CAMPUR ADUK

Sunday, July 11, 2021

LEGENDA KOLAM SAMPURAGA

Ridho membaca bukunya dengan baik.

Isi buku yang di baca Ridho :

Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang pemuda bersama ibunya yang telah tua. Mereka berdua tinggal di daerah Padang Lawas Utara. keduanya bekerja sebagai buruh tani dan hidup sederhana. Namun, pemilik lahan pertanian sangat menyukai mereka berdua sebagai pekerja. Mereka memiliki sifat jujur dan rajin bekerja. Pada suatu ketika, pemilik lahan sedang berbincang dengan Sampuraga. Sang pemilik lahan berkata kepada Sampuraga “Sampuraga, kau adalah pemuda yang jujur dan rajin bekerja. Selain itu, kau juga masih muda, tenagamu masih kuat. Aku khawatir, jika pekerjaanmu yang terus menerus sebagai buruh tani akan memberikan penghidupan yang kurang layak bagimu. Di daerah Mandailing, banyak penduduknya bekerja sebagai pendulang emas. Sebaiknya engkau pergi merantau ke sana sebagai pendulang emas, agar hidupmu sukses."

Sesaat Sampuraga merenung. Ia ingin sekali mendapatkan pekerjaan yang layak agar bisa membahagiakan orang tuanya.

Ia lalu berkata “Baiklah Pak, saya akan pulang ke rumah dan membicarakanya kepada Ibu terlebih dahulu.”

Sampuraga akhirnya pulang ke rumah menemui ibunya. Dia menyampaikan berita yang telah dia peroleh dari pemilik tanah kepada ibunya.

“Anakku Sampuraga, pergilah engkau ke Mandailing untuk bekerja sebagai pendulang emas. Ibu mengizinkanmu. Ibu juga ingin melihatmu hidup sejahtera. Maafkan ibu yang tidak bisa membahagiakanmu hingga saat ini. Pergilah nak, mudah-mudahan engkau sukses di sana,” sang ibu mengizinkan dengan raut wajah yang sedih karena takut kehilangan anaknya. Dia khawatir tidak dapat bertemu lagi dengan Sampuraga.

 Sampuraga akhirnya pergi ke Mandailing dan berpamitan dengan ibunya.

“Bu, aku akan kembali dan akan menjemput ibu ketika aku telah sukses nanti,” kata Sampuraga.

Dalam perjalanan ke Mandailing, Sampuraga beristirahat untuk melepas lelah di daerah yang bernama Pidoli Lombang. Lalu, dia melanjutkan perjalanan ke Desa Sirambas. Di daerah Sirambas merupakan daerah yang dipimpin oleh Raja Silanjang.

Ternyata, Sampuraga bekerja menjadi anak buah dari Raja Silanjang. Sebagai pegawai dalam menjalankan usaha dagang dari Raja Silanjang, Sampuraga bekerja dengan tekun dan penuh kejujuran, sehingga Sampuraga menjadi anak buah yang disenangi oleh Raja Silanjang. Raja Silanjang akhirnya mempercayakan usaha daganganya kepada Sampuraga. Sampuraga akhirnya menjadi seorang pemuda yang kaya raya.

Karena Raja Silanjang memiliki seorang putri yang cantik jelita dan belum menikah. Akhirnya, Sampuraga dinikahkan dengan putri dari Raja Silanjang, karena raja telah senang dengan kepribadian Sampuraga. Pesta pernikahannya dirayakan dengan begitu mewah dan megah. Hingga akhirnya, berita pernikahan Sampuraga dengan anak Raja Silanjang sampai ke kampung tempat kelahiran Sampuraga.

Mendengar kabar bahwa Sampuraga menikah, sang ibu heran mendengarnya. Jika pemuda itu adalah Sampuraga, anaknya, mengapa berita tentang pernikahannya tidak disampaikan secara langsung oleh anaknya. Sang ibu ingat dengan ucapan Sampuraga, bahwasanya apabila dia telah kaya raya, dia akan kembali mendatangi dan menjemput sang ibu. Karena kepenasaran sang ibu terhadap anaknya, berangkatlah beliau ke Desa Sirambas, untuk memastikan bahwa anaknya benar-benar telah menikah.

Sang ibu menempuh perjalanan yang cukup jauh untuk sampai ke Desa Sirambas. Setelah mengetahui dimana letak pesta pernikahan itu berada, sang ibu sangat takjub dengan kemeriahan pesta yang belum pernah dia temukan seumur hidupnya. Dengan hati yang berdebar-debar, sang ibu dengan pakaian lusuh dan kumal mendekati pesta tersebut. Alangkah terkejutnya sang ibu, bahwa Sampuraga sedang bersanding dengan istrinya yang cantik jelita. Sang ibu akhirnya bahagia telah menemukan anaknya.

“Anakku Sampuraga..., ibu datang sayang,” teriak ibu tua tersebut dengan penuh kebahagiaan.

Seluruh tamu undangan tercengang atas kehadiran seorang perempuan tua yang lusuh tersebut. Mereka heran, mengapa ada tamu yang datang dengan pakaian lusuh dan mengakui bahwa Sampuraga adalah anaknya. Melihat kejadian tersebut, Sampuraga yang duduk di pelaminan bersama istrinya menjadi tercengang. Dia malu dengan kehadiran ibu kandungnya sendiri dalam keadaan pakaian yang compang-camping. Dengan nada suara yang tinggi, Sampuraga mengusir ibunya yang telah tua renta.

“Siapa kau wahai perempuan tua dan miskin ?! aku tidak mengenali kau, kau mengacaukan pestaku ini ! Ibuku sudah lama meninggal, pergi kau dari sini !” hardik Sampuraga tiada ampun.

Dengan sigap, beberapa pengawal di pesta itu menyeret ibu Sampuraga untuk keluar dari wilayah pesta pernikahan. Ibu Sampuraga menangis dengan air mata yang berlinang. Dia tidak menyangka bahwa anaknya yang telah dikandung, dilahirkan, dan dibesarkan oleh dirinya sendiri telah berbuat demikian. Begitu durhakanya Sampuraga mengusir ibunya dengan tidak sewajarnya.

Sambil menangis terisak ibu Sampuraga berkata “Ya Tuhan, jika memang itu adalah anakku, berikanlah hukuman yang setimpal.”

Tidak lama kemudian, cuaca menjadi buruk, angin bertiup kencang, lalu datanglah air panas yang meluluhlantakan tempat pesta pernikahan Sampuraga bersama istrinya. Semua orang dalam pesta tersebut saling berlari menyelamatkan diri. Sampuraga akhirnya hilang ditelan banjir air panas. Tempat pesta pernikahan Sampuraga berubah menjadi kolam air panas. Kolam air panas tersebut dinamakan dengan Kolam Sampuraga.

***

Ridho menyelesaikan baca bukunya.

"Bagus cerita asal Sumatra Utara," kata Ridho.

Ridho menutup buku dan menaruh buku di meja dengan baik.

ASAL MULA DANAU SI LOSUNG DAN SI PINGGAN

Rizki membaca bukunya dengan baik.

Isi buku yang di baca Riski :

Datu Dalu dan Sangmaima, dua orang bersaudara yang gagah dan pandai mengobati berbagai macam penyakit. Kedua orang tua mereka bekerja mencari nafkah sebagai ahli pengobatan. Mereka pandai mencari tumbuhan obat di hutan dan meramunya menjadi obat-obatan. Meskipun hidup dalam kemiskinan, Sang Ayah sangat ingin kedua anaknya mewarisi keahlian yang dimilikinya yaitu bela diri silat dan meramu obat-obatan. Ia mengajari kedua anaknya sedari kecil cara meramu obat dan berlatih silat. Di suatu hari, seperti biasanya, kedua orang tua Datu Dalu dan Sangmaima pergi ke hutan untuk mencari tumbuhan obat-obatan. 

“Datu Dalu, Sangmaima! Ayah dan Ibu pergi ke hutan untuk mencari tumbuhan obat-obatan. Kalian baik-baiklah di rumah.” kata sang Ayah. 

“Baik ayah ibu.” jawab Datu Dalu dan Sangmaima. 

Datu Dalu dan Sangmaima menunggu kedua orang tuanya mencari obat-obatan di hutan. Biasanya kedua orang tuanya akan pulang ke rumah menjelang sore hari. Namun hari itu berbeda. Hingga sore hari, kedua orang tua mereka belum juga pulang. Datu dan adiknya memutuskan untuk menyusul kedua orang tuanya. 

“Sangmaima, adikku! Ayah Ibu belum juga pulang dari hutan. Kakak khawatir terjadi apa-apa pada mereka berdua. Ayo kita ke hutan mencari cari Ayah dan Ibu.” kata Datu Dalu. 

“Baik Abang.” jawab Sangmaima. 

Setelah sekian lama berjalan di hutan, akhirnya Datu dan adiknya berhasil menemukan kedua orang tua mereka. Namun sayang, kedua orang tua mereka telah tewas diterkam harimau. Dengan perasaan sedih, kedua kakak beradik itu segera membawa jenazah kedua orang tuanya pulang ke rumah.

Datu Dalu dan adiknya, dibantu warga desa, segera menguburkan kedua orang tua mereka. Selanjutnya mereka pun membagi harta warisan peninggalan kedua orang tua mereka yang hanya berupa sebuah tombak pusaka. Sesuai adat yang berlaku saat itu, tombak pusaka tersebut harus menjadi hak anak tertua yaitu Datu Dalu. 

Sangmaima hendak berburu babi di hutan. Untuk keperluan tersebut, ia meminjam tombak pusaka milik kakaknya. 

“Abang, adik hendak berburu babi hutan. Bolehkan adik meminjam tombak pusaka milik Abang?” tanya Sangmaima. 

“Pakailah tombak itu. Tapi ingat, jaga baik-baik, karena itu peninggalan orang tua kita.” jawab Datu Dalu. 

“Terima kasih Abang. Adik akan menjaga baik-baik tombak pusaka Abang.” jawab Sangmaima. 

Berangkatlah Sangmaima ke hutan dengan membawa tombak pusaka milik abangnya. Setelah sekian lama berjalan di hutan, akhirnya Sangmaima melihat seekor babi hutan melintas di depannya. Segera ia lemparkan tombaknya ke arah babi hutan itu. Dengan ketangkasannya, tombak tersebut tepat mengenai lambung babi hutan. Namun si babi hutan lari ke dalam semak-semak. Kontan Sangmaima merasa cemas karena tombak pusaka milik abangnya terbawa.  

“Aduh bagaimana ini. Tombak milik abangku terbawa babi hutan. Aku harus cepat mengejarnya.” Sangmaima segera berlari mengejar si babi hutan. Sangmaima behasil menemukan gagang tombaknya sementara mata tombaknya masih tertancap di lambung si babi. 

“Abangku bisa marah kalau tahu tombaknya hilang.” Sangmaima lantas mencari-cari babi hutan tersebut namun setelah sekian lama berjalan di hutan, ia tidak menemukannya. Karena merasa lelah, Sangmaima memutuskan untuk pulang ke rumah. 

Setibanya di rumah, Sangmaima segera memberitahukan perihal hilangkanya tombak pusaka tersebut.

