CAMPUR ADUK

Sunday, August 8, 2021

MENIKMATI KEADAAN

Dono duduk di taman sambil membaca koran dengan baik. Indro selesai membeli es dugan, ya ke tempat Dono yang sedang duduk santai di taman. Indro duduk sambil menyerahkan sepelatik es dugan untuk Dono dan berkata "Es dugan Don!"

Dono berhenti dari baca korannya dan mengambil plastik es dugan dari tangan Indro.

"Terima kasih Indro atas es dugannya," kata Dono.

"Iya Don," kata Indro sambil minum es dugan sih.

Indro dan Dono menikmati minum es dugan sambil melihat keadaan.

"Kenyataan hidup seperti biasanya ya Don?!" kata Indro.

"Iya," kata Dono.

"Berita di koran. Ya Media Indonesia. Memberitakan apa hari ini Don?!" kata Indro.

"Biasa koran. Sama dengan apa yang di beritakan di Tv dengan baik," kata Dono.

"Berarti beritanya masih berlanjut. Ya seperti jalan kehidupan manusia yang harus ini dan itu. Kaya kita ini kan Don?!" kata Indro.

"Iya," kata Dono.

"Yang ngisi koran itu. Orang-orang hebat di bidangnya. Aku pernah menyelusuri sih. Orang yang mengisi koran. Ternyata ada dosen, yang aku kenal," kata Indro.

"Kadang hal tidak menyangka itu pasti terjadi. Buah pikiran dari orang yang kita kenal, ya mengisi koran," kata Dono.

"Dosen yang di kenal mengisi koran. Sama aja. Seperti satu guru satu ilmu....cuma beda pola pikirnya saja dalam menanggapi sesuatu," kata Indro.

"Bisa di bilang begitu sih. Kita orang biasa-biasa saja. Mereka yang mengisi koran, ya mempunyai kualitas dan kuantitas lebih baik dari kita. Contohnya : Blog aku buat. Di buat biasa, ya jauh dari segalanya," kata Dono.

"Blog Dono kan. Cerita kehidupan sehari-hari, ya di buat biasa aja....sekedar cerita tepatnya hoby saja! Yang luar biasa banyak, ya tujuannya sih ekonomi yang di hasil dengan baik.....contohnya : Dosen yang mengisi koran," kata Indro.

Indro dan Dono minum es dugannya, ya sambil menikmati keadaan sih.

"Hidup ini terus berjuang demi hidup, ya kan Don?!" kata Indro.

"Iya," kata Dono.

"Contohnya : seorang gadis yang ikut perlombaan menyanyi dan jadi juara.....di sebut artis lah sekarang Meli Nuryani di kenal dengan nama Meli LIDA. Terus berkecimpung di dunia hiburan demi masa depan lebih baik dari hari ini," kata Indro.

"Perjuangan manusia dalam meraih kejayaan, ya terus menerus tanpa henti sampai di dapatkan semuanya. Ya impian telah tercapai dengan baik," kata Dono.

"Aku terus berjuang dari nol sampai mendapatkan apa yang aku inginkan dengan baik dan berkata 'Aku puas apa yang ku usahakan dan doakan dengan baik'..." kata Indro.

"Semua orang mencapai sesuatu dengan berhasil dengan usaha yang baik dan doa yang baik. Pasti berkata sama dengan Indro. Kepuasan dalam pencapaian," kata Dono.

Dono dan Indro terus minum es dugannya sambil menikmati keadaan.

"Hidup dengan keadaan, ya pandemi corona. Harus pandai-pandai beradaptasi dengan keadaan dengan baik. Tujuannya tetap sehat sih," kata Indro.

"Kesehatan itu penting. Kalau tidak sehat, ya mana bisa menikmati keadaan. Contohnya : kita ini lagi duduk santai menikmati keadaan sambil minum es dugan. Berarti kita ini sehat," kata Dono.

"Orang-orang sakit mana bisa menikmati hidup. Harus pantang ini dan itu, ya agar cepat sembuh dari penyakitnya," kata Indro.

"Banyak-banyak bersyukur di berikan kesehatan, ya bisa menikmati keadaan dengan baik!" kata Dono.

"Paham Don. Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Alloh SWT memberikan kesehatan pada aku dan Dono, ya menikmati hidup ini dengan baik," kata Indro.

"Amin," kata Dono.

"Ya sudahlah Don. Ngobrol di sini. Pulang yuk!!!" kata Indro.

"Ayok kita pulang!" kata Dono.

Dono dan Indro, ya beranjak dari duduknya di taman, ya bergerak pulang ke rumahlah. Sedangkan Kasino sedang sibuk dengan temannya urusan kerjaan lah.

OBROLAN CINTA

Malam hari. Dono duduk halaman belakang sambil menikmati minum teh sambil makan keripik singkong. Indro selesai urusan kerjaannya, ya keluar dari kamarnya.

"Aku ingin nonton...apa ngobrol saja ya?!" kata Indro berpikir panjang.

Indro sudah berada di ruang tengah dan ingin mengambil remot Tv di meja.

"Kalau pikir dengan baik. Aku ngobrol asik saja dengan Dono di halaman belakang sambil menikmati keadaaan gitu," kata Indro.

Indro telah memutuskan dengan baik, ya bergerak ke halaman belakang sih. Kasino selesai mengerjakan kerjaannya, ya keluar dari kamarnya ke ruang tengah. Ternyata tidak ada Indro yang biasa nonton Tv.

"Indro tidak ada di sini toh," kata Kasino. 

Kasino berpikir dengan baik dan berkata "Jangan-jangan Indro ngobrol dengan Dono di halaman belakang, ya sambil menikmati keadaan gitu."

Kasino ke halaman belakang sih. Indro sudah duduk di halaman belakang dan sedang menuang tekok berisi teh ke cangkir dan cangkir berisi teh, ya segera di minum dengan baik sama Indro. 

"Teh ini enak," kata Indro.

Indro terus menikmati minum tehnya dengan baik. Kasino, ya sampai juga di halaman belakang dan melihat Dono dan Indro yang sedang menikmati minum teh.

"Teh dulu," kata Kasino.

Kasino langsung duduk dan segera menuangkan tekok berisi teh ke cangkir. Ya cangkir telah di isi teh dengan baik sama Kasino, ya segera di minum dengan baik.

"Emmmm enak teh ini," kata Kasino.

Kasino terus menikmati tehnya dengan baik. Indro menaruh cangkir tehnya di meja.

"Ooooo iya Don. Gimana urusan dengan Rara?" kata Indro.

Dono menaruh cangkir tehnya di meja.

"Rara, ya seperti biasanya sih. Baik-baik saja," kata Dono.

"Baik toh," kata Indro sambil mengambil keripik singkong di plastik dan segera di makan dengan baik.

Dono mengambil keripik di plastik dan segera di makan dengan baik. Kasino menaruh cangkir tehnya di meja.

"Malam ini indah ya?" kata Kasino.

"Iya," jawab Dono dan Indro secara bersamaan.

Kasino mengambil keripik singkong di plastik dan segera di makannya dengan baik sih.

"Bintang yang bersinar di malam ini. Terang bersinar. Kaya artis penyanyi yang bersinar terang di idolakan penggemarnya dengan baik," kata Indro.

"Di umpamakan seperti bintang di langit artis yang di idolakan Indro ya?" tanya Kasino.

"Ya bisa di bilang begitu kan Kasino!" kata Indro yang tegas.

"Bintang bersinar di malam hari yang bersinar dengan baik. Atau bintang kejora?" kata Dono.

"Bintang kejora. Kan lagu terkenal Don," kata Indro.

"Sama-sama bintang kan. Bersinar dengan terang," kata Dono.

"Sama sih Don!" kata Kasino.

"Ya sama sih," kata Indro.

Indro mengambil keripik singkong di plastik dan segera di makannya dengan baik. Dono mengambil cangkir tehnya di meja dan segera di minumnya dengan baik.

"Indro. Kayanya jarang banget ke tempat Saskia. Jangan-jangan lagi ada masalah ya?" kata Kasino.

"Aku sih tidak ada masalah dengan Saskia. Hubungan aku dan Saskia, ya baik banget. Aku saja yang membuat jarak pada Saskia gitu. Tidak terlalu sering bertemu sih," kata Indro.

"Menciptakan jarak pertemuan yang tidak terlalu sering bertemu toh!" kata Kasino.

Dono menaruh cangkir teh di meja.

"Kadang ada bagusnya sih tidak terlalu sering bertemu dengan cewek gitu. Ya bisa fokus dengan kerjaan sih. Apalagi dengan keadaan sekarang. Penuh dengan perubahan ini dan itu," kata Dono.

Dono mengambil keripik singkong di meja dan segera di makan dengan baik.

"Kasino gimana hubungan Kasino dengan Selfi?" tanya Indro.

"Hubungan ku sedikit ada masalah. Selfi dekat banget dengan cowok yang keren sih. Aku sampai cemburu dengan hubungan Selfi dengan cowok itu. Kalau hubungan ini jadi masalah terus menerus. Aku dan Selfi, ya bisa putus sih," kata Kasino.

Indro dan Dono terkejut dengan omongan Kasino yang ada masalah dengan hubungan dengan Selfi.

"Apa bener Kasino?" kata Indro dan Dono bersamaan.

"Ya bencanda deh!" kata Kasino.

"Aku kena deh permainan Kasino," kata Indro.

"Aku juga kena juga permainan Kasino," kata Dono.

'"Lagian siapa yang cemburu dengan cowok yang ganteng dan keren, ya masih bayi. Ya bayi, anak tetangga sebelah rumah Selfi," kata Kasino.

"Ternyata. Cowoknya masih bayi. Mana mungkin cemburu sih," kata Indro.

"Bayi, ya banyak di berikan perhatian ini dan itu, cinta semua orang yang menyukai tuh bayi," kata Dono.

Indro mengambil keripik singkong dan segera di makannya dengan baik. Kasino juga mengambil keripik singkong dan memakannya dengan baik.

"Kadang aku punya rasa cemburu ketika Rara bersama cowok yang ganteng dan keren," kata Dono.

"Jangan-jangan Dono ikutan mainan seperti Kasino?" kata Indro.

"Mungkin," kata Dono.

"Memang pernah sih Dono...cemburu melihat Rara bersama cowok keren dan ganteng. Kalau itu sih masih ada kaitan saudaranya Rara," kata Kasino.

"Kalau itu sih cerita lama toh," kata Dono.

"Ooooo cerita baru. Berarti beneran toh!" kata Indro.

"Mungkin," kata Dono.

"Beneran apa bohongan Don?" tanya Kasino.

"Don. Beneran apa bohongan?" tanya Indro.

"Beneran sih. Tapi Rara yang lain sih. Rara, ya artis penyanyi dangdut. Ketika Rara berduet dengan penyanyi yang keren dan ganteng. Aku merasa cemburu sih!" kata Dono.

"Permainan Dono ternyata. Cemburu sebagai penonton yang melihat penyanyi Rara berduet romatis dengan penyanyi yang ganteng dan keren gitu," kata Indro.

"Kalau di sudut itu sih Don. Bisa juga. Cemburu. Nama juga permainan," kata Kasino.

"Permainan seperti biasanya kan!" kata Dono.

"Emmm," kata Kasino.

"Emmmm," kata Indro.

Ketiganya terus mengobrol hal-hal yang ini dan itu dengan menikmati makan keripik singkong dan minum teh di malam yang tenang baget.

YONG BERSAUDARA

Darika selesai menggambar di buku gambarnya, ya di lanjutkan dengan membaca buku ceritanya dengan baik.

Isi buku yang di baca Darika :

“Bagilah harta warisan yang aku tinggalkan kepada kalian dengan adil. Jangan sampai harta yang tidak seberapa mencerai-beraikan kalian berdua.”

Setelah mengucapkan wasiat itu, lelaki tua yang terbaring di atas lantai pun mengembuskan napasnya yang terakhir. Kedua anak mereka, Jim dan Jae Yong, menitikkan air mata duka. Mereka tidak menyangka jika ayah mereka akan pergi secepat itu. Apalagi tidak ada tanda-tanda apa pun, termasuk sakit.

“Kami akan selalu mengingat pesanmu Ayah.” Jim Yong berkata sambil terisak. Ia merasa sangat sedih. Jae Yong pun merasakan duka yang sama. Mereka merasa kehilangan orang tua yang sangat baik, jarang marah, dan selalu memberi contoh yang baik untuk anak-anaknya.

Selang beberapa waktu, upacara pemakaman pun dilakukan. Jim dan Jae Yong memakamkan ayah mereka di atas bukit dengan bantuan tetangga sekitar. Masyarakat sekitar percaya bahwa kuburan di atas bukit dapat mengantarkan roh orang yang meninggal lebih cepat untuk bertemu dengan dewa-dewa di langit. Ketika pemakaman selesai, Jim dan Je Yong kembali ke rumah masing-masing. Jim Yong tinggal di ujung desa bersama istri dan dua orang anaknya. Sementara Jae Yong, yang belum berkeluarga, menempati rumah yang ditinggalkan sang Ayah. Pembagian warisan pun akan segera mereka lakukan. Keesokan harinya Jim Yong datang ke rumah adiknya. Mereka sepakat untuk membagi harta warisan. Sesuai kesepakatan, mereka berdua mendapatkan bagian yang sama banyak.

“Baiklah adikku, Jae Yong, aku akan membawa harta warisan yang telah menjadi bagianku.” Jim Yong berdiri dari duduknya dan berpamitan kepada adiknya.

“Baiklah Kakak, aku akan membantumu menaikkannya ke dalam pedati.” Jae Yong ikut berdiri dan mengikuti kakaknya.

Mereka berdua pergi ke lumbung padi di belakang rumah, mengangkut dua per tiga isinya, dan meletakkannya di atas pedati Jim Yong. Jim Yong juga membawa beberapa barang berharga dari dalam rumah. Sementara itu, rumah, sepertiga isi lumbung, dan beberapa barang berharga yang tersisa menjadi milik Jae Yong. Jim dan Jae Yong juga membagi sawah yang ada menjadi dua sama luasnya. Mereka benar-benar ingin menunaikan amanat sang Ayah dengan seadil-adilnya. Setelah semua barang terangkut, Jae Yong ikut naik ke dalam pedati. Ia ingin membantu kakaknya membongkar isi pedati setelah tiba di rumahnya. Anak-anak Jim Yong masih kecil, sehingga tidak bisa membantu ayah mereka menurunkan barang, apalagi membongkar berkarung-karung padi.

“Wow, padi kita banyak sekali Ayah.” Hwa Je, anak perempuan Jim Yong, menyambut kedatangan mereka dengan riang.

Sang Ayah hanya tersenyum. Ia langsung mengarahkan pedatinya ke lumbung padi yang terletak di belakang rumah.

“Bagaimana kabarmu Hwa?” tanya Jae Yong kepada keponakan perempuannya itu. Ia mengangkat tubuh mungil Hwa Je dan mengayun-ayunkannya. Hwa Je menjawab pertanyaan sang Paman sambil tertawa senang.

“Di mana kakakmu?” tanya Jae Yong lagi, setelah mendudukkan Hwa Je di sebuah kursi bambu.

“Dia belum pulang sekolah,” jawab Hwa Je dengan suaranya yang lucu.

“Hwa Je, tolong bawakan minum untuk pamanmu.” Ibu Hwa Je memanggilnya dari dalam rumah.

Gadis kecil itu mendekati ibunya dengan berlari kecil dan meraih nampan berisi dua cangkir teh yang harum. Dengan hati-hati, Hwa Je berjalan membawa nampan itu. Sang Paman segera menyambutnya dan mengucapkan terima kasih. Jae Yong meminum teh itu sedikit, lalu beranjak membantu kakaknya membongkar muatan pedati. Matahari sudah berada di ubun-ubun ketika Jim dan Jae Yong menyelesaikan pekerjaan mereka. Jae Yong membasuh keringat yang mengalir di tubuhnya dan duduk di samping Hwa Je. Ia juga mengambil gelas tehnya dan menghabiskan seluruh isinya.

“Biar kuambilkan lagi, Paman.” Hwa Je mengambil gelas pamannya, bersiap untuk mengambilkan minuman lagi. Jae Yong tersenyum penuh terima kasih.

“Paman sedang apa di lumbung padi?” Seorang anak laki-laki datang menghampiri Jae Yong. Terik matahari membuat rambutnya basah oleh keringat. Pipinya yang tembem pun bersemu merah karena kepanasan.

“Sedang membantu ayahmu mengangkut padi. Kamu baru pulang Hyun?”

“Ya Paman,” jawab Hyun sambil menyeka keringatnya.

Tidak seperti hari-hari biasanya, siang ini udara terasa sangat panas. Jim Yong sudah selesai menata karung-karung beras di lumbung padinya. Dia keluar lumbung dengan bermandikan keringat. Jae Yong langsung menyodorkan minum untuk sang Kakak.

“Aku mau ganti pakaian dulu, Paman.” Hyun pamit kepada Paman dan ayahnya.

Dari dalam rumah Hwa Je datang dengan membawa satu teko air dingin. Jim Yong segera menyambutnya dan menambah isi gelasnya hingga penuh. Tidak lama kemudian, istri Jim Yong datang membawakan makan siang untuk mereka. Mereka menikmati makan siang dengan begitu nikmatnya di depan lumbung padi itu. Setelah semuanya selesai Jae Yong berpamitan. Tak lupa dia menyalami kedua keponakannya sebelum mulai berjalan pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan pulang Jae Yong memikirkan kakaknya yang harus menanggung kebutuhan keluarganya. Rasanya, tidak adil jika harta yang diperoleh kakaknya sama dengan yang diberikan pada dirinya yang hidup seorang diri. Kakaknya seharusnya mendapatkan bagian lebih banyak darinya. Jae Yong pun membuat sebuah rencana untuk sang Kakak.

Menjelang malam Jae Yong pergi ke belakang rumahnya. Tadi sore dia sudah menyiapkan sekarung beras untuk dibawa ke suatu tempat malam ini. Di bawah cahaya bulan Jae Yong berjalan pelan. Ia tidak bisa berjalan cepat. Beban di pundaknya cukup berat. Ia melintasi jalan yang sepi. Ia tidak ingin seorang pun mengetahui apa yang dia lakukan. Sesampai di tempat tujuan, Jae Yong segera memasukkan karung beras itu ke dalam lumbung. Kemudian dia kembali ke rumahnya dan tidur dengan nyenyak.

Keesokan harinya, seperti biasa, Jae Yong bangun pagi dan bersiap pergi ke sawah. Ia harus menggarap sawah peninggalan orang tuanya agar menghasilkan padi yang bagus dan melimpah. Ia pun mengambil cangkul dan peralatan lain yang berada di lumbung padinya. Jae Yong masuk dan memerhatikan sekeliling tempat itu sekilas. Ia tertegun. Keningnya berkerut. Ia merasa ada yang aneh dengan karung berasnya. Jae yong menghitung kembali karung beras di lumbung padinya. Dua puluh tiga karung beras. Utuh seperti kemarin! Padahal, dia telah membawa satu karung beras keluar dari lumbung padinya tadi malam. Seharusnya karung berasnya tinggal dua puluh dua karung. Jae Yong pun keluar dari lumbung padinya sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia berjalan menyusuri pematang sawah. Ketika ia tiba di sawahnya sendiri, kakaknya, Jim Yong sudah berada di sana. Dia sedang membersihkan gulma di petak sawah yang menjadi bagiannya.

“Biasanya kau sudah datang pagi-pagi sekali, Jea Yong?” Jim Yong menyapa adiknya sambil terus mencabut rumput-rumput yang mengganggu tanaman padinya.

“Ya. Tadi ada sesuatu yang janggal terjadi di rumahku, Kak.” Jae Yong sudah akan becerita, namun dia segera berubah pikiran.

“Sesuatu yang janggal? Apakah itu, Dik ?” tanya Jim Yong penasaran.

“Emm… mungkin aku yang salah, Kak. Aku akan menghitungnya lagi nanti.” Jae Yong tidak jadi menceritakan kejadian di lumbungnya tadi pagi. “Aku ke sana dulu, Kak.”

Jae Yong menuju ke petak sawahnya sendiri. Dia melakukan pekerjaan yang sama dengan yang dilakukan kakaknya. Rumput-rumput pengganggu tanaman padi harus dibuang agar tidak mengganggu tanaman padi yang sebentar lagi akan di panen. Jae Yong melakukan pekerjaannya dengan perasaan senang. Bulir-bulir padi yang menguning membuatnya semakin bersemangat. Matahari bersinar cerah. Udara siang terasa semakin panas. Jae dan Jim Yong beristirahat di gubuk yang terletak di tengah sawah mereka. Jim Yong membuka bekal makan siangnya. Sebungkus bibimbap yang lengkap.

Jae memerhatikan bekal kakaknya. “Emm, sepertinya lezat,” batin Jae.

Air liurnya mulai keluar ketika Jim mengeluarkan sebungkus kimchi dari dalam kotak bekalnya. Jae menelan air liurnya dalam-dalam. Ia melihat bekal yang dibawanya. Sebungkus hoddeok. Hanya makanan ini yang bisa ia buat sendiri. Hoddeok, sebenarnya, hanya cocok dimakan pada waktu  musim dingin. Tapi karena Jae tidak pandai memasak makanan lain, maka ia membuat hodeeok sebagai bekalnya.

“Kamu masih saja suka makan pancake itu Jae.”

“Emm… ya, Kak,” kata Jae sambil memasukkan potongan kecil hoddeok ke dalam mulutnya.

Jim Yong membagi bekalnya menjadi dua bagian. Ia memberikan satu bagian pada adiknya dan mulai menyantap bagiannya sendiri.

“Makanlah, kakak iparmu membuat bibimbap lengkap dengan sayur, lauk telur, dan saus pedas. Ada juga kimchi, kamu pasti suka.” Jim menyodorkan sebagian bekalnya kepada Jae.

Sebenarnya Jae merasa malu. Namun perutnya yang lapar dan bau sedap bibimbap yang bercampur menjadi satu membuat Jae dengan sigap menghabiskan makanan yang disodorkan kepadanya. Jim Yong tersenyum kecil memerhatikan adiknya yang makan dengan lahap. Jim Yong, sesungguhnya, merasa iba dengan Jae Yong. Adiknya hidup seorang diri. Tidak ada yang mengurusnya. Ia harus memasak sendiri. Padahal Jae bukanlah orang yang suka, apalagi pandai memasak. Ia hanya bisa memasak hoddeok karena cara membuatnya sangat mudah dan cepat. Jim terkadang khawatir dengan adiknya. Kalau Jae sampai sakit, siapa yang akan mengurusnya? Jika terjadi sesuatu dengannya, siapa yang akan segera menolongnya? Rumah mereka memang masih satu desa, namun jaraknya cukup jauh.

“Kakak ipar memang pandai memasak.” Jae berusaha memuji kakak iparnya. Jim hanya tersenyum menanggapi perkataan adiknya.

“Habiskan saja. Aku sudah kenyang.” Jim menyuruh Jae menghabiskan bekal makan siang yang dibawanya.

Jae pun menghabiskan makanan lezat di depannya dengan senang hati. “Terima kasih, Kak. Aku kenyang sekarang,” kata Jae seraya bersandar di tiang gubuk. Semilir angin membuatnya mulai mengantuk.

“Owwhhaamm...” Jae menguap berkali-kali. “Aku akan beristirahat sebentar, Kak.” Jae meluruskan kakinya. Jae mulai tertidur diiringi oleh cericit burung dan sepoi angin di tengah sawah.

Jim pun melakukan hal yang sama. Dia membaringkan badannya dengan posisi miring dan mulai tidur. Kakak beradik itu tidur sejenak sebelum kembali bekerja hingga sore menjelang. Malam itu keluarga Jim berkumpul di ruang utama rumah mereka. Sambil menunggu ayah mereka yang sedang pergi keluar rumah, Hyun menceritakan teman sebangkunya yang membawa mainan baru ke sekolah. Mainan itu disita oleh sang Guru karena teman sebangku Hyun memainkannya saat jam pelajaran berlangsung.

“Lalu apa yang dilakukan teman sebangkumu itu?” Hwa Je yang ikut mendengarkan cerita kakaknya merasa penasaran. “Apa dia menangis?” tanyanya lagi.

“Laki-laki tidak boleh cengeng, Hwa Je. Kalian, para perempuan, yang suka menangis.” Hyun mencoba meledek adiknya.

Hwa Je melengos tidak suka. “Aku bukan gadis yang cengeng, ya!” Hwa Je berusaha membela dirinya.

“Yang terpenting, jika guru sedang menerangkan pelajaran, kalian tidak boleh main-main sendiri. Perhatikan apa yang dikatakan guru, agar kalian paham dengan pelajaran yang diberikan.” Ibu Hyun mencoba memberikan pengertian. Hwa Je berusaha memahami perkataan ibunya dengan mempermainkan rambutnya yang dikucir dua. Sementara Hyun mengangguk, tanda ia mengerti.

“Aku tidak pernah main-main saat ibu guru sedang menerangkan pelajaran di kelas,” kata Hyun.

Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka. Jim Yong masuk dengan terengah-engah, seperti baru saja melakukan perjalanan jauh atau mengangkut beban berat.

“Ayah dari mana?” Hwa Je melihat ayahnya yang seakan kehabisan napas.

Ibu segera mengambil segelas air dan memberikannya kepada Jim Yong. Jim Yong segera meminum air itu sampai habis.

“Ayah ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Kalian sedang menunggu ayah, ya?” tanya Jim menggoda kedua anaknya.

“Uuaahhmmm... aku sudah ngantuk, Yah. Lama sekali menunggu Ayah pulang.” Hyun memonyongkan bibirnya.

“Kalau begitu ayah minta maaf, ya. Ayo, sekarang, siapa yang mau ayah gendong ke kamar?” Jim berdiri sembari menawarkan punggungnya untuk dinaiki. Ia ingin menyenangkan hati kedua anaknya.

Hwa Je dan Hyun saling berebutan. Namun Hyun mengalah. Ia merasa sudah cukup besar untuk tidak digendong oleh ayahnya. Apalagi ayahnya terlihat sangat lelah malam ini. Ia pun berjalan sambil bergelayut di lengan ayahnya. Jim Yong kemudian menyelimuti anak-anaknya dengan penuh kasih. Setelah mereka tertidur Jim tenggelam dalam mimpinya sendiri. Keesokan harinya, seperti biasa, Jim Yong bangun pagi dan bersiap pergi ke sawah. Hari ini panen akan dimulai. Ia pergi ke lumbung padinya untuk mengambil peralatan. Namun Jim terenyak di depan pintu lumbung padinya. Ada yang berubah dari lumbung padinya. Seharusnya masih ada celah di lumbung itu, karena tadi malam dia sudah membawa satu karung padi keluar dari sana. Tapi, sekarang, ia melihat lumbung padinya telah penuh kembali. Karung padi itu kembali lagi ke tempat semula.

Jim kebingungan. Ia tidak tahu bagaimana semua ini bisa terjadi. Ia pun berangkat ke sawah dengan sejuta tanda tanya di hatinya. Sepanjang perjalanan ke sawah, Jim masih memikirkan kejadian janggal yang terjadi di lumbungnya. Namun sampai ia tiba di sawahnya, ia tidak menemukan jawabannya apa-apa. Padi di sawah Jim sudah melambai-lambai, siap dituai. Dengan cekatan, Jim mengambil satu genggam tanaman padi dan memotongnya dengan sabit. Pekerjaan itu dia lakukan hingga petak sawahnya tertuai semua. Di petak sawah yang lain, Jae melakukan hal yang sama. Panen padi ini, benar-benar, membuat mereka bersemangat untuk bekerja. Seperti tidak kenal lelah, mereka bekerja hingga matahari tergelincir ke arah barat.

Malam harinya, Jim Yong kembali mengeluarkan satu karung beras dari dalam lumbungnya. Dengan langkah perlahan, dia berjalan menyusuri jalan setapak sambil memanggul karung beras di pundaknya. Walau tenaganya telah terkuras tadi siang, dia tetap bersemangat. Nyanyian binatang malam menemani perjalanannya. Ketika Jim hendak berbelok di tikungan jalan, dia melihat bayangan seseorang nun jauh di ujung jalan. Tanpa rasa curiga, Jim terus berjalan. Sementara sosok itu juga berjalan mendekat ke arah Jim. Rupanya sosok itu juga membawa sesuatu di atas pundaknya. Langkahnya tampak terseok. Ia terlihat sudah kelelahan, namun tetap memaksa dirinya untuk berjalan. Saat mereka semakin dekat, Jim Yong dapat melihat sosok itu dengan lebih jelas. Rupanya orang itu juga membawa karung beras seperti dirinya. Namun Jim Yong terkejut.

“Jae Yong, sedang apa kamu di sini?”

“Kakak, kakak juga sedang apa di sini?”

Kedua orang itu sama-sama terkejut. Mereka menurunkan karung beras yang mereka panggul. Mereka saling bertatapan dan seperti menemukan jawaban atas pertanyaan mereka selama ini.

“Jadi selama ini kamu yang mengisi lumbung padiku?” Jim Yong bertanya, ingin memastikan apa yang berkelindan di pikirannya.

Jae Yong mengangguk pelan. “Aku takut Kakak akan kekurangan beras. Kakak punya keluarga yang harus dipenuhi semua kebutuhannya. Kalau aku, kan, hanya sendiri. Warisan Ayah akan lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhanku.” Jae Yong terdiam sesaat, “Jadi, Kakak yang mengisi lumbung padiku selama ini?” Jae Yong juga ingin memastikan dugaannya.

“Iya, Dik. Aku khawatir jika sesuatu terjadi padamu. Kau tinggal seorang diri. Sedangkan aku, aku memiliki anak dan istri yang bisa mengurusku jika terjadi sesuatu padaku.”

Jim Yong meraih pundak adiknya. Mereka berpelukan. Jae Yong menitikkan air mata. Ia terharu pada perhatian dan kasih sayang kakaknya kepadanya. Jim Yong merasakan hal yang sama, ia menangis, menyadari besarnya kasih sayang adiknya pada dirinya dan keluarganya. Mereka pun semakin menjaga dan menyayangi satu sama lain. 

***

Darika selesai membaca bukunya.

"Yap...cerita yang bagus Korea Selatan," kata Darika.

Darika menutup bukunya dan menaruh buku di meja dengan baik, ya rapih gitu.

"Nonton Tv saja ya," kata Darika.

Darika beranjak dari duduknya di kamarnya, ya keluar dari kamarnya menuju ke ruang tengah untuk nonton Tv bersama ayah dan ibu. Acara Tv yang sedang di tonton, ya acara film keluarga bahagia sih. Darika duduk bersama ayah dan ibu, ya nonton film yang bagus itu dengan baik sih.

"Nonton film di rumah aman dari pada di luar sih. Karena aku, ayah dan ibu mengikuti aturan yang sedang di jalankan pemerintah tentang pandemi covid-19," kata hati Darika.

Darika beserta ayah dan ibu, ya fokus nonton film yang bagus itu.

Saturday, August 7, 2021

RESPON PENONTON SAJA

Dono keluar rumah sih, ya ada urusan dengan Rara.....kisah cinta muda mudi zaman sekarang gitu. Indro duduk santai di ruang tengah nonton Tv seperti biasanya sih. Kasino selesai merawat tanaman di pot di halaman belakang. Kasino, ya duduk bersama Indro di ruang tengah untuk nonton Tv. Acara Tv yang di tonton keduanya, ya berita seputar ini dan itu sih.....pokoknya menarik gitu.

"Kasino," kata Indro.

"Apa?" kata Kasino.

"Berita di Tv....masih menanggulangi covid-19 ya?!" kata Indro.

"Kenyataannya begitu sih," kata Kasino.

"Kita ini sering ngomongin tentang apa saja yang di beritakan di Tv. Sama aja di bilang respon penonton kan Kasino?!" kata Indro.

"Ya bisa di bilang begitu sih. Kadang kita kaitan antara berita di Tv dengan lingkungan. Bahas-bahas saja sih. Sekedar obrolan saja," kata Kasino.

"Berarti jadi rubik pembicaraan terus dengan baik kan Kasino?!" kata Indro.

"Iyalah. Jadi rubik pembicaraan kita. Seperti halnya. Contoh : Urusan percintaan Lesti dengan Risky Billar, ya mau kemana arah dari cerita yang di buat keduanya. Pernikahan ataukah tidak jadi menikah karena ada pihak ketiga yang lebih baik," kata Kasino.

"Tetap saja kisah cinta....Lesti dengan Risky Billar terus berjalan sesuai dengan rencana kan. Kisah cinta ini dan itu...menarik saja sih untuk di tonton sih," kata Indro.

"Emmmm," kata Kasino.

Kasino dan Indro terus menonton Tv dengan baik, ya acara bergantilah dari satu berita ke berita yang lainnya.

"Kasino. Berita Body Shaming naik lagi, ya di beritakan dengan baik sih," kata Indro.

"Nama juga berita. Respon kita kan cuma penonton yang baik saja. Kita kan bisa menerima ke kurangan cewek dengan baik. Karena kita sadar bahwa kita ini manusia biasa, ya ada sih kekurangan ini dan itu jadi penilaian manusia. Sebagai kritikan membangun saja," kata Kasino.

"Kasino sih pemikirannya dewasa karena melihat dari sisi baiknya dan juga buruknya," kata Indro.

"Emmmm," kata Kasino.

Kasino dan Indro terus menonton Tv yang acaranya bagus itu.

"Oooo Kasino. Berita tentang artis yang.....di beritakan penampilannya sih. Berpakaian bikini di tempat umum dengan tujuan ini dan itu sih. Gimana tanggapan Kasino?!" kata Indro.

"Namanya artis, ya  tidak perlu di sebutin lah. Sebenarnya. Kalau artis yang make pakaian bikini di dalam rumah, di pantai dan di kolam renang, ya responnya sih tidak ada masalah sih. Kalau di tempat umum lain seperti di jalanan, ya masalah sih," kata Kasino.

"Cuma. Kok tidak ada respon dari manusia lain untuk memberikan pakaian untuk menutup tubuh tuh artis yang pakaian bikini di tempat umum...jalan gitu ya?!" kata Indro.

"Mungkin ada trik dari pembuatan vidio atau manusia lain sudah cuwek gitu karena terlalu sibuk dengan urusan menanggulangi hidup diri dan keluarga. Ya di anggap orang gila. Karena kan ada orang gila yang telanjang dan lari kesana dan kesini....baik cowok dan juga cewek," kata Kasino.

"Iya juga sih. Kasino. Cerita orang gila seperti itu ada sih di lingkungan. Yang menangulangi, ya keluarganya. Karena orang gila kabur dari rumah atau dari tempat pengobatan gitu...rumah sakit untuk orang gila gitu," kata Indro.

"Beritanya berkaitan ini dan itu. Psikologis lagi...jawabannya dengan baik. Sama dengan pemberitaan sih," kata Kasino.

"Orang yang sehat memaklumi keadaan jika seseorang mengalami gejala kejiwaaan ini dan itu...yang di karena kan ini dan itu. Bagaimana dengan ranah hukum ini dan itu, ya artis itu kena sih...termasuk mempublikasikan ini dan itu sih...kata di berita sih?!" kata Indro.

"Kalau itu sih aku tidak ikut campur...urusan hukum. Aku bukan orang hukum sih. Cuma orang biasa aja. Responnya juga bisa aja sih. Dari sisi melihat keadaan...orang sakit saja!" kata Kasino.

"Respon yang baik. Bener omongan Kasino!" kata Indro menegaskan omongan Kasino.

Indro dan Kasino terus menonton Tv dengan baik banget sih.

"Oooo iya Kasino. Gimana dengan berita tentang korupsi?!" kata Indro.

"Korupsi. Masih naik juga tuh berita...ya? Kadang beritanya di kaitkan dengan korupsi di daerah ini dan itu. Sebagai penonton yang baik sih. Responnya...sebagai orang biasa saja sih. Kan aku bukan orang hukum sih. Tidak tahu permasalahan yang aslinya. Istilah kata sih....benar atau salah...mana tahu urusan korupsi ini dan itu," kata Kasino.

"Iya juga ya. Cuma penonton yang baik saja. Memang sih berita tentang korupsi, ya di bahas dengan baik...kita jadi tahu kerjanya pemerintah dalam menangulangi korupsi ini dan itu. Ya inginnya di tegaskan sih siapa yang ketahuan korupsi dan di pecat dari urusan kerjaan pemerintahan yang ini dan itu. Tersangka korupsi di penjaralah!" kata Indro.

"Pada akhirnya..kan sesuai dengan proses hukum yang sedang berjalan kan," kata Kasino.

"Iya. Sesuai dengan proses hukum. Ketetapan di undang-undang seperti itu," kata Indro.

"Kalau begitu...tidak perlu di bahas lebih jauh kan. Fokus nonton Tv aja kan!" kata Kasino.

"Iya," kata Indro.

Indro dan Kasino, ya fokus nonton Tv dengan baiklah. Dono masih di rumah Rara, ya urusan kisah cinta sih......cerita muda mudi zaman sekarang.

BURUNG KUCICA DAN LABU EMAS

Bazif Guita selesai bermain bulu tangkis bersama teman di halaman depan rumah sih, ya bisa di bilang sih main bulu tangkis itu olah raga sih. Bazif Guita duduk santai sambil menikmati minum jus jeruk dan makan kue buatan ibu sih. Bazif Guita mengambil buku di meja dan segera di baca dengan baik. sedang.

Isi buku yang di baca Bazif Guita : 

Rumah itu ramai dengan cericit burung. Beberapa ekor burung kucica asyik bermain di atapnya yang terbuat dari ijuk berwarna hitam. Atap rumah itu juga menjadi rumah bagi burung-burung kucica. Tiba-tiba seekor bayi burung kucica melayang, jatuh terkapar, dan tidak bergerak lagi. Deok, yang menyaksikan kejadian itu, segera berlari menghampiri kucica kecil. Ia memerhatikan burung berwarna hitam dengan bintik putih di beberapa bagian itu. Perlahan ia menyentuhnya. Burung kecil itu menggerak-gerakkan cakar mungil di kakinya.

“Ayah… Ada kucica jatuh dari atas rumah.” Deok berteriak memanggil ayahnya. Ia ingin menolong burung malang itu, namun ia tidak tahu caranya.

Seorang laki-laki kurus berjalan tergopoh-gopoh, keluar dari dalam rumah. Ia mendekati Deok.

“Ayah, coba lihat, dia masih bergerak-gerak.” Deok memberi ruang pada ayahnya untuk memeriksa bayi kucica.

“Sepertinya sayapnya patah,” kata ang ayah. Ia mengangkat burung itu dan meletakkannya di telapak tangan.

“Parutlah jahe dan tempelkan di sayapnya. Lalu ikat dengan kain tapi jangan terlalu kuat agar dia tidak kesakitan,” perintah sang ayah sambil tersenyum.

Deok segera berlari ke dalam rumah. Ia meminta jahe kepada ibunya yang sedang memasak di dapur. Ia pun memarut jahe itu dengan susah payah.

“Buat apa, Nak?” tanya Ibu ingin tahu.

“Obat untuk kucica yang jatuh, Bu. Kata Ayah sayapnya patah,” jawab Deok sambil terus menggesekkan beberapa ruas jahe di parutan.

“Hati-hati, parutnya tajam.” Sang ibu mengingatkan. Deok mengangguk.

Setelah parutan jahe cukup banyak, Deok segera membawanya ke depan. Ia juga membawa selembar kain yang sudah tidak dipakai lagi.

“Ini, Ayah.” Deok menyerahkan parutan jahe dan kain kepada ayahnya.

Ayahnya pun membebatkan jahe itu ke sayap kucica mungil dengan sigap.

“Sudah selesai. Sekarang, kembalikan burung kecil ini ke sarangnya agar ibu kucica tidak bingung mencarinya.” Ayah Deok menyerahkan kucica itu kepada putranya.

Deok menerima burung kecil itu dengan hati-hati. Sejenak dia mengamati burung itu. Senyumnya mengembang ketika kucica kecil itu membuka matanya.

“Aku ambil tangga dulu ya, Yah.”

Deok meletakkan kucica itu di sebuah bangku panjang di depan rumah mereka. Ia lalu berjalan ke belakang rumah dan kembali dengan sebuah tangga panjang di tangannya. Tangga itu segera disandarkan di dinding rumah yang telah reot. Dengan membawa kucica kecil, Deok menaiki anak tangga satu per satu. Sesampai di atap rumah, ia meletakkan anak kucica di sebuah sangkar kosong.

“Cepat sembuh ya, kucica. Setelah kau sembuh, belajarlah terbang tinggi seperti kawan-kawanmu yang lain,” gumam Deok pada bayi kucica.

Seekor kucica dewasa terbang mendekat. Ia meregangkan sayapnya, seolah ingin memeluk kucica kecil itu. Ia kemudian memasukkan biji-bijian ke mulut bayi kucica dengan paruhnya. Rupanya ia adalah induk kucica mungil itu. Deok memerhatikan burung-burung itu dengan perasaan lega bercampur senang.

“Heh, kau jangan pura-pura lupa Nam Kin!”

Sebuah suara menggelegar sampai ke telinga Deok. Ia menoleh ke arah datangnya suara. Ternyata Paman Tun Kin. Sepertinya ia marah pada Ayah. Perlahan Deok turun dari atap rumah.

“Aku tidak lupa, Kak. Tapi memang aku belum punya uang untuk membayar hutangku pada Kakak.”

“Jadi, kapan?” Tun Kin mendesak.

Nam Kin diam. Ia tidak tahu kapan bisa membayar hutang-hutangnya pada kakaknya. Deok mendekat mereka. Ia menjabat tangan sang paman. Walaupun bersaudara, Paman Tun Kin jauh berbeda dengan ayahnya. Dibanding ayahnya, Paman Tun Kin bertubuh lebih gemuk dan perutnya buncit. Ia adalah orang kaya sehingga bisa makan apa saja. Hidupnya makmur dan berkecukupan. Sangat jauh berbeda dengan ayahnya yang kurus kering dan selalu berpakaian apa adanya. Hidup keluarganya juga sangat sederhana.

“Apa yang kau lakukan di atap, Deok?” tanya sang paman basa-basi.

“Aku baru saja mengobati anak burung yang jatuh dan mengembalikannya ke sarang, Paman,” jawab Deok sopan.

“Hah, untuk apa kau mengurusi burung tidak berguna itu? Lebih baik kau bekerja sehingga bisa membantu ayahmu membayar hutang-hutangnya,” kata pamannya dengan sombong.

“Tidak perlu berkata seperti itu pada Deok. Aku pasti akan membayar semua hutangku padamu,” sahut Nam Ki tegas. Ia segera menyuruh Deok masuk ke dalam rumah.

“Baiklah, aku tunggu janjimu.” Tun Kin pergi dari halaman rumah Nam Ki.

Dari dalam rumah, ibu Deok melihat kepergian Tun Kin dengan perasaan lega. Ia sempat khawatir kalau kakak iparnya itu akan menagih hutangnya dengan cara kekerasan seperti beberapa hari lalu. Nam Kin berjalan ke kebun di samping rumah dengan perasaan sedih. Ia tidak menyangka jika kakaknya sangat tega kepadanya. Hutang Nam Ki sebenarnya tidak seberapa. Namun Tun Kin membebankan bunga hingga berlipat-lipat, sehingga hutang Nam Kin tidak juga lunas. Saat tiba di kebun, Nam Kin mencoba melupakan kesedihannya. Ia mengolah kebunnya dengan bersemangat. Ia berharap hasil kebunnya dapat disisihkan untuk menyicil hutangnya. Meskipun di kebunnya yang kecil hanya ada cabe, kol, dan sawi, ia selalu merawatnya dengan baik. Tak berapa lama, Deok muncul dan membantu ayahnya mencabut gulma dengan cekatan. Keesokan harinya, Nam Kin terkejut dengan teriakan Deok yang sedang berada di kebun.

“Ada apa, Nak?” tanya Nam Kin yang datang terburu-buru.

“Ada banyak labu di kebun kita, Yah!” seru Deok dengan mata berbinar.

“Labu siapa? Kita tidak menanamnya!” teriak Nam Kin dengan lantang. Ia semakin mempercepat langkahnya.

Setibanya di kebun, ia melihat buah labu itu berbaris rapi. Labu-labu itu terlihat bersih dan berwarna kuning keemasan. Ia menghitungnya satu per satu. Ada dua belas labu di kebunnya. Namun ia tidak tahu, siapa yang meletakkan labu-labu itu di kebunnya. Tiba-tiba, dari arah belakang, muncul beberapa ekor kucica. Cakar mungilnya menggeser labu-labu itu hingga berbaris rapi.

“Kucica itu yang membawanya, Yah,” Deok berkata takjub.

Ia mengambil labu yang baru saja diletakkan kucica. Burung itu lalu terbang kembali ke atap rumah dan bernyanyi riang. Nam Kin mendongak. Atap rumahnya kini penuh dengan kucica. Ia pun tersenyum. Walau kadang berisik, ia tidak berniat mengusir burung itu. Apabila ia mengusir burung-burung itu dari rumah ini, ke mana mereka akan pergi?

“Kalau begitu, kita bisa mengambilnya satu biji untuk dimasak,” celetuk ibu Deok yang muncul dan mengambil sebuah labu.

Ia kemudian membawanya ke dalam rumah. Ia mulai membelah labu itu. Labu itu terasa lebih keras dari labu biasanya. Setelah terbelah, seketika itu juga ia terkejut, karena... labu itu berisi kepingan emas!

“Nam Kin!” teriak ibu Deok.

Nam Kin kembali tersentak. Mendengar teriakan sang istri, ia bergegas masuk. Deok pun segera menyusul ayahnya. Sesampai di dapur, mereka semua terpana melihat isi labu itu. Nam Kin mengucek-ucek matanya. Ia tidak percaya dengan pemandangan di hadapannya. Lalu ia berjongkok dan memungut kepingan emas itu.

“Ini, benar-benar emas, Bu?” tanyanya lagi, masih tak percaya.

“Iya, Pak. Ini benar-benar emas,” jawab sang istri.

Deok ikut berjongkok, ikut mengamati benda yang bersinar mengilat itu.

“Kita buka saja semua labu itu, Yah. Mungkin semuanya berisi emas,” kata Deok. Matanya berbinar membayangkan isi labu yang dibawa kucica. Emas!

Kedua orang tua Deok segera tersadar dari lamunan mereka. Mereka lalu bergegas mengambil beberapa labu, yang masih ditinggalkan di kebun, dan membukanya satu per satu. Dan labu-labu itu, benar-benar, berisi emas! Keluarga itu pun langsung bersyukur atas rezeki yang mereka terima. Bahkan Nam Kin menitikkan air mata. Ia sangat bahagia. Nam Kin tertunduk, ia teringat pada anak kucica yang mereka tolong tempo hari. Mungkin semua ini adalah hadiah dari apa yang telah dilakukannya pada kucica itu. Burung-burung itu membalas kebaikan mereka dengan membawa labu berisi emas. Nam Kin pun segera ingat untuk membayar hutang kepada sang kakak. Ia segera menghitung semua hutangnya. Ia lalu membawa sebuah labu berisi emas ke rumah kakaknya.

“Ada apalagi kamu datang kemari? Mau hutang lagi?” tanya Tun Kin congkak. Ia sedang duduk di kursi malas sambil mengangkat kakinya yang gempal. Matanya melirik  pada buah labu yang dibawa Nam Kin.

“Tidak, Kak. Aku datang untuk membayar semua hutangku pada Kakak.”

“Heh, dari mana kamu dapat uang?” tanya Tun Kin dengan nada mengejek.

“Aku mendapat rezeki dari seekor burung yang kutolong kemarin. Ia membawakanku labu berisi emas,” jawab Nam Kin jujur.

Tun Kin terperanjat. Ia tidak percaya kalau adiknya mendapat kemujuran seperti itu. Ia segera mengambil labu yang dibawa oleh adiknya. Ketika labu itu dibuka, ia semakin terkejut. Ternyata apa yang dikatakan adiknya itu benar! Tun Kin ingin mendapatkan labu-labu berisi emas itu. Ia pun mengorek informasi bagaimana adiknya bisa mendapatkan labu-labu itu.

“Bagaimana kau bisa mendapatkan labu emas ini?”

Nam Kin menceritakan kejadian tempo hari di rumahnya. Mendengar cerita Nam Kin, muncullah rasa iri di hati Tun Kin. Ia pun mulai menyusun rencana licik.

“Jadi ada banyak labu yang dibawa kucica itu ke kebunmu?”

“Dua belas labu, Kak.”

Mata Tun Kin yang sipit terbeliak lebar. Sifat serakahnya semakin menjadi-jadi. Jika ia bisa mendapatkan labu-labu seperti Nam Kin, pasti ia akan semakin kaya raya. Bahkan ia bisa lebih kaya dari adiknya, Nam Kin. Setelah Nam Kin pulang, Tun Kin segera menjalankan rencananya. Ia mencari burung kucica dan meletakannya di atap rumah. Selama berhari-hari ia menunggu dan berharap ada anak kucica yang jatuh dari sarangnya. Namun harapannya tidak jua terkabul. Karena jengkel, ia mengambil seekor anak kucica dari sarang dan menjatuhkannya. Kucica kecil itu terkapar. Namun ia tidak mati. Sayapnya juga tidak ada yang patah. Tun Kin pun semakin geram. Ia mematahkan sayap kucica kecil, lalu membalut sayap itu dengan selembar kain, tanpa membubuhkan parutan jahe di dalamnya. Setelah itu, ia meletakkan burung itu kembali di sarangnya. Pada saat induk kucica dating, setelah mencari makan, ia terkejut mendapati anaknya yang tergeletak lemah di dalam sarang. Ia pun berkicau memanggil teman-temannya yang lain. Hingga puluhan kucica berkumpul di sana. Salah seekor burung, yang melihat kejadian itu, menceritakannya pada induk kucica. Sang induk menjadi geram dan segera menemui Tun Kin.

“Justru aku yang telah menolong anakmu ketika ia jatuh. Aku juga yang membalut sayapnya yang patah agar cepat sembuh,” kata Tun Kin membela diri.

“Sekarang kau harus membawakan labu berisi emas kepadaku,” perintah Tun Kin.

Induk kucica mengangguk setuju. Ia pun meminta tolong teman-temannya untuk membawakan labu-labu yang diinginkan oleh Tun Kin. Teman-temannya bersedia membantu induk kucica karena mereka merasa iba dengan musibah yang dialami induk kucica. Mereka pun bahu-membahu membawa labu-labu itu ke depan rumah Tun Kin. Hati Tun Kin begitu gembira melihat puluhan labu tergeletak di depan rumahnya. Dengan tidak sabar, ia mulai membelah labu-labu itu. Akan tetapi, ia terkejut karena labu itu tidak berisi emas, melainkan ulat bulu besar berwarna hitam. Tun Kin bergidik, jijik. Ia pun melemparkan labu itu ke halaman rumahnya dengan sekuat tenaga. Ia kemudian mencoba membelah labu kedua. Ternyata isinya sama. Ia kembali melempar labu itu. Tanpa putus asa, ia membuka labu ketiga dengan harapan labu itu berisi emas. Namun harapannya sia-sia. Labu itu juga berisi ulat bulu. Tan Kim kembali membelah labu yang lain, hingga semua labu-labu habis terbelah. Tak ada satu keping emas pun di dalamnya. Justru rumahnya sudah dipenuhi dengan ulat bulu besar berwarna hitam. Tun Kin mulai marah. Ia merasa dibohongi oleh adiknya dan induk kucica. Ia pun berlari ke rumah Nam Kin dan melampiaskan kemarahannya.

“Nam Kin! Kau pembohong!” teriak Tun Kin dari luar rumah. Dengan penuh amarah, ia mencabuti tanaman cabe yang mulai berbuah dengan sekuat tenaga.

Nam Kin bergegas keluar rumah setelah mendengar suara gaduh di halaman.

“Apa yang terjadi, Kakak?”

“Labu itu tidak berisi emas, tapi ulat bulu yang menjijikan!” Tun Kin mengendikkan bahu, merasa jijik.

Nam Kin belum mengerti dengan perkataan kakaknya.

“Kau bilang labu pemberian burung kucica, yang sayapnya patah, berisi emas. Aku sudah melakukan semuanya, persisi seperti yang kau lakukan, tapi semua labu yang kuterima berisi ulat bulu.” Tun Kin berbicara dengan menggebu-gebu, hingga matanya merah. Sementara itu, Nam Kin baru menyadari kalau sang kakak mengikuti apa yang dikatakannya tempo hari.

“Aku tidak tahu, Kak. Kucica itu memang membawakanku labu berisi emas. Kakak bisa lihat sendiri. Hidup kami jauh lebih baik dengan adanya labu-labu itu.”

“Hah! Kamu mulai mengejekku, Nam Kin.” Wajah Tun Kin makin memerah. Ia tahu jika adiknya sudah menjadi orang kaya, bahkan, mungkin lebih kaya dari dirinya. Namun ia enggan mengakui semuanya. Harga dirinya terlalu tinggi untuk mengakui kelebihan adiknya.

Setelah puas melampiaskan amarahnya pada tanaman di kebun Nam Kin, Tun Kin pulang ke rumahnya. Akan tetapi, amarahnya kembali saat ulat-ulat bulu mulai memasuki rumahnya. Ulat-ulat itu juga menggerogoti barang-barang antik kesayangannya.

“Enyahlah kalian dari dalam rumahku!” teriak Tun Kin sambil mengibaskan kain ke arah ulat-ulat itu. Namun ulat itu justru bertambah banyak dan memenuhi rumah Tun Kin.

Tun Kin kehabisan akal untuk mengusir ulat-ulat itu. Maka ia mengambil minyak tanah dan menyiramkannya ke seluruh penjuru rumah. Dengan sekali sulutan api, rumah itu menyala di lalap jago merah. Tun Kin membakar rumahnya sendiri.

“Hahaha... Kini kalian tidak bisa menggangguku lagi!” seru Tun Kin sembari tertawa lebar. Ia tidak menyadari kalau ia akan kehilangan tempat tinggalnya.

Ia pun kembali berseru lantang, “Dan kau kucica, terimalah pembalasanku. Kalian juga akan ikut menjadi arang seperti ulat-ulat itu. Hahaha…”

Tun Kin menyaksikan api semakin besar berkobar. Hawa panas menyentuh wajahnya yang masih merah madam. Melihat kobaran api yang kian membubung, ia baru tersadar jika telah kehilangan rumahnya sendiri. Tun Kin berdiri terpaku memandangi kobaran api yang tidak bisa ia padamkan seorang diri.

“Tolong… Tolong… Tolong!”

Tun Kin mulai berteriak, meminta bantuan tetangganya. Namun tak seorang pun menggubrisnya. Tetangga Tun Kin enggan menolongnya karena Tun Kin dikenal sebagai lintah darat yang kejam. Mereka juga tahu jika Tun Kin sengaja membakar rumahnya sendiri untuk membunuh ulat yang bersarang di sana.

“Tolong... Tolong…!” Tun Kin berteriak lagi, tapi kali ini, suaranya hanya sampai di tenggorokan.

Tun Kin memandangi rumahnya dengan penyesalan tak terkira. Sekarang, ia tidak mempunyai apa-apa lagi. Seluruh hartanya sudah habis terbakar. Ia sudah tidak mempunyai muka lagi untuk meminta bantuan kepada adiknya. Tun Kin mulai menyesali kesombongannya selama ini. Karena semua sifatnya itu, tidak ada seorang pun yang sudi menolongnya di saat ia tertimpa musibah seperti sekarang ini. Ia pun harus menanggung akibat dari semua perbuatannya selama ini. Kehilangan harta, kawan, dan saudara! 

***

Bazif Guita selesai membaca bukunya.

"Bagus cerita asal cerita Korea Selatan," kata Bazif Guita.

Bazif Guita menutup bukunya dan menaruh bukunya di meja. Bazif Guita tetap asik menikmati minum jus dan makan kue buatan ibu yang enak banget.

DOKKAEBI

Darpana selesai membantu ibu beres-beres rumah. Darpana duduk santai di ruang tengah, ya sedang membaca bukunya dengan baik.

Isi buku yang di baca Darpana :

“Kau tadi berbicara dengan siapa, Kim Ha?” tanya Park Ji, ayah Kim Ha.

“Dokkaebi ayah, dia teman baruku.” Kim Ha menjawab pertanyaan ayahnya dengan nada riang. Bocah lelaki berusia sembilan tahun itu terlihat sangat senang memiliki seorang teman baru.

“Dokkaebi?” Sang ayah mengulang sebuah nama yang disebut anaknya itu. Ia terdiam sambil berpikir keras. Ia seperti pernah mendengar nama seperti itu. Nama apakah itu? pikir Park Ji. Keningnya berkerut, berusaha mengingat-ingat sesuatu, namun tak berhasil.

“Di mana rumahnya?” tanya Park Ji akhirnya.

Kim Ha menatap ayahnya sambil berpikir. Ia mencoba mengingat sesuatu, tapi ia segera menggelengkan kepalanya, “Aku tidak bertanya dia tinggal di mana,” jawab Kim Ha.

“Ehm, baiklah. Sebaiknya kita pulang sekarang,” ajak Park Ji. Ia berjalan menuju sepedanya, yang bersandar di bawah pohon. Kim Ha mengikuti ayahnya dengan berlari-lari kecil di belakangnya.

Langit mulai memerah. Senja hampir tiba. Park Ji mulai mengayuh sepedanya perlaha-lahan. Kim Ha membonceng sepeda angin itu sambil membentangkan tangannya sesekali. Ia senang merasakan desiran angin yang melawan laju sepeda mereka. Rambutnya, yang berdiri, meliuk liuk tertiup angin.

“Kring... Kring…” Park Ji membunyikan bel sepedanya. Ia seperti melihat anak kecil melintas. Namun saat ia memerhatikan dengan teliti, ia tidak melihat siapa-siapa.

“Hoooiii... sampai ketemu lagi, ya!” Kim Ha berseru nyaring, sambil melambaikan tangan.

“Kamu bicara dengan siapa?” tanya ayahnya, yang terus mengayuh sepeda. Meski suara ayahnya terbawa angin, Kim Ha dapat mendengarnya dengan jelas.

“Dengan anak yang tadi, Ayah,” jawab Kim Ha.

Sang ayah terdiam. Ia memang seperti melihat anak kecil tadi, tapi anak itu segera menghilang, entah ke mana. Mungkin mataku mulai rabun, pikir Park Ji.

Perjalanan mereka tidak memakan waktu lama. Mereka segera tiba di sebuah rumah mungil berhalaman luas. Banyak bunga mugunghwa tumbuh di sana. Bunga itu memiliki kelopak luar berwarna ungu, kelopak dalam berwarna merah, dan putik yang berwarna putih. Bunga-bunga itu ditanam oleh ibu Kim Ha.

“Kalian berdua sudah pulang?” Seorang wanita cantik, dengan rambut tersanggul rapi, berdiri menyambut mereka.

Kim Ha tersenyum. Ia segera turun dari sepeda ayahnya dan berjalan cepat ke arah ibunya. “Bu, aku senang bisa bermain di taman kota sore ini. Aku juga mendapat teman baru di sana. Namanya Dokkaebi,” kata Kim Ha memulai cerita.

Setiap hari sabtu, Kim Ha selalu merasa senang karena ia bisa pergi ke taman untuk bermain. Ada banyak permainan yang bisa ia temui dan mainkan bersama anak-anak yang datang ke sana. Hoejeon mogma adalah salah satu permainan kesukaan Kim Ha. Permainan itu terbuat dari besi yang ditancapkan ke beton taman. Di bagian tengahnya terdapat tempat duduk dari besi dengan sandaran berbentuk lingkaran. Kim Ha suka duduk di haejoen mogma yang diputar kencang, karena rambutnya akan bergoyang seiring perputaran porosnya.

Sementara anaknya bercerita panjang lebar. Ibu Kim Ha terkejut mendengar cerita Kim Ha. “Siapa nama teman barumu?” tanyanya lagi.

“Dokkaebi, Bu,” jawab Kim Ha yakin.

Ibu Kim Ha benar-benar kaget saat mendengar nama itu. Ia tahu jika Dokkaebi bukanlah nama anak manusia. Ia pun mendekati suaminya, yang baru selesai meletakkan sepeda anginnya di belakang rumah.

“Kim Ha mengatakan kalau dia mendapat seorang teman baru bernama Dokkaebi, apakah itu benar, Pak?” tanya ibu Kim Ha penuh selidik.

Park Ji mengangguk pelan. “Aku juga merasa aneh dengan nama itu, tapi aku tidak dapat mengingat itu nama apa.”

“Dokkaebi itu mahluk halus yang terbentuk dari benda-benda yang sudah tidak terpakai lagi, Pak. Ia bisa menjelma seperti manusia jika diolesi hyangsu di seluruh permukaannya.” Ibu Kim Ha berusaha membangkitkan ingatan suaminya pada Dokkaebi.

“Oh, iya. Aku ingat sekarang. Dokkaebi juga bisa memunculkan benda yang dibutuhkan dengan cara mengambilnya dari orang lain,” kata Park Ji. “Tapi apakah dia mahluk berbahaya, Bu?”

“Dia suka mengganggu anak-anak dengan membuat mereka sakit,” ucap Ibu pelan.

“Oh, kita harus melarang Kim Ha bermain dengannya lagi,” ujar Park Ji membuat keputusan. “Kita katakan pada Kim Ha besok saja, Bu.” Ibu Kim Ha mengangguk, setuju dengan perkataan suaminya.

Keesokan harinya, Kim Ha bangun pagi-pagi sekali. Ayah dan ibunya sudah bangun lebih dulu. Mereka sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Ibu sibuk menyiapkan sarapan di dapur. Sementara ayahnya memberi makan ternak mereka di kandang belakang rumah.

Kim Ha menghampiri ayahnya. Ia mengambil rumput dan meletakkannya di depan seekor anak kambing. “Makanlah yang banyak, Yeomso, agar kamu cepat besar seperti aku,” kata Kim Ha sambil mengelus anak kambing itu.

“Mandilah, Kim. Sebentar lagi kita akan berangkat ke kuil Bulguksa,” panggil ibunya dari dalam rumah.

Ibu Kim Ha sudah selesai menyiapkan sarapan dan siap pergi beribadah. Kim Ha bergegas ke kamar mandi. Park Ji, yang telah menyelesaikan pekerjaannya, mandi bergantian dengan Kim Ha.

Hari itu adalah hari minggu, hari di mana mereka mengunjungi kuil Bulguksa untuk beribadah. Park Ji, Kim Ha, dan ibunya menaiki sepeda angin mereka menuju Kuil Bulguksa. Sepeda itu tampak sesak dinaiki oleh mereka bertiga, apalagi Kim Ha sudah semakin besar. Namun, mereka belum mampu membeli kendaraan yang lebih bagus.

Meski harus bersesak-sesak, Kim Ha senang berada di boncengan belakang bersama ibunya. Rambutnya, yang sedikit basah, berdiri menantang langit. Sehingga angin hanya bisa menggoyangkannya satu-satu.

“Hoi! Aku mau pergi ke kuil Bulguksa!” teriak Kim Ha tiba-tiba.

“ Kamu sedang berbicara dengan siapa, Nak?” tanya ibu Kim Ha heran.

“Temanku yang kuceritakan pada ibu kemarin,” jawab Kim Ha tenang.

Ibu Kim Ha terkesiap. Ia segera menoleh kembali ke belakang dan mendapati seorang anak kecil sedang menatap mereka dengan pandangan hampa. Ibu Kim Ha merasakan bulu kuduknya meremang. Dia segera mengalihkan pandangan, tidak berani menatap ke belakang lagi.

Sesampai di kuil, mereka bertiga mulai berdoa. Dengan penuh pengharapan, ibu Kim Ha berdoa kepada dewa-dewa agar Kim Ha dijauhkan dari segala mara bahaya, terutama dari mahluk bermana Dokkaebi. Setelah selesai beribadat, mereka menuju ke taman kota. Park Ji sudah berjanji kepada Kim Ha untuk pergi ke taman kota dan bermain sepuasnya. Selain itu, ia juga berpesan agar Kim Ha menjauhi Dokkaebi dan tak bermain dengannya lagi.

Sesampainya di taman kota, tempat itu sudah ramai dengan pengunjung. Taman itu tetap sejuk meski matahari mulai naik dan udara semakin panas. Ibu Kim Ha segera mencari tempat yang teduh. Ia menggelar tikar yang dibawanya dari rumah dan mengeluarkan bekal untuk mereka makan bersama. Kim Ha langsung berlari menuju mainan kesukaannya. Namun, ia harus kecewa karena mainan itu telah penuh dengan anak-anak sebayanya. Tidak ada tempat untuknya lagi di sana.

“Kim Ha, ayo main denganku,” kata seorang anak laki-laki kecil yang menenteng sebuah topi lancip.

Kim Ha menatap anak itu dengan ragu. Ia teringat pesan ayahnya, namun ia tak memiliki teman lain. Ia pun berkata, “Baiklah, permainan apa yang akan kita mainkan?”

“Ehmmm, aku bisa membuat benda-benda yang kau inginkan ada di sini dalam sekejab,” katanya sambil tersenyum lebar.

“Wah, kau bisa bermain sulap, Dokkaebi?” tanya Kim Ha pada Dokkaebi, anak laki-laki yang menenteng topi lancip.

“Hal itu mudah bagiku,” Dokkaebi berkata sambil menaikkan sebelah alisnya dengan sikap sombong. “Lihatlah, aku juga bisa membuat tubuhku menjadi tembus pandang.” Ia meletakkan topi yang dipegangnya di atas kepala. Seketika itu juga Kim Ha tidak bisa melihat Dokkaebi.

“Dokkaebi, di mana kamu?” tanya Kim Ha sambil menengok ke kanan dan ke kiri, mencari Dokkaebi. Dokkaebi tiba-tiba menghilang dari pandangannya.

“Aku di belakangmu,” kata Dokkaebi sembari melepas topinya.

Kim Ha membalikkan tubuhnya dan melihat Dokkaebi di belakangnya. “Bagaimana kau melakukannya?” tanya Kim Ha penasaran. Ia mulai lupa pada pesan ayahnya.

“Aku punya gamut, topi lancip yang bisa membuatku tembus pandang,” kata Dokkaebi. Ia menunjukkan topi berwarna kuning yang dipegangnya.

“Topimu hebat sekali, bolehkah aku meminjamnya?” tanya Kim Ha.

“Tapi kau harus berjanji untuk menjadi temanku selamanya,” pinta Dokkaebi. Kim Ha mengangguk, setuju.

Dokkaebi menyerahkan topinya kepada Kim Ha. Kim Ha langsung menerima dan meletakkan topi itu di kepalanya. Seketika itu juga tubuh Kim Ha tidak terlihat. Ia lalu berjalan, dengan membusungkan dada, mendekati orang tuanya di bawah pohon. Sesampai di dekat kedua orang tuanya, ia mengambil makanan kesukaannya, pajeon. Pajeon berbentuk bulat seperti martabak manis. Makanan itu terbuat dari tepung, telur, bawang Bombay, dan kerang. Tanpa membuang waktu, ia melahap pajeon buatan ibunya yang super lezat. Kim Ha menikmati pajeon itu sambil menatap ibunya yang terlihat kebingungan.

“Ayah, lihatlah pajeon itu,” kata ibu Kim Ha. Ia menunjuk makanan buatannya yang melayang di udara.

Park Ji berusaha menangkap makanan itu, tapi makanan itu justru berkurang, seperti sedang dimakan oleh seseorang. Kedua orang itu terpana melihat kejadian itu.

“Ini aku, Bu,” ucap Kim Ha mulai menampakkan dirinya.

Kedua orang tuanya sangat terkejut.

“Kim Ha, bagaimana bisa kamu seperti itu?” Ibu Kim Ha membelalakkan mata. Ia cemas dengan tingkah Kim Ha barusan.

“Dokkaebi meminjamkan topinya padaku, Bu, asal aku mau terus menjadi temannya,” Kim Ha berkata seraya mengunyah pajeon di tangan kanannya. Tangan kirinya masih memegang topi lancip berwarna kuning milik Dokkaebi.

“Bukankah ayah sudah berpesan agar kamu tidak bermain lagi dengan Dokkaebi?” Park Ji mengingatkan Kim Ha.

Kim Ha terdiam, merasa bersalah. “Tapi, aku senang bermain dengannnya, Yah. Dia bisa bermain sulap.”

“Tapi dia bukan teman yang baik, Sayang. Sekarang kembalikan topi itu kepadanya.” Ibu Kim Ha mencoba membuat Kim Ha mengerti.

Kim Ha cemberut, tapi ia tidak membantah perintah ibunya. Dia pun beranjak dan mulai mencari Dokkaebi.

“Aku tidak menemukannya, Ayah,” lapor Kim Ha, setelah kelelahan mencari Dokkaebi di sekitar taman.

“Tinggalkan topi itu di tempat ini. Dia pasti akan datang kembali untuk mengambilnya,” usul ibu Kim Ha.

Kim Ha mengangguk, lalu duduk di tikar. Ia kembali memakan bekal yang dibawa oleh Ibu dengan lahap. Selain pajeon, Ibu juga membuat gimbap yaitu nasi yang digulung dengan rumput laut dan diisi dengan sayur, daging, sosis, atau keju. Kim Ha terus makan dengan sukacita, sedangkan ibunya semakin gelisah. Kejadian siang itu membuat hatinya tidak enak.

“Segera habiskan bekal kita, Nak. Setelah itu kita pulang,” ajak ibu Kim Ha.

“Tapi, aku belum puas bermain, Bu.” Kim Ha mulai merengek.

“Besok kita bermain lagi, Kim Ha. Ibu tidak enak badan sekarang.” Ibu Kim Ha mencoba memberi alasan kepada anak kesayangannya.

Kim Ha menatap ibunya, sedikit kesal. Tapi akhirnya ia mengangguk, “Baiklah, aku mau pulang.” Kim Ha menghabiskan potongan gimbap di mulutnya dengan malas. Meski rasanya masih enak, ia sudah kehilangan semangat untuk menghabiskannya. Malam mulai menjelang. Kim Ha merasa tidak enak badan. Badannya mulai demam.

“Bu… Ibu…” panggil Kim Ha dengan lemah.

Ibu Kim Ha segera menghampiri anaknya. Ia kaget ketika merasakan suhu tubuh Kim Ha yang menghangat.

“Kamu demam, Nak. Sepertinya kamu kecapaian setelah bermain di taman tadi.” Ibu Kim Ha segera mengambil ramuan ginseng dan meminumkan ramuan itu kepada Kim Ha. Setelah meminum ramuan ginseng itu, Kim Ha pun tertidur.

“Kembalikan topiku, Kim Ha.” Dokkaebi tiba-tiba berdiri di samping tempat tidur Kim Ha.

Kim Ha terbangun karena mendengar suara Dokkaebi. “Aku meninggalkannya di taman, Dokkaebi. Ibu berkata bahwa kau akan mengambilnya. Apa kau tidak mengambilnya?”

“Tidak, kamu harus mengembalikan topi itu padaku.” Dokkaebi terus mendesak. “Kamu akan terus-menerus sakit kalau tidak mengembalikan topi itu.” Dokkaebi terus berbicara sambil menatap mata Kim Ha.

Kim Ha merasa tubuhnya semakin tidak enak. Park Ji, yang mendengar percakapan dari dalam kamar Kim Ha, mendekat kamar anaknya. Ia terkejut mendapati seorang anak laki-laki di sebelah tempat tidur putranya.

“Siapa kamu?” tanya Park Ji.

“Saya teman Kim Ha, nama saya Dokkaebi.”

“Bagaimana kamu bisa masuk kemari?”

“Hal itu mudah bagi saya, Tuan. Saya datang ke sini untuk mengambil topi saya. Kalau Anda tidak mengembalikannya, Kim Ha akan terus-menerus sakit,” kata Dokkaebi.

“Kami akan mengembalikan topimu, tapi kamu tidak boleh menganggu Kim Ha lagi.” Park Ji mengajukan syarat kepada Dokkaebi. Dokkaebi mengangguk, menyetujui syarat Park Ji.

Park Ji mengambil topi Dokkaebi yang ia simpan. Sebenarnya Kim Ha telah meninggalkan topi itu di taman, tapi Park Ji mengambil kembali topi itu dan menyimpannya. Kini, Park Ji akan mengembalikan topi itu dengan syarat Dokkaebi tidak boleh mengganggu Kim Ha lagi. Sementara itu, Dokkaebi tidak ingin meninggalkan Kim Ha, meski topi lancipnya akan dikembalikan. Ia sudah terlanjur berjanji untuk terus berteman dengan Kim Ha.

“Kalau aku boleh tahu, apa yang kau takutkan Dokkaebi?” tanya Park Ji. Ia telah membuat rencana untuk menjauhkan Kim Ha dengan Dokkaebi.

“Saya paling takut pada minyak wangi. Kalau Tuan, apa yang Anda takutkan?”

“Kami takut pada uang,” jawab Park Ji tanpa berpikir panjang.

Setelah Dokkaebi menerima topinya, ia segera pergi dari rumah Park Ji. Park Ji lalu memanggil istrinya, meminta bantuannya untuk menyiramkan minyak wangi ke sekeliling rumah. Dengan demikian, Park Ji berharap Dokkaebi tidak mengganggu Kim Ha lagi. Setelah menyelesaikan pekerjaan mereka, Park Ji dan istrinya melihat keadaan Kim Ha. Suhu tubuh Kim Ha sudah turun. Mereka pun bisa beristirahat dengan tenang.

Keesokan harinya, Dokkaebi datang lagi ke rumah Kim Ha. Ia ingin mengajak Kim Ha bermain. Namun ia tidak kuat dengan bau minyak wangi yang disebar oleh orang tua Kim Ha di halaman rumah mereka. Dokkaebi menangis dan pergi dari rumah itu. Akan tetapi, Dokkaebi kembali lagi ke rumah Kim Ha untuk membalas perlakuan orang tua Kim Ha. Ia datang ke rumah Kim Ha dengan membawa uang yang sangat banyak dan menyebarkannya di depan rumah Kim Ha. Setelah itu, ia pergi dan tidak pernah kembali lagi ke rumah Kim Ha. Keesokan harinya, Park Ji terkejut sembari berteriak kegirangan ketika mendapati banyak uang yang berserakan di depan rumahnya. Sejak saat itu keluarga Park Ji menjadi keluarga yang kaya raya.

***

Darpana selesai membaca bukunya.

"Cerita yang bagus asal dari Korea Selatan," kata Darpana.

Darpana menutup bukunya dan menaruh buku di mejanya dengan baik.

"Nonton Tv ah!" kata Darpana.

Darpana mengambil remot di meja dan segera menghidupkan Tv dengan baik. Acara Tv yang di tonton, ya acara film kartun sih....karena menarik sih. Darpana menaruh remot di meja dan fokus dengan tontonannya.

HYANGJI ANAK BERBAKTI

Damayami selesai olahraga, ya cuma lari sih di sekitar kompleks perumahan sih. Damayami duduk santai di ruang tamu., ya sambil minum jus jeruk dan kue buatan ibu yang enak banget. Ada buku di meja, ya Damayami mengambil buku tersebut dan di baca dengan baik banget.

Isi buku yang di baca Damayami :

Di sebuah desa, yang berbatasan dengan kota Gongju, tinggallah seorang wanita miskin bersama anak perempuannya. Mereka hidup dengan sangat sederhana. Mereka tidak mempunyai sawah atau ladang untuk digarap dan menghasilkan padi sebagai persediaan makanan seperti keluarga lain. Setiap hari mereka pergi ke sawah untuk menggarap sawah-sawah milik orang lain. Ya, mereka bekerja di sawah milik seorang tuan tanah yang kaya raya. Meski tidak memiliki sawah sendiri, mereka tetap bersyukur karena masih ada orang yang mau mempekerjakan mereka. Ibu dan anak itu pun masih dapat makan dan memenuhi kebutuhan hidup mereka, meski dengan sangat sederhana.

“Sepertinya hasil musim panen kali ini sedikit sekali,” kata Tuan Dong. Ia berdiri di pinggir sawahnya sambil memerhatikan beberapa orang yang hampir menyelesaikan pekerjaan mereka.

“Letakkan di sini, Hyangji,” perintah Tuan Dong. Ia menunjuk suatu tempat.

Gadis kecil, dengan penutup rambut itu, berjalan tergopoh-gopoh ke arah yang ditunjuk Tuan Dong. Sebuah karung berisi gabah, yang besarnya dua kali tubuhnya, ia turunkan dari pundak mungilnya. Hyangji menghempaskan napasnya. Lalu ia berjalan mendekati seorang wanita kurus yang sedang duduk beristirahat.

“Aku mau minum, Bu.” Hyangji meminta botol air minum yang mereka bawa dari rumah.

Wanita kurus itu mengambil botol dari buntalan di bajunya dan menyerahkannya pada Hyangji. Hyangji menerimanya. Botol itu terasa sangat ringan ketika sampai di tangannya. Hyangji lalu membuka tutup botol itu dan mengarahkan ke mulutnya. Ia merasakan setetes kecil air membasahi bibirnya. Diintipnya isi botol itu. Kemudian ia menutup botol itu kembali.

“Sudah habis,” katanya sambil tersenyum pada ibunya.

Sang ibu ingat jika ia menyisakan sedikit air untuk anaknya. Tangannya yang mulai keriput pun segera meraba buntalan di bajunya. Basah. Rupanya botol itu tidak tertutup rapat, sehingga airnya menetes dan habis sia-sia. Padahal air itu sangat berharga buat mereka.

Wanita kurus itu menatap Hyangji, iba. “Maafkan ibu, Nak,” gumamnya lirih.

“Yung Mi.” Tuan Dong menyebut sebuah nama.

Wanita kurus itu berdiri dan mendekati Tuan Dong. Tuan Dong mengulurkan selembar uang kertas. Wanita kurus itu menerimanya dengan tangan gemetar.

“Terima kasih, Tuan,” katanya pelan.

Tuan Dong menganggukkan kepala. Meski tenaga Yung Mi tidak bisa diandalkan untuk tetap bekerja di sawahnya, Tuan Dong merasa kasihan padanya. Ia tahu jika Yung Mi tidak mempunyai penghasilan lain, selain dari hasil bekerja di sawahnya. Ia pun tahu bahwa Yung Mi tidak mempunyai keahlian untuk bekerja di tempat lain.

“Hyangji!”

Tuan Dong memanggil Hyangji dan memberikan selembar uang kertas pada gadis kecil itu. Hyangji mendongak. Dengan tersenyum ia mengucapkan terima kasih kepada Tuan Dong. Tuan Dong tersenyum. Sebenarnya ia juga merasa kasihan pada gadis kecil itu. Namun pekerjaan gadis itu tidak bisa dihargai lebih dari selembar uang yang ia berikan. Hiangji berjalan menyusul ibunya. Hatinya senang, hari ini ada rejeki yang bisa ia bawa pulang bersama ibunya. Dengan berjalan beriringan, mereka pulang.

“Aku akan membeli obat untuk ibu.” Hiangji berjalan ke arah warung yang menyediakan kebutuhan sehari hari.

Hyangji membeli obat dengan uang yang diperolehnya. Yung Mi juga menyelipkan selembar uang yang ia peroleh. Dengan uang itu Hyangji membeli keperluan mereka sehari-hari. Hyangji keluar dari warung dengan wajah cerah. Ia juga menenteng kantong plastik berwarna hitam di tangan kirinya.

“Ayo, Bu, kita pulang.” Hyangji menggamit ibunya dengan tangan kanannya.

Sambil menahan rasa sakit, wanita kurus itu berjalan pelan. Hyungji mendongak. Ia menatap wajah pucat ibunya. Ia tahu ibunya sedang menahan rasa sakit yang teramat sangat. Sepanjang perjalanan pulang, Hyungji berdoa agar mereka sampai di rumah dengan selamat. Ia khawatir jika ibunya pingsan di jalan. Siapa yang akan membantunya mengangkat tubuh ibunya? Tubuh mungilnya tidak akan kuat mengangkat ibunya seorang diri.

“Sebentar lagi kita sampai, Bu.” Hyungji mencoba memberikan kekuatan lewat genggaman jarinya.

Perlahan namun pasti, akhirnya mereka sampai di rumah. Hyungji segera membaringkan ibunya di lantai rumah yang beralsakan selembar tikar yang  telah koyak. Dengan cekatan Hyungji membuat makanan sederhana untuk ibunya. Ia menyuapi ibunya perlahan-lahan. Setelah selesai, Hyungji mengambil obat yang tadi dibelinya di warung.

“Minum obatnya, Bu,” kata Hyungji dengan lembut.

Sebenarnya Hyungji tahu jika obat itu tidak akan menyembuhkan penyakit ibunya. Obat itu hanya dapat mengurangi rasa sakit yang dirasakan oleh ibunya. Sedangkan obat untuk penyakit ibunya belum bisa ia beli. Yung Mi meminum obat yang diberikan anak perempuannya. Tak lama kemudian ia mulai terlelap. Rasa lelah dan pengaruh obat membuatnya terbang ke alam mimpi. Hyungji segera membereskan rumah. Ia juga menyiapkan air untuk membersihkan badan dan penyakit  yang bersarang di tubuh ibunya. Ia tidak tahu pasti penyakit yang diderita oleh ibunya. Ia hanya tahu jika ibunya mengidap penyakit, sejenis tumor, yang sangat berbahaya. Setiap hari Hyungji berusaha mengeluarkan nanah yang ada di tumor ibunya. Namun usahanya belum membuahkan hasil apa-apa.

Hyungji mendengar kabar kalau ada seorang tabib yang bisa mengobati penyakit ibunya. Ia ingin sekali membawa ibunya ke tabib itu. Namun ia masih menyisihkan sedikit demi sedikit penghasilannya untuk bisa membawa ibunya ke sana. Keesokan harinya, Hyungji berangkat ke sawah seorang diri. Ibunya sudah tidak sanggup bekerja lagi. Sebenarnya Hyungji ingin menemani ibunya di rumah, tapi mereka tidak bisa makan kalau dia tidak bekerja. Maka dengan berat hati, Hyungji meninggalkan ibunya seorang diri. Selesai bekerja, Hyungji segera pulang ke rumah dan membawa ibunya ke tabib. Ia berharap ia bisa membayar tabib itu dengan tambahan upah yang dia dapatkan hari ini. Ia pun membawa ibunya ke rumah tabib itu dengan mengendarai pedati yang digunakan untuk mengangkut padi.

“Mengapa kau tidak membawa ke sini cepat-cepat? Penyakit ibumu sudah sangat parah,” kata sang Tabib sambil menggelengkan kepalanya.

Hyungji menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Saya belum ada biaya,” katanya lirih.

“Tumornya sudah menyebar hingga ke tulang. Penyakit ibumu bisa disembuhkan melalui pembedahan. Namun kondisinya terlalu lemah saat ini. Aku tidak bisa melakukannya sekarang,” lanjut sang Tabib.

“Apakah biayanya mahal?” Hyungji mulai khawatir. Ia takut tidak bisa membayar biaya pembedahan ibunya karena uang yang ia miliki tidak seberapa.

Sang Tabib tersenyum. “Kau tidak perlu memikirkan biayanya dulu. Yang terpenting adalah ibumu bisa sembuh.”

Hyungji menarik napas lega. Ia berjanji akan melunasi semua biaya pembedahan ibunya nanti.

“Berilah ibumu makanan yang bergizi tinggi, terutama daging sapi. Daging itu akan membantu pemulihan stamina ibumu, sehingga pembedahan bisa segera dilakukan,” kata tabib itu lagi.

Dalam perjalanan pulang, Hyungji berpikir keras. Uang yang dia dapatkan setiap hari hanya cukup untuk membeli makanan ala kadarnya. Bagaimana dia bisa membeli daging sapi yang dibutuhkan oleh ibunya? Apalagi sawah Tuan Dong tidak dapat  dipanen lagi. Padi yang bisa dipanen tahun ini sangat sedikit. Masa paceklik telah datang. Tidak ada lagi yang bisa ia kerjakan. Akan tetapi, Hyungji tidak berputus asa. Ia pergi ke kota dan mencari pekerjaan di sana. Di sebuah tempat makan yang ramai, Hyungji menawarkan jasanya untuk mencuci piring. Pemilik rumah makan itu menolaknya karena mereka menganggap Hyungji terlalu kecil.

Dengan wajah murung, Hyungji kembali berjalan mencari rumah makan lain. Ia tidak menghiraukan terik matahari yang menyengatnya. Bekal air minum yang ia bawa dari rumah, hanya tersisa dua ruas jari. Hyungji meminumnya sedikit. Air itu mengisi perutnya yang belum terisi makanan dari pagi. Persediaan makanan di rumahnya hanya cukup untuk dimakan ibunya. Ia tidak tega melihat ibunya menahan lapar juga. Lebih baik dirinya saja yang merasa lapar. Setelah berjalan cukup jauh, Hyungji tiba di sebuah rumah makan besar. Banyak orang yang berdatangan ke sana. Hyungji segera menawarkan diri untuk membantu mencuci piring. Seorang lelaki berperut buncit membawanya ke tempat cuci piring di belakang rumah makan itu.

“Di sini tempatnya. Kamu harus mencuci piring-piring kotor itu.” Lelaki berperut buncit itu menunjuk tumpukan piring di sudut tempat itu. “Setelah itu, lap piring-piring itu dan tatalah di rak itu,” katanya lagi sambil menunjuk rak besi yang berdiri kokoh di sisi sebelah kanannya.

Hyungji mengangguk, tanda mengerti.

“Kamu tahu, kan, caranya mencuci piring?” tanya lelaki berperut buncit itu. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

“Saya bias, Tuan. Saya biasa melakukannya di rumah,” jawab Hyungji mantap. Senyum di bibirnya mulai merekah. Ia sudah mendapatkan pekerjaan. Ia pun mempunyai penghasilan untuk biaya pembedahan ibunya.

“Ingat, kalau ada piring yang pecah, maka kamu harus menggantinya. Upahmu akan digunakan untuk mengganti piring-piring yang pecah itu. Jadi, kamu harus benar-benar berhati-hati,” kata lelaki buncit itu lagi.

Hyungji menganggukkan kepala. Setelah lelaki berperut buncit itu meninggalkannya, Hyungji segera bekerja. Dengan hati-hati ia mencuci pirig-piring kotor itu. Setelah semua selesai, ia mengeringkan piring-piring itu dengan lap yang sudah disediakan. Lalu satu per satu, piring-piring itu ditata di dalam rak berwarna putih mengilat. Ketika Hyungji sedang asyik bekerja, seorang laki-laki, dari arah rumah makan, datang membawa satu nampan besar piring-piring kotor. Dengan tergesa-gesa ia meletakkan piring-piring itu dengan kasar.

“Pranggg!” Tumpukan piring itu menyentuh lantai dengan suara keras.

Hyungji terperanjat. Lelaki itu meninggalkan tempat cuci piring tanpa memedulikan Hyungji dan tumpukan piring kotor yang berantakan. Hyungji segera berjongkok, memeriksa piring-piring kotor itu. Sebuah piring besar berwarna putih pecah menjadi beberapa bagian. Dan dua piring yang lain retak.

“Sudah kubilang agar kau berhati-hati. Sekarang kamu malah memecahkan piring-piringku.” Tiba-tiba laki-laki berperut buncit itu sudah berdiri di belakang Hyungji.

“Bukan saya yang memecahkan piring itu, Tuan.” Hyungji mencoba membela diri.

“Kalau bukan kamu, lantas siapa?”

“Lelaki yang membawa nampan berisi piring kotor tadi. Dia meletakkan piring-piring itu dengan keras di lantai, hingga pecah seperti ini, Tuan.”

Keringat dingin mulai membasahi tubuh Hyungji. Hyungji tahu ia tidak bersalah. Namun ia tetap merasa takut. Ia takut lelaki pembawa nampan itu akan melimpahkan kesalahan pada dirinya.

“Cho!” Lelaki berperut buncit itu memanggil sebuah nama. Dengan tergesa-gesa, orang yang dipanggil Cho itu datang mendekat. Ia adalah lelaki pembawa nampan tadi.

“Kamu yang memecahkan piring-piring ini?” Lelaki berperut buncit itu menunjuk piring yang pecah dan retak itu.

Cho tampak gelisah. Hyungji menatap Cho, berharap Cho berkata yang sejujurnya.

“Bukan saya, Tuan. Gadis kecil ini yang melakukannya,” kata Cho dengan wajah tak bersalah.

Hyungji terperanjat. Ia tidak menyangka kalau Cho justru menuduh dirinya.

“Ia yang melakukannya, Tuan,” kata Hyungji membela dirinya.

Namun pemilik rumah makan itu tidak percaya pada Hyungji. Ia justru membela Cho. Ia menganggap Hyungji sebagai anak kecil yang belum bisa bekerja. Hyungji sedih sekali karena dituduh melakukan sesuatu yang tidak ia lakukan.

“Karena kamu telah memecahkan piring, maka hari ini kamu tidak mendapatkan upah satu won pun,” ucap pemilik rumah makan itu sore harinya.

“Tapi bukan saya yang memecahkan piring itu, Tuan.” Hyungji mencoba menjelaskan kembali.

Pemilik rumah makan itu tidak mau menerima penjelasan Hyungji. Ia tetap berkeras untuk tidak memberikan upah gadis kecil itu. Hyungji pun pulang ke rumah dengan lesu. Ia sudah bekerja keras seharian, namun tidak satu won pun ia dapatkan. Padahal ibunya membutuhkan makanan yang bergizi agar kondisi tubuhnya kuat untuk melakukan pembedahan. Ibunya memerlukan daging sapi. Tapi dari mana Hyungji mendapatkannya? Hari ini ia tidak mendapatkan upahnya.

Sepanjang perjalanan pulang, Hyungji memikirkan sebuah rencana. Sebenarnya ia takut untuk melakukannya, namun ia tidak menemukan cara lain. Demi kesembuhan ibunya, ia rela melakukan apa saja. Hyungji memikirkan rencana itu dengan matang. Tak ada orang yang membantunya. Ia pun melakukan semuanya seorang diri. Ia akan menjalankan rencana itu malam nanti, ketika ibunya sedang tidur. Keesokan harinya, Hyungji sudah membuatkan sarapan untuk ibunya. Dengan berjalan tertatih, ia mendatangi kamar ibunya.

“Ibu, makanlah ini.” Hyungji menyuapkan nasi dan daging yang sudah dimasaknya.

“Dari mana kamu mendapatkan daging ini, Nak?” tanya ibunya heran.

“Ini dari rumah makan tempat Hyungji bekerja, Bu,” jawab Hyangji sambil menundukkan wajahnya. Ia tidak ingin ibunya tahu kalau ia sedang berbohong.

Ibun Hyungji tidak bertanya apa-apa lagi. Ia menyantap masakan anaknya dengan sangat lahap. Setelah makan daging itu, kondisi kesehatan ibu Hyungji membaik. Tubuhnya menjadi lebih kuat. Hyungji merasa senang karena ibunya bisa segera melakukan pembedahan. Hyungji segera mendatangi tabib itu lagi dan pembedahan pun dilakukan. Hyungji menunggu proses pembedahan itu dengan cemas. Ia terus berdoa agar semuanya berjalan lancar. Setelah beberapa jam, sang Tabib keluar dari ruang pembedahan dan mengabarkan kalau pembedahan berjalan dengan baik. Ibunya sedang beristirahat, setelah pembedahan yang melelahkan. Hyungji menyambut kabar itu dengan gembira. Setitik air mata kebahagiaan jatuh di pipinya.

“Agar kondisi ibumu cepat membaik, berilah ia makanan yang bergizi,” pesan sang Tabib ketika Hyungji dan ibunya pamit pulang. Hyungji mengangguk. Dia berjanji akan melakukan yang terbaik untuk ibunya.

Seperti hari-hari sebelumnya, Hyungji tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Ia juga tetap mengerjakan pekerjaan rumah, seperti memasak, mencuci, dan pekerjaan rumah lainnya. Walaupun kakinya pincang, Hyungji melakukan semua pekerjaan itu dengan hati riang. Kesehatan ibunya yang semakin membaik dari hari ke hari menjadi kekuatan bagi Hyungji. Pagi itu Hyungji membawa satu bakul pakaian kotor. Ia akan mencuci pakaian-pakaian itu di sungai. Setelah berpamitan pada ibunya, ia berjalan pincang sembari memanggul bakul di atas kepalanya. Yung Mi memerhatikan kepergian putrinya dengan pandangan penuh tanya. Mengapa beberapa hari ini kaki Hyungji pincang? Yung Mi berusaha untuk melihat kaki putrinya itu, namun Hyungji selalu melarangnya.

Sesampai di sungai, Hyungji duduk di bebatuan. Ia merasakan luka di pahanya yang terasa sangat nyeri. Darah mulai keluar perlahan-lahan. Hyungji membersihkan luka  itu dengan hati-hati. Tiba-tiba, seorang prajurit kerajaan yang sedang berpatroli mendekati Hyungji. Rupanya prajurit itu melihat lukanya.

“Kakimu kenapa gadis kecil?” tanya prajurit itu.

Hyungji terperanjat. Ia tidak tahu kalau ada seseorang yang memerhatikannya dari tadi. “Emmm…” Hyungji kebingungan. Ia ragu untuk berkata yang sejujurnya.

“Apakah seseorang telah menyakitimu?” tanya prajurit itu lagi.

“Oh, tidak Tuan.” Hyungji mengelak. Ia lalu berpikir sejenak. Kalau ia tidak berterus terang, ia khawatir ibunya akan disalahkan. Ia pun mulai bercerita.

“Ibu saya terserang penyakit ganas sejenis tumor. Ia harus melakukan pembedahan untuk membuang penyakit itu. Namun kondisi ibu saya sangat lemah. Ia harus makan daging. Saya tidak punya uang untuk membelinya, Tuan. Saya sudah bekerja keras, tapi saya tidak mendapatkan upah satu won pun karena saya difitnah oleh seseorang. Orang itu menuduh saya memecahkan piring. Padahal saya tidak melakukannya sama sekali, Tuan.” Hyungji mengatur napasnya. Matanya mulai memerah. Air mata tampak menggenang di matanya.

“Lalu kakimu itu kenapa?” tanya prajurit itu lagi.

“Agar Ibu cepat sehat, ibu saya harus makan daging. Karena saya tidak punya uang untuk membelinya, saya mengiris paha saya sendiri dan memasaknya untuk ibu saya.” Air mata Hyungji benar-benar mengalir kali ini. Ia merasa sedih karena telah membohongi ibunya.

Prajurit itu segera melaporkan kejadian itu kepada Raja. Raja merasa tersentuh mendengar cerita Hyungji. Raja sangat terharu dengan pengorbanan yang telah dilakukan Hyungji untuk ibunya. Akhirnya Hyungji mendapatkan perawatan untuk mengobati luka di pahanya. Sedangkan ibunya juga mendapat makanan yang bergizi untuk memulihkan kondisi kesehatannya. Mereka berdua pun bisa hidup lebih berkecukupan karena mendapatkan pekerjaan di Istana Raja. 

***

Damayami selesai membaca bukunya.

"Cerita bagus asal dari Korea Selatan," kata Damayami.

Damayami menutup bukunya dan menaruh buku di meja dengan baik.

"Aku beres-beres dirilah," kata Damayami.

Damayami membereskan semuanya dan segera ke belakanglah untuk mandi dan berganti pakaian di kamarlah. Setelah itu duduk santailah Damayami di ruang tengah untuk nonton Tv. Acara Tv yang di tonton Damayami, ya Drama Korea  yang lagi populer gitu. 

SANDAL DAUN AE MOON

Dalaja selesai membantu ibu memasak makan di dapur, ya Dalaja telah menikmati makan yang ia buat bersama ibu di ruang makan sih. Dalaja duduk santailah di ruang tengah sambil membaca bukunya dengan baik.

Isi buku yang di baca Dalaja :

 “ Srek...srek...srek...”

Sebuah suara menarik perhatian Hanok. Ia mengedarkan pandangannya, mencari sumber suara. Dari balik semak-semak, muncul seorang gadis cantik yang sedang kebingungan. Sepertinya, gadis itu sedang mencari sesuatu. Hanok segera bersembunyi di balik pohon. Ia tidak ingin membuat gadis itu takut dan kaget. Ia kemudian memerhatikan gadis itu dengan rasa penasaran. Hanok mulai menduga bahwa gadis itu bukan gadis dari desanya. Ia dapat melihat perbedaannya dari bentuk wajah gadis itu yang lancip dan rambutnya yang sangat panjang terurai. Sementara gadis di desanya berwajah bulat dan rambut mereka hanya sebatas bahu.

Gadis cantik itu tampak sibuk sendiri. Ia berjalan berkeliling dengan wajah panik. Kedua matanya yang sipit mulai memerah. Genangan air perlahan-lahan turun di pipinya yang putih bersih. Setelah beberapa saat mencari-cari sesuatu, ia terlihat mulai putus asa. Rasa lelah yang mendera membuatnya duduk bersandar di sebatang pohon besar. Tenaganya nyaris habis.

“Apa yang sebenarnya kau cari, Gadis Cantik?”

Sebuah suara membuat gadis cantik itu tersentak kaget. Hanok keluar dari tempat persembunyiannya. Ia ingin tahu apa yang sedang dicari oleh gadis itu.

“Aku kehilangan sandalku, Tuan. Apakah Anda melihat sepasang sandal berwarna putih keunguan?” tanya gadis cantik itu penuh harap.

Hanok menggelengkan kepala. “Saya tidak tahu,” jawabnya pendek.

“Kalau boleh tahu, siapa namamu?” tanyanya lagi.

“Namaku Ae Moon. Kalau Anda siapa, Tuan?” tanya Ae Moon sopan.

“Ae Moon, nama yang indah. Seperti nama peri-peri cantik dari langit,” kata Hanok. Ae Moon terkesiap. Ia takut jika pemuda di sebelahnya itu tahu siapa dirinya yang sebenarnya.

“Namaku Hanok,” lanjut Hanok sambil mengulurkan tangannya.

Mereka berjabat tangan. Ae Moon menatap Hanok sesaat, menduga bahwa Hanok adalah pemuda yang baik sehingga ia bisa meminta bantuan untuk mencari sandalnya yang hilang.

“Tuan, bisakah Anda membantu mencari sandalku yang hilang?” pinta Ae Moon. Ia berharap bisa menemukan sandalnya karena hanya dengan sandal itu ia bisa kembali ke dunianya. Dunia peri. Ia tidak ingin hidup di dunia manusia karena pasti akan sangat berbeda dengan kehidupan di dunia peri.

“Di mana kau meninggalkan sandal itu terakhir kali?” Hanok mulai bertanya “mungkin kita bisa mulai mencarinya dari sana.”

Ae Moon mulai bersemangat. Harapan untuk menemukan sandalnya dan pulang ke negeri peri membuat tenaganya pulih kembali.

“Di danau,” jawab Ae Moon sambil menunjuk ke arah danau.

Mereka berdua berjalan menuju sebuah danau yang terletak tidak jauh dari tempat itu.

“Kami bermain dan berlarian di atas sana. Karena sandal itu menyulitkanku berlari, aku pun melepasnya dan meletakkannya di sana,” cerita Ae Moon. Ia menunjuk hamparan air yang ada di hadapan mereka.

Hanok mengeryitkan dahi. Bagaimana bisa seorang manusia berlarian di atas air danau? Jika sandal itu diletakkan di atas air, pasti sandal itu tenggelam ke dasar danau.

“Apakah kamu tidak salah tempat? Jika kamu meletakkannya di atas air itu, sandalmu pasti akan masuk ke dasar danau.” Hanok mencoba mengingatkan Ae Moon. Ia menduga bahwa maksud Ae Moon adalah Ae Moon bermain dan berlarian di sekitar danau itu, bukan di atasnya.

Namun Ae Moon menggeleng. “Kami bermain dan berlarian di atas air danau itu. Dan sandalku ada di sana.” Ae Moon mengulangi kata-katanya sambil menunjuk ke atas air.

Hanok sedikit bimbang. Haruskah ia mencari sandal Ae Moon di dasar danau?

“Kita cari saja di sekeliling danau ini. Aku akan berputar dari arah kanan, sedangkan kau dari arah kiri. Nanti kita bertemu di ujung sana.” Hanok  memberi perintah. Ia tidak memercayai perkataan Ae Moon tadi.

Ae Moon mengangguk setuju. Dengan hati-hati mereka berdua menelusuri semak dan tanaman di sekitar danau. Namun sampai mereka bertemu kembali di satu titik, mereka tidak menemukan sandal itu sama sekali.

“Aku tidak menemukannya,” kata Hanok. Matanya masih terus mencari-cari. “Mungkin sandalmu benar-benar tenggelam di dasar danau,” katanya menambahkan. Kini pandangannya beralih ke tengah danau.

Mereka berdua terdiam. Hanok menghela napas panjang. “Aku tidak mungkin menyelam untuk mencari sandalmu itu. Aku tidak bisa berenang,” ucapnya lirih.

Ae Moon terpaku mendengar pengakuan Hanok. Dilihatnya matahari yang sudah mulai meredup. Tanpa sandal itu, ia tidak mungkin kembali ke rumahnya. Maka dengan berat hati, ia mengikuti Hanok menuju sebuah rumah di pinggir hutan. Hanok berjanji padanya untuk mencarikan sandal itu lagi esok hari. Sesampainya di rumah Hanok, Ae Moon tidak menjumpai seorang pun di sana. Hanok tinggal seorang diri. Orang tuanya telah meninggal dunia. Hanok menghidupi dirinya sendiri dengan mencari kayu di hutan untuk di jual ke desa-desa di sekitarnya.

Hanok masuk ke kamar tidurnya. Ia mengeluarkan dua lembar daun yang sangat indah. Warnanya bukan hijau, kuning, atau coklat, seperti kebanyakan daun lainnya. Daun itu transparan berwarna putih keunguan. Hanok menemukannya di tepi danau, tersangkut di antara dedaunan yang lain. Warnanya yang berkilau menarik perhatian Hanok untuk memungutnya. Hanok menyimpan dua helai daun itu di balik bajunya dengan hati-hati. Meski ia tidak tahu akan menggunakan daun itu untuk apa, tapi ia ingin menyimpannya baik-baik karena bentuknya yang cantik dan warnanya yang indah. Beberapa saat kemudian, Hanok keluar menemui Ae Moon.

“Silakan beristirahat di kamar depan. Saya akan membuatkan makanan,” kata Hanok ketika ia menghampiri  Ae Moon.

Hanok berniat untuk menjamu tamunya dengan masakan buatannya. Walau Hanok seorang laki-laki, ia sangat suka memasak. Tetangga-tetangganya selalu memuji masakan Hanok, yang, menurut mereka, seperti masakan para koki. “Joheun,” kata para tetangga setiap kali mereka memuji masakan Hanok. Malam ini Hanok memasak nasi dan sinseollo. Karena dia tidak mempunyai daging, Hanok membuat sinseolo dengan sayur-sayuran. Setelah masakannya matang, ia meletakkan panci sup sinseollo itu di atas meja. Hingga aromanya yang lezat tercium oleh Ae Moon.

“Ayo, kita makan.” Hanok segera mempersilakan Ae Moon menikmati hidangan yang ia sajikan.

“Em… enak sekali makanan ini,” kata Ae Moon sambil mendekatkan mangkuk sup ke mulutnya. Hanok tersenyum, merasa senang dengan pujian itu.

Setelah kenyang, mereka pun beristirahat. Di dalam kamarnya, Ae Moon tidak dapat memejamkan mata. Ia masih merasa asing dengan dunia barunya. Ia sudah tidak sabar menunggu pagi dating, untuk kembali mencari sandalnya. Keesokan harinya mereka kembali mencari sandal Ae Moon yang hilang. Namun hari itu berlalu tanpa hasil. Hari-hari terus berlalu. Mereka terus mencari, tapi tidak ada titik terang apa pun. Ae Moon pun semakin putus asa. Ia kehilangan harapan untuk menemukan sandalnya dan kembali ke dunia peri.

“Aku akan mengantarmu pulang ke kampungmu,” tawar Hanok suatu hari.

“Aku tidak punya keluarga. Bolehkan aku tetap tinggal di sini,” pinta Ae Moon. Ia sudah benar-benar putus asa. Apabila Hanok tidak mau menampungnya, ia tidak tahu harus pergi ke mana.

Hanok tidak keberatan hidup bersama Ae Moon. Maka dengan upacara yang sangat sederhana, mereka berdua pun menikah. Dari pernikahan itu, lahirlah seorang  putri yang cantik jelita. Putri mereka tumbuh menjadi gadis kecil yang sehat dan pintar. Gadis kecil itu bernama Hye. Siang itu Hye berdiri di depan pintu sambil memerhatikan butiran air hujan yang turun dari langit. Hari ini ayahnya berjanji akan mengajaknya ke hutan untuk mencari buah-buahan. Hye senang bisa mengambil buah-buahan itu langsung dari pohonnya. Rasanya segar dan manis. Hye sudah membayangkan semuanya. Namun hujan belum juga reda. Hye khawatir rencana mereka akan gagal lagi.

“Mungkin kita harus menundanya hingga esok hari, Nak.” Hanok mencoba menenangkan Hye yang terlihat gelisah.

“Sebentar lagi hujan pasti reda, Yah,” sahut Hye yakin. Matanya yang bening menatap langit. Dari bibirnya yang mungil terdengar doa yang ia panjatkan agar hujan segera berhenti. Tidak lama berselang, hujan benar-benar berhenti.

“Benar kan, Ayah, hujan sudah berhenti.” Hye menatap ayahnya dengan senyumnya yang manis.

Sang ayah mendonggakkan kepalanya ke langit. Lalu ia keluar rumah dan menengadahkan tangannya. Ia ingin memastikan kalau hujan telah benar-benar berhenti.

“Baiklah, tapi jalan ke hutan pasti becek. Ayah khawatir kamu nanti terpeleset.”

Hye menatap ayahnya sesaat. Tangan mungilnya diletakkan di pelipisnya. Sepertinya ia sedang  mengingat sesuatu.

“Bolehkah aku meminjam sandal yang Ayah simpan di dalam lemari?” tanyanya.

“Sandal apa, Nak? Ayah tidak punya sandal yang Ayah simpan di lemari.” Kening Hanok berkerut. Ia sama sekali tidak ingat pernah menyimpan sandal di dalam lemarinya.

Mendengar kata sandal, Ae Moon yang sedari tadi memerhatikan suami dan anaknya itu kaget. Ia teringat pada sandalnya yang hilang beberapa tahun silam.

“Iya, sandal yang Ayah simpan di lemari pakaian. Ayo, kita ambil.” Hye menarik tangan Hanok.

Hanok tak kuasa menolak. Tanpa ia sadari, Ae Moon berjalan di belakang mereka dengan wajah penasaran. Sesampai di kamar, Hye membuka lemari dan menarik sebuah kursi, ia pun naik ke atas kursi itu.

“Ini lho, Ayah.” Hye menarik sepasang sandal berwarna putih keunguan.

Melihat sandal itu, Ae Moon terpekik. Ia sama sekali tidak menyangka kalau sandal yang ia cari selama ini, ternyata ada di dalam rumah. Hanok pun tak kalah kaget. Ia menatap istrinya dengan wajah bingung. Ae Moon mendekati Hye yang sedang memegang sandal itu. Ia menimang sandal itu sesaat. Ia ingat betul, sandal itu adalah sandalnya yang hilang. Berbagai pertanyaan mulai berkecamuk di benak Ae Moon.

“Jadi engkau yang telah menyembunyikan sandal ini, hingga aku tidak bisa kembali ke duniaku?” Ae Moon berbalik ke arah Hanok. Ia memandang suaminya dengan tatapan sedih. Ia merasa dibohongi.

“Duniaku?” Hanok mengulangi ucapan istrinya, bingung.

Ae Moon terdiam. Ia menatap Hanok dan Hye bergantian. “Duniaku, dunia peri,” ucap Ae Moon sambil tertunduk.

Hanok sangat terkejut. Ia sama sekali tidak menduga kalau istrinya adalah seorang peri. Selama mereka hidup bersama, ia tidak menemukan keanehan apa-apa.

Hanok lalu berkata pelan, “Itu hanyalah dua lembar daun. Tapi daun itu dapat bersinar putih keunguan. Karena itulah aku menyimpan daun itu baik-baik.”

“Selembar daun?” Ae Moon mengulangi kata-kata itu lirih. Ia menatap mata suaminya dengan penuh selidik. Tidak ada kebohongan di sana. Jadi, selama ini, suaminya hanya melihat sepasang sandal itu sebagai selembar daun.

“Ini bukan daun suamiku. Ini adalah sandal yang aku cari ketika dulu kita bertemu. Sandal yang terus-menerus aku cari, bahkan samapai saat ini,” lanjutnya lagi.

Hye berdiri mematung, menatap kedua orang tuanya.

“Jadi setelah menemukan sandal itu kembali, kamu akan pulang ke dunia peri?” tanya Hanok dengan wajah memelas.

Ae Moon terdiam. Pandangannya tertumbuk pada seraut wajah polos milik Hye, putrinya. Ia ingin kembali ke dunia peri, tapi di sisi lain dia juga tidak ingin meninggalkan Hye dan Hanok.

“Ibu akan meninggalkan aku?” tanya Hye sambil beringsut duduk di kursi. Ia tidak menyangka bahwa dunia peri, yang diceritakan ibunya menjelang tidur, benar-benar ada.

Mendengar pertanyaan itu, hati Ae Moon sedih sekali. “Ibu belum tahu,” jawab Ae Moon.

Ae Moon berusaha memikirkan semuanya dengan baik. Sandalnya memang sudah ditemukan. Namun, sekarang, ia memiliki seorang putri yang sangat dia sayangi. Ia ingin membawa Hye ke dunia peri, tapi dia tidak mungkin melakukan itu. Bangsa manusia tidak ada yang bisa hidup di dunia peri. Seharian itu Ae Moon memikirkan apa yang harus ia lakukan. Ia ingin seluruh keluarganya bisa bersama-sama. Tapi bagaimana caranya? Sementara itu Hanok juga bergelut dengan pikirannya sendiri. Ia tidak ingin kehilangan istri yang sangat ia cintai. Apalagi Hye, bagaimana gadis kecil itu bisa melanjutkan hidupnya tanpa keberadaan seorang ibu?

“Aku akan kembali ke dunia peri,” kata Ae Moon pada akhirnya.

Mendengar hal itu, Hanok merasa sebagian dirinya hilang. Badannya menjadi lemas. Namun ia tidak dapat mencegah Ae Moon kembali ke dunianya. Hanok berusaha untuk kuat melihat kepergian istrinya. Ia memeluk Hye yang terus menitikkan air mata melihat kepergian ibunya. Ia ingin memberi kekuatan pada putrinya, sekaligus pada dirinya sendiri.

“Aku hanya ingin tahu bagaimana keadaan keluargaku di sana. Aku berjanji akan kembali lagi pada kalian,” kata Ae Moon.

Air matanya tidak berhenti mengalir. Ia merasa sedih karena harus berpisah dengan Hye dan Hanok. Tapi ia juga teringat mimpinya beberapa hari yang lalu. Mimpi tentang ayahnya yang sakit keras, sejak ia menghilang dari dunia peri. Semua peri tahu kalau ia adalah anak kesayangan sang ayah. Maka tidak heran jika sang ayah sangat kehilangan dirinya. Mimpi itulah yang membulatkan tekad Ae Moon untuk kembali ke dunia peri. Ia ingin ayahnya sehat kembali. Selain itu, ia ingin memberitahu ayahnya, kalua kini ia mempunyai seorang cucu yang cantik jelita bernama Hye. Ae Moon yakin jika ayahnya akan senang mendengarnya.

“Ibu pasti kembali, Nak. Ibu janji.”

Kata-kata itulah yang diingat Hye. Setiap hari ia dan ayahnya pergi ke hutan, berharap Ae Moon memenuhi janjinya untuk kembali berkumpul bersama mereka. Namun hari berganti, bulan bergulir, tahun berganti, ibunya tidak juga kembali.

“Aku kangen sama ibu, Yah,” ucap Hye suatu hari.

Hye sudah tumbuh menjadi gadis remaja. Hari itu ia sedang membantu ayahnya mencari ranting di hutan. Ia tengah duduk di sebatang kayu besar di tepi danau. Diperhatikannya sang ayah yang sedang sibuk memunguti ranting kering. Hanok menghentikan pekerjaannya dengan tiba-tiba. Hatinya pun merasa rindu dengan istrinya. Namun dia tak bisa melakukan apa-apa, dia dan Hye tidak mungkin menyusul Ae Moon ke negeri para peri. Hye menunggu tanggapan dari ayahnya. Tapi tidak sepatah kata pun keluar dari mulut sang ayah. Hye sebenarnya tahu, tanpa mendengar tanggapan sang ayah, jika ayahnya pun merindukan ibunya. Tiba-tiba pandangan Hye tertumbuk pada sesuatu yang mengilap berwarna putih keunguan. Sepatu peri! Hye berteriak kegirangan. Saat yang ia tunggu akhirnya datang juga. Ibunya kembali untuk memenuhi janji! Hye mendekati sepatu itu, namun sebuah suara menahannya.

“Jangan Hye, biarkan daun itu tetap di sana!” Hanok menahan langkah Hye.

Hye berhenti, ia tidak tahu mengapa ayahnya melarang ia mendekat. Dan mengapa ayahnya masih melihat sepasang sandal itu sebagai daun?

“Kenapa Ayah?”

“Ibumu tidak akan kembali.” Hanok tercekat. Suaranya nyaris habis. “Ayah tidak ingin kehilangan orang yang Ayah cintai lagi. Jika kalian semua pergi, siapa yang akan menemani ayah?”

Hye segera mendekati ayahnya dan memeluknya dalam haru. “Hye akan selalu menemani Ayah, seperti Ibu yang menemani Kakek sehingga ia tidak bisa kembali kepada kita.”

“Dari mana kamu tahu, Nak?” tanya Hanok terkejut.

“Ibu datang dalam mimpiku, Yah,” kata Hye sambil menundukkan kepalanya.

Ibunya memang sering mendatanginya dalam mimpi, namun rasa rindunya tak kunjung terobati.

“Ia mengatakan jika belum bisa memenuhi janjinya karena harus mengurus Kakek,” kata Hye lagi.

Hanok tersenyum. Rupanya Ae Moon tidak hanya datang dalam mimpinya. Ia juga datang dalam mimpi Hye.

“Hye, Hanok!”

Sebuah suara lembut terdengar di telinga mereka berdua. Serentak keduanya menoleh. Mereka hampir tidak percaya dengan sosok berdiri di ujung sana. Ae Moon berdiri dengan anggun, meski ada gurat kesedihan di wajahnya.

“Ibu…!” Hye berlari ke arah ibunya. Ia memeluk erat wanita yang telah lama tidak dijumpainya. Hanok datang mendekat, memeluk anak dan istrinya.

“Aku datang untuk memenuhi janjiku pada kalian,” kata Ae Moon di tengah sedu sedannya. Rasa bahagia benar-benar membuncah di dadanya.

“Kami senang kau bisa kembali,” sahut Hanok. Ia semakin erat memeluk anak dan istrinya. Hatinya penuh rasa bahagia yang tiada-tara.

“Apakah yang terjadi di sana hingga kau bisa kembali kepada kami?” tanya Hanok seraya merenggangkan pelukannya.

“Ayahku telah tiada, jadi aku bisa kembali kepada kalian,” kata Ae Moon.

“Padahal aku juga ingin bertemu dengan Kakek,” sahut Hye manja.

Ae Moon tersenyum getir karena Hye tidak bisa bertemu dengan kakeknya.

“Meski Kakek tidak ada, Ibu akan selalu ada, Sayang. Ibu tidak akan meninggalkan kalian lagi. Ibu menyayangi kalian berdua,” ucap Ae Moon sambil membelai rambut putrinya.

Akhirnya, Hanok, Ae Moon, dan Hye dapat berkumpul bersama dan hidup bahagia selamanya. Kisah mereka mengajarkan bahwa sesulit apa pun, sebuah janji haruslah ditepati, karena janji akan menjadi hutang yang dibawa sampai mati. 

***

Dalaja selesai membaca bukunya.

"Cerita bagus asal dari Korea Selatan," kata Dalaja.

Dalaja menutup bukunya dan beranjak dari duduknya, ya membawa bukunyalah ke kamarnya. Ya di kamar Dalaja menaruh buku di meja dengan baik dan segera mengeluarkan buku dari tasnya, ya mengerjakan PR-nya dengan baik gitu.

CAMPUR ADUK

BAD NEWS BEARS

Malam hari, ya bulan bersinar dengan baik. Setelah nonton Tv yang acaranya menarik dan bagus...tema cinta di chenel MDTV, ya seperti biasa s...

CAMPUR ADUK