CAMPUR ADUK

Tuesday, September 28, 2021

JATUH CINTA

Budi duduk di depan rumahnya sedang main gitar dan bernyanyi, ya sambil minum kopil dan makan kue martabaklah.

Lirik lagu yang di nyanyikan Budi dengan judul 'Jatuh Cinta' :

Malam terasa indah
Sejak ku mengenalmu
Pagi semakin cerah
Bila ku mengingatmu
Apakah yang kurasa benar jatuh cinta?
Mungkinkah aku jatuh cinta padanya?
Mungkinkah aku jatuh hati padanya?
Hatiku terasa semakin rindu
Rindu ini hanya untuk dirinya
Sayang ini hanya untuk dirinya
Oh, Tuhan, aku jatuh cinta
Mungkin hanya cintamu
Meluluhkan hatiku
Apakah yang kurasa benar jatuh cinta?
Mungkinkah aku jatuh cinta padanya?
Mungkinkah aku jatuh hati padanya?
Hatiku terasa semakin rindu, oh
Rindu ini hanya untuk dirinya
Sayang ini hanya untuk dirinya
Oh, Tuhan, aku jatuh cinta
Apakah yang kurasa benar jatuh cinta?
Mungkinkah aku jatuh cinta padanya?
Mungkinkah aku jatuh hati padanya?
Hatiku terasa semakin rindu, oh
Rindu ini hanya untuk dirinya
Sayang ini hanya untuk dirinya
Oh, Tuhan, aku jatuh cinta
Mungkinkah aku jatuh cinta padanya?
Mungkinkah aku jatuh hati padanya?
Hatiku terasa semakin rindu, oh
Rindu ini hanya untuk dirinya
Sayang ini hanya untuk dirinya
Oh, Tuhan, aku jatuh cinta
Mungkinkah aku jatuh cinta padanya?
Mungkinkah aku jatuh hati padanya?
Hatiku terasa semakin rindu

***

Eko sampai di rumah Budi, ya memarkirkan motornya dengan baik di halaman rumah Eko. Budi selesai menyanyi dan bermain gitar. Eko duduk dengan baik.

"Eko gimana dengan kerjaan Eko?!" kata Budi.

"Baik lah Budi kerjaan ku. Gimana dengan kerjaan Budi?!" kata Eko.

"Baik juga," kata Budi.

"Eeee ada martabak," kata Eko.

"Makan Eko martabaknya!" kata Budi.

"Ok!!!" kata Eko.

Eko pun mengambil kue martabak, ya sepotong di kotak di meja. Budi menaruh gitar di samping kursi dan beranjak dari duduknya, ya bergerak ke dalam rumah dan langsung dapur untuk membuat kopi. Eko asik makan martabak yang enak. Kopi jadi, ya di bawa Budi ke depan rumah. Gelas yang berisi kopi di taruh di meja dan berkata Budi "Kopinya Eko!", ya Budi duduk dengan baik lah.

"Iya," kata Eko.

Eko yang telah menghabiskan kue martabak, ya sepotong sih. Eko pun mengambil gelas berisi kopi, ya meminum dengan baik kopi itu.

"Rasa jatuh cinta itu menyenangkan," kata Budi.

Eko menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Emangnya Budi sedang jatuh cinta, ya ngomongnya begitu?!" kata Eko.

"Sebenarnya sih. Aku abis menyanyi dengan judul lagu 'Jatuh Cinta'.....," kata Budi.

"Ooooo lagu toh. Memang sih rasa jatuh cinta itu menyenangkan," kata Eko.

"Cowok dan cewek kedudukannya sama kan urusan jatuh cinta, ya kan Eko?!" kata Budi.

"Iyalah urusan jatuh cinta sama aja kedudukan antara cowok dan cewek," kata Eko.

Budi mengambil kue martabak, ya sepotong di kotak di meja, ya di makanlah martabak. 

"Jatuh cinta antara cowok dan cewek, ya di jalankan dengan baik. Komitmen terjadi, ya menikahlah," kata Eko.

"Menikah. Berita di Tv yang lagi heboh sih menikah sirih," kata Budi.

Budi menghabiskan kue martabak, ya sepotong. Budi mengambil gelas berisi kopi, ya di minum dengan baik.

"Nama juga berita. Nikah sirih. Apalagi yang di beritakan tentang pernikahan artis, ya heboh sejagat rayalah," kata Eko yang menghiperbolakan omongannya.

Budi menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Kalau sudah keputusan menikah, ya di jalankan dengan penuh tanggungjawab, ya kan Eko?!" kata Budi.

"Iyalah. Tanggungjawablah apa yang telah di putuskan dengan baik. Menikah!!!!" kata Eko.

"Sayangnya aku belum mendapatkan cewek yang tepat untuk di ajak menikah," kata Budi.

"Berdoa dan usaha yang baik, ya saran aku si Budi!" kata Eko.

"Aku paham itu Eko," kata Budi.

"Aku yang sudah punya kekasih hati, ya Purnama. Ya ada sih ingin menikahin Purnama, ya agar hubungan ku resmi, ya halal gitu. Masalahnya aku lagi nabung sih, ya biaya nikah lumayan besar juga sih. Nama juga kerja dengan ijazah SMA. Gaji pun kecil sih. Takutnya aku tidak bisa membuat Purnama bahagia," kata Eko.

"Sama aja dengan aku. Kerja dengan ijazah SMA, ya gaji kecil sih. Tetap bersyukur dengan baiklah," kata Budi.

"Omongan orang tentang aku dan Purnama, ya pacaran. Hal biasa sih. Ujian dari apa yang aku jalankan sama dengan Purnama. Yang terpenting sih orang tua tahu, ya hubungan aku dan Purnama masih di jalan yang baik, ya tidak pelanggaran sih. Ada cerita tentang orang pacaran yang melakukan hubungan suami istri sembunyi-sembunyi sih," kata Eko.

"Maka itu. Pacaran banyak di larang sama orang tua yang pemahaman ilmu agama yang paham banget gitu, ya karena hubungan pacarannya terlalu jauh sampai hubungan suami istri sih," kata Budi.

"Nafsu di gedein sih tanpa berpikir pake logika," kata Eko.

"Memang sih. Kebanyakan berpikirnya pake nafsu kalau urusan begituan tanpa berpikir dengan logika," kata Budi.

"Semua dasarnya pergaulan," kata Eko.

"Memang pergaulan semuanya," kata Budi.

"Main catur saja Budi!" kata Eko.

"Ok..main catur!" kata Budi.

Budi mengambil papan catur di bawah meja dan di taruh di atas meja. Budi dan Eko menyusun dengan baik bidak catur di atas meja.

"Eko. Ada niat melakukan nikah sirih?!" kata Budi.

"Tidak ada niat melakukan nikah sirih," kata Eko.

Eko dan Budi main catur dengan baik.

JUJUR

Budi duduk di depan rumahnya sedang main gitar dan menyanyi, ya menikmati kopi sih.

Lirik lagu yang dinyanyikan Budi dengan judul 'Jujur' :

Oh, ho-oh, hu-uh
Hu-uh, hu-uh
Hu-uh, hu-uh
Duhai kekasih pujaan hatiku
Dapatkah kau memberiku satu arti?
Sedikit rasa yang bisa kumengerti
Bukan sumpah atau janji
Buktikanlah bila kau ada cinta
Setulus hatimu bisa menerima
Sebatas kejujuran yang kau miliki
Bukan sekedar bersama
Jujurlah padaku bila kau tak lagi cinta
Tinggalkankah aku bila tak mungkin bersama
Jauhi diriku, lupakanlah aku
No-uh-oh, yeah, oh-oh
Jujurlah padaku bila kau tak lagi suka
Tinggalkanlah aku bila tak mungkin bersama
Jauhi diriku, lupakanlah aku
Selamanya
Ho-oh
Buktikanlah bila kau ada cinta
Setulus hatimu bisa menerima
Sebatas kejujuran yang kau miliki
Bukan sekedar bersama
Hu-uh, hu-hu-hu
Hu, hu-hu-hu
Ha-ah, ha-ah, ha-ah
Jujurlah padaku bila kau tak lagi cinta
Tinggalkankah aku bila tak mungkin bersama
Jauhi diriku, lupakanlah aku
Oh, yeah, yeah, yeah
Jujurlah padaku bila kau tak lagi suka
Tinggalkanlah aku bila tak mungkin bersama
Jauhi diriku, lupakanlah aku
Selamanya
Ho-oh, ho-wo-wo
Ho-ah, selamanya
Wo-wo-ho, wo-wo-ho
Ho-ah, selamanya

***

Budi selesai menyanyikan lagu dan main gitar. Eko memang dateng ke rumah Budi, ya memarkirkan motornya dengan baik di halaman rumahnya Budi. Eko duduk dan menaruh plastik di meja, ya makan gitu. 

"Budi cilor," kata Eko.

Eko, ya asik makan cilor yang enak gitu. Budi mengambil platik di meja, ya makan gitu dan berkata "Cilor. Makan yang di beli Eko.

"Enak Budi Cilor," kata Eko, ya sambil makan.

Gitar di taruh di samping kursi sama Budi dan makan cilor lah.

"Enak cilor ini," kata Budi.

Budi pun beranjak dari duduknya, ya ke dalam rumah langsung ke dapur untuk membuat kopi. Eko, ya dengan santai makan cilor yang enak gitu. Kopi yang di buat Budi, ya jadi sih dan di bawa ke depan rumah. Budi pun menaruh gelas berisi kopi di meja dan berkata "Kopi Eko!"

"Iya Budi," kata Eko.

Budi dengan duduk santai menikmati makan cilor yang enak banget. Eko mengambil gelas di meja, ya kopi segera di minum Eko sih.

"Kopi yang enak," kata Eko.

Eko manaruh gelas yang berisi kopi di meja.

"Eko," kata Budi, ya sambil menikmati makan cilor sih.

"Apa Budi?!" kata Eko, ya asik makan cilor sih.

"Gimana tanggapan Eko dengan orang yang sakit, ya hampir mendekati kematian sih?!" kata Budi.

"Nama juga manusia hidup di muka bumi ini. Waktunya ujian sakit, ya di jalanin, ya di usahakan untuk sembuh sih. Kalau parah sakitnya sampai meninggal, ya aku sih tidak bisa ngomong apa-apa? Kan aku lulusan SMA, ya mana tahu tentang ilmu kedokteran yang lebih jauh. Lulusan Universitas lebih paham tentang penyakit ini dan itu yang dapat menyebabkan kematian pada orang yang sakit," kata Eko.

"Aku juga sama lulusan SMA," kata Budi.

"Waktunya sehat, ya di nikmati sebaik mungkin, ya seperti kita ini....menikmati makan cilor. Murah meriah, ya terjangkau dengan kantong ku," kata Eko.

"Sehat di nikmati dengan baik," kata Budi.

"Jangan-jangan dari berita di Tv, ya Budi?!" kata Eko.

"Memang sih berita di Tv!" kata Budi.

"Semoga orang sakit, ya di berikan kesembuhan dan dapat menikmati hidup ini lagi," kata Eko.

