CAMPUR ADUK

Wednesday, October 23, 2019

TIGA PANGERAN

Pada zaman dahulu di pulau madura ada sebuah kerajaan yang besar dan makmur. Rakyatnya hidup tenteram dan cukup sandang pangan.Kerajaan itu di pimpin oleh seorang raja yang sudah berusia lanjut,dan sudah waktunya dia mencari pengganti untuk menduduki tahtanya.

Raja itu mempunyai tiga orang putera, dan hal itulah yang membuat sang raja bingung. Karena takut dia akan salah dalam memilih dan menyebabkan permusuhan dan perpecahan di kerajaanya. Tapi ahirnya dia mendapat sebuah ilham untuk membantunya menyelesaikan permasalahan yang dia hadapi.


Maka pada suatu hari,di panggilah ke tiga puteranya untuk menghadap. Lalu sang raja berkata..''Hai anak-anak ku, hari ini kalian bertiga ku panggil menghadap karena suatu hal. Kalian tahu usia ku tak lagi muda, maka aku berniat mengangkat salah satu dari kalian untuk menggantikan ku. Tapi agar adil, aku akan memberi satu pertanyaan yang masing-masing dari kalian harus jawab. Dan dari jawaban yang kalian utarakan aku akan menentukan siapa yang berhak menggantikan ku. Dan ketika aku telah memilih, maka kalian harus rela dan tidak ada dendam yang kalian pendam,'' kata sang raja.

Ketiga pangeran menyanggupi syarat dari raja. Karena mereka yakin, apa yang di putuskan oleh ayahandanya adalah pilihan terbaik. Kemudian sang raja pun berkata lagi "Seperti apa cinta mu pada rakyat mu?''


Anak pertama pun mengangkat tangan dan berkata ''Cinta ku pada rakyat ku sebesar gunung ayahanda,'' Jawabnya dengan mantab.


''Hmm..begitu? Mengapa harus sebesar gunung?'' tanya sang raja lagi.

''Gunung itu besar, tinggi dan kuat mencengkeram tanah. Jadi begitulah wujud cinta ku,yang kuat, besar dan tak tergoyahkan,'' jawab anak pertama dengan mantab.


''Tapi bukankah di pulau madura ini tidak ada gunung? Dari mana kau bisa tahu wujudnya gunung?'' tanya baginda raja lagi.

''Tapi di pulau jawa ada banyak gunung ayahanda,dan hamba mendengar semua hal tentang gunung dari orang-orang yang pernah ke sana,'' kata putra menjelaskan.

''Jadi kau menyimpulkan sesuatu dari kabar orang, padahal kau belum melihatnya sendiri? Lalu bagaimana cara mu berlaku adil pada rakyat mu jika kau mengetahui masalah mereka hanya dari kabar yang kau dengar?'' tanya sang Raja.


Anak pertama terdiam mendengar pertanyaan Raja, dia menyadari letak kesalahanya. Lalu sang raja pun ganti bertanya pada putra ke dua. Dengan mantab dan percaya diri si anak kedua pun menjawab..?.


"Cinta ku kepada rakyat ku seperti bintang di langit ayahanda."


''Sebutkan alasan mu..!!'' pinta Raja.

''Bintang itu indah, berkilau, bertaburan tak terhitung dan berada di langit yang tinggi hingga tak ada yang dapat melampauinya. Bahkan tingginya gunung sekalipun tak dapat mengalahkanya. Keindahan dan gemerlapnya dapat di nikmati setiap manusia yang ada di bumi, begitulah wujud cinta ku ayahanda...seperti bintang, agar semua rakyat ku dapat menikmati indahnya cinta ku," kata anak ke dua menjelaskan.

''Hmm..bagus,niat mu sangat mulia.Tapi..bagaimana mungkin rakyat mu bisa merasakan cinta mu,bisakah kau bersikap adil?'' tanya sang raja.


''Maksud ayahanda?'' tanya anak kedua tak mengerti.


''Begini..bintang itu tinggi,terlalu tinggi hingga tak terjangkau. Lalu..bagaimana kau bisa berlaku adil pada rakyat mu jika untuk menemui mu saja mereka tak bisa..?'' tanya Raja.

Anak ke dua pun terdiam tanpa bisa menjawab.Lalu sang Raja pun ganti melanjutkan bertanya pada si bungsu,anak terahirnya. Raja pun mengutarakan pertanyaan yang sama seperti yang di tanyakan pada ke dua kakaknya.

''Cinta ku pada rakyat ku seperti garam ayahanda......," jawab si bungsu.

''Hmm..kenapa garam? Bukankah garam adalah sesuatu hal yang remeh? Kenapa tak memilih bulan atau matahari yang lebih besar, indah, dan bersinar ?'' tanya Raja.

''Begini ayahanda...setiap hari hamba menghabiskan waktu untuk berkeliling negri dan membaur dengan rakyat, bahkan hamba di ajari membuat garam oleh mereka. Mungkin..garam adalah hal yang sepele dan tak bernilai, tapi garam adalah hal yang di butuhkan oleh semua orang. Karena garam adalah hal yang tak terlalu berharga,hingga membuat semua kalangan bisa mendapatkanya dengan mudah, bahkan jika membelipun, Garam bisa di dapat dengan harga yang cukup murah. Garam ada di manapun, hingga tak terlalu sulit untuk menemukanya," kata si bungsu menjelaskan.

Raja terdiam mendengar penjelasan si bungsu. Setelah lama di tunggu, Raja tetap tak menemukan sangkalan untuk si bungsu. Dan akhirnya Raja memutuskan bahwa si bungsulah yang akan menggantikan tahtanya. Dan kedua kakaknya pun menerima keputusan Raja dengan bijak dan lapang dada......

THE NAIL

A merchant had done well at the fair. He had sold all his wares, and filled his moneybag with gold and silver. He now wanted to make his way toward home, and to be in his own house before nightfall. So he loaded his duffel bag with the money onto his horse, and rode away.

Seorang pedagang telah sukses berjualan di Pekan Raya. Dia berhasil menjual semua barang dagangannya, dan kini kantong uangnya penuh terisi oleh emas dan perak. Sekarang, dia ingin bergegas pulang agar bisa sampai di rumah sebelum malam hari tiba. Dia pun menaikkan tas nya yang berisi uang ke punggung kudanya, dan memulai perjalanannya.

