan masih ada
Kesempatan tak datang kedua kalinya
Hargai dan jaga hatinya
Dalam diamku
Kupanjatkan selalu doa untuknya
Jodoh bukan soal sempurna
Namun yang mampu tangguh 'tuk bertahan
Dan berjuang
Takkan siakan dia
Belum tentu ada yang seperti dia
Satu dunia tahu aku bahagia
Banyak pasang mata saksinya
Takkan duakan dia
Belum tentu esok 'kan masih ada
Kesempatan tak datang kedua kalinya
Hargai dan jaga hatinya
Takkan siakan dia
Belum tentu ada yang seperti dia
Satu dunia tahu aku bahagia
Banyak pasang mata saksinya
Tak akan duakan dia
Belum tentu esok 'kan masih ada
Kesempatan tak datang kedua kalinya
Hargai dan jaga hatinya
Hatinya
Takkan siakan dia
Takkan siakan dia
Takkan siakan dia

***

Budi sampai di rumah Eko, ya memarkirkan motornya dengan baik di depan rumah Eko lah. Budi duduk dengan baik. Eko berhenti main gitar dan bernyanyi.

"Eko barusan menyanyikan lagu apa?!" kata Budi.

"Lagunya Govida dengan judul 'Hal Hebat'...," kata Eko.

"Ooooooo 'Hal Hebat'..," kata Budi

"Emmmmm," kata Eko.

Eko menaruh gitarnya di samping kursi.

"Urusan cinta itu harus terus berjuang dengan doa dan usaha kan Eko?!" kata Budi.

"Iya," kata Eko.

"Hal hebat apa yang telah Eko lakukan demi cinta sama Purnama?!" kata Budi.

"Kan sudah Budi omongin tadi!" kata Eko.

"Ooooo. Hal hebat yang di lakukan Eko demi cinta sama Purnama, ya dengan cara doa dan usaha yang baik," kata Budi.

"Dari usaha aku yang baik, ya mendapatkan cinta yang baik. Jadi cinta harus di perjuangkan dan di pertahankan demi kebaikan bersama, ya bahagia. Doa selalu panjatkan demi kebaikan aku dan Purnama," kata Eko menjelaskannya.

"Doa dan usaha!" kata Budi.

"Hal hebat apa yang di lakukan Budi, ya berkaitan urusan cinta?!" kata Eko.

"Kalau aku sih Eko. Masih usaha dengan baik mendapatkan cewek yang aku ingin kan, ya yang cantik dan juga kaya. Doa selalu ku panjatkan dengan baik untuk kebaikan jalan yang aku pilih. Walau yang sebenarnya, ya tanda-tanda cinta itu, ya ada sih, ya tapi biarkan jadi misteri untuk ku saja!" kata Budi.

"Aku paham urusah cintanya Budi. Ketika waktunya tiba. Budi akan memilih cewek yang tepat," kata Eko.

Mengambil teh gelas di meja, ya di minum dengan baik.

"Sebenarnya sih Eko. Aku ingin sekali merantau, ya melihat dunia ini," kata Budi.

Budi mengambil teh gelas di meja, ya di cucuk dengan sedotan dan di minum dengan baik teh gelas.

"Merantau. Melihat dunia ini," kata Eko.

Eko menaruh teh gelas di meja.

"Kalau dengan pergi ke kota lain, ya ekonomi bisa berubah," kata Budi.

Budi menaruh teh gelas di meja.

"Kan Budi sudah kerja dengan baik, ya di kota Bandar Lampung ini," kata Eko.

"Ya memang aku telah kerja di kota Bandar Lampung sih. Namanya keinginan boleh kan?!" kata Budi.

"Ya bolehlah kalau keinginan!" kata Eko.

"Banyak orang meninggalkan kota Bandar Lampung, ya ke kota lain dengan kemajuan industrinya tujuannya ekonomi berubah, ya kerja gitu," kata Budi.

