CAMPUR ADUK

Friday, March 25, 2022

JAGUNG REBUS

Budi duduk di depan rumah, ya sedang asik makan jagung rebus yang enak gitu. Eko dateng ke rumah Budi. Ya Eko memarkirkan dengan baik motornya di depan rumah Budi. Eko pun ke tempat Budi, ya Budi sedang duduk santai sambil makan jagung rebus lah. Budi pun berkata "Jagung rebus enak Eko."

Eko pun duduk dan berkata "Jagung rebus. Beli atau kah masak sendiri jagung rebusnya Budi?" 

"Beli Eko. Kebetulan aku bertemu dengan penjual jagung rebus, ya beli jagung rebus gitu," kata Budi.

"Oooooo beli toh," kata Eko.

Eko mengambil jagung rebus di piring, ya di mejalah. Eko makan jagung rebus dengan baik.

"Enaknya jagung rebus. Manis rasanya," kata Eko.

"Memang manis rasa jagung rebusnya," kata Budi.

Budi dan Eko terus makan jagung rebus yang rasa manis itu dengan baik banget. 

"Eko aku ingin cerita," kata Budi.

"Cerita saja!" kata Eko.

"Baiklah aku cerita. Seorang Bapak itu sebatang kara karena istri dan anaknya meninggal karena sakit. Bapak itu tegar menghadapi ujian di tinggal orang-orang yang di cintainya. Bapak itu pun memutuskan untuk meninggalkan kampungnya, ya merantau di kota. Sampai di kota. Ya  kotanya Bandar Lampung saja ceritanya. Bapak itu pun tinggal di pemukiman orang miskin. Bapak itu berbaur dengan baik dengan orang-orang sekitar. Nama nya orang-orang miskin, ya tidak muluk-muluk dalam pergaulannya karena menunjukkan realita kehidupan yang miskin, ya pas-pasan lah rezekinya. Ya beda dengan orang-orang kaya, ya menunjukkan harta bendanya, ya terlihat banget dari gaya dan juga rumahnya. Bapak itu hidup tempat tinggal baru, ya masih bingung mau kerja apa?. Bapak itu pun pergi ke pasar untuk belanja keperluaannya. Sampai di pasar. Bapak itu melihat penjual jagung. Bapak itu berkata "Apa aku jualan jagung rebus saja ya?". Bapak itu berpikir dengan baik dan akhirnya benar-benar memutuskan untuk berjualan jagung rebus. Bapak itu pulang ke rumahnya setelah belanja di pasar. Di rumahnya, ya Bapak itu mulai menyusun rencananya untuk berjualan jagung rebus. Bapak itu kreatif sih, ya jadi membuat gerobak jagung rebus. Setelah jati gerobak jagung rebus dan Bapak itu telah memasak jagung rebus dengan baik, ya di jual dengan baiklah jagung rebus. Dengan sabar Bapak itu menjual jagung rebusnya. Ya ada saja yang beli nama juga jalan rezeki dari orang mengusahakan dalam usaha yang di tekunin dengan baik. Bapak itu bersyukur dengan baik dari usaha yang di jalankannya dengan baik, ya dengan cara ibadah dengan baik. Suatu ketika Bapak, ya berjodoh dengan janda tapi miskin sih. Bapak itu pun memutuskan untuk berumah tangga dengan janda tersebut. Setelah janda itu di nikahi sama Bapak itu, ya ternyata janda itu punya hutang. Maklum sih nama juga janda miskin pasti masalahnya hutang, ya demi hidup ini lah. Bapak itu sebagai suami yang baik, ya membayar hutang istrinya. Ya hutang istrinya, ya tidak besar, ya biasa saja sih. Hidup berumah tangga dengan baik, ya mendapatkan buah cinta gitu. Bapak itu terus bersyukur dengan baik jalan hidup barunya di kota dengan cara ibadah dengan baik pula. Begitulah ceritanya," kata Budi.

Budi memang cerita sambil makan jagung, ya jadinya jagung habis di makan Budi satu buah. Budi mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi lah. 

"Cerita yang bagus," kata Eko.

Eko selesai makan jagung rebus satu buah, ya Eko pun membuat kopi dan benda-benda untuk membuat kopi ada di meja dengan baik. Kopi selesai di buat Eko, ya segera di minum dengan baik lah kopi. Budi menaruh kopinya di meja dengan baik.

"Realita kehidupan ini sebenarnya yang namanya usaha, ya pasang surut air laut," kata Budi.

Eko menaruh gelas berisi kopi di mejalah.

"Realitanya kehidupan ini dalam usaha. Pedagang itu.....ada yang bisa bertahan dalam usahanya dan ada juga tidak. Pada akhirnya kreatifitas dalam menjalankan usaha harus di jalankan dengan baik dengan tujuan bisa bertahan dalam usaha yang di jalankan. Jika telah di usahakan tetap tidak bisa bertahan, ya biasa mencari jalan lain, ya jualan yang lain di sesuaikan dengan gejala pasar," kata Eko.

"Membaca keadaan pasar dengan baik," kata Budi.

"Ilmu ekonomi," kata Eko.

"Di bangku sekolah tingkat SMA, ya di jelaskan dengan baik......ilmu ekonomi. Untuk lebih jauh tentang ilmu ekonomi, ya Universitas," kata Budi.

"Orang-orang yang berpendidikan di Universitas, ya kerjaannya meneliti ini dan itu, ya sampai lulus di Universitas dan kerja di bidang apa pun, ya tetap meneliti ini dan itu dengan tujuannya urusan kerja lah. Karena hidup ini penuh dengan persaingan dengan tujuan kaya raya," kata Eko.

"Seperti kita lulusan SMA. Ya menjalankan hidup ini biasa-biasa saja karena ilmunya masih ilmu SMA," kata Budi.

"Emmmm," kata Eko.

Abdul pun dateng ke rumah Budi, ya memarkirkan dengan baik motornya di depan rumah Budi. Abdul duduk bersama Eko dan Budi. Abdul melihat di piring ada jagung rebus.

"Tumben jagung rebus. Biasanya gorengan?" kata Abdul.

"Biasanya gorengan. Budi beli jagung rebus sama penjual jagung rebus," kata Eko.

"Aku kepengen makan jagung rebus, ya jadinya aku beli jagung rebus lah," kata Budi.

"Ooooo Budi kepengen makan jagung rebus toh," kata Abdul.

Abdul mengambil jagung rebus, ya di makan dengan baik jagung rebus.

"Emmmm....enak jagung rebusnya. Manis rasanya," kata Abdul.

"Kalau begitu main kartu remi saja!" kata Eko.

"Ok main kartu remi saja!" kata Budi.

"Emmm," kata Abdul.

Abdul masih asik makan jagung rebus yang rasa manis itu. Budi mengambil kartu remi di bawah meja, ya di kocok dengan baik kartu remi. Abdul merasa haus, ya membuat kopi lah dan benda-benda untuk membuat kopi, ya ada di mejalah. Budi membagikan kartu remi dengan baik. Kopi jadi, ya di minum dengan baik lah kopi sama Abdul. 

"Enak kopinya," kata Abdul.

Abdul menaruh gelas kopi di meja dengan baik. Abdul masih makan jagung rebus lah. Karena kartu remi telah di bagikan dengan baik. Maka itu ketiga main kartu dengan baik lah, ya sambil menikmati minum kopi dan juga makan jagung rebus lah.

Thursday, March 24, 2022

MISTERI KEHIDUPAN

Malam yang tenang di kediaman rumah Budi. Ya Budi duduk di depan rumahnya, ya sambil membaca koran. 

"Berita menarik-menarik," kata Budi.

Budi terus membaca korannya dengan baik. Eko sampai di rumah Budi, ya segera memarkirkan motornya dengan baik di depan rumah Budi lah. Eko pun duduk bersama Budi. Karena ada Eko, ya Budi berhenti baca koran dan koran di taruh di atas meja. Memang di meja ada gorengan sih di piring, ya jadinya Eko mengambil bakwan goreng. Ya bakwan goreng di makan dengan baik sama Eko. Budi mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik.

"Aku punya cerita Eko," kata Budi.

Budi menaruh gelas berisi kopi di meja. 

"Budi punya cerita saja!" kata Eko.

Eko terus makan bakwannya.

"Cerita tentang seorang pemuda yang berhasil dengan ilmunya, ya mendengar kan suara-suara roh.Ya memang roh menjelaskan banyak hal tentang kehidupan ini. Kenyataan kehidupan, ya manusia lebih senang yang pasti saja seperti contohnya : makan atau minuman. Pemuda paham dengan manusia-manusia yang tidak bisa mendengarkan suara-suara roh. Pemuda itu tetap di nyatakan pembohong karena tidak bisa di buktikan kebenaran tentang suara-suara roh, ya pada manusia-manusia yang lain. Ya sebenarnya pemuda itu, ya malas untuk mengajarkan ilmunya pada manusia-manusia lain karena resikonya terlalu berat, ya kematian lah. Maka itu lah pemuda itu cuma cerita saja seperti kebiasaan para pemuka agama menceritakan cerita tentang para nabi sampai dengan para dewa. Setiap cerita yang di ceritakan para pemuka agama, ya ada tujuannya untuk menasehati dan mengajarkan manusia berjalan di jalan kebaikkan. Pemuda itu terus mencari orang-orang yang memiliki kemampuan sama dengan dirinya dengan tujuannya, ya pemuda itu tidak di golongkan golongan pembohong. Inginnya pemuda itu masuk golongan kejujuran dari ilmunya yang dapat mendengarkan suara-suara roh yang membimbing dirinya di jalan kebaikkan. Pemuda itu sering menonton Tv dengan asik di rumahnya, ya menonton manusia-manusia yang punya kemampuan lebih dari ilmu pendidikan sampai mendapatkan gelar pendidikan yang tinggi banget dan juga kedudukan di pemerintahan, ya jadi pemimpin di negeri ini dan negeri lain. Pemuda itu pun belum mendapatkan petunjuk tentang manusia-manusia yang dapat mendengarkan suara-suara roh tersebut. Pemuda itu tetap saja menjalankan hidupnya seperti biasanya, ya sambil mencari manusia-manusia yang mampu mendengarkan suara-suara roh dan tujuannya pemuda itu masuk dalam golongan kejujuran. Begitulah ceritanya," kata Budi.

Ternyata Eko telah makan gorengan dua buah, ya karena mendengarkan cerita Budi lah. Eko membuat kopi dengan baik, ya semuanya telah di sediakan Budi di meja untuk membuat kopi lah. Eko pun berkata pada Budi "Cerita yang bagus."

Budi mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi lah. Eko selesai membuat kopinya dan segera di minum dengan baik kopi.

"Misterinya kehidupan ini," kata Eko.

Eko pun menaruh gelas berisi kopi di meja. Budi pun menaruh gelas berisi kopi di meja lah.

"Memang misterinya kehidupan ini," kata Budi.

"Bagi yang memahami ilmu-ilmu pasti. Ya harus di buktikan dengan baik. Agar manusia percaya. Apalagi tentang ilmu-ilmu yang dapat mendengarkan suara-suara roh, ya harus bisa di buktikan dengan baik, ya agar manusia lain percaya gitu dengan ilmu-ilmu tersebut," kata Eko.

"Kalau tidak bisa di buktikan, ya bisa di bilang mitos saja kan, ya Eko?" kata Budi.

"Ya begitulah kenyataan hidup ini. Tidak bisa di buktikan dengan baik, ya bisa di bilang mitos saja," kata Eko.

"Karena manusia telah berhasil pergi keluar angkasa dengan kemajuan teknologi. Maka itu harus di buktikan. Ilmu-ilmu tingkat Universitas," kata Budi.

"Manusia-manusia yang berpendidikan tinggi yang belajar di Universitas, ya terus meneliti ini dan itu. Untuk membuktikan ini dan itu. Apakah benar semua atau kah salah?" kata Eko.

"Ya sudahlah tidak perlu di bahas lagi. Sekedar bahan obrolan saja. Lebih baik kita main catur saja!" kata Budi.

