CAMPUR ADUK

Saturday, October 30, 2021

RIMAR

Faul sedang duduk di bawah pohon rindang, ya sambil melihat keadaan dengan baik. Hari memang mencari Faul sih. Ternyata Faul sedang duduk santai di bawah pohon rindang. Hari menghampiri Faul, ya dan duduk di sebelah Faul lah. 

"Teman. Kenapa duduk sendirian di sini?" kata Hari. 

"Ya aku sedang ingin saja," kata Faul. 

"Oooo sedang ingin duduk sendirian. Atau lagi mikirin sesuatu yang membuat resah di hati dan di pikiran?!" kata Hari. 

"Ya memang sih aku memikirkan seseorang sih," kata Faul. 

"Cewek apa cowok?!" kata Hari. 

"Cewek lah," kata Faul. 

"Cewek. Berarti cewek yang di sukai Faul dengan baik," kata Hari. 

"Ya begitulah. Cewek itu, ya ibu ku lah," kata Faul. 

"Aku kirain cewek yang di sukai Faul. Malah Ibunya Faul!" kata Hari. 

"Becanda...deh," kata Faul. 

"Jadi beneran. Faul mikirin cewek yang Faul sukai?!" kata Hari. 

"Ya begitulah," kata Faul. 

"Siapa tuh cewek. Aku kenal apa tidak itu cewek?!" kata Hari. 

"Hari kenal sama tuh cewek. Apalagi Hari dekat dengan Putri, ya ada cerita hubungan kisah kasih di sekolah SMA. Teman baiknya Putri," kata Faul. 

"Oooo teman baik Putri toh. Siapa ya?!" kata Hari berpikir untuk menebak cewek yang di sukai Faul. 

"Cewek itu memang cantik. Ada cowok yang menyukai cewek itu. Cewek itu sudah kenal lama cowok itu. Sedangkan aku, ya barulah menyukai cewek itu," kata Faul. 

"Oooo cewek itu jangan-jangan namanya Selfi, ya Faul?" kata Hari. 

"Bukan," kata Faul. 

"Selfi....bukan. Jangan-jangan Aulia, ya Faul?!" kata Hari. 

"Bukan juga!" kata Faul. 

"Aulia bukan juga. Emmm. Rara, tapi sudah dekat dengan Gunawan," kata Hari. 

"Bukan....Rara," kata Faul. 

"Emmmm bukan Rara. Kalau Meli dekat dengan Randa, ya katanya bukan Meli. Apa Nia, tapi kan Nia dekat dengan Iqbal?!" kata Hari. 

"Pokoknya bukan Meli dan juga Nia!" kata Faul. 

"Faul....siapa cewek itu!?" kata Hari. 

"Cewek itu nama Marimar. Teman-teman sekolah SMA, ya memanggilnya Rimar," kata Faul. 

"Oooo Rimar," kata Hari. 

"Udahan duduk di sininya!" kata Faul. 

"Jadi duduk di sini udahan?!" kata Hari. 

"Iya!!!" kata Faul dengan tegas. 

"Ok!!!" kata Hari. 

Hari dan Faul beranjak dari duduknya di bawah pohon rindang, ya keduanya berjalan dengan baik. Ya di tengah jalan Hari dan Faul bertemu dengan Randa yang membawa motor. Hari dan Faul, ya naik motornya Randa, ya jadinya tiga orang di satu motor jadinya cabe-cabean atau tiga pentol koreng api, ya sama aja deh. Singkat waktu sampai di rumah Faul. 

Ya Faul mengajak Hari dan Randa untuk makan bersama di rumah Faul. Hari di tawarkan makan, ya mau lah dan kebetulan perut Hari berbunyi, ya tanda laper gitu. Randa sebenarnya menolak sih ajakan Faul karena Randa ada janji sama Meli. Hari membujuk Randa dengan baik, ya jadinya Randa mau ikut makan di rumah Faul. 

Randa segera mengirim pesan singkat lewat Hp, ya jadinya Meli pengertian saja dengan keadaan Randa yang di tawarkan makan sama Faul di rumah Faul dan juga ada Hari. 

Faul, Hari dan Randa, ya masuk rumah Faul dan segera ke ruang makan. Ketiganya duduk dengan baik ruang makan lah. Faul membuka tudung saji dengan baik. Hari melihat makan enak di meja, ya begitu juga dengan Randa. 

"Hari ini Ibu masak makan enak," kata Faul. 

"Ternyata ada sayur yang di larang, ya bisa-bisa kita di tangkap polisi," kata Hari. 

"Ini sayur berbahaya. Ketahuan polisi kita di tangkap," kata Randa. 

"Polisi menangkap kita dengan senjata di todongkan di kepala kita," kata Hari. 

Ketiganya berimajinasi seperti di film-film, ya di tangkap polisi karena menyimpan barang terlarang ganja. 

"Masa muda kita di habiskan di penjara. Aku tidak mau," kata Hari. 

"Aku tidak mau masuk penjara. Aku punya impian dengan baik untuk masa depan ku dan aku telah berjanji ingin menikah dengan Meli, ya cewek yang aku cintai. Kalau aku masuk penjara, ya masa depan ku hancur," kata Randa. 

"Aku juga tidak ingin masuk penjara. Aku belum menyatakan cinta ku sama Rimar," kata Faul. 

"Cewek yang di sukai Faul itu Rimar. Aku baru tahu," kata Randa. 

"Sama aku baru tahu, ya kira-kira sudah  satu jam gitu. Faul suka sama Rimar," kata Hari. 

"Berarti Hari lebih dulu tahu kalau Faul suka sama Rimar," kata Randa. 

"Ya begitu lah," kata Hari. 

"Sudah mainnya!" kata Faul. 

"Karena berita di Aceh, ya tentang pembakaran ladang ganja sama polisi dan tentara, ya di kaitkan dengan sayur," kata Hari. 

"Kan memang kita tinggal Aceh," kata Randa. 

"Ceritanya tinggal di Aceh!" kata Faul. 

"Ya... ya... ya," kata Hari. 

"Padahal yang di omongin sayur berbahaya, ya cuma sayur singkong," kata Randa. 

"Ayo kita makan!" kata Faul. 

"Ok!!!" kata Hari dan Randa bersamaan. 

Ketiganya menyantap makan dengan baik, ya sampai perut kenyang lah. Setelah itu, ya Ketiganya duduk di ruang tamu, ya main kartu remi dengan baik, ya yang dimainkan main cangkulan lah. 

Friday, October 29, 2021

BONEKA ULTRAMAN

Ibu membelikan boneka Ultraman, ya hadiah dari usaha Faul yang mendapatkan nilai-nilai dalam pelajaran bagus-bagus gitu. Faul kan masih anak-anak, ya SD kelas 3. Faul di ruang tengah sedang main boneka Ultraman dengan monsternya lah. 

Isi cerita yang di mainkan Faul :

Muncul monster Deathdrago di kota, ya dengan kemampuannya Ultraman jahat yang bernama Ultraman Carmeara, ya menggunakan portal demensi lah. Deathdrago menghancurkan kota dengan energi pengancur yang di keluarkan Deathdrago. Para manusia berusaha menyelamatkan diri dari amukan monster Deathdrago menghancurkan.

Pasukan penyelamat menyelamatkan para manusia. Para tentara dengan mengendarai kendaraan perang dari tank sampai pesawat tempur, ya menyerang monster Deathdrago. Ya monster Deathdrago terus mengamuk menghancurkan kota. Para tentara kewalahan menghadapi monster Deathdrago. Ultraman Carmeara, ya senang sekali rencananya sesuai rencana menghancurkan kota.

Keadaan makin krisis banget. Pasukan khusus pun di perintahkan untuk mengatasi monster Deathdrago. Pasukan khusus itu di debut GUTS. Dengan persenjataan moderen dan juga pesawat yang super canggih, ya pesawat itu di kendalikan dengan cara jarak jauh.

Pasukan khusus berperang menghadapi monster Deathdrago, ya sangat sengit banget. Monster Deathdrago, ya terus menghancurkan kota. Pasukan khusus pun kewalahan menghadapi monster Deathdrago. Seorang pemuda yang gagah dan berani, ya bernama Kengo, ya menggunakan kekuatan cahaya, ya alat perubahannya di pegang di tanganlah. Kengo berubah menjadi Ultraman Trigger.

Ya Ultraman Trigger bertarung melawan monster Deathdrago yang menghancurkan kota. Pertarungan sengit banget antara Ultraman Trigger dan juga monster Deathdrago. Ultraman Trigger berhasil mengalahkan monster Deathdrago, ya dengan menggunakan kekuatan energi pengancur keluar dari tangannya Ultraman Trigger.

Setelah mengalahkan monster Deathdrago, ya Ultraman Trigger terbang ke langit lah. Semua manusia senang karena monster pengancur kota telah di kalahkan. Para manusia senang dengan Ultraman Trigger yang telah menolong dengan baik, ya menyelamatkan manusia lah. Ultraman Carmeara kesal karena monsternya di kalahkan sama Ultraman Trigger. Ultraman Trigger, ya kembali menjadi Kango. Ya Kengo pun kembali ke pasukan khusus lah.

***

"Faul," kata Ibu.

Faul berhenti main boneka Ultramannya. 

"Apa?!" kata Faul. 

"Faul sudah waktunya belajar!" kata Ibu. 

"Iya Ibu. Faul belajar. Faul berhenti mainnya!" kata Faul. 

Faul membereskan mainannya, ya di taruh di kotak kardus. Faul membawa kotak kardus yang berisi mainan ke kamarnya. Di kamar, ya Faul belajar dengan baik, ya mengulas pelajaran di berikan guru dengan baik. Ibu sedang sibuk memasak di dapur, ya untuk membuat makan untuk keluarga lah. Ibu sebenarnya mencoba masakan yang di buat di acara Tv gitu. Hasil masakan Ibu sukses sih, ya karena sesuai dengan apa yang di contohkan di acara Tv tentang masakan ini dan itu. 