"Memang di kota ini kan bersaing dengan baik untuk mendapatkan kerjaan. Yang dapet kerjaan di kota Bandar Lampung, ya kerja. Sedangkan yang tidak dapet, ya memilih untuk ke kota lain, ya propinsi lain untuk mendapatkan kerjaan," kata Eko.

"Setelah mereka yang merantau itu dapet kerja di kota lain, ya propinsi lain, ya dapet jodoh di kota perantauan kan Eko?!" kata Budi.

"Banyak cerita sih. Dapet kerjaan di kota lain, ya propinsi lain dan juga dapet jodoh," kata Eko menegaskan omongan Budi.

"Orang kaya, yang punya rumah yang di kontrakkan, ya laku usahanya itu kan Eko?!" kata Budi.

"Iyalah usaha kontrakan laku di kota lain, ya kabarnya begitu sih. Nama juga orang merantau, ya pastinya nyari tempat tinggal, ya kontrakan. Dengan usaha dan doa yang baik, ya dapet kerjaan di perantauan lah. Kalau jalannya baik, ya terus tinggal di kota perantauan dan mendapatkan jodoh di kota perantauan," kata Eko.

"Semuanya dasarnya punya ilmu kan Eko kalau ingin berhasil di kota lain, ya kota perantauan gitu?!" kata Budi.

"Dasarnya memang ilmu. Maka itu ilmu harus di pelajari dengan baik, ya di pahami dengan baik. Agar ilmu berguna ketika waktunya di gunakan dengan baik. Untuk mengangkat derajat diri dengan baik, ya menjadi orang yang berguna untuk diri sendiri dan bermanfaat bagi orang banyak," kata Eko.

"Kalau tidak punya ilmu, ya jadi orang yang tak bergunakan Eko?!" kata Budi.

"Orang yang tidak punya ilmu, ya jadinya orang tak berguna. Kalau itu sih banyak ceritanya," kata Eko menegaskan omongan Budi.

"Untuk urusan cerita Tv di kota Jakarta, ya sebagai contoh. Orang-orang yang mengejar cita-citanya menjadi penyanyi di acara Tv, ya kebanyakan orang-orang dari propinsi lain. Orang-orang itu di sebut orang perantauan juga. Dari doa dan usahanya dengan baik, ya menjadi juara dalam perlombaan menyanyi," kata Budi.

"Berkat dari ilmu yang di pelajari dan di pahami dengan baik, ya menghantarkan diri pada derajat yang baik. Semua berkat doa dan usaha dengan baik," kata Eko menegaskan omongan Budi.

"Jadi hal hebat yang telah di lakukan orang-orang merantau sana sini, ya mengubah nasifnya, ya derajatnya," kata Budi.

"Emmmm," kata Eko.

"Ya sudah kok lebih baik main catur saja!" kata Budi.

"Jadi Budi jadi merantau apa enggak?!" kata Eko.

"Ya Eko. Aku kerja di kota Bandar Lampung, ya aku jalanin saja dengan baik. Walau gajinya kecil. Ya aku syukur dengan baik dari usaha dan doa aku. Urusan merantau, ya sekedar keinginan dan juga bahan obrolan saja Eko," kata Budi.

"Ooooo begitu. Ya sudahlah. Lebih baik main catur!" kata Eko.

Eko mengambil papan catur di bawah meja, ya di taruh di atas meja papan catur. Eko dan Budi, ya menyusun dengan baik bidak catur di atas papan catur. Keduanya main catur dengan baik.

JAPUNG (JAWA LAMPUNG)

Budi dan Eko sedang duduk di depan rumah Eko. Keduanya sedang bernyanyi dan main gitar, ya yang main gitar Eko lah dan juga sambil menikmati makan gorengan dan juga minun teh gelas.