"Ok main catur!" kata Eko.

Budi mengambil papan catur di bawah meja, ya di taruh di atas meja. Budi dan Eko, ya menyusun dengan baik bidak catur di atas papan catur. Keduanya main catur dengan baik, ya sambil menikmati minum kopi dan juga makan gorengan yang enak banget gitu.

WORTEL

Budi duduk di depan rumahnya, ya sedang membaca koran sih.

"Beritanya tentang yang lagi hits di beritakan tentang demo ini dan itu," kata Budi.

Budi terus membaca koran dengan baik. Dari berita-berita di dalam negeri dengan bentuk persoalan yang ini dan itu, ya sampai berita-berita luar negeri dengan persoalan ini dan itu. Berita olah raga di baca dengan baik juga sama Budi lah. Berita tentang artis Indonesia, ya di baca dengan baik sama Budi juga sih. Eko yang selesai dengan urusannya, ya ke rumah Budilah. Eko membawa motornya dengan baik dan juga memakai perlengkapan berkendaraan dengan baik, ya satunya helm dan juga masker karena masih dalam keadaan urusan kebijakan pemerintahan dalam urusan kesehatan manusia, ya covid-19. Eko membawa dengan baik surat-surat motor dan juga sim lah. Kan ada cerita di masyarakat tentang motor curian, maka itu polisi memeriksa surat-surat kelengkapan kepemilikan motor. Sedangkan sim, ya ada cerita di masyarakat tentang orang yang tidak memiliki sim tapi mengendarai motor atau juga mobil, ya jadinya polisi bertindak tegas lah. Abdul yang selesai urusan kerjaannya, ya ke rumah Budi lah. Abdul membaca motornya dengan baik dan juga memakai pelengkapan berkendaraan dengan baik juga demi keamanan diri. Di  jalan Eko mengikuti aturan berlalu lintas yang baik, ya demi keselamatan diri dan juga orang lain....tujuannya menghindari musibah kecelakaan di jalan raya. Abdul pun berkendara bermotor, ya mengikuti aturan di jalan raya dengan baik lah. 

Singkat waktu, ya Eko sampai di rumah Budi. Eko memarkirkan dengan baik motornya di depan rumah Budi lah. Eko pun duduk bersama Budi lah. Eko pun melihat di meja, ya ada satu piring berisi wortel, satu gelas berisi kopi dan juga ada benda-benda untuk membuat kopi lah.

"Budi," kata Eko.

Budi pun menghentikan baca korannya dengan baik dan koran di taruh di mejalah. 

"Apa Eko?" kata Budi.

"Tumben tidak ada gorengan. Yang ada wortel," kata Eko, ya sambil menunjuk wortel di piring di mejalah.

Budi mengambil wortel di piring.

"Wortel ini makan sehat Eko," kata Budi.

Budi memakan wortel tersebut dengan baik.

"Emmmmm....rasanya manis wortel," kata Budi.

"Budi. Kaya kelinci saja makan wortelnya seperti itu. Seharus tuh wortel di olah Budi, ya jadi makan apa atau minuman apa gitu?!" kata Eko.

"Aku maunya makan wortel, ya seperti ini saja. Sehat dan alami gitu," kata Budi.

"Memang sih sehat dan juga alami. Ok. Aku coba makan wortelnya," kata Eko.

Eko mengambil wortel di piring, ya di makan dengan baik wortel sama Eko lah.

"Emmmmmm enak. Manis. Wortelnya," kata Eko.

"Manis kan wortelnya," kata Budi.

Budi dan Eko makan wortelnya dengan baik sih. Budi selesai makan wortel satu buah, ya mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik lah kopi. Eko juga selesai makan wortel satu buah, ya segera Eko membuat kopinya. Setelah kopi jadi, ya Eko minum kopinya dengan baik. Budi menaruh gelas berisi kopi di meja. Abdul dateng, ya memarkirkan dengan baik motornya di depan rumah Budi lah. Eko menaruh gelas berisi kopi di meja lah. Abdul duduk bersama dengan Budi dan Eko. Abdul membawa makan di plastik sih. Abdul melihat di piring ada wortel, ya Abdul berkata "Wortel. Biasa gorengan."

"Ya memang biasa gorengan. Cuma Budinya kepengen tuh makan wortel," kata Eko.

"Wortel kan makanan sehat," kata Budi.

"Ya memang wortel makan sehat," kata Abdul.

Abdul mengambil wortel di piring dan segera di makan.

"Manis wortel ini," kata Abdul.

"Memang wortelnya rasanya manis," kata Eko.

"Wortel memang manis," kata Budi.

"Aku bawa makan," kata Abdul, ya menaruh plastik yang berisi makanan di meja. "Ya seperti biasa gorengan," kata Abdul.

"Gorengan. Abdul membeli gorengan," kata Eko.

"Gorengan toh," kata Budi.

Abdul menghabiskan wortel satu buah dan segera membuat kopilah. Eko dan Budi, ya mengambil gorengan di plastik dan di makan dengan baik. Kopi jadi, ya Abdul segera meminum kopinya dengan baik.

"Gorengan yang di beli Abdul. Enak rasanya gorengannya. Penjual gorengannya pinter buat makan yang enak. Murah meriah makanan gorengan," kata Eko.

"Memang gorengan yang di beli Abdul. Enak rasanya gorengannya. Tapi....kalah sih manis sama wortel," kata Budi yang sedikit becanda gitu.

Abdul menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Ya....wortelnya manis," kata  Abdul menegaskan omongannya Budi.

"Kalau begitu main remi saja!" kata Eko.

"Ok..main kartu remi," kata Budi.

"Ok main kartu remi," kata Abdul.

Budi selesai makan satu buah  gorengan, ya mengambil gelas berisi kopi di meja dan segera di minum dengan baik. Ya Eko selesai sih makan gorengan satu buah dan segera mengambil gelas berisi kopi di meja dan di minum dengan baik lah. 

"Kartunya di mana Budi?!" kata Abdul.

Budi menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Di bawah meja," kata Budi.

Abdul segera mengambil kartu di bawah meja. Eko menaruh gelas berisi kopi di mejalah. Abdul mengocok kartu dengan baik banget dan di bagikan dengan baik. Budi, Eko dan Abdul main kartu remi dengan baik, ya permainannya cangkulan lah. 

Wednesday, March 23, 2022

ANTARA BAIK DAN BURUK

Malam yang tenang di kediaman rumah Eko lah. Budi dan Eko duduk di depan rumah Eko, ya sambil menikmati minum kopi dan juga makan gorengan lah.

“Eko,” kata Budi.

“Apa?” kata Eko.

“Kenapa ada orang yang mencuri uang temannya sendiri?” kata Budi.

“Namanya hidup di dunia ini. Tidak semua di katakan baik. Pastinya ada orang seperti di omongin Budi, ya mencuri uang temannya sendiri. Ya biasanya orang itu sih, ya jauh dari ajaran agama. Ya agama yang di tekunin tuh orang ilmu-ilmu mistik gitu,” kata Eko.

“Ilmu-ilmu mistik. Padahal ilmu-ilmu itu di tekunin bisa menjadi fatal karena ada menciptakan kesialan-kesialan pada orang yang menekuninnya,” kata Budi.

“Memang sih realitanya. Ada ceritanya sih di masyarakat. Orang-orang yang menekunin ilmu-ilmu mistik, ya hidupnya sial. Bukan kaya jadi miskin. Hidupnya penuh dengan celaka ini dan itu,” kata Eko.

“Kenapa orang-orang itu memilih jalan kebodohan seperti itu?” kata Budi.

“Mana aku tahu lah,” kata Eko.

“Padahal. Yang menjalankan ilmu-ilmu agama, ya ada yang tersesat juga,” kata Budi.

“Ya realita di masyarakat. Ceritanya ya ada sih. Orang-orang yang tersesat padahal menekunin ilmu-ilmu agama,” kata Eko.

Budi mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi lah.

“Sebentar lagi bulan Ramadhan,” kata Eko.

Eko mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik lah kopi. Budi menaruh gelas berisi kopi di meja.

“Ia sebentar lagi bulan Ramadhan. Apakah orang-orang yang tersesat bisa kembali ke jalan yang benar di bulan Ramadhan ?” kata Budi.

Eko pun menaruh gelas berisi kopi di meja.

“Mungkin bisa kembali ke jalan yang benar, ya orang-orang yang tersesat. Mungkin juga tidak kembali tuh orang-orang yang tersesat,” kata Eko.

“Susah menyadarkan orang-orang yang tersesat itu, ya Eko?” kata Budi.

“Memang susah. Hati dan pikirannya tertutup. Apalagi yang menguasai ilmu-ilmu mistik. Sudah tahu diri dan keluarganya sial karena ilmu mistik. Tetap saja di tekunin dengan baik. Tujuannya kaya. Kaya enggak. Miskin juga iya,” kata Eko.

“Ada orang-orang kaya. Ya kepinginnya sih hura-hura. Ingin menikmati kehidupan kaya gaya orang-orang barat. Kebebasan ini dan itu,” kata Budi.

“Orang-orang kaya yang ingin kebebasan ini dan itu seperti orang-orang barat. Kaya cerita di film-film saja,” kata Eko.

“Rasa malu hilang. Yang di tampakkan, ya kegilaannya melebihin takarannya seperti binatang. Contohnya : sex bebas gitu,” kata Budi.

“Benar-benar gila. Kalau rasa malu itu hilang. Kehancuran di mana-mana di buat orang gila,” kata Eko.

“Nama juga orang-orang yang jauh dari agama,” kata Budi.

“Memang sih. Orang-orang yang jauh dari ilmu agama, ya ulahnya melebihin takarannya seperti binatang,” kata Eko.

“Apakah orang-orang itu sadar, ya sebentar lagi di bulan Ramadhan?” kata Budi.

“Mungkin sadar. Mungkin juga tidak,” kata Eko.

“Hidup di masyarakat. Penuh dengan orang-orang yang berjalan di jalan kebaikan dan keburukan,” kata Budi.

“Antara baik dan buruk. Hidup ini,” kata Eko.

“Untung saja kita memilih jalan kebaikkan. Karena demi kebaikkan kita sendiri, keluarga dan teman,” kata Budi.

“Karena kita berpikir baik untuk masa depan yang baik, demi kebaikan bersama. Beda dengan orang-orang yang ingin baik jalan hidupnya tapi tersesat karena kebodohannya sendiri dengan cara mencuri uang temannya sendiri dan juga menekunin ilmu-ilmu mistik, ya jauh banget dari ilmu-ilmu agama,” kata Eko.

“Maka itu itu. Orang-orang ahli agama terus memberikan nasehat pada orang lain. Agar berjalan di jalan kebaikan dan juga mengembalikan orang-orang yang tersesat kembali ke jalan yang benar. Dan ahli –ahli agama menyambut baik bulan Ramadhan,” kata Budi.

“Bulan Ramadhan. Bulan penuh pengampunan,” kata Eko.

Abdul sampai di rumah Eko, ya memarkirkan dengan baik motor Abdul di depan rumah Eko lah. Abdul duduk bersama dengan Eko dan Budi.

“Eko dan Budi. Asik ngobrolin  tentang apa?” kata Abdul.

“Ngomongin hal biasa-biasa aja sih,” kata Eko.

“Ya ngomongin….orang-orang yang tersesat.  Dari mencuri uang temannya sendiri, ya sampai pergaulan bebas,” kata Budi.

“Ooooo kelakuan-kelakuan orang-orang yang jauh dari agama toh,” kata Abdul.

“Memang sih. Orang-orang yang jauh dari agama dan juga ada yang tersesat juga dalam hal menekunin ilmu agama sih,” kata Budi.

“Ya nama juga imannya lemah, ya pastinya tersesat juga lah,” kata Eko.

“Ujian hidup kan?” kata Abdul.

“Memang ujian hidup. Antara baik dan buruk,” kata Budi.

“Baik dan buruk…hidup ini,” kata Eko.

“Sebentar lagi...bulan Ramadhan. Penuh dengan pengampunan. Moga-moga di bulan Ramdhan. Orang-orang yang masih buruk, ya kembali ke jalan yang benar,” kata Abdul.