At noon made a rest stop in a town. When he was about to continue on his way, a servant brought him his horse and said, "Sir, a nail is missing from the shoe on his left hind hoof."

Saat siang tiba, dia beristirahat di sebuah kota. Saat dia akan melanjutkan perjalanannya, seorang pelayan yang membawakan kudanya berkata "Pak, paku dari sepatu kuda anda yang sebelah kiri belakang ada yang hilang."

"Let it be," answered the merchant. "The shoe will certainly stay on for the six hours that I still have to ride. I am in a hurry."

"Biarkan saja," jawab si pedagang. Sepatu kuda itu tidak akan lepas setidaknya untuk 6 jam perjalanan yang akan aku tempuh. Aku sedang terburu-buru."
That afternoon, when he dismounted once again and had his horse fed, a servant came into the inn and said, "Sir, a shoe is missing from your horse's left hind hoof. Shall I take him to the blacksmith?"

Saat sore tiba, si pedagang beristirahat lagi di sebuah kota, dan kudanya pun diberi makan. Kemudian, seorang pelayan masuk ke penginapan tempat dia beristirahat dan berkata, "Pak, sepatu kuda anda yang sebelah kiri belakang hilang. Perlukah saya bawa ke pandai besi?"

"Let it be," answered the man. "The horse can manage for the few hours that I still have to ride. I am in a hurry."

"Biarkan saja," jawab si pedagang. "Kuda itu tetap dapat berjalan sampai beberapa jam lagi. Aku sedang terburu-buru."

He rode on, but before long the horse began to limp. It did not limp long before it began to stumble, and it did not stumble long before it fell down and broke a leg. The merchant had to leave the horse where it was, and unbuckle the duffel bag, load it onto his shoulder, and walk home on foot, not arriving there until very late that night.

Si pedagang kemudian melanjutkan perjalanannya. Tidak lama kemudian, kudanya pun mulai pincang, dan terjatuh. Kaki kuda itu pun patah. Si pedagang terpaksa meninggalkan kudanya dan berjalan sambil memanggul tasnya yang berat. Si pedagang baru sampai di rumahnya saat sudah larut malam.

"All this bad luck," he said to himself, "was caused by that cursed nail."

"Semua ini adalah kesialan," kata si pedagang kepada dirinya sendiri. "Ini karena paku yang terkutuk itu."

Haste makes waste.
Tergesa-gesa dapat mengakibatkan segalanya jadi runyam/sia-sia.

ULAR, KATAK DAN SAUDAGAR

Konon, hiduplah seorang saudagar yang kaya raya. Saudagar tersebut mempunyai tiga anak gadis yang cantik dan belum menikah. Suatu ketika, saudagar tersebut pergi jalan-jalan menengok sawahnya. Tiba-tiba, di pematang sawah, ia melihat seekor ular memangsa seekor katak.

Katak itu menjerit kesakitan. "Kiik.. kiik…" begitulah suara jeritannya. Karena merasa kasihan, maka sang saudagar berseru kepada sang ular. "Wahai ular, tolong lepaskan katak itu. Aku punya tiga orang anak gadis. Kalau kau melepaskan katak itu aku akan memberikan seorang dari mereka untuk jadi istrimu" kata sang saudagar. Mendengar perkataan tersebut, ular pun melepaskan mangsanya dan pergi ke semak-semak. Lama setelah kejadian itu, sang saudagar pun lupa terhadap janjinya. Sampai pada suatu hari, datanglah seorang samurai muda yang gagah dan tampan menemui sang saudagar di rumahnya. Samurai tersebut lalu memperkenalkan diri. "Saya adalah jelmaan dari ular. Saya datang untuk menagih janji menikahi salah seorang anak gadis Anda" kata sang samurai. Mendengar perkataan itu, sang saudagar teringat kembali janjinya yang dulu. Akhirnya ia meminta agar sang samurai datang kembali pada waktu yang dijanjikan. Dan sang samurai pun menerima hal itu. Ia akan datang lagi untuk menjemput pengantinnya. Berhari-hari sang saudagar tidak bisa tidur nyenyak karena terus memikirkan perjanjiannya dengan sang ular. Akhirnya suatu pagi, anak-anak gadisnya berkumpul dan bertanya kepada ayahnya.

"Ayah, akhir-akhir ini engkau kelihatan kurang sehat. Ada masalah apa?" tanya salah seorang anak gadisnya. Sang ayah pun akhirnya menceritakan permasalahan yang dialaminya kepada anaknya. Mendengar penjelasan ayahnya, mereka semua terdiam. Anak pertama dan kedua menolak menjadi pengantin sang ular. Namun anak terakhir bersikap lain. "Baiklah, aku tidak akan mengecewakan ayah. Aku bersedia menjadi pengantin ular itu!" katanya dengan tenang. Sang ayah pun lega dibuatnya. Akhirnya, hari pernikahan pun tiba. Sang anak bungsu minta agar ia dibekali beberapa labu panjang dan jarum tenun. Setelah itu, sang pengantin pria membawa pengantin wanita pulang ke rumahnya. Rumah pengantin pria berada di balik bukit. Beberapa lama kemudian, mereka sampai di sebuah kolam yang besar. "Ini adalah rumahku. Silakan kau dulu yang masuk ke dalam air!" kata pengantin pria. Tetapi sang pengantin wanita menolak dengan halus. "Barang bawaanku banyak. Tolong kau dulu yang masuk dengan membawakan barang-barangku tersebut" kata sang pengantin wanita.

Demikianlah, akhirnya pengantin pria dengan membawa barang-barang milik pengantin wanita, masuk ke dalam kolam. Ketika masuk ke kolam, labu panjang yang ia bawa menyembul ke permukaan kolam beberapa kali. Saat ia memasukkan beberapa labu itu, labu lainnya menyembul lagi ke permukaan. Sang pria pun merasa jengkel, labu-labu itu akhirnya mengapung semua ke permukaan kolam. Karena terlalu lelah, perlahan-lahan tubuh pria itu berubah menjadi wujud aslinya, yaitu ular. Ular itu naik ke tanggul kolam dan tertidur disana. Melihat bahwa ular sedang tertidur pulas, pengantin wanita itu segera mengeluarkan jarum tenunnya. Ia lalu menancapkan jarum tenunnya ke atas kepala hingga ekor sang ular.