Lirik lagu yang di nyanyikan Budi dan Eko dengan judul 'Lir Ilir' :

Lir ilir lir ilir tandure wong sumilir
Tak ijo royo royo
Tak sengguh panganten anyar
Cah angon cah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro dodotiro kumintir bedah ing pinggir
Dondomana jrumatane kanggo seba mengko sore
Mumpung padang rembulane
Mumpung jembar kalangane
Sun suroko surok hiyo
Lir ilir lir ilir tandure wong sumilir
Tak ijo royo royo
Tak sengguh panganten anyar
Cah angon cah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro dodotiro kumintir bedah ing pinggir
Dondomana jrumatane kanggo seba mengko sore
Mumpung padang rembulane
Mumpung jembar kalangane
Sun suroko surok hiyo

***

Eko dan Budi berhenti menyanyi, ya Eko berhenti main gitarnya.

"Budi lanjut nyanyi apa enggak ?!" kata Eko.

"Lanjut lah nyanyi!" kata Budi.

"Ok. Lanjut nyanyinya!" kata Eko.

Eko main kan gitarnya dan bernyanyi, ya Budi pun bernyanyi dengan baik.

Lirik lagu yang dinyanyikan Eko dan Budi yang berjudul 'Terbang Bersamaku' :

Berhembuslah engkau angin malam
Bawa serta laguku
Mengitari bumi ini hingga jauh
Akulah seorang petualang
Yang mencari cinta sejati
Sampai mati aku akan tetap mencari
Aku bagai biola yang tak berdawai
Bila tidak engkau lengkapi
Aku mohon agar engkau tinggal di sini
Hamparan pasir putih menunggu
Karang di lautan menangis
Bila aku tak bisa melumpuhkanmu
Peluk erat tubuhku
Sentuhlah jemariku
Rebahkan sayap-sayap patahmu
Dan terbanglah bersamaku
'Tuk melintasi langit ke tujuh
Bawalah aku ke alam damaimu
Peluk erat tubuhku
Sentuhlah jemariku
Rebahkan sayap-sayap patahmu
Peluk erat tubuhku
Sentuhlah jemariku
Rebahkan sayap-sayap patahmu
Dan terbanglah bersamaku
'Tuk melintasi langit ke tujuh
Bawalah aku ke alam damaimu

***

Eko dan Budi berhenti bernyanyi, ya Eko berhenti main gitarnya lah dan gitar di taruh di samping kursi.

"Budi. Gimana dengan urusan cinta Budi?!" kata Eko.

"Masih proses sih. Mendapatkan cewek yang aku sukai," kata Budi.

"Proses toh. Emmmm. Kaya ada sebuah cerita. Tentang orang Lampung. Cowok yang mengejar cinta pada seorang gadis. Cowok itu kerjaanya seorang supir. Ceweknya kerjaannya pegawai negeri dan juga anak orang kaya. Dari cerita ini. Jangan-jangan Budi ingin mendapatkan cewek yang kaya kan?!" kata Eko.

"Kalau cerita itu sih aku tahu Eko. Cowoknya yang benar-benar target untuk mengubah nasifnya menjadi kaya dengan menyukai ceweknya, ya cantiknya biasalah," kata Budi.

"Memang kebiasaan orang Lampung. Yang terpentingkan cewek itu kaya. Target tercapai," kata Eko.

"Sedangkan aku beda lah Eko. Aku mencari cewek kaya dan juga cantik banget, ya merubah segala-galanya," kata Budi.

"Kalau itu sih selera Budi, ya tinggi nggak ketulungan," kata Eko.

"Nama juga selera aku!" kata Budi.

"Iya sih selera Budi. Kalau tidak dapet gimana Budi?! " kata Eko.

"Ya kalau aku telah berusaha dengan baik dan tidak dapet. Ya melupakan keinginan itu dan mencari cewek yang sederajat dengan ku, ya agar mudah membangun urusan rumah tangga yang baik," kata Budi.

"Sampe kapok dalam urusan pengejaran cewek. Baru Budi berhenti dengan baik dan mencari cewek yang sederajat dengan Budi. Benar-benar cowok sejati Budi!" kata Eko.

"Emmmm," kata Budi.