“Maaf Abang. Mata Tombak Pusaka abang tertancap di lambung babi hutan yang lari ke dalam hutan. Hanya gagang tombak ini bisa adik bawa.” 

“Sudah Abang bilang, jagalah tombak itu baik-baik. Sekarang Adik carilah mata tombak itu sampai dapat. Abang tidak mau tahu.” Datu Dalu marah besar. 

“Baiklah Abang.” 

Sangmaima saat itu juga segera pergi kembali ke hutan untuk mencari mata tombak yang tertancap di lambung babi hutan. Sangmaima berjalan di hutan dengan sangat hati-hati dan teliti. Ia berhasil menemukan jejak kaki babi hutan tadi dan berusaha menelusurinya hingga sampai di tengah hutan. Disana ia menemukan sebuah lubang besar mirip gua. Dengan rasa penasaran Sangmaima memasuki lubang tersebut hingga ke dalam. Alangkah terkejutnya Sangmaima ketika mendapati bahwa di dalam lubang tersebut ia menemukan sebuah istana sangat megah. 

“Siapa yang membangun istana megah di dalam tempat ini.” gumam Sangmaima. 

Sangmaima terus berjalan lebih jauh lagi karena merasa penasaran. Tampaklah olehnya seorang wanita cantik tengah terbaring dan merintih kesakitan. Sangmaima terkejut melihatnya, terlebih di perut si wanita cantik yang terluka, tertancap mata tombak pusaka milik abangnya. 

“Duhai wanita cantik, siapakah engkau?” 

“Aku adalah seorang putri. Ayahku adalah seorang raja di istana ini.” 

“Mohon maaf, kenapa perut anda terluka. Dan lagi, itu adalah mata tombak yang hamba lemparkan pada seekor babi hutan tadi.” kata Sangmaima. 

“Babi hutan yang kamu lempar tombak adalah Aku.” jawab si putri. 

“Maafkan Aku tuan Putri. Aku tidak tahu kalau babi hutan itu adalah seorang putri. Aku mengetahui ilmu pengobatan, izinkan hamba untuk menyembuhkan tuan Putri.” kata Sangmaima. 

“Silahkan, sembuhkan lukaku di perutku ini.” kata tuan Putri. 

Sangmaima kemudian berusaha mengobati luka tuan putri dengan berbekal pengetahuan pengobatan dari ayahnya. Tidak lama kemudian tuan putri pun sembuh dari sakitnya. Sangmaima kemudian berpamitan pada tuan putri karena harus pulang untuk mengembalikan mata tombak pusaka milik kakaknya. 

Sangmaima segera mengembalikan mata tombak pusaka kepada abangnya, Datu Dalu. Tentu saja Datu Dalu merasa sangat gembira karena tombak pusaka miliknya telah kembali. Untuk merayakan kembalinya tombak pusaka, Datu Dalu mengadakan pesta adat secara besar-besaran. 

Banyak orang diundang ke acara pestanya namun ia tidak mengundang adiknya sendiri, Sangmaima. Merasa tersinggung karena tidak di undang abangnya, Sangmaima kemudian mengadakan pesta tandingan yang waktunya bersamaan dengan acara pesta abangnya. Untuk memeriahkan acara pestanya, Sangmaima mengadakan acara pertunjukan dengan mendatangkan seorang wanita yang di hiasi sedemikian rupa hingga menyerupai seekor burung Ernga. Banyak orang yang tertarik untuk melihat pertunjukan burung Ernga tersebut, akibatnya pesta yang dilangsungkan di rumah Datu Dalu sepi pengunjung. 

Datu Dalu merasa kecewa melihat kenyataan pesta yang ia adakan sepi pengunjung. Mengetahui pesta adiknya ramai karena adanya pertunjukan burung Ernga, ia pun meminjam pertunjukan kepada adiknya untuk memikat para tamu. 

“Adikku, bolehkah abang meminjam pertunjukan burung Ernga?” tanya Datu Dalu. 

“Boleh Abang, asalkan Abang bisa menjaga wanita burung Ernga itu jangan sampai hilang.” kata Sangmaima. 

“Tentu saja adik, Abang akan menjaganya.” kata Datu Dalu. 

Segera setelah pesta di rumahnya selesai, Sangmaima kemudian mengantar wanita burung Ernga ke rumah abangnya. Datu Dalu merasa gembira karena pestanya ramai dikunjungi orang yang ingin menyaksikan pertunjukan burung Ernga. Diam-diam Sangmaima menyelinap ke langit-langit rumah abangnya menunggu pesta usai. Di malam hari, setelah pesta usai, Sangmaima menemui wanita burung Ernga untuk memintanya pergi di pagi hari agar abangnya mengira bahwa ia hilang. 

“Besok pagi engkau pergilah diam-diam agar abangku mengira engkau hilang.” kata Sangmaima kepada wanita burung Ernga. 

“Baiklah Tuan, besok aku akan pergi.” kata si wanita burung Ernga. 

Keesokan harinya, Datu Dalu merasa panik karena wanita burung Ernga tidak ada di kamarnya. “Aduh bagaimana ini, wanita burung Ernga hilang. Adikku pasti marah kalau mengetahui hal ini.” 

“Abang, mana wanita burung Ernga itu. Aku mau membawanya pulang.” kata Sangmaima berpura-pura tidak tahu. 

“Aduh, maafkan Abang, adikku. Wanita burung Ernga itu hilang entah kemana. Bagaimana kalau Abang ganti dengan uang?” kata Datu Dalu. 

“Apa burung Ernga itu hilang? Tidak bisa diganti uang. Abang harus mencarinya sampai dapat.” kata Sangmaima. 

Keduanya kemudian bertengkar hebat hingga berujung pada perkelahian. Datu Dalu dan Sangmaima saling menyerang menggunakan jurus-jurus silat yang diajarkan ayah mereka. Sekian lama mereka bertarung, tidak ada tanda-tanda siapa yang akan menang dan siapa yang akan kalah. Kemampuan keduanya terlihat seimbang. Datu Dalu kemudian mengambil sebuah lesung dan melemparkannya dengan sekuat tenaga ke arah adiknya. Sangmaima menghindar, sehingga lesung tersebut melayang dan kemudian jatuh di kampung Sangmaima. Keajaiban terjadi, tempat jatuhnya lesung tersebut berubah menjadi sebuah danau. 

Tidak mau kalah dengan Abangnya, Sangmaima mengambil piring lalu ia lemparkan dengan sekuat tenaga ke arah abangnya. Datu Dalu berhasil menghindar, sehingga piring tersebut melayang jauh dan terjatuh di kampung Datu Dalu. Keajaiban terjadi, tempat jatuhnya piring tersebut berubah menjadi sebuah danau pula. 

Masyarakat kemudian menamai danau di kampung Sangmaima dengan nama Danau Si Losung. Sedangkan danau di kampung Datu Dalu dinamai Danau Si Pinggan. 

***

Riski selesai baca bukunya.

"Bagus cerita asal Sumatra Utara," kata Riski.

Riski menutup bukunya dan menaruh buku di meja.

LUBUK EMAS

Jack membaca bukunya dengan baik.

Isi baca buku dengan baik Jack :

Alkisah Raja Simangolong memimpin sebuah kerajaan di daerah Teluk Dalam, Sumatera Utara. Raja memiliki seorang putri cantik bernama Sri Pandan. Selain cantik, Sri Pandan juga dikenal sangat baik dan terampil dalam bekerja. Ia terampil menganyam tikar dan menumbuk padi. Keindahan Sri Pandan telah dikenal seantero negeri. Banyak pemuda yang ingin melamar Sri Pandan. Namun, Raja Simangolong berharap agar Sri Pandan nantinya menikah dengan pangeran dari negara lain untuk menjalin hubungan baik dengan negara itu. Kecantikan Putri Sri Pandan terdengar sampai di pemerintahan Aceh. Pangeran Aceh sangat ingin melamar putri Sri Pandan. 

Raja Aceh kemudian mengirim utusan ke negara Teluk untuk menginformasikan tentang lamaran Putri Sri Pandan Aceh. Raja Simagolong senang dengan kedatangan utusan dari pemerintah Aceh. Di sepakati jika sang putri menikah dengan Pangeran Sri Pandan Aceh. Namun, dia tidak serta merta menerima lamaran tersebut. Ia menyerahkan keputusan ini kepada putrinya, Sri Pandan.

“Saya akan mengirimkan delegasi ke Pemerintah Aceh untuk menerima usul putri saya pangeran Aceh.” Kata Raja Simangolong atas delegasi Pemerintah Aceh.

Setelah delegasi Kerajaan Aceh pergi, Raja Simangolong memanggil putrinya. “Putriku, maukah kamu menerima lamaran orang Aceh? Ayah sangat berharap Bapak menjadi istri Pangeran Aceh agar hubungan kedua pemerintahan bisa terjalin baik.” kata Raja Simagolong kepada Sri Pandan. Sri Pandan hanya diam dan tidak menjawab. Dia menundukkan kepalanya dan menangis.

"Ada apa anakku? Kenapa kamu menangis? " Raja Simangolong bertanya.

"Maaf ayah, bukan karena aku tidak ingin berbakti kepada orang tuaku, tapi aku sudah lama jatuh cinta dengan pemuda lain. Saya mencintainya. Sekali lagi, maafkan aku, ayah." kata Sri Pandan tergagap.

"Siapa pemuda yang kamu maksud?" Raja Simangolong mulai marah.

"Hobi ayah." jawab Sri Pandan.

"Apa? Hobatan penolong setia kami?” Raja Simangolong terkejut.

"Itu benar, ayahku." kata Sri Pandan.

Raja Simangolong marah mengetahui putrinya telah jatuh cinta pada Hobatan, seorang ajudan pemerintah. “Dengar baik-baik anakku, lupakan Hobatan. Terima usul Aceh. Jika kamu tidak ingin memutuskan hubunganmu dengan Hobatan, ayahku pasti akan mengusir Hobatan.” kata Raja Simangolong tegas.

Sri Pandan merasa tak berdaya mendengarkan perintah ayahnya. Dia segera menemukan Hobatan mengundangnya untuk pergi bersamanya meninggalkan istana kerajaan. "Hobatan, demi cinta kita, kita berdua harus meninggalkan kerajaan ini." kata Sri Pandan.

“Apakah ada yang salah? Mengapa Adinda ingin kita meninggalkan istana? Bagaimana dengan orang tua Adinda?” tanya Hobatan.

“Pemerintah mengirimkan delegasi untuk mengusulkan Aceh. Saya berharap bapak saya dapat menerima usulan Aceh agar tercipta hubungan yang baik antara kedua negara. Kami sudah saling mencintai untuk waktu yang lama jadi sebaiknya kami meninggalkan kerajaan Teluk Dalam saja.” kata Sri Pandan.

Tak disangka, Hobatan justru menolak ajakan Sri Pandan. Para dukun, menyarankan agar menerima lamaran Sri Pandan Aceh. “Kami menyarankan Anda menerima usulan Aceh. Itu lebih baik bagimu dan juga bagi kerajaan Teluk Dalam. Anda akan menjadi seorang ratu.” kata Hobatan.