Ular itu pun mati. Setelah berhasil membunuh sang ular, anak gadis itu segera pergi dari kolam. Namun karena hari sudah gelap, ia tersesat di dalam hutan. Setelah berjalan menyusuri hutan, ia menemukan sebuah pondok kecil. Pondok tersebut dihuni oleh seorang nenek tua. Selama beberapa lama sang gadis menginap di pondok itu. Sampai pada suatu hari, sang nenek bercerita bahwa dia sebenarnya adalah penjelmaan dari katak yang pernah ditolong oleh ayah sang gadis. Karena ingin membalas budi ayahnya, ia pun ingin menolong anak gadisnya. Sang nenek menyarankan agar sebelum kembali ke rumahnya, ia bekerja dulu di rumah seorang saudagar kaya di dekat desa.

Namun karena jarak ke desa terdekat itu agak jauh, sang nenek pun khawatir kalau anak gadis secantik itu akan diganggu oleh orang jahat selama dalam perjalanannya nanti. Sang nenek memberikan sebuah pakaian dari kulit untuknya. "Pakailah pakaian dari kulit ini, agar bisa menyamarkan kecantikanmu" kata sang nenek sambil menyerahkan sebuah pakaian yang terbuat dari kulit katak yang kasar. "Dengan memakai pakaian kulit itu, kecantikanmu akan tersembunyi. Hal itu lebih baik agar kamu tidak diganggu oleh orang-orang jahat nantinya" kata sang nenek. "Rumah saudagar itu sedang membutuhkan pembantu untuk mengurus dapur dan pekerjaan rumah tangga lainnya. Bekerjalah disana untuk beberapa waktu!" saran sang nenek.

Setelah mengenakan pakaian dari kulit itu, sang gadis berubah menjadi seorang nenek yang kulitnya sudah berkeriput. Ketika sampai di rumah sang saudagar, ia menemui sang pemilik rumah dan memohon agar ia diterima sebagai pembantu rumah tangganya. Demikianlah, sejak saat itu sang gadis bekerja di rumah itu. Setiap hari ia harus bangun pagi, menanak nasi dan membersihkan rumah besar tersebut. Pada suatu hari, ketika para anggota keluarga sedang pergi menonton rombongan pemain sandiwara di balai desa, sang gadis tinggal sendirian di rumah. Karena tidak ada seorang pun di rumah, maka ia melepaskan pakaian kulitnya. Sudah lama ia ingin melihat dirinya yang sebenarnya. Ia melihat wajahnya di kaca. Ternyata tidak ada yang berubah. Ia tetap cantik seperti sebelum memakai pakaian kulit pemberian sang nenek. Pada saat itu, seorang anak pria putra bangsawan datang ke rumah untuk mengambil sesuatu. Karena di rumah tidak ada seorang pun ia menjadi penasaran. Ia sangat terkejut ketika melihat sesosok gadis yang cantik jelita berada di dalam kamar. Putra bangsawan itu pun jatuh hati kepada sang gadis.

Beberapa hari kemudian, sang pemuda jatuh sakit. Berhari-hari ia tidak mau makan. Tubuhnya sangat lemah. Tidak ada obat yang dapat menyembuhkannya. Ketika seorang tabib datang memeriksa, ketahuan bahwa sakit yang diderita sang putra bangsawan tersebut dikarenakan cinta. Pemuda tersebut telah jatuh cinta pada seorang gadis yang pernah dilihatnya. Namun karena gadis tersebut tidak ia temukan lagi, maka ia pun jatuh sakit.

Keluarganya pun sangat kebingungan, nenek pembantu rumah tangga pun menyadari bahwa gadis yang dilihat oleh putra bangsawan tersebut pasti adalah dirinya ketika ia melepas pakaian kulitnya beberapa waktu yang lalu. Karena merasa kasihan, ia pun melepaskan pakaian kulitnya lagi dan menemui putra bangsawan yang sedang sakit tersebut. Melihat wajah cantik jelita itu, sang pemuda tersenyum dan sakitnya pun berangsur-angsur sembuh kembali.

Demikianlah, akhirnya sang gadis dinikahkan dengan putra bangsawan tersebut. Mereka hidup dengan bahagia. Setelah beberapa lama menikah timbul kerinduannya terhadap ayah dan kedua saudarinya. Ia pun meminta agar suaminya mengantarkan pulang ke rumah orang tuanya. Orang tua sang gadis yang semula mengira bahwa putri bungsunya tidak akan pernah kembali lagi, merasa sangat bahagia ketika bertemu kembali. Mereka terharu mendengar cerita pengorbanan putri bungsunya. Sejak saat itu mereka bisa berkumpul kembali dan hidup dengan bahagia.

Tuesday, October 22, 2019

DISKUSI CINTA

Hari yang melelahkan. Dono duduk santai di ruang tamu sambil menikmati teh anget buatannya. Indro selesai menyelesaikan masaknya di dapur. Lalu Indro membawa sepiring singkong rebus ke ruang tamu.

"Silakan di makan Don singkong rebusnya!" kata Indro.

"Iya," saut Dono.

Dono pun mengambil singkong rebus dan segera di makannya.

"Enak Indro singkong rebusnya?" pujian Dono.

"Iya," saut Indro.

Indro pun memakan singkong rebus juga. Kasino baru selesai urusan pekerjaannya segera pulang ke rumah. Masuk Kasino ke rumah dan tidak lupa mengucap salam "Asalamualaikum".

"Waalaikumsalam," jawab Dono dan Indro bersamaan.

Kasino duduk juga di ruang tengah langsung menikmati singkong rebus.

"Enak," kata Kasino.

"Oh iya, Indro gak ngapelin Saskia?" tanya Dono.

"Memang tumben Indro di rumah terus. Biasanya selalu ada acara ke rumah kekasih hati," kata Kasino." 

"Maunya. Kalau cewek sudah ketahuan bohongnya gimana ya?" kata Indro sambil berpikir.

"Maksudnya?" tanya Dono dan Kasino bersamaan.