“Semoga saja orang-orang itu kembali ke jalan yang benar,” kata Budi.

“Semoga saja,” kata Eko.

“Kalau begitu main kartu remi saja!” kata Abdul.

“Ok….main kartu remi!” kata Budi.

“Main kartu remi!” kata Eko.

Eko mengambil kartu remi di bawah meja dan segera di kocok dengan baik. Eko pun membagikan kartu remi dengan baik. Eko, Budi dan Abdul main kartu remi dengan baik lah dan seperti biasanya permainan kartu remi, ya main cangkulan lah.

Tuesday, March 22, 2022

BAKWAN GORENG

Budi berada di dapur, ya ingin masak. Ya isi dapur di periksa dengan baik sama Budi. Ternyata di lemari makan ada bahan-bahan untuk membuat bakwan, ya biasa Ibu yang belilah bahan-bahan makan yang ini dan itu. Budi kan tidak sempat ke pasar karena terlalu sibuk dengan kerja jadi buruh. Budi mulai mengolah bahan-bahan untuk membuat bakwan. Ya singkat waktu bakwan goreng buatan Budi telah jadi gitu, ya Budi mencobanya dengan baik.

“Enaknya bakwan goreng yang aku buat. Untung di ada minyak goreng, ya jadi lah makanan yang aku buat jadi bakwan goreng. Kalau bakwan di rebus….jadi apa ya?” kata Budi.

Budi masih berpikir dengan panjang, ya jika bakwan di masak dengan cara di rebus. Budi sambil makan bakwan goreng yang enak itu.

“Ooooooo. Kalau di proses dengan cara beda. Bakwan bisa di masak dengan cara di rebus. Kaya mirip proses pembuatan cilok,” kata Budi.

Budi pun selesai makan bakwan satu buah dan segera minum air putih.

“Kalau proses masaknya berubah, ya jadi bakwan rebus lah,” kata Budi.

Budi pun membawa satu piring berisi bakwan goreng ke depan rumah. Piring berisi bakwan goreng, ya di taruh di meja dan Budi duduk dengan baik di depan rumah. Budi mengambil koran di bawah meja dan segera di baca dengan baik.

“Beritanya masih urusan pemerintahan ini dan itu toh,” kata Budi.

Budi terus membaca koran dengan baik, ya tujuannya meningkatan wawasan Budi tentang perkembangan ini dan itu yang terjadi di lapisan masyarakat dalam bentuk sistem pemerintahan di Indonesia, ya sampai pemerintahan di negara lain. Eko pun sampai di rumah Budi, ya Eko memarkirkan motornya dengan baik di rumah Budi lah. Eko pun duduk bersama Budi. Terlihat di meja, ya satu piring berisi bakwan dan juga benda-benda untuk membuat kopi gitu.

“Bakwan gorengnya. Beli apa buat Budi?” kata Eko.

Budi, ya berhenti baca koran dan menaruh koran di meja. Eko mengambil bakwan goreng di piring, ya di makan dengan baik bakwan goreng lah.

“Buat Eko,” kata Budi.

Budi mengambil bakwan goreng di piring dan di makan dengan baik.

“Emmmmm enak juga bakwan bikinan Budi,” kata Eko.

Eko terus makan bakwan goreng sampai habis satu buah dan mengambil lagi bakwan goreng di piring, ya di makan dengan baik lah.

“Terima kasih pujiannya Eko,” kata Budi.

Budi terus menikmati makan bakwan gorengnya.

“Bakwan goreng di masak dengan cara di rebus….jadi apa ya?” kata Eko.

“Cilok,” kata Budi.

“Kalau di pikir dengan baik, ya bisa jadi sih jadi cilok…kalau proses masaknya bakwan goreng jadi di rebus, ya cilok lah,” kata Eko.

“Becandaan kan Eko?” kata Budi.

“Ya iyalah becandaan. Namanya juga obrolan lulusan SMA. Beda dengan obrolan lulusan Universitas yang kerjaannya penelitian ini dan itu. Banyak yang jadi sarjana terbaik, ya duduk di pemerintahan dan mengatur pemerintahan dengan baik. Agar sistem pemerintahan berjalan dengan baik,” kata Eko.

“Ya realitanya begitu. Tentang orang-orang pinter yang duduk di pemerintahan,” kata Budi.

Budi pun membuat kopi dengan baik, ya kopi jadi segera di minum dengan baik. Eko pun membuat kopi, ya kopi jadi dan segera di minum dengan baik.

“Enaknya kopi Lampung,” kata Budi.

“Memang enak kopi Lampung. Karena keberadaan kita ada di Lampung. Kalau keberadaannya di Jakarta…gimana Budi?” kata Eko.

“Kalau keberadaan kita di Jakarta, ya berarti….enaknya kopi Jakarta,” kata Budi.

Budi pun menaruh gelas berisi kopi di meja.

“Bakwan kalau prosesnya masaknya di kukus. Jadi apa Budi?” kata Eko.

Eko menaruh gelas berisi kopi di meja.

“Bakwan kalau prosesnya masaknya di kukus, ya jadinya somai lah,” kata Budi.

“Kalau di pikir dengan baik, ya bakwan di masak dengan cara di kukus, ya jadinya somai,” kata Eko.

Eko mengambil bakwan goreng di piring, ya di makan dengan baik bakwan goreng lah. Budi mengambil bakwan goreng di piring, ya di makan dengan baik lah.

“Bakwan kalau di proses masaknya di panggang, ya bisa di bilang di oven gitu. Jadi….apa Budi?” kata Eko.

“Bakwan kalau di proses masaknya di panggang, ya bisa di bilang di oven. Jadinya…..pizza,” kata Budi.

“Di pikir dengan baik. Ya bakwan di proses masaknya di panggang, ya bisa di bilang di oven….jadinya pizza,” kata Eko.

Eko selesai makan bakwan goreng, ya satu buah dan segera mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi lah. Budi pun selesai makan bakwan goreng satu buah, ya segera mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi lah.

“Bakwan di proses masaknya di bakar. Jadi apa…Budi?” kata Eko.

Eko menaruh gelas berisi kopi di meja lah.

“Bakwan di proses masaknya di bakar. Jadinya apa ya? Ini saja jadi….bakso bakar,” kata Budi.

Budi menaruh gelas berisi kopi di meja.

“Bakwan di proses masaknya di bakar, ya jadinya angus bakwannya,” kata Eko.

“Iya juga ya. Gosong jadi bakwannya,” kata Budi.

“Nama juga mainan kan Budi?” kata Eko.

“Mainan. Bahan obrolan saja. Kalau begitu main catur saja!” kata Budi.

“Ok…main catur!” kata Eko.

Eko dan Budi sepakat ingin main catur. Abdul dateng, ya memarkirkan motornya dengan baik di depan rumah Budi. Abdul duduk bersama dengan Eko dan Budi. YaAbdul melihat bakwan goreng di piring, ya segera di ambil tuh bakwan goreng dan di makan Abdul.

“Enak bakwan goreng. Beli apa buat?” kata Abdul.

“Buat,” kata Budi.

“Oooo Budi buat toh,” kata Abdul

“Budi ada waktu untuk membuat makanan, ya di buat dengan baiklah makan. Ya bakwan goreng,” kata Eko.

“Emmm,” kata Budi.

“Emmmm,” kata Abdul.

Abdul selesai makan bakwan, pun membuat kopi dengan baik. Budi dan Eko, ya tidak jadi main catur karena ada Abdul. Kopi telah jadi buat Abdul, ya di minum dengan baik kopi lah. Budi mengambil koran di meja, ya koran di taruh di bawah meja. Budi mengambil kartu di bawah meja, ya di kocok dengan baiklah kartu remi dan di bagikan dengan baik. Abdul menaruh gelas berisi kopi di meja. Budi, Eko dan Abdul main kartu remi dengan baik, ya sambil menikmati minum kopi dan makan bakwan goreng buatan Budi yang enak gitu.

TAHU ISI

Eko di dapur. Eko memeriksa dengan baik keadaan dapur, ya ingin membuat makan gitu sih. Ternyata Eko mendapatkan bahan yang mau ia buat makanan di lemari makan.

“Ada tahu dan juga sayuran. Kalau begitu di buat tahu isi saja atau di sebut tahu bunting,” kata Eko.

Eko mulai membuat makan dengan serius, ya tapi santai. Emangnya membuat makan tahu isi kaya mengerjakan tugas sekolah tingkat SMA, ya matematika gitu dan di usahakan hasilnya nilainya bagus gitu. Singkat waktu, ya Eko selesai membuat makannya dengan baik. Tahu isi di coba Eko.

“Emmmm enaknya. Tahu isi buatan aku,” kata Eko.

Eko memakan tahu isi, ya sampai dua buah gitu. Setelah makan tahu isi, ya Eko minum segelas air putih lah. Eko pun membawa tahu isi satu piring ke depan rumah. Ya di depan rumah….Eko menaruh piring yang ada tahu isinya, ya di taruh di meja dengan baik. Eko pun duduk santai di depan rumah. Di ambillah koran di bawah meja dan di baca dengan baik koran sama Eko.

“Beritanya…menarik,” kata Eko.

Eko terus membaca berita yang ada di koran, ya dari urusan pemerintahan dari pusat dan pemerintahan daerah….sampai masalah artis yang ini dan itu lah. Budi selesai urusan dengan temannya, ya segera ke rumah Eko lah, ya seperti biasa Budi membawa motornya dengan baik lah. Abdul yang selesai urusan di rumah, ya ke rumah Eko lah, ya Abdul membawa motornya dengan baik lah. Singkat waktu, ya Budi sampai di rumah Eko lah dan memarkirkan dengan baik di depan rumah Eko lah. Budi duduk bareng bersama Eko. Budi melihat di meja, ya ada sepiring tahu isi dan juga minuman kopi botolan gitu.

“Eko,” kata Budi.

Eko berhenti baca korannya dan koran di taruh di atas mejalah.

“Apa Budi?” kata Eko.

Eko mengambil kopi botolan di meja, ya di minum dengan baik kopi botolan lah.

“Tahu isinya. Beli apa buat?” kata Budi.

“Buat,” kata Eko.

Eko menaruh kopi botolan di meja dengan baik.

“Eko buat tahu isi toh,” kata Budi.

Budi mengambil tahu isi di piring, ya Eko juga sih mengambil tahu isi di piring sih.

“Emmmmm enak tahu isi buatan Eko,” kata Budi.

“Ya begitu lah hasil tahu isi buatan ku,” kata Eko.

Eko dan Budi terus makan tahu isi yang enak itu.

“Tahu isi di buatan Eko. Kenapa tidak di buat tahu isi mercon?” kata Budi.

Budi yang telah habis makan tahu isi satu buah, ya mengambil lagi tahu isi di piring dan di makan dengan baik.

“Aku tidak kepikiran untuk membuat tahu isi mercon. Tahu isi, ya biasa saja,” kata Eko.

Eko selesai makan satu buah tahu isi, ya mengambil lagi tahu isi di piring dan di makan dengan baik tahu isi lah.

“Ooooooo. Tidak kepikiran membuat tahu isi mercon. Padahal tahu isi mercon, ya enak banget. Sensasi pedasnya luar biasa gitu,” kata Budi.

“Budi pecinta makan pedas ya?” kata Eko.

“Ya enggak juga sih pencinta makan pedas. Cuma sekedar saja sih,” kata Budi.

“Oooooo sekedar saja…suka makan pedas,” kata Eko.

“Kenapa cewek suka banget dengan makan pedas?” kata Budi.

Omongan Budi mulai ngomongin cewek, ya Eko biasa sedikit aneh saja mendengar omongan Budi. Walau sebenarnya sih Eko sudah tahu kebiasaan Budi, ya biasa ngomongin tentang cewek sih.

“Mungkin cewek itu pecinta makan pedas,” kata Eko.

“Memang sih cewek itu suka makan pedas,” kata Budi.

Budi selesai makan tahu isi, ya Budi mengambil kopi botolan di meja lah, ya kopi botolan di minum dengan baik.