Sri Pandan sangat kecewa dengan jawaban Hobatan, pria yang dicintainya. "Baiklah Hobatan, kalau itu maumu. Saya akan terjun ke dalam jurang dari pada harus menjadi istri dari seorang pria yang tidak saya cintai. Aku akan setia pada cintaku padamu! Aku akan menunggumu di kedalaman!” kata Sri Pandan sambil bergegas pergi.

“Kakak, apakah kamu menunggu? Jangan gegabah Adinda!” teriak Hobatan dengan panik. Namun Sri Pandan tidak mempedulikan Hobatan. "Apa yang harus saya lakukan sekarang? Aku benar-benar mencintainya. Tapi siapa aku hanya menjadi asisten di kerajaan. Saya seharusnya memberi tahu raja meskipun dia pasti akan menerima hukuman yang berat.” Hobatan terasa gelisah.

Sri Pandan kemudian berlari ke kamarnya untuk berkemas. Dia membawa beberapa potong pakaian serta semua perhiasan emasnya. Dia kemudian meninggalkan istana kerajaan ke dasar sungai Asahan. Sesampainya di dasar sungai Asahan, Sri Pandan melemparkan semua barang miliknya ke kedalaman yang dalam. Gaun itu mengikuti semua perhiasan emas yang dia lempar sambil berkata,  "Tidak akan ada lagi wanita cantik di negara bagian ini." Sri Pandan kemudian melompat ke kedalaman sungai Asahan. Dia membawa cintanya untuk Hobatan ke kedalaman.

Segera, keributan muncul di istana kerajaan. Raja dan Permaisuri tidak menemukan Sri Pandan, putri mereka. Raja Simangolong kemudian memanggil Hobatan untuk mencari tahu.

“Istriku, di mana Sri Pandan? Kenapa kamu tidak melihatnya sejak tadi?” Raja Simangolong bertanya kepada istrinya.

“Saya tidak tahu di mana Sri Pandan. Tidak ada apa-apa di kamarnya. Cepat dan beri tahu para prajurit untuk mencarinya. Aku khawatir hal-hal buruk akan terjadi padanya." kata permaisuri.

“Mungkin ada hubungannya dengan masalah lamaran pangeran Aceh dan narkoba. Penjaga! Hubungi Hobatan di sini!” kata raja.

Hobatan pun menghadapi Raja Simangolong dengan perasaan ketakutan yang luar biasa.

“Wahai Hobatan! Anda adalah penolong yang setia di kerajaan ini. Jangan berani mengkhianati kami." teriak raja.

"Pengampunan Yang Mulia. Saya tidak akan berani mengkhianati pemerintah ini. ” Hobatan menjawab.

“Di mana Sri Pandan sekarang Hobatan? Jawab dengan jujur! Aku sudah tahu hubunganmu dengan putriku." kata raja.

"Pengampunan Yang Mulia. Pembantu dan putri Sri Pandan ini sangat mencintai satu sama lain. Dia mengundang para pelayan untuk meninggalkan kerajaan ini. Tapi hamba itu menolak Yang Mulia. Pelayan itu memintanya untuk menerima lamaran Aceh. Namun dia menolak dan mengancam akan melompat ke dasar sungai Asahan.” kata Hobatan.

Di hadapan Raja Simangolong, Hobatan menceritakan percakapannya dengan Sri Pandan. Dia mengatakan bahwa Sri Pandan akan melompat ke kedalaman sungai Asahan karena dia kecewa padanya. Para dukun mengakui terorganisir Sri Pandan untuk menerima lamaran Aceh.

"Apa? Jadi putri saya ingin bunuh diri dengan melompat ke kedalaman sungai Asahan? Wahai prajurit cepat, kita pergi ke dasar sungai Asahan untuk menyelamatkan putriku!” teriak raja kaget.

Mendengar pengakuan Hobatan, Raja Simangolong dan para prajurit kerajaan segera pergi ke dasar sungai Asahan. Raja memerintahkan prajuritnya untuk menyelam jauh ke dalamnya untuk menemukan Sri Pandan. Namun setelah beberapa saat, mereka tidak berhasil menemukan sang putri. Raja Simangolong sangat sedih kehilangan putri kesayangannya. Sangat disesalkan telah memaksakan wasiat pada Sri Pandan. 

"Saya sangat mencintai putri saya. Dia adalah anak yang baik dan patuh pada orang tuanya. Maaf saya memaksanya untuk menerima lamaran Aceh.” raja menangis.

Sejak kejadian itu, lubang itu disebut Lubuk Emas karena putri Sri Pandan melompat dengan banyak perhiasan emas. 

***

Jack mengentikan baca bukunya.

"Bagus cerita yang aku baca asal dari Sumatra Utara," kata Jack.

Jack melanjutkan baca bukunya dengan baik.

Isi lanjutan buku yang di baca Jack :

Sungai Asahan merupakan sungai terbesar di Provinsi Sumatera Utara  . Hulu sungai Asahan berada di Danau Toba, mengalir melalui pintu gerbang Bendungan Sigura-gura dan berakhir di Teluk Nibung di Selat Malaka. Panjang sungai Asahan adalah 147 km dengan 6 anak sungai utama. Kota-kota yang dilalui sungai Asahan antara lain Parapat, Porsea, Balige, Kisaran, dan Tanjung Balai. Sungai Asahan sangat terkenal dengan arusnya yang berbatu-batu ditambah keindahan hutan disepanjang sungai sehingga dalam bidang pariwisata sungai Asahan dijadikan sebagai kegiatan arung jeram. 

***

Jack selesai baca bukunya, ya buku di tutup dan di taruh di meja dengan baik.

AHMAD DAN MUHAMMAD

Sani membaca bukunya dengan baik.

Isi buku yang di baca Sani :

Alkisah di Sumatera Utara, zaman dahulu hidup sepasang suami istri dengan dua orang anak laki-laki. Si sulung bernama Ahmad, sedang adiknya bernama Muhammad. Ahmad dan Muhammad dikenal sebagai anak baik hati. Keduanya patuh pada kedua orang tuanya dengan rajin membantu pekerjaan orang tuanya. Mereka juga dikenal rajin pergi ke surau untuk bersembahyang serta mengaji. Konon berdasarkan pandangan masyarakat Sumatera Utara masa itu, ada sebuah binatang sangat istimewa yaitu burung merbuk. Menurut kepercayaan masyarakat, barang siapa memakan kepala burung merbuk, maka ia akan menjadi seorang raja. Sementara orang yang memakan hati burung merbuk akan menjadi seorang menteri.

Pada suatu hari, usai membantu kedua orang tuanya bekerja di ladang, Ahmad dan Muhammad menemukan seekor burung merbuk. Mereka kemudian menangkap burung merbuk tersebut. Walaupun mereka berdua mengetahui keistimewaan burung merbuk, namun Ahmad dan Muhammad menangkapnya untuk mereka pelihara. Sama sekali tidak terpikir oleh mereka untuk memakan burung merbuk tersebut. Ahmad dan Muhammad kemudian membawa burung merbuk tersebut ke rumahnya. Mereka berdua merawat burung merbuk tersebut dengan penuh kasih sayang. 

Mereka rutin memberinya makan. Namun demikian, Ahmad dan Muhammad membiarkan burung merbuk tersebut terbang bebas di sekitar rumah mereka. Mereka tidak memasukkannya ke dalam kandang. Jika pergi ke ladang untuk membantu kedua orang tuanya, Ahmad dan Muhammad akan membawa serta burung merbuk tersebut. 

Lambat laun, Si burung merbuk menjadi jinak juga menurut pada mereka berdua. Ia biasanya terbang bebas di luar rumah, tetapi jika ia melihat Ahmad atau Muhammad, ia akan hinggap di dekat mereka.  Orang Tua Ahmad dan Muhammad Membunuh Burung Merbuk. Kedua orang tua Ahmad dan Muhammad mengetahui perihal burung merbuk peliharaan anak mereka. Ayah mereka sangat ingin menjadi raja atau setidaknya menjadi seorang menteri. Keinginannya bisa terlaksana jika ia memakan burung merbuk tersebut. Ia beserta istrinya kemudian berembuk mencari cara agar bisa menyembelih burung merbuk peliharaan anak mereka.

Keesokan harinya, seperti biasa, saat Ahmad dan Muhammad keluar rumah, burung merbuk hinggap di dekat mereka. Ahmad dan Muhammad kemudian hendak mengajak burung merbuk ke ladang menemani mereka bekerja. Tapi Sang Ibu melarangnya dengan alasan khawatir burung merbuk jinak tersebut akan diambil orang. 

Ahmad dan Muhammad pun menuruti nasihat ibu mereka. Mereka kemudian pergi ke ladang dengan meninggalkan burung merbuk di rumah mereka. Setelah anak-anaknya pergi ke ladang, Sang Ibu tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia segera menangkap burung merbuk untuk disembelih. Setelah berhasil menyembelih, ia segera memanggang burung merbuk malang tersebut.

Ketika pulang ke rumah, Ahmad dan Muhammad sangat terkejut melihat kenyataan burung merbuk kesayangan mereka telah mati. Mereka sedih mendapati burung merbuk kesayangan mereka telah di panggang. 

“Burung merbuk kesayangan kalian tadi di terkam oleh seekor kucing. Jadi ibu cepat-cepat mengambilnya kemudian memanggangnya.” kata Ibu mereka beralasan.

Karena merasa lapar sepulang dari ladang, Ahmad dan Muhammad memutuskan untuk memakan burung merbuk. Ahmad memakan kepala burung merbuk, sedangkan Muhammad memakan hati burung merbuk. Sang Ibu saat itu tengah di dapur menyiapkan makan siang, jadi ia tidak mengetahui jika ke dua anaknya memakan burung merbuk.

Tidak lama kemudian, Sang Ayah pulang dari ladang. Ia menanyakan pada istrinya perihal burung merbuk yang ingin ia makan. Istrinya mengatakan bahwa burung merbuk tersebut telah di makan oleh ke dua anak mereka. Tak terkirakan kemarahan Sang Ayah mendapati bahwa kedua anaknya telah memakan burung merbuk. Setelah memarahi kedua anaknya Ia kemudian mengusirnya mereka dari rumah. Ahmad dan Muhammad yang masih merasa heran terpaksa meninggalkan rumah orang tuanya tanpa membawa bekal apapun.

Dengan perasaan sedih, Ahmad dan Muhammad pergi tak tentu arah. Jika perut mereka terasa lapar, mereka akan mencari buah-buahan atau umbi-umbian untuk makanan mereka. Ketika hari menjelang malam, keduanya tiba di pinggir hutan. Karena sudah merasa sangat lelah, mereka memutuskan akan beristirahat di sebuah pohon besar. Ahmad menyuruh adiknya, Muhammad, untuk tidur di atas pohon. Sementara ia sendiri tidur di bawah pohon sambil berjaga-jaga.

Alkisah, daerah tersebut merupakan wilayah kekuasaan sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja berusia lanjut. Sang raja tidak mempunyai anak laki-laki. Sesuai adat istiadat, anak-anak perempuannya tidak diperkenankan untuk menggantikannya menjadi raja. Sang raja akhirnya memutuskan untuk membuat sebuah sayembara. Barang siapa di sembah oleh gajah putih peliharaannya, maka ia akan menjadi seorang raja menggantikan dirinya.