"Ya. Pernah satu kejadian sih. Saskia ketahuan bohongnya sama saya. Katanya gak bisa temuan dengan saya. Tapi ketika saya cek lewat jaringan teman-teman. Eeee, Saskia malah jalan dengan cowok lain. Sayanya gak langsung marah, tapi saya diam saja," cerita Indro.

"Terus gimana kelanjutannya!" kata Dono.

"Hubungan terus belanjut. Tapi saya males untuk menemui Saskia. Karena ketahuan bohongnya," kata Indro yang tegas.

"Kalau masalahnya itu sih. Bisa-bisa putus hubungan," saut Kasino.

"Sayang juga ya. Hubungan yang di jalani cukup lama. Pada akhirnya putus karena kebohongan cewek. Kelain hati sih. Padahal, kamu Indro tipe setia," kata Dono.

"Mungkin juga putus. Tapi, membiarkan Saskia memilihlah mana yang terbaik saja. Toh saya tidak terlalu peduli dengan persoalan tentang kebohongan tersebut. Cinta itu permainan kehidupan ini. Kadang baik dan kadang buruk endingnya," kata Indro.

"Indro telah dewasa. Tidak terpengaruh dengan hasrat di dalam dadanya," kata Kasino.

"Jalan cerita cinta Indro kaya syair lagu 'Entah apa yang merasuki mu'," kata Dono.

"Iya," saut Indro.

"Jadi gimana Indro, putus gak sama Saskia. Lebih baik saat pacaran, putusnya dari pada saat sudah menikah jadi cerai. Perkaranya lebih runyem dan malu-maluin. Kata cinta kok putus alias cerai, jadinya cinta itu cuma kebohongan saja," kata Kasino.

"Saya tetap bertahan satu cinta. Walau cinta itu menyakitkan saya usahakan untuk tetap bertahan dengan satu cinta. Sampai orang di cintai sadar," kata Indro.

"Kalau begitu sh tipe cowok yang penyabar," saut Dono.

"Pintar kamu Indro mengambil sikap," pujian Indro.

"Pintar kamu Indro mengambil keputusan demi cinta mu terhadap Saskia. Kalau kamu putus dengan Saskia, kalau bisa jangan kamu yang mengucap putus, biarkan wanitanya bilang putus. Jadinya kamu tidak menyakiti Saskia karena kata-kata putus. Karena di kalangan anak muda sekarang ini, kata putus dalam hubungan adalah kata yang menyakitkan untuk di ucapkan ke pasangan yang kamu cinta dulu sekarang tidak. Pada akhirnya air mata mengalir karena rasa sakit di hatinya," kata Dono.

"Kayanya bukan anak muda sekarang aja. Orang orang tua yang pernah menjalani kehidupan muda dulu juga sama aja menjalankan kesalahannya sama kaya anak muda sekarang kalau urusan percintaan. Kebanyakan menyakiti pasangannya," tambahan Kasino.

"Saya mengerti omongan kalian berdua. Saya usahakan membiarkan Saskia yang ingin putus atau tetap melanjutkan hubungan sampai pernikahan," kata Indro.

Indro pun beranjak dari duduknya langsung ke ruang tengan untuk menonton Tv. Kasino pun beranjak dari duduknya ke kamarnya untuk berbenah diri. Dono tetap santai di ruang tamu. Selang beberapa saat. Indro mendapatkan telpon dari Saski. Pembicaraan antara Saskia dan Indro lewat  telpon pun cukup lama. Pada akhirnya Saskia pun berkata yang membuat kaget Indro "Abang, Saskia minta maaf karena sudah membohongi diri Saskia sendiri. Ternyata Saskia cintanya sama Abang Indro".

"Iya, Abang maafkan kesalahan Saskia," kata Indro.

"Terima kasih ya, Abang," kata Saskia yang senang.

"Iya," jawab Indro.

"Udah dulu, ya telponannya. Asalamualaikum," kata Saskia mengakhiri pembicaraan.

"Waalaikumsalam," jawab Indro.

Indro pun menaruh Hpnya di meja setelah mengakhiri pembicaraan dengan Saskia. Indro pun langsung berkata dengan suara keras "Saya menang".

Kasino dan Dono kaget dengan suara yang keras Indro jadi mendatangi Indro dan bertanya "Kenapa kamu Indro?"

"Enggak, saya cuma seneng aja. Saskia memilih saya. Cintanya mati sama saya," kata Indro.

"Wah..wah..wah. Cewek yang bisa berpikir jernih. Mana yang terbaik untuknya dalam menjalankan hidup," pujian Kasino.

"Iya, cewek yang pinter. Indronya penyabar menghadapi sikap Saskia. Ending ceritanya bahagia. Bersatu lagi deng Indro dengan Saskia," pujian Dono.

"Saya, senang dengan Saskia yang bisa bersikap bijak dalam menjalankan hidup. Tidak mengkhianatin cintanya kepada saya. Walau sejenak sih sebenarnya sih termasuk. Tapi ya sudahlah ujian buat cinta saya dengan Saskia," kata Indro.

"Akhir yang bahagia. Itu lah yang di sukai oleh banyak orang," kata Kasino.

"Iya," saut Dono.

"Iya, benar akhir yang bahagia," saut Dono.

Kasino kembali ke kamarnya karena ada yang ia kerjakan. Dono ya kembali santai di ruang tamu sambil baca buku. Indro nyantai nonton Tv padahal acara Tv-nya lagi bener-bener serius gitu. Acara Tv yang di tonton Indro ya berita seputar urusan pemerintahan yang inilah yang itulah kaya gak habis-habisnya ada aja pokok permasalahan yang di bicarakan lebih cenderung sih diskusi di studio Tv. Pada hal Indro tahu benar, kerasnya orang-orang yang kerja di studio Tv untuk membuat berita yang bagus dan mudah di pahami semua orang yang menontonnya. Dono pun agak jenuh baca bukunya karena memang sudah lama membaca buku, jadi berhenti baca bukunya dan di taruh buku di atas meja. Dono pun beranjak dari duduknya menuju ruang tengah untuk nonton Tv bersama Indro. Dengan santai Dono menonton Tv bersama Indro. Kasino pun selesai mengerjakan kerjaannya di kamarnya dan keluar dari kamar langsung duduk bersama Dono dan Indro di ruang tengah untuk menonton Tv yang acaranya berita seputar pemberitaan ini dan itu, baik dalam negeri maupun luar negeri.

Sunday, October 20, 2019

CAMPUR ADUK

Langit yang cerah sekali. Dono sedang bersantai di teras sambil minum kopi dan makan pisang goreng. Indro baru selesai urusannya dari rumah Saskia langsung ke rumah. Sampai di depan rumah melihat Dono yang sedang santai di teras rumah langsung berkatalah Indro mengucap salam "Asalamualaikum".
"Waalaikumsalam," jawab Dono. 
Indro langsung duduk bersama Dono. Seperti biasa Indro langsung mengambil pisang goreng di piring dan segera memakannya.

"Enak...Don..pisang gorengnya," kata Indro.

"Iya, saya buat sendiri," kata Dono.

"Oh. Iya Don. Tumben di rumah biasanya hari minggu gini main kemana gitu," kata Indro.

"Lagi gak ada tujuan untuk main," kata Dono.

"Gak ada tujuan toh," saut Indro.

Indro pun masuk rumah langsung ke ruang tengah untuk nonton Tv. Saat Tv di hidupkan semua chenel Tv menanyangkan Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden RI. Indro dengan santai menonton acara Tv. Dono pun masuk ke rumah sambil membawa piring  dan gelas menuju dapur. Baru setelah itu Dono duduk bersama Indro nonton Tv. Indro pun mulai bertanya pada Dono "Gimana tanggapan kamu ke depan mengenai pemerintahan sekarang untuk pemerataan pembangunan menuju lima tahun mendatang?".

"Ya sesuai rencana program kerja yang di susun rapih oleh orang-orang pemerintahan untuk pemerataan pembangunan lima tahun ke depan. Pada akhirnya berhasil atau tidaknya paling gak jauh dari nilai SDM-nya yang bisa bersaing di dalam negeri dan luar negeri. Pinter lawan pinter jika ingin hidup layak di Indonesia. Itu pun dalam lima tahun saya pun belum tentu umur panjang," kata Dono.

"Kok ngomongnya gitu Don. Umur mu panjang," kata Indro.

"Mau begitu. Kenyataan tetap kenyataan. Rahasia diri," kata Dono.

"Saya mengerti keadaan di dalam tubuh mu. Tetap usahakan umur panjang jadi bisa membagi cerita dengan saya dan Kasino atau orang-orang yang baik dekat dengan kamu Don," kata Indro.

"Saya usahakan," kata Dono.

Kasino pun langsung baru masuk rumah tak lupa mengucap salam "Asalamualaikum".

"Waalaikumsalam," saut Dono dan Indro.

Kasino pun mengajak Indro dan Dono untuk ikut main ke pantai untuk menikmati hari minggu. Dono dan Indro pun segera bergegas untuk beres-beres dan langsung keluar rumah bersama Kasino dan naik mobil. Berangkatlah ketiganya menuju pantai untuk menikmati indahnya pantai. Selang berapa saat sampai di pantai. Dono, Kasino dan Indro menikmati indahnya pantai dan menghilangkan kegundahan di dalam diri. Hari pun berganti menjadi malam. Dono, Kasino dan Indro pada akhirnya memutuskan untuk menginep di pondokkan pinggir pantai yang di sewakan.

Ketiganya menikmati keadaan dengan baik. Seperti biasa untuk makan malam Indro masak yang enak. Kasino dan Dono menyiapkan bahannya yang di beli dari warga sekitar pantai. Indro dengan cekatan memasak makan untuk makan malam. Makan pun terhidang di meja. Segera ketiganya menikmati malam. Lagi santai menikmati makan malam. Angin bertiup kencang sekali. Indro pun merasa was-was dengan keadaan angin yang bertiup kencang. Keluarlah Indro dari pondokan. Terlihat gelombang air laut yang besar. Indro segera memanggil Dono dan Kasino untuk keluar dari pondokan karena ombak besar menuju bibir pantai. Ketiganya masuk mobil dan segera pergi menjauh dari bibir pantai. 

Usaha ketiganya selamet dari gelombang air laut yang menerjang ke pinggir pantai. Kasino yang membawa mobil langsung membawa mobil balik ke rumah. Sampai di rumah istirahat ketiganya. Seperti biasa Indro menghidupkan Tv untuk melihat berita. Terkejutlah Indro melihat berita di Tv tentang gelombang air laut yang menerpa bibir pantai. Keluarlah sosok dari lautan seekor Naga Hitam yang mengamuk dan sedang bertarung seorang Dewa dan Indro mengenal Dewa yang di lihatnya dari Tv adalah Nacha. Pertarungan itu sangat hebat sekali. Maka itu Indro memanggil Dono dan Kasino untuk menontonnya berita di Tv. Dono dan Kasino menontonnya pertarunagan Nacha dan Naga Hitam dengan seksama. Tapi tiba-tiba mati lampu, jadi tidak bisa nonton berita tersebut sampai selesai.

"Jadi yang kita tonton beneran atau tidak?" kata Indro.

"Mana saya tahu," saut Dono.

"Lebih baik cari lilin biar terang rumah ini. Lupakan berita itu!" kata Kasino.

Dono pun mengambil lilin di laci dan segera di hidupkan. Keadaan rumah jadi terang deh. Dono memutuskan untuk bersantai di ruang tamu sambil main game di Hpnya. Indro ikutan juga santai di ruang tamu sambil main game di Hpnya untuk menunggu lampu hidup. Sedangkan Kasino memutuskan untuk tidur. Cukup lama Dono dan Indro menunggu lampu hidup, tetap gak hidup. Hari makin larut banget. Dono dan Indro memutuskan untuk tidur. Esok harinya Dono, Kasino dan Indro bangun dari tidur pagi-pagi untuk menjalankan aktivitas. Saat keluar dari rumah.

Terkejut ketiganya melihat keadaan sudah hancur semuanya. Di langit terlihat jelas oleh Indro pertarungan antara Naga Hitam dan Nacha. Dono dan Kasino pun melihat juga pertarungan Nacha dan Naga Hitam.

"Wah dunia kacau ini mah," kata Indro.

"Sudah seperti ini. Lebih baik menunggu pertarungan itu selesai," kata Dono.

"Gak ada jalan lain. Menunggu deh," kata Kasino.

"Menunggu," saut Indro.

Ketiga menonton pertarungan Naga Hitam dan Nacha di langit sangat sengit karena tidak mau mengalah. Sampai hari menjelang malam pun pertarungan pun berakhir antara Nacha dan Naga Hitam dengan seimbang. Nacha dan Naga Hitam tergeletak di tanah dengan kehabisan tenaga.

Dono, Kasino dan Indro pun masuk rumah dan lebih baik bersantai di rumah. Angin pun bertiup kencang sekali. Indro pun keluar rumah. Kaget Indro melihat lingkungan kembali semula dan berteriak "Saya bermimpi atau kah kenyataan sih".

Teriakan Indro membuat Dono dan Kasino kaget dan mendatangi Indro. Dono dan Kasino melihat lingkungan sudah hancur semua kembali seperti biasanya normal.

"Wah bener dunia mulai aneh," kata Dono.

"Iya. Kaya berita kebohongan yang di buat oleh pembuat berita dengan cara apapun untuk menaikin reting tontonan jadinya beneran gitu," kata Kasino.

"Jadi sebenarnya yang terjadi pada kita sebenarnya apa Don?" tanya Indro.

"Campur Aduk," jawab Dono.

"Campur Aduk," kata Indro yang masih bingung.

"Iya. Bener. Campur Aduk," saut Kasino.

Indro pun lebih baik bersantai di dalam rumah bersama Dono dan Kasino dengan melakukan kegiataan yang di sukai mereka masing-masing dan mengabaikan lingkungan sekitar.

Friday, October 18, 2019

TERIMA KASIH PEMIMPIN

Indro sedang santai di ruang tamu sedang membaca buku sambil minum kopi. Kasino baru selesai menyelesaikan pekerjaannya di kamarnya. Kasino pun keluar dari kamarnya duduk bersama Kasino, lalu mengambil singkong ribus di meja dan segera memakannya. Kasino pun berkata pada Indro " Tumben Indro tidak nonton Tv?"

"Cuma cari suasana lain aja. Baca buku," kata Indro.

"Oh begitu. Tapi buku yang kamu baca Indro lumayan berat banget?" kata Kasino.

"Buku tentang ekonomi. Lebih tepatnya tentang bursa saham sih. Ya lumayan berat untuk memahami buku ini," kata Indro.

"Oh begitu. Bursa saham toh. Mudah bila mengerti tidak mudah bila tidak mengerti. Jika menjalankan permainan saham pun bisa untung kalau bisa membaca dari proses pergolakan bursa saham, kalau tidak bisa membaca dengan baik rugi," kata Kasino.

"Saya mengerti omongan kamu Kasino. Oh iya. Dono belum pulang jam segeni?" kata Indro.

"Biasa urusan cinta. Kalau jauh rasa kangen itu ada jika dekat rasa itu pun terbayar sudah. Namanya juga orang lagi kasmaran," kata Kasino.

"Oh begitu," saut Indro.

Indro pun menyelesaikan baca bukunya dan menaruh buku di atas meja, lalu Indro pindah duduk di ruang tengah langsung menghidupkan Tv untuk menyaksikan berita malam. Kasino pun pindah duduk juga untuk menonton Tv juga dan duduk bersama Indro di ruang tamu. Indro pun mengamati dengan berita yang di tayangkan salah satu chanel Tv. 

Indro pun berkata "Oh pemberitaannya masih seputar pelantikan Presiden toh."

"Kan dari kemarin beritanya memang masih urusan pelantikan Presiden tidak lebih dan tidak kurang," saut Kasino.

"Apa pendapat kamu dengan sistem kerja Pak Jusuf Kalla sebagai wakil Presiden?" tanya Indro.

"Yang jujur atau bohong?" kata Kasino.

"Yang jujur lah!" tegas Indro.

"Bagus aja. Selama ini Pak Jusuf Kalla pandai menjalankan tugas jadi wakil Presiden pada akhirnya masa jabatannya tetap baik," penjelasan Kasino.

"Jadi sebagai anak bangsa yang bijak. Saya mengucapkan 'Terima Kasih' atas pengabdiannya Pak Jusuf Kalla dalam membangun negeri ini demi kemajuan bangsa," kata Indro.

"Harus itu. Majunya negara ini. Penting peranan pemimpin yang pandai dapat membaca situasi keadaan di dalam sistem kerjanya. Jadi bisa tahu mana yang harus duluin mana yang tidak duluin, maksudnya di kerjakan tapi belakangan," tambahan Kasino.

"Lalu bagaimana Kabinet kerja jilid 1 Pak Joko Widodo?" tanya Indro.

"Sebenarnya kurangnya ada lebih juga ada. Biasa itu. Pada akhirnya pun jalan baik. Karena yang terpenting adalah siapa yang memimpin sistem kerja Kabinet tersebut?" kata Kasino.

"Presiden," saut Indro.

"Tepat sekali. Presiden poros utama dalam mengambil keputusannya untuk menilai dari kerja Kabinetnya. Ya pada akhirnya tetap baik lah. Kurangnya sih jawabannya sederhana. Tanggung jawab saja dalam menjalankan tugas menjadi menteri. Kan Tujuannya demi diri, keluarga, agama, bangsa dan negara," penjelasan Kasino.

"Amin," saut Indro.

"Kok. Amin?" kata Kasino.

"Omongan kamu doa Kasino. Tujuannya itu. Sering di omongan para orang tua demi kemajuan negeri ini. Ya jadinya di.... Aminin," kata Indro.

"Amin juga," saut Kasino.

Kasino dan Indro terus menyaksikan acara berita dengan baik. Tiba-tiba Indro teringat ada bola, jadi gantilah chenel Tv untuk nonton bola. Ya Kasino ikutan saja maunya Indro. Kasino dan Indro terbawa suasana tontonannya Tv. Dono pun pulang dari urusannya dan masuk rumah dan tidak lupa mengucap salam "Asalamualikum".

"Waalaikumsalam," jawab Indro dan Kasino bersamaan.

Dono langsung menuju ruang tengah dan duduk bersama Indro dan Kasino. Dono menaruh keresek putih berisi makan dan minuman di taruh meja.

"Asik makan," kata Indro antusias.

Indro mengambil makan yang ada di dalam keresek putih dan minuman seger banget yaitu jus melon kesukaan Indro.

"Gimana urusan kamu dengan Rara hari ini Don?" tanya Kasino.

"Beres. Buat Rara seneng. Sama aja saya juga seneng juga," jawab Dono.

"Emangnya jalan-jalan kemana?" tanya Indro sambil menikmati makan dan minuman yang enak.

"Biasa lah. Mall aja. Aman dan nyaman," kata Dono.

Kasino pun mengambil makan yang ada di dalam kresek dan juga jus kesukaannya yaitu jus alpulkat. Dono pun beranjak dari duduk bersama Indro dan Kasino untuk berbenah diri. Kasino dan Indro menikmati makan dan minumnya sambil menonton sepak bola dengan terbawa suasana tontonan. Dono pun selesai berbenah dirinya, lalu membuat kopi di dapur. Baru setelah itu duduk bersama Indro dan Kasino di ruang tengah nonton Tv yang acaranya bola sambil menikmati kopi buatan Dono yang enak.

Wednesday, October 16, 2019

ASIK NONTON


Malam hari yang di kediaman Dono. Seperti biasa Dono santai mengetik di dalam kamarnya. Indro sedang asik nonton Tv di ruang tamu. Kasino seperti biasa juga di dalam kamar selalu menyelesaikan pembukuan dari hasil kerjanya biar esok hari menjalanin aktivitas berjalan dengan baik sesuai dengan rencana. Dono menyelesaikan tulisannya dengan baik dan menyimpannya dengan baik. Baru deh Dono keluar dari kamar menuju dapur. Seperti biasa Dono membuat kopi. 

Kopi sudah jadi di seduh buat Dono. Dibawalah kopi di ruang tengah dan duduk bersama Indro. Dengan santai Indro nonton acara Tv yang menurutnya menghibur diri sambil minum kopi. Dono pun mengerti acara yang di tonton Indro adalah acara Kamen Rider jadi ikutan juga nonton acara Tv yang di tonton Indro. Kasino yang menyelesaikan urusannya langsung ke dapur dan mengambil minuman kaleng yang ada di kulkas. Baru deh Kasino duduk bersama Indro dan Dono di ruang tengah untuk nonton acara Tv.

Kasino ingin mengganti acara Tv yang asik di tonton Indro karena Kasino sudah memegang remot di tangannya. Indro langsung berkata "Kasino jangan ganti acara Tv....Kamen Ridernya. Lagi seru alur ceritanya..nie. Kasino!"

"Indro, aku ingin nonton acara lain," kata Kasino.

"Acara apa Kasino? Sampe ingin mengganti acara tontonannya Indro," saut Dono.

"Biasa acara nyanyi," kata Kasino.

"Oh....acara nyanyi toh," saut Dono.

"Kalau acara itu sih. Emang suka juga Kasino. Tapi aku lagi asik nonton acara Kamen Rider," kata Indro.

"Jadi .....aku ganti ya," kata Kasino.

"Nanti...ya Kasino," kata Indro.

"Iya," saut Kasino sambil menaruh remot di meja.

Kasino ikut maunya Indro yang asik nonton acara Kamen Rider sambil minum kopi. Dono ya...seperti biasa ikut aja, yang penting heppy. Sampai acara tontonan berakhir, baru deh di ganti oleh Indro untuk nonton acara nyanyian.

"Kan Indro. Sudah pertengahan acara nyanyiannya," kata Kasino.

"Kasino... Kan bisa nonton acara ulangannya lewat sistem penyimpanan di Indihomenya. Jadi kamu bisa nonton awalnya, "saran Dono.

"Iya juga," kata Kasino.

"Sudah lah jangan di bahas lagi. Tonton aja acara nyanyian yang sudah menunjukkan ending dari perlombaan menyanyi," kata Indro.

"Jadi siapa yang menang dalam lomba nyanyi tersebut Kasino dan Indro?" tanya Dono.

"Siapa ya? Yang pasti suaranya merdu dan penampilan bagus. Itulah pemenangnya," kata Indro.

"Yang menang yang kualitas vokal dan penampilannya bagus," kata Kasino.

"Jadi kalian sudah tahu. Siapa yang menang?" kata Dono.

"Yo.i," saut Kasino dan Indro bersamaan.

Kasino dan Indro asik menonton Tv yang di tontonnya karena acaranya bagus dan menghibur. Dono beranjak dari duduknya karena Hpnya bunyi yang di taruh di kamar. Hp pun diangkat Dono yang ditaruh di meja dan di lihat siapa yang nelpon. Ternyata Rara yang menelpon. Dono pun telpon-telponan dengan Rara membicarakan urusan esok hari alias janjian. Pembicaraan itu singkat banget dengan akhir kesepakan yang memuaskan hati Rara. Dono kembali nonton bersama Indro dan Kasino di ruang tengah. Rara pun senang karena berhasil menyakinkan orang di cintainya untuk mengantarkan dirinya ke rumah saudaranya...ya cukup jauh dari rumahnya Rara, tujuannya sih silaturahmi.

Dono santai nonto acara Tv bersama Kasino dan Indro. Saat iklan, Dono langsung mengganti tontonannya pake remot untuk melihat acara berita. Kasino dan Indro ngikut aja maunya Dono. Dono mulai menonton dengan baik acara tontonan berita. Indro dan Kasino ikutan juga.

"Jadi alur beritanya cuma sebatas ini saja," kata Dono.

"Ya seperti biasanya. Berita kan memang memberitakan keadaan sesuai tema yang angkat yang di dapetkan di lingkungan dari sudut para pembuat berita di publikasikan dan untuk di tonton semua orang," kata Indro.

"Kalau begitu aku ganti lagi acaranya ke tontonan nyanyian," kata Dono.

"Iya," saut Indro.

"Kenapa gak coba nonton lawak!" saran Kasino.

"Memang ada?" tanya Indro.

"Ada....Indro," kata Dono.

"Memang aku tahu sih. Cuma becanda," kata Indro.

"Jadi nonton acara nyanyian atau lawak!" kata Dono.

"Sudahlah nyanyian saja. Lawakkan bisa nonton nanti," kata Indro.

"Sudah saya kembalikan tontonan kita ke nyanyian," kata Dono.

Dono segera mengganti tontonan berita ke acara nyanyian. Indro pun langsung asik nonton acara Tv, begitu juga Kasino. Dono pun ikut menikmati tontonan acara Tv sambil menikmati mimum kopinya. 

Thursday, October 10, 2019

GAME

Dono asik membaca buku di ruang tamu sambil minum teh anget buatannya. Indro lagi asik main game PS 4, Tekken 7. Kasino mengimbangi permainan Indro dengan penuh keseriusan. Indro yang menggunakan Geese sebagai jagoaan pertarungnya melawan Lars yang di mainkan Kasino. Pertarungan sangat sengit banget. Seakan-akan Indro dan Kasino bertarung jadi tokoh di dalam game Tekken 7.

Serangan demi serangan yang di lancarkan keduanya tak pernah mau kalah. Lalu Indro mengeluarkan serangan terhebatnya yang jadi Geese begitu juga Kasino mengeluarkan serangan andalan yang menggunakan Lars. Sampai akhirnya Geese kalah oleh Lars. Kasino pun senang menang. Tapi pertarungan belum selesai karena masih  berlanjut lagi menjadi tiga kali pertarungan, jadi pertarungan ke dua di mulai. 

Indro lebih serius lagi dengan permainannya yang mainkan Geese dengan mengeluarkan jurus-jurus yang hebat sampai Lars yang di mainkan Kasino terpojok dan akhirnya kalah. Kasino kalah di pertarungan ke dua. Indro senang dengan pertarungan ke dua dirinya menang dan membayar kekalahannya di pertarungan pertama. 

Pertarungan ketiga pun di mulai lagi antara Geese dan Lars. Indro mulai menyerang dengan sangat hebatnya begitu juga Kasino tidak mau mengalah dalam permainannya. Keduanya benar-benar serius dan mengeluarkan serangan andalan tokoh yang dimainkan. Geese mulai terdesak oleh serangan Lars dan akhirnya Lars menang. Kasino yang memakai tokoh Lars di permainan game Tekken 7 senang banget. Indro pun murung dan akhir menerima kekalahannya dalam permainan game Tekken 7.

Dono yang selesai membaca buku. Beranjak dari duduknya menuju di ruang tengah dan segera mengambil remot Tv dan berkata "Tunda main gamenya. Aku ingin lihat berita hari ini!"

"Iya," saut Kasino yang masih bahagia karena menang permainan game Tekken.

Sedangkan Indro diam tidak menjawab karena kalah bertarung dalam permainan game Tekken. Lebih jelasnya ngambek aje sih Indro karena kalah bermain game Tekken 7. Saat Dono asik nonton berita Dono terkejut dengan berita penyerangan Pak Wiranto dan berkata "Kok bisa ya".

Kasino pun juga yang menonton berita juga berkata "Kecolongan itu mah sampe Pak Wiranto di tusuk".

Indro mulai serius melihat berita dan berkata "Wah kacau itu mah".

Dono terus menonton berita yang di tontonnya. Sedangkan Indro mengambil Hpnya membuka jaringan sosial media dan berkata "Viral....Don, Kasino beritanya Pak Wiranto".

"Entah apa yang merasuki orang yang menusuk Pak Wiranto," kata Dono.

"Setan yang merasukin orang melakukan kejahatan tersebut," saut Kasino.

"Setan!!!" kata Indro yang lebih antusias ngomongnya.

"Setan toh," kata Dono.

Dono mulai mengganti tontonan beritanya dengan permainan game Tekken 7. Indro dan Kasino mulai lagi bermain game Tekkennya. Lalu bergerak mau keluar rumah. Lalu Indro bertanya "Mau kemana Don?"

"Biasa," jawab Dono.

"Rara lah," saut Kasino.

"Ooooo. Kencan," kata Indro.

Dono pun keluar dari rumahnya dan segera menuju rumah Rara seperti biasanya. Indro dan Kasino serius main game Tekken 7 dan mengganti tokoh yang di mainkan. Keduanya serius dengan permainan game Tekken 7 sampai terbawa suasana. Pada akhirnya permainan game berhenti karena Indro kalah dari permainan Kasino. Ya Indro pun lebih baik nonton Tv dan sambil minum kopi buatannya. Kasino pun ya nyantai juga minum kopi buatannya sambil nonton Tv.

Di rumah Rara. Dono pun ngobrol asik dengan Rara sampai pada akhirnya, Rara mau di ajak jalan oleh Dono untuk ke Mall. Sekalian belanja, makan dan minum dan nonton film di bioskop. Dono dan Rara menikmati moment kebersamaan keduanya penuh dengan keromantisan, tetap menjaga diri masing-masing tidak terbawa suasana dari hasrat alias masih ada jarak gitu karena belum sah jadi suami istri walau orang tua sudah setuju.

***
Indro dan Kasino di rumah terus menonton Tv sampai mengganti beberapa chenel. Tetap saja. Acara yang di tonton Indro dan Kasino masih seputar pemberitaan tentang Pak Wiranto. Indro pun memilih tontonan yang tepat yang menghibur dirinya yaitu musik yang di tayangkan oleh chanel musik. Kasino ikut aja maunya Indro. Dengan asik Kasino menonton musik yang lagi viral di sosial media "Salah Apa Aku" sambil menikmati kopi yang enak buatan dirinya sendiri.

"Bener-bener musik ini bagus. Makanya viral. Entah apa yang merasuki orang-orang sampe heboh ikutan mengviralkannya," kata Indro.

"Suka aja...ikutan yang lagi tren musik," saut Kasino.

"Bener kamu Kasino. Tren musik....era anak muda melenial," kata Indro.

Indro dan Kasino santai nonton Tv sambil minum kopi.

CAMPUR ADUK

JAB PYAAR KISISE HOTA HAI

Malam hari. Setelah nonton Tv yang acara menarik dan bagus....DA8 di chenel INDOSIAR, ya seperti biasa sih Budi dengan santai di depan rumah...

CAMPUR ADUK