CAMPUR ADUK

Monday, December 24, 2018

DERAI-DERAI

Cemara menderai sampai jauh
Terasa hari akan jadi malam
Ada beberapa dahan ditingkap merapuh
Dipukul angin yang terpendam

Aku sekarang orangny bisa tahan
Sudah beberapa waktu bukan kanak lagi
Tapi dulu memang ada suatu bahan
Yang bukan dasar perhitungan kini

Hidup hanya menunda kekalahan
Tambah terasing dari cinta sekolah rendah
Dan tahu, ada yang tidak diucapkan
Sebelun pada akhirnya kita menyerah


Karya: Chairil Anwar

TAMAN SEKOLAH

Pagi yang cerah
Sang surya merangkak perlahan
Tersenyum di balik awan
Bunga bercanda dengan angin
Mengoyak keheningan cuaca pagi

Bunga di taman sekolah merah merekah
Rerumputan menyapa bersama embun
Pohon palem dibelai angin
Oh indahnya taman sekolahku
Aku terpaku menatap rindu
Menggugah jiwa mengalun sendu

Kicau burung merdu mendayu
Mengalun nyanyian rindu
Menerawang bagai langit biru

Terang hati bagai padang senja
Merasuk dalam jiwa
Di sana ada suka
Merajut bersama
Menggapai cita


Karya: Hond

NEGERI EMAS

Inilah negeri tercinta
Bertabur bintang di angkasa
Tersenyum dalam suka cita
Terhindar dari bayang nestapa

Hamparan tanah bagai permadari
Membuat takjub setiap insani
Mengandung berjuta kekayaan
Menuju puncak kejayaan

Di dalam tanah  kekayaan berada
Minyak bumi, emas, perak, batubara
Di samudera ikan berjuta-juta
Di atas tanah tanaman semua ada

Lalu.....
Mengapa kita mengembara
Di negeri orang mengejar sekeping harta?
Mengapa kita senang menjadi peminta?
Mengapa kita seperti tak berharga?

Di negerimu semua menantimu
Di negerimu bintang-bintang tersenyum padamu
Di negerimu kejayaan menunggu
Menanti belaian rindu


Karya: Nugroho

DALAM KERETA

Dalam kereta
Hujan  menebal Jendela

Semarang, Solo...., makin dekat saja
Menangkup senja

Menguak purnama
Caya menyayat mulut dan mata
Menjengking kereta, menjengking jiwa,

Sayatan terus ke dada


Karya: Chairil Anwar

AKU

Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang 'kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih perih

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi


Karya: Chairil Anwar

SANDAL JEPIT

Kalian adalah pasangan yang tidak pernah terpisah
Kalian saling berhubungan
Kalian selalu diinjak-injak
Kalian tak pernah dibelai, dicium
Kalian tak pernah merasakan bau wangi
Hanya bau kakilah yang kalian rasakan


Karya: Eko Suprihatin

KABUT DALAM HUJAN JANUARI

Saat angin dan kabut Januari
Berkejaran di atap-atap kota
Serasa murid -muridku untukku bernyanyi
'Hari Ini Nestapa Mengapa'

Adakah dingin dalam bunyi senja
Yang bernapas pelan dalam gugur daunan
Sampai padamu dalam warna-warna serupa
Dan menyuarakan angin yang gemetaran

Di sini aku duduk, jendela kabut berjalin dingin
Bunga di luar musimnya ungu mengangguk -angguk
Kujamah hati kamar ini dan merasa sangat ingin
Berkata, di sini kau mestinya merenda duduk

Dan deru di langit yang tak lagi biru
Berdenyur-denyur dalam gugusan badai
Adakah itu yang kau beri nama rindu
Berpijar-pijar namun tak sempat sampai

Adalah jalanan yang masuk dalam malam
Bertebaran serta basah daun berjuta
Napas kabut antara desah pepohonan
Menyapaku lenggang lewat jendela

Karya: Taufik Ismail

TUHANKU

Hutanku jadi taman
Tamanku kering, kembali jadi hutan
Tanpa pepohonan
Tuhanku
Panas merambah
Kucari tetumbuhan yang bertahan  dari api
Yang kami nyalakan sendiri
Di mana


Karya: Emha Ainun Nadjib

APA KAU TELAH DAPAT GANTI RUGI

Apa kau telah dapat ganti rugi
Dari tanahmu yang dibuat pabrik jerami
Apa kau telah dapat ganti rugi
Apakah kau hanya dibohongi?

Materai dan kertad berhuruf kanji
Tak seindah bunga bakung di tepi kali
Materi dan kertas yang digores belati
Tak seindah jerami menoreh pasir di bumi

Telah ditebang pohon kedondong dan maoni
Telah ditebang pohon-pohon hijau trembesi
Telah ditebang pohon-pohon pakisaji
Telah ditebang jiwamu yang tak ditopang beton bersigi

Aku sebagai saksi
Aku semut yang bersarang di daun pakisaji
Aku ulat yang merayap di kelopak kulit trembesi
Aku burung pelatuk yang berumah di pohon maoni

Aku kau telah dapat ganti rugi
Dari tanahmu yang dibuat pabrik jerami
Apa kau telah dapat ganti rugi
Apakah kau hanya dibohongi?

Aku sebagai saksi


Karya: Suripan Sadi Hutomo

MENYESAL

Pagiku hilang sudah melayang,
Hari mudaku sudah pergi,
Sekarang petang datang membayang,
Batang usiaku sudah tinggi.

Aku lalai di hari pagi,
Beta lengah di masa muda,
Kini hidup meracun hati,
Miskin ilmu, miskin harta.