Gajah putih peliharaan raja kemudian di lepas, diikuti oleh Perdana Menteri serta para prajurit. Gajah tersebut kemudian berjalan hingga akhirnya tiba di pohon besar di pinggir hutan tempat Ahmad dan Muhammad tengah tidur. Saat telah dekat dengan Ahmad yang tengah tertidur, gajah tersebut tiba-tiba merebahkan tubuhnya untuk bersujud. Perdana Menteri beserta para prajurit terkejut melihat gajah putih sujud di dekat seorang pemuda yang tengah tertidur. 

“Kita telah menemukan calon pengganti Raja! Ayo bawa pemuda ini ke istana!” kata Perdana Menteri pada para prajurit. 

Para prajurit istana kemudian mengangkat Ahmad yang tengah tidur pulas ke atas punggung gajah, kemudian kembali ke istana kerajaan.

Di istana kerajaan, Ahmad terbangun dari tidurnya. Ia sangat terkejut mendapati dirinya berada disebuah istana megah. Sang Raja kemudian memberitahunya bahwa Perdana Menteri membawanya ke istana kerajaan saat ia tertidur di hutan. Sang Raja juga memberitahunya bahwa Ahmad adalah calon raja menggantikan dirinya yang sudah berusia lanjut. 

Ahmad merasa kaget bukan main dengan kenyataan ini. Ia kemudian tinggal di kerajaan. Ia juga teringat dan merasa cemas dengan nasib adiknya, Muhammad. Sementara di hutan, Muhammad merasa bingung dengan keberadaan kakaknya. Ia menduga bahwa kakaknya telah tewas dimakan binatang buas. Ia menangis di bawah pohon karena sangat sedih kehilangan kakak yang sangat ia cintai. 

Setelah sekian lama menangis, Muhammad kemudian memutuskan untuk mencari kakaknya. Ia berharap kakaknya masih hidup. Ia akan terus mencarinya sampai ketemu. Muhammad kemudian pergi tak tentu arah mencari keberadaan kakaknya.

Pada suatu hari, Muhammad melihat dua ekor burung rajawali besar tengah bertarung memperebutkan sebatang ranting kayu. Muhammad berpikir bahwa ranting kayu tersebut pastilah bukan sembarang ranting. 

“Ini pasti ranting kayu ajaib. Aku harus mengambilnya.” ujar Muhammad. 

Secara kebetulan, ranting kayu tersebut terpental jatuh di dekat Muhammad. Ia kemudian mengambilnya seraya berkata, “Wahai ranting kayu ajaib, tolong antarkan aku kepada kakakku.”

Keajaiban pun terjadi. Tubuh Muhammad kemudian melayang di udara. Tidak lama kemudian tubuhnya terjatuh di taman istana kerajaan. Putri raja yang tengah berada di taman tersebut merasa ketakutan. Putri raja berteriak ketakutan sambil berlari memasuki istana. Para prajurit kerajaan segera menangkap Muhammad untuk dihukum karena memasuki istana tanpa izin. 

Ia dijebloskan ke dalam penjara sementara menunggu pengadilan oleh raja. Selanjutnya, para prajurit membawa Muhammad dari penjara untuk di adili di pengadilan oleh sang raja. Saat itu Ahmad, kakak Muhammad turut juga menyaksikan proses pengadilan. Ahmad sudah tak mengenali adiknya karena telah lama cukup tidak bertemu. Sang raja meminta Muhammad untuk menjelaskan alasannya memasuki istana kerajaan tanpa izin. Muhammad kemudian menceritakan kisahnya bahwa ia tengah mencari kakaknya yang hilang di hutan. Ia juga mengatakan bisa masuk ke istana kerajaan berkat ranting ajaib.

Terperanjatlah Ahmad mendengar kisah pemuda di hadapannya. Ahmad kemudian menjelaskan pada sang raja bahwa pemuda yang tengah di adili adalah adiknya yang hilang. Mendengar penjelasan Ahmad, raja akhirnya membebaskan Muhammad dari hukuman.Ahmad dan Muhammad kemudian berpelukan sambil menangis melepas rindu. Mereka bahagia bisa kembali bertemu setelah terpisah sekian lama. 

Muhammad kemudian tinggal di istana kerajaan bersama kakaknya tercinta. Tidak lama kemudian Sang Raja menikahkan putri sulungnya dengan Ahmad. Sedang putri bungsunya ia nikahkan dengan Muhammad. Pesta pernikahan keduanya dilangsungkan secara besar-besaran dengan mengundang para raja, pangeran, bangsawan serta rakyat banyak. 

Beberapa hari setelah pesta pernikahan, Sang Raja kemudian mengumumkan bahwa ia mengundurkan diri sebagai raja. Sang Raja menyerahkan tampuk kekuasaan pada Ahmad. Sang Raja juga mengangkat Muhammad sebagai Perdana Menteri. Sejak saat itu, Ahmad, dibantu oleh Perdana Menteri, Muhammad, memerintah kerajaan dengan adil bijaksana. Mereka sangat mencintai rakyatnya sebagaimana rakyat sangat mencintai raja mereka.

***
Sani selesai membaca bukunya dengan baik.

"Bagus cerita yang baru aku baca ini," kata Sani.

Sani menutup bukunya dengan baik dan menaruh buku di meja dengan baik.

ASAL USUL GUBUG RUBUH

Anjas membaca bukunya dengan baik.

Isi buku yang di baca Anjas :

Pada saat Kerajaan Majapahit dipimpin oleh Prabu Brawijaya V, terjadilah pergolakan di istana. Pertentangan tersebut mengakibatkan Prabu Brawijaya V memutuskan untuk mengasingkan permaisurinya, yaitu Putri Campa. Putri Campa adalah persembahan Kerajaan Tiongkok kepada Prabu Brawijaya V. Pada saat itu, Putra Campa tengah mengandung anak Prabu Brawijaya V. Sang prabu mengutus anak dari selirnya yang bernama Arya Damar untuk menikahi Putri Campa dan segera membawanya pergi. 

Beberapa bulan kemudian, Putri Campa melahirkan seorang anak dari Prabu Brawijaya V. Anak tersebut akhirnya diberi nama Raden Patah. Karena Putri Campa telah diceraikan dan menikah dengan Arya Damar. Akhirnya Putri Campa juga memperoleh seorang anak dari Arya Damar. Anak tersebut bernama Raden Kusen.

Tidak lama kemudian, Raden Kusen dan Raden Patah telah beranjak dewasa. Kedua putra tersebut pergi berguru kepada Sunan Ampel di Surabaya. Setelah berguru ke Sunan Ampel di Surabaya, Raden Kusen akhirnya mendatangi Kerajaan Majapahit dengan penyamaran. Hingga akhirnya, Raden Kusen diterima sebagai abdi dalem istana.

Raden Kusen sangat disenangi penduduk istana. Kecakapan Raden Kusen membuat dia dipercaya sebagai Adipati Terung di Kerajaan Majapahit. Di lain tempat, Raden Patah membuka sebuah pesantren. Pesantren yang didirikan Raden Patah bernama Glagahwangi dan terletak di Jawa Tengah. Pada suatu ketika, Raden Kusen mengajak saudara tirinya, Raden Patah, untuk pergi menemui Prabu Brawijaya V. Setelah mereka bertemu dengan Prabu Brawijaya V, mereka menceritakan diri mereka yang sebenarnya.

“Baginda, Raden Patah ini adalah putra dari Putri Campa dengan baginda. Sedangkan hamba, hamba adalah anak putra dari Putri Campa dengan Arya Damar. Hamba adalah cucu baginda dari Arya Damar,” ujar Raden Kusen.

Prabu Brawijaya V awalnya tidak percaya dengan apa yang dijelaskan oleh Raden Kusen. Raden Kusen dan Raden Patah tetap meyakinkan kepada Prabu Brawijaya V tentang identitas mereka sebenarnya. Setelah mendengarkan penjelasan asal-usul mereka, akhirnya Prabu Brawijaya V percaya dengan pernyataan mereka. Raden Patah akhirnya diangkat Prabu Brawijaya V menjadi Bupati Glagahwangi. Glagahwangi akhirnya berganti nama menjadi Demak.

Di bawah kepepimpinanan Raden Patah, Demak menjadi sebuah daerah yang maju pesat dalam hal perdagangan. Banyak para pedagang, terutama pedagang muslim yang singgah di pelabuhan yang ada di Demak. Raden Patah dapat memimpin daerah Demak dalam waktu singkat menjadi sebuah kota yang maju. Hingga akhirnya, wilayah Semarang pun dapat dikuasai Raden Patah.

Untuk mengIslamkan ayahndanya, Prabu Barawijaya V, Raden Patah berniat menyerang Majapahit. Namun, keinginan tersebut ditentang oleh Sunan Ampel, guru dari Raden Patah. Namun, niat itu muncul kembali setelah Sunan Ampel meninggal dunia.

Raden Patah akhirnya berhasil menaklukan Kerajaan Majapahit. Penduduk Kerajaan Majapahit banyak yang memeluk Islam. Namun, Prabu Brawijaya V dan para pengikutnya lari menghindari pengaruh dari Raden Patah. Prabu Brawijaya V tidak mau memeluk Islam meskipun telah dibujuk oleh putranya, yaitu Raden Patah.

Prabu Brawijaya V dan para pengikutnya melarikan diri sampai ke daerah Gunung Kidul. Mereka akhirnya berhenti di tempat tersebut dan hendak istirahat. Pengikut Prabu Brawijaya hendak singgah ke sebuah gubuk yang ada di sana untuk melepas penat. Namun, pasukan Raden Patah telah mengepung pasukan Prabu Brawijaya V. Prabu Brawijaya V tetap tidak mau memeluk Islam dan berhasil melarikan diri.

Sementara pengikut Prabu Brawijaya V telah dibimbing Islam oleh Raden Patah, sang Prabu tetap melarikan diri ke arah selatan Gunung Kidul. Sesampainya di sana, dia tidak melanjutkan lagi pelariannya dan mengakhiri hidupnya di sana. Di tempat pengislaman pengikut Prabu Brawijaya V tersebut, akhirnya dinamakan oleh penduduk setempat dengan sebutan Gubuk Rubuh. “Gubuk” diartikan sebagai rumah, dan “rubuh” diartikan sebagai rubuhnya badan ketika bersujud (untuk menunaikan sholat).

***

Anjas mengentikan baca bukunya.

"Bagus cerita asal Yogyakarta," kata Anjas.

Anjas menutup bukunya dan menaruh buku di meja dengan baik.

ASAL MULA GUNUNG MERAPI

Yahya membaca bukunya dengan baik.

Isi buku yang di baca Yahya :

Pada zaman dahulu, para Dewa di khayangan menempatkan sebuah gunung di tengah Jawa. Gunung itu bernama Jamurdipa. Tujuan penempatan gunung di pulau jawa tidak lain adalah untuk menyeimbangkan bentuk tanah di pulau tersebut. Pulau Jawa ternyata memiliki daratan yang tidak rata, ada dataran tinggi, dataran rendah, lembah, jurang dan sebagainya. Awalnya Gunung Jamurdipa terletak di kawasan Pantai Selatan, namun dipindahkan ke perbatasan Sleman, Boyolali, dan Klaten.