SI CABE RAWIT

Faul duduk di ruang tengah, ya sedang baca buku cerita lah. Cerita rakyat dari Provinsi Aceh, mengenai seorang anak kecil bernama Cabe Rawit. 

Isi buku cerita yang di baca Faul dengan baik :

Alkisah, dahulu kala di sebuah gubug kecil, hidup sepasang suami istri yang sudah tua. Kehidupan mereka sangat miskin. Sang suami berkerja menjadi buruh angkut di pasar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di usia mereka yang telah senja, mereka belum juga dikaruniai seorang anak. Namun begitu, keduanya tidak pernah berhenti berdoa. Setiap hari mereka selalu berdoa kepada Tuhan agar diberikan seorang anak.

“Tuhan, berikanlah kepada kami seorang anak yang akan melanjutkan keturunan. Walaupun anak kami hanya berukuran sebesar cabe rawit, kami akan dengan senang hati menerimanya.” demikian doa sang suami di suatu pagi.

Di suatu hari, sang istri sakit. Sebenarnya sang istri kala itu tengah mengandung. Hanya saja bayi di kandungan istrinya berukuran sangat kecil, sehingga mereka berdua tidak menyadarinya. Beberapa bulan kemudian, sang istri melahirkan seorang bayi berukuran sangat kecil, sebesar ukuran cabe rawit. Mereka berdua sangat gembira dengan kehadiran si buah hati. Karena berukuran sebesar cabe rawit, mereka berdua kemudian memberi nama bayi mereka dengan nama Cabe Rawit.

Mereka membesarkan anak mereka dengan penuh kasih sayang. Malangnya, setelah si Cabe Rawit beranjak dewasa, ayah si Cabe Rawit meninggal karena sakit. Akibatnya si Cabe Rawit harus bekerja menggantikan ayahnya, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia berniat bekerja menjadi kuli panggul di pasar seperti pekerjaan ayahnya. Meskipun bertubuh kecil, namun cabe rawit memiliki tenaga sangat kuat dan memiliki suara lantang. Ketika si Cabe Rawit pergi ke pasar, di tengah jalan ia bertemu dengan seorang pedagang pisang.

Si pedagang pisang memanggul pisang bawaannya yang banyak. Si Cabe Rawit merasa takut tertimpa oleh buah pisang sehingga ia berteriak, “Hai bapak penjual pisang! Hati-hati jangan sampai pisang milik bapak menimpa tubuhku yang kecil!”

Si pedagang pisang sontak merasa kaget dengan suara keras tersebut. Ia menengok ke kanan dan ke kiri mencari asal suara tersebut. Karena tidak menemukan asal suara, si bapak penjual pisang merasa ketakutan. Ia pikir suara tersebut adalah suara hantu. Ia lantas lari tunggang langgang meninggalkan pisang dagangannya di jalan. Karena pisang tersebut dibiarkan tergeletak begitu saja, Si Cabe Rawit akhirnya membawa pisang-pisang tersebut ke rumahnya.

Hal ini sering terjadi pada para pedagang lainnya di pasar seperti pedagang beras, pedagang jagung, pedagang sayuran dan pedagang lain. Alhasil, setiap hari banyak barang-barang yang dibawa oleh si Cabe Rawit ke rumahnya. Akhirnya kehidupan si Cabe Rawit beserta ibunya menjadi berkecukupan.

***

Faul selesai membaca bukunya. 

"Cerita yang bagus," kata Faul. 

Faul menutup bukunya dengan baik, ya buku di taruh di meja.

"Nonton Tv lah!" kata Faul.

Faul mengambil remot di meja, ya segera di hidupkan dengan baik Tv. Faul memilih acara Tv yang di sukainya. Ternyata yang di pilih Faul, ya acara film Ultraman yang di tayangkan salah satu chenel Tv lah. Faul menaruh remot Tv di meja dengan baik. Faul pun menonton dengan baik film Ultraman, ya memang ceritanya bagus sih untuk anak-anak karena memang Faul masih SD lah, ya kelas 3.

Thursday, October 28, 2021

MEWARNAI GAMBAR ULTRAMAN

Budi duduk depan rumahnya, ya sambil menikmati minum kopi dan makan gorengan. Budi sedang menunggu Eko, ya dateng untuk main catur seperti biasanya. Budi sedang memegang sebuah buku yang ada gambar ultraman, ya buku itu di beli di toko. Budi mewarnai gambar ultraman dengan baik, ya pake sepidol warna lah. Dengan santainya Budi mewarnai gambar ultraman. Eko sampai di rumah Budi, ya memarkirkan motor dengan baik di halaman depan rumah Budi lah. Eko pun duduk dengan baik. Eko memang melihat dengan baik ulahnya Budi yang sedang mewarnai gambar ultraman pake sepidol warna warni. 

"Budi asik mewarnai gambar ultraman," kata Eko.

"Memang aku lagi asik mewarnai gambar ultaman," kata Budi.

"Teringat masa-masa SD aku. Ya hoby ku menggambar dan juga mewarnai gambar-gambar, ya seperti ultraman," kata Eko.

"Sama aja dengan aku. Semasa SD aku hoby menggambar dan mewarnai gambar ini dan itu, ya termasuk ultraman lah. Kalau sekarang sih, ya menghilangkan rasa jenuh menunggu Eko dateng lah," kata Budi.

"Kan kita satu sekolah dan juga teman baik dari SD, ya sampai sekarang," kata Eko. 

"Memang ceritanya begitu lah," kata Budi. 

Budi telah menyelesaikan mewarnai gambar ultraman, ya buku di tutup dan di taruh di mejalah buku, ya sepidol yang abis di gunakan di taruh dengan baik lah di mejalah. 

"Rasanya seperti kembali masa anak-anak," kata Budi. 

"Masa. Aku tidak. Aku telah dewasa," kata Eko. 

"Ya deh. Tidak rasanya seperti masa anak-anak. Aku telah dewasa, ya telah mengenal lawan jenis dengan baik, ya untuk di jadikan pendamping hidup dan juga aku telah kerja, ya bertanggungjawab dengan baik dalam kerjaan ku. Seperti orang dewasa lainnya lah," kata Budi. 

"Emmmm," kata Eko. 

"Jadinya sekedar hoby saja mewarnai gambar-gambar yang aku sukai," kata Budi. 

"Emmmm," kata Eko. 

"Ngopi nggak Eko?!" kata Budi. 

"Ya ngopilah!" kata Eko. 

"Kalau gitu aku buatkan kopi lah," kata Budi. 

Budi beranjak dari duduk, ya bergerak masuk ke dalam rumah, ya langsung ke dapur untuk membuat kopi lah. Eko mengambil tahu gorengan di piring, ya di makan dengan baik lah kopi. 

"Menikmati keadaan lingkungan yang tentang sambil makan gorengan yang enak," kata Eko. 

Eko terus makan gorengan lah. Budi selesai membuat kopi, ya kopi di bawa ke depan rumah. Di depan rumah, ya Budi menaruh kopi di mejalah. 

"Kopinya Eko!" kata Budi. 

Budi duduk dengan santai. 

"Kopi," kata Eko. 

Eko mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi lah. 

"Banyak orang yang ahli menggambar, ya melukis dengan baik. Hasil dari lukisannya dan nilai jualnya tinggi," kata Budi. 

Eko menaruh gelas berisi kopi di mejalah. 

"Segala hal yang nama ya hoby, ya kalau di tekunin dengan baik, ya jadi pekerjaan dan menghasilkan nilai ekonomi yang baik lah," kata Eko. 

"Tekun dengan apa yang di sukai," kata Budi. 

"Emmm," kata Eko. 

"Kalau begitu main catur saja!" kata Budi. 

"Ok. Main catur!" kata Eko. 

Budi telah mengambil papan catur di bawah meja, ya papan catur di taruh di atas meja. Budi dan Eko menyusun dengan baik bidak catur di atas papan catur dengan baik. Keduanya main catur dengan baik lah. 

PERAN

Keadaan lingkungan yang baik dan tenang di kota Jakarta. Sebuah rumah, ya kediaman Indro dan Kasino lah. Indro duduk di halaman belakang bersama Kasino. 

"Kasino," kata Indro.

Indro mengambil keripik singkong di plastik, ya di makan dengan baik lah keripik.

"Apa?!" kata Kasino.

Kasino mengambil keripik singkong di plastik, ya di makan dengan baik lah keripik.

"Kenapa cewek yang aslinya cantik, ya mau berpenampilan buruk, ya acara di Tv sih? Padahal realita kehidupan, ya mana ada sih cewek ingin berpenampilan buruk, ya inginnya cantik. Apalagi cewek yang masih jomlo, ya pastinya perawatan diri ini dan itu, ya agar terlihat cantik sempurna dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tujuan cepat dapet jodoh, ya cowok lah," kata Indro.

"Ooooo itu. Cuma tuntutan dalam peran di acara Tv. Kalau di bayar, ya cewek mau lah berpenampilan buruk. Nama juga acara Tv lawak. Tujuannya bikin orang tertawa dengan penampilan yang aneh-aneh gitu. Kalau urusan realita kehidupan sih, ya tidak perlu di omongin lah," kata Kasino.

"Karena sebuah peran di acara Tv toh. Cewek cantik, ya mau berpenampilan buruk," kata Indro.

Indro mengambil gelas berisi teh di meja, ya di minum dengan baik teh lah. Kasino mengambil keripik di plastik, ya di makan dengan baik keripik lah.

"Purnama begitu indah," kata Kasino.

Indro menaruh gelas berisi teh di meja.

"Mana Kasino. Purnamanya mana?" kata Indro.

"Purnamanya memang tidak ada. Yang ada bulan sabit!" kata Kasino.

Kasino mengambil gelas berisi teh di meja, ya di minum dengan baik.

"Purnama. Cewek baru Kasino ya?!" kata Indro.

Kasino menaruh gelas beriisi teh di meja.

"Selfi di kemanain jika Purnama itu cewek aku yang baru?!" kata Kasino.

"Selfi tetap jadi pacar Kasino dan Purnama jadi pacarnya Kasino juga. Lagi tren Kasino punya pacar dua. Di sinetron saja, ya ada tokoh dengan pacarnya dua gitu," kata Indro.

"Itu kan sinetron. Beda dengan keadaan aku. Aku tetap memilih setia pada Selfi," kata Kasino.

"Jadi Purnama itu siapa? Bulan saja bukan," kata Indro.

"Purnama itu nama tokoh cewek yang di tetapkan penulis jadi pendampingnya Eko," kata Kasino.

"Purnama. Tokoh cewek pendampingnya Eko. Purnama itu kan, nama temannya penulis," kata Indro.

"Emmm," kata Kasino.

"Selama cerita kita tidak di tulis di Blog, ya di gantikan ke cerita lain. Keputusannya ada di penulis," kata Indro.

"Emmmm," kata Indro.

"Kalau begitu aku main game ah di Hp aku. Kebiasaan aku lah!" kata Indro.

"Aku juga ah main game di Hp ku!" kata Kasino.

Kasino dan Indro, ya main game di Hp masing-masing, ya sambil menikmati makan keripik singkong dan juga minum teh. Sedangkan Dono yang berada di Batam, ya tepatnya di rumah lah. Dono selesai membuat cerita di Blog-nya, ya cerita di simpan dengan baik dan leptop di matikan. Dono keluar dari kamarnya. Di ruang tamu, ya Dono main dengan ponakannya yang masih balita. Sedangkan Rara di rumahnya. Rara hidup bahagia bersama dengan suaminya, ya apalagi Rara sedang hamil lah. Selfi di rumahnya, ya tepatnya di kamarnya, ya masih sibuk dengan urusan kerjaannya lah, ya membuat beberapa program kerja di leptopnya. Saskia di rumahnya lah. Saskia, asik nonton Tv di ruang tengah. Acara Tv yang di tonton dengan baik Saskia, ya sinetron dengan tema cinta karena alur ceritanya menarik gitu.

Wednesday, October 27, 2021

YANG MUDA BUKA SUARA

Budi dan Eko duduk di depan rumah Budi, ya sambil menikmati minum kopi dan makan gorengan lah. Budi dan Eko bernyanyi, ya yang main gitar Budi lah.

Lirik lagu yang dinyanyikan Budi dan Eko berjudul 'Bangun Pemuda Pemudi' :

Bangun pemudi pemuda Indonesia
Tangan bajumu singsingkan untuk negara
Masa yang akan datang kewajibanmu lah
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa
Sudi tetap berusaha jujur dan ikhlas
Tak usah banyak bicara trus kerja keras
Hati teguh dan lurus pikir tetap jernih
Bertingkah laku halus hai putra negri
Bertingkah laku halus hai putra negri

***

Budi dan Eko selesai menyanyi, ya Budi selesai main gitar dan gitar di taruh di samping kursi.

"Yang muda buka suara," kata Budi.

"Maksudnya siapa Budi?!" kata Eko.

"Kita ini kan pemuda, ya termasuk orang-orang muda yang buka suara, ya ngomong ini dan itu," kata Budi.

"Ngomongin apa?!" kata Eko.

"Ya....pemerintahan ini dan itu sampai ekonomi gitu," kata Budi.

"Maksudnya seperti orang-orang yang orasi yang menuntut ini dan itu, ya agar terjadi perubahan ini dan itu. Bisa di bilang reformasi ini dan itu," kata Eko.

"Ya bisa di bilang begitu sih," kata Budi.

"Budi. Budi. Budi. Kita ini lulusan SMA. Ilmu saja masih kurang. Yang ngomong ini dan itu, ya orasi ini dan itu kan pemuda pemudi yang kuliah. Kadang orasi pemuda pemudi itu di depan gedung DPR, ya ada yang masih masuk dalam prosedur pendidikan. Latihan mengemukan pendapat di khalayak umum gitu," kata Eko.

"Iya deh. Kita ini lulusan SMA. Dari lagu yang baru kita nyanyikan tadi. Lebih baik bekerja dari pada ngomongin ini dan itu, ya menuntut ini dan itu," kata Budi.

"Lebih baik bekerja, ya membuktikaannya dengan kemampuan kita, ya sejauh apa kita meraih masa depan yang baik dari keadaan pemerintahan yang sekarang," kata Eko.

"Tetap aja hasil dari kerja keras kita, ya kerja di masa pemerintahan sekarang, ya jawabannya relatif," kata Budi.

"Memang relatif. Yang berhasil kerja. Yang tidak berhasil kerja. Kompetisi dalam urusan mendapatkan pekerjaan di tempat kerjaan. Tetap saja solusi terakhir, ya menciptakan kerjaan, ya jadi kerja," kata Eko.

"Kadang kalau di pikir dengan baik sih. Lebih baik tinggal di tempat terpencil, ya di desa jauh dari kota," kata Budi.

Budi mengambil tahu goreng di piring, ya di makan dengan baik tahu goreng lah.

"Hidup di desa memang lebih baik dari pada di kota. Kerjaan, ya garap lahan pertanian, peternakan dan perikanan," kata Eko.

Eko mengambil tahu goreng di piring, ya di makan dengan baik tahu goreng lah.

"Setelah bekerja keras. Ya santai menikmati hidup," kata Budi.

Budi mengambil gelas beriisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi lah.

"Iyalah. Setelah bekerja, ya santai lah. Menikmati hidup," kata Eko.

Eko mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi lah. Budi menaruh gelas beriisi kopi di meja.

"Kalau di kota, ya tuntuan hidup lebih banyak. Kadang tempat tinggal saja, ya punya orang, ya ngontrak. Kalau tidak kerja keras, ya tidak bisa bayar kontrakan," kata Budi.

Eko menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Nama juga hidup di kota," kata Eko.

"Harus punya surat ini dan itu, ya untuk jati diri tentang kita, ya bisa di bilang orang baik sih," kata Budi.

"Kata orang baik. Ada cerita sih. Tentang orang yang belum buat KTP baru, ya masih pake KTP lama, ya masih berlaku sih. Tetap saja di curigain ini dan itu. Orang itu menerima keadaannya. Pada waktunya tiba, ya membuat KTP baru," kata Eko.

"Padahal cuma bentuk lama di buat baru. Data tetap saja. Nama juga manusia curiga ini dan itu," kata Budi.

"Dalam kerjaan sih. Ada cerita sebagai contoh lah. Ada OB di suatu Bank, ya OB itu orang baik terlihat dari tingkah lakunya sih. Dan juga ada OB yang bilang tidak baik dari tingkah lakunya," kata Eko.

"Memang sih ada orang baik terlihat dari tingkah lakunya. Ada yang tidak baik, ya terlihat dari tingkah lakunya. Jadinya hidup ini. Ada yang baik dan ada yang buruk tentang manusia," kata Budi menegaskan omongan Eko.

"Eeeemm," kata Eko

"Main catur saja!" kata Budi.

"Ok. Main catur!" kata Eko.

Budi telah mengambil papan catur di bawah meja, ya papan catur di taruh di atas meja. Budi dan Eko, ya menyusun dengan baik bidak catur di atas papan catur.

"Eko. Manusia yang hidup di muka bumi ini. Lebih banyak masuk neraka apa masuk surga?!" kata Budi.

"Kalau itu aku tidak tahu," kata Eko.

"Kesalahan kecil di sembunyikan manusia, ya itu kan dosa, ya kan Eko?!" kata Budi.

"Iya," kata Eko.

"Berarti. Lebih banyak manusia masuk neraka dari pada masuk surga. Gimana dengan pendapat Eko?!" kata Budi.

"Aku ini manusia biasa. Tidak tahu jawaban itu. Hanya Tuhan Yang Tahu Kebenarannya," kata Eko.

"Kan sekedar obrolan saja," kata Budi.

"Memang sekedar obrolan saja. Jadi ya sudahlah. Lebih baik serius main caturnya!" kata Eko.

"Ok!!!" kata Budi.

Budi dan Eko, ya main catur dengan baik lah dengan penuh keseriusan lah.

Tuesday, October 26, 2021

MENGIKUTI ATURAN

Budi dan Eko duduk di depan rumah Budi, ya sambil menikmati minum kopi dan makan gorengan.

"Eko. Kita harus membuat KTP kan?!" kata Budi.

"Memang harus membuat KTP, ya mengikuti aturan dengan baik," kata Eko.

"Eko. Kita hidup ini, ya harus mengikuti aturan yang di buat kan...?!" kata Budi.

"Memang kita harus mengikuti aturan yang di buat. Suka atau tidak suka, ya harus di ikuti aturan yang di buat," kata Eko.

"Kadang sakit tidak sakit pun kita harus di vaksin demi kesehatan manusia, ya mencegah dari penyakit covid-19," kata Budi.

"Kok omongannya sudah kelasnya yang lebih tinggi. Kita ini hanya lulusan SMA," kata Eko.

Eko mengambil tahu goreng di piring, ya di makan dengan baik tahu goreng lah.

"Ya Eko. Cuma sekedar obrolan saja!" kata Budi.

Budi mengambil tahu goreng di piring, ya di makan dengan baik tahu goreng lah.

"Ok. Ok Ok. Ambil saja sebuah contoh : tentang ayam yang terkena penyakit flu burung. Ayam yang sakit, ya harus di karantina dan di obatin dengan baik. Kalau ayam yang sakit tidak di pisahkan dari ayam sehat, ya maka ayam yang sakit itu akan menularkan penyakitnya ke ayam yang sehat. Kalau sampai tersebar penyakit, ya ayam akan mati satu persatu. Jadinya wabah deh flu burung itu. Sedangkan urusan manusia, ya sama aja dengan contoh aku itu," kata Eko.

Eko mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi lah.

"Kalau begitu. Tujuannya agar mencegah penyakit berkembang, ya dengan mengkarantina, ya orang yang sakit. Agar orang yang sakit cepat sembuh dari penyakitnya," kata Budi.

Budi mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi lah. Eko menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Maka itu. Manusia lain di vaksin. Sakit tidak sakit, ya di vaksin. Tujuannya mencegah agar tidak terkena penyakit dan menciptakan kekebalan pada manusia," kata Eko.

Budi menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Memang sih tujuannya baik. Untuk menyelamatkan manusia, ya agar sehat. Tetap saja. Sakit tidak sakit, ya di vaksin. Seakan-akan kelinci percobaannya para ahli kedokteran. Untuk mengetahui keberhasilan dari vaksin yang di buat untuk mengatasi penyakit yang telah membuat dampak kematian pada manusia," kata Budi.

"Mau di kata apa? Jika di sebut kelinci percobaan dari para ahli kedokteran.  Kita ini orang kecil, ya harus mengikuti aturan yang di buat!" kata Eko.

"Tujuannya sih agar ekonomi di selamatkan," kata Budi.

"Memang ada tujuannya untuk ekonomi di selamatkan. Contohnya : seorang petani yang punya lahan pertanian. Petani itu sakit, karena kena penyakit dari wabah yang berkembang saat init. Petani itu tidak terselamatkan, ya akkhirnya mati. Ekonomi yang di maksud adalah lahan pertanian itu tidak ada yang menggarap lagi karena petaninya mati. Permintaan pasar tentang hasil pertanian. Karena tidak hasil pertanian, ya jadinya krisis pangan. Ekonomi jadi kacau dan akhirnya hancur. Kelaparan manusia," kata Eko.

"Itu satu petani yang mati. Kalau mati semua dan tidak ada yang menggarap pertanian, ya benar-benar hancur ekonomi," kata Budi.

"Maka itulah. Manusia yang sakit segera di obatin dengan baik, ya di selamatkan dari kematiannya agar menjalankan ekonomi dengan baik lagi. Kehidupan berjalan dengan baik lah," kata Eko.

"Kalau di sisi lain. Urusan orang yang memegang teguh agama, ya membela kebenaran agama sampai mati sahit dalam perang, ya tujuannya surga.....katanya. Dampak yang paling utama sih, ya ekonomi hancur dari akibat peperangan manusia demi membela agama yang benar," kata Budi.

"Urusan peperangan dengan tujuan agama, ya ekonomi hancur lah. Dan juga membawa penderitaan, ya istri jadi janda dan anak jadi yatim. Surga apakah neraka penderitaan yang di jalankan manusia?!" kata Eko.

"Aku hanya lulusan SMA. Mana tahulah. Surga apakah neraka jadinya dari persoalan orang yang membela agama, ya peperangan?!" kata Budi.

"Aku tidak tahu jawabannya. Manusia aku ini. Hanya Tuhan yang tahu segala kebenaran," kata Eko.

"Kalau begitu main catur saja Eko!" kata Budi.

"Ok. Main catur saja!" kata Eko.

Budi telah mengambil papan catur di bawah meja, ya di taruh di atas meja papan catur. Budi dan Eko menyusun dengan baik bidak catur di atas papan catur.

"Eko. Ada cerita tentang orang yang pernah naik haji, ya mengikuti cara kehidupan dari pemuda yang mendengarkan roh, ya masih ada urusan dalam menjalankan agama sih. Gimana pendapat mu Eko?!" kata Budi.

"Jadi aneh lah. Yang orang yang naik haji kan jadi panutan karena telah menyempurnakan jalan agamanya. Tapi masih mengikuti jalan pemuda yang mendengarkan roh. Jadi apa yang di cari orang yang naik haji itu?!" kata Eko.

"Kebenaran," kata Budi.

"Berarti benar jalan pemuda itu yang bisa mendengarkan roh. Sedangkan orang yang telah naik haji, ya tidak bisa mendengarkan roh," kata Eko.

"Maka itu sudah naik haji, ya tidak bisa mendengarkan roh. Sedang pemuda itu, ya belum naik haji telah mendengarkan roh. Akherat di dapatkan dengan baik, ya pemuda yang mendengarkan roh itu," kata Budi.

"Sudahlah tidak perlu di panjang lebar lagi lebih baik kita serius main catur!" kata Eko.

"Ya sekedar obrolan saja. Memang lebih baik serius main catur!" kata Budi.

Budi dan Eko, ya main catur dengan baik lah.

MIMPI TENTANG CEWEK

Eko dan Budi duduk di depan rumah Eko, ya sambil menikmati minum kopi dan makan gorengan.

"Eko. Aku ingin pendapat mu Eko tentang sesuatu," kata Budi.

"Tentang apa?!" kata Eko.

Eko mengambil tahu goreng di piring, ya di makan lah tahu goreng dengan baik.

"Tentang mimpi ku," kata Budi.

"Mimpi. Jangan-jangan mimpi basah lagi," kata Eko.

"Mimpi basah. Maksudnya......ngompol. Aku kan udah gede mana mungkin ngompol lagi," kata Budi.

"Yang aku maksud bukan itu!" kata Eko.

"Oooo. Mimpi basah. Puber toh," kata Budi.

"Itu yang ku maksud. Saat proses pendewasaan pada cowok, ya puber cowok. Mimpi basah," kata Eko.

"Kalau itu sih. Salah satu mimpinya, ya mimpiin cewek. Itu pun aku tidak ingat siapa cewek yang aku mimpikan. Jadinya mimpi basah deh," kata Budi.

Budi mengambil tahu goreng di piring, ya di makan dengan baik tahu goreng lah.

"Malah buka kartu. Tentang mimpiin cewek," kata Eko.

Eko mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi lah.

"Hal itu lumrah," kata Budi.

Eko menaruh gelas di meja. 

"Memang sih lumrah," kata Eko.

"Sekarang ini aku memang mimpi tentang cewek. Apakah cewek di mimpi ku ini jodoh ku ya Eko?!" kata Budi.

Budi mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi lah.

"Mana aku tahu. Aku ini cuma lulusan SMA. Aku pun tidak tahu tentang tafsir mimpi tentang cowok yang bermimpi tentang cewek. Apakah jodoh apa tidak?!" kata Eko.

Budi menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Masa urusan mimpi tentang cewek, ya harus ke peramal atau dukun. Untuk membuktikan kebenaran dari mimpi ku," kata Budi.

"Budi. Budi. Budi. Urusan mimpi saja sampai-sampai mau di buktikan dengan menemui peramal atau dukun. Aneh tahu!" kata Eko.

"Masa jawabannya. Mimpi ku. Puber cowok," kata Budi.

"Ok. Ok. Ok. Ada sebuah cerita tentang mimpi. Yang bermimpi cewek sih. Cewek itu bermimpi tentang cowok yang ganteng dan keren. Cewek itu memang suka dengan cowok yang di mimpi itu. Maka itu cewek itu ingin membuktikan mimpinya, ya ingin menemui cowok yang ia mimpikan itu. Saat perjalan ke rumah cowok yang di mimpi, ya cewek itu bertemu dengan cowok yang tidak di sukainya. Terjadilah pertengkaran yang hebat. Cewek itu berhasil mengalahkan cowok yang tidak di sukai itu. Karena cowok itu kalah dari cewek, ya memimta bantuan sama orang sakti untuk menaklukkan cewek yang mengalahkan dirinya. Cowok itu berhasil mendapatkan cewek itu, ya dengan ilmu pelet lah. Ketika cewek itu sadar dari ilmu pelet. Cewek itu langsung meninggalkan cowok itu. Niat awal cewek itu ingin bertemu dengan cowok yang di mimpinya, ya ternyata di malah jatuh pada cowok yang tidak di sukai," kata Eko.

"Cerita tentang ingin membuktikan mimpi toh. Pada akhirnya mimpi cewek itu tidak jadi kenyataan bertemu dengan cowok yang ia mimpikan, ya tidak jadi kenyataan. Karena ada cowok lain yang menghalanginya dengan cara main tipu muslihat," kata Budi.

"Kadang mimpi adalah bentuk peringatan. Agar menjauh kan diri dari musibah," kata Eko.

"Kalau cewek itu tidak membuktikan mimpinya, ya cewek itu tidak akan jatuh pada cowok yang tidak ia sukai, ya dengan ilmu pelet lah," kata Budi.

"Maka itu kalau bermimpi yang aneh-aneh. Ya lebih baik di abaikan saja. Lebih banyak ibadah dengan baik, ya agar selamat dari bentuk ujian di muka bumi," kata Eko.

"Ok. Lebih baik aku tidak membuktikan mimpi ku, ya tentang cewek. Jodoh apa enggak? Ya lebih baik mengikuti omongan Eko, ya di abaikan saja  mimpi ku dan aku banyak ibadah dengan baik, ya agar diri ku selamat dari ujian di muka bumi ini," kata Budi.

"Emmmm," kata Eko.

"Kalau begitu. Main catur saja!" kata Budi.

"Ok. Main catur!" kata Eko.

Eko mengambil papan catur di bawah meja, ya di taruh di atas meja papan catur lah. Eko dan Budi menyusun dengan baik bidak catur di atas papan catur. Keduanya main catur dengan baik lah.

Monday, October 25, 2021

UJIAN HIDUP

Budi dan Abdul duduk di depan rumah Budi, ya sambil menikmati minum kopi dan makan gorengan. Budi dan Abdul bernyanyi, ya main gitar Budi lah.

Lirik lagu yang dinyanyikan Budi dan Abdul dengan judul 'Cinta Sabun Mandi' :

Aduh nyai, dengarkanlah
Cintaku tulus dan suci sama nyai
Kalau kaca bisa pecah, kayu juga bisa patah
Tapi cintaku ka nyai tak akan bisa berubah
Sampai tua cintaku tak akan musnah
Cintaku kepada nyai tak seperti sabun mandi
Pabila sering dipakai, makin habis kurang wangi
Percayalah cintaku suci ka nyai
Kujual baju, celana, itu semua demi nyai
Aku kerja jadi kuli demi nyai
Walaupun Madonna cantik
Marilyin Monroe juga cantik
Tetapi bagiku lebih cantik nyai
Aku rela korban harta demi nyai
Aku rela korban nyawa demi nyai
Cintaku kepada nyai tak seperti sabun mandi
Pabila sering dipakai, makin habis kurang wangi
Percayalah cintaku suci ka nyai
Aduh, bagaimana nyai, urusan kakang teh?
Akang sudah habis-habisan
Asal tau saja nyai, sebelum isinya
Lemarinya dulu akang sudah jual, demi nyai
Jawab dong nyai!
Kujual baju, celana, itu semua demi nyai
Aku kerja jadi kuli demi nyai
Walaupun Madonna cantik
Marilyin Monroe juga cantik
Tetapi bagiku lebih cantik nyai
Aku rela korban harta demi nyai
Aku rela korban nyawa demi nyai
Kalau kaca bisa pecah, kayu juga bisa patah
Tapi cintaku ka nyai tak akan bisa berubah
Sampai tua cintaku tak akan musnah

***

Budi dan Abdul selesai bernyanyi, ya Budi berhenti main gitar dan gitar di taruh di samping kursi sih.

"Hidup ini di jalankan harus berhati-hati, ya kan Abdul," kata Budi.

"Memang hidup ini di jalankan harus berhati-hati dalam menjalankan hidup. Karena masih banyak orang yang tidak memahami ilmu agama, ya hidup di jalankan dengan berpura-pura baik, ya jadi teman tujuannya untuk menjatuhkan, ya bisa di bilang ujian hidup ini lah," kata Abdul.

"Di jatuhkan oleh orang-orang berengsek," kata Budi.

Budi mengambil tahu goreng di piring, ya di makan dengan baik tahu goreng.

"Dari perkara kecil sampai perkara besar, ya di rencanakan sama orang-orang berengsek untuk menjatuhkan orang," kata Abdul.

Abdul mengambil tahu goreng di piring, ya di makan dengan baik tahu goreng lah.

"Contohnya, ya berita di Tv, ya cerita kriminalitas. Orang baik di jatuhkan sama orang-orang berengsek dengan perkara ini dan itu, ya kadang sampai ajal menjemput orang baik itu," kata Budi.

Budi mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baiklah kopilah.

"Contoh kenyataan sih. Pemuda, ya di jatuhkan sama orang-orang berengsek. Pemuda itu kelimpungan dalam menanggulangi masalahnya. Karena banyak orang berengsek di lingkungan, ya berpura-pura baik. Dari pencuri sampai penipu. Mungkin cerita ada kesamaan dari cerita di kota ini dan kota lainnya. Hal biasa cerita kan," kata Abdul.

Abdul mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baiklah kopilah. Budi menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Ya di kirain cuma pemuda itu saja yang di jatuhkan orang-orang berengsek. Ternyata banyak pemuda yang lain di jatuh kan orang-orang berengsek. Lingkungannya buruk banget sih. Padahal dekat banget dengan rumah ibadah, ya dari rumah ibadah umat islam sampai umat agama lain. Tetap saja orang berengsek bikin ulah dengan cara berpura-pura," kata Budi.

Abdul menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Kadang jadi orang baik itu susah banget. Karena banyak orang-orang berengsek, ya menjatuhkan," kata Abdul.

"Iya jadi orang baik itu susah karena banyak orang-orang berengsek, ya menjatuhkan. Dengan menjalankan kesabaran dengan baik, ya sampai ujian di jatuhkan sama orang-orang berengsek, ya selesai," kata Budi.

"Sabar dan sabar dalam menjalankan kehidupan ini. Sampai ajal, ya tetap sabar dalam menjalankan hidup yang penuh dengan ujian," kata Abdul.

"Ya sudah lah. Lebih baik main catur saja!" kata Budi.

"Ok. Main catur!" kata Abdul.

Budi telah mengambil papan catur di bawah meja, ya papan catur di taruh di atas meja. Budi dan Abdul menyusun dengan baik bidak catur di atas papan catur. Keduanya main catur dengan baik.

BUNGA SURGAWI

Budi dan Eko duduk di depan rumah Budi. Memang sih sambil menikmati minum kopi dan makan gorengan. Budi dan Eko bernyanyi bersama yang main gitar Budi lah. 

Lirik lagu yang dinyanyikan Budi dan Eko dengan berjudul 'Bunga Surgawi' :

Kau
Bunga
Surgawi
Izinkan aku
Memujamu
Engkau bagai bunga datang dari surga
Harum aroma indahmu tiada terkira
Izinkanlah aku untuk menyuntingmu
Akan kujaga kusayang sepenuh jiwa
Kuberjanji setia padamu
Hanya menghisap madumu
Duhai bunga impian
Jangan ragu dan bimbang
Aku bukan si kumbang jalang
Kuingin engkau saja
Menghias relung jiwa
Karena hanya kau yang kucinta
Abadilah dalam asmara
Kuberjanji setia padamu
Hanya menghisap madumu
A-a-a-a-ah
A-a-a-a-a-a-ah
A-a-a-a-ah
A-a-a-a-a-a-ah
A-ah pam-pam-pam-pam
Pa-ram-pam
Aku bukan si kumbang jalang
(Kuingin engkau saja)
(Menghias relung jiwa)
Karena hanya kau yang kucinta
Aku bukan si kumbang jalang
(Kuingin engkau saja)
(Menghias relung jiwa)
Karena hanya kau yang kucinta
Abadilah dalam asmara
Abadilah dalam asmara
Abadilah dalam asmara

***

Eko dan Budi berhenti bernyanyi, ya Budi berhenti main gitarnya dan gitar di taruh di samping kursi. Eko mengambil tahu goreng di piring, ya di makan dengan baik.

"Cewek itu diumpakan seperti bunga surgawi, ya kan Eko?!" kata Budi.

Budi mengambil tahu goreng di piring, ya di makan dengan baik lah tahu goreng.

"Ya memang sih. Cewek diumpamakan bunga surgawi. Cantik parasnya. Anggun geraknya. Karakternya di dalam diri cewek, ya berkesan untuk cowok yang menyukainya," kata Eko.

Eko mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik lah kopi.

"Contohnya kaya Purnama....., ya Eko?!" kata Budi.

Budi mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik. Eko menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Di buat umum. Malah di buat jadi khusus. Gimana Budi ini?!" kata Eko.

Budi menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Maaf deh  Eko. Memang di buat umum untuk urusan menilai cewek, ya diumpamakan bunga surgawi!" kata Budi.

"Emmmmm," kata Eko.

"Oiya Eko ingin nanya sesuatu," kata Budi.

"Tentang apa?!" kata Eko.

"Tentang pemuda yang bisa mendengarkan suara roh," kata Budi.

"Ooooo tentang pemuda yang bisa mendengarkan suara roh. Silakan!" kata Eko.

"Begini Eko. Pemuda yang bisa mendengarkan suara roh itu. Apa mungkin di ikuti orang-orang yang ingin belajar dari ilmunya pemuda yang bisa mendengarkan suara roh, ya kaya cerita para nabi dan para wali allah?!" kata Budi.

"Ada kemungkinan sih," kata Eko.

"Oooooo kemungkinan ada toh," kata Budi.

"Manusia di bimbing manusia. Seperti guru dan murid, ya hal biasa kan," kata Eko.

"Iya juga ya. Manusia di bimbing manusia, ya hal biasa. Sedangkan pemuda itu di bimbing dengan baik sama roh, ya di jelaskan dengan baik isi kitab-kitab agama," kata Budi.

"Akherat telah di dapatkan dengan baik pemuda yang dapat mendengarkan suara roh," kata Eko.

"Memang akherat telah di dapatkan dengan baik sama pemuda yang mendengarkan roh," kata Budi.

"Sudah ngomongin itu. Lebih baik main catur saja!"" kata Eko.

"Ok. Main catur!" kata Budi.

Budi mengambil papan catur di bawah meja, ya di taruh di atas mejalah papan catur. Bidak catur di susun dengan baik atas papan catur sama Budi dan Eko lah. Keduanya main catur dengan baik.

Sunday, October 24, 2021

MENIKAH DENGAN RASA CINTA

Budi dan Abdul duduk di depan rumah Budi, ya sambil menikmati minuman kopi dan juga gorengan.

"Setiap hari di jalankan dengan baik untuk jadi sukses di bidang kerjaan, ya bidang usaha," kata Abdul.

"Seandainya saja aku menemukan harta karun dan jadi orang kaya raya," kata Budi.

"Omongan Budi mengarah pada bentuk khayalan, ya Budi?" kata Abdul.

"Ya bisa di bilang begitu sih, ya omongan ku bentuk khayalan," kata Budi.

Budi mengambil tahu goreng di piring, ya di makan dengan baik tahu goreng lah.

"Memang sih. Seandainya menemukan harta karun, ya jadi orang kaya. Keinginan ku bisa cepat terwujud dengan baik," kata Abdul.

Abdul mengambil tahu goreng di piring, ya di makan dengan baik tahu goreng.

"Kalau Abdul jadi orang kaya, ya pastinya segera melamar Putri. Memberikan kelayakan hidup yang baik, pada Putri. Pasti lamaran Abdul di terima sama Putri, ya dasarnya menikah karena ada rasa cinta di antara teman SMA. Pokoknya cerita lamarannya Abdul dengan Putri, ya kaya cerita Aladdin melamar putri Jasmine," kata Budi.

"Kalau Budi jadi kaya gimana dari harta karun?!" kata Abdul.

"Ya bersenang-senang dengan kekayaan yang aku miliki, ya paling aku inginkan punya motor gede gitu, ya terlihat gagah saja kalau punya motor gede gitu. Lalu aku mencari cewek cantik dan juga kaya, ya aku lamarlah jadi istri ku. Pasti cewek mau dengan aku karena aku kaya. Kan cewek ingin hidup layak dengan baik," kata Budi.

"Berarti Budi, ya sama aja dengan aku. Kalau kaya ingin cepat menikah," kata Abdul.

"Aku merasa menikah tanpa cinta. Hidup penuh dengan berpura-pura. Beda dengan Abdul yang menyukai Putri, ya ada rasa cinta dari proses perteman di SMA sampai sekarang," kata Budi.

Budi mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik.

"Memang sih Budi. Menikah tanpa cinta, ya rasa menjalankan hubungan rumah tangga, ya penuh dengan berpura-pura," kata Abdul menegaskan omongan Budi.

Abdul mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi lah. Budi menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Ya...semua itu masih khayalan. Kenyataan aku dan Abdul, ya masih berusaha keras menjadi orang kaya," kata Budi.

Abdul menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Untuk menjadi orang kaya harus kerja keras. Kata orang-orang pintar untuk menjadi kaya, ya kerja pintarlah," kata Budi.

"Kerja pintar. Kecerdasaan di gunakan dengan baik, ya agar bisa jadi kaya. Banyak contoh sih : orang-orang yang jadi kaya karena kerja pintarnya," kata Abdul.

"Emmmm," kata Budi.

Abdul teringat sesuatu.

"Budi. Aku ada kerjaan lain dengan teman, ya lumayan hasilnya. Jadi aku pamit. Udahan ngobrolnya. Sedangkan main catur lain waktu saja!" kata Abdul.

"Ooooo iya Abdul," kata Budi.

"Assalamualaikum," kata Abdul.

"Waalaikumsalam," kata Budi.

Budi melihat Abdul, ya meninggalkan rumah Budi, ya dengan menggunakan motorlah. Ya Abdul membawa motornya dengan baik ke tempat temannya, ya urusan kerjaan lah. 

"Eko tidak main kesini, ya ada urusan kerjaan juga dengan temannya," kata Budi.

Budi mengangkat piring berisi gorengan di meja dan juga gelas berisi kopi di bawa ke dalam rumah langsung ke dapur. Setelah itu, ya Budi duduk di ruang tengah dan segera menyetel Tv. Acara Tv yang di tonton Budi, ya sinetron lah karena memang sinetron tema cinta bagus sih.

Saturday, October 23, 2021

NAMA JUGA MANUSIA

Budi dan Eko duduk di depan rumah Budi, ya sambil menikmati minum kopi dan juga makan gorengan.

"Berita tentang covid-19 masih di beritakan di Tv," kata Budi. 

Budi mengambil tahu goreng di piring, ya di makan dengan baik tahu goreng. 

"Memang program kerja pemerintahan, ya urusannya kesehatan pada manusia," kata Eko. 

Eko mengambil tempe goreng di piring, ya di makan dengan baik tempe goreng. 

"Aku lulusan SMA, ya patuh saja dengan peraturan di buat pemerintahan, ya ngari aman saja," kata Budi. 

"Mengikuti ini dan itu. Yang pastinya jadi aman," kata Eko.

Eko mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi lah.

"Ada berita tentang covid-19, ya orang menentang aturan yang tetapkan. Jadinya heboh gitu," kata Budi.

Budi mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi lah. Eko menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Nama juga manusia. Di sisi ini patuh. Di sisi sana, ya tidak patuh," kata Eko.

Budi menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Memang nama juga manusia. Ada manusia yang baik dan ada juga manusia yang buruk," kata Budi.

"Eeeemmm," kata Eko.

"Manusia yang struktur di dalam tubuhnya rusak, ya mudah terkena penyakit kan Eko?!" kata Budi.

"Kalau urusan itu aku mana tahu lah. Aku bukan dokter gitu. Saran ku tanya sama dokter lah!" kata Eko.

"Sekedar obrolan saja harus nanya sama dokter urusan kesehatan. Kaya acara di Tv saja, yang berkaitan dengan urusan kesehatan," kata Budi.

"Dengan pemahaman keilmuan seorang dokter, ya bisa menolong orang yang sakit, ya jadi sehat," kata Eko.

"Iya sih aku akui. Pemahaman keilmuan seorang dokter, ya bisa menolong orang yang sakit, ya jadi sehat," kata Budi menegaskan omongan Eko.

"Sudah ah lebih baik main catur saja!" kata Budi.

"Ok. Main catur!" kata Eko.

Eko mengeluarkan catur di bawah meja dan di taruh dengan baik, ya papan catur di atas meja. Eko dan Budi menyusun dengan baik, ya bidak catur di atas papan catur.

"Kapan urusan covid-19 ini berakhir ya?!" kata Budi.

"Mana aku tahu. Aku kan bukan orang pemerintahan dan juga bukan dokter. Ya cuma pemuda yang lulusan SMA saja. Masih kurang dalam hal ilmu ini dan itu," kata Eko.

"Aku dan Eko memang sama lulusan SMA, ya sudah tidak tahu.....kapan covid-19 berakhir? Kalau nyari aman, ya ikutin peraturan yang telah di tetapkan," kata Budi.

"Budi pemuda yang baik," kata Eko.

"Terima kasih Eko di puji pemuda yang baik, ya sama dengan Eko juga. Eko pemuda yang baik," kata Budi.

"Emmmm," kata Eko.

"Eko kalau urusan cewek. Ada cewek yang sifatnya baik dan juga ada cewek sifatnya buruk kan?!" kata Budi.

"Memang sih. Ada cewek yang sifatnya baik dan ada cewek sifatnya buruk. Sama saja dengan cowoklah, ada yang baik dan buruk," kata Eko.

"Nama juga manusia ya kan Eko?!" kata Budi.

"Nama juga manusia!" kata Eko menegaskan omongan Budi.

Budi dan Eko main catur dengan baik.

UJIAN DAN KETERBUKAAN

Eko dan Budi duduk di depan rumah sambil menikmati minum kopi dan makan gorengan. Eko main gitar, ya bernyanyi. Budi ikut bernyanyi juga lah. 

Lirik lagu yang dinyanyikan Eko dan Budi dengan judul 'Kupu-Kupu Malam' :

Ada yang benci dirinya
Ada yang butuh dirinya
Ada yang berlutut menyintanya
Ada pula yang kejam menyiksa dirinya
Ini hidup wanita si kupu-kupu malam
Bekerja bertaruh seluruh jiwa-raga
Bibir senyum kata halus merayu memanja
Kepada setiap mereka yang datang
Dosakah yang dia kerjakan?
Sucikah mereka yang datang?
Kadang dia tersenyum dalam tangis
Kadang dia menangis di dalam senyuman
O-oh, apa yang terjadi terjadilah
Yang dia tahu Tuhan penyayang umat-Nya
O-oh, apa yang terjadi terjadilah
Yang dia tahu hanyalah menyambung nyawa
Ada yang benci dirinya
Ada yang butuh dirinya
Ada yang berlutut menyintanya
Ada pula yang kejam menyiksa dirinya
Ini hidup wanita si kupu-kupu malam
Bekerja bertaruh seluruh jiwa-raga
Bibir senyum kata halus merayu memanja
Kepada setiap mereka yang datang
Dosakah yang dia kerjakan?
Sucikah mereka yang datang?
Kadang dia tersenyum dalam tangis
Kadang dia menangis di dalam senyuman
O-oh, apa yang terjadi terjadilah
Yang dia tahu Tuhan penyayang umat-Nya
O-oh, apa yang terjadi terjadilah
Yang dia tahu hanyalah menyambung nyawa

***

Eko dan Budi selesai menyanyi, ya Eko berhenti main gitar dan gitar di taruh di samping kursi.

"Hidup ini lika liku dalam menjalankan hidupkan, ya Eko?!" kata Budi.

"Memang hidup penuh dengan lika liku," kata Eko.

"Kadang ujian yang pait, ya bisa saja jatuh pada jalan kehidupan menjadi kupu-kupu malam," kata Budi.

"Ya memang ujian pahit, ya menjadi kupu-kupu malam," kata Eko.

"Sebagai manusia yang bijak, ya harus bisa membimbing manusia yang lain, ya agar kembali ke jalan kebaikkan lagi," kata Budi.

"Budi kan bukan Ustad. Cuma lulusan SMA," kata Eko.

"Aku mengerti ilmu agama," kata Budi.

"Memang Budi mengerti ilmu agama. Tapi kurang paham. Ya lebih paham sih, ya para Ustad lah untuk membimbing manusia di jalan kebaikan," kata Eko.

"Aku paham omongan Eko," kata Budi.

"Niat baik Budi, ya aku pujilah. Karena Budi ingin membimbing manusia yang jatuh pada ujian yang pait dan kembali ke jalan penuh dengan kebaikkan," kata Eko.

"Terima kasih Eko," kata Budi.

"Eeeemmmm," kata Eko.

"Eko aku mau nanya sesuatu," kata Budi.

"Tentang apa?!" kata Eko.

Eko mengambil bakwan goreng di piring, ya di makanlah bakwan goreng.

"Tentang seorang cewek yang mungkin menyukai seorang cowok sih," kata Budi.

Budi mengambil tempe goreng di piring, ya di makanlah tempe goreng.

"Terus!!!" kata Eko.

"Cowok itu ingin lihat nilai-nilai yang di raih cewek itu pada pendidikan SMA-nya, ya cewek itu menunjukkan dengan baik nilai-nilai yang di raih cewek itu dengan baik. Ya cowok itu menilai dengan baik sih apa yang usahakan cewek itu saat di menjalankan pendidikannya," kata Budi.

"Tandanya cewek itu telah membuka hatinya dengan baik," kata Eko.

Eko mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi lah.

"Jadi cewek itu telah yakin dengan cowok yang menyukainya, ya Eko?!" kata Budi.

"Iya lah cewek itu telah membuka hatinya untuk cowok yang di sukainya. Cowoknya, ya memang menyukai cewek itu. Emmmm. Cerita kenyataan ada sih," kata Eko.

Eko mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi lah. Budi menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Memang aku dapatkan cerita ini dari kenyataan seseorang yang menjalankan jalan cerita tentang urusan cinta," kata Budi.

Eko menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Ada kesamaan cerita yang aku dapatkan dan juga Budi. Ya tidak masalah sih. Memang bisa terjadi di mana-mana cerita ini," kata Eko.

"Emmm," kata Budi.

"Cowok dan cewek yang di omongin Budi, ya pacaran kan?!" kata Eko.

"Iya sih pacaran dan juga sampai menikah," kata Budi.

"Sifat cowok menguji dan sifat keterbukaannya seorang cewek. Urusan cinta, ya biasalah," kata Eko.

"Urusan cinta, ya biasalah. Banyak cerita yang ini dan itu," kata Budi.

"Ya sudahlah main catur saja!" kata Eko.

"Ok. Main catur!" kata Budi.

Eko telah mengambil papan catur di bawah meja, ya papan catur di taruh di atas meja. Eko dan Budi menyusun dengan baik bidak catur di papan catur.

"Squid game," kata Budi.

"Squid game, ya sama aja seperti permainan catur saja," kata Eko.

"Iya juga ya. Kalau di pikir dengan baik. Kan ada strategi dalam permainan dan juga ada yang menang dan kalah. Tekan juga ada jika permainan sudah terdesak ketika mau kalah," kata Budi. 

"Emmmm," kata Eko.

Eko dan Budi bermain catur dengan baik.

Friday, October 22, 2021

ADA CERITA

Budi dan Abdul duduk di depan rumah Budi. Keduanya menikmati keadaan sambil minum kopi dan makan gorengan. Ya Budi bermain gitar dan juga bernyanyi. Abdul ikutan bernyanyi.

Lirik lagu yang dinyanyikan Budi dan Abdul dengan judul 'Ada Cerita' :

Hapus air mata yang mengalir di wajahmu
Tak perlu kau bersedih
Cinta tak mungkin bisa tuk melebur menjadi satu
Karena kita berdua berbeda
Jangan tanyakan mengapa
Aku pun tak ada jawabnya
Bisa kau tangisi lagi
Biarlah berlalu
Dalam hatiku takkan mungkin hilang
Meski dirimu tak lagi bersamaku
Ada cerita di kehidupan nanti
Kita bertemu
Kan kupastikan kita bersatu
Nana
Semua kisah di antara kita
Kan kujaga seumur hidupku
Dalam hatiku takkan mungkin hilang
Meski dirimu tak lagi bersamaku
Ada cerita di kehidupan nanti
Kita bertemu
Kan kupastikan kita bersatu
Dalam hatiku takkan mungkin hilang
Meski dirimu tak lagi bersamaku
Ada cerita di kehidupan nanti
Kita bertemu
Kan kupastikan kita bersatu hu

***

Budi dan Abdul selesai bernyanyi, ya Budi berhenti main gitar, ya gitar di taruh di samping kursi.

"Teman dekat cewek itu. Bisa saja menaruh hati pada kita, ya sembunyi-sembunyi kan Abdul?!" kata Budi.

"Kadang terang-terangan," kata Abdul.

"Benaran ada yang terang-terangan?. Padahal yang aku tahu sih cewek kan punya sifat malu, ya jadinya lebih baik cowok duluan menyatakan cinta sama cewek. Salah satunya menyatakan cinta, ya dengan permainan gombal-gombalan, ya sebenarnya beneran, ya tipu muslihatnya permainan," kata Budi.

"Beneran ada!" kata Abdul yang tegas.

"Ternyata beneran ada," kata Budi.

"Kadang cewek itu menunjukkan perhatian lebihnya. Ketika cowok yang di sukainya sakit," kata Abdul.

"Kalau ada ikatan hubungan pacaran, ya cewek memberikan perhatian lebih pada cowoknya yang sedang sakit," kata Budi.

"Bukan itu maksudnya Budi! Cewek belum ada ikatan dengan cowok, ya sekedar teman saja. Memang cowoknya tahu kalau ceweknya suka sama diri cowok itu. Ketika dapet kabar cowok sakit, ya hati tuh cewek berdetak berbeda dan berpikir khawatir banget sama cowok yang ia suka. Cewek itu peduli dengan cowok itu, ya dateng ke rumahnya untuk mencari tahu kebenaran tentang cowok itu," kata Abdul.

"Ooooo teman tapi ada rasa cinta," kata Budi.

"Iya. Teman tapi ada rasa cinta," kata Abdul menegaskan omongan Budi.

Abdul mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi lah.

"Apakah cowok itu jadian sama cewek itu?!" kata Budi.

Budi mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi lah. Abdul menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Mau cewek itu sih jadian sama cowok yang di sukai. Kenyataan tetap kenyaatan. Cewek itu tidak jadian sama cowok itu. Seberapa cinta cewek sama cowok. Ya pada akhirnya keputusan juga pada cowok lah, ya mau menerima cewek itu apa tidak," kata Abdul.

Budi menaruh gelas berisi kopi di taruh di meja.

"Kasihan juga cewek itu. Sudah perhatian lebih sama cowok, khawatir karena cowok yang di sukai cewek itu sakit. Tetap tidak jadian, ya jadi pacar sampai menikah gitu," kata Budi.

"Sebenarnya sih bisa jadian Budi. Tapi ada hal-hal yang tidak bisa menyatukan cowok itu dan cewek itu," kata Abdul.

"Status sosial, ya Abdul!" kata Budi.

"Bukan," kata Abdul.

"Bukan. Jadi apa?" kata Budi.

Abdul pun memberikan tahu Budi tentang kenapa cowok dan cewek itu tidak bisa bersatu dengan ikatan pacaran sampai menikah? Budi mendengarkan dengan baik omongan Abdul dan memahami dengan baik omongan Abdul.

"Jadi begitu toh. Pantes tidak bisa bersatu," kata Budi.

"Nama juga urusan cinta. Ada yang bersatu dan ada yang tidak," kata Abdul.

"Lebih baik main catur saja!" kata Budi.

"Ganti main lain!" kata Abdul.

"Oooo ini saja main kartu gaplek saja!" kata Budi.

"Ok. Main kartu gablek!" kata Abdul.

Budi mengambil kartu gablek di bawah meja, ya segera di kocok dengan baik kartu gablek. Budi membagikan kartu gablek dengan baik. Keduanya main kartu gablek dengan baik sambil menikmati minum kopi dan makan gorengan.

ADA SIH

Budi dan Eko duduk di depan rumah Budi sambil menikmati minum kopi dan makan gorengan. 

"Eko. Dalam kehidupan ini. Ada orang yang tidak suka dengan keadaan kita, ya jadinya orang itu menghina-hina kan?!" kata Budi.

"Ada sih. Bisa di ambil cerita. Jadi contoh : orang kaya sombong menghina orang miskin....," kata Eko.

"Ternyata ada," kata Budi.

Budi mengambil bakwan goreng di piring, ya di makan dengan baik bakwan goreng.

"Apa agama juga di hina-hina, ya perselisihan antar agama yang satu dengan lain?!" kata Budi.

"Yang aku tahu sih permain anak-anak. Contohnya : patung nabi isa di salip. Umatnya meminta bantuan pada nabi isa. Gimana nabi isa bisa menolong umatnya, ya diri nabi isa saja di salip," kata Eko.

Eko mengambil bakwan goreng di piring, ya di makan dengan baik.

"Memang sih. Yang aku tahu juga permainan anak-anak. Seperti omongan Eko. Contoh juga : di mesjid tempat yang di anggung semua orang, sendah jepit saja hilang di mesjid, ya gimana dengan kotak amal, ya pasti hilang," kata Budi.

Budi mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik.

"Urusan sendal sih. Aku sih pernah kejadian. Mungkin karena orang yang ngambil sendal ku itu, ya suka dengan sendal ku, ya jadinya aku ikhlasin saja," kata Eko.

Eko mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik. Budi menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Kalau sendal sih aku juga. Kalau kotak amal, ya kebangetan sih yang ngambil kotak amal. Padahal memang benar sih kotak amal di curi orang, ya sama sih ceritanya di berita di Tv. Pengurus mesjidnya, ya was-was menjaga mesjid sampai menuduh orang yang numpang di mesjid di tuduh pencuri lah," kata Budi.

Eko menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Memang ada pengurus mesjid pemikiran sampai segitunya menuduh orang. Buruk sangka pada orang, ya jadinya dosa," kata Budi.

"Kalau sampai kejadian begitu sih, ya buruk sangka pada orang, ya di tuduh pencuri. Berarti pengurus mesjidnya, ya ilmunya kurang ngawain dari ilmunya," kata Eko.

"Memang kurang memahami ilmu," kata Budi.

"Pencuri kotak amal kalau di cari, ya orang miskin lah. Padahal orang miskin itu, ya berhak dapet bantuan dari mesjid dari kotak amal itu. Belum waktunya di berikan kepada orang miskin, ya sudah di curi sama orang miskin," kata Eko.

"Jadi pencuri kan karena keadaan ekonomi salah satunya. Dan yang kedua, ya memang karena pekerjaannya pencuri jadi merugikan orang lain," kata Budi.

"Nama juga realitanya kehidupan ini," kata Eko.

"Orang-orang yang menghina agama islam di cap kafir ya Eko?!" Budi.

"Katanya ulama sih yang mengajarkan sih. Sampai masuk dalam hukum penghinaan, ya kata berita di Tv. Tapi berbenturan dengan ajaran islam ada berkaitan dengan urusan taubatnya manusia, ya di mana manusia bisa salah karena sengaja dan tidak sengaja," kata Eko.

"Ajaran islam tentang taubat-nya manusia," kata Budi.

"Emmm," kata Eko.

"Ya sudahlah lebih baik main catur saja!" kata Budi.

"Ok. Main catur!" kata Eko.

Eko mengambil papan catur di bawah meja, ya di taruh di atas meja papan catur. Eko dan Budi menyusun bidak catur di papan catur dengan baik. Keduanya main catur dengan baik.

TIDAK BISA KELAIN HATI

Abdul duduk di depan rumah sedang menyanyi dan main gitar, ya sambil minum teh gelas dan makan gorengan.

Lirik lagu yang dinyanyikan Abdul dengan judul 'Rena' :

Rena Rena Rena kusayang padamu
Rena Rena Rena kucinta padamu
Aku sangat rindu pada dirimu
Sudah lama aku tiada bertemu
Rena Rena Rena kusayang padamu
Hanya satu dalam hatiku
Cinta kasihku padamu
Sunggung tiada duanya
Di dalam dunia
Namamu terlukis indah
Bagai intan mutiara
Memancarkan cahaya
Cahaya asmara
Rena Rena Rena kusayang padamu
Rena Rena Rena kucinta padamu
Aku sangat rindu pada dirimu
Sudah lama aku tiada bertemu
Rena Rena Rena kusayang padamu
Hanya satu dalam hatiku
Cinta kasihku padamu
Sunggung tiada duanya
Di dalam dunia
Namamu terlukis indah
Bagai intan mutiara
Memancarkan cahaya
Cahaya asmara
Rena Rena Rena kusayang padamu
Rena Rena Rena kucinta padamu
Aku sangat rindu pada dirimu
Sudah lama aku tiada bertemu
Rena Rena Rena kusayang padamu

***

Budi sampai di rumah Abdul, ya memarkirkan motornya dengan baik di depan rumah Abdul lah. Budi duduk dengan baik. Abdul selesai menyanyi dan main gitarnya.

"Budi. Eko main kesini apa enggak?!" kata Abdul.

"Eko ada urusan dengan Purnama, ya biasalah urusan cinta," kata Budi.

"Ooooo. Eko ada urusan dengan Purnama," kata Abdul

"Ooooo iya Abdul barusan nyanyiin lagu apa?!" kata Budi.

"Lagu Muchsin Alatas dengan judul 'Rena'..." kata Abdul.

"Hayooooo Abdul. Jangan-jangan Abdul menyukai cewek yang bernama Rena ya?!" kata Budi.

"Urusan lagu di kaitkan sama urusan aku suka sama cewek yang namanya Rena. Ya enggak lah Budi. Sekedar menyanyi saja!' kata Abdul.

"Aku kirain, ya cewek yang di sukai Abdul nama Rena. Ternyata tidak," kata Budi.

Budi mengambil tahu goreng di piring, ya di makan dengan baik tahu goreng lah. Abdul menaruh gitar di samping kursi dan segera mengambil teh gelas di meja, ya di minum dengan baik sama Abdul.

"Oooo iya Abdul. Cewek yang dekat dengan Abdul. Siapa namanya?!" kata Budi.

Abdul menaruh teh gelas di meja.

"Putri," kata Abdul.

"Yang aku maksud bukan Putri. Tapi kenalan Abdul, ya baru dan jadi teman gitu?!" kata Budi.

"Kalau itu sih rahasia deh," kata Abdul.

"Terserahlah Abdul!" kata Budi.

Budi mengambil teh gelas di meja, ya teh gelas di cucuk dengan sedotan, ya segera di minum dengan baik sama Budi.

"Ok nama Tasya," kata Abdul.

Budi kaget mendengar namanya Tasya. Budi menaruh teh gelas di meja.

"Apa aku tidak salah denger Abdul. Namanya Tasya?!" kata Budi.

"Tidak salah nama Tasya," kata Abdul.

"Tasya. Nama artis, ya temannya Putri, ya artis. Aneh?!!!" kata Budi.

"Budi. Aku becanda kok. Nama cewek yang dekat dengan aku, ya rahasia deh," kata Abdul.

"Emmmm. Aku kena becandaan Abdul. Tetap nama cewek yang dekat dengan Abdul, ya di sukai gitu, ya itu tetap rahasia," kata Budi.

"Misteri lebih menarik kan?!" kata Abdul.

"Iya. Misteri lebih menarik," kata Budi.

"Main catur saja!" kata Abdul.

"Ok. Main catur saja!" kata Budi.

Abdul telah mengambil papan catur di bawah meja dan di taruh papan catur di atas meja. Abdul dan Budi menyusun dengan baik bidak catur di atas papan catur.

"Abdul sudah mulai kelain hati karena sudah dekat dengan cewek," kata Budi.

"Kelain hati. Aku masih menyukai Putri, ya tidak bisa kelain hati," kata Abdul.

"Tetap tidak bisa kelain hati. Putri tetap di sukai Abdul," kata Budi.

"Emmmm," kata Abdul.

Abdul dan Budi main catur dengan baik. Sedangkan Eko, ya sedang ngobrol dengan asik bersama Purnama di ruang tamu di rumahnya Purnama lah. Sedangkan Putri yang keberadaannya di Jakarta, ya tepatnya di rumahnya. Putri sedang asik mendengarkan musik di kamarnya sambil mengerjakan tugas kuliahnya, ya mengetik di leptop dengan baiklah.

IYA DAN TIDAK

Budi dan Eko duduk di depan rumah Budi, ya sambil menikmati minum kopi dan gorengan. 

"Kenapa orang menunjuk ke atas sambil menyebut Tuhan?!" kata Budi. 

"Nama juga manusia, ya dapet dari belajar," kata Eko. 

"Apa karena Nabi Muhammad naik ke langit dan mendapatkan perintah sholat?!" kata Budi. 

"Ya bisa jadi sih," kata Eko. 

"Agama lain juga memuja langit untuk menyatakan Tuhan yang di sembah," kata Budi. 

"Iya juga ya agama lain," kata Eko. 

"Langit seisinya ini kekuasaan Tuhan. Ya Tuhan satu," kata Budi. 

"Tuhan Maha Esa. Allah SWT," kata Eko menegaskan omongan Budi. 

"Ooo iya Eko. Makelar tanah itu ada yang bener ada yang tidak kan?!" kata Budi. 

"Memang sih makelar tanah di kota Bandar Lampung ini, ya ada yang bener ada juga tidak," kata Eko. 

"Orang nyari uang dengan jalan jadi makelar tanah," kata Budi. 

"Gejala keadaan ekonomi di kota Bandar Lampung," kata Eko. 

"Ada kaitan dengan orang-orang partai politik apa enggak tentang makelar tanah itu?!" kata Budi. 

"Ada kaitan dengan orang partai politik ada juga tidak," kata Eko. 

"Ooooo iya Eko. Aku telah baca buku. Ya aku telah tahu tentang jawaban pemuda yang bisa mendengarkan roh dan juga orang yang telah naik Haji dan juga punya gelar pendidikan agama sampai profesor, tapi tidak bisa mendengarkan roh," kata Budi.

"Terus!!!!" kata Eko. 

"Pemuda yang mendengarkan roh itu, ya jalan agama jujur, ya benar agama. Sedangkan orang tidak mendengarkan roh itu, ya tidak jujur, ya tidak benar agama," Kara Budi. 

"Jadi?!" kata Eko. 

"Kemungkinan, ya antara iya dan tidak," kata Budi. 

"Kemungkinan, ya antara iya dan tidak," kata Eko.

"Memang jawabannya lebih baik kemungkinan, ya antara iya dan tidak," kata Budi. 

"Kan aku buat kemungkinan antara iya dan tidak karena aku kan lulusan SMA. Aku butuh banyak baca buku untuk dapat menjawab dengan baik. Sedangkan Budi telah baca buku dengan baik. Kok jadinya jawabannya lebih kemungkinan antara iya dan tidak?!" kata Eko. 

"Aku jelaskan dengan baik Eko. Kenapa lebih baik kemungkinannya antara iya dan tidak?!" kata Budi. 

"Silakan jelaskan Budi!" kata Eko. 

Eko mendengarkan dengan baik penjelasan Budi, ya sampai Eko mengerti banget.

"Jadi begitu Eko," kata Budi. 

"Aku mengerti Budi. Memang lebih baik kemungkinannya, ya antara iya dan tidak," kata Eko. 

"Misteri banget kan," kata Budi. 

"Iya misteri banget," kata Eko. 

"Kalau mau tentang kebenarannya sih, ya ada dalam buku sih," kata Budi. 

"Buku itu. Budi pinjem dari siapa?!" kata Eko. 

"Dari temen yang telah lulus kuliah, ya sarjana sih. Kata Eko kan belajar dari pergaulan dari ilmunya setingkat kita, ya SMA, ya sampai ilmunya lebih dari kita, ya sarjana. Yang baik di ambil. Yang buruknya di buang. Kalau belajar dalam pergaulan," kata Budi. 

"Oooo dari temen Budi yang pendidikannya sarjana. Budi pinter!" kata Eko. 

"Terima kasih Eko di puji pinter," kata Budi. 

Budi mengambil gelas berisi kopi, ya di minum dengan baik kopi lah. 

"Emmmm," kata Eko. 

Eko mengambil gelas berisi kopi, ya di minum dengan baik kopi lah. Budi menaruh gelas berisi kopi di meja. 

"Dengan baca buku dengan baik, ya aku tahu jawaban dari pertanyaan yang aku lah," kata Budi. 

Eko menaruh gelas berisi kopi di meja lah. 

"Pengetahuan bertambah karena baca buku, ya beda dengan orang tidak baca buku, ya pengetahuannya sebatas gitu gitu saja," kata Eko. 

"Emmmmm," kata Budi. 

"Main catur saja!" kata Eko. 

"Ok. Main catur!" kata Budi. 

Budi mengambil papan catur di bawah meja dan di taruh papan catur di atas meja. Budi dan Eko, ya menyusun dengan baik bidak catur di atas papan catur.

"Sarjana itu pemikirannya kritis ya Eko?!" kata Budi. 

"Ada kritis ada yang enggak," kata Eko. 

"Jika aku menyudutkan orang pendidikan tinggi dari gelar S1 sampai S3, ya profesor dengan sebuah pertanyaan, di anggap tidak masalah dalam pendidikan, ya Eko?!" kata Budi. 

"Ya tidak ada masalah sih. Nama juga pendidikan. Belajar jadi pintar. Yang salah di benarkan dan yang benar tetap benar," kata Eko. 

"Oooo begitu," kata Budi. 

 Keduanya main catur dengan baik. 

CAMPUR ADUK

BAD NEWS BEARS

Malam hari, ya bulan bersinar dengan baik. Setelah nonton Tv yang acaranya menarik dan bagus...tema cinta di chenel MDTV, ya seperti biasa s...

CAMPUR ADUK