CAMPUR ADUK

Tuesday, September 6, 2022

GUNDALA

Budi dan Eko, ya duduk dengan baik di depan rumah Eko sambil menikmati minum kopi dan juga makan gorengan lah. 

"Dari kita masa anak-anak. Sering banget nonton acara Tv kartun superhiro," kata Budi. 

"Realita masa anak-anak nonton kartun superhiro," kata Eko. 

"Ya ketika dewasa. Aku masih suka dengan superhiro ini dan itu," kata Budi. 

"Sama dengan aku. Jadinya penggemar cerita kartun superhiro," kata Eko. 

"Kartun superhiro populer di Tv pasti di angkat ke film dengan baik, ya bioskop gitu," kata Budi. 

"Kebanyakan realitanya sesuai omongan Budi," kata Eko. 

"Kalau begitu. Aku akan mau bercerita," kata Budi. 

"Cerita Budi apa cerita orang?" kata Eko. 

"Cerita aku sih. Tapi tokohnya cerita orang. Cerita superhiro. Aku bercerita pake wayang yang terbuat dari kardus bekas, ya kreatif gitu!" kata Budi. 

"Aku jadi penonton yang baik," kata Eko. 

Budi telah mengambil wayang dan segera di mainkan dengan baik banget, ya bercerita dengan baik banget. Eko menonton pertunjukkan wayangnya Budi dengan baik. 

Isi cerita yang di ceritakan Budi :

Terjadi perampokan di sebuah toko perhiasan. Dua penjahat melarikan diri dengan mobil dengan menggunakan mobil hitam yang mesinnya pake mesin mobil balep dengan tujuannya bisa melarikan diri dari kejuaraan polisi. Dua penjahat, ya membawa mobilnya dengan baik banget. Polisi mengejar penjahat yang merampok toko perhiasan. Gundala mendapatkan kabar tentang terjadi informasi penjahat yang berusaha melarikan diri dengan mobil gitu, ya informasi lewat jaringan radio polisi gitu. Gundala yang punya kemampuan petir, ya di gunakan dengan baik untuk berlari. Gundala berlari cepat sekali, ya mencari penjahat gitu.

Ya penjahat bisa menjauh dari polisi, ya membawa mobilnya luar biasa hebat gitu. Gundala menemukan mobil penjahat yang di kejar polisi. Gundala berusaha untuk menghentikan mobil penjahat gitu. Mobil penjahat melaju dengan cepat, ya berusaha menjauh dari Gundala. Tahu-tahu Sri Asih ada di depan mobil. Ya penjahat mau menabrak Sri Asih. Ya Sri Asih menggunakan selendangnya di hempaskan mobil tersebut. Jadi mobil mental gitu sampai di pinggir jalan. Untungnya penjahat tidak mati, ya cuma luka dan pingsan gitu. Gundala bertemu dengan Sri Asih.

"Terima kasih telah membantu," kata Gundala.

"Iya," kata Sri Asih.

Sri Asih pun meninggalkan Gundala dengan terbang lah. Gundala membawa dua penjahat ke kantor polisi. Pak Andre, ya senang dengan bantuan Gundala yang menangkap penjahat yang merampok toko perhiasan. Ya penjahat di penjara lah sama polisi. Gundala meninggalkan kantor polisi. Pak Andre masuk Tv karena berhasil menangkap dua penjahat yang merampok toko perhiasan. Ghazul yang tidak suka anak buahnya masuk penjara, ya gara-gara Gundala. Ghazul melepaskan makhluk buas yang terkurung di sebuah goa. Makhluk buas itu berwujud raksasa berwarna hijau bernama Buto Ijo. Karena Buto Ijo di bebaskan Ghazul, ya jadinya mengikuti perintah Ghazul untuk menghabisi Gundala. 

Buto Ijo yang bisa berubah menjadi wujud seorang pemuda biasa-biasa saja. Buto Ijo pun mulai mencari Gundala. Buto Ijo berada di tengah kota, ya berpikir dengan baik untuk membuat kehancuran demi Gundala muncul gitu. Buto Ijo berubah menjadi wujud raksasa untuk menghancurkan keadaan. Warga masyarakat panik banget karena ada raksasa Buto Ijo. Pak Andre menyuruh anak buahnya untuk menangani Raksasa Buto Ijo yang menghancurkan apapun di depan matanya. 