"Amin!!!" kata Budi.

"Kok di aminin?!" kata Eko.

"Omongan Eko tadi itu, ya bentuk doa untuk orang yang sakit agar cepat sembuh dari penyakitnya dan dapat menikmati hidup seperti kita ini lah," kata Budi.

"Amin!!!" kata Eko.

"Emmmm. Eko!!!" kata Budi.

"Ya begitulah aku," kata Eko.

"Kadang cewek itu tidak bisa jujur dengan perasaannya, ya kan Eko?!" kata Budi.

"Memang sih. Kadang cewek itu tidak bisa jujur dengan perasaannya. Antara suka dan tidak. Bimbanglah," kata Eko.

"Ketakutan kalau perasaan sukanya itu, ya bisa saja bertepuk sebelah tangan," kata Budi.

"Bisa di bilang begitu sih," kata Eko.

Eko dan Budi, ya menghambiskan cilornya dengan baik, ya plastiknya di buang ke tempat sampah yang ada tutupnya. Eko dan Budi mengambil gelas berisi kopi di meja dan di minumnya dengan baik kopi.

"Kalau tidak suka, ya lebih baik bilang tidak suka. Jujur gitu," kata Budi.

Budi menaruh gelas berisi kopi di meja. Eko, ya menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Memang sih kalau tidak suka bilang tidak suka. Dengan jujur sih. Tetap saja ada rasa kecewa, ya harapan tidak sesuai dengan kenyataan...sampai sakit hati kalau cinta di tolak sama cewek," kata Eko.

"Ya kedudukannya tetap sama aja, ya kan Eko?!" kata Budi.

"Memang sih. Sama aja. Antara cowok dan cewek kalau urusan cinta!" kata Eko.

"Ya sudahlah. Lebih baik kita main catur saja!" kata Budi.

"Ok!!!" kata Eko.

Budi telah mengambil papan catur di bawah meja dan di taruh di meja. Budi dan Eko menyusun bidak catur dengan baik. Keduanya, ya main catur dengan baiklah.

Sunday, September 26, 2021

REALITANYA

Eko di rumahnya, ya tepatnya di ruang tamu sih. Eko sedang melihat ikan cupangnya di akuarium sih.

"Ikan cupang ini terlihat indah warnanya karena aku merawatnya dengan baik," kata Eko.

Eko terus melihat dengan baik ikan cupangnya di akuarium dan juga di beri makan sih. Budi ke rumah Eko dengan mengendarai motornya. Sampai di rumah Eko, ya motor di parkir dengan baik di halaman depan rumah Eko. Eko memang tahu Budi dateng, ya di suruh masuk rumah. Budi pun masuk rumah Eko dan melihat ulah Eko yang sedang asik melihat ikan cupang di akuarium, ya Budi ikutan juga.

"Ikan cupangnya bagus...Eko, ya warnanya," kata Budi.

"Iya," kata Eko.

"Kalau di adu dengan ikan cupang tipe yang lain yang rumbai-rumbainya pendek, ya ikan cupang ini yang rumbai-rumbai panjang, ya akan hancur kan Eko?!" kata Budi.

"Kalau di adu memang ikan cupang ku hancurlah, rumbai-rumbai yang cantik ini," kata Eko.

"Jadi ikan cupang ini jadi ikan hias saja, ya kan Eko?!" kata Budi.

"Iya. Jadi ikan hias, ya ikan cupang ku. Hoby," kata Eko.

"Hoby...Eko memelihara ikan cupang, ya trennya sih karena berita di Tv mempromosikan ikan cupang dengan baik sih," kata Budi.

"Populer ikan cupang," kata Eko.

"Emmm," kata Budi.

Budi pun duduk, ya begitu juga dengan Eko. 

"Kenapa orang pergi kota Jakarta, masuk ke Tv di Jakarta...jadi artis gitu. Padahal ada Tv lokal di Bandar Lampung, ya kan sama saja bisa jadi artis juga?!" kata Budi.

"Kalau itu sih Budi aku tidak tahulah. Lulusan SMA, ya mana tahu kenapa orang lebih memilih ke kota Jakarta dan masuk Tv , ya jadi artis dari pada di kota Bandar Lampung juga ada Tv lokal?!" kata Eko.

"Memang sih lulusan SMA pemahaman keilmuannya kurang," kata Budi.

"Hasil dari penilaian aku sih. Ya orang yang jadi artis di Tv kota Jakarta....populer sih. Kalau di Tv lokal, ya gimana ya ngomongnya, ya takut tersinggung bila ada yang mendengarnya sih," kata Eko.

"Padahal orang yang kerja di Tv lokal Bandar Lampung kan sama aja ilmunya dengan Tv di Jakarta," kata Budi.

"Lulusan SMA. Cuma bisa tebak-tebakan saja. Beda dengan lulusan Universitas, ya meneliti ini dan itu, ya jadi tahu deh ini dan itu," kata Eko.

"Yang terpenting kan aku dan Eko, ya kerja. Walau gajinya kecil, ya di syukurin aja sih," kata Budi.

"Nama juga ikut orang. Mau sih membangun usaha, ya harus ada modal dan juga menejemen dalam pengelolaan usaha dengan baik, ya agar tidak gagal dalam menjalankan usaha," kata Eko.

"Modal bisa di usahakan sih. Ilmu menejemen pengolahan usaha dengan baik ini lah, ya aku dan Eko kurang memahaminya. Lulusan SMA," kata Budi.

"Kalau kita belajar dari Abdul yang berani buat usaha, ya jualan kelontongan dengan nyewa tempat di pasar, ya bisa sih," kata Eko.

"Spekulasi Abdul tinggi. Berani gitu dalam membangun usaha. Kata Abdul sih  "Berhasil, ya berhasil. Gagal, ya gagal. Nama juga usaha."......" kata Budi.

"Abdul menjalankan usahanya dengan penuh tanggungjawab dengan baik, jadi bisa bertahan dalam keadaan apa pun, ya kata berita yang ini dan itu...ekonomi gitu," kata Eko.

"Emmmm," kata Budi.

"Ngopi nggak Budi?!" kata Eko.

"bolelah," kata Budi.

Eko ke dapur untuk membuat kopi. Budi santai di ruang tamu sambil membaca koran gitu. Ya beberapa saat sih kopi jadi, ya jadi dua gelas sih. Eko membawa kopi dengan baik ke ruang tamu dan di taruhlah kopi di meja dengan baik.

"Kopinya Budi!" kata Eko.

Budi berhenti baca koran dan di taruh di meja koran.

"Kopi," kata Budi.

Budi mengambil gelas berisi kopi di meja dan segera di minum dengan baik. Eko minum kopi juga lah. 

"Enak kopi," kata Budi.

"Enak...gratis kan Budi?!" kata Eko, ya becandaannya Eko.

Eko menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Iyalah gratis," kata Budi, ya mengikuti becandaan Eko.

Budi menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Kalau ingin keja jadi pegawai negeri, ya harus ikut ujian jadi pegawai negeri kan Eko?!" kata Budi.

"Iya sih. Harus ikut ujian pegawai negeri. Kalau lolos ujian pegawai negeri, ya langsung kerja jadi pegawai negeri sesuai dengan jenis pekerjaan yang di pilih sih," kata Eko.

"Kalau gagal dalam ujian pegawai negeri. Jalan yang sering di omongin orang, ya lewat orang dalem. Ya bisa di bilang sih honor ini dan itu. Bisa di kota Bandar Lampung, ya bisa di daerah lainnya, ya masih wilayan propinsi Lampung sih," kata Budi.

"Kebiasaan di kota Bandar Lampung sih. Itu cerita benar apa tidak, ya cuma obrolan di masyarakat saja," kata Eko.

"Emmmm," kata Budi.

"Eko main catur saja Budi!" kata Eko.

"Ok," kata Budi.

Eko telah mengambil papan catur di bawah meja dan di taruh di atas meja. Eko dan Budi menyusun bidak catur dengan baik di papan catur. Keduanya main catur dengan baik banget.

BENTUK KRITIKAN

Budi  duduk di depan rumah, ya sambil menikmati minum kopi dan makan gorengan. Budi pun main gitar dan menyanyikan lagu.

Lirik lagu yang dinyanyikan Budi dengan judul 'Manusia Bodoh' :

Dahulu terasa indah
Tak ingin lupakan
Bermesraan s'lalu jadi
Satu kenangan manis
Tiada yang salah
Hanya aku, manusia bodoh
Yang biarkan semua
Ini permainkanku berulang-ulang kali
Mencoba bertahan sekuat hati
Layaknya karang yang dihempas sang ombak
Jalani hidup dalam buai belaka
Serahkan cinta tulus di dalam takdir
Tak ayal tingkah lakumu
Buatku putus asa
Kadang akal sehat ini
Tak cukup membendungnya
Hanya kepedihan
Yang s'lalu datang menertawakanku
Dia belahan jiwa
Tega menari indah di atas tangisanku
Mencoba bertahan sekuat hati
Layaknya karang yang dihempas sang ombak
Jalani hidup dalam buai belaka
Serahkan cinta tulus di dalam takdir
Tapi sampai kapankah
Ku harus menanggungnya?
Kutukan cinta ini
Semua kisah pasti ada akhir
Yang harus dilalui
Begitu juga akhir kisah ini
Yakin ku indah
Mencoba bertahan sekuat hati
Layaknya karang yang dihempas sang ombak
Jalani hidup dalam buai belaka
Serahkan cinta tulus di dalam takdir
Tapi sampai kapankah
Ku harus menanggungnya?
Kutukan cinta ini
Bersemayam dalam kalbu

***

Eko, ya ke rumah Budi. Sampai di rumah Budi segera memakirkan motornya dengan baik. Budi selesai menyanyikan lagu dan main gitarnya. Eko sudah duduk dengan baik.

"Eko habis dari mana?!" kata Budi.

"Aku abis jalan sama Purnama sih, ya tapi?!" kata Eko.

"Tapinya kenapa kok?!" kata Budi.

"Purnama ngajak adiknya sih," kata Eko.

"Jadi naik motor bertiga dong, ya kaya cabe-cabean, tapi enak sih yang di bonceng cewek," kata Budi.

"Ya enggaklah. Purnama bawa motor sendiri, ya bonceng adiknya. Aku, ya bawa motor sendiri," kata Eko.

"Ya kalau gitukan tidak praktis itumah. Coba nyewa mobil, ya tiga orang di satu kendaraan lebih baikkan," kata Budi.

"Nyewa mobil. Ah tidak terpikir sampe sana," kata Eko.

"Yang penting acara jalan bareng sama Purnama berjalan dengan baik kan Eko?!" kata Budi.

"Memang berjalan dengan baik. Ya tetap menjalankan protokol kesehatan sih, ya demi kebaikan bersama gitu," kata Eko.

"Masih menanggulangi pandemi covid-19, ya jadinya mengikuti protokol kesehatan dengan baik. Semua demi kebaikkan bersama," kata Budi menegaskan omongan Eko.

"Oooo Budi ngomongin tentang urusan pemerintahan. Boleh apa enggak?!" kata Eko.

"Memangnya ceritanya penting banget, ya kok?!" kata Budi.

"Penting enggak penting yang terpenting kan cerita sih," kata Eko.

"Kalau begitu cerita saja!" kata Budi.

"Aku harus pikir dua kali untuk bercerita," kata Eko.

"Kenapa kok Eko?!" kata Budi.

"Jangan-jangan ada tukang nguping di sini. Obrolan kita di catet dan di beritahukan sama RT lagi," kata Eko.

"Sampai segitunya Eko," kata Budi.

"RT kan ada kaitan dengan pemimpin di kota ini. Bisa di bilang anak buahnya pemimpin kota ini, ya untuk kemenangan pemimpin kota ini pada pemilu yang kemarin," kata Eko.

"Memang sih RT-nya termasuk tim sukses kemenangan sih," kata Budi.

"Aku ini lulusan SMA, ya obrolan tentang pemerintahan sekedar obrolan saja. Jadi tidak terlalu penting banget. Tapi bisa saja obrolan menjadi bentuk kritikan," kata Eko.

"Sama dengan aku lulusan SMA. Memang sih kalau ngomong urusan pemerintahan, ya bisa bentuk kritikan sih. Yang di keritikan bisa menerima atau tidak ya?!" kata Budi.

"Kritikan itu bisa di terima atau tidak?!" kata Eko.

"Padahal di Tv. Keritikan pada pemimpin di bolehkan, ya harus sesuai dengan etika sih. Pendidikan Universitas," kata Budi.

"Tv memang urusan pendidikan tinggi, ya Universitas. Mereka yang di Tv lebih mampu, ya lebih baik mengkritik urusan pemerintahan ini dan itu...sesuai dengan keilmuannya," kata Eko.

"Sudah lah Eko, ya kita ini lulusan SMA. Lebih baik tidak usah membicarakan urusan pemirintahan!" kata Budi.

"Memang lebih baik tidak membicarakan urusan pemerintahan. Karena kita cuma lulusan SMA!" kata Eko.

"Main catur saja!" kata Budi.

"Oke," kata Eko.

Eko meminggirkan gelas kopi dan piring yang ada gorengan. Eko mengambil papan catur di bawah meja, ya di taruh di atas meja. Sedang Budi menaruh gitar di dalam rumah, ya di meja tamu dan segera ke dapur untuk membuat kopi. Eko menyusun dengan baik bidak catur di papan catur. Budi selesai membuat kopi, ya di bawa ke depan rumah. Budi menaruh kopi di meja dan berkata "Kopinya Eko!"

"Iya," kata Eko.

Budi duduk dengan baik. Eko mengambil gelas kopi di meja dan di minum dengan baik kopi.

"Kita mulai main caturnya!" kata Budi.

Eko menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Ok!!" kata Eko.

Eko dan Budi main catur dengan baik banget.

Saturday, September 25, 2021

STRATEGI CEWEK

Hari minggu di kediaman Eko, ya masih di daerah Pahoman, ya wilayahnya kota Bandar Lampung sih. Abdul dateng ke rumah Eko, ya niatnya mainlah. Jadinya Eko dan Abdul main catur sambil minum kopi dan makan gorenganlah.

"Eko gimana hubungan mu dengan Purnama?!" kata Abdul, ya sambil memajukan pion caturnya.

"Ya hubungan aku dan Purnama baiklah," kata Eko, ya sambil memajukan pion caturnya dengan baik.

"Baik toh," kata Abdul, ya sambil memajukan pion caturnya.

Abdul dan Eko terus main catur dengan baik banget. Budi dengan membawa motornya dengan baik, ya ke rumah Eko lah. Singkat waktu sampai di rumah Eko, ya Budi memarkirkan motornya dengan baik di halaman rumah Eko. Budi pun duduk.

"Ada Abdul. Kalian bedua lagi asik main catur," kata Budi.

"Iya," kata Abdul dan Eko bersamaan.

"Eko temanin aku!" kata Budi.

Setelah memajukan langkah kuda, ya Eko berkata "Mau di temanin kemana?" 

Abdul masih berpikir dengan baik untuk melangkahkan bidak caturnya.

"Biasa aku dapet kenalan cewek, ya di temanin ke rumah cewek lah," kata Eko.

"Cewek lagi," kata Eko.

Abdul memajukan langkah peluncurnya dengan baik dan berkata "Urusan Budi, ya cewek lagi."

"Sebenarnya aku mau menemani Budi ke rumah cewek. Tapi?!" kata Eko.

Eko memajukan langkah pion caturnya.

"Tapi kenapa Eko?!" kata Abdul memotong omongan Eko yang sedang berpikir sih.

Abdul memajukan langkah pion caturnya.

"Ada cerita sih tentang menemani Budi ke tempat cewek," kata Eko.

Eko dengan menggunakan kudanya memakan pion caturnya Abdul.

"Apa ceritanya?" kata Abdul.

Abdul memajukan langkah kudanya dengan baik.

"Padahal cerita itu tidak penting lah," kata Budi.

"Ceritanya sih. Mau ke rumah cewek yang di kenal Budi, ya sampai nyasar sih. Di kejar anjing lagi. Dan juga pulangnya kemalaman lagi, ya tetap nyasar juga ke tempat kuburan. Ya ketemu dengan hantu lagi. Pokoknya pengalaman yang benar sial," kata Eko.

Eko memajukan langkah peluncurnya.

"Cerita itu tidak penting," kata Budi.

"Ooooo begitu toh. Sial toh urusan dengan cewek yang di kenal Budi. Atau sebenarnya ada strategi cewek untuk dekat dengan cowok," kata Abdul.

Abdul dengan menggunakan peluncurnya, ya memakan pionnya Eko.

"Strategi cewek untuk dekat dengan cowok," kata Budi.

"Ya memang ada lah Budi. Cerita di kota Bandar Lampung ini. Cewek yang jomlo mengatur strategi untuk dekat dengan cowok," kata Eko. 

Eko memajukan langkah pionnya.

"Cowok mengatur strategi untuk dekat dengan cewek, ya agar jadian gitu. Ternyata cewek juga mengatur strategi agar dekat dengan cowok, ya jadian," kata Budi.

"Cewek zaman sekarang. Pada akhirnya kan jadian sama cowok, ya cepat menikah. Dengan sifat cewek yang malu-malu, tapi sebenarnya mau itulah rencana cewek, ya tegasnya strategi cewek," kata Abdul.

Abdul memajukan langkah kudanya.

"Ternyata cewek pinter ya," kata Budi.

"Cewek pinterkan di didik dengan baik sama orang tua dan juga guru di sekolah, ya sampai kuliahlah," kata Eko.

Dengan peluncurnya, ya Eko memakan pionnya Abdul.

"Memang sih aku akui. Cewek pinter. Maka itu susah di dapatkan. Jadi aku terus berkenalan dengan cewek lainnya. Kalau gagal lagi. Apa aku minta bantuan sama dukun saja ya?!" kata Budi.

"Masa urusan cewek sampai pake dukun," kata Abdul.

"Kalau terbentur di tolak cewek, ya pelariannya ke dukun gitu," kata Budi.

Abdul memajukan langkah pionnya.

"Dukun itu tidak penting. Jalan masih banyak. Sebenarnya sih. Aku sudah kenalkan dengan cewek temannya Purnama. Budinya malah tidak mau. Malah nyari cewek sesuai dengan seleranya Budi. Cewek yang cantik seperti putri raja. Anak orang kaya yang cantik dan kaya di sukai. Susah mendapatkannya. Budi kan dari keluarga, ya di bilang miskin juga enggak sih, ya sederhanalah," kata Eko.

Eko dengan kudanya memakan pion Abdul.

"Jadi selera Budi toh. Budi. Budi. Nyari cewek yang cantik dan juga kaya. Derajatnya beda dengan Budi. Padahal, ya Budi. Kan banyak cerita cewek cantik dari keluarga miskin, ya gak miskin amat sih, ya sederhana lah di nikahin sama cowok orang kaya," kata Abdul.

Abdul memajukan langkah sternya.

"Cowok kaya mendapatkan cewek cantik dari keluarga miskin. Memang sih cerita ada," kata Budi.

"Seperti cerita dongeng," kata Eko.

Eko memajukan langkah sternya.

"Saran ku sih Budi. Lebih baik sih Budi. Mengikuti cara Eko mendapatkan cewek!" kata Abdul.

Dengan peluncur, Abdul memakan pionnya Eko.

"Memang cara Eko mendapatkan Purnama seperti apa?" kata Budi.

"Ya dengan cara menjalankan ibadah dengan baik. Eeee tak di sangka dan tak di duga, ternyata cewek yang jadi jodoh ku adalah Purnama, ya tetangga aku sih," kata Eko.

Eko dengan ster memakan bentengnya Abdul dan berkata "Skak"

Abdul melihat dengan baik langkah caturnya Eko, ya ternyata Abdul kalah permainan dengan Eko, ya sampai Eko berkata "Skak".

"Aku mati langkah," kata Abdul.

"Saran Abdul dan Eko, ya aku terimalah. Dengan menjalankan ibadah dengan baik, ya jodoh pasti datang pada ku. Mendapatkan cewek sesuai dengan keinginan ku. Kan banyak cerita, ya berhasil mendapatkan jodohnya dengan ibadah dengan baik, ya seperti orang tua ku dan juga orang tua Eko dan Abdul. Dari pada dateng ke tempat dukun," kata Budi.

Abdul masih berpikir dengan baik sih untuk menjalankan bidak caturnya. Ternyata Eko tetap mematikan langkahnya bidaknya Abdul. Permainan catur di menangkan Eko. 

"Aku kalah," kata Abdul.

"Main kartu remi aja!" kata Budi.

"Ok," kata Abdul.

"Ok," kata Eko.

Eko beranjak dari duduknya, ya ke dapur lah Eko untuk membuatkan kopi di dapur. Abdul membereskan catur dengan baik. Budi telah mengambil kartu remi di bawah meja dan di kocok dengan baik. Papan catur di taruh di bawah meja. Eko selesai membuat kopi di dapur, ya kopi di bawa ke depan rumah. Eko pun menaruh kopi di meja dan berkata "Kopinya Budi!"

"Iya," kata Budi.

Budi telah membagikan kartu remi dengan baik. Ketiga main kartu remi dengan baik, ya sambil makan gorengan dan minum kopilah. Permainan kartu remi yang di mainkan ketiganya, ya cangkulan lah.

Friday, September 24, 2021

ADA YANG DISIPLIN ADA YANG TIDAK

Budi duduk di depan rumahnya sambil main gitar dan bernyanyi.

Lirik lagu yang di nyanyikan Budi dengan judul 'Mungkinkah' :

Tetes air mata basahi pipimu
Di saat kita 'kan berpisah
Terucapkan janji padamu kasihku
Takkan kulupakan dirimu
Begitu beratnya kau lepas diriku
Sebut namaku jika kau rindukan aku
Aku akan datang
Mungkinkah kita 'kan selalu bersama
Walau terbentang jarak antara kita
Biarkan kupeluk erat bayangmu
'Tuk melepaskan semua kerinduanku
Lambaian tanganmu iringi langkahku
Terbersit tanya di hatiku
Akankah dirimu 'kan tetap milikku
Saat kembali di pelukanku
Mungkinkah kita 'kan selalu bersama
Walau terbentang jarak antara kita
Biarkan kupeluk erat bayangmu
'Tuk melepaskan semua kerinduanku
O-oh
Begitu beratnya kau lepas diriku
Sebut namaku jika kau rindukan aku
Aku akan datang
Mungkinkah kita 'kan selalu bersama
Walau terbentang jarak antara kita
Biarkan kupeluk erat bayangmu
'Tuk melepaskan semua kerinduanku
Kau kusayang, selalu kujaga
Takkan kulepas selamanya
Hilangkanlah keraguanmu
Pada diriku
Di saat

Kujauh darimu

***

Budi selesai menyanyikan lagu dan main gitar. Eko dateng ke rumah Budi, ya segera memarkirkan  motornya dengan baik. Eko duduk dengan baik.

"Dari mana Eko?!" kata Budi.

"Dari urusan dengan Purnama. Baru deh aku kesini!" kata Eko.

Eko melihat ada roti di piring, ya di meja sih.

"Budi. Rotinya!" kata Eko.

"Makan aja Eko," kata Budi.

Budi menaruh gitar di samping kursi dan beranjak dari duduknya, ya bergerak ke dalam rumah langsung ke dapur untuk membuat kopi. Eko sudah mengambil roti di piring dan di makan dengan baik roti itu. Budi selesai membuat kopi, ya di bawa ke depan rumah. Budi menaruh kopi di meja dan berkata "Kopinya Eko!" 

"Emmm," kata Eko masih asik makan Roti.

Plastik pembungkus roti yang ada di meja, ya di ambil Budi dan di buang tong sampah yang ada tutupnyalah.

"Rajin amat Budi," kata Eko.

Eko mengambil gelas berisi kopi di meja dan di minum kopinya dengan baik.

"Ya harus rajinlah urusan sampah. Dari pada orang-orang yang buang sampah sembarangan, ya sampahnya jadinya sarang penyakit," kata Budi.

Eko menaruh gelas berisi kopi di meja.

"Sampah itu tempat sarang penyakit dan menyebabkan masalah karena menyumbat aliran air, ya jadi aliran air mampet dan banjir deh," kata Eko.

"Apalagi...Kota Bandar Lampung ini, ya ikut dalam penanggulangan pandemi covid-19. Ya tujuannya masyarakat harus disiplin segala-segalanya. Agar masyarakat sehat," kata Budi.

"Tetap saja ada yang buang sampah sembarangan secara diam-diam di wilayah lahan orang lain," kata Eko.

"Memang ada itu Eko?!" kata Budi.

"Adalah Budi. Orang kaya, ya rumahnya kan di bangun sebagus mungkin untuk menunjukkan kesombongan orang kaya, ya punya gitu. Tapi urusan sampah saja, ya di buang di pekarangan orang lain, ya bisa di bilang lahan kosong. Orang kaya itu pemalas urusan buang sampah. Apalagi kalau orang kaya itu orang pemerintahan, ya tidak sesuai dengan pekerjaannya sebagai pegawai negeri di pemerintahan kota Bandar Lampung dan juga agama islam lagi, ya malu-maluin dengan status agama islam yang di jalanin dan di yakini itu," kata Eko.

"Jangan-jangan orang itu menggunakan sifat pi' il orang Lampung," kata Budi.

"Mungkin sih. Padahal orang Lampung yang sadar, ya telah di buang sih sifat pi'il mereka semua karena mereka tinggal di ruang lingkup banyak suku lain tinggal di Lampung," kata Eko.

"Masih aja sifat egois di jalankan," kata Budi.

"Mau gimana lagi. Kutukan dari nenek moyang," kata Eko.

"Di daerah lain. Masalah sampah, ya masih ada sih. Karena susah mendidik manusia. Bahwa sampah yang di buang sembarang tempat, ya jadi sarangnya penyakit," kata Budi.

"Sekarang ini penyakit berkembang jadi seperti ini karena ulah siapa?!" kata Eko.

"Manusia itu sendiri, ya tidak disiplin segala-galanya," kata Budi.

"Orang lain yang berbuat dengan cara kebodohan menciptakan penyakit berkembang di sana sini. Orang lain yang imun tubuhnya lemah kena deh penyakit," kata Eko.

"Yang sadar seperti aku, ya menjalankan kedisiplinan dengan baik demi kebaikkan bersama," kata Budi.

"Emmmm," kata Eko.

"Main catur saja Eko!" kata Budi.

"Ok main catur!" kata Eko.

Eko meminggirkan gelas berisi kopi, piring ada rotinya dan juga gelas berisi kopi punya Budi. Budi, ya mengambil papan catur di meja dan papan catur di taruh di atas meja. Budi dan Eko menyusun bidak catur dengan baik di papan catur dan segera main catur dengan baik.

Thursday, September 23, 2021

OBROLAN BUDI DAN ABDUL

Budi sedang duduk santai di depan rumah sambil minum kopi dan makan gorengan. Abdul yang selesai urusan kerjaannya, ya ke rumah Budi. Abdul sampai di rumah Budi, ya duduk di depan rumahlah. Budi membuatkan kopi untuk Abdul di dapurlah. Kopi jadi, ya bawa ke depanlah dan kopi di taruh di meja sama Budi, ya Abdul mengambil kopi dan meminumnya kopi dengan baik.

"Abdul giman kerjaan mu?" kata Budi.

Abdul menaruh gelas kopi di meja.

"Baik usaha ku. Yang terpenting tetap di usahakan dengan baik usaha ku dan juga sabar dalam menjalankan usaha ku. Nama juga usaha ku kan dagang kelontongan, ya tempatnya sih masih sewa sih di pasar sih," kata Abdul.

"Syukur usaha Abdul berjalan dengan baik," kata Budi.

"Hari ini Eko main ke rumah Budi?!" kata Abdul.

"Eko tidak main ke rumah ku, ya kata Eko sih. Eko ada urusan dengan pacarnya, ya Purnama," kata Budi.

"Oooo. Eko ada urusan dengan Purnama. Eko urusannya sudah repot kaya orang yang menjalankan rumah tangga dengan Purnama, ya padahal masih pacaran gitu," kata Abdul.

"Nama juga pacaran. Ada senangnya ada dan juga repotnya," kata Budi.

"Oooo iya Budi. Kalau ngomongin orang dosa apa enggak ya?!" kata Abdul.

"Kita ini ngomongin orang. Eko lagi. Teman kita. Kena dosa, ya ribet juga ya," kata Budi.

"Ribet jadinya?!" kata Abdul.

"Mungkin tidak ada masalah sih. Kalau sekedar saja bahan obrolan," kata Budi.

"Memang sih bahan omongan. Ngomong yang baik-baik tidak ada masalah sih. Tapi kalau ngomong kejelekan teman atau orang lain, ya kacau itu mah....kena dosa itu mah," kata Abdul.

"Ada sebuah contoh : Jika kita tahu kejahatan orang, ya anggap saja tetangga kita kerjaan pencuri. Kita malah diam saja, ya maka kejahatan terus berlangsung dengan baik. Kalau kita ngomong dengan orang lain sampai pihak berwajib, ya jadi kita telah memberantas kejahatan yang ada di masyarakat," kata Budi.

"Kalau dengan contoh itu Budi. Ya jadi kita tidak ada masalahlah kalau ngomongin tentang aib seseorang yang berbuat ulah dengan kejahatan pencurian. Dari pada diam. Eeee kejahatan terus berlangsung dengan baik," kata Abdul.

"Hidup di masyarakat. Pada akhirnya benturan ini dan itu kalau ngomongin orang, ya apalagi teman sendiri," kata Budi.

"Untung tidak ada Ustad. Jadi kita tidak di ceramahin ini dan itu," kata Abdul.

"Iya..untungnya tidak ada Ustad, ya sudahlah. Maklumlah saja. Obrolan kita. Pemahaman ilmu tingkat SMA," kata Budi.

"Aku ngertilah...Budi omongan Budi. Keadaanlah yang memutuskan aku dan Budi cukup pendidikan SMA," kata Abdul.

"Memang keadaan lah pendidikan aku dan Abdul sebatas SMA saja. Aku kerja apa saja yang penting, ya halal," kata Budi.

"Sama aku juga kerjaannya halal," kata Abdul.

"Hidup di kota Bandar Lampung, ya harus banyak sabar dan terus usaha dengan baik. Ekonomi tidak bisa di omongin," kata Budi.

"Memang keadaannya begitu. Yang bertahan, ya usaha tetap berjalan. Yang tidak bisa bertahan, ya usahanya tutup. Banyak cerita di kota ini tentang usaha tutup dengan alasan yang ini dan itu sih," kata Abdul.

"Ujian hidup di kota ini kan Abdul?!" kata Budi.

"Iya. Ujian hidup di kota ini!" kata Abdul menegaskan omongan Budi.

"Apa sama dengan kota yang lain ya...Abdul...ujiannya?!" kata Budi.

"Mungkin sama. Cuma lingkungannya saja yang beda," kata Abdul.

"Enak jadi orang yang kerja di pemerintahan di kota Bandar Lampung ini dengan gaji yang di sesuaikan," kata Budi.

"Nama kerja sih Budi. Ada enaknya dan tidak enaknya," kata Abdul.

"Kalau bilang enak, ya aku terlalu naif banget kaya remaja polos dan lugu. Padahal ada kerjaan yang tidak enak sih. Di dalam sistem kerja, ya tidak mungkin di bilang orang baik semuanya. Pasti ada orang munafik di dalam sistem kerjaan. Kaya berita di Tv tentang pungli di birokrasi sampai korupsi ini dan itu," kata Budi.

"Oooo iya Budi. Katanya Eko mau melanjutkan pendidikkannya kejenjang lebih tinggi, ya kuliah?!" kata Abdul.

"Eko ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang lebih tinggi, ya kuliah," kata Budi.

"Apakah dengan pendidikan tinggi di kota Bandar Lampung ini, ya kuliah gitu. Jaminan menjadi orang sukses?!" kata Abdul.

"Mana aku tahu kalau urusan jaminan dari pendidikan tinggi di kota Bandar Lampung, ya jadi sukses. Kan aku pendidikannya cuma SMA. Pemahaman keilmuan juga masih kurang," kata Budi.

"Kalau itu sih sama aja dengan aku. Kurang pemahaman ilmu lah. Lulusan SMA saja!" kata Abdul.

"Lebih baik kita main catur saja!" kata Budi.

"Oklah main catur!" kata Abdul.

Abdul meminggirkan gelas kopi Abdul, gelas kopinya Budi dan juga piring yang berisi gorengan. Budi mengambil papan catur di bawah meja dan papan catur taruh di atas meja sih. Budi dan Abdul menyusun dengan baik bidak catur di papan catur. Keduanya main catur dengan baik banget.

MONYET YANG MEMBALAS BUDI

Abdul selesai bermain dengan teman-temennya di lapangan. Abdul pulang ke rumah, ya sampai rumah dan duduk santai di ruang tengah sih. 

"Santai di rumah," kata Abdul. 

Abdul mengambil buku cerita di meja dan segera di baca dengan baik buku cerita yang katanya asal dari Filipina di tulis dengan baik sih di buku sih. 

Isi buku yang di baca Abdul :

Di sebuah desa yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, hidup seorang pemuda bernama Masoy. Pemuda ini hidup sebatang kara. Ia mempunyai sebuah ladang kecil tempatnya bercocok tanam. Masoy menanam sayur dan buah-buahan di ladangnya. Seminggu sekali ia memetik sayur dan buah-buahan untuk dijualnya di pasar. Dari uang inilah ia bisa membeli beras untuk ia makan.

Pagi ini Masoy pergi ke pasar seperti biasa. Ia membawa sayur dan buah-buahan yang ia petik dari ladangnya. Banyak orang di pasar yang membeli hasil ladangnya. Masoy pun sering memberikan harga yang sangat murah. Ia berpikir jikalau hasil ladangnya cukup untuk memberinya makan, ia sudah sangat bersyukur. Itulah sebabnya Masoy tidak menjual hasil ladangnya dengan harga yang mahal seperti yang dilakukan oleh orang lain.

Setelah semua sayur dan buah-buahannya habis terjual, Masoy kembali ke rumah. Sebelum pulang ke rumah ia menyempatkan diri untuk melihat ladangnya kembali. Kali ini ia sangat tekejut mendapati ladangnya yang porak-poranda. Rupanya seseorang telah mengambil beberapa buah dari sana. Masoy pun mencoba membiarkan kejadian tersebut. Ia segera kembali ke rumahnya.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Masoy pergi ke ladang. Ia hendak melihat apakah pencuri kemarin masih mendatangi ladangnya. Masoy pun kembali terkejut karena dilihatnya beberapa sayur telah hilang dari ladangnya. Ia sangat geram. Kejadian ini baru pertama kali menimpanya. Ia pun memutuskan untuk membuat pagar di sekeliling ladang.

Hari berikutnya Masoy masih mendapati beberapa buah dan sayurnya telah dicuri. Ia pun makin kesal. Ia telah membuat pagar yang sangat tinggi di sekeliling ladangnya. Rupanya cara ini tidak mencegah pencuri untuk mengambil sayur dan buah-buahan dari ladangnya.

Selanjutnya, sebuah ide terlintas dalam benak Masoy. Ia pun membuat sebuah patung yang menyerupai manusia untuk diletakkan di tengah ladang. Patung itu ia buat dari batang bambu. Ia meletakkan sebuah topi di kepala patung tersebut. Tak lupa ia melumuri sekujur tubuh patung tersebut dengan lem. Masoy meninggalkan ladangnya dengan hati gembira. Ia yakin bahwa besok ia akan mengetahui siapakah yang selama ini telah mencuri hasil ladangnya.

Pagi-pagi sekali seekor monyet besar mendatangi ladangnya. Ternyata ialah yang selama ini telah mencuri di ladang milik Masoy. Tanpa ragu lagi monyet itu memanjat pagar dan masuk ke dalam ladang. Saat melihat patung yang telah dibuat oleh Masoy monyet itu berpikir bahwa itu adalah Masoy. Ia pun mengurungkan niatnya untuk mencuri dan menyapa patung di hadapannya yang ia pikir adalah Masoy.

“Eengg... Masoy, apa kabar? Sedang apa kamu di sini?”

Monyet berpura-pura menyapanya. Ia berbasa-basi sambil mengucapkan beberapa kalimat. Namun patung yang berada di depannya, yang ia pikir adalah Masoy, tidak menyahut satu patah kata pun. Monyet merasa kesal karena merasa tidak ditanggapi. Ia pun memukul patung tersebut dengan tangan kanannya. Tangannya pun lengket karena lem dan tidak bisa ia lepaskan. Monyet itu pun kembali memukul dengan tangan kirinya. Setelah kedua tangannya lengket dan tidak bisa ia gerakkan lagi monyet tersebut masih berusaha untuk menendang dengan kakinya sampai seluruh tubuhnya menempel pada patung dan tidak bisa bergerak lagi.

Di saat itulah Masoy sampai di ladang. Ia melihat seekor monyet yang menempel pada patung buatannya. Masoy segera menghampiri monyet malang tersebut. Monyet itu segera meminta ampun kepada Masoy dan memohon untuk dibebaskan. Ia berjanji untuk tidak lagi mencuri hasil ladangnya. Ia berjanji apabila Masoy bersedia membebaskan maka ia akan menjadi pelayannya untuk selamanya.

Masoy pun menyetujui permintaan monyet dan segera membebaskannya. Sejak saat itu monyet menjadi pelayan setia Masoy. Setiap hari ia membantu Masoy merawat ladangnya. Ia menggantikan tugas Masoy pergi ke pasar dan menjual buah dan sayur-sayuran. Masoy pun memperlakukan monyet itu dengan baik.

Suatu pagi monyet pergi ke pasar untuk menjual buah dan sayur-sayuran. Dalam perjalanan pulang, monyet menemukan emas dan perak yang terjatuh di jalan. Monyet segera memungutnya. Saat memungut emas dan perak di tepi jalan ia teringat akan kepala desa yang sangat kaya raya. Kepala desa itu mempunyai seorang anak gadis yang sangat cantik jelita.

Monyet itu tahu bahwa Masoy sudah lama menyukai putri kepala desa. Namun, kepala desa hanya mau menikahkan putrinya dengan pemuda yang juga kaya raya. Maka monyet pun merencanakan sesuatu agar Masoy bisa menikah dengan gadis tersebut. Monyet itu segera pergi ke rumah kepala desa. Ia mengatakan hendak meminjam sebuah timbangan. Ketika sampai di rumah kepala desa ia disambut di depan pintu oleh Kepala Desa.

“Permisi, Kepala Desa. Aku hendak meminjam sebuah timbangan,” kata Monyet dengan hati-hati.

“Kamu hendak menimbang apa?” Kepala Desa pun menjawab dengan penuh nada curiga.

“Majikanku hendak menggunakannya untuk menimbang emas dan perak di rumahnya,” jawab Monyet.

Mendengarkan jawaban monyet yang di luar dugaan, Kepala Desa berubah menjadi sangat ramah. Ia berpikir pastilah majikan dari monyet ini sangatlah kaya sehingga ia membutuhkan sebuah timbangan untuk menimbang emas dan perak.

“Siapakah nama majikanmu yang sangat kaya itu?”

Mendengar Kepala Desa yang berubah menjadi sangat bersahabat, tanpa ragu lagi Monyet menjawab pertanyaan Kepala Desa.

“Majikanku bernama Masoy. Ia mempunyai tambang emas dan perak. Dia juga tinggal di istana yang sangat megah,” jawab Monyet dengan nada gembira.

Kepala Desa pun memberikan timbangan kepada monyet. Ia lalu membawanya pulang. Keesokan harinya, tanpa sepengetahuan Masoy ia pergi kembali ke rumah Kepala Desa untuk mengembalikan timbangan. Ia sengaja meninggalkan emas yang ia temukan pada timbangan tersebut. Menyadari bahwa ada emas yang tertinggal di dalam timbangan, Kepala Desa memanggil Monyet kembali.

“Tunggu! Ada emas yang tertinggal di dalam timbangan,” kata Kepala Desa sambil memanggil Monyet yang telah berjalan meninggalkan rumahnya.

“Majikanku mempunyai emas yang sangat banyak. Emas yang tertinggal ini tidak ada artinya jika dibandingkan semua emas yang ia miliki. Anggaplah ini sebagai tanda terima kasih karena telah meminjaminya timbangan,” jawab Monyet.

Beberapa hari kemudian dengan alasan yang sama ia kembali meminjam timbangan kepada Kepala Desa. Saat mengembalikan timbangan ia sengaja meninggalkan perak di dalam timbangan. Saat ditanya, monyet memberikan jawaban yang sama seperti sebelumnya. Kepala Desa pun sangat terkesan. Ia ingin sekali bertemu dengan majikan dari monyet tersebut.

Seminggu kemudian monyet itu kembali pergi ke rumah Kepala Desa. Kali ini ia akan berterus terang dan mengatakan kepadanya bahwa majikannya ingin sekali menikahi putrinya. Mendengar perkataan monyet, Sang Kepala Desa pun menyetujuinya dan meminta agar besok sore ia membawa majikannya ke rumahnya untuk melamar putrinya. Dengan wajah penuh kemenangan, monyet pulang ke rumah Masoy. Monyet itu pun segera memberitahukan kepada Masoy bahwa Kepala Desa ingin menikahkannya dengan putrinya. Masoy yang tidak mengetahui rencana monyet tidak percaya. Namun, dengan sangat bersemangat monyet bisa meyakinkannya.

“Tapi... tapi aku tidak punya baju yang bagus untuk dipakai,” kata Masoy dengan ragu-ragu.

“Tenanglah! Aku akan mengurus semuanya.”

Ketika pagi tiba, monyet segera mengajak Masoy untuk pergi bersama ke sungai. Ia menyuruh Masoy untuk mandi di sungai sebelum pergi ke rumah Kepala Desa. Saat sedang mandi itulah monyet melihat ada seorang pemuda dengan pakaian yang sangat bagus sedang mandi di sungai. Saat pemuda tersebut lengah, monyet mengambil baju pemuda tersebut dan memberikannya kepada Masoy. Mereka berdua segera pergi ke rumah Kepala Desa. Tanpa disangka, setelah keduanya sampai di rumah Kepala Desa mereka disambut oleh banyak orang. Masoy sangat terkejut. Ternyata Kepala Desa mengundang beberapa penduduk untuk menyambut kedatangan Masoy. Dengan sangat sopan Kepala Desa mengajaknya masuk ke dalam rumah.

Masoy yang tidak tahu menahu rencana yang telah dibuat oleh monyet hanya menuruti kata-kata Kepala Desa. Bahkan saat Kepala Desa mengumumkan kepada para penduduk bahwa putrinya akan menikah dengan seorang yang kaya raya dan tinggal di sebuah rumah yang sangat megah seperti istana, Masoy pun tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya terdiam dan mengangguk setiap kali Kepala Desa menanyainya dengan banyak pertanyaan. Monyet menyelinap keluar dari kerumunan banyak orang. Ia pergi menuju ke rumah seorang penyihir tua jahat yang tinggal di sebuah rumah megah seperti istana. Di depan rumah penyihir tersebut monyet berteriak ketakutan. Penyihir tua itu pun keluar untuk melihat apa yang terjadi.

“Apa yang kamu lakukan di rumahku?”

“Wahai Penyihir Tua, Kepala Desa sedang dalam perjalanan ke sini untuk mencarimu. Ia berkata bahwa apabila ia menemukan seorang penyihir yang sangat tua ia akan membunuhnya. Cepat selamatkan dirimu!”

Penyihir Tua terlihat sangat ketakutan. Ia segera mengambil beberapa barangnya dan meninggalkan rumahnya dengan lari terbirit-birit. Penyihir itu memang telah melakukan banyak kejahatan di desa ini, namun tidak ada satu orang pun yang berani melawannya. Setelah itu, monyet memberitahukan kepada semua penduduk di sekitar rumah penyihir itu bahwa nanti Kepala Desa akan datang ke tempat ini.

“Jika Kepala Desa datang ke sini dan bertanya milik siapakah rumah ini maka kalian harus menjawab rumah ini milik Masoy atau kepala desa itu akan membunuh kalian.”

Karena merasa takut dengan kepala desa mereka, para penduduk pun mematuhi kata-kata monyet. Rombongan Kepala Desa pun datang ke tempat tersebut. Ia disambut oleh para warga dan menanyakan tentang rumah megah yang mirip istana tersebut. Mereka pun menjawab bahwa rumah tersebut memang benar milik Masoy dan ia adalah orang terkaya di desa ini. Kepala Desa bersedia untuk menikahkan putrinya dengan Masoy. Mereka berdua hidup bahagia di rumah megah bersama dengan monyet yang setia itu. 

***

Abdul selesai membaca buku dan buku di taruh di meja. Abdul beranjak dari duduknya di ruang tengh, ya bergerak masuk ke kamarnya untuk belajarlah mengulas pelajaran yang di berikan guru di bangku sekolah dengan baik. 

CITRA

Indro duduk di halaman belakang dengan memegang gitar, ya ingin di mainkan dengan baik. 

"Keadaan di sini tentang, ya kota Jakarta," kata Indro.

Indro menggenjreng gitarnya. 

"Nyanyi lagu apa ya?!" kata Indro. 

Indro mengingat lagu yang bagus, ya segera di nyanyikan dan main gitarnya dengan baik. 

Lirik lagu yang dinyanyikan Indro dengan judul 'Sabda Rindu' :

"Malam-malam tak berbintang

Jadi terang menantikanmu

Malam-malam kau ajak berbincang

Tanya apa kabarku

Pipiku merona ku tersipu malu

Hanya mendengar hangat suaramu

Kangen dirimu

Ingat selalu hati kita satu

Meski engkau jauh

Mari nikmati sabda rindu yang melagu

Ingat sayang meski tak bertemu

Indahnya merindu

Beri senyuman

Detak di jantungku

Malam-malam tak berbintang

Ku merindu ingin berjumpa dirimu

Oh bunyi dering rindu obati sakitnya

Lama kita tak bertemu

Pipiku merona ku tersipu malu

Hanya mendengar hangat suaramu

Kangen dirimu

Ingat selalu hati kita satu

Meski engkau jauh

Mari nikmati sabda rindu yang melagu

Ingat sayang meski tak bertemu

Indahnya merindu

Beri senyuman

Detak di jantungku

Oh-oo-oo

(Ku menanti) Ku menanti

(Hati ini menunggu) Oh-oo

(Dirimu) Oh-oo-oo

Meski jauh, kau dekat di hatiku

Nimatnya rindu kangen dirimu

Ingat selalu (hati kita satu)

Meski engkau jauh

Mari nikmati sabda rindu yang melagu

Ingat sayang meski tak bertemu

Indahnya merindu

Beri senyuman

Detak di jantungku, ho

Ingat selalu hati kita satu

Meski jauh kau ada di hatiku

Nikmatilah sabda rindu

Sabda rindu yang melagu

Ingat selalu hati kita satu

Meski jauh kau ada di hatiku

Nikmatilah sabda rindu

Sabda rindu yang melagu

Sayang

Sayang"

***

Indro selesai menyanyikan lagunya dan main gitarnya. Kasino baru duduk di halaman belakang.

"Kasino," kata Indro.

"Apa?!" kata Kasino.

"Apa pendapat mu dengan acara artis Ria Ricis, ya lamaran gitu. Cowoknya ganteng dan keren bernama Ryan?!" Kara Indro.

"Aku repot dengan urusan kerjaan. Jadi belum nonton itu acara. Entar aku lihat acara itu lewat jaringan internet, ya Hp!" kata Kasino.

"Emmmm," kata Indro.

Indro dengan menggenjreng gitarnya, ya tidak menyanyi sih tetap diam karena nunggu Kasino selesai nonton acara Tv di jaringan internet di Hp Kasino lah. Cukup singkat sih, ya nonton acara Tv di Hp. 

Kasino berkata "Pendapat ku, ya acara artis Ria Ricis....bagus sih." 

"Pendapat Kasino....bagus toh, ya aku sama saja sih. Gayanya acara islam banget, ya acara adat juga ada sih berdasarkan suku sih," kata Indro. 

"Nama juga orang menjalankan urusan pernikahan pasti mengangkat acara ya tema agama yang di yakini dan di jalanin dengan baik. Asal usul suku pun di angkat dengan baik, ya agar tidak melupakan dasar dari adat istiadat suku yang di bangun nenek moyang dari nol sampai sekarang," kata Kasino. 

"Generasi mengikuti saja apa yang telah di bangun dengan baik sampai sekarang, ya tanda menghargai dan menghormati adat istiadat dari suku," kata Indro. 

"Bisa di bilang cermin citra baik, ya kan Kasino," kata Kasino. 

"Iya lah. Cermin citra yang baik," kata Indro. 

"Emmmmm," kata Kasino. 

"Kalau aku menikah, ya acara ya sederhana saja lah. Nama juga di perhitungkan isi kantong dari pada wah weh woh acara pernikahan, ya ngutang sana sini," kata Indro. 

"Sederhana lebih baik. Jika mampu, ya tidak ada masalah sih. Tapi memang sih, ya jauh kan dari urusan utang ini dan itu," kata Kasino. 

"Emmm," kata Indro. 

"Indro. Tadi aku denger. Indro menyanyi kan lagu dengan judul 'Sabda Rindu'...kenapa Indro?!" kata Kasino. 

"Sekedar nyanyi aja seperti biasanya," kata Indro. 

"Ooooo begitu. Sekedar saja menyanyi toh!" kata Kasino. 

"Oooo iya Kasino. Apa tanggapan mu tentang berita tentang Warkop dengan Warkopi, ya karena kan penulis juga mengunakan nama-nama dari Warkop?!" kata Indro. 

"Berita itu ya. Jadi urusannya gimana ya. Kontrafersi. Kita kenaan sih karena pake nama dari Warkop sih," kata Kasino. 

"Kenaan kan Kasino. Gimana?!" kata Indro. 

"Kemungkinan sih penulis lebih baik menghentikan cerita Dono, Kasino dan Indro, ya sementara waktu dan di gantikan tokoh lain. Seperti cerita Eko dan Budi, ya ada tokoh ketiganya sih Abdul," kata Kasino. 

"Iya seperti biasanya sih. Di hentikan sementara waktu ceritanya dan di ganti cerita lain dan tokoh lain," kata Indro. 

"Kalau begitu. Main catur saja Kasino!" kata Indro. 

"Ok. Main catur saja!" kata Kasino. 

Kasino mengambil papan catur di bawah meja dan papan di taruh di atas meja. Indro menaruh gitarnya di samping kursi. Kasino dan Indro main catur dengan baik banget. 

Wednesday, September 22, 2021

BAWANG MERAH DAN BAWANG PUTIH

Lakmi siswi SMP sih, ya selesai urusan aktivitas sekolah segera pulang ke rumah. Di jalan menuju rumah, ya Lakmi bersama dengan Tia teman sekelasnya, ya satu arah sih menuju rumah masing-masing. Keduanya ngobrol, ya biasalah masih urusan pelajaran yang di berikan guru dengan baik dan juga ada sih obrolan tentang pandemi covid-19, ya masih di tanggulangi dengan baik dan penerapan protokol kesehatan di terapkan di sekolah dengan baik,  ya pokoknya sama aja ceritanya dengan berita di Tv sih. Selang berapa saat. Lakmi sampai di rumahnya, ya Tia masih melanjutkan jalannya menuju rumahnya. 

Lakmi beres-beres diri di kamarnya, ya setelah itu makan di ruang makan untuk mengisi perut dari tadi bunyi sih. Dengan santai Lakmi makan, ya di temanin ibu sih. Sampai kenyang si Lakshmi. Seperti biasa sih Lakmi mencuci piring dan gelas yang di gunakan di belakang karena ibu mengajarkan Lakmi untuk cewek rajin, ya tidak boleh males. 

Selesai mencuci piring dan gelas dan telah di taruh di rak, ya Lakmi ke kamarnya dan membuka tas untuk mengambil buku yang ia pinjam di perpustakaan sekolah. Lakmi keluar dari kamar, ya menuju ruang tengah. Duduk dengan baik Lakmi di ruang tengah, ya baca buku cerita sih. 

Isi buku cerita yang di baca Lakmi :

Bawang Merah-Bawang Putih merupakan cerita rakyat Riau. Bawang Merah-Bawang Putih merupakan kisah klasik bagi masyarakat Indonesia, menceritakan tentang dua orang anak gadis bernama Bawang Merah & Bawang Putih.

Konon, dahulu kala di sebuah desa, hidup seorang anak gadis bernama Bawang Putih tinggal bersama ayahnya. Ibu Bawang Putih telah meninggal dunia setelah menderita sakit keras. Tidak jauh dari rumah mereka, tinggal seorang janda yang memiliki seorang anak gadis bernama Bawang Merah.

Alkisah, setelah ibu Bawang Putih meninggal, Bawang Merah beserta ibunya sering berkunjung ke rumah Bawang Putih. Karena sering bertemu, ayah Bawang Putih dan ibu Bawang Merah saling jatuh cinta. Mereka berdua akhirnya memutuskan menikah. 

Mereka kemudian tinggal satu rumah hidup berbahagia sebagai sebuah keluarga. Malang bagi Bawang Putih, kebahagiaan tersebut tidak berlangsung lama. Ayahnya meninggal dunia karena sakit. Setelah ayahnya tiada, sikap Bawang Merah & ibunya berubah drastis. Mereka berdua selalu menyuruh Bawang Putih melakukan pekerjaan rumah. 

Tiap hari Bawang Putih bertugas mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga sementara Bawang Merah dan ibunya kerjanya hanya bermalas-malasan. Suatu hari, Bawang Putih tengah mencuci pakaian di sebuah sungai di dekat rumah. Karena terlalu banyak pakaian yang ia cuci, Bawang Putih tidak menyadari ada sebuah pakaian milik ibu tirinya hanyut terbawa arus sungai. Sesampainya di rumah, sang ibu memarahi keteledorannya. Ia meminta Bawang Putih untuk mencari pakaiannya sampai ketemu.

"Kamu memang anak bodoh Bawang Putih! Kau cari sana pakaianku! Jangan pulang jika belum dapat menemukannya!" sang ibu memarahinya. 

"Maaf ibu, aku tidak tahu kalau ada pakaian yang hanyut. Aku akan mencarinya segera." kata Bawang Putih.

Bawang Putih segera pergi menyusuri sungai mencari pakaian ibu tirinya. Hari telah menjelang petang, kesana-kemari ia mencari tapi tidak kunjung menemukan pakaian ibu tirinya. Sampai di suatu tempat, Bawang Putih melihat sebuah gubuk tua ditinggali oleh seorang nenek tua. Nenek tersebut terlihat tengah mengumpulkan kayu bakar. Bawang Putih kemudian mendekati si nenek tua untuk menanyakan arah jalan.

"Maaf Nek mengganggu. Nama saya Bawang Putih. Saya tersesat setelah sehari penuh mencari pakaian ibu saya yang hilang terbawa arus sungai." kata Bawang Putih.

 "Oh sedang mencari pakaian rupanya kau Nak? Apa pakaiannya berwarna merah?" tanya nenek tua.

"Iya betul Nek, pakaian ibu saya berwarna merah. Bagaimana nenek tahu?" tanya Bawang Putih.

"Pakaian itu tersangkut di depan rumah Nenek. Sini masuk ke rumah, Nenek ambilkan pakaiannya." nenek tua mengajak Bawang Putih masuk ke dalam rumah.

Setelah menyerahkan pakaian, nenek tersebut meminta Bawang Putih untuk tinggal di rumahnya selama satu minggu menemaninya, karena sang nenek sudah lama tinggal sendirian. Bawang Putih menyanggupi permintaan nenek tua. Selama satu minggu Bawang Putih tinggal di rumah nenek sambil membantu pekerjaan rumah. Mulai dari mencuci pakaian, membersihkan rumah, memasak sampai mencari kayu bakar. 

Bawang Putih melakukannya dengan ikhlas. Si Nenek merasa sangat menyayangi Bawang Putih. Setelah satu minggu, Bawang Putih pun pamit pulang ke rumahnya. Sang nenek mengucapkan terima kasih kepada Bawang Putih. Ia memberikan hadiah buah labu. Nenek tua menunjukan dua buah labu, satu labu berukuran besar, sedang satu lagi labu berukuran kecil. Sang nenek meminta Bawang Putih membawa pulang salah satu labu. 

Setelah mengucapkan terima kasih, Bawang Putih kemudian pulang membawa labu berukuran kecil. Bawang Putih beralasan lebih mudah membawanya. Setelah tiba di rumah, Bawang Putih menyerahkan pakaian pada ibu tirinya seraya menjelaskan bahwa ia tinggal selama satu minggu di rumah seorang nenek. Ia kemudian pergi ke dapur untuk membelah labu yang ia bawa. Alangkah terkejutnya Bawang Putih, ternyata labu tersebut berisi perhiasan emas permata.

"Ya ampun..apa ini? Kenapa labu ini berisi perhiasan emas permata?" Bawang Putih berteriak kaget.

Bawang Merah beserta ibunya segera pergi ke dapur ingin mengetahui apa yang terjadi.

"Ya ampun perhiasan emas permata! Inikah labu pemberian nenek tua itu hai Bawang Putih?" tanya ibu tirinya.

"Iya bu, ini hadiah dari nenek." kata Bawang Putih.

Ibu tirinya kemudian memiliki ide untuk mendatangi rumah nenek tua. Ia berencana tinggal disana selama satu minggu, tujuannya agar bisa mendapat hadiah labu berisi emas permata. Mereka berdua kemudian pergi menyusuri sungai dan berhasil menemukan rumah nenek tua. Nenek tua pun menyambut mereka dengan baik. 

Nenek tua meminta mereka tinggal di rumahnya selama satu minggu. Tidak seperti Bawang Putih yang rajin membantu pekerjaan sang nenek, Bawang Merah tiap hari kerjanya hanya bermalas-malasan. Satu minggu berlalu, Bawang Merah beserta ibunya kemudian pamit pulang. Sebelum pulang, nenek tua memberikan pilihan hadiah berupa sebuah labu berukuran besar sedang satu lagi sebuah labu berukuran kecil. 

Bawang Merah & ibunya tanpa pikir panjang memilih labu berukuran besar. Diliputi kegembiraan, Bawang Merah dan ibunya segera pulang ke rumah, tidak sabar untuk membelah labu hadiah nenek tua. Di dapur, Bawang Merah segera membelah labu tersebut menggunakan pisau. Bawang Merah berharap mendapatkan emas permata lebih banyak dari Bawang Putih. Tapi alangkah kagetnya mereka berdua, ternyata di dalam labu tersebut muncul seekor ular berbisa. Ular tersebut menggigit Bawang Merah dan ibunya hingga tewas. Begitulah nasib ibu dan anak yang memiliki sifat culas lagi serakah berakhir mengenaskan.

***

Lakmi selesai baca bukunya, ya buku di taruh di meja. Lakmi pun mengambil remot di meja dan di hidupkan Tv dengan baik. Remot di taruh di meja sama Lakmi. Acara TV acara film kartun. Lakmi menonton dengan baik film kartun yang bagus itu. 

KERA DAN KURA-KURA

Amihan sedang membaca bukunya dengan baik, ya cerita yang katanya asalnya dari Filipina karena memang tertulis di buku sih. 

Isi buku yang di baca Amihan :

Kera dan kura-kura adalah dua binatang yang mempunyai habitat berbeda. Kera hidup di hutan sedangkan kura-kura hidup di air. Namun jauh sebelum mereka mempunyai habitat yang berbeda, keduanya hidup bersama-sama dengan rukun dan bersahabat baik. Kera dan kura-kura dahulu hidup bersama di sebuah hutan. Mereka hidup bersama dengan binatang-binatang yang lain di hutan. Suatu pagi yang amat cerah seekor kera sedang berjalan sendiri di antara rombongan binatang di hutan. Melihat hal ini seekor kura-kura menghampirinya. Ia menyapa kera yang sedang berjalan sambil memegangi perutnya. 

“Selamat pagi, Kera! Kenapa kamu memegangi perutmu?”

“Aku kelaparan. Semua buah pisang yang ada di hutan ini telah dimakan oleh kera-kera yang lain,” dengan suara yang terlihat tidak bersemangat kera itu pun menjawab. “Tenang, ikutlah denganku!” kata Kura-kura sambil meminta Kera untuk mengikutinya. 

Kera pun mengikuti Kura-kura. Ia tidak dapat menduga-duga ke mana Kura-kura hendak membawanya. Hutan masih terlihat sepi. Tampaknya masih banyak penghuninya yang belum menampakkan diri. Ketika sampai di sebuah pohon pisang, Kura-kura menghentikan langkahnya. Kera pun berhenti di belakangnya. 

“Lihatlah!”

Kura-kura menunjukkan sebuah pohon pisang dengan tunas yang telah tumbuh banyak.

“Kita akan menanam pohon pisang sendiri. Dengan begitu kita bisa makan pisang sepuasnya,” lanjut Kura-kura kepada Kera.

Mereka berdua pun kemudian mengambil masing-masing sebuah tunas pohon pisang. Setelah itu mereka membawanya pergi. Mereka menanam tunas pohon pisang di sebuah tempat yang tidak jauh dari rumah Kera. Kura-kura menanam tunasnya di sebelah kiri dan Kera di sebelah kanan. Mereka berdua sangat senang dan tidak sabar menanti pohon pisang untuk berbuah dan segera memakannya. Setelah menanam tunas pohon pisang itu Kera segera kembali bermain bersama teman-temannya. Semua penghuni hutan terlihat telah menampakkan diri dan saling menyapa satu sama lain. Kura-kura pun segera bergabung bersama teman-temannya yang sedang bermain. 

Keduanya berjanji akan bertemu kembali esok hari untuk menyirami pohon pisang mereka. Seperti yang telah dijanjikan sebelumnya, Kera dan Kura-kura pun segera bertemu di tempat mereka menanam pohon pisang keesokan paginya. Kera berangkat dari rumahnya dengan sangat bersemangat. Kura-kura pun sudah terlihat berjalan ke tempat yang sama. Keduanya sampai pada saat yang bersamaan. Setelah saling sapa, keduanya lalu melihat-lihat tunas pisangnya masing-masing. 

“Apakah tunas ini bisa tumbuh menjadi pohon pisang?” tanya Kera kepada Kura-kura. 

“Tentu saja! Asalkan kamu merawatnya dengan baik,” jawab Kura-kura. 

Mereka berdua pun merawat tunas pisang masing-masing dengan baik. Kera merawat tunasnya dan berharap bisa segera melihat tunas itu tumbuh menjadi pohon pisang yang berbuah banyak. Ia tak sabar menantikan buah-buah pisang dari tunas yang ia tanam. Kura-kura pun tidak mau kalah merawat tunas pisangnya. Mereka berdua setiap hari datang ke tempat itu dan bersama-sama berusaha untuk membuat tunas pisang mereka tumbuh dengan subur. Akhirnya saat yang ditunggu telah tiba. Setelah sekian lama menunggu, Kera dan Kura-kura melihat tunas pisang mereka telah tumbuh besar menjadi pohon pisang. Keduanya pun bersorak gembira. 

Mereka semakin rajin merawat pohon pisang itu. Setelah melihat pohon pisang yang tumbuh subur, keduanya berjanji untuk bertemu kembali dalam beberapa hari. Setelah satu minggu tidak datang ke tempat pohon pisang itu berada, Kera dan Kura-kura pun kembali melihat pohon pisang sesuai janji mereka. Akan tetapi, betapa terkejutnya Kera ketika melihat pohon pisangnya. Ia melihat pohon pisangnya telah layu dan mati. Sedangkan pohon pisang milik Kura-kura terlihat tumbuh semakin tinggi dan subur. Kera pun sangat bersedih. Kura-kura berusaha untuk menghiburnya. 

“Sudahlah, Kera, jangan bersedih! Lihatlah pohon pisangku! Ketika nanti sudah berbuah, kita akan memakannya bersama-sama,” Kura-kura berusaha menghibur Kera agar tidak bersedih. 

Kera pun merasa senang karena Kura-kura telah mengizinkannya untuk memakan buah pisangnya apabila telah berbuah nanti. Kura-kura dan Kera kemudian meninggalkan tempat itu. Kura-kura pergi menemui teman-temannya dan menceritakan tentang pohon pisang yang ia tanam bersama Kera. Salah seorang dari mereka mengatakan padanya agar tidak begitu saja percaya kepada Kera. Ia memperingatkan bahwa bisa saja Kera nanti mencuri buah pisangnya apabila telah berbuah. Namun, Kura-kura menyangkalnya dan berkata bahwa ia telah bersahabat baik dengan Kera sehingga ia bisa memercayainya. 

Pohon pisang milik Kura-kura tumbuh semakin besar. Kini Kura-kura dan Kera merawat pohon pisang itu bersama-sama. Hingga suatu hari pohon pisang itu berbuah. Sebagian besar buahnya telah menguning dan telah siap dipetik. Hanya sedikit saja buah yang masih berwarna hijau. Meskipun begitu, Kura-kura telah berniat untuk memetik saja buah pisangnya. Kura-kura mengajak Kera untuk memetik buah pisang. Kera pun dengan senang hati pergi bersama Kura-kura. Sesampainya di tempat pohon pisang itu berada, Kura-kura tampak bingung. Ia tidak bisa memanjat pohon pisang untuk memetik buah miliknya. Untunglah Kera sangat pandai dalam memanjat pohon. Kura-kura lalu meminta bantuan kepada Kera untuk membantunya memetik buah pisang. 

Kera segera memanjat pohon pisang. Ia terlihat sangat terampil dan dalam sekejap sudah berhasil sampai di atas. Ia melihat buah pisang yang kini berada di depannya. Buah pisang itu terlihat sangat lezat. Kera hampir saja meneteskan air liurnya. Secepat kilat ia memetik pisang yang telah berwarna kuning. Karena sudah tidak tahan melihat pisang yang menguning dan terlihat sangat lezat, ia segera mengupas dan memakannya. Kera sangat gembira. Pisang itu sangat lezat. Ia pun kembali memetik pisang-pisang lain dan memakannya. Melihat Kera yang tidak henti-hentinya memakan pisang di atas pohon, Kura-kura sedikit cemas. Ia juga ingin segera memakan pisang itu. Maka ia langsung berteriak pada Kera yang sedang berada di atas pohon pisang. 

“Hei, Kera! Aku juga ingin memakan pisang itu. Lemparkan padaku!” Kera tidak mengindahkan teriakan Kura-kura. 

Ia sangat asyik dengan buah pisang ranum yang ada di hadapannya. Ia terus memetik dan memakan pisang yang berwarna kuning dan melempar pisang-pisang berwarna hijau yang belum matang kepada Kura-kura. Setelah memakan semua pisang yang telah matang, Kera pun tertidur di atas pohon pisang. Melihat kejadian itu, Kura-kura yang berada di bawah merasa sangat marah. Ia merasa telah ditipu oleh Kera. Ia pun segera mencari akal untuk memberi pelajaran kepada Kera. Kura-kura pergi mencari bambu dan memotongnya lalu meruncingkan bagian ujungnya. Setelah itu, ia kembali ke tempat pohon pisang berada. Dilihatnya Kera masih tertidur di atas pohon pisang. Kura-kura kemudian menancapkan bambu-bambu berujung runcing itu di sekeliling pohon pisang. 

“Ada buaya datang! Ada buaya datang!” Kura-kura berteriak dengan kencang. 

Kera yang tertidur di atas pohon pisang sangat kaget. Ia terbangun dan melepaskan kedua tangannya dari pohon pisang. Ia pun terjatuh dan tubuhnya menancap pada batang-batang bambu yang runcing. Kera pun mati seketika. Kura-kura segera meninggalkan tempat tersebut. Ia kembali pada teman-temannya dan menceritakan kejadian itu. Ia teringat dahulu salah satu temannya telah mengingatkan akan kejadian yang menimpanya. Menemukan temannya yang telah mati, kera-kera di hutan pun segera mencari tahu apa yang telah terjadi. Ketika mengetahui bahwa Kura-kura yang telah melakukan perbuatan itu, mereka pun menangkapnya dan membawanya ke tempat mereka berkumpul di hutan.

“Dia harus diberi pelajaran!” kata salah satu dari kera-kera tersebut. 

Kera-kera memutuskan untuk membunuh Kura-kura dengan sebuah kapak. Namun, Kura-kura sangat pintar. Sebelum kera-kera itu mengambil sebuah kapak, ia berkata bahwa kapak itu tidak akan sedikit pun bisa menembus kulitnya. Ia menunjukkan bahwa goresan-goresan di kulitnya adalah bekas pukulan kapak oleh binatang-binatang di hutan yang pernah berusaha membunuhnya. Kera-kera itu memerhatikan kulit Kura-kura. Mereka pun percaya dan merasa bahwa sia-sia saja jika mereka menggunakan kapak. 

“Kita tenggelamkan saja ia ke laut!”Salah satu dari kera-kera memberikan ide. 

Mereka lalu membawa Kura-kura ke pinggir laut dan menenggelamkannya di sana. Kura-kura terlihat telah tenggelam ke dalam air laut. Namun tidak berapa lama, ia muncul kembali dengan sebuah lobster yang sangat besar. Para kera itu pun terkejut dan bertanya bagaimana Kura-kura itu tidak tenggelam. Mereka melihat lobster yang sangat besar dan ingin memakannya. 

“Ikatkan tali ini pada pinggang kalian maka kalian tidak akan tenggelam,” Kura-kura memberikan saran kepada para kera yang juga ingin masuk ke dalam air laut untuk menangkap lobster. 

Para kera pun mengikuti saran yang diberikan oleh Kura-kura. Mereka mengikat pinggang mereka dengan seutas tali lalu masuk ke dalam air laut. Namun, malangnya kera-kera itu tidak bisa kembali ke permukaan laut. Mereka tenggelam bersama tali yang diikatkan ke pinggang mereka. Mengetahui kejadian ini, para kera lain yang berada di hutan sangat takut. Semenjak saat itu, kera-kera tidak berani memakan buah selain buah-buahan yang ada di hutan. Itulah asal-usul mengapa kera tidak memakan daging karena mereka teringat peristiwa yang menimpa nenek moyang mereka di masa lalu. 

***

Amihan selesai membaca buku cerita ya, ya buku di taruh di meja dengan baik. Amihan, ya keluar dari kamarnya langsung keluar rumah untuk bermain di halaman depan rumah, ya bisa di bilang sih taman. Amihan bermain dengan baik bersama saudara dan saudarinya. 

CITRA

Eko sedang duduk depan rumahnya, ya nungguin warung Ibunya kalau Eko tidak ada kerajaan lah. Budi yang telah selesai urusan kerajaannya, ya ke tempat Ekolah dengan motornya. Budi memang remaja yang kerja keraslah dalam urusan kerjaan, ya memang sih Budi mulai kerja setelah lulus SMA, ya sama dengan Eko. Masa Budi dan Eko lulus sekolah dari SMA, ya masa perkembangan jaringan internet masih proseslah, ya beda dengan sekarang terlalu maju sih perkembangan media infomasi. 

Budi kerjaan apapun di kerjakan dengan baik sampai impiannya tercapai, ya bisa beli motor dengan cara kredit, ya nama juga gaji kecil dengan lulusan SMA. Prinsip Budi tidak ingin merengek beli motor sama orang tua karena sebenarnya orang tua Budi, ya sederhana sih dari pada di bilang miskin kan masih ada usaha dengan baik, ya agar keluar dari kemiskinan. Kan Ada cerita kalau remaja anak orang Kaya, ya di beliin motor sama orang tua karena orang tuanya kaya, ya kerja di pemerintahan lah. 

Budi sampai di rumah Eko, ya memarkirkan motornya dengan baik. Eko ke dapur untuk membuat kopi satu gelas untuk Budi. Ya Budi duduk santai di depan rumah Eko. Eko selesai membuat kopi di dapur, ya di bawa dengan baik satu gelas kopi ke depan rumah.

Gelas kopi di taruh di meja dengan baik sama Eko dan Eko duduk dengan baik.

"Budi...kopinya!" kata Eko.

"Repot banget di sajikan kopi," kata Budi.

"Kebiasaan omongannya," kata Eko.

"Becanda....Eko!!!" kata Budi.

"Emmm," kata Eko.

Budi mengambil gelas berisi kopi dan di minum dengan baik banget.

"Gimana kerjaan Budi?!" kata Eko. 

Budi menaruh gelas berisi kopi, ya di meja. 

"Baik seperti biasanya," kata Budi. 

"Kita masih bersyukur kerjaan kita baik kan Budi?!" kata Eko. 

"Iya," kata Budi. 

"Hidup di kota Bandar Lampung ini harus kerja keras demi kelangsungan Hidup dengan baik," kata Eko. 

"Memang harus begitulah. Dari usaha sendiri sampai ikut orang dengan modal usahanya besar, ya mampu menggaji orang lain. Di jalanin dengan kesabaran dan juga kerja keras," kata Budi. 

"Hasilnya di nikmati dengan baik kan Budi?!" kata Eko. 

"Iyalah. Hasilnya di nikmati dengan baik!" kata Budi dengan tegas. 

"Oooo iya Budi. Citra....," kata Eko. 

Budi langsung motong omongan Eko "Citra itu anak mana ya?!" 

"Anak Pak Hamit," kata Eko. 

"Oooo anak Pak Hamit toh," kata Budi. 

"Budi serious!" kata Eko. 

"Ok....ok....ok!" kata Budi. 

"Maksud aku. Kota Bandar Lampung ini, jika di omongin. Harus membicarakan yang baik-baik, maka akan mencerminkan citra yang baik pada kota ini?!" kata Eko. 

"Iya Iyalah," kata Budi. 

"Kalau membicarakan sudut sebaliknya, ya jadinya citra yang buruk," kata Eko. 

"Iya lah. Contoh : Ada kejahatan pencurian, penipuan sampai perampokan di daerah sini. Maka jadi pertanyaannya....apa kerjaan, ya petugas keamanan yang di gaji sama pemerintahan dan juga swasta, ya sampai terjadi hal-hal yang di cegah?!" kata Budi. 

"Jadi daerah jadi rawan ini dan itu sih," kata Eko. 

"Karena rawan ini dan itu, ya jadinya citra daerah ini buruklah," kata Budi. 

"Padahal kalau di cari dengan baik, ya orang berbuat kejahatan ini dan itu sih....dari anak kecil sampai orang kaya dan juga berbagi jenis suku yang tinggal di daerah sini. Tegasnya sih, ya tetangga sendiri, teman sendiri sampai keluarga sendiri," kata Eko. 

"Ya mau di bilang apa ada itu datanya. Di daerah lain pun sama aja!" kata Budi. 

"Memang pendidikan dari awal orang tua ke anak. Agar anak didik dengan baik, ya berjalan di jalan kebaikan, ya jauhkan dari jalan yang merugikan diri dan orang lain," kata Eko. 

"Pergaulan juga yang mengubah anak. Banyak ceritanya," kata Budi. 

"Pergaulan yang salah mengubah sifat manusia," kata Eko. 

"Pemerintahan daerah dengan pemerintahan pusat," kata Budi. 

"Jangan ngomongin itu ah!" kata Eko. 

"Kenapa Eko?!" kata Budi. 

"Kita ini cuma lulusan SMA, ya beda dengan orang-orang yang lulusan Universitas yang kerjaannya ngomong di acara Tv dan juga kerja di pemerintahan," kata Eko. 

"Pemahaman keilmuan kita, ya kan Eko?!" kata Budi. 

"Iya. Pemahaman keilmuan," kata Budi menegaskan omongan Eko. 

"Emmmm," kata Eko. 

"Eko. Lebih baik main catur saja!" kata Budi. 

"Ok. Main catur saja!" kata Eko. 

Eko mengambil papan catur di bawah meja dan papan catur di taruh di atas meja. Eko dan Budi main catur dengan baik banget. 

CAMPUR ADUK

BAD NEWS BEARS

Malam hari, ya bulan bersinar dengan baik. Setelah nonton Tv yang acaranya menarik dan bagus...tema cinta di chenel MDTV, ya seperti biasa s...

CAMPUR ADUK