“Budi lagi dekat dengan cewek yang suka makan pedas, ya Budi?” kata Eko.

Eko selesai makan tahu isi, ya mengambil kopi botolan di meja, ya di minum dengan baik kopi botolan lah.

“Memang sih aku dekat dengan cewek. Ya cuma teman saja. Untuk lebih lanjutnya aku masih mikir dua kali,” kata Budi.

Budi menaruh kopi botolan di mejalah.

“Ooooo. Dekat dengan cewek. Sekedar teman saja toh,” kata Eko.

Eko menaruh kopi botolan di meja dengan baik.

Abdul pun sampai di rumah Eko, ya memarkirkan dengan baik motornya di depan rumah Eko lah. Abdul pun duduk bersama Budi dan Eko lah. Ya Abdul melihat dengan baik di meja….ada tahu isi di piring dan juga kopi botolan sih.

“Ada tahu isi. Beli apa buat?” kata Abdul.

Abdul mengambil tahu isi di piring, ya segera di makan dengan baik lah.

“Eko…buat tahu isi,” kata Budi.

“Aku memang membuat tahu isi. Karena ada waktu untuk membuat makanan gitu,” kata Eko.

“Emmmm…tahu isi buatan Eko….enak. Tahu isi enak. Jangan-jangan Eko ada niat untuk jualan gorengan?” kata Abdul.

“Sekedar membuat makanan. Tidak ada niat jualan gorengan,” kata Eko.

“Ooooo sekedar saja toh,” kata Abdul.

Abdul selesai makan tahu isi satu buah, ya segera mengambil kopi botolan di meja lah dan kopi botolan di minum dengan baik lah.

“Karena sudah ngumpul. Lebih baik main kartu remi saja!” kata Budi.

“Ok….main kartu remi!” kata Eko.

“Ok main katu remi!” kata Abdul.

Abdul menaruh kopi botolan di meja dengan baik. Eko mengambil koran di meja, ya di taruh di bawah mejalah. Eko mengambil kartu remi di bawah meja, y segera di kocok dengan baik kartu remilah dan di bagikanlah kartu remi dengan baik. Ketiganya main kartu remi dengan baik, ya seperti biasa main cangkulan dan sambil menikmati minum kopi botolan yang enak sesuai dengan iklannya dan juga makan tahu isi yang enak buatan Eko lah.

Monday, March 21, 2022

TEMAN HIDUP

Budi dan Eko duduk di depan rumah Eko, ya sedang makan cilok gitu. Ciloknya yang beli Eko lah, ya belinya sama penjual ciloknya yang keliling menjajakan makanan yang di jualnya pada masyarakat, ya yang tertarik dengan makan yang murah meriah dan yang penting enak gitu. Nama juga usaha orang kecil yang kreatif dalam usahanya dengan tujuannya untuk diri sendiri dan juga keluarga.

“Emmmm enak cilok yang Eko beli,” kata Budi.

“Penjual ciloknya pinter buat makan yang murah meriah dan juga enak gitu,” kata Eko.

Budi dan Eko terus menikmati makan cilok yang enak itu.

“Kalau aku sebenarnya butuh teman hidup,” kata Budi.

Budi menaruh plastik berisi cilok di meja dan segera mengambil kopi botolan di meja, ya di minum dengan baiklah kopi. Eko sebenarnya aneh mendengar omonga Budi.

Eko pun berkata “Budi. Aku kan teman Budi yang masih hidup. Jadinya teman hidup”, ya sebenarnya Eko niatnya becanda gitu. Ya Eko menaruh plastik berisi cilok di meja, ya segera mengambil kopi botolan di meja, ya di minum dengan baik kopi lah.

“Kok. Ngomong begitu Eko?” kata Budi.

Budi pun menaruh kopi botolan di mejalah.

“Apa aku salah menanggapinya, ya Budi?” kata Eko.

Eko menaruh kopi botolan di meja.

“Ya….Ekonya. Terlalu lebay saja menanggapi omongan aku tentang teman hidup,” kata Budi.

“Budi. Budi. Budi. Sebenarnya sih. Teman hidup itu di usahakan dan di doa kan dengan baik, ya agar dateng pada Budi,” kata Eko.

“Kalau sudah di usahakan dan di doa kan belum dapet…gimana Eko?” kata Budi.

“Bersabarlah dengan baik. Sampai dia datang pada Budi. Teman hidup yang terbaik untuk Budi, ya sesuai dengan keinginan Budi lah,” kata Eko.

“Omongan Eko benarlah. Lebih baik aku sabarin saja. Nanti juga dia akan datang pada ku. Teman hidup yang terbaik, ya sesuai dengan keinginan ku,” kata Budi.

Budi, ya mengambil plastik berisi cilok di meja dan segera di makan lagi ciloknya dengan baik. Eko pun mengambil plastik berisi cilok di meja, ya segera di makan dengan baik ciloknya lah yang enak gitu. Abdul pun dateng ke rumah Eko, ya memarkirkan dengan baik motornya di depan rumah Eko. Abdul duduk bersama dengan Eko dan Budi.

“Asik makan cilok,” kata Abdul.

“Iya begitulah,” kata Budi.

“Emmmm,” kata Eko.

Abdul melihat di meja ada plastik berisi cilok di meja, ya Abdul berkata “Cilok siapa yang ada di meja?”, Abdul menunjuknya dengan baik.

“Cilok yang ada di meja, ya untuk Abdul!” kata Eko.

“Memang Eko beli ciloknya. Untuk Abdul, ya satu bungkus plastik itu!” kata Budi.

“Aku kirain buat. Ternyata beli toh. Ciloknya,” kata Abdul.

Abdul mengambil plastik berisi cilok di meja, ya segera di makan dengan baik tuh cilok.

“Enaknya…cilok yang di beli Eko,” kata Abdul.

“Penjual ciloknya pinter buat makan murah meriah dan juga enak,” kata Eko.

“Keadaan orang kecil demi diri dan keluarga, ya berjualan cilok. Kalau aku tidak kerja jadi buruh di perusahaan. Ya bisa saja jualan cilok. Demi kehidupan ini lah,” kata Eko.

“Ya…..benerlah omongan Eko. Kalau aku tidak kerja jadi buruh di perusahaan, ya bisa jadi pilihan ku jadi penjual cilok. Hasil dari jualan cilok kan. Demi diri dan juga bantu orang tua,” kata Budi.

“Aku yang membangun usaha dengan baik. Ya aku paham omongan Eko dan Budi. Ya aku pun tahu proses usaha cilok itu gimana hasilnya dengan baik,” kata Abdul.

Abdul menaruh plastik berisi cilok di meja, ya mengambil kopi botolan di meja, ya segera di minum dengan baik. Eko, ya menaruh plastik berisi cilok di meja, ya segera mengambil kopi botolan di meja, ya di minum dengan baik. Budi mengikuti cara Eko dan Abdul lah….menaruh plastik berisi cilok di meja dan mengambil kopi botolan di meja, ya di minum dengan baik.

“Rasanya aku kepingin sekali punya teman hidup yang baik,” kata Abdul.

“Teman hidup,” kata Budi.

“Aku dan Budi. Kan teman yang masih hidup gitu. Jadinya teman hidup,” kata Eko yang niat becanda.

Abdul menaruh kopi botolan di meja.

“Maksudnya bukan seperti omongan Eko. Teman hidup, ya pendamping hidup. Kekasih hati gitu,” kata Abdul.

Eko menaruh kopi botolan di meja.

“Ya paling….Putri yang di rasani sama Abdul. Cinta itu membuat rasa ini dan itu,” kata Eko.

Budi menaruh kopi botolan di meja lah.

“Putri. Yang di sukai Abdul. Berusahlah Abdul dengan baik, ya di iringi dengan doa. Agar tujuan Abdul kesampaian gitu. Ilmu-ilmu yang lagi tren di berita, ya ilmu-ilmu mistis gitu pun pasti bisa kalah dengan doanya orang-orang ahli ibadah. Ya kemungkinan besar sih. Abdul bisa mendapatkan Putri,” kata Budi memberikan masukan yang baik pada Abdul.

“Kok. Jadinya di kaitkan dengan urusan ilmu-ilmu mistis?” kata Abdul.

“Biasa. Obrolan lulusan SMA, ya kan Budi. Di kaitkan dengan berita ini dan itu. Sekedar obrolan saja!” kata Eko.

“Ya omongan Eko benar lah,” kata Budi.

“Ok. Memang aku akui dengan baik, ya sekedar obrolan saja. Kalau begitu main kartu remi saja!” kata Abdul.

“Ok. Main kartu remi!” kata Budi.

“Emmmmm. Main kartu remi!” kata Eko.

Eko mengambil kartu remi di bawah meja, ya segera di kocok dengan baik dan di bagikan dengan baik. Eko, Budi dan Abdul main kartu remi dengan baik, ya permainan cangkulan lah. Ketiga sambil menikmati makan cilok yang enak dan minum kopi botolan lah.

Saturday, March 19, 2022

MANTANG REBUS

Minggu pagi. Abdul duduk di depan rumahnya, ya sambil santai makan matang rebus dan juga minum kopi. Terdengar suara musik yang keras banget, ya acara pernikahan yang di adakan cukup jauh dari rumah Abdul.

“Kebiasaan orang-orang daerah sini. Kalau acara keluarga bentuk apa pun, ya mengadakan orgen tunggal. Musiknya, ya keras banget suaranya sampai terdengar sampai kesini. Kadang orang-orang yang menyanyi, ya sekedar menyanyi saja. Nama juga hiburan,” kata Abdul.

Abdul mengambil gitarnya di kursi yang kosong. Gitar di mainkan Abdul dengan baik dan bernyanyilah Abdul.

Lirik lagu yang di nyanyikan Abdul :

“Titip kembang iki

Dinggo wong sing tak tresnani

Dijogo lan ojo nganti ilang

Masio ra sesandingan

Ning ati tetep sayang

Ning mburimu aku wes berjuang

Nanging opo kabeh iki raono artine

Kowe milih ninggal tresno tulus sing tak jogo

Kembange wes layu koyo janjimu neng aku

Tresnoku wes ilang, kabur koyo layangan

Kowe sing tak sayang akhire pisahan

Tak cobo nglalekne kenangan sing gawe aku loro

Ikhlas kowe lungo, aku ora popo

Haa-aa-aa

Aa-aa-aa

Huu-uu-uu

Titip kembang iki

Dinggo wong sing tak tresnani

Dijogo lan ojo nganti ilang

Masio ra sesandingan

Ning ati tetep sayang

Ning mburimu aku wes berjuang

Nanging opo kabeh iki raono artine

Kowe milih ninggal tresno tulus sing tak jogo

Kembange wes layu koyo janjimu neng aku

Tresnoku wes ilang, kabur koyo layangan

Kowe sing tak sayang akhire pisahan

Tak cobo nglalekke kenangan sing gawe aku loro

Ikhlas kowe lungo

Tresnoku wes ilang, kabur koyo layangan

Kowe sing tak sayang akhire pisahan

Tak cobo nglalekne kenangan sing gawe aku loro

Ikhlas kowe lungo, aku ora popo

Haa-aa-aa

Aku lilo

Dadio wong liyo ning uripku”

***

Abdul pun selesai bernyanyi dan juga main gitarnya. Abdul pun menaruh gitar di kursi yang kosong. Abdul mengambil koran di bawah meja, ya di baca dengan baik.

“Beritanya masih tentang Moto GP Mandalika,” kata Abdul.

Abdul membaca berita itu dengan baik. Eko yang selesai urusan dengan temannya, ya ke rumah Abdul. Eko membawa motornya dengan baik ke rumah Abdul. Budi selesai urusan dengan di rumah, ya ke rumah Abdul. Budi membawa motornya dengan baik ke rumah Abdul. Singkat waktu, ya Budi sampai di rumah Abdul. Budi memarkirkan dengan baik motornya di depan rumah Abdul. Budi pun duduk bersama Abdul. Ya Abdul berhenti baca korannya karena ada Budi gitu. Koran di taruh di atas mejalah. Budi melihat di meja, ya ada matang rebus di piring, gelas berisi kopi dan juga benda-benda untuk membuat kopi lah.