"Jadi kemungkinan temannya Purnama yang aku pernah kenalkan sama Budi. Ya bisa di terima dengan baik sama Budi kan?!" kata Eko.

Eko mengambil teh gelas, ya di minum dengan baik.

"Kemungkinannya sih Eko!" kata Budi.

Budi mengambil teh gelas, ya di minum dengan baik. Ya Eko menaruh teh gelas di meja.

"Benar-benar kemungkinan!" kata Eko menegaskan omongan Budi.

Budi menaruh teh gelas di meja.

"Oooo iya. Eko. Budaya dan kesenian Jawa pernah diangkat dengan baik sama orang Lampung kan?!" kata Budi.

"Budaya dan kesenian Jawa pernah di angkat orang Lampung. Pernah sih. Meriah tuh acara festivalnya. Yang ngangkat tuh budaya dan seni, ya pejabat Lampung," kata Eko.

"Di Lampung ini. Di kenal dengan Japung (Jawa Lampung)," kata Budi.

"Iya begitu lah," kata Eko.

"Perkawinan dengan suku Jawa dan Lampung, ya terjadi sih. Keturunannya di sebut Japung pula!" kata Budi.

"Emmmm," kata Eko.

"Lampung ini. Ada orang baik dan juga ada juga orang jahat," kata Budi.

"Siklus kehidupan manusia. Ada yang baik dan ada yang buruk," kata Eko.

"Sudah ah lebih baik main catur saja!" kata Budi.

"Ok main catur!" kata Eko.

Eko mengambil papan catur di bawah meja, ya papan catur di taruh di atas meja. Eko dan Budi, ya mengatur bidak catur dengan baik di papan catur. Keduanya main catur dengan baik.

Saturday, October 16, 2021

SERBA SERBI CERITA

Abdul dengan mengendarai motornya dengan baik, ya ke rumah Budi lah. Sedangkan Eko masih repot bantuin Ibunya, ya beres-beres rumahlah. Budi duduk di ruang tengah ya sedang main gitar dan bernyanyi, ya sambil menikmati makan gorengan dan juga teh gelas.

Lirik lagu yang dinyanyikan Budi dengan judul 'Terlanjur Basah' :

Terlanjur basah, ya sudah mandi sekali
Terlanjur retak, ya sudah pecah sekali
Habis bagaimana, tiada bukti kau dapat
Kau tuduh diriku, bercinta lagi dengannya
Terlanjur malu, ya sudah malu sekali
Di depan orang, kau tega memfitnah aku
Bukankah fitnah, lebih kejam dari membunuh
Terlanjur basah, ya sudah mandi sekali
Jangankan burung yang terbang
Ranting pun tak ingin patah
Apalagi diriku yang punya perasaan
Sudah kau lempar batu
Kau sembunyikan tanganmu
Diriku yang kau undang
Mengapa dia yang datang
Aduh-aduh daripada sakit nanti
Lebih baik sekarang
Sebelum diriku mati
Terlanjur malu, ya sudah malu sekali
Di depan orang, kau tega memfitnah aku
Bukankah fitnah, lebih kejam dari membunuh
Terlanjur basah, ya sudah mandi sekali
Jangankan burung yang terbang
Ranting pun tak ingin patah
Apalagi diriku yang punya perasaan
Sudah kau lempar batu
Kau sembunyikan tanganmu
Diriku yang kau undang
Mengapa dia yang datang
Aduh-aduh daripada sakit nanti
Lebih baik sekarang
Sebelum diriku mati
Terlanjur malu, ya sudah malu sekali
Di depan orang, kau tega memfitnah aku
Bukankah fitnah, lebih kejam dari membunuh
Terlanjur basah, ya sudah mandi sekali

***

Abdul sampai di rumah Budi, ya memarkirkan motornya dengan baik di halaman depan rumah Budi. Budi mendengar Abdul dateng, ya kebetulan telah selesai menyanyi dan main gitar, ya gitar di taruh di kursi yang kosong. Abdul mau masuk rumah Budi, ya mau mengucapkan salam "Assalamualaikum." Budi langsung menjawab "Waalaikumsalam....Abdul masuk!"

