CAMPUR ADUK

Thursday, October 7, 2021

BERMIMPI

Eko dan Budi duduk depan rumah Eko, ya sambil menikmati minum kopi dan makan gorengan.

"Mimpi," kata Budi.

"Emangnya ada apa dengan mimpi...Budi?!" kata Eko.

Eko mengambil tahu goreng di piring, ya berserta cabe rawit di piring di meja, ya di makan lah thu goreng itu beserta cabe lah.

"Aku selalu bermimpi menjadi orang kaya, ya keluar dari kemiskinan," kata Budi.

Budi mengambil tahu goreng, ya beserta cabe di piring di meja, ya di makan lah tahu goreng beserta cabe lah.

"Mimpi jadi orang kaya, ya aku juga sama sih Budi untuk keluar dari kemiskinan. Aku terus berusaha menjadi orang mampu," kata Eko.

"Aku sama Eko. Aku berusaha menjadi orang mampu. Walau bantuan dari pemerintahan ada, ya tapi aku di ajarkan sama orang tua untuk menjadi orang yang tidak terlalu berharap bantuan pemerintahan. Selama masih ada ke dua tangan dan kaki, ya sempurna. Aku berusaha sebaik mungkin menjadi orang yang mampu, ya keluar dari kemiskinan dengan kerja dan kerja, ya kerjanya sangat keras sekali sampai menghasilkan sesuatu yang berbuah manis," kata Budi.

"Orang tua membimbing kita dengan baik kan Budi?!" kata Eko.

"Iyalah. Orang tua membimbing aku dengan baik," kata Budi.

Budi mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi sih.

"Sekarang ini yang harus aku jaga ialah mimpi seorang gadis yang aku cintai," kata Eko.

Eko mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi lah. Budi, ya menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Eko. Dulu bermimpi mendapatkan jodoh yang baik, ya ternyata dari usaha dan doa, ya mendapatkan cinta seorang cewek yang baik...Purnama. Maka itu Eko berusaha menjaga mimpi dari seorang cewek yang menaruh harapan besar pada Eko, ya membimbing Purnama. Karena Eko menjadi pemimpinnya Purnama," kata Budi.

Eko menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Aku memang harus bijaksana dalam menjalankan hubungan cinta ku pada Purnama yang menaruh harapan besar pada ku, ya agar Purnama di bimbing aku dengan baik karena aku pemimpinnya dalam urusan rumah tangga nanti," kata Eko.

"Sedang aku masih bermimpi, ya mendapatkan cewek yang mau di ajak urusan cinta, jadi pacar dan istri lah," kata Budi.

"Aku mengerti keadaan Budi," kata Eko

Eko mengambil gitar di samping kursi, ya di mainkan lan gitar. Eko dan Budi bernyanyi, lagunya Base Jame.

Lirik lagu yang dinyanyikan Budi dengan judul 'Bermimpi' :

Kala aku sedang sendiri kucoba renungi
Ingin apa aku ini, tak pernah mengerti
Sampai kini kusadari aku tetap tak perduli
Hanya aku jalani hidup ini, ho-eoo yee
Ku duduk dalam sepi, kumelamun sendiri
Mau apa aku ini, tak kupahami
Semua orang pasti ingin dapat raih bahagia
Kalau hanya itu aku pun t'lah mengerti
Kadang ingin pergi, kadang ingin sendiri
Sampai kini ku tak tahu pasti
Aku hanya bisa bermimpi
Ku hanya ingin hidup bahagia oh
Aku hanya bisa bernyanyi
Aku tak tahu apa yang kucari di muka bumi, ho-eoo yee
Aku lihat layang-layang dapat terbang tinggi
Namun sesekali goyah dan ia jatuh lagi
Apa mungkin kutemui kunci di hati
Yang 'kan ungkapkan segalanya suatu saat nanti
Kadang-kadang ingin pergi, kadang ingin sendiri
Sampai kini ku tak tahu pasti
Aku hanya bisa bermimpi (bermimpi)
Ku hanya ingin hidup bahagia (sampai akhir nanti)
Aku hanya bisa bernyanyi (dalam hati)
Aku tak tahu apa yang kucari di muka bumi
Kadang aku bermimpi, ingin aku miliki
Khayalan yang ada di hati
Bukanlah mimpi, ee-yoo
Bukanlah mimpi, yo-oo
Kadang-kadang ingin pergi, kadang ingin sendiri
Sampai kini 'ku tak tahu pasti, ye-ee (pusing hatiku saat ini)
Bermimpi (bermimpi)
Ku hanya ingin hidup bahagia (sampai akhir nanti)
Aku hanya bisa bernyanyi (dalam hati)
Aku tak tahu apa yang kucari di muka bumi
Ho-eyoo ho-eyoo
Bermimpi
Bermimpi

***

Eko dan Budi, ya selesai bernyanyi, ya Eko selesai bermain gitarnya.

"Mimpi itu tujuannya untuk bahagia kan Budi?!" kata Eko.

"Iyalah. Mimpi tujuannya untuk bahagia. Kalau bisa sih mimpi jadi kenyataan gitu," kata Budi.

"Memang sih, mimpi bisa jadi kenyataan. Banyak yang telah membuktikan dari mimpinya menjadi kenyataan," kata Eko.

"Salah satu contohnya : orang yang ingin menjadi penyanyi. Dengan usaha keras dan di sertai doa, ya pada akhirnya jadi penyanyi yang luar biasa di panggung yang megah," kata Budi.

"Jadi bintang, ya bisa di bilang artis," kata Eko.

"Sedangkan aku dan Eko, ya masih bermimpi urusan menjadi penyanyi," kata Budi.

"Karena pilihan kita, ya sekedar menyanyi saja. Kita sibuk menanggulangi urusan ekonomi kita dengan kerja setelah lulus dari bangku SMA. Tujuannya segera keluar dari keadaan kemiskinan untuk menjadi orang mampu," kata Eko.

Eko menaruh gitar di samping kursi.

"Pada akhirnya usaha kita berhasil, ya keluar dari kemiskinan menjadi orang mampu. Impian jadi penyanyi, ya jadinya sekedar saja," kata Budi.

"Lebih baik main catur!" kata Eko.

Eko mengambil papan catur di bawah meja, ya di taruh di atas meja.

"Ok main catur!" kata Budi.

Budi dan Eko menyusun bidak catur dengan baik di papan catur. Keduanya, ya main catur dengan baik lah.

KULAKUKAN SEMUA UNTUKMU

Eko duduk santai di depan rumah, ya sebenarnya nunggu Budi dateng main ke rumah sih. Eko menyanyikan makan di meja, ya di piring seperti biasanya gorengan gitu dan minumnya kali ini, ya kopi botolan gitu yang di katakan iklannya enak gitu. Eko memang meminum kopi yang di kemas botol sih, ya memang sih rasa enak. Eko mengambil gitar di samping kursi, ya di mainkan dan bernyanyilah dengan baik. Budi, ya masih dalam perjalannya menuju rumah Eko dengan menggunakan motornya.

Lirik lagu yang dinyanyikan Eko dengan judul dengan judul 'Kulakukan Semua Untukmu' :

Hanya denganmu aku berbagi
Hanya dirimu paling mengerti
Kegelisahan dalam hatiku
Yang selama ini tak menentu
Tak ada ragu dalam hatiku
Pastikan aku jadi cintamu
Seiring waktu yang tlah berlalu
Mungkin kau yang terakhir untukku
Akan kulakukan semua untukmu
Akan kuberikan seluruh cintaku
Janganlah engkau berubah
Dalam menyayangi dan memahamiku
Hmm.ow.ow...
Pegang tanganku, genggam jariku
Rasakan semua hangat diriku
Mengalir tulus untuk cintamu
Tak ada yang lain di hatiku
Akan kulakukan semua untukmu
Akan kuberikan seluruh cintaku
Janganlah engkau berubah
Dalam menyayangi dan memahamiku
Akan kulakukan semua untukmu
Akan kuberikan seluruh cintaku
Janganlah engkau berubah
Dalam menyayangi dan memahamiku
Hmm.ow.ow...
Inilah cintaku, kuberikan untukmu
Setulus hatiku kuberikan untukmu
Akan kulakukan semua untukmu
Akan kuberikan seluruh cintaku
Akan kulakukan semua untukmu
Akan kuberikan seluruh cintaku
Janganlah engkau berubah
Dalam menyayangi dan memahamiku
Akan kuberikan seluruh cintaku
Janganlah engkau berubah
Dalam menyayangi dan memahamiku
Dan memahamiku

***

Budi sampai di rumah Eko, ya memarkirkan motornya dengan baik di halaman depan rumah Eko lah. Budi duduk dengan baik. Eko selesai menyanyi dan main gitar.

"Gorengan," kata Budi.

Budi mengambil tahu goreng dengan cabe rawit di piring di meja, ya tahu goreng dan cabe rawit, ya di makan sih sama Budi.

"Gimana pekerjaan hari ini Budi?!" kata Eko.

"Ya baik sih kerjaan ku Eko," kata Budi.

"Kerjaan ku sama baiknya," kata Eko.

"Abdul ngabarin kerjaanya juga baik," kata Budi.

"Syukurlah usaha Abdul berjalan dengan baik," kata Eko.

"Oooo iya Eko. Barusan nyanyiin lagu apa?!" kata Budi.

"Judul lagunya sih 'Kulakukan Semua Untukmu'..." kata Eko.

"Terima kasih Eko. Telah berbuat baik sama aku, ya aku jadi terkesan saja," kata Budi.

Budi mengambil minuman botol, ya kopilah di meja. Budi minum minuman botol dengan baik.

"Urusan lagu kenapa jadinya urusannya ke Budi?!" kata Eko.

"Becanda Eko," kata Budi, ya sambil menaruh minuman botol di meja.

"Aku memang melakukan semuanya untuk orang yang ku cintai, ya agar senang dan bahagia," kata Eko.

"Ya deh. Yang punya pacar. Segalanya di lakukan Eko, ya dengan baik demi Purnama senang dan bahagia," kata Budi.

Eko menaruh gitar di samping kursi.

"Kadang aku berpikir sesuatu," kata Eko.

"Apa itu?!" kata Budi.

"Apa mungkin keadaan bisa merubah sikap dari Purnama?!" kata Eko.

"Berubah sifat. Kalau cewek lagi dapet, ya pasti berubah sih sifatnya. Jadi jengkel dengan pasangannya," kata Budi.

"Kalau itu sih, ya aku sudah tahu. Maksud ku hal yang lain. Keadaan yang lain," kata Eko.

"Keadaan yang lain. Mungkin sih Eko. Contohnya : salah satu cerita film atau sinetron tentang tokohnya yang berubah karena kehilangan ingatan dari kecelakaan," kata Budi.

"Kehilangan ingatan bisa sih karena kecelakan, ya jadinya berubah deh sifatnya. Atau mungkin bisa rasa kecewa kehilangan orang tua," kata Eko.

"Mungkin sih. Tekan demi tekanan masalah, ya membuat diri cewek bisa berubah sifatnya," kata Budi.

"Mungkin ke hal yang extrim," kata Eko.

"Extrim. Iya Eko. Extrim. Sifat penyakit pisikologis, kaya film atau sinetron yang menceritan tokoh yang mempunyai kepribadian ganda, ya kepribadian itu sangat jahat banget," kata Budi.

"Seperti orang yang di rasukin roh jahat kan Budi?!" kata Eko.

"Iya sih. Seperti orang yang di rasukin roh jahat, ya sifatnya berubah. Menakutkan sekali," kata Budi.

"Sekedar obrolan saja kan Budi?!" kata Eko.

"Iyalah sekedar obrolan saja!" kata Budi.

"Purnama itu menjaga dirinya dengan amal dan ibadah yang baik, ya agar dirinya tidak berubah dari sifatnya yang sebenarnya," kata Eko.

"Cewek soleha, ya kaya artis yang cantik jelita, ya sifat dan tingkah lakunya...mencerminkan cewek soleha," kata Budi.

"Artis yang di maksud siapa?!" kata Eko.

"Ria Ricis saja!" kata Budi.

"Bolehlah Ria Ricis....cewek yang mencerminkan sifat dan tingkah laku...cewek soleha yang bisa membawa diri dalam pergaulan sekarang ini. Terbuka, ya tetap menjaga aturan dari pemahaman ilmu agamanya," kata Eko.

"Pandangan aku dan Eko, ya pandangan dari sisi cowok yang hanya lulus SMA," kata Budi.

"Memang sih pemahaman cowok yang hanya lulus SMA, ya bedalah dengan cowok yang lulusan Universitas," kata Budi.

"Ya sudahlah. Lebih baik kita main catur saja!" kata Eko.

"Ok. Main catur!" kata Budi.

Ya Eko telah mengambil papan catur di bawah meja dan di taruh di atas meja. Eko dan Budi, ya menyusun bidak catur dengan baik di papan catur. Keduanya main catur dengan baik.

Wednesday, October 6, 2021

INDAH PADA WAKTUNYA

Budi duduk santai di depan rumahnya sedang main gitar dan bernyanyi, ya sambil minum kopi dan juga makan gorengan lah. Abdul dengan mengendarai motornya, ya ke rumah Budi lah.

Lirik lagu yang dinyanyikan Budi dengan judul 'Ditikam Asmara' :

Takkan lagi
Aku mencintai
Setelah kau menyakiti
Takkan lagi kucintai
Setelah kau menyakiti
Jangan lagi kau kembali
Walaupun kau tak kubenci
Cukup sudah kurasakan
Oh, pedihnya ditikam asmara
Cinta yang selalu aku dambakan berakhir derita
Engkau yang selalu aku banggakan tiada setia
Walau ku merasa membutuhkan cinta
Mungkin ku trauma kegagalan demi kegagalan
Jera terluka
Jera menderita
Jangan lagi kau kembali
Walaupun kau tak kubenci
Cukup sudah kurasakan
Oh, pedihnya ditikam asmara
Cinta yang selalu aku dambakan berakhir derita
Engkau yang selalu aku banggakan tiada setia
Walau ku merasa membutuhkan cinta
Mungkin ku trauma kegagalan demi kegagalan
Jera terluka
Jera menderita

***

Abdul sampai di rumah Budi, ya memarkirkan motornya dengan baik di halaman depan rumah Budi dengan baiklah. Abdul dengan baik. Budi, ya baru selesai main gitar dan bernyanyi.

"Hari ini hari yang melelahkan," kata Abdul.

"Ya nama juga hidup. Harus kerja keras demi hidup ini berjalan dengan baik," kata Budi.

"Dari kerja keras, ya hasilnya sih berbuah manis," kata Abdul.

"Syukurlah usaha Abdul berjalan dengan baik," kata Budi.

"Alhamdulillah Robbil 'Alamin," kata Abdul.

"Amin!!!!" kata Budi.

"Oooo iya Budi. Eko main ke sini?!" kata Abdul.

"Eko. Lagi ada urusan dengan Purnama. Ya urusan cintalah....seperti biasanya," kata Budi.

"Eko ada urusan dengan Purnama..urusan cinta toh," kata Abdul.

"Kisah cinta ada yang bahagia ada yang tidak," kata Budi.

"Jangan-jangan ada kaitannya dengan lagu yang baru di nyanyikan Budi?!" kata Abdul.

"Ya bisa jadi sih. Lagunya berjudul "Ditikam Asmara'....," kata Budi.

"Rasa sakit dari urusan cinta, ya menderita sih," kata Abdul.

"Untungnya aku belum jatuh cinta, ya baru proses saja....mencari cewek yang baik untuk di jadikan pacar," kata Budi.

"Kalau aku sih Budi, ya sama lah sama Budi. Masih proses juga sih mencari cewek untuk di jadikan pacar," kata Abdul.

"Oooo iya. Abdul ngopi nggak?!" kata Budi.

"Bolehlah," kata Abdul.

Saat Budi beranjak dari duduknya, ya masih memegang gitar. Abdul berkata "Pinjem gitarnya Budi!"

"Niee!!!" kata Budi sambil memberikan gitar pada Abdul.

Abdul mengambil gitar di tangan Budi. Ya Budi masuk rumah, ya langsung ke dapur untuk membuat kopi. Abdul main gitar dan bernyanyi.

Lirik lagu yang dinyanyikan Abdul yang berjudul 'Indah Pada Waktunya' :

Aku memang belum beruntung
Gagal dan selalu gagal lagi
Hatiku tetap dekat
Dan takkan menyerah
Aku masih belum beruntung
Salah dan selalu salah lagi
Di bawah teriknya matahari
Aku tumpahkan isi hatiku
Ingin kuteriak, ingin 'ku menangis
Tapi air mataku sudah tiada lagi
Walau lelah hatiku takkan aku mengeluh
Biarlah hanya Tuhan yang tahu
Sebelum sisa umurku habis
Takkan pernah aku menyerah
Kutetap bermimpi dan bermimpi
Sampai indah pada waktunya
Ingin kuteriak, ingin 'ku menangis
Tapi air mataku sudah tiada lagi
Walau lelah hatiku takkan aku mengeluh
Biarlah hanya Tuhan yang tahu
Sebelum sisa umurku habis
Takkan pernah aku menyerah
Kutetap bermimpi dan bermimpi
Sampai indah pada waktunya
Sebelum sisa umurku habis
Takkan pernah aku menyerah
Kutetap bermimpi dan bermimpi
Sampai indah pada waktunya

***

Budi yang selesai membuat kopi dapur, ya di bawa kopi ke depan rumah. Ya di depan rumah kopi di taruh Budi di meja dengan baik. Abdul masih bernyanyi dan main gitarnya. Ya Budi ikutan bernyanyi juga sih. Sampai akhirnya Abdul dan Budi selesai bernyanyi, ya Abdul selesai main gitarnya.

"Dalam urusan cinta, ya gagal dan gagal, ya bisa di bilang 'Ditikam Asmara'..sih. Pasti masih punya harapan yang baik dari mimpi-mimpi yang selalu di bayangkan dengan baik di pikiran agar itu jadi kenyataan. Kisah cinta yang baik, yang membuat tentram di hati, ya bisa di bilang 'Indah Pada Waktunya'...," kata Abdul.

"Dari proses perjalan cinta yang gagal dan gagal, pada akhirnya......'Indah Pada Waktunya'...," kata Budi.

"Kaya lagu yang baru aku nyanyikan dengan judul 'Indah Pada Waktunya'....," kata Abdul.

"Emmmm," kata Budi.

Abdul menaruh gitar di samping kursi dan Abdul mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik.

"Kalau di lihat dengan baik di acara Tv, ya artis Dewi Persik dengan artis Rara, ya kaya Ibu dan anak," kata Budi.

Abdul menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Ibu dan anak. Lebih baik di bilang Kakak dan adik. Kan artis Dewi Persik, ya masih cantik mempesona gitu, ya aura selalu muda gitu, ya sama jadinya sama aja dengan Rara gitu," kata Abdul.

"Memang sih lebih baik di bilang Kakak dan adik. Keduanya memang mempesona aura kecantikannya," kata Budi.

"Kayanya kita ini menilai sesuatunya berlebihan atau tidak, ya memuji atau menggobal gitu?!" kata Abdul.

"Ya sekedar obrolan saja sih. Emangnya orang yang kita omongin ada di sini?!" kata Budi.

"Memang sih orang yang kita omongin tidak ada di sini. Ok lah sekedar obrolan pemuda pemuda yang jomlo dan juga hanya lulusan SMA saja," kata Abdul.

"Memang pemuda jomlo dan juga lulusan SMA saja," kata Budi menegaskan omongan Abdul.

Abdul melihat lembaran koran di meja, ya di ambil dengan baik lembaran koran tersebut. Budi mengambil tahu goreng dan cabe rawit di piring di meja, ya di makan dengan baik tahu goreng dan cabe lah.

"Foto artis cewek, ya hamil," kata Abdul.

"Memang sih itu foto di koran, ya artis cewek yang hamil. Beritanya sama dengan di Tv," kata Budi.

Budi mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik.

Abdul menaruh lembaran koran di meja.

"Artis cewek yang hamil, ya suaminya artis bisalah mengurus dengan baik istrinya yang hamil itu. Bercukupan hartanya," kata Abdul.

Budi menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Ya nama juga artis kaya," kata Budi.

"Ada sebuah kisah tentang ibu muda yang hamil, ya kerja keras demi kehidupannya. Suaminya kerja sih, ya gajinya kecil sama dengan istrinya. Nama juga lulusan SMA. Sampai waktunya, ya ibu muda itu melahirkan anaknya dengan baik. Kehidupan di jalankan dengan baik, ya dengan keadaannya orang miskin yang berusaha mampu, ya menanggulangi seluruh urusan dengan baik," kata Abdul.

"Nama juga kisah orang miskin yang berusaha keluar dari kemiskinan jadi orang mampu, ya beda dengan orang kaya sih," kata Budi.

"Ya sudahlah. Lebih baik main catur saja!" kata Abdul.

"Ok main catur!" kata Budi.

Budi mengambil papan catur di bawah meja, ya di taruh di atas meja. Budi dan Abdul menyusun dengan baik bidak catur di papan catur. Keduanya main catur dengan baik.

Tuesday, October 5, 2021

JANJI

Budi duduk santai di depan rumah sedang main gitar dan menyanyi, ya menikmati minum kopi dan juga gorengan. Eko dengan menggunakan motornya ke rumah Budi. 

Lirik lagu yang dinyanyikan Budi dengan judul 'Janji' :

Rasa sesal datang lagi
Bila kau ungkit salahku yang dulu
Semua yang kini kulakukan
Masih datangkan rasa ragu di hatimu
Cinta yang kini kurasakan
Selalu ingin kuberikan semua kepadamu
Apa yang harus kubuat lagi
'Tuk beri arti tulusnya cintaku kepadamu
Lupakan sudah masa lalu
Tak akan ada lagi di hati
Hanya janji yang kuberikan
Kuingin s'lalu bersama dirimu
Percayalah...
Cinta yang kini kurasakan
Selalu ingin kuberikan semua kepadamu
Apa yang harus kubuat lagi
'Tuk beri arti tulusnya cintaku kepadamu
Cinta yang kini kurasakan
Selalu ingin kuberikan semua kepadamu
Apa yang harus kubuat lagi
'Tuk beri arti tulusnya cintaku kepadamu
Cinta yang kini kurasakan
Selalu ingin kuberikan semua kepadamu
Apa yang harus kubuat lagi
'Tuk beri arti tulusnya cintaku kepadamu

***

Eko sampai rumah Budi, ya motor di parkir dengan baik di halaman depan rumah Budi. Ya Budi selesai menyanyikan lagu dan main gitarnya. Eko duduk dengan baik.

"Budi tadi nyanyiin lagu apa?!" kata Eko.

"Lagunya Bragi yang judulnya 'Janji'...." kata Budi.

"Oooooo Bragi yang judul lagunya 'Janji'...." kata Eko.

"Kalau berjanji harus di tepatikan....Eko?!" kata Budi.

"Kalau sudah janji memang harus di tepati," kata Eko.

"Kalau urusan cinta, ya jika cowok bersalah pada ceweknya dan berjanji tidak mau berbuat salah lagi. Kenyataan di dapatkan di lingkungan, ya cowok tidak bisa menepati janjinya. Tetap saja selingkuh. Walau cowok itu telah menangis di hadapan ceweknya untuk tidak lagi mengulang kesalahannya," kata Budi.

"Kan banyak orang yang tidak memahami ilmu agama. Jadi jalan kehidupannya, ya menjadi golongan munafik," kata Eko.

"Banyak cowok yang masih urusan cinta pada cewek, ya jadi golongan munafik," kata Budi.

"Kalau ceweknya sadar, ya di tinggalin lah cowoknya," kata Eko.

"Air mata cowok yang berjanji tidak akan mengulangi kesalahan, ya ternyata air mata buaya, ya air mata kebohongannya cowok," kata Budi.

"Banyak nasehat orang tua. Jangan jatuh cinta di masa menjalankan pendidikan, ya akan mempengaruhi pendidikan. Pisikologisnya masih labil," kata Eko.

"Tetap saja nama anak puber, ya di jalanin jatuh cinta, ya pacaran gitu. Mempengaruhi segala pendidikan. Kelabilan terjadi. Lebih banyak sakit jiwanya dari pada normalnya," kata Budi.

"Sampai di duduk di Universitas saja, ya masih tidak bisa mengontrol dari pisikologisnya, ya labil dalam urusan cinta," kata Eko.

"Nama juga cowok. Bilangnya berjanji untuk setia, ya kenyataannya tetap saja selingkuh. Cewek banyak yang terlalu percaya dengan janji manisnya cowok," kata Budi.

"Ketika cowoknya tidak suka lagi dengan ceweknya, ya dengan bicara lantang.....putus. Ceweknya langsung sedih karena di putusin sama cowoknya. Patah hatilah," kata Eko.

"Banyak cerita seperti itu. Cewek di putusin sama cowok. Ceweknya menangis karena sakit hatinya di putusin sama cowoknya," kata Budi.

"Cowok itu banyak berengseknya sih dari pada normalnya," kata Eko.

"Sedangkan kita gimana Eko?!" kata Budi.

"Aku dan Budi, ya berusaha menjadi cowok yang baik. Dalam berteman baik, ya saling mengingatkan. Kalau urusan cinta, ya aku berusaha sebaik mungkin, ya berjanji setia pada Purnama. Jika aku salah, ya aku akan berusaha memperbaiki diriku dengan baik, ya janji sih bisa di bilang. Memperbaiki dirinya dengan cara ibadah saja dengan baik," kata Eko.

"Eko, ya memang ada urusan cinta dengan Purnama. Kalau ada masalah, ya Eko langsung sadar memperbaiki diri dengan baik. Sedang aku, ya belum punya pacar. Ya aku belajar dari Eko saja, ya gimana menjalankan hubungan dengan baik. Ketika aku sudah punya pacar, ya tinggal penyesuaian saja," kata Budi.

"Aku pinjem gitarnya Budi!" kata Eko.

Budi membarikan gitarnya pada Eko sambil berkata "Nieee!"

Eko mengambil gitar di tangan Budi, ya segera Eko memainkan gitarnya dengan baik dan bernyanyilah. Budi pun ke dalam rumah, ya langsung ke dapur untuk membuat kopi lah. 

Lirik lagu yang dinyanyikan Eko dengan judul 'Ulurkan Tanganmu' :

Hari demi hari ku jalan tanpamu
Mimpi demi mimpi hadirkan dirimu
Aku sendiri
Simpan diriku dalam hatimu
Dan bawa aku ke mana kau pergi
Ku bersamamu
Ulurkanlah tanganmu kepadaku
'Kan kubawa kau terbang tinggi
Waktu t'lah berlalu mengiring anganku
Malam pun datang hadirkan bayangmu
Aku sendiri (ha, ha, ha-ah)
Bila suatu saat engkau rindu
Pejamkan mata, bukalah hatimu
Ku bersamamu
Ulurkanlah tanganmu kepadaku
'Kan kubawa kau terbang tinggi
Ulurkanlah tanganmu kepadaku
'Kan kubawa kau terbang tinggi
Berdua kita jelang mimpi indah
Sampai tiba saat kau kembali

***

Budi selesai membuat kopi, ya kopi di bawa ke depan rumah. Di depan rumah, ya Budi menaruh gelas berisi kopi di meja dan Budi dengan baik. Eko masih bernyanyi dan main gitar, ya Budi ikutan bernyanyi lah. Sampai selesailah. Eko dan Budi berhenti bernyanyi, ya berhenti main gitar. Gitar di taruh Eko di samping kursi.

"Sebenarnya hubungan aku dengan Purnama, ya inginnya pegang tangan sih. Walau pun sebenarnya aku pernah meminta pada Purnama untuk mengulurkan tangannya, ya agar aku pegang erat dan kita berdua, ya terbawa suasana senang seperti mimpi yang indah gitu," kata Eko.

"Kenyataan Eko?!" kata Budi.

"Tidak pernah. Purnama terlalu paham agama. Katanya setelah menikah, ya bolehlah pegang tangan, yang lainnya di berikan semuanya untuk aku," kata Eko.

"Jadi hubungan kisah cinta Eko dan Purnama, ya tidak boleh melanggar dari aturan toh," kata Budi.

"Ya begitulah," kata Eko.

"Sama aja. Pernikahan Eko dan Purnama, ya di gantung. Sampai waktunya Eko dan Purnama resmi jadi suami istri," kata Budi.

"Memang sih urusan pernikahannya di gantung. Karena akunya harus mengumpulkan biaya sebaik mungkin, maklum dari keadaan orang miskin, ya berusaha untuk jadi mampu. Ya maklum cuma lulusan SMA," kata Eko.

"Aku sebagai teman, ya mengertilah keadaan Eko," kata Budi.

Eko mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik. Budi mengambil beberapa lembaran kertas di meja, ya foto sih di ambil dari koran gitu.

"Eko!" kata Budi.

Eko menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Apa Budi?!" kata Eko.

"Dari foto ini mana cewek yang cantik," kata Budi.

Budi menunjukkan foto cewek cantik yang di ambil dari koran, ya lembaran koranlah. Foto itu ada lima cewek, yang ke enam sih, ya Eko pun berkata "Cantik."

Budi pun terkejut banget dengan omongan Eko karena foto yang ke enam di bilang cantik.

"Eko...foto yang ke enam di bilang cantik juga?!" kata Budi.

"Memang sih fotonya foto cowok, ya harusnya aku bilang ganteng, ya tapi kan tuh cowok gayanya kaya cewek," kata Eko.

"Iya sih gayanya cowok di foto ini kaya cewek," kata Budi.

"Foto itu yang Budi ambil dari koran, ya foto artis semua!" kata Eko.

"Memang sih artis semuanya. Aku tertarik dengan salah satu artis," kata Budi, ya menunjukkan foto artis itu sama Eko.

"Artis ini. Memang cantik sih. Tapi umurnya di atas aku dan Budi," kata Eko.

"Aku suka dengan kedewasaan dari kecantikan ini artis," kata Budi.

"Lumrah saja sih menyukai cewek yang lebih tua dari Budi," kata Eko.

"Ini cewek kata di berita di Tv, ya sedang dekat dengan cowok sih, ya bisa di bilang pacaran," kata Budi.

"Budi beneran suka apa sekedar?!" kata Eko.

"Sekedar saja sih,"kata Budi.

"Oooo. Sekedar saja," kata Eko.

"Via Vallen itu cantik!" kata Budi.

"Emmm," kata Eko.

Budi menaruh foto, ya lembaran koran di mejalah.

"Main catur saja!" kata Budi.

"Ok main catur!" kata Eko.

Budi mengambil papan catur di meja, ya papan catur di taruh di atas meja. Bidak catur pun di susun dengan rapih papan catur sama Budi dan Eko. Keduanya main catur dengan baik banget.

Monday, October 4, 2021

SETIA

Budi dengan menggunakan motornya, ya ke rumah Eko lah. Eko duduk di depan rumah sedang main gitar dan bernyanyi, ya sambil minum kopi dan gorengan.

Lirik largu yang dinyanyikan Eko dengan judul 'Setia' :

Deras hujan yang turun
Mengingatkanku pada dirimu
Aku masih di sini untuk setia
Selang waktu berganti
Aku tak tahu engkau di mana oh
Tapi aku mencoba untuk setia
Sesaat malam datang
Menjemput kesendirianku
Dan bila pagi datang
Kutahu kau tak di sampingku
Aku masih di sini untuk setia
Selang waktu berganti
Aku tak tahu engkau di mana
Tapi aku mencoba untuk setia
Sesaat malam datang
Menjemput kesendirianku
Dan bila pagi datang
Kutahu kau tak di sampingku
Aku masih di sini untuk setia
Aku masih di sini untuk setia
Aku masih di sini untuk setia

***

Budi sampai di rumah Eko, ya memarkirkan motornya dengan baik di halaman depan rumah Eko lah. Budi duduk dengan baik. Eko selesai menyanyikan lagu dan juga main gitarnya.

"Hari ini hari yang melelahkan," kata Budi.

"Melelahkan karena kerja...kan Budi?!" kata Eko.

"Iya iyalah Eko kerja. Kalau aku tidak kerja dengan baik. Aku tidak menghasilkan uang, ya tidak bisa bayar cicilan kredit motor. Nama juga nasif orang miskin berusaha menjadi mampu. Ya usahanya keras banget, ya di sisi orang baiklah. Kan ada sisi lain...yang buruk, orang-orang yang kerjaannya main gampangnya mencuri, menipu dan merampok. Apalagi kalau yang di curi orang miskin, ya orang miskin jadi miskin lagi," kata Budi.

"Sisi Budi sih baik, ya sama dengan aku...sisi baik di jalan kebaikan. Berusaha dengan kerja keras, ya membayar cicilan motor, ya begitu dengan aku. Kalau urusan orang yang sisi buruk sih. Orang pikirannya kebelinger sih. Yang miskin di curi uangnya, ya tambah miskin. Kadang terjadi itu, ya salah berteman sih," kata Eko.

"Teman makan teman," kata Budi.

"Kadang teman dengan sembunyi-sembunyi menjatuhkan temannya, ya dalam urusan kerjaan," kata Eko.

"Kadang juga terang-terangan menjatuhkan. Ya pengalaman menjalankan hidup di kota ini kan Eko?!" kata Budi.

"Ya memang sih pengalaman hidup di kota ini. Kota Bandar Lampung. Padahal di kota lain juga sama aja, ya ada pergaulan yang baik dan ada pergaulan yang buruk, ya saling menjatuhkan," kata Eko.

"Oooo iya Eko nyanyiin lagu apa?!" kata Budi.

"Lagunya Jikustik dengan judul 'Setia'...," kata Eko.

"Setia. Urusan cinta Eko dengan Purnama," kata Budi.

"Kok tahu," kata Eko.

"Ya tahu lah Eko. Eko kan sedang menjalankan urusan cintan dengan Purnama. Pasti merasakan keadaan ini dan itu. Moment ini dan itu," kata Budi.

"Memang sih aku akui sih. Lagu 'Setia' ini kena dengan keadaan ku," kata Eko.

"Lagunya 'Setia' memang sih populer di masanya. Ya kalau mendekati orang yang menjalankan urusan cinta, ya jadi populer lagi kalau di nyanyikan dengan baik, ya sebatas orang yang menyukai lagu ini dan itu," kata Budi.

"Tepatnya penggemar saja kan," Eko.

"Pinjem gitarnya!" kata Budi.

Eko memberikan gitar pada Budi sambil berkata "Niee."

Budi mengambil gitar dari tangan Eko, ya mau di mainkan dan bernyanyilah Budi. Eko beranjak dari duduknya, ya ke dalam rumah langsung ke dapur untuk membuatkan kopi untuk Budi.

Lirik lagu yang di nyanyikan Budi dengan judul 'Puisi' :

Aku yang pernah Engkau kuatkan
Aku yang pernah Kau bangkitkan
Aku yang pernah Kau beri rasa
Saat ku terjaga
Hingga ku terlelap nanti
Selama itu aku akan selalu mengingat-Mu
Kapan lagi kutulis untuk-Mu
Tulisan-tulisan indahku yang dulu
Pernah warnai dunia
Puisi terindahku hanya untuk-Mu
Mungkinkah Kau 'kan kembali lagi
Menemaniku menulis lagi
Kita arungi bersama
Puisi terindahku hanya untuk-Mu
Saat ku terjaga
Hingga ku terlelap nanti
Selama itu aku akan selalu mengingat-Mu
Kapan lagi kutulis untuk-Mu (haa-i-aa-i-aa)
Tulisan-tulisan indahku yang dulu
Pernah warnai dunia
Puisi terindahku hanya untuk-Mu
Mungkinkah Kau 'kan kembali lagi (haa-i-aa-i-aa)
Menemaniku menulis lagi
Kita arungi bersama (haa-aa-aa)
Puisi terindahku hanya untuk-Mu
Kapan lagi kutulis untuk-Mu (haa-i-aa-i-aa)
Tulisan-tulisan indahku yang dulu
Pernah warnai dunia
Puisi terindahku hanya untuk-Mu
Mungkinkah Kau 'kan kembali lagi (haa-i-aa-i-aa)
Menemaniku menulis lagi
Kita arungi bersama (haa-aa-aa)
Puisi terindahku hanya untuk-Mu

***

Eko selesai membuat kopi di dapur, ya di bawa ke depan rumah. Budi masih bernyanyi dan main gitar dengan baik. Kopi di taruh dengan baik di meja, ya sama Eko. Ya Eko ikut bernyanyi bersama Budi karena lagunya bagus sih masih kaitan dengan Jikustik sih. Pada akhirnya Budi selesai menyanyi dan main gitar, ya Eko berhenti bernyanyi juga sih. Gitar di taruh Budi samping kursi.

"Kadang kita teringat masa sekolah, ya Eko. Di suruh buat puisi saat pelajaran Bahasa Indonesia," kata Budi.

"Iya sih. Kadang kita teringat pada masa sekolah, ya membuat puisi saat pelajaran Bahasa Indonesia. Saat aku lulus SMA dan jatuh cinta pada gadis yang cantik, ya Purnama. Aku membuatkan puisi yang menyatakan perasaan ku pada Purnama," kata Eko.

"Cinta Eko di terima dengan baik sama Purnama. Sama halnya puisi yang di buatkan Eko untuk Purnama, ya di terima dengan baik," kata Budi.

"Ya begitulah. Puisi itu di simpan dengan baik sama Purnama di buku Diary-nya, ya kebiasaan ceweklah," kata Eko.

"Apakah Eko pernah menyanyikan lagu cinta, ya di persembahkan untuk Purnama gitu?!" kata Budi.

"Ya pernahlah. Saat aku main ke rumah Purnama. Ya Purnama senang saja sih mendengarkan lagu cinta yang aku persembahkan untuknya dengan baik," kata Eko.

"Kisah cinta Eko, ya kaya di sinetron dan juga film-film. Kisah cinta yang begitu menyentuh dengan baik," kata Budi.

Budi mengambik gelas yang berisi kopi di meja, ya di minum dengan baiklah.

"Yang sulit itu dari urusan cinta, ya tetap setia itulah," kata Eko.

Budi menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Setia memang susah. Karena ujiannya banyak," kata Budi.

"Ya sudahlah. Kita main catur apa main kartu remi?!" kata Eko.

"Main kartu remi aja Eko!" kata Budi.

"Ok. Main kartu remi!" kata Eko.

Eko mengambil kartu di atas papan catur, ya di bawah meja. Eko mengocok kartu remi dengan baik, ya di bagikan dengan baik. Eko dan Budi, ya main cangkulan dengan baik.

JUJUR DAN BOHONG

Eko dan Budi sedang duduk santai di depan rumah Budi, ya sambil minim kopi dan makan gorengan. Keadaan memang malam sih.

"Hidup manusia itu antara jujur dan bohong....kan...Budi?!" kata Eko.

"Hidup manusia, ya antara jujur dan bohong," kata Budi.

Budi mengambil tahu gorengan di piring dengan cabe rawit, ya di makan dengan baik. 

"Repot ya...urusan manusia itu," kata Eko.

Eko mengambil tahu gorengan di piring dengan cabe, ya di makan dengan baik

"Memang sih repot. Ya jalan peradaban manusia dari dulu sampai sekarang, ya isinya jujur dan bohong," kata Budi.

"Yang jujur, ya alam ini. Langit yang gelap, ya bertabur bintang di langit. Angin bertiup sepoy sepoy," kata Eko.

Eko mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopinya. 

"Memang alam dunia ini jujur," kata Budi. 

Budi, ya mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum kopi dengan baik. 

"Esok pagi, ya di mulai lagi aktivitas manusia. Kerja dan kerja," kata Eko. 

Eko gelas berisi kopi di taruh meja. 

"Dulu kota Bandar Lampung, ya jalan sepi. Sekarang rame hilir mudik dari motor sampai mobil. Manusia menggerakkan motor dan Mobilnya dengan tujuan masing-masing, ya ekonomi ini dan itu," kata Budi. 

Budi menaruh gelas berisi kopi di meja. 

"Sama aja dengan kota-kota lain, ya rame hilir mudik kendaraan motor dan mobil," kata Eko. 

"Manusia silih berganti. Yang tua di gantikan yang muda. Tujuannya mengisi dunia ini, ya di nikmati dengan cara masing-masing....sampai manusia itu lupa diri dengan menikmati dunia ini," kata Budi. 

"Memang sih ada lupa diri menikmati dunia ini, ya sampai merugikan orang lain dan menyakiti orang lain," kata Eko. 

Eko mengambil bakwan goreng dan cabe rawit di piring dan di makan dengan baiklah. 

"Beda dengan kita, ya menikmati dengan cara minum kopi dan makan gorengan," kata Budi. 

Budi mengambil tahu goreng dan cabe rawit di piring dan di makanlah dengan baik. 

"Cukup dengan menikmati dengan cara baik saja, ya cukup dengan minum kopi dan makan gorengan," kata Eko mengaskan omongan Budi. 

"Ya sudah. Lebih baik main catur saja, ya termasuk menikmati keadaan dengan cara baik," kata Eko. 

"Oke main catur!" kata Budi. 

Eko sudah mengambil papan catur di bawah meja dan papan catur di taruh meja. Bidak catur di susun dengan baik banger di papan catur sama Eko dan Budi. Keduanya, ya main catur dengan baik banger. Sedangkan Abdul di rumahnya, ya menikmati dengan keadaan....main Play Stasion saja. 

Sunday, October 3, 2021

CERITA MISTERI

Eko duduk di depan rumahnya sedang baca koran, ya sambil minum kopi dan gorengan. 

"Kebiasaan aku baca koran ini. Apa aku bawa sampai nikah, ya sarungan?!" celoteh Eko.

Eko terus membaca korannya dengan baik. Budi sampai di rumah Eko, ya memarkirkan motornya dengan baik di halaman depan rumah Eko. Ya Budi duduk dengan baik dan melihat gorengan di piring di meja.

"Gorengan," kata Budi.

Budi mengambil tahu goreng dengan cabe rawit, ya di makan dengan baik. Eko, ya menghentikan baca korannya, ya koran di taruh di meja. Ya Eko beranjak dari tempat duduknya, ya ke dalam rumah langsung ke dapur membuat kopi. Budi, ya terus menikmati makan tahu goreng sama cabe rawitlah. Kopi telah jadi buat Eko, ya di bawa ke depan rumah. Sampai di depan rumah, ya Eko menaruh kopi di mejalah dan Eko duduk dengan baik.

"Kopinya Budi!" kata Eko.

"Iya," kata Budi.

Budi mengambil gelas berisi kopi di meja dan di minum dengan baik.

"Giman kerjaan Budi?!" kata Eko.

Budi menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Baiklah Eko," kata Budi.

"Ooooo baik toh. Sama dengan ku," kata Eko.

"Eko. Aku ada cerita misteri," kata Budi.

"Tumben cerita misteri. Biasanya urusan Budi kan urusan cinta, ya mencari cewek cantik yang mau di ajak nikah sama Budi," kata Eko.

"Hal urusan cewek di sampingin dulu Eko. Cerita misteri dulu!" kata Budi.

"Ok. Ceritakan cerita misteri itu!" kata Eko.

"Ada seorang pemuda yang dapat mendengarkan suara gaib. Pemuda itu mendatangi Ustad, ya minta di bacain doa pengusir ganguan dari hal yang gaib-gaib. Ustad itu membacakan ayat-ayat Al Qur'an dengan baik. Pemuda itu tetap tenang saja. Biasanya kan kalau orang kerasukan jin atau setan sekalipun di bacakan ayat-ayat Al Qur'an, pastinya kesakitan jin atau setan dan orang yang di rasukin, ya merasakan kesakitan. Ustad menyerah karena tidak bisa mengusir yang menggangu pemuda itu. Pemuda itu pun meminta ahli-ahli agama lainnya, ya di bacakan kitab ajaran agama untuk mengusir gangguan dari hal yang gaib. Tetap hasilnya sama. Pemuda itu tetap tenang saja. Pemuda itu meminta bantuan sama dukun yang ilmu hitam dan putih. Pada akhirnya, ya hasilnya tetap sama. Dukun tidak mampu mengusir ganguan pada pemuda itu. Jadi pemuda itu menerima jalan kehidupannya, ya mendengarkan suara gaib itu terus menerus dari pagi sampai malam, ya dari malam sampai pagi. Begitu terus setiap harinya," cerita Budi dengan baik.

"Semua ahli ilmu agama dan juga ilmu yang lain, ya dukun tidak bisa membantu pemuda itu dari ganguan mendengarkan suara gaib," kata Eko.

"Ya begitulah," kata Budi.

"Aku lulusan SMA, ya mana tahu ilmu gaib," kata Eko.

"Aku juga sama. Lulusan SMA, ya aku mana tahu dengan ilmu gaib," kata Budi.

"Suara gaib itu makluk apa sampai semua ahli ilmu agama kalah?!" kata Eko.

"Lanjutan ceritanya, ya makluk itu roh sih, ya bisa di bilang malaikat yang membimbing pemuda itu," kata Budi.

"Ya pantes semua ahli agama sampai ahli perdukunan tidak bisa mengalahkan malaikat. Malaikat kan memahami semua ilmu," kata Eko.

"Bagus enggak cerita misterinya?!" kata Budi.

"Ya bagus saja sih...ceritanya cerita misteri kehidupan!" kata Eko.

"Kehidupan ini kan ada hal-hal yang tidak di duga-duga di lingkungan masyarakat, ya antara benar atau tidak cerita misteri," kata Budi.

"Sama halnya cerita misteri yang di tayangkan di Tv," kata Eko.

"Jadi tetap misterinya kehidupan ini kan Eko?!" kata Budi.

"Iyalah tetap misterinya kehidupan ini. Mungkin dari sekian banyak manusia di muka bumi ini, ya pastinya ada orang yang dapat mendengarkan suara gaib," kata Eko.

"Kelebihan manusianya, ya bisa di bilang karomah kan...Eko?!" kata Budi.

"Iya!" kata Eko.

"Kalau begitu main catur apa main remi?!" kata Budi.

"Main catur saja!" kata Eko.

Eko mengambil papan catur di bawah meja dan papan catur di taruh di atas meja. Eko dan Budi, ya menyusun dengan baik bidak catur. Keduanya main catur dengan baik.

MUTIARA HITAM

Budi duduk dengan santai di depan rumah sedang main gitar dan juga bernyanyilah, ya sambi minum kopi. Lagu yang dinyanyikan Budi masih ada kaitannya dengan Papua sih.

Lirik lagu yang dinyanyikan Budi dengan judul 'Tanah Papua' :

Tanah Papua tanah yang kaya
Surga kecil jatuh ke bumi
Seluas tanah sebanyak madu
Adalah harta harapan
Tanah papua tanah leluhur
Di sana aku lahir
Bersama angin, bersama daun
Aku di besarkan
Hitam kulit keriting rambut, aku Papua
Hitam kulit keriting rambut, aku Papua
Biar nanti langit terbelah, aku Papua
Tanah Papua tanah leluhur
Di sana aku lahir
Bersama angin, bersama daun
Aku di besarkan
Hitam kulit keriting rambut, aku Papua
Hitam kulit keriting rambut, aku Papua
Biar nanti langit terbelah, aku Papua
Hitam kulit keriting rambut, aku Papua
Hitam kulit keriting rambut, aku Papua
Biar nanti langit terbelah, aku aku Papua
Aku Papua, aku Papua
Aku Papua
Hitam kulitku, aku Papua
Keritin rambutku, aku Papua
Aku Papua, aku aku
Aku Papua, aku Papua

***

Abdul sampai di rumah Budi, ya memarkirkan motornya dengan baik sih di halaman rumah Budi. Abdul duduk dengan baik. Budi, ya selesai bernyanyi dan main gitarnya.

"Budi. Nyanyi lagu apa?!" kata Abdul

"Lagu berjudul 'Tanah Papua'..." kata Budi.

"Kan Budi bukan orang Papua?!" kata Abdul.

"Emang aku bukan orang Papua. Tapi aku sekedar bernyanyi saja. Karena kan Papua lagi mengadakan PON, ya acara Tv temanya olahraga. Ya menghormati dan menghargai semua orang yang berjuang di bidang olahraga di Papua gitu dengan nonton Tv saja kan sudah cukup," kata Budi.

"Ooooo....menghargai dan menghormati...orang-orang yang berlaga di bidang olahraga, ya bisa dibilang sih bintang dan artisnya olahraga," kata Abdul.

Abdul melihat sebuah lebaran koran di meja dan di ambil Abdul sih.

"Ini foto cantik banget," kata Abdul.

"Kan itu itu gambar di koran, bisa di bilang foto sih. Fotonya orang Papua," kata Budi.

"Mutiara Hitam dari Papua," kata Abdul.

"Kok jadinya Mutiara Hitam, ya Abdul?!" kata Budi.

"Mutiara biasanya warna apa?!" kata Abdul.

"Ya biasanya. Kayanya putih sih," kata Budi.

"Yang gak biasakan warna hitam?!" kata Abdul.

"Memang sih yang enggak biasa warna hitam. Mutiara warna hitam dianggap langkah lah," kata Budi.

"Orang Papua, ya warna kulitnya hitam kan?!" kata Abdul.

"Kan kenyataannya begitu. Orang Papua warna kulitnya hitam. Di lirik lagu yang aku nyanyikan juga menjelaskan dengan baik siapa orang Papua itu," kata Budi.

"Jadi penghargaannya, ya bisa kita julukin dengan Mutiara Hitam dari Papua dan juga harganya mahal," kata Abdul.

"Mutiara Hitam dari Papua," kata Budi.

"Kan sekedar obrolah pemuda yang hanya lulusan SMA saja," kata Abdul.

Abdul menaruh lebaran koran di meja.

"Nama juga obrolan pemuda lulusan SMA saja. Beda dengan lulusan Universitaslah," kata Budi.

"Obrolan ada baik dan buruknya kan Budi?!" kata Abdul.

"Memang sih. Obrolan ada baik dan buruknya. Nama juga obrolan!" kata Budi menegaskan omongan Abdul.

"Aku pinjem gitarnya Budi!" kata Abdul.

Budi menyerahkan gitar pada Abdul sambil berkata "Niee!"

Abdul mengambil gitar dari tangan Budi. Ya Budi masuk ke dalam rumah langsung ke dapur untuk membuat kopi. Abdul memainkan gitar dan bernyanyi. 

Lirik lagu yang dinyanyikan Abdul dengan judul 'Apuse' :

Apuse kokon dao

Yarabe soren doreri

Wuf lenso bani nema beki pase

Apuse kokon dao

Yarabe soren doreri

Wuf lenso bani nema beki pase

Arafa Bye aswara war

Arafa Bye aswara war

Apuse kokon dao

Yarabe soren doreri

Wuf lenso bani nema beki pase

Arafa Bye aswara war

Arafa Bye aswara war

Apuse kokon dao

Yarabe soren doreri

Wuf lenso bani nema beki pase

Arafa Bye aswara war

Arafa Bye aswara war

***

Budi selesai membuat kopi, ya kopi di bawa ke depan rumah. Di depan rumah, ya Budi menaruh gelas kopi di mejalah. Abdul selesai menyanyi dan main gitarnya. Budi duduk dengan baiklah.

"Abdul. Lagu yang baru dinyanyikan lagu anak," kata Budi.

"Aku hafalnya lagu anak-anak dan juga masih kaitan dengan Papua kan Budi?!" kata Abdul.

Abdul menaruh gitar di samping kursi dan mengambil gelas berisi kopi di meja dan di minum dengan baik.

"Iya sih masih ada kaitannya dengan Papua, ya Mutiara Hitam sih. Kalau begitu, ya olahraga yuk Abdul!" kata Budi.

Abdul menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Olahraga apa?!" kata Abdul.

"Catur!!!" kata Budi.

"Ya memang sih catur masuk dalam cabang olahraga. Aku kirain olahraga lain gitu?!" kata Abdul.

"Maksudnya Bulutangkis atau Futsal?!" kata Budi.

"Senam untuk kesehatan jantung!" kata Abdul.

"Ya sudahlahlah. Catur!!!" kata Budi.

"Ok. Catur!!!" kata Abdul.

Budi mengambil papan catur di bawah meja dan papan catur di taruh di atas meja. Budi dan Abdul menyusun dengan baik bidak catur. Keduanya main catur dengan baik.

Saturday, October 2, 2021

DAMAI

Eko duduk di depan rumah sedang menyanyi dan main gitar, ya sambil minum kopi lah.

Lirik yang di nyanyikan Eko dengan judul 'Damai' :

Kuhirup udara pagi
Bersama indah mentari
Kulalui hari ini
Dengan hati berseri
Akankah tercipta damai
Di dalam dunia ini
Akankah terjalin rasa
Saling peduli
Wo-o ... damainya hatiku
Kala mentari bersinar lagi
Wo-o ... damainya hatiku
Kala mentari bersinar lagi
O-o-oh ...
Wo-o ... damai hati ini
Kutuangkan dalam sebuah lagu
Wo-o ... mentari berlalu
Membawa semua ke alam mimpi
Wo-o ... damainya hatiku
Kala mentari bersinar lagi
Wo-o ... damainya hatiku
Kala mentari bersinar lagi
Wo-o ... damainya hatiku
Kala mentari
Bersinar lagi
O-o-oh ...
Bersinar lagi
O-o-oh ...

***

Budi dateng ke rumah Eko, ya memarkirkan motornya dengan baik di halaman rumah. Budi duduk dengan baik. Ya Eko selesai menyanyikan lagu dan main gitarnya.

"Eko asik sendirian main gitar dan bernyanyi," kata Budi.

"Budi kan baru dateng ke sini. Jadi aku asik sendirian bernyanyi dan main gitarnya," kata Eko.

"Lagu yang baru di nyanyikan tadi, ya lagu apa Eko?!" kata Budi.

"Lagunya Wayang yang judulnya 'Damai'...," kata Eko.

"Ooooo lagu Wayang toh dengan judulnya 'Damai'..," kata Budi.

"Memang keadaan diriku merasa damai gitu," kata Eko.

"Karena rasa damai itu di rasakan dengan baik, ya sama Eko. Sedang aku? Ya merasakan kedamaian sih. Dari keadaan lingkungan sekitar sini yang tenang sih," kata Budi.

"Budi kopi?!" kata Eko.

"Boleh lah..Eko," kata Budi.

"Kalau begitu aku buat dulu kopinya di dapur," kata Eko.

Eko beranjak dari duduknya, ya membawa gitar sih. 

"Eko pinjem gitarnya, ya biasa bernyanyi gitu!" kata Budi.

Eko memberikan gitarnya pada Budi dan berkata "Nie gitarnya!"

Budi mengambil gitar dari tangan Eko. Ya Eko masuk ke dalam rumah langsung ke dapur untuk membuat kopi di dapurlah. Budi main gitar dan bernyanyi.

Lirik lagu yang di nyanyikan Budi dengan judul 'Dongeng Sebelum Tidur' :

Di malam ini aku tak dapat memejamkan mata
Terasa berat bagai diri terikat mimpi, oh...
Kuingin satu, satu cerita, mengantarku tidur, biar 'ku terlelap
Mimpikan hal yang indah, lelah hati tertutupi
Dongeng sebelum tidur, ceritakan yang indah biar 'ku terlelap
Dongeng sebelum tidur, mimpikan diriku, mimpikan yang indah
Gelisah 'ku tak menentu, pikiran melayang (pikiran melayang)
Di benakku hanyalah ada lelah yang terasa
Dongengmu sebelum tidur, ceritakan yang indah biar 'ku terlelap
Dongeng sebelum tidur, ceritakan yang indah biar 'ku terlelap
Dongeng sebelum tidur, mimpikan diriku, mimpikan yang indah
Dongeng sebelum tidur, ceritakan yang indah biar 'ku terlelap
Dongeng sebelum tidur, mimpikan diriku, mimpikan yang indah
Aneka banyak cerita, ceritakanlah semua hingga ku terlelap
Dongeng sebelum tidur, mimpikan diriku, mimpikan yang indah
Dongeng sebelum tidur, ceritakan yang indah biar 'ku terlelap
Dongeng sebelum tidur, mimpikan diriku, mimpikan yang indah
Dongengmu sebelum tidur, oh...

***

Kopi pun jadi di buat Eko, ya di bawa depan rumah. Eko di depan rumah menaruh gelas berisi kopi di meja. Ya Budi masih bernyanyi dan main gitar. Eko duduk dengan baik, ya ikutan bernyanyi sih bersama Budi, ya sampai selesai sih. Budi pun berhenti bernyanyi dan main gitar, ya Eko juga berhenti menyanyi juga.

"Nyanyiin lagunya Wayang juga, ya Budi. Lagunya berjudul 'Dongeng Sebelum Tidur'....," kata Eko.

"Kan mengikuti alurnya dari Eko," kata Budi.

"Ooooo begitu," kata Eko.

Budi menaruh gitar di samping kursi dan segera mengambil gelas berisi kopi di meja, ya di minum dengan baik kopi.

"Kalau di masa kecil, ya pernah sih Ibu menceritakan dongeng sebelum tidur. Ya tidurku jadi nyenyak karena cerita yang di ceritakan Ibu dengan baik, ya tujuannya mengajarkan makna dari cerita di buat dengan baik," kata Eko.

Budi menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Kayanya aku juga Eko. Ya Ibu ku mendongengkan aku saat aku mau tidur sih. Aku bermimpi indah banget, ya berada di taman surga gitu," kata Budi.

"Masa mimpinya sampai segitunya Budi?!" kata Eko.

"Ya kan bisa terjadi. Nama juga mimpi," kata Budi.

"Kalau aku. Mimpi ku, ya aku tidak ingat mimpi ku. Pokoknya aku merasa damai saja, ya tidurnya tenang gitu tidak ada gelisah," kata Eko.

"Sama aku juga sih Eko. Merasa damai dalam tidur ku karena Ibu mendongengkan cerita sebelum tidur," kata Budi.

"Budi kan ikutan saja," kata Eko.

"Kan mengikuti alurnya Eko!" kata Budi.

"Iya deh mengikuti alurnya," kata Eko.

"Main catur saja Eko!" kata Budi.

"Oke deh main catur!" kata Eko.

Eko mengambil papan catur di bawah meja dan papan catur di taruh di atas meja. Eko dan Budi menyusun dengan baik bidak catur di papan catur. Keduanya main catur dengan baik

GEJOLAK KAWULA MUDA

Budi dengan mengendarai motornya dengan baik, ya ke rumah Ekolah. Eko duduk di depan rumah sedang main gitar dan bernyanyi, ya sambil minum kopi dan makan gorengan sih.

Lirik lagu yang dinyanyikan Eko dengan judul 'Gejolak Kawula Muda' :

Kau yang selalu hadir dalam tiap langkahku
Hangatkan hariku dengan panas cintamu
Genggam erat janjiku untukmu
Kau kan selalu dekatku
Kau sinari malamku dengan kasihmu
Kau tuangkan air dalam haus rinduku
Kau selalu hembuskan cintamu
Kau selalu kudamba
Kau teduhkan hatiku di setiap risauku
Kau padamkan cemburu di dalam kalbu
Kau rangkai mimpiku di lelahku
Kau selalu kupuja
Jangan lah kau berpaling dariku
Percaya akan cintaku kepadamu
Biarkan hatiku dan jiwamu
Terpaut dalam satu jalinan kasih asmara
Kau teduhkan hatiku di setiap risauku
Kau padamkan cemburu di dalam kalbu
Kau rangkai mimpiku di lelahku
Kau yang selalu kupuja

***

Budi sampai di rumah Eko, ya memarkirkan motor dengan baik di halaman depan rumah sih. Budi pun duduk dengan baik. Eko selesai bernyanyi dan main gitar. 

"Gorengan," kata Budi.

Budi mengambil tahu goreng dengan cabe rawit di piring dan segera di makan dengan baik.

"Ngopi Budi?!" kata Eko.

"Iya," kata Budi.

"Ok, aku buatan kopinya," kata Eko.

Eko menaruh gitar di samping kursi dan beranjak dari duduknya, ya bergerak masuk ke dalam rumah langsung ke dapur untuk membuat kopi. Budi asik makan tahu goreng dengan cabe rawit sih. Eko selesai membuat kopi, ya di bawa ke depan rumah. Ya di depan rumah, ya kopi di taruh di meja.

"Kopinya Budi," kata Eko.

"Iya," kata Budi.

Budi mengambil gelas yang berisi kopi di meja, ya segera di minum dengan baik. Eko mengambil bakwan goreng di piring berserta cabe rawit sih dan di makan dengan baik. Budi menaruh gelas berisi kopi, ya di mejalah.

"Eko. Tadi nyanyi lagu apa?!" kata Budi.

"Aku nyanyi lagunya Clubeighties dengan judul 'Gejolak Kawula Muda'....," kata Eko.

"Ooooo 'Gejolak Kawula Muda'....kaya kita ini kan Eko?!" kata Budi.

"Iya iyalah," kata Eko.

"Berarti masa kita kan Eko?!" kata Budi.

"Memang masa kita. Emangnya masa siapa?!" Eko.

Eko mengambil gelas berisi kopi di meja dan meminumnya dengan baik.

"Bisa saja masa orang tua kita. Banyak lagu kan dibuat dan dinyanyikan pada masa orang tua kita. Lagu itu populer dengan baik. Lalu di nyanyikan kembali pada masa ini, ya masa kita," kata Budi.

Eko menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Gejala keadaannya masih kena dengan masa ini. Maka lagu lama dinyanyikan kembali di masa ini," kata Eko.

"Iya juga ya karena gejalanya sama sih. Maka di nyanyikan kembali," kata Budi menegaskan omongan Eko.

"Contohnya sih : perjalanan cinta ku dengan Purnama. Bisa dibilang 'Gejolaknya Kawula Muda'. Dari proses aku mengenal Purnama, ya tumbuh benih cinta dan bersemi menjadi bunga. Aku dan Purnama jadian gitu," kata Eko.

"Contoh Eko tempat sih. Apalagi dengan urusan aku, ya mencari cinta yang tepat sih. Cewek yang mau jadian sama aku. Bisa di bilang juga 'Gejolak Kawula Muda'..," kata Budi.

"Ya sudahlah. Lebih baik kita main catur saja!" kata Eko.

"Main catur lagi," kata Budi.

"Emangnya mau main apa?!" kata Eko.

"Main bulu tangkis lah. Kan ada sinetron yang lagi tayangkan di Tv, ya temanya tentang bulu tangkis karena cabang olahraga bulu tangkis lagi naik daun," kata Budi.

"Catur juga sama dengan olah raga juga kan Budi?!" kata Eko.

"Memang sih catur termasuk olah raga sih. Ya sudahlah. Gaya kita saja. Main catur saja!" kata Budi.

"Emmmmm," kata Eko.

Eko mengambil papan catur di bawah meja dan papan catur di taruh di atas meja. Eko dan Budi menyusun dengan baik bidak catur. Keduanya main catur.

"Oooo iya. Eko apa tanggapan mu dengan berita di Tv, ya tentang PON sih?" kata Budi.

"Masih urusan olahraga, ya tanggapan ku bagus sih," kata Eko.

"Bagus toh PON, yang di selenggarakan di Papua," kata Budi.

Budi dan Eko, ya main catur dengan baik banget.

Friday, October 1, 2021

SEKEDAR SAJA BERNYANYI

Budi duduk di depan rumahnya, ya sedang menikmati minum kopi dan makan gorengan. Ya Budi main gitarnya dan juga bernyanyi.

Lirik lagu yang di nyanyikan Budi dengan judul 'Always' :

This Romeo is bleeding
But you can't see his blood
It's nothing but some feelings
That this old dog kicked up
It's been raining since you left me
Now I'm drowning in the flood
You see, I've always been a fighter
But without you, I give up
I can't sing a love song
Like the way it's meant to be
Well, I guess I'm not that good anymore
But baby, that's just me
And I will love you, baby, always
And I'll be there forever and a day, always
I'll be there 'til the stars don't shine
'Til the heavens burst and the words don't rhyme
And I know when I die, you'll be on my mind
And I'll love you, always
Now your pictures that you left behind
Are just memories of a different life
Some that made us laugh, some that made us cry
One that made you have to say goodbye
What I'd give to run my fingers through your hair
To touch your lips, to hold you near
When you say your prayers, try to understand
I've made mistakes, I'm just a man
When he holds you close, when he pulls you near
When he says the words you've been needing to hear
I wish I was him
With these words of mine
To say to you 'til the end of time
That I will love you baby, always
And I'll be there forever and a day, always
If you told me to cry for you, I could
If you told me to die for you, I would
Take a look at my face
There's no price I won't pay
To say these words to you
Well, there ain't no luck
In these loaded dice
But baby if you give me just one more try
We can pack up our old dreams
And our old lives
We'll find a place where the sun still shines
And I will love you, baby, always
And I'll be there forever and a day, always
I'll be there 'til the stars don't shine
'Til the heavens burst and the words don't rhyme
I know when I die, you'll be on my mind
And I'll love you, always
Always, always

***

Eko sampai di rumah Budi, ya segera memarkirkan motornya dengan baik di halaman rumah. Eko duduk dengan baik. Budi baru selesai menyanyikan lagunya dan juga main gitarnya.

"Budi tumben banget nyanyikan lagu bahasa Inggris?!" kata Eko.

"Lagi kepingin aja sih," kata Budi.

"Kepingin. Kayanya kata-kata yang aneh. Kalau aku ingin sih, saat masih sekolah SMA. Budi sering nyanyikan lagu bahasa Inggris. Lalu ngajak aku, Abdul dan Erwin membentuk grub band untuk acara perpisahan gitu," kata Eko.

"Masih ingat aja kenangan saat lulus sekolah SMA," kata Budi.

"Ya iyalah masih inget. Apalagi yang kita nyanyikan lagu di panggung perpisahan, ya nyanyi lagu daerah dan juga lagu anak-anak. Sedangkan teman-teman lain menyanyikan lagu pop yang lagi populer saat itu dan juga lagu dangdut populer saat itu," kata Eko.

"Beda kan boleh. Yang penting kan semua senang," kata Budi.

"Untung saja tidak menyanyikan lagu nasional saat perpisahan SMA. Tambah nilai historisnya kaya perjuangan pahlawan kemerdekaan Indonesia. Kaya acara di Tv," kata Eko.

"Iya sih. Untungnya tidak menyanyikan lagu nasional sih. Ketika kita menyanyikan lagu bahasa Inggris, ya semua teman-teman suka karena grub band kita mampu memberikan pertunjukkan yang luar biasa seperti grub band luar negeri gitu," kata Budi.

"Buah dari kerja keras, ya hasilnya memuaskan gitu," kata Eko.

"Emmmm," kata Budi.

"Jangan-jangan. Budi mau ngajakin untuk ikutan acara perlombaan musik di acara Tv?!" kata Eko.

"Sebenarnya ingin sih Eko," kata Budi.

"Aku dan Abdul sih, ya bisa aja sih membangunkan grub band kita yang tidur, tapi Erwin tidak ada," kata Eko.

"Iya juga ya...Erwin," kata Budi.

"Erwin. Sekarang ini kerja apa membangun usaha ya?!" kata Eko.

"Kalau aku inget sih omongan Erwin saat SMA. Erwin melanjutkan pendidikannya ke Universitas karena cita-citanya sih ingin jadi guru dan juga itu permintaan ayah dan ibunya," kata Budi.

"Kemungkinannya sih. Erwin melanjukan pendidikan ke Universitas, ya demi cita-citanya jadi guru dan permintaan orang tuanya," kata Eko.

"Kalau di ajak main lagi. Erwin mau kali Eko?!" kata Budi.

"Ya kalau Erwin ada di kota Bandar Lampung. Kalau dia ada di kota lain, ya mungkin kota Jakarta karena ada kerabatnya di sana dan melanjutkan pendidikannya lebih baik di Jakarta lah," kata Eko.

"Erwin tidak bisa di ajak main lagi karena keberadaannya jauh sih, ya apalagi untuk membangun grub band yang telah lama tidur sih," kata Budi.

"Kita ini telah sibuk dengan urusan kerjaan. Karena kita ini dari orang tidak punya, ya cuma Erwin saja yang orang mampu," kat Eko.

"Main musik dan menyanyi sekedar saja kan Eko?!" kata Budi.

"Ya pada akhirnya sekedar saja untuk menghibur diri saja. Lebih baik grub band kita di tidurkan saja!" kata Eko.

"Memang lebih baik grub band kita di tidurkan saja! Ya tidak ikutan lomba ini dan itu di acara Tv lah. Karena kita telalu sibuk dengan urusan kerja, ya karena kita dari orang miskin yang berusaha mampu dengan baik keluar dari kata kemiskinan menjadi kata sederhana, ya bisa di bilang mampu sih. Contohnya : motor saja aku mampu beli, ya walau kredit sih," kata Budi.

"Sama dengan aku. Motor juga masih kredit. Jodoh sudah dekat, ya di jalanin dengan baik," kata Eko.

"Kopi Eko?!" kata Budi.

"Bolehlah!" kata Eko.

Eko duduk santai di depan rumah Budi dengan melihat keadaan lingkungan dengan baik. Budi masuk rumah dan gitar di taruh di meja ruang tamu. Budi pun langsung ke dapur untuk membuat kopi. Singkat waktu, ya kopi jadi. Budi membawa kopi dengan baik ke depan rumah. Di depan rumah, ya Budi menaruh kopi di meja.

"Kopinya Eko!" kata Budi.

"Iya," kata Eko.

Eko mengambil gelas berisi kopi, ya di minum dengan baik kopi. Budi memang telah duduk sih.

"Banyak orang yang memiliki bakat luar biasa ya kan Eko?!" kata Budi.

Eko menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Memang di Indonesia ini banyak orang yang memiliki bakat luar biasa. Yang ingin cita-cita tercapai dengan baik, ya ikut perlombaan di acara Tv. Wadahnya ada untuk menunjukkan kebolehan. Ketika berhasil, ya jadi bintang, nama lainnya artis sih," kata Eko.

"Kaya dan terkenal," kata Budi.

"Memang. Tujuannya itu. Kaya dan terkenal," kata Eko.

"Main catur saja Eko!" kata Budi.

"Ok main catur," kata Eko.

Ya Budi mengambil papan catur di bawah meja dan di taruh atas meja, ya papan catur. Eko dan Budi menyusun dengan baik bidak catur di papan catur. Keduanya main catur dengan baik banget.

CAMPUR ADUK

BAD NEWS BEARS

Malam hari, ya bulan bersinar dengan baik. Setelah nonton Tv yang acaranya menarik dan bagus...tema cinta di chenel MDTV, ya seperti biasa s...

CAMPUR ADUK