Polisi kewalahan menghadapi Buto Ijo. Gundala muncul untuk menghadapi Buto Ijo. 

"Yang aku harapkan telah datang. Gundala," kata Buto Ijo. 

"Jadi aku yang kau cari," kata Gundala. 

"Gundala. Kau akan hancur di tangan ku," kata Buto Ijo. 

Buto Ijo melempar mobil kearah Gundala. Ya dengan cepat Gundala menghindari mobil yang di lempar Buto Ijo. Buto Ijo, ya terus menyerang Gundala. Ya Gundala meladengin serangan Buto Ijo jadilah pertarungan yang sengit. Sampai-sampai Gundala mengeluarkan petir dari tangannya, ya di arahkan ke Buto Ijo. Ya Buto Ijo bisa menahan serangan Gundala. Buto Ijo meninju Gundala, ya sampai terpental dan menabrak mobil gitu. 

"Musuh yang kuat," kata Gundala. 

Buto Ijo bergerak menuju Gundala, ya ingin menghancurkan Gundala yang lagi berusaha bangun dari keadaannya gitu. Sri Asih muncul di hadapan Buto Ijo dan menangkis serangan Buto Ijo. 

"Musuh ku kuat juga," kata Sri Asih. 

Sri Asih pun menyerang Buto Ijo, ya di tinju di bagian perut sampai Buto Ijo terpental gitu. 

"Lawan kuat. Wanita lagi. Sri Asih," kata Buto Ijo. 

Buto Ijo menyerang dan Sri Asih menyerang. Pertarungan sengit antara Buto Ijo dan Sri Asih. Gundala pun meningkatkan kemampuannya dari menyerap petir yang turun dari langit. Gundala menyerang Buto Ijo. Jadi pertarungan jadi lebih sengit banget. Sri Asih dan Gundala membuat kombinasi serangan yang hebat sampai akhirnya Buto Ijo, ya bisa di kalahkan sama Gundala dan Sri Asih. Buto Ijo mati lah. 

Di langit, ya Gatot Kaca melayang di udara melihat pertarungan Gundala dan Sri Asih mengalahkan Buto Ijo. Gatot Kaca meninggalkan tempat tersebut, ya dengan terbang dengan baik. Urusan mengalahkan raksasa Buto Ijo telah selesai, ya jadinya Gundala dan Sri Asih meninggalkan tempat tersebut. Pak Andre menyuruh anak buahnya untuk mengurus raksasa Buto Ijo yang di buat mati sama Gundala dan Sri Asih. Pak Andre, ya masuk Tv jadi terkenal banget gitu. Ghazul marah besar karena Buto Ijo di kalahkan sama Gundala dan Sri Asih. 

"Lain waktu aku yang menang," kata Ghazul. 

Ghazul mencari makhluk buas yang lainnya untuk mengalahkan Gundala.

***
Budi cukup lama bercerita dan akhirnya selesai gitu. Eko memuji pertunjukkan wayangnya Budi dan ceritanya juga, ya bagus gitu. Budi menaruh wayang di kursi kosong.

"Artis cowok, ya biasa menyanyi di acara Tv acara dangdut, perlombaan nyanyi gitu. Penampilannya keren-keren kan Eko?" kata Budi.

"Sebenarnya aku males menilainya," kata Eko.

"Kenapa?" kata Budi.

"Kan biasa menilai penyanyi cowok, ya cewek-cewek lah," kata Eko.

"Iya juga sih lebih baik. Cewek-cewek yang menilai penyanyi cowok di acara Tv. Lebih heboh lagi yang nilai itu, ya cowok yang gaya kaya cewek penilaian penyanyi cewek," kata Budi.

"Kaya sebuah cerita kartun One Piece. Sanji suka sama cewek apalagi penilaian dari cewek. Giliran yang nilai cewek jadi-jadian, ya murung Sanji. Karena Sanji tidak suka dengan cowok yang gaya ya jadi cewek," kata Budi.

"Lucu dan menarik cerita Sanji," kata Eko.

"Ya sekedar obrolan lulusan SMA," kata Budi.

"Emmmm," kata Eko.

"Kalau begitu main catur!" kata Budi.

"OK. Main catur!" kata Eko.

Budi mengambil catur di bawah meja, ya di taruh di atas meja papan catur. Budi dan Eko menyusun bidak catur di atas papan catur. Keduanya main catur dengan baik. 