Abdul masuk rumah Budi, ya duduk dengan baik di ruang tamu.

"Eko main kesini Budi?!" kata Abdul.

"Eko nanti kesini, ya lagi ada urusan di rumah," kata Budi.

"Oooo Eko masih ada urusan di rumah toh," kata Abdul.

"Gimana urusan kerjaan Abdul?!" kata Budi.

"Alhamdulillah....baik," kata Abdul.

Abdul mengambil tahu goreng di piring, ya di makan dengan baiklah. Budi juga mengambil tahu goreng di piring, ya di makan dengan baik.

"Jadi orang kaya itu enak ya Abdul?!" kata Budi.

"Iyalah. Jadi orang kaya enak. Contohnya : artis di Tv, ya orang kaya. Punya rumah mewah, mobil mewah, motor yang luar biasa mahal, tabungan di bank, ya nominalnya besar pula, punya usaha ini dan itu, ya masih banyak lagi deh," kata Abdul.

Abdul telah menghabiskan tahu goreng, ya mengambil lagi tahu goreng di piring.

"Itu kalau jadi orang kayanya artis. Kalau orang kayanya di Lampung, ya warisan orang tuanya lah yang punya harta banyak, ya tanahnya di mana-mana. Kerjanya di pemerintahan dan juga swasta," kata Budi.

Budi mengambil gelas teh di meja, ya di minum dengan baik.

"Itu sih kalau orang tuanya kaya, ya orang Lampung. Kan ada orang Lampung yang miskin juga," kata Abdul.

Abdul mengambil gelas teh di meja, ya di cucuk dengan sedotan dan segera di minumlah teh gelas. Budi menaruh gelas teh yang kosong di meja.

"Memang sih orang Lampung ada yang miskin. Ada pula yang masih numpang tempat tinggalnya, ya di tanah orang, ya sukunya jawa karena tinggal di Lampung jadinya orang Lampung dan di sebut Japung," kata Budi.

Gelas teh yang masih ada tehnya di dalam gelas plastik, ya di taruh Abdul di meja lah.

"Orang Lampung miskin benaran juga ada," kata Abdul.

"Iya sih. Orang Lampung yang miskin ada juga sih," kata Budi.

"Hidup di Lampung, ya harus kerja keras agar bisa hidup, ya prinsipnya orang miskin di Lampung. Ya kita ini lah. Jalan yang kita jalanin, ya di jalan kebaikan," kata Abdul.

"Tetap saja di sisi lain. Ada orang miskin, ya jadi pencuri demi bertahan hidup, ya memilih jalan yang salah. Ya banyak ceritanya," kata Budi.

"Yang kaya juga ada yang jadi pencuri. Ya anak orang kaya lah. Pergaulannya yang buruk," kata Abdul.

"Anak kaya kalau urusan pendidikan, ya bayar orang untuk menyelesaikan tugas sekolah sampai kuliah. Sampai kerja pun bayar orang, ya agar bisa masuk ke dalam kerjaan di pemerintahan," kata Budi.

"Oooo cerita itu. Ya cerita orang-orang. Ya lama sih cerita itu. Kalau sekarang, ya tidak tahu sih," kata Abdul.

"Orang kaya di Lampung, ya kalau punya harta warisan tanah, ya di buat kontrakan rumah, ruko dan juga kosan," kata Budi.

"Yang menyewa orang miskin yang berusaha menjadi mampu. Ya ada juga sih orang kaya, ya seperti anak kosan lah, ya agar dekat dengan sekolah dan juga Universitas," kata Abdul.

"Orang kaya makin kaya dengan usahanya karena harta warisan di gunakan untuk menjalankan usaha," kata Budi.

"Ada cerita. Ya orang Lampung yang pensiun dari kerjaannya jadi pegawai negeri, ya baru bisa membangun rumahnya dengan baik," kata Abdul.