Di perbatasan tiga kabupaten yang akan dijadikan lokasi Gunung Jamurdipa, tinggal dua empu yang sangat sakti. Para empu membuat keris dari logam dengan cara ditempa langsung dengan tangan sendiri, dan pahanya sebagai dasar pembuatan keris. Mereka tidak menggunakan palu atau dasar logam lainnya untuk membuat belati. Kedua empu tersebut bernama Empu Rama dan Empu Parmadi. 

Karena daerah yang ditempati Empu Rama dan Empu Parmadi akan ditempati oleh Gunung Jamurdipa, maka para Dewa mengutus Batara Narada dan Dewa Panyarikan untuk mengunjungi kedua empu tersebut dan meminta mereka segera pindah dari tempat itu. Karena tempat tersebut akan di tempati oleh gunung, selain itu agar mereka tidak kewalahan oleh gunung tersebut.

Batara Narada dan Dewa Panyarikan juga berkata kepada kedua ahli sakti itu, “Wahai Empu Rama dan Empu Parmadi, daerah ini akan ditempatkan di atas gunung, kami khawatir gunung itu akan menguasaimu. Lebih baik kau pergi dari tempat ini.”

“Terima kasih sudah datang wahai Batara Narada dan Dewa Panyarikan, maaf kami tidak bisa bergerak. Jika kami pindah, kami khawatir kualitas keris kami tidak bagus,” kata Empu Rama.

Batara Narada dan Dewa Panyarikan akhirnya terus menasihati kedua empu itu untuk pindah. Sebab, jika daerah itu tidak ditempati gunung, Pulau Jawa mau tidak mau akan lebih landai. Namun, kedua tuan itu keras pada pendiriannya. Mereka tetap tidak mau beranjak dari tempat itu.

Akibatnya, Batara Narada dan Dewa Panyarikan menjadi marah. Mereka telah mencoba menasihati kedua ahli sihir, tetapi tidak berhasil. Mereka akhirnya bertengkar hebat. Pertarungan akhirnya bisa mengalahkan Batara Narada dan Dewa Panyarikan, karena kesaktian Empu Rama dan Empu Parmadi jauh lebih sakti.

Batara Narada dan Dewa Panyarikan kembali dengan tangan hampa ke khayangan. Para Dewa di khayagan juga menjadi marah atas tindakan Empu Parmadi dan Empu Rama. Batara Guru akhirnya memutuskan bahwa Gunung Jamurdipa harus segera ditiup ke tempat Empu Rama dan Empu Parmadi berada.

"Mereka berdua sangat keras kepala. Mereka tidak peduli jika gunung itu tidak dipindahkan akan menyebabkan Pulau Jawa menjadi lebih landai. Baiklah, Dewa Bayu, ledakkan Gunung Jamurdipa sekarang juga!” Perintah Batara Guru.

Segera, Dewa Bayu kemudian meniup Gunung Jamurdipa untuk pindah ke tempat baru. Gunung itu akhirnya berada di tempat baru. Perapian Empu Rama dan Empu Parmadi akhirnya hancur, tepat di tengah gunung. Akibatnya, Empu Rama dan Empu Parmadi tewas tertimpa gunung. Karena perapian berada di tengah gunung, perapian Empu Rama dan Empu Parmadi berubah menjadi kawah Gunung. Gunung tersebut menjadi gunung yang sangat aktif, karena kawah gunung tersebut sangat dahsyat dan selalu menyemburkan api.

***

Yahya menghentikan baca bukunya.

"Cerita yang bagus asal dari Yogyakarta," kata Yahya.

Yahya menutup bukunya dengan baik dan di taruh di meja.

Saturday, July 10, 2021

JOKO BERSINAR SEPERTI MATAHARI

Hari minggu. Dono sedang asik baca buku di ruang tamu. Indro sedang asik nonton Tv, ya berita gitu. Kasino selesai merawat tanaman di potnya, ya di halaman belakang. Kasino masuk rumah langsung ke ruang tengah untuk nonton Tv. Duduk Kasino di sebelah Indro.

"Yang di tonton acara berita Indro?" tanya Kasino.

"Iya," kata Indro.

Kasino dan Indro terus menonton acara berita di Tv dengan baik.

"Ooooo beritanya masih tentang covid-19," kata Kasino.

"Program kerja pemerintahan...beritanya," kata Indro.

Berita berganti ke berita yang lain. Kasino dan Indro terus menonton acara berita di Tv dengan baik.

"Kasino," kata Indro.

"Apa?" kata Kasino.

"Ada anak bernama Joko bercerita sesuatu pada ku?" kata Indro.

"Apa ceritanya?!" kata Kasino.

"Joko ikutan di vaksin. Masih urusan covid-19. Pelayanan bagus gitu. Joko sedang dengan pelayanannya," kata Indro.

"Pelayanannya bagus toh. Berarti pinter dong. Orang yang menjalankan tugas dengan baik, ya tenaga kesehatan. Sampai orang di suntik vaksin memuji dengan baik.....pelayanannya bagus," kata Kasino.

"Berarti tenaga kesehatan didik dengan baik untuk memberikan pelayanan dengan baik pada orang-orang yang ingin di vaksin," kata Indro.

"Eeeeemmmm," kata Kasino.

"Ooooo iya Kasino. Dono memasukkan nama Joko dalam cerita di buat Dono di Blog-nya kan?!" kata Indro.

"Kalau aku inget dengan baik. Iya. Dono memasukkan nama Joko dalam cerita di buat Dono di Blog-nya," kata Kasino.

"Joko itu nama yang di ambil dari nama Presiden atau nama tokoh di sinetron 'Dari Jendela SMP'...?" kata Indro.

"Nama Joko, ya di ambil dari anak sekitar sini juga bener. Dari nama Presiden juga bener. Dari tokoh di sinetron 'Dari Jendela SMP', ya juga bener," kata Kasino.

"Ngomong-ngomong. Joko itu bersinar dengan terang seperti matahari kan?!" kata Indro.

"Joko yang mana yang di omongin. Bersinar seperti matahari?!" kata Kasino.

"Joko, ya Presidenlah. Awal Joko muncul seperti matahari yang bersinar dengan terang, ya kepopulerannya. Sampai-sampai menenggelamkan semua lawannya dengan baik. Maka itu Joko tetap bersinar seperti matahari," kata Indro.

"Kalau di inget dengan baik sih. Iya sih. Joko bersinar seperti matahari. Maka itu Joko jadi Presiden terpilih dua kali. Sampai-sampai ada pembicaraan......Joko di pilih jadi Presiden ke tiga kali. Kalau itu terjadi Joko kembali bersinar dengan terang seperti matahari dan menenggelamkan semua lawannya dengan baik," kata Kasino.

"Populer itu lah sinar seperti matahari. Terang benderang dan juga hangat terasa dengan baik, ya kebaikannya gitu," kata Indro.

"Emmmm," kata Kasino.

"Yang mengikuti jejak Joko untuk bersinar seperti matahari juga banyak," kata Indro.

"Panggung perpolitikkan jadi meriah banget. Untuk memilih Presiden pilihan rakyat," kata Kasino.

"Sampai-sampai anak SD di tanya. Jika besar cita-cita mu ingin jadi apa? Ternyata anak SD itu berkata dengan baik "Aku ingin menjadi Presiden".....," kata Indro.

"Generasi selanjutnya pun terlahir dengan baik. Ya ingin jadi Presiden. Memimpin negeri ini dengan baik," kata Kasino.

"Ya sudalah Kasino. Fokus nonton Tv saja!" kata Indro.

"Iya," kata Kasino.

Kasino dan Indro, ya fokus nonton Tv dengan baik banget. Dono tetap asik baca bukunya.

SIMCHEONG DAN AYAHNYA YANG BUTA

Joko selesai bermain layang-layang di lapangan, ya segera pulang ke rumah. Sampai di rumah. Joko  menaruh layang-layang di kamarnya. Keluar dari kamarnya, ya Joko ke ruang tengah. Di meja ada kue dan aqua gelas. Joko mengambil kue dan aqua gelas. 

"Hari menyenangkan main layang-layang," kata Joko.

Joko pun melihat buku di meja dan segera di ambil buku tersebut. Joko membuka buku dan membaca dengan baik buku.

Isi buku yang baca Joko :

Di sebuah desa yang terpencil, tinggalah seorang gadis cantik yang bernama Simcheong. Simcheong merupakan anak piatu. Ibunya telah lama meninggal. Dia tinggal bersama ayahnya yang buta. Mereka hidup miskin dan sengsara. Beruntunglah Simcheong sabar menghadapi kenyataan keluarganya. Namun Simcheong memiliki cita-cita untuk membahagiakan orang tuanya.

Akhirnya Simcheong pergi ke kota untuk mencari pekerjaan. Namun, ketika perjalanan pulang dari kota, Simcheong tidak dapat pulang dengan lancar karena ada badai salju. Di rumah, sang ayah resah menunggu kepulangan Simcheong. Apalagi Simcheong merupakan anak perempuan satu-satunya. Sang ayah akhirnya berusaha menjemput Simcheong. Dengan bersusah payah, sang ayah berusaha melawan arus badai yang begitu kuat. Dia tidak ingin Simcheong berada dalam bahaya. Namun, karena kondisinya yang tidak memungkinkan, ayah Simcheong tergelincir dan jatuh ke sungai. Beruntunglah ada seorang biksu yang menolong ayah Simcheong.

“Terimakasih biksu, anda menyelamatkan hidup saya,” kata ayah Simcheong.

Sang biksu ingin mengetahui keadaan ayah Simcheong tersebut “Apakah Bapak tidak bisa melihat ?” kata sang biksu.

“Iya, saya tidak dapat melihat. Apakah Bapak bisa membantu saya untuk dapat melihat kembali ?” pinta ayah Simcheong.

“Bisa Pak, tapi Bapak harus menyumbangkan 300 karung beras untuk disumbangkan kepada kuil kami,” jelas sang biksu.

Ayah Simcheong terkejut mendengar banyaknya beras yang harus disumbangkan. Untuk makan sehari-hari saja, mereka telah bersusah payah dan berhemat, apalagi menyumbangkan 300 karung beras. Sang ayah akhirnya pulang dengan harapan dapat menyanggupi permintaan biksu tadi, supaya dirinya dapat melihat kembali. Dia berharap, akan ada keajaiban yang membuatnya dapat melihat kembali.

Setelah sampai di rumah, ternyata Simcheong telah berada di rumah. Sang ayah menceritakan perihal dia bertemu dengan seorang biksu dan syarat agar ayahnya dapat melihat kembali. Simcheong sangat ingin membantu ayahnya agar dapat melihat kembali. Simcheong sadar diri bahwasanya mereka berasal dari keluarga miskin. Untuk itulah Simcheong kembali ke kota, untuk mencari pekerjaan yang dapat membantu ayahnya dapat melihat kembali.

Setelah sampai di kota, Simcheong bertemu dengan saudagar kapal yang mencari tumbal seorang gadis agar dia bisa menyebarangi laut dengan selamat. Simcheong akhirnya mendekati saudagar kapal itu dan bersedia menyanggupi sebagai tumbal dalam pelayaran tersebut.

“Bapak, saya bersedia menjadi tumbal untuk keselamatan pelayaran bapak dan para awak kapal,” kata Simheong.

“Baiklah kalau begitu, syarat apa yang kamu pinta sebagai upah ?” tanya si saudagar.

“Saya meminta 300 karung beras. 300 karung beras itu harus anda kirimkan ke rumah ayahku sebelum anda berangkat pergi berlayar,” jelas Simcheong.

“Baiklah, saya menyanggupinya,” kata saudagar tersebut.

Sang saudagar akhirnya memerintahkan anak buahnya untuk mengirimkan 300 karung beras ke rumah Simcheong. Simcheong pun ikut berlayar bersama saudagar dan anak buah kapalnya. Selama di perjalanan, Simcheong terus berdoa kepada Tuhan agar ayahnya selalu sehat dan selamat. Karena dia tidak dapat lagi menemani sang ayah. Simcheong akhirnya diceburkan ke dalam laut yang dianggap sebagai daerah yang berbahaya. Dia telah menjadi tumbal dalam pelayaran tersebut. Simcheong tidak henti-hentinya berdoa kepada Tuhan. 

Ketika Simcheong telah diceburkan ke dalam laut, dia tidak mati. Simcheong kaget, karena dia dapat melihat keindahan pemandangan di dasar laut. Dia dapat menyelam dengan mudah tanpa merasa takut. Hal tersebut merupakan di luar dugaan bagi Simcheong. Simcheong akhirnya bertemu dengan sososok makhluk dengan mahkota. Sosok tersebut akhirnya menjelaskan kenapa Simcheong tidak mati.

“Aku adalah raja laut. Kau kuselamatkan karena telah berbakti kepada orang tuamu,” jelas sang raja laut sambil tersenyum kepada Simcheong.

“Terimakasih raja laut. Kau telah menyelamatkan nyawaku. Bolehkah aku meminta bantuanmu ?” tanya Simcheong.

“Tentu saja, apa permintaanmu hai anak yang baik ?” tanya sang raja laut.

“Bisakah kau mengembalikanku kepada ayahku ? Ayahku telah tua dan sakit-sakitan,” pinta Simcheong.

“Tentu bisa, sekarang pejamkanlah matamu !” perintah raja laut.

Simcheong akhirnya memejamkan matanya. Dia berharap agar dapat pulang ke rumah dengan selamat. Simcheong akhirnya terdampar di sebuah pantai. Dengan setengah tidak sadarkan diri, Simcheong melihat keadaan di sekeliling pantai. Banyak orang yang berkerumun mendekati Simcheong. Mereka melihat Simcheong terkapar tidak berdaya di tepi pantai. Di saat bersamaan, seorang pangeran sedang berkunjung ke desa di pantai tersebut. Sang pangeran juga melihat Simcheong yang terdampar di pantai itu. Dia memerintahkan pengawalnya untuk membawa Simcheong ke istana. Simcheong akan dirawat di sana.

Setelah Simcheong dirawat beberapa hari di istana, kondisi Simcheong telah sehat. Dia lalu menceritakan masa lalunya kepada sang pangeran. Pangeran yang telah melihat Simcheong kembali sehat dan kecantikannya kembali terlihat menjadi jatuh cinta kepada gadis itu. Akhirnya Simcheong dapat bertemu kembali dengan ayahnya yang tidak lagi buta. Simcheong dan sang pangeran akhirnya menikah. Ayah Simcheong pun di bawa ke istana untuk tinggal bersama. Mereka akhirnya hidup bahagia.

***

Joko menghentikan baca buku.

"Cerita yang bagus, ya asal cerita dari Korea....katanya sih," kata Joko.

Joko membaca pesan moral yang di tulis buku dengan baik "Betapa pentingnya menjadi anak yang berbakti kepada orang tua. Sebab orang tua kita telah berusaha membesarkan kita dengan penuh kasih sayang."

Joko memahami pesan moral yang di tulis di buku tersebut. 

"Aku harus menjadi anak yang berbakti pada orang tua. Siapa tahu di masa depan aku bisa jadi Presiden. Kata ibu dan ayah jika berusaha dengan baik pasti bisa menggapai cita-cita dengan baik. Kalau berhasil itu semua berkat doa dan usaha aku, ya ibu dan ayah terus mendoakan dengan baik," kata Joko.

Joko menutup buku dan di taruh di meja dengan baik. Joko segera menghidupkan Tv dan PlayStation, ya main game. Joko asik main game petualangan Doraemon.

"Aku sebenarnya ingin main game pertarungan. Tapi tidak ada teman untuk main berdua. Jadi aku main game petualangan. Game Doraemon bagus juga, ya sesuai dengan cerita kartunya gitu," kata Joko.

Joko terus main game dengan penuh keasikan.

Thursday, July 8, 2021

MAAF SEKEDAR CERITA SAJA

Dono sedang duduk di ruang makan, ya sedang asik baca buku sambil menikmati minum teh dan roti. Kasino dan Indro di ruang tengah sedang asik nonton Tv, ya acara yang di tonton berita lah. Kasino dan Indro nonton Tv sambil menikmati minum kopi dan makan roti gitu. Saat berita memberitakan tentang artis Nia bersama suaminya Ardi di tangkap polisi karena kasus narkoba.

"Beritanya tentang artis tertangkap polisi karena kasus narkoba," kata Indro.

"Memang beritanya memberitakan itu," kata Kasino.

"Dono membuat cerita tentang narkoba, ya menggunakan nama artis jadi tokoh jahatnya," kata Indro.

"Kebiasaan Dono. Bercerita ini dan itu, ya kadang di ambil berita yang viral kata zaman sekarang gitu," kata Kasino.

"Apakah Dono bisa di bilang mencemarkan nama baik seseorang. Kan memasukkan nama artis dalam tokoh cerita. Dari pemakai jadi pengedar?!" kata Indro.

"Mencemarkan nama baik. Hukum berkembang sampai urusan nama baik seseorang. Repot juga ya," kata Kasino.

"Repot memang Kasino," kata Indro.

"Untung saja. Cuma sekedar cerita saja. Abstrak gitu. Jadi aman deh," kata Kasino.

"Aman toh. Cerita yang di buat Dono," kata Indro.

"Orang yang pengedar narkoba, ya biasanya pemakai kan Kasino?" kata Indro.

"Ya ilah. Contohnya : Awalnya di beri permen. Orang yang di beri permen itu suka dengan permen itu. Karena ada nilai ekonominya. Maka permen  itu di jual. Barang di ambil dari orang yang memberi permen itu," kata Kasino.

"Contoh Kasino benerlah kalau di umpakan seperti permen," kata Indro menegaskan omongan Kasino.

Acara berita berganti dengan berita yang lainnya.....pokoknya menarik gitu.

"Oooo Kasino. Manusia itu lebih banyak menyembah Tuhan apa Setan ?" kata Indro.

"Manusia itu lebih banyak menyembah Tuhan apa Setan. Kalau ajaran kejujuran maka menyembah Tuhan. Tapi kalau ajarannya kebohongan yang di sembah adalah Setan," kata Kasino menjelaskan.

"Jujur dan bohong. Manusia harus pinter menilai ajaran yang berkembang di muka bumi ini," kata Indro.

"Emmmm," kata Kasino.

Kasino dan Indro terus menonton Tv dengan baik gitu.

"Ooooo iya. Kasino. Apakah Dono ada ketakutan dalam dirinya dalam membuat cerita mengunakan nama artis?!" kata Indro.

"Kalau itu tanya ke Dono lah!" kata Kasino.

"Dononya lagi sibuk baca buku. Ayolah Kasino...sekedar obrolan saja!" kata Indro.

"Ya adalah. Namanya Dono itu manusia. Ada ketakutan. Menggunakan nama artis, ya bisa saja mencemarkan nama baik tuh artis. Kadang hidup itu tidak sesuai dengan rencana. Niat baik bisa jadi buruk. Niat buruk jadi baik. Dono mensiasatinya dengan membuat cerita dengan di beri judul seperti ini 'Maaf Sekedar Cerita Saja', bisa kan," kata Kasino menjelaskan dengan baik.

"Ia sih dengan judul 'Maaf", ya urusan selesai. Toh cerita Dono kan tidak mencari keuntungan. Hanya cerita doang gitu," kata Indro menegaskan omongan Kasino.

"Ya sudahlah tidak perlu di bahas lebih jauh. Fokus nonton Tv aja!" kata Kasino.

"Iya," kata Indro.

Indro dan Kasino, ya fokus nonton Tv dengan baik karena memang acara berita bagus gitu...memberitakan keadaan ini dan itu. Dono tetap asik baca bukunya.

LAPOR PAK

Wendy duduk di warung kopi. Di seberang jalan ada orang yang di awasin Wendy. Tiba-tiba Ayu muncul, ya duduk di sebelah Wendy.

"Pak Wendy kenapa minum kopi di sini?" tanya Ayu.

"Ayu di sini gangu aja," kata Wendy.

Orang yang di awasi Wendy di seberang jalan, ya bergerak gitu.

"Ayu bayarin dulu kopinya. Aku ngejer target!" kata Wendy.

Wendy langsung bergerak naik motornya karena orang yang di awasi Wendy naik ojek.

"Yang minum kopi siapa? Yang bayar aku!" kata Ayu.

Ayu membayar kopi pada pemilik warung kopi. Ayu ke kantorlah. Wendy terus membuntutin target dengan baik banget. Sampai di rumah gedong sih. Orang yang di buntutin Wendy, ya berhenti di rumah gedong sih. Tukang ojek, ya pergilah setelah di bayar gitu. Masuklah orang tersebut ke rumah gedong itu. Wendy memarkirkan motornya dengan baik banget. Andika menelpon Wendy.

"Wendy posisi di mana?" kata Andika.

"Posisi di sebuah rumah gedong. Mau menangkap target," kata Wendy.

"Kalau begitu aku kesana secepat mungkin," kata Andika.

"Iya," kata Wendy.

Hubungan teleponan antara Wendy dan Andika selesai. Wendy memberanikan diri untuk masuk ke rumah gedong itu, ya lewat pintu depanlah. Pintu di buka dengan baik sama Wendy karena tidak di kunci sih pintu depan. Muncul sosok yang menyeramkan. Wendy mau berteriak "Setan", tapi tidak jadi karena yang di lihat itu cuma patung berwujud menyeramkan di taruh di ruang tamu. Wendy pelan-pelan masuk rumah. Di sebuah kamar terjadi transaksi narkoba. Wendy mendobrak pintu dengan memegang pistolah untuk mengalahkan musuh gitu.

"Jangan bergerak," kata Wendy menodongkan pistol.

Orang-orang yang sedang bertransaksi narkoba tidak bergerak gitu. Wendy kaget melihat sosok artis yang menjadi pengedar narkoba Anji dan Nia suaminya Ardi. Di belakangnya Wendy ada anak buah Anji, yang bernama John. Ya John menodongkan pistol ke kepala Wendy dan John berkata "Serahkan pistol mu."

Wendy mengikuti maunya orang di belakang dia, ya menyerahkan pistol di tangannya. Trik sulap di lakukan Wendy. Bukannya pistol yang di serahkan melainkan pisang.

"Becanda kamu?!" kata John.

"Nama juga pelawak, ya becanda," kata Wendy.

Wendy menyerahkan pistolnya yang asli sih. Andika muncul di belakang John dengan menodongkan pistol di kepala dan berkata "Serahkan pistol mu!"

"Iya," kata Jhon.

Jhon menyerahkan pistol ke Andika. Wendy senang Andika cepat dateng menolong.

"Kalau bertindak jangan sendiri. Untung aku cepat dateng!" kata Andika.

"Iya," kata Wendy.

Wendy mengambil pistolnya lagi di tangan Jhon. Wendy dan Andika mulai memborgol Anji, Nia, Ardi dan Jhon. Saat mau keluar dari rumah gedong. Ada beberapa preman dateng yang ingin menolong Anji dan kawan-kawan gitu. Andika dan Wendy sebenarnya dengan pistol, ya preman sudah kalah sih. Andika dan Wendy ingin menunjukkan kehebatan seni bela diri gitu. Andika dan Wendy bertarung dengan para preman. Pertarungan sengit banget kaya film laga gitu luar biasa heboh banget gitu. Wendy dan Andika bisa mengalahkan preman semuanya. Pak Andre dateng dengan pasukan. Pak Andre melihat kerja Wendy dan Andika yang menangkap para pengedar narkoba.

"Lapor Pak. Telah berhasil menangkap pengedar narkoba," kata Wendy.

"Hebat Wendy dan juga Andika," kata Pak Andre.

"Iya Pak," kata Wendy dan Andika bersamaan.

Pak Andre menyuruh anak buah membawa semua para penjahat ke mobil dan langsung ke kantor untuk di proses lebih lanjut.

"Wendy kita berhasil menangkap para penjahat," kata Andika.

"Semua berkat informan aku," kata Wendy.

"Iya deh. Informan Wendy jempolan," kata Andika.

Andika dan Wendy, ya ke kantor dengan kendaraan masing-masing....motorlah. Selang beberapa saat. Di kantor. Semua di proses dengan baik. Pak Andre sedang wawancara dengan repoter Tv tentang keberhasilan anak buahnya menangkap para penjahat pengedar narkoba. Ayu mendatangi Wendy yang bersama Andika duduk di kantor.

"Pak Wendy..uang kopinya," kata Ayu.

"Ayu. Uang kopi di tagih," kata Wendy.

"Wendy ngebon kopi ya?!" kata Andika.

"Iya sih. Abisnya lagi ngejer target. Yang bayar kopinya Ayu!" kata Wendy.

"Ooo begitu," kata Andika.

Wendy menyeluarkan uang dari sakunya dan berikan ke Ayu. 

"Uangnya lebih Pak Wendy?!" kata Ayu.

"Lebihnya untuk Ayu. Bonus," kata Wendy.

"Terima kasih Pak Wendy. Sering-sering saja ya!" kata Ayu.

"Mau...nya," kata Wendy.

Wendy dan Andika memutuskan main catur saja. Ayu, ya membereskan ini dan itu di kantor...bersih-bersihlah.

TINKER BELL

Ghea selesai mengerjakan tugas kuliahnya di kamarnya, ya keluarlah dari kamarnya. Ghea ke ruang tengah untuk nonton Tv. Lila adiknya Ghea sedang asik menonton Tv dengan acara Tv.....film kartun Tinker Bell. Ghea duduk bersama dengan Lila, ya nonton Tv dengan baik banget.

Cerita yang di tonton Ghea dan juga Lila di Tv :

Pada suatu hari yang istimewa di Pixie Hollow. Semua peri berkumpul. Dengan taburan debu ajaib, peri baru lahir. Namanya Tinker Bell. Ratu Clarion menyambut peri terbaru dan berkata, “Lahir dari tawa, berpakaian gembira, kebahagiaan telah membawamu ke sini.”

Para peri berusaha membantu Tinker Bell menemukan bakatnya. Mereka memberinya bunga, air, dan cahaya, tetapi semua yang di sentuh Tink meredup dan menghilang. Kemudian, Tinker Bell melewati sebuah palu. Ternyata palu itu mulai bersinar, bahkan terbang langsung ke arahnya. Saat itulah dia sadar bahwa dia telah menemukan bakatnya. Dia adalah peri yang suka bermain-main.

Para peri datang berkerumun untuk menyambut Tinker Bell. Tink senang bertemu dengan mereka. Namun dia juga agak sedih. Tinkers tidak terlihat mewah seperti peri lainnya. Teman-teman baru Tink, Clank dan Bobble, mengajaknya berkeliling di Pixie Hollow. Dia melihat semua peri bersiap-siap untuk musim semi.

“Ini adalah perubahan musim,” jelas Bobble. 

Ada banyak hal yang terjadi di Tinker’s Nook. Tinker Bell senang melihat semua hal baik yang dibuat pada peri. Peri Mary kepala peri pekerja. Dia menyuruh Clank dan Bobble untuk mengirimkan kreasi mereka ke seluruh peri dengan cepat. 

Mereka akan membutuhkan barang-barang di daratan. “Daratan kedengarannya menarik!” teriak Tink.

Peri yang bermain-main menunjukkan pada ratu apa yang telah mereka buat. Salah satu kreasi Tinker Bell masih belum sempurna. Tink akan memperbaikinya tepat waktu untuk membawanya ke daratan. Sang ratu mengatakan kepada Tink bahwa para peri yang bermain-main tidak pergi ke daratan.

“Karyamu ada di sini di Pixie Hollow,” kata Queen Clarion.

Tinker Bell kecewa dengan kenyataan itu. Peri Mary mengatakan kepadanya bahwa dia harus bangga dengan siapa dia. Tapi Tinker Bell tidak bisa menerima ucapan itu.

Dia ingin menjadi peri taman seperti peri lainnya. Dia meminta bantuan teman-temannya. Pada awalnya, Silvermist mencoba mengajar Tink bagaimana menjadi peri air. Tapi Tink tidak pandai menggunakan air. Kemudian, Iridessa mencoba mengajar Tink bagaimana menjadi peri cahaya, tetapi Tink tidak pandai menggunakan cahaya. Fawn mencoba menunjukkan kepada Tink bagaimana menjadi peri binatang, tetapi Tink juga tidak pandai menggunakan hewan. Tink melihat seekor burung besar terbang di langit.

“Mungkin pria itu bisa membantu!” pikir Tink. Burung itu menukik ke arah Tink. 

“Elang!” teriak para peri saat mereka berlari mencari perlindungan. 

Tink melompat ke dalam lubang untuk bersembunyi. Lubang itu adalah tempat persembunyian Vidia. Sekarang, elang juga mengejar Vidia. Para peri lainnya menyerang elang dengan buah beri. Vidia aman tetapi dia marah. Tink mencoba membantunya membersihkan tetapi dia tidak menginginkan bantuan Tink. Tink merasa tidak enak. Dia tidak bisa menahan tetesan air, dia tidak bisa menahan sinar cahaya, dan bayi burung takut padanya.

“Aku tidak berguna,” katanya. 

Tink terbang ke pantai. Dia ingin sendirian. Di sana dia melihat kotak musik yang rusak. Tink dengan cepat mulai bekerja. Teman-temannya memperhatikan.

“Kamu memperbaikinya!” Silvermist menangis.

Mereka semua kagum dengan bakatnya yang mengotak-atik. Tinker Bell senang bermain-main. Tapi dia masih ingin pergi ke daratan. Pada harapan terakhirnya, Tink pergi ke Vidia untuk meminta bantuan. Tapi, Vidia masih marah padanya. Vidia mendapat ide jahat. Dia mengatakan Tink harus menangkap Sprinting Thistles untuk membuktikan bahwa dia adalah peri taman. Itu pekerjaan yang berbahaya. Tapi Tink harus mencoba. Itu adalah kesempatan terakhirnya. Dia membuat kandang dan laso untuk menangkap Thistles.

“Berhasil!” teriak Tink. 

Thistles berhasil dimasukan ke dalam kandang. Tapi kemudian, Vidia menghembuskan angin yang kencang, Gerbang kandang terbuka. Para Thistles berlari berhamburan keluar. Tinker Bell kehilangan kendali atas mereka. Para Thistles berlari ke sana kemari melewati Springtime Square. Mereka menghancurkan semua persediaan musim semi. Semua orang kesal. Musim semi harus dibatalkan. Itu semua kesalahan Tinker Bell. Tinker Bell pun terbang karena malu. Tinker Bell memutuskan untuk meninggalkan Pixie Hollow untuk selamanya.

Saat akan meninggal kan Pixie Hollow, dia berhenti untuk terakhir kalinya di bengkel tinker. Saat dia melihat sekeliling, dia mendapat ide. Dia tahu bagaimana cara menyelamatkan musim semi! Di Springtime Square, Vidia dihukum karena membantu Thistles melarikan diri. Dan semua orang sedih bahwa musim semi tidak akan datang.

“Tunggu! Saya tahu bagaimana kita bisa memperbaiki semuanya! Tapi saya tidak bisa melakukannya sendiri!” ucap Tinker Bell. 

Para peri sangat ingin membantu. Tink menunjukkan kepada semua orang apa yang harus dilakukan. Dalam sekejap mata, kreasi Tink mengisi ember dengan cat dan biji beri. Segera, semuanya sudah siap untuk musim semi!

“Kamu berhasil! Kamu menyelamatkan musim semi!” seru Ratu Clarion. 

“Kita semua melakukannya,” kata Tinker Bell.

Peri Mary memberi tahu Tink bahwa dia juga bisa pergi ke daratan. Kotak musik yang diperbaiki Tink adalah milik seorang gadis kecil yang istimewa. Dan hanya Tinker Bell yang bisa mengirimkannya kepadanya. Tinker Bell senang. Tinkerings nya telah menyelamatkan musim semi. Dia peri yang suka mengotak-atik dan bangga akan hal itu!

***

Film kartun yang di tonton Ghea dan Lila di Tv telah selesai, ya acara Tv berganti ke acara yang lain. Lila ke kamarnya mau mengerjakan PR-nya. 

"Film kartun Tinker Bell bagus. Alur ceritanya sama dengan apa yang aku baca di buku. Pesan moral apa ya?" kata Ghea.

Ghea masih mengingat pesan moral dari buku yang ia baca dan juga dengan memahami cerita film kartun Tinker Bell yang baru di tonton. 

"Aku inget. Berjuanglah dan pantang menyerah untuk apa yang kamu cita-citakan. Saat melakukannya pasti kamu akan merasakan kegagalan, namun jangan menyerah. Kesuksesan tidak akan di capai tanpa melalui kegagalan," kata Ghea.

Ghea memang memahami apa yang baru ia omongin itu.

"Sama hal dengan perjuangan para penyanyi yang ikut lomba menyanyi di Tv dan juga orang-orang yang berjuang di bidang olahraga. Semua berjuang pantang menyerah untuk mencapai cita-cita yang di inginkan. Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Terus berjuang sampai menjadi sukses dengan cita-cita yang di inginkan itu," kata Ghea.

Ghea pun terus menonton acara Tv yang bagus banget gitu dengan santai lah.

Wednesday, July 7, 2021

KISAH CINTA

Dono sedang duduk di ruang tamu, ya baca buku. Indro dan Kasino sedang asik nonton Tv di ruang tengah. Saat iklan di Tv. Indro pindah duduknya ke ruang tamu. Duduklah Indro di sebelah Dono.

"Dono," kata Indro.

"Apa?" kata Dono menghentikan baca bukunya.

"Aku nanya sesuatu?!" kata Indro.

"Tentang apa?" kata Indro.

"Biasanya di Blog kan yang di tulis nama kita seperti biasanya. Tapi kenapa beberapa cerita yang di publikasikan dari baca buku di gunakan nama anak-anak sini dan juga nama artis?" kata Indro.

"Ooooo itu toh. Alasannya sih. Agar tidak boring saja. Kalau di tulis nama kita terus kan......monoton gitu," Dono menjelaskan.

"Agar tidak terlalu monoton toh," kata Indro.

"Emmmm," kata Dono.

"Yang di ketikkan nama cewek kan padahal yang menjalankan tugas cowok kan ?!" kata Indro.

"Hal biasa itu mah. Banyak penulis cewek, ya membuat cerita tentang cowok yang di ketik namanya juga cowok. Apa bedanya dengan aku. Aku cowok, ya penulisnya. Membuat cerita tentang cewek, ya mengetiknya nama ceweklah," kata Dono.

"Karakternya Don dan alur ceritanya?!" kata Indro.

"Kebanyakan di ambil dari perjalan hidup. Jadi kenyataan hidup," kata Dono.

"Salah satunya. Kisah cinta. Dalam pertemanan tidak boleh ada cinta. Sebenarnya itu kebohongan saja. Karena cewek kalau kepepet belum dapet pasangan yang di harapkan adalah temannya," kata Indro.

"Itu kenyataan banget. Sampai sekarang cewek masih berharap sama penulis. Jadi kisah perjalan hidup penulis itu sendiri," kata Dono menegaskan.

"Kisah cinta. Cowok berharap cewek yang di sukainya bisa jadian gitu, ya pacaran atau menikah tapi kenyataannya derajat jadi benturan. Cowoknya miskin dan ceweknya kaya," kata Indro.

"Kalau kisah itu sih. Harapan yang sia-sia mencintai cewek yang kaya. Lebih baik membuang rasa cinta itu dan mencari cinta yang sederajat. Toh cewek yang miskin juga banyak cantik!" kata Dono yang tegas.

"Memang sih lebih baik mencintai cewek yang sederajat. Agar menjalankan kehidupan ini mudah dengan baik yang terpenting satu suku....jadi tidak hilang silsilah keturunan yang aslinya," kata Indro.

"Emmmmm," kata Dono.

"Kalau begitu. Ya sudahlah tidak perlu di bahas lagi. Aku nonton Tv lagi!" kata Indro.

"Iya," kata Dono.

Dono kembali membaca bukunya dengan baik. Indro pindah duduknya ke ruang tengah. Indro duduk di sebelah Kasino.

"Acara Tv Si Unyil bagus..ya Kasino?!" kata Indro.

"Ya seperti biasa. Tontonan yang mendidik. Pinter yang membuat acara Tv," pujian Kasino.

"Memang aku akui. Pinter yang membuat acara Tv...Si Unyil," kata Indro menegaskan.

Indro dan Kasino, ya fokus nonton Tv dengan baik karena memang acaranya bagus banget.

PILIHAN SANG PUTRI

Syifa cewek yang cantik dan juga pinter. Syifa masih berkuliah di universitas ternama di Jakarta. Selama duduk di bangku kuliah. Syifa terus di dekati sama Risky. Pada akhirnya Syifa luluh juga dan menerima cinta Risky. Syifa terkadang jenuh dengan hubungannya dengan Risky karena tahu sifatnya Risky setelah berpacaran gitu.

"Aku salah mengambil keputusan...menerima cinta Risky," kata Syifa.

Syifa terus menjalankan hubungan dengan Risky dengan baik. Doni teman baik Syifa bisa di bilang kakak tingkat di kuliah sih. Syifa merasa nyaman dengan Doni karena sifat Doni yang dewasa. Doni selalu menganggap Syifa hanya sebagai teman baik saja, tidak ada cinta gitu. Syifa hari ini males kemana-mana jadi di rumah saja. Syifa pun duduk di ruang tamu dan mengambil buku di meja, ya di baca dengan baik.

Isi buku yang Syifa baca :

Haura binti Abdul Azis adalah putri seorang saudagar kaya. Ia dan ayahnya tinggal di sebuah kota besar di semenanjung Arab. Keluarga mereka di kenal karena kedermawanannya. Selain itu, tentu juga karena kecantikan sang putri saudagar. Suatu hari, tiga orang pemuda datang menemui Tuan Abdul Aziz. Mereka adalah pangeran dari kota-kota sekitar. Mereka datang untuk melamar Haura. “Bagaimana pendapatmu, Haura? Ada tiga orang pangeran melamarmu di waktu yang bersamaan.”

Haura mengintip dari balik tirai. Sejak tadi sebenarnya ia sudah memerhatikan percakapan ayahnya dan ketiga pangeran itu. 

“Ayah, tidak ada satu orang pun dari mereka yang membuatku terkesan. Coba Ayah perhatikan mereka,” ucap Haura.

“Pangeran pertama yang bernama Hazim, sikap dan ucapannya sombong sekali,” lanjutnya.

“Bagaimana dengan yang kedua, Pangeran Zaid? Ayah rasa ia cukup gagah,” balas Tuan Abdul Aziz.

“Tidak, Ayah! Dia jorok sekali. Haura perhatikan tadi dia bersendawa keras tanpa malu-malu. Lihat itu! Ia malah membersit hidung dengan pakaiannya,” tolak Haura. 

“Kalau yang ketiga? Namanya Pangeran Rasyid,” lanjut ayahnya. 

Haura menggeleng.

“Kenapa?” tanya sang ayah.

“Pangeran itu egois dan narsis.” 

Tuan Abdul Aziz mengernyitkan dahi. 

“Kelihatan sekali dia membanggakan dirinya sendiri, Ayah,” ucap Haura memberi penjelasan.

“Tolong, Yah. Aku tak ingin menikah dengan salah satu dari mereka,” pinta Haura. 

Tuan Abdul Aziz menjadi bingung. Ia sangat mencintai putrinya. Namun ia juga tak ingin membuat para pangeran itu marah dan akhirnya memusuhi mereka. 

“Saya akan memikirkan lamaran Anda semua. Beri saya waktu. Kembalilah esok hari,” ucap Tuan Abdul Aziz. 

Ia ingin memikirkan cara terbaik untuk memenuhi permintaan putrinya. Keesokan harinya, ketiga pangeran itu datang lagi ke rumah Tuan Abdul Aziz. Mereka sudah tidak sabar mengetahui lamaran siapa yang diterima. 

“Tuan-tuan sekalian, saya merasa terhormat Anda telah datang untuk melamar putri saya. Seandainya saya memiliki tiga orang putri, akan saya terima Anda semua menjadi menantu saya. Sayangnya putri saya hanya satu. Karena itu, memilih seorang di antara Anda adalah hal yang berat bagi saya,” ujar Tuan Abdul Aziz. 

“Lalu?” tanya Pangeran Zaid. 

“Tuan-tuan masih muda. Cobalah berkelana untuk mendapatkan pengalaman hidup yang lebih berharga. Agar lebih adil, datanglah setahun lagi. Siapa pun yang kembali dengan membawa benda yang membuat putri saya takjub, dialah yang berhak menikahi Haura.” 

Ketiga pangeran merasa itu tawaran yang masuk akal. Akhirnya mereka bersedia memenuhi permintaan Tuan Abdul Aziz. Mereka berjanji akan datang lagi setahun kemudian. Tuan Abdul Aziz lega. Haura pun lega. Paling tidak mereka punya perpanjangan waktu satu tahun untuk memikirkan langkah berikutnya. Lagi pula waktu bisa mengubah seseorang. Siapa tahu saat kembali nanti, satu di antara mereka benar-benar ada yang pantas untuk di pilih menjadi pendamping Haura.

“Hai, tunggu!” seru Pangeran Hazim memanggil kedua pangeran yang lain. 

“Ada apa?”

“Kemari dulu, teman-teman!” 

Pangeran Zaid dan Pangeran Rasyid menghampiri Pangeran Hazim yang berteduh di bawah pohon kurma. 

“Saya punya ide. Bagaimana kalau seminggu sebelum waktu yang ditentukan Tuan Abdul Aziz, kita bertemu dulu di sini?” ujar Pangeran Hazim. 

“Untuk apa?” 

“Tentu saja untuk membandingkan apa yang kita dapatkan,” lanjut Pangeran Hazim. 

Kedua pangeran yang lain berpikir-pikir. Tak ada salahnya mereka membandingkan dulu. Sekiranya milik mereka kurang menakjubkan, mereka masih punya waktu seminggu untuk mencari gantinya. Keduanya setuju. Mereka lalu melakukan perjalanan masing-masing dan berpencar arah. Tepat seminggu sebelum waktu pertemuan dengan Tuan Abdul Aziz, Pangeran Hazim memenuhi janjinya. Ia datang ke tempat yang telah mereka sepakati dulu. Sebuah kedai sepi di pinggir kota. Pangeran Zaid datang kemudian. 

“Zaid!” panggil Pangeran Hazim. 

Pangeran Zaid segera duduk bergabung dengannya. 

“Penampilanmu tampak lebih buruk dari sebelumnya. Kau baik-baik saja?” tanya Pangeran Hazim.

“Ya, aku baik-baik saja,” jawab Pangeran Zaid sambil mengelap tangan di bajunya sebelum mengambil makanan di meja. Ternyata kebiasaannya belum berubah. Tak lama kemudian Pangeran Rasyid datang. Ia langsung menghampiri kedua pangeran yang lain. Wajahnya berseri penuh keyakinan bahwa apa yang dibawanya akan menjadi yang paling menakjubkan.

“Jadi apa yang kau dapatkan, Hazim?” tanya Pangeran Zaid sambil mengunyah makanannya. 

“Hanya bola kristal,” jawab Pangeran Hazim tak acuh. 

“Bola ini bisa menunjukkan apa pun yang ingin kau lihat, di mana pun tempatnya,” lanjutnya sombong.

Kedua pangeran yang lain tampak sedikit takjub. Tapi mereka menahan diri untuk memberi pujian. Mereka tak ingin Pangeran Hazim merasa menang. 

“Lalu apa yang kau temukan, Zaid?” 

Pangeran Zaid merogoh jubahnya dan mengeluarkan gulungan karpet. Ia membentangkannya di hadapan kedua pangeran yang lain. 

“Ini karpet terbang. Siapa pun yang duduk di atasnya bisa diangkut ke mana saja ia mau dalam waktu sekejap,” ujarnya bangga. 

Pangeran Hazim dan Pangeran Rasyid tampak terpesona, tetapi mereka diam saja. 

“Kalau aku, lihat ini!” sambar Pangeran Rasyid mengalihkan perhatian. 