Akh, apa guna kusesalkan,
Menyesal tua tiada berguna,
Hanya menambah luka sukma.

Kepada yang muda kuharapkan,
Atur barisan di hari pagi,
Menuju ke arah padang bakti.


Karya: Ali Hasyim

IBU

Kalau aku merantau lalu datang musim kemarau
Sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting
Hanya mata air air matamu ibu, yang tetap lancar mengalir

Bila aku merantau
Sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku
Di hati ada mayang siwalan memutikkan sari-sari kerinduan
Lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar

Ibu adalah goa pertapaanku
dan ibulah yang meletakkan aku di sini
Saat bunga kembang menyemerbak bau sayang
Ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi
Aku mengangguk meskipun kurang mengerti

Bila kasihmu ibarat samudra
Sempit lautan teduh
Tempatku mandi, mencuci lumut pada diri
Tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh
Lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku
Kalau ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan
Namamu ibu, yang kusebut lebih dahulu
Lantaran aku tahu
Engkau ibu dan aku anakmu

Bila aku berlayar lalu datang angin sakal
Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal

Ibulah itu, bidadari yang berselendang bianglala
Sesekali datang padaku
Menyuruhku menulis langit biru
Dengan sajakku


Karya: D. Zawawi Imron

PAHLAWAN TAK DIKENAL

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata kita sedang perang

Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapan
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring tetapi bukan tidur sayang

Wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sepi padang senja
Dunia tambah beku di tengah derap dan suara menderu
Dia masih sangat muda.....

Hari itu 10 November, hujanpun mulai turun
Orang-orang ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga
Tapi yang nampak wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tapi bukan tidur sayang
Sebuah peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata: aku sangat muda


Karya: Toto Sudarto Bahtiar

DOA

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling


Karya: Chairil Anwar

LORONG KOTA

Aku berjalan menatap kota
Lorong negeri menapak senja
Kulihat pengemis mengharap iba
Gelandangan bertabur di lorong kota

Saat aku membuka pintu
Tiga bocah  berebut nasi
Inikah sosok anak negeri
Berlabuh air mata setiap hari

Masih adakah titik embun
Membasahi bumi?


Karya: Hond

HUTANKU MENGHILANG

Redup cahaya mentari
Menyinari daun-daun
dan pepohonan asri
menjadikan alam tampak indah nan anggun
Kini tinggal impian dan bayang fatamorgana

Hutanku yang dulu menghias bumi pertiwi
Hutanku yang dulu tempatku bersendau
lenyap tak berbekas dibawa sang durjana
Tangan-tangan jahil mengoyak dengan mesin-mesin
menderu
merobohkan setiap batang pohon
Bumiku jadi kering kerontang
Menatap sendu di bawah terik mentari

Hutanku menghilang di sudut kota
Pabrik dan gedung bertingkat berjejer
menggantikan pepohonan yang dulu rindang
Panas mentari menggantikan sejuknya udara


Karya: Hond

RINDUKU PADA ALAM

Alam menyambut datangnya pagi
Kicau burung bersahutan menyapa sepi
Kabut pagi menyentuh dedaunan kering
Bunga bermekaran harum mewangi

Burung berkicau mengoyak sepi
Mentari menapak meniti hari
Kutilang bersiul di pagi hari
membelah suasana di pagi sunyi

Rerumputan bersendau diguyur embun pagi
Hamparan sawah emas permata
Di bawah anak katulistiwa
Membentang harapan anak bangsa

Seluring merdu mendayu mengelus sukma
Lelaki tua menatap kosong pada rerumputan
Yang bukan lagi miliknya

Rindu dan peluh tercurah
Keringat membasuh
Bumi berguncang
Anak gembala bertanya pada kakeknya
"Apakah pohon-pohon itu masih milik kita?"


Karya: Hond

KARANGAN BUNGA

Tiga anak kecil
Dalam langkah malu-malu
Datang ke Salemba
Sore itu

"Ini dari kami bertiga
Pita hitam pada karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang ditembak mati
Siang tadi"


Karya: Tirani, Taufik Ismail

SALJU

Ke manakah pergi
Mencari matahari
Ketika salju turun
Pohon kehilangan daun

Ke manakah jalan
Mencari lindungan
Ketika bara hati
Padam tak berarti

Ke manakah lari
Mencari api
Ketika bara hati
Padam tak berarti

Ke manakah pergi
Selain mencuci diri


Karya: Wing Karjo

LAUT TAWARKU

Di lereng-lereng gunung menujumu
Di atas bus yang menderu
Detak hari kian keras
Kuatir nasibmu
Sore itu

Parasmu diusap senja
Alangkah tenang
Salam sederhana kau ulurkan padaku
tanpa iringan gelombang


Karya: L.K. Ara

AYAH

Di remang malam buta
Kulihat engkau tertidur lelap
Mungkin engkau telah lelah
Mencari nafkah 'tuk keluarga

Ayah, semoga berakhir derita kita
Dengan senyum dan tawa ria
Yang selama ini kurindukan
Senyumlah, Ayah, tertawalah

Kehidupan berputus bagai roda
Dialami oleh semua manusia
Tuhan yang mengatur segalanya
Tapi, kapan derita berakhir segera?


Karya: Purwaring Retnowati

CAMPUR ADUK

JAB PYAAR KISISE HOTA HAI

Malam hari. Setelah nonton Tv yang acara menarik dan bagus....DA8 di chenel INDOSIAR, ya seperti biasa sih Budi dengan santai di depan rumah...

CAMPUR ADUK