“Kok tumben ada mantang rebus. Biasanya gorengan gitu?” kata Budi.

“Ibu beli mantang. Ya aku buat saja mantang rebus,” kata Abdul.

“Gara-gara berita tentang minyak goreng yang ini dan itu. Maka Abdul lebih baik masak mantangnya di rebus saja, ya Abdul?” kata Budi.

“Ya gak juga gitu……tentang berita minyak goreng yang ini dan itu. Akunya kepengen makan mantang rebus, ya aku buat lah,” kata Abdul.

“Oooooo kepengen makan mantang rebus toh. Aku kirain ada kaitan dengan minyak goreng ini dan itu,” kata Budi.

“Nama juga berita di Tv. Yang begini dan begitu,” kata Abdul.

“Ya memang berita dari berita kejujuran sampai berita kebohongan,” kata Budi.

“Emmmm,” kata Abdul.

Budi pun mengambil mantang rebus di piring, ya di makan dengan baik mantang rebus lah. Abdul pun mengambil mantang rebus di piring, ya di makan dengan baik mantang rebus lah.

“Emmmmmm….mangan enak tenan iki..,” kata Budi.

“Emmmm,” kata Abdul.

Abdul dan Budi terus makan mantang rebus dengan baik. Eko pun dateng ke rumah Abdul, ya Eko memarkirkan dengan baik motornya di depan rumah Abdul. Eko pun duduk bersama Budi dan Abdul. Abdul selesai makan mantang satu buah, ya mengambil gelas berisi kopi di meja dan di minum dengan baik. Budi membuat kopi dengan baik, ya setelah itu di minum kopi buatan Budi lah. Eko memang melihat Abdul dan Budi makan mantang rebus dan juga ada mantang rebus ada di piring.

“Kok hari ini mantang rebus. Tumben banget. Biasa gorengan. Apa kah krisis minyak goreng, ya Abdul?” kata Eko.

Abdul menaruh gelas berisi kopi di meja.

“Ibu beli mantang. Ya aku buat mantang rebus. Karena aku kepengen makan mantang rebus. Urusan tentang minyak goreng, ya tidak ada kaitannya tentang krisis minyak goreng,” kata Abdul.

Budi menaruh gelas berisi kopi di meja.

“Nama namanya juga kepengen makan mantang rebus, ya Abdulnya. Ya di buat dengan baik,” kata Budi.

“Ok. Ok. Ok. Abdulnya kepengen makan mantang rebus,” kata Eko.

Eko mengambil mantang rebus di piring, ya di makan dengan baik mantang rebus.

“Emmmmmm…mangan enak tenan iki..,” kata Eko.

“Emmm,” kata Budi.

“Emmmm,” kata Abdul.

Eko terus makan mantang rebus nya dengan baik.

“Kenapa ada orang, ya ingin hidup membujang terus menerus sampai tua, ya tidak menikah gitu?” kata Budi.

“Keputusan orang itu menjalankan hidupnya,” kata Abdul.

Eko yang selesai makan mantang satu buah.

“Jangan-jangan yang di omongin Budi. Orang itu Biksu. Kan Biksu…tidak menikah. Hidupnya selalu membujang gitu,” kata Eko.

Eko membuat kopi dengan baik, ya setelah kopi jadi di minum dengan baik kopi lah.

“Ya…memang sih. Yang aku omongin itu Biksu. Memang jadi Biksu, ya sudah keputusan orang yang menjalanin aturan dari agamanya. Membujang sampai tua, ya tidak menikah gitu,” kata Budi.

Eko menaruh gelas kopi di meja.

“Kisah cinta tentang seorang cowok dan cewek. Ya ketika waktunya. Cowoknya memilih jadi Biksu. Ceweknya di biarkan merana dengan kisah cintanya dengan cowoknya jadi Biksu. Cowoknya menjalankan pilihannya jadi Biksu dengan baik. Seiring waktu, ya ceweknya mengerti dengan pilihan cowoknya. Ceweknya pun mendapatkan pencerahan di dalam dirinya, ya bisa membebaskan diri dari urusan cintanya pada cowoknya yang menjadi Biksu. Cewek menjalankan hidupnya jadi tenang deh,” kata Budi.

“Kisah cinta antara cowok dan cewek toh. Ya akhirnya perpisahan karena cowoknya jadi Biksu. Ya masih mending sih, ya urusan agama. Kalau urusan kisah cinta dan akhirnya berpisah karena perselingkungan, ya bisa dari pihak cowok atau pihak cewek. Sakitnya bukan main rasa dari pengkhianatan itu,” kata Abdul.

“Omongan Abdul bener lah. Yang sakit itu rasa pengkhianatan dari perselingkuhan…..baik cowok maupun cewek,” kata Eko menegaskan omongan Abdul.

“Kalau begitu lebih baik. Main kartu remi saja!” kata Budi.

“Ok…main kartu remi!” kata Abdul.

“Ok…main kartu remi!” kata Eko.

Abdul mengambil koran di meja, ya di taruh di bawah meja. Abdul mengambil kartu remi di bawah meja dan di kocok dengan baik. Ya setelah di kocok dengan baik, ya Abdul membagikan kartu remi dengan baik. Ketiganya main kartu remi dengan baik, ya seperti biasa main cangkulan dan sambil menikmati minum kopi dan juga makan mantang rebus.

MARTABAK TELOR

Malam tenang di kediaman Abdul. Ya Abdul duduk di depan rumahnya, ya sedang memainkan gitarnya dan bernyanyi.

Lirik lagu yang di nyanyikan Abdul :

“Angin bengi iki atis

Salam marang awakku

Nanging sampeyan ora bisa pengin panas

Iki atiku

Aku rumangsa kaya wongku nabrak

Kanthi sikapmu

Apa amarga aku

Manungsa kurang

Iku gampang kanggo sampeyan kanggo muter

Oh bisa uga dhewe iki

Bisa ngganti busa

Sing whitens

Dadi karpet

Kaya panjaluk

Kowe ngomong apa

Ing janji katresnan

Uga mokal kanggo kula

Tekan lintang ing langit

Aku iki sopo

Mung wong biasa

Kabeh iku

Pancen aku

Ora ana sing bisa mbayar

Aku uga salah

Gara-gara jatuh cinta

Wong kaya sampeyan kaya malaikat

Aku kudu

Refleksi aku

Sadurunge sandiworo ati

Aku mbukak”

***

Abdul selesai main gitarnya dan menyanyi, ya gitar di taruh di kursi yang kosong. Abdul mengambil teh botolan di meja, ya di minum dengan baik.

"Emmmm enak bener rasa teh botol yang aku minum," kata Abdul.

Abdul pun menaruh teh botol di meja dengan baik. Ya Abdul pun mengambil koran di bawah meja dan koran di baca dengan baik banget gitu. Budi setelah urusan dengan temannya, ya ke rumah Abdul lah. Budi membawa dengan baik motornya dengan baik menuju rumah Abdul. Budi di pikirannya, ya inginnya naik motor gede gitu kaya orang kaya gitu....penuh dengan gaya gitu, tapi kenyataannya ya motor biasa-biasa saja gitu. Eko selesai urusan dengan temannya, ya ke rumah Abdul lah. Eko membawa motornya dengan baik ke rumah Abdul. Singkat waktu, ya Budi sampai di rumah Abdul. Budi memarkirkan dengan baik motornya di depan rumah Abdul lah. Budi duduk bersama Abdul. Memang Budi melihat di meja, ya ada matabak telor di piring dan juga teh botol. 

"Abdul," kata Budi.

Abdul menghentikan baca korannya, ya koran di taruh di atas meja.

"Apa?" kata Abdul.

"Tumben ada martabak telur?" kata Budi.

"Sebenarnya mau beli gorengan, ya seperti biasanya. Tiba-tiba aku kepengen makan martabak telur. Aku beli martabak telur," kata Abdul.

"Ooooo gitu ceritanya," kata Budi.

Budi pun mengambil martabak telur di piring dan segera di makan dengan baik banget.

"It's really good to eat what I ate...," kata Budi.

Budi terus makan martabak telur tersebut. 

"Emmmm," kata Abdul.

Budi selesai makan satu buah martabak telur, ya mengambil lagi makan martabak telur di piring. 

"Laper apa nafsu Budi makan martabaknya?" kata Abdul.

"Laper," kata Budi.

"Oooooo laper toh!" kata Abdul.

Abdul mengambil martabak telur di piring, ya di makan dengan baik tuh martabak telur lah. Budi, ya selesai makan martabak telur, ya segera mengambil teh botol di meja. Teh botol, ya di minum dengan baik sama Budi.

"What a delicious drink I drink....," kata Budi.

Abdul selesai makan martabak telur, ya mengambil teh botol di meja dan di minum dengan baik teh botol lah. Budi menaruh teh botol di meja. Ya Budi melihat dengan baik di kursi ada gitar gitu. Abdul menaruh teh botol di meja. 

"Abdul....gitar di kursi. Berarti Abdul abis main gitar dan nyanyi ya?" kata Budi.

"Iya. Aku abis nyanyi dan main gitar. Lagunya "Buih Jadi Permadani', ya aku ubah sih liriknya jadi lagu Bahasa Jawa," kata Abdul.

"Oooo...'Buih Jadi Permadani' di ganti liriknya jadi Bahasa Jawa. Ya sekedar lagu Bahasa Jawa gitu," kata Budi.

"Ya sekedar saja!" kata Abdul.

"Ok. Sekedar saja. Atau jangan-jangan ada kaitannya dengan Putri lagi?!" kata Budi.

"Mungkin?" kata Abdul.

"Oooooo mungkin toh. Nama juga rasa...itu tetap ada toh," kata Budi.

"Ya begitu lah," kata Abdul.

Eko pun dateng, ya memarkirkan motornya dengan baik di depan rumah Abdul. Eko pun duduk bersama Budi dan Abdul. Melihat meja, ya ada martabak telur dan juga teh botol.

"Ada martabak telur. Tumben. Biasanya gorengan?!" kata Eko.

"Aku kepengen makan martabak telur," kata Abdul.

"Ooooo Abdul kepengen makan martabak telur. Ya jadinya martabak telurnya beli toh," kata Eko.

"Emmm," kata Abdul.

"Nama juga kepengen makan martabak, ya pasti di belilah," kata Budi.

"Emmmm," kata Abdul dan Eko bersamaan.

Eko mengambil martabak telur di piring, ya di makan dengan baik lah martabak telur.

"Emmmmmm it's good to eat what I eat..," kata Eko.

"Emmmm," kata Budi dan Abdul bersamaan.

Eko selesai makan martabak telur satu buah, ya mengambil teh botol di meja dan di minum dengan baik. 

"Main kartu remi saja!" kata Budi.

Eko menaruh teh botol di meja. 

"Ok..main kartu remi," kata Abdul.

"Ok...main kartu remi," kata Eko.

Abdul mengambil koran di meja, ya di taruh di bawah meja. Abdul mengambil kartu remi di bawah meja dan segera di kocok dengan baik kartu remi, ya segera di bagikan dengan baik tuh kartu remi. Ketiganya main kartu remi, ya seperti biasa permainan cangkulan, ya sambil menikmati minum teh botol dan makan martabak telur yang enak banget.

Friday, March 18, 2022

NINGGALAKE SINGLE

Malam yang tenang di kediaman Budi. Ya Budi duduk di depan rumahnya sedang main gitarnya dan menyanyikan sebuah lagu gitu.

Lirik lagu yang dinyanyikan Budi yang berjudul ‘Ninggalake Single’ :

 “Mungkin wektune

'Aku bakal mungkasi kesepian

Siapke ati kanggo nglamar sampeyan

Tampa kula

Mungkin saiki aku bakal ninggalake urip single

'Aku bakal nikah karo sampeyan

Dadi partner lan urip lawas karo kula

Tampa tresnaku

Mungkin wektune

'Aku bakal mungkasi kesepian

Siapke ati kanggo nglamar sampeyan

Tampa tresnaku, hu-uh-oh-oh

Mungkin saiki aku bakal ninggalake urip single

'Aku bakal nikah karo sampeyan

Dadi partner lan urip lawas karo kula

Tampa tresnaku

Uh-oh-oh-oh, wo-wo-wo

Wo-uh-hu-uh

Mungkin saiki aku bakal ninggalake urip single

'Aku bakal nikah karo sampeyan

Dadi partner lan urip lawas karo kula

Oh, mbok menawa saiki aku bakal ngeculake uripku sing jomblo

'Aku bakal nikah karo sampeyan

Dadi partner lan urip lawas karo kula”

***

Budi selesai menyanyikan lagu dan juga main gitarnya, ya gitar di taruh di bangku yang kosong lah. Budi mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi lah. Eko sampai di rumah Budi, ya segera memarkirkan dengan baik motornya di depan rumah Budi. Budi menaruh gelas berisi kopi di meja. Eko duduk bersama Budi lah. Terlihat dengan baik ada gorengan di piring di mejalah, ya segera Eko mengambil bakwan goreng dan di makan dengan baik. Budi, ya mengambil bakwan goreng di piring, ya di makan dengan baik. Eko melihat gitar di bangku kosong dan Eko berkata “Budi abis main gitar dan juga nyanyi ya?” 

“Iya aku memang abis main gitar dan nyanyi,” kata Budi.

“Lagu apa yang di nyanyikan?” kata Eko.

Eko selesai makan satu buah bakwan goreng, ya segera membuat kopi lah, ya bahan sudah di siapkan Budi dan ada di meja lah. 

“Ninggalake Single,” kata Budi.

Budi selesai makan satu buah bakwan goreng, ya Budi mengambil gelas kopi di meja dan di minum dengan baik.

“Oooooo…Melepas Lajang,” kata Eko.

Eko selesai membuat kopi, ya segera di minum dengan baik kopi lah.

“Emmmm,” kata Budi. 

Budi menaruh gelas berisi kopi di meja. Eko pun menaruh gelas berisi kopi di meja lah.

“Kalau sudah mencapai tujuan dari impian, ya keberhasilan dari usaha dan doa. Pastinya orang-orang yang berhasil selalu memutuskan untuk menikah. Ya melepas lajang. Hidup bersama dengan orang yang di cintai dengan baik,” kata Budi.

“Realita kehidupan kan memang sesuai dengan omongan Budi lah,” kata Eko.

“Berita di Tv. Tentang artis, ya masih kaitannya tentang pernikahan, ya kan Eko?” kata Budi.

“Mungkin?” kata Eko.

“Kok mungkin?” kata Budi.

“Becandaan saja!” kata Eko.

“Oooo becanda toh!” kata Budi.

“Berita di Tv sih. Masih hebohin tentang Moto GP Mandalika,” kata Eko.

“Memang sih berita di Tv masih menghebohin tentang Moto GP Mandalika,” kata Budi menegaskan omongan Eko.

“Emmmm,” kata Eko.

“Aku sih punya impian ingin mengendarai motor gede, ya motor balap gitu. Rasanya gimana ya mengendarai motor balap di sirkuit dengan kecepatan yang luar biasa gitu? Maklum impian orang tidak punya seperti aku,” kata Budi.

“Entah rasanya gimana mengendarai motor balap di sirkuit?” kata Eko.

“Kaya bisa menikmati hal apa pun kan, ya Eko?” kata Budi.

“Ya….memang sih kaya bisa menikmati hal apa pun. Contoh saja seperti Presiden Joko Widodo mengendarai motor gede di sirkuit Mandalika,” kata Eko.

“Pencapaian dari usaha dan doa. Impian bukan sekedar impian jika telah berhasil mewujudkan impian menjadi kenyataan,” kata Budi.

“Maka itu terus berusaha dan berdoa dengan baik, ya agar impian jadi kenyataan dengan baik!” kata Eko.

“Termasuk menikah, ya kan Eko?” kata Budi.

“Menikah kan……impian semua orang yang ingin hidup bersama dengan orang di cintai,” kata Eko menegaskan omongan Budi.

“Kalau begitu main catur saja!” kata Budi.

“Ok…main catur!” kata Eko.

Budi mengambil papan catur di bawah meja, ya papan catur di taruh di atas mejalah. Budi dan Eko, ya menyusun dengan baik bidak catur di atas papan catur. 

“Berita Tv  tentang minyak goreng, ya terus bergulir dengan baik, ya kan Eko?” kata Budi.

“Ya begitulah realita berita di Tv,” kata Eko.

Eko dan Budi main catur dengan baik banget, ya sambil menikmati minum kopi dan juga makan gorengan. 20 menit Eko dan Budi main catur. Abdul dateng ke rumah Budi. Abdul memarkirkan motornya dengan baik di depan rumah Budi. Abdul pun duduk bersama dengan Eko dan Budi. Ya karena ada Abdul, ya permainan catur pun berakhir dan yang menang adalah Budi. Eko dan Budi membereskan permainan catur dan papan catur di taruh Budi di bawah meja. Budi mengambil kartu remi dan di kocok dengan baik.

“Keberhasilan itu berdasarkan dari usaha yang keras dan doa, ya kan Budi dan Eko?” kata Abdul.

“Iya,” kata Budi, ya sambil membagikan kartu remi dengan baik.

“Iya,” kata Eko.

Abdul, Budi dan Eko, ya main kartu remi dan permainannya seperti biasa main cangkulan. Ketiganya bermain kartu remi dengan baik, ya sambil menikmati minum kopi dan juga makan gorengan lah.

Thursday, March 17, 2022

SEBUAH AMANAH

Eko duduk di depan rumahnya sedang main gitar dan bernyanyi.

Lirik lagu yang di nyanyikan Eko dengan judul lagunya sih ‘Pecah Sewu’ :

Ha-ah-ah-ah

Hu-uh-uh-uh

Kuwatir mangu-mangu

Nalika wengi wiwit teka

Kekarepanku pengin dibayangke nanging

Kaca spionku pecah sewu, pecah sewu

Kaya kembang

Aku wedi yen akeh kumbang sing ndemek

Aku ora pengin

Patah, lengenku patah

Aku ora pengin

Kuwatir mangu-mangu

Nalika wengi wiwit teka

Kekarepanku pengin dibayangke nanging

Cerminku pecah sewu, pecah sewu

ho-oh

(La-la-la-la-la-la-la-la-la-la-la-la-la-la)

mung dheweke

(Dheweke, dheweke, dheweke, dheweke, dheweke, dheweke, dheweke, mung dheweke)

Mung dheweke sing ana ing ati

Panggonan kanggo nglangi, panggonan kanggo miss

Panggonan outpouring tentrem

Aku ora ngerti apa

Ibarat kayu teles diobong geni

Geni curiga, geni cemburu

Geni kangen sing murub

Dhuh angin, kandhaa

Melati ing ngarep omahku ngenteni kowe

(Ha-ah-ah-ah)

Kuwatir mangu-mangu

Nalika wengi wiwit teka

Kekarepanku pengin dibayangke nanging

Kaca spionku pecah sewu, pecah sewu

Kaya kembang

Aku wedi yen akeh kumbang sing ndemek

Aku ora pengin

Patah, lengenku patah

Aku ora pengin

Kuwatir mangu-mangu

Nalika wengi wiwit teka

Kekarepanku pengin dibayangke nanging

Kaca spionku pecah sewu, pecah sewu

ho-oh

(La-la-la-la-la-la-la-la-la-la-la-la-la-la)

mung dheweke

(Dheweke, dheweke, dheweke, dheweke, dheweke, dheweke, dheweke, mung dheweke)

Mung dheweke sing ana ing ati

Panggonan kanggo nglangi, panggonan kanggo miss

Panggonan outpouring tentrem

Aku ora ngerti apa

Ibarat kayu teles diobong geni

Geni curiga, geni cemburu

Geni kangen sing murub

Dhuh angin, kandhaa

Melati ing ngarep omahku ngenteni kowe

(Ha-ah-ah-ah)

Kuwatir mangu-mangu

Nalika wengi wiwit teka

Kekarepanku pengin dibayangke nanging

Kaca spionku pecah sewu, pecah sewu

Ha-ah-ah-ah

Ha-ah-ah-ah

Duhai angin, kandha, melati wis ngenteni

Duhai angin, kandha, melati wis ngenteni

Duhai angin, kandha, melati wis ngenteni

Duhai angin, kandha, melati wis ngenteni

***

Eko selesai menyanyikan lagu dan main gitarnya, ya Eko menaruh gitarnya di kursi yang kosong. Eko mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopilah. Budi dateng ke rumah Eko, ya memarkirkan dengan baik motor di depan rumah Eko. Ya Eko pun menaruh gelas berisi kopi meja lah. Budi duduk bersama Eko. Di meja, ya di piring ada gorengan gitu, ya jadinya Budi mengambil tahu bunting di piring dan segera di makan dengan baik lah.

“Emmmm enak tahu buntingnya,” kata Budi.

Budi terus menikmati tahu bunting yang enak. Eko mengambil bakwan goreng di piring dan segera di makan dengan baik bakwan goreng. Budi selesai satu buah tahu bunting, ya Budi segera membuat kopi sih. Ya kopi jadi, ya segera di minum dengan baik kopi lah.

“Enak kopinya,” kata Budi.

Budi menaruh gelas berisi kopi di meja lah. Eko mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik.

“Eko,” kata Budi.

“Apa?” kata Eko, ya sambil menaruh gelas berisi kopi di meja lah.

“Cinta pada cewek yang di sukai, ya di jaga dengan baik kan?” kata Budi.

“Iya,” kata Eko.

“Kalau masa lalu cewek yang di sukai buruk. Sebagai cowok yang baik, ya harus menerima masa lalu cewek tersebut dan juga harus membimbing dengan baik tuh cewek, ya kan Eko?” kata Budi.

“Iya. Cowok yang baik harus menerima masa lalu ceweknya yang begini dan begitu, ya harus di perbaiki dengan baik. Agar tuh cewek jadi baik,” kata Eko.

“Salah satunya. Kalau ceweknya kerja DJ Diskotik, ya kelakuannya liar seperti kucing liar yang susah di atur gitu,” kata Budi.

“Ya…terima masa lalunya dan bimbing tuh cewek itu di jalan lebih baik,” kata Eko.

“Aku punya sebuah cerita,” kata Budi.

“Oooo Budi….punya cerita. Silakan bercerita!” kata Eko.

“Baiklah aku bercerita. Seorang pemuda yang baik, ya namanya siapa? Oooooo…Rizky saja. Rizky yang terlahir dari keluarga miskin, ya berusaha dengan baik membantu orang tuanya dengan berjualan martabak telor. Awalnya sih Rizky ikut orang penjual martabak telor untuk mendapatkan ilmunya. Setelah Rizky mampu dengan ilmunya. Ya Rizky berjualan martabak telor. Setiap hari di lakonin kerjaan Rizky sebagai penjual martabak telor. Hasil jualan martabak telur lumayan lah, ya bisa membantu orang tua dan juga di tabung sih. Ayah Rizky, ya kerja serabutan sih dan terakhir kerjaanya sih….jadi ojek pangkalan. Ibu sih pernah jadi babunya orang kaya gitu. Setelah Rizky kerja jualan martabak telor, ya Ibu tidak jadi babu lagi di rumah orang kaya. Ya Ibu di rumah, ya warung kecil-kecilan. Sampai suatu ketika, ya Rizky bermasalah dengan seorang cewek yang menyerempet gerobaknya pake mobil mewahnya. Cewek itu sih cantik banget sih, ya anak orang kaya….namanya Rianty. Ya Rianty salah, ya mengganti rugi apa yang di tabraknya pada Rizky. Gara-gara gerobak rusak, ya terpaksa Rizky tidak jualan martabak telor. Di sabarin keadaannya, ya Rizky memilih untuk main untuk menghilangkan rasa stresnya. Suatu malem, ya Rizky pulang dari rumah Heru. Rizky bertemu dengan Rianty dengan keadaan mabuk berat, ya keluar dari Bar sih. Rianty pun di ganggu oleh orang-orang tidak bener sih. Rizky menolong Rianty, ya sampai orang-orang tidak bener itu meninggalkan tempat tersebut sih. Ya Rianty di bawa pulang sama Rizky. Di rumahnya Rianty. Orang tuanya bingung melihat anak gadisnya susah di atur kaya kucing liar dan juga kerjaannya juga DJ Diskotik lagi. Orang tua Rianty memutuskan dengan baik, ya mengamanahkan kepada Rizky untuk membimbing Rianty menjadi cewek baik-baik, ya yang di maksudnya di nikahin gitu. Rianty tidak bisa menolak pernikahan dengan Rizky karena perintah orang tuanya. Awalnya rumah tangga Rizky dan Rianty, ya kacau gitu. Rianty benar-benar susah untuk di bimbing dengan baik. Rizky dengan sabar membimbing Rianty dengan ilmu agama yang di pahami Rizky dari kecil sampai dewasa. Sampai akhirnya Rianty pun sadar dan menjadi baik. Rianty dan Rizky menjalankan rumah tangganya dengan baik dan usaha martabak telor Rizky pun maju pesat. Begitu lah ceritanya,” kata Budi.

“Cerita yang bagus. Sebuah amanah dari orang tua si cewek kepada cowok yang baik untuk membimbing cewek menjadi baik,” kata Eko.

“Ya memang sih Eko. Sebuah amanah, ya judul yang tepat untuk cerita yang baru aku ceritakan,” kata Budi.

“Kalau begitu. Kita main catur saja!” kata Eko.

“Ok..main catur!” kata Budi.

Eko mengambil papan catur di bawah meja, ya di taruh di atas mejalah papan catur. Eko dan Budi, ya menyusun bidak catur di atas papan catur. Keduanya main catur dengan baik.

CINTA TAK HARUS BERSAMA

Malam yang tenang di kediaman Budi lah. Eko main ke rumah Budi. Eko berada di rumah Budi, ya keduanya duduk di depan rumah Budi sambil menikmati minum kopi dan juga makan gorengan lah.

“Eko,” kata Budi.

“Apa?” kata Eko.

“Apa pendapat mu tentang sesuatu?” kata Budi berpikir panjang gitu.

“Sesuatu apa?” kata Eko.

“Cinta tak harus bersama,” kata Budi.

“Maksudnya…..cinta itu terhalang karena masalah seperti bentuk penolakan gitu?” kata Eko.

“Ya…memang sih. Kisah cinta tidak bisa bersatu karena terhalang oleh penolakan dari orang tua pihak cewek sih,” kata Budi.

“Susah kalau urusan dengan orang tua. Anak tidak boleh membatah orang tua. Kalau membantah di cap anak durhaka pada orang tua,” kata Eko.

“Omongan Eko benar. Anak tidak boleh membantah orang tua. Ya bisa di cap anak durhaka,” kata Budi menegaskan omongan Eko.

“Jadi anak yang baik, ya nurut saja apa kata orang tua. Tujuannya juga demi anak itu juga. Karena orang tua mendidik anaknya penuh kasih sayang,” kata Budi.

“Orang tua memang mendidik anaknya dengan penuh kasih sayang,” kata Budi.

“Emmmm,” kata Eko.

“Cinta….kisah anak SMA, ya hanya sebuah obsesi diri untuk bersama dengan cewek di cintai,” kata Budi.

“Namanya kisah anak SMA, ya masih labil lah. Ya apa lagi kita ini, ya lulusan SMA…..masih labil juga gitu,” kata Eko.

“Emmmmm. Sampai-sampai anak-anak kuliahan juga masih labil kisah cintanya. Ya…aku memang merasa begitu juga sih. Seperti yang di omongin Eko sih, ya labil gitu. Maka kita saling bertukar pendapat untuk kita jauh lebih dewasa dalam menjalankan kisah cinta dengan cewek yang di sukai, ya kan Eko?” kata Budi.

“Ya…omongan Budi benar lah. Bertukar pendapat untuk kita jauh lebih kedewasaan dalam menjalankan kisah cinta dengan cewek yang di sukai, ya di jalan dengan baik. Jika terjadi kenyataan yang tidak di duga-duga. Bahwa urusan cinta tidak bisa bersama, ya karena penolakan dari orang tua pihak cewek. Harus menerima dengan jiwa besar, ya ikhlaslah untuk tidak bisa bersama dengan cewek yang di sukai. Masih lebih baik melihat cewek yang di sukai itu hidup bahagia dengan orang lain. Dari pada kisah orang pernah di tinggal sama ceweknya, ya meninggal dunia ceweknya. Luka kehilangan itu, ya tidak bisa di omongin lah,” kata Eko.

“Luka kehilangan karena cewek yang di sukai, ya meninggal dunia. Ya tidak bisa di omongin. Kuasa Tuhan. Takdir hidup dan mati manusia,” kata Budi.

“Orang itu pun belajar dari kenyataan hidup,” kata Eko.

“Sama dengan kita kan Eko, ya belajar kenyataan hidup di dunia ini, ya tentang kisah cinta ini dan itu?” kata Budi.

“Ya..kita belajar memahami kisah cinta kenyataan hidup di dunia ini,” kata Eko.

“Kalau begitu main catur saja!” kata Budi.

“Ok…main catur saja!” kata Eko.

Budi mengambil papan catur di bawah meja, ya di taruh di atas mejalah papan catur lah. Budi dan Eko menyusun dengan baik bidak catur di atas papan catur. Keduanya main catur dengan baik. Sekitar 20 menit main catur. Abdul dateng ke rumah Budi lah, ya segera memarkirkan motornya dengan baik di depan rumah Budi. Abdul pun duduk bersama Budi dan Eko lah.

Budi di skak Eko, ya jadinya main caturnya yang menang Eko lah. Permainan catur antara Budi dan Eko berakhir.

“Abdul. Aku mau nanya sesuatu?” kata Budi.

“Nanya sesuatu apa?” kata Abdul.

“Jika….kisah cinta Abdul dengan cewek yang Abdul sukai, ya kenyataannya tidak bisa bersama dengan cewek yang di sukai karena di tolak orang tua cewek. Gimana Abdul?” kata Budi.

“Cinta tak harus bersama,” kata Eko.

“Ya aku harus bisa bersikap dewasa menyikapi suatu masalah lah. Kalau sudah di tolak sama orang tua cewek yang di sukai, ya aku lebih baik berhenti untuk menyukai cewek yang aku sukai. Memaksa kehendak juga tidak baik juga sih. Jadinya masalahnya berlarut-larut jadinya tidak baik gitu. Dengan sikap ikhlas, ya melepaskan cinta tersebut dengan baik. Membiarkan cewek yang di sukai, ya bersama dengan cowok pilihan orang tua cewek itu. Akhirnya…cinta tak harus bersama. Silaturahmi masih di jalanin dengan baik, ya jadi temen sih tapi.....temen yang jaga jarak dengan baik, ya agar tidak terjadi masalah karena kisah cinta masa lalu yang manis gitu,” kata Abdul.

“Bener-bener…Abdul belajar kedewasaan dengan baik,” kata Budi.

“Dewasa…Abdul,” kata Eko.

“Emmmm,” kata Abdul.

“Kalau begitu  main kartu remi saja!” kata Budi.

“Ok..main kartu remi!” kata Abdul.

“Main kartu remi!” kata Eko.

Setelah membereskan papan catur, ya di taruh di bawah meja. Budi telah mengambil kartu di bawah meja, ya di kocok dengan baik dan di bagikan dengan baik. Budi, Eko dan Abdul, ya main kartu remi dengan baik lah.

Wednesday, March 16, 2022

SANTAI

Dono yang berada di kota Batam. Dono tepatnya berada di pantai, sedang santai di pinggir pantai, ya memancing di pinggir pantai gitu. Tiba-tiba Hp berbunyi gitu dengan nada musik kesukaan Dono lah. Dono mengeluarkan Hp-nya dari saku celananya dan memeriksa Hp-nya dengan baik. 

"Indro," kata Dono.

Dono menekan tombol di Hp dan terlihat lah wajah Indro di Hp, ya bisa di bilang vidio call sih.

"Assalamualaikum...Don," kata Indro.

"Waalaikumsalam..Indro. Ada apa Indro?" kata Dono.

"Dono. Susah amat di hubungin?" kata Indro.

"Sibuk lah," kata Dono.

"Sibuk meratapi keadaan yang lagi patah hati karena Rara menikah dengan cowok pilihan orang tuanya?" kata Indro, ya niatnya becandaan dengan Dono.

"Aduh cerita itu. Emmmmm. Apa lagi urusan patah hati. Kaya anak SMA saja atau anak kuliahan yang baru belajar tentang cinta. Urusan dengan Rara. Cinta tah harus bersama kan?!" kata Dono.

"Cinta memang tak harus bersama sih. Jadi sebagai teman juga boleh sih," kata Indro.

"Teman. Yang aku takutin. Kenangan manis itu kembali lagi. Keberadaan ku dapat merusak hubungan Rara dengan cowok pilihan orang tuanya," kata Dono.

"Omongan Dono benar lah," kata Indro.

"Lebih baik aku di Batam menyenangkan diri. Ya salah satunya aku lagi mancing di pinggir pantai," kata Dono.

"Dono lagi mancing toh di pinggir pantai," kata Indro.

"Emmm," kata Dono.

Dono menunjukkan keadaan dengan baik, ya pantai gitu lewat Hp-nya. Indro melihat dengan baik keadaan pantai sih yang di tunjukkan Dono.

"Keadaan Batam gimana...Don?" kata Indro.

"Baik," kata Dono.

"Kalau baik saja sih infonya cuma gitu-gitu saja," kata Indro.

"Ya nama suatu daerah sih. Ada baik dan juga ada buruknya, ya manusianya sih yang di perhitung kan dengan baik. Sama saja di kota-kota lain. Maka itu polisi ada untuk menjaga keamanan dengan baik," kata Dono.

"Kalau itu komplit Dono. Ada baik dan buruk, ya tingkah laku manusianya yang di perhitungkan dengan baik," kata Indro.

"Gimana dengan keadaan di Jakarta" kata Dono.

"Jakarta sih. Sama aja sih berita di Tv....infonya gitu saja," kata Indro.

"Ada baik dan buruk dari tingkah laku manusia yang di perhitungkan, ya Indro?" kata Dono.

"Ya begitulah Don. Tingkah laku manusia ada yang baik dan buruk. Maka itu polisi ada kan untuk menjaga keamanan dengan baik," kata Indro.

"Siap Pak," kata Dono langsung melakukan hormat gitu, ya niatnya becandaan dengan Indro.

Indro yang melihat ulah Dono, ya tertawa sedikit sih dan berkata "Lapor Pak, ya Don?!"

Dono, ya berhenti hormat sama Indro.

"Ya begitu lah. Lapor Pak. Lawak gitu," kata Dono.

"Memang sih. Lapor Pak itu menghibur. Yang lawak, ya orang-orangnya kawakan gitu dalam hal melawak gitu," kata Indro.

"Pengalaman mereka yang lawak sudah banyak, ya berarti bisa menghibur penonton di rumah dengan baik dengan lawakan yang di mainkan dengan baik,"kata Dono.

"Realitanya memang begitu sih," kata Indro.

"Ngomong-ngomong beritanya yang lagi hits sekarang tentang motor GP Mandalika gitu. Pembalapnya bertemu dengan presiden," kata Dono.

"Ya begitu lah kedaan beritanya," kata Indro.

"Emmmm," kata Dono.

"Udahan ya Don. Assalamualaikum," kata Indro.

"Waalaikumsalam," kata Dono.

Indro mematikan hubungan Hp dengan Dono. Dono memasukkan Hpnya ke saku celana. Dono tetap santai di pinggir pantai, ya mancing gitu. Indro beranjak dari duduknya di halaman belakang rumah, ya masuk ke dalam rumah, ya menuju ruang tengah di mana ada Kasino yang sedang nonton Tv gitu. Indro pun duduk bersama Kasino di ruang tengah, ya nonton Tv.

"Kabar Dono gimana?" kata Kasino.

"Dono kabarnya baik," kata Indro.

"Syukurlah kalau kabarnya baik. Aku kirain masih mikirkan tentang Rara?!" kata Kasino.

"Dono tidak mikirkan tentang Rara lagi. Dono lagi santai mancing di pinggir pantai," kata Indro.

"Ooooo...Dono lagi santai toh. Mancing di pinggir pantai. Bagus lah itu," kata Kasino.

"Emmmm," kata Indro.

Indro dan Kasino, ya fokus nonton acara Tv yang bagus banget gitu sambil menikmati minum kopi dan juga makan gorengan lah. Nama juga lagi santai di rumah.

KETOPRAK

Budi duduk di depan rumahnya, ya sedang baca koran sambil menikmati minum kopi gelasan dan juga gorengan lah. Eko pun dateng ke rumah Budi, ya memarkirkan motornya dengan baik di depan rumah Budi. Eko pun duduk bersama Budi. Ya Eko melihat meja ada kopi gelasan dan juga gorengan.

"Ada gorengan," kata Eko.

Eko mengambil bakwan goreng di piring, ya di makan dengan baiklah bakwan goreng. Budi berhenti baca korannya karena ada Eko lah. Ya koran di taruh di mejalah sama Budi. 

"Gorengan enak kan Eko?" kata Budi.

Budi mengambil bakwan goreng di piring, ya di makan dengan baiklah gorengan lah.

"Enak gorengannya. Budi....buat gorengan yang ada di piring?" kata Eko.

"Ya aku tidak buat gorengan. Aku beli kok," kata Budi.

"Oooooo beli gorengan toh," kata Eko.

Eko dan Budi terus menikmati makan gorengan, ya sambil minum kopi gelasan sih.

"Aku ada cerita," kata Budi.

"Cerita. Ya silakan Budi bercerita!" kata Eko.

"Baiklah aku bercerita. Seorang pemuda yang tahu keadaan dirinya dari keluarga miskin. Pemuda itu kerja jadi kuli di pasar, ya tujuannya bantu keluarga sih. Sampai uang tabungannya cukup sih. Pemuda itu memutuskan untuk berhenti dari kuli pasar, ya jadi penjual ketoprak. Alasan pemuda itu memutuskan jualan ketoprak, ya karena menyukai makanan ketoprak. Setiap hari usaha jualan ketoprak di jalankan dengan baik di pinggir pasar. Dari awalnya sepi pembeli karena belum di kenal orang gitu. Sampai teman-temannya pemuda itu membeli ketoprak tersebut, ya tujuannya melariskan jualan pemuda itu. Ya lama kelamaan jualannya jadi laris gitu. Pemuda itu terus bersyukur dengan hasil usahanya dengan cara beribadah dengan baik. Hasil dari usaha jualan ketoprak, ya di berikan sama Ayah dan Ibunya, ya seperti biasanya saat kerjaan di masa lalunya sebagai kuli pasar gitu. Sampai pemuda itu berteman dengan cewek cantik, ya menerima apa adanya pemuda tersebut. Pemuda itu senang sih, ya ada cewek yang mau sama dirinya dari pekerjaannya dan juga dari keluarga miskin gitu. Hubungan pemuda tersebut dengan cewek yang ia sukai, ya berjalan dengan baik banget gitu. Suatu ketika Ibunya sakit keras. Pemuda itu pun membiayain pengobatan Ibunya sampai sembuh. Uang tabungan pemuda itu pun habis dan juga modal jualan ketoprak pun terpakai untuk biaya pengobatan Ibunya. Ibu sembuh dari sakitnya. Ayah senang Ibu sehat walafiat. Pemuda senang juga Ibunya sehat walafiat. Pemuda itu bingung dengan usahanya karena modalnya telah terpakai untuk pengobatan Ibunya. Ceweknya ingin membantu pemuda itu, ya meminjamkan cincin emas untuk modal usaha lagi. Pemuda itu menolaknya kebaikkan ceweknya. Pemuda itu memutuskan untuk ngutang dengan teman-temannya di pasar untuk membantu agar usahanya berjalan lagi. Teman-temannya ada yang pedagang di pasar gitu karena pemuda itu mantan kuli pasar gitu. Teman-temannya memberikan utangan barang yang di perlukan pemuda itu untuk berjualan ketoprak. Pemuda itu pun berjualan ketoprak dengan modal utang. Usaha jualan ketoprak di jalankan dengan baik banget. Sampai akhirnya pemuda tersebut, ya berhasil membayar utangnya sama teman-temannya di pasar. Modal pun kembali dengan baik. Hasil usaha di jalankan dengan baik pun, ya ada di tabung sih, ya tujuannya jaga-jaga kalau usaha mengalami krisis. Namanya jualan, ya rezekinya pasang surut air laut gitu. Pemuda tersebut terus menjalankan usahanya jualan ketoprak dengan baik. Pemuda itu pun menikah dengan cewek yang menerima apa ada dirinya dengan baik. Begitu lah ceritanya," kata Budi.

"Cerita yang bagus. Penjual ketoprak. Jangan-jangan idenya di ambil dari sinetron di Tv yang menonjolkan penjual ketoprak?" kata Eko.

"Kok. Eko tahu?!" kata Budi.

"Kan aku tahu kebiasaan Budi," kata Eko.

"Ya benar sih Eko. Aku mengambil idenya dari sinetron di Tv yang menonjolkan penjual ketoprak gitu. Jadi aku membuat cerita, ya seperti biasanya versi aku gitu. Sekedar cerita saja!" kata Budi.

"Emmmm," kata Eko.

Eko dan Budi tetap menikmati makan gorengan dan juga minum kopi gelasan gitu. Abdul pun dateng, ya memarkirkan motornya dengan baik di depan rumah Budi. Abdul membawa seplastik yang berisi makan gitu dan duduklah Abdul bersama Eko dan Budi. Abdul menaruh plastik berisi makanan di meja.

"Apa itu Abdul?" kata Budi.

"Makanan. Ketoprak," kata Abdul.

"Ketoprak. Kok bisa kebetulan dengan cerita di buat Budi, ya judul ceritanya sih bisa di bilang penjual ketoprak gitu," kata Eko.

"Kebetulan sama tidak masalahlahkan. Yang penting Abdul bawa makanan gitu," kata Budi.

"Emmmm," kata Abdul.

"Ketopraknya beli apa buat Abdul?" kata Eko.

"Beli lah. Aku tidak sempat untuk membuat makanan, ya repot dengan urusan usaha gitu," kata Budi.

"Makan yuk ketopraknya!" kata Abdul.

"Ayo!" kata Budi dan Eko bersamaan.

Abdul mengambil sebungkus ketoprak di plastik, ya begitu juga dengan Budi dan Eko lah. Ketiganya menikmati makan ketoprak yang enak banget. Sampai urusan makan selesai, ya perut ketiganya kenyang gitu. Seperti biasanya ketiganya main kartu remi, ya permainannya seperti biasa sih permainan kartu reminya....cangkulan.

Tuesday, March 15, 2022

LEMET SINGKONG

Budi di dapur, ya memeriksa yang ada di dapur dengan baik dengan tujuan sih mau membuat makanan gitu. Budi menemukan kresek plastik di bawah meja gitu.

"Singkong. Ibu membeli singkong toh. Kalau begitu. Aku olah saja singkong jadi makan saja. Tapi makan apa ya?" kata Budi.

Budi berpikir dengan baik dan akhirnya memutuskan dengan baik, ya Budi berkata "Buat makanan lemet saja!" 

Budi segera mengolah singkong dengan baik banget, ya di buat makanan lemet gitu. Singkat waktu. Budi selesai makan yang di buatnya. Ya Budi mencoba makan di buatnya.

"Enak lemet yang aku buat," kata Budi. 

Budi pun membawa lemet di piring, ya ke depan rumah. Piring yang berisi lemet di taruh di meja dengan baik. Memang di meja, ya ada minuman kopi botolan gitu. Eko pun dateng ke rumah Budi, ya memarkirkan dengan baik motornya di depan rumah Budi. Eko duduk bersama Budi. Memang sih Eko melihat makan di piring, ya di meja dan juga minuman kopi botolan gitu.

"Budi. Tumben ini ada lemet singkong. Jangan-jangan beli ya Budi?" kata Eko.

"Buat Eko," kata Budi.

"Oooo buat toh," kata Eko.

Eko mengambil lemet di piring, ya segera di makan dengan baik. Budi pun mengambil lemet di piring, ya di makan dengan baik.

"Emmmmm enak lemet buatan Budi," kata Eko.

"Memang enak. Aku yang buat," kata Budi.

Budi dan Eko terus menikmati makan lemet.

"Kata orang Turki...," kata Budi.

Eko langsung memotong omongan Budi dan berkata "Tunggu dulu!"

"Kenapa?" kata Budi.

"Kok...omongannya Budi. Kata orang Turki. Jangan-jangan ada kaitannya dengan acara Tv?" kata Eko.

"Acara Tv. Ya iya lah....acara Tv. Kan ada sinetron Turki gitu. Cewek-cewek cantik gitu," kata Budi.

"Emmmm kebiasaan," kata Eko.

Eko yang selesai makan lemet satu buah, ya mengambil kopi botolan di meja, ya di minum dengan baik lah.

"Nama juga cowok. Tertarik dengan cewek cantik, ya normal kan. Kan ada orang tidak normal, ya tidak suka dengan cewek. Ya cowok suka dengan cowok gitu," kata Budi.

Budi selesai makan satu buah lemet, ya mengambil kopi botolan di meja, ya di minum dengan baik lah. Eko menaruh kopi botolannya di meja.

"Omongan Budi benar lah. Normal sih cowok tertarik dengan cewek," kata Eko.

Budi menaruh kopi botolan di meja dengan baik.

"Kata orang Turki "Hoşlandığın kızdan hoşlanmak yürekten olmalı"...," kata Budi.

"Artinya Budi!" kata Eko.

"Becandaan gitu," kata Budi.

"Eeeeemmm...beneran becandaan?" kata Eko.

"Baik lah. Artinya "Menyukai cewek yang di sukai harus dengan sepenuh hati"....," kata Budi.

"Ya memang lah harus benar-benar mencintai cewek yang di sukai," kata Eko.

"Onu iyi anlamaya ve hoşlandığı kıza rehberlik etmeye çalışmak"...," kata Budi.

"Artinya!" kata Eko.

"Berusaha dengan baik memahaminya dan membimbing cewek yang di sukai," kata Budi.

"Memang benar lah omongan Budi. Cowok yang baik harus berusaha memahami cewek yang di sukainya. Kalau ceweknya lagi mutnya jelek, ya harus bisa ngertiin keadaan ceweknya. Jadi cowok yang sabar menghadapi sikap cewek yang di sukainya. Cowok yang baik, ya harus membimbing cewek yang di sukainya karena cewek itu makmumnya dan cowok pemimpinya dalam urusan cinta sebenarnya.....berumah tangga," kata Eko.

"Emmmm," kata Budi.

"Budi masih jomlo kan?" kata Eko.

"Ya iyalah masih jomlo. Masih berusaha mendapatkan cewek yang aku sukai," kata Budi.

"Cuma memastiin saja," kata Eko.

"Aku paham Eko," kata Budi.

"Kalau begitu main catur saja!" kata Eko.

"Ok...main catur!" kata Budi.

Budi mengambil papan catur di bawah meja, ya papan catur di taruh di atas meja lah. Budi dan Eko, ya menyusun dengan baik bidak catur di atas papan catur. Keduanya main catur dengan baik, ya sambil menikmati minum kopi botolan dan juga makan kue lemet yang enak.

CAMPUR ADUK

BAD NEWS BEARS

Malam hari, ya bulan bersinar dengan baik. Setelah nonton Tv yang acaranya menarik dan bagus...tema cinta di chenel MDTV, ya seperti biasa s...

CAMPUR ADUK