"Aku tahu cerita itu. Orang Lampung itu repot dengan urusan kerjaannya jadi pegawai negeri. Ketika pensiun membangun rumahnya, ya hasil dari menabungnya lah. Jadi pegawai negeri yang terlihat baik seperti itu kan," kata Budi.

"Pegawai negeri yang terlihat baik seperti itu sih. Kan ada yang bangun rumahnya saat pegawai negeri itu masih kerja, ya rumahnya di bangun seperti istana yang megah dan hitungan waktunya juga cepat lagi. Orang-orang jadi bertanya-tanya. Apakah pegawai negeri ini kerjaanya korupsi, ya jadinya membangun rumahnya gede banget seperti istana yang megah?!" kata Abdul.

"Memang sih ada pertanyaan seperti itu bagi pegawai negeri yang membangun rumahnya dengan hitungan waktu yang cepat, apa mungkin pegawai negeri itu korupsi? Ya tinggal kita mendengar kabar orang-orang yang ngobrol ini dan itu. Ya sampai benar atau tidaknya ketika berita di mana pun memberitakan tentang urusan pemberantan korupsi, ya KPK bergerak untuk memberantas korupsi dari bawah sampai atas!" Budi.

"Kita ini cuma lulusan SMA. Hanya tahu kabar dari orang-orang yang bercerita ini dan itu. Beda dengan lulusan Universitas yang mencari tahu dengan proses meneliti ini dan itu," kata Abdul.

"Memang sih kita ini hanya lulusan SMA. Beda dengan lulusan Universitas. Jadi sekedar obrolan saja!" kata Budi menegaskan omongan Abdul.

"Sebenarnya sih kalau harta warisannya banyak, ya memang sih jual tanah warisan dan di bangun rumah bak istana," kata Abdul.

"Warisan banyak, ya membangun usaha juga sih untuk urusan orang kerjaannya swasta, ya urusan membangun usaha di Lampung, ya ada ceritanya. Ada yang berhasil dan ada juga gagal," kata Budi.

"Kalau itu ceritanya banyak. Nama juga ekonomi di Lampung," kata Abdul.

"Serba serbi cerita di Lampung," kata Budi.

"Ya memang serba serbi cerita di Lampung!" kata Abdul menegaskan omongan Budi.

"Kalau begitu Abdul kita lebih baik main catur apa main kartu remi?!" kata Budi.

"Main catur boleh. Main kartu remi juga boleh," kata Abdul.

"Jadi mau main apa?!" kata Budi.

"Main catur saja!" kata Abdul.

"Ok. Main catur!" kata Budi.

Budi mengambil papan catur di bawah meja, ya di taruh atas meja. Eko dateng ke rumah Budi, ya memarkirkan motornya dengan baik di halaman rumah Budi. Eko mau masuk rumah Budi, ya mengucap salam "Assalamualaikum."

Budi dan Abdul, ya ingin main catur dan mendengar salamnya Eko, ya di jawablah salamnya sama Abdul dan Budi secara bersamaan "Waalaikumsalam."

Eko pun duduk dengan bai di ruang tamu.

"Eko urusan di rumah sudah selesai?!" kata Budi.

"Sudah," kata Eko.

"Jadi kita mau main catur apa mau main kartu remi?!" kata Abdul.

"Ekonya sudah dateng, ya main caturnya engak jadi. Ya main kartu remi," kata Budi.

"Ok main kartu remi," kata Abdul.

"Ok lah main kartu remi," kata Eko.

Budi yang telah mengambil kartu di bawah meja, ya di kocok dengan baik kartu dan di bagikan dengan baik kartu remi. Ya ketiganya main kartu remi, ya main permainan cangkulan lah.

CAMPUR ADUK

BAD NEWS BEARS

Malam hari, ya bulan bersinar dengan baik. Setelah nonton Tv yang acaranya menarik dan bagus...tema cinta di chenel MDTV, ya seperti biasa s...

CAMPUR ADUK