Monday, September 5, 2022

KEBERUNTUNGAN

Budi dan Eko, ya duduk di pinggir jalan, ya sambil melihat keadaan sekitar dengan baik. Terlihat di depan mata Budi dan Eko, ya sebuah tanah kosong yang di biarkan begitu saja sama pemilik tanah. Budi berkata "Sayang banget. Tanah di depan itu jadi lahan tidur."

"Memang sayang banget tanah itu jadi lahan tidur. Pemilik tanah tidak mengolah tanah itu jadi lahan produktif," kata Eko.

"Orang kaya tanahnya di mana-mana. Ya tanahnya tidak terurus, ya jadi lahan tidur. Padahal orang miskin yang tidak punya tanah, ya bersyukur banget bisa mengolah tanah itu jadi lahan produktif," kata Budi.

"Hidup ini kan terlihat susah karena yang miskin tidak punya harta, ya berupa lahan untuk di olah. Tanah kan ada yang memilikinya, ya orang kaya. Yang kaya itu ada yang dermawan ada juga, ya pelit," kata Eko.

"Realita kehidupan seperti itu," kata Budi.

"Dari pada ngurusin harta orang yang tidak di urus, ya seperti tanah di depan mata kita. Kebanyakan orang, ya berusaha dengan baik untuk menanggulangi masalah keluarga dengan cara berjualan dengan baik. Hasil dari jualan, ya hasil lumayan bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, ya pas-pasan gitu," kata Eko.

"Berusaha dengan cara yang baik, ya pasti hasil baik," kata Budi.

Tiba-tiba di langit awan hitam berkumpul, ya mau hujan. Budi berkata "Aku butuh pawang hujan untuk menolak hujan. Ya kaya cerita berita di Tv tentang pawang hujan."

"Tujuannya nolak hujan toh," kata Eko.

"Aku ingin mencoba nolak hujan ah!" kata Budi.

"Emangnya Budi punya ilmu pawang hujan?" kata Eko.

"Ilmu pawang hujan, ya aku punya ilmunya. Aku pernah baca buku cerita gitu tentang pawang hujan," kata Budi.

"Oooo buku cerita toh. Kebenaran masih di pertanyakan karena cuma sekedar cerita saja!" kata Eko.

Budi membaca doa dengan baik gitu. Yang di perkirakaan hujan karena awan hitam telah berkumpul di langit ternyata tidak hujan.

"Aku berhasil. Tidak jadi hujan. Ya keadaan cerah," kata Budi.

"Keberuntungan Budi saja!" kata Eko.

"Kalau di pikir dengan baik. Lebih baik hujan dari pada tidak hujan," kata Budi.

"Kenapa Budi berkata seperti itu?" kata Eko.

"Ada cerita sih," kata Budi.

"Cerita orang apa cerita Budi?" kata Eko.

"Cerita aku lah!" kata Budi.

"Cerita Budi toh. Kalau begitu cerita dong!" kata Eko.

"Ceritanya seperti ini, ya berkaitan pawang hujan yang bisa menurunkan hujan. Sebuah daerah yang subur. Apapun di tanam di daerah itu, hasilnya memuaskan?. Kepala desa bersama masyarakat membuat perayaan pertanian demi mengucap syukur hasil pertanian yang melimpah pada para dewa di sebuah altar yang khusus di buat untuk pemujaan pada para dewa. Suatu ketika, ya ada seorang pemuda yang tidak sengaja merusak patung dewa hujan. Pemuda itu telah meminta maaf sama kepala desa dan masyarakat karena ketidak sengajaannya merusak patung dewa hujan. Kepala desa dan warga masyarakat memaafkan ketidak sengajaan pemuda itu merusak patung dewa hujan. Ya pemuda itu memperbaiki patung dewa hujan dengan baik gitu. Setelah itu, ya mulai keadaan daerah di landa masalah, ya kekeringan. Sampai-sampai sumur warga juga kering. Kepala desa menyatakan bahwa dewa hujan marah karena patung dewa hujan di rusak, ya padahal patung dewa hujan telah di perbaiki dengan baik sama pemuda. Ya Pemuda yang merasa bersalah pada warga masyarakat karena terjadi krisis kekeringan di daerahnya. Pemuda itu mencari pawang hujan yang bisa mendatangkan hujan. Pemuda itu mencari kemana-mana tentang orang yang mampu memanggil hujan. Pemuda itu sampai di serang makluk buas, raksasa, ya untung saja di tolong seorang pertapa. Ya pertapa mengalahkan raksasa sampai lari tunggang langgang gitu. Pemuda itu berterimakasih dengan baik, ya telah di tolong pertapa. Ya pertapa ingin tahu apa yang di cari pemuda dengan bertanya lah?. Ya pemuda itu memberitahukan pada pertapa, ya apa yang ia cari ? Ya seorang pawang hujan yang bisa mendatangkan hujan. Pertapa itu ingin menolong pemuda itu, ya pertapa itu mengaku dirinya pawang hujan yang di cari pemuda itu. Pemuda itu senang telah menemukan pawang hujan. Pemuda dan pertapa pergi ke daerah tempat tinggal pemuda tersebut. Sampai di tempat yang di landa kekeringan. Pertapa pun mulai melakukan ritual untuk manggil hujan. Hal hasil, ya hujan gitu. Pemuda dan semua warga masyarakat senang karena hujan, ya daerah itu tidak kekeringan jadi subur lagi. Ternyata pertapa itu adalah dewa hujan. Ya dewa hujan menghukum daerah tersebut kekeringan atas perintah raja dewa, ya merusak altar persembahan ke dewa yang di lakukan anak kepala desa yang kerjaannya mabuk-mabukan dan main cewek gitu. Yang di perkiraan pemuda itu dirinya merusak patung dewa hujan, ya begitu juga kepala desa dan warga masyarakat. Dewa hujan pun meninggalkan tempat tersebut karena urusannya telah selesai, ya menurunkan hujan dan membuat daerah tersebut subur. Kepala desa menghukum anaknya karena membuat warga masyarakat menderita karena kekeringan. Peraturan pun di buat dengan baik sama kepala desa, ya larangan mabuk-mabukan dan main cewek. Peraturan itu di jalankan dengan baik semua warga masyarakat, ya demi kebaikkan bersama. Begitulah ceritanya," kata Budi.

"Bagus cerita. Hanya sekedar cerita, ya kan Budi?" kata Eko.

"Memang hanya sekedar cerita. Ya cerita lulusan SMA, ya sekedar obrolan saja!" kata Budi.

"Hujan itu lebih baik dari pada di tolak. Ya tanah jadi subur dari pada kekeringan," kata Eko.

"Lebih baik hujan!" kata Budi.

"Emmmm," kata Eko.

Budi pun berdoa dengan baik agar hujan. Tiba-tiba awan hitam berkumpul lagi dan mau hujan. Ya tetesan air hujan turun dari langit.

"Aku berhasil menurun hujan," kata Budi.

"Hanya keberuntungan," kata Eko.

Eko dan Budi berlari dari menuju rumah karena memang hujan beneran. Sampai di rumah Budi, ya Budi dan Eko duduk dengan baik depan rumah Budi.

"Benar-benar hujan," kata Budi.

"Hujan benar-benar hujan," kata Eko.

"Hari ini aku berhasil main pawang hujan, ya menolak dan menurunkan hujan," kata Budi.

"Cuma keberuntungan Budi saja!" kata Eko.

"Yang penting itu aku senang," kata Budi.

"Emmmm," kata Eko.

"Kalau begitu main catur saja!" kata Budi.

"Ok. Main catur saja!" kata Eko.

Budi mengambil papan catur di bawah meja, ya di taruh di atas meja papan catur. Budi dan Eko, ya menyusun dengan baik bidak catur di atas papan catur. 

"Acara menyanyi di Tv. Bagus, ya Eko?" kata Budi.

"Iya," kata Eko.

"Aku suka penampilan artis Meli, ya cantik gitu," kata Budi.

"Aku biasa aja," kata Eko.

"Ayo lah Eko sepakat!" kata Budi.

"Baiklah. Sesuai dengan kemauan Budi. Ya penampilan artis Meli cantik. Puasss!" kata Eko.

"Ya!!!" kata Budi.

"Emmmm," kata Eko.

Eko dan Budi main catur dengan baik banget.

CAMPUR ADUK

JAB PYAAR KISISE HOTA HAI

Malam hari. Setelah nonton Tv yang acara menarik dan bagus....DA8 di chenel INDOSIAR, ya seperti biasa sih Budi dengan santai di depan rumah...

CAMPUR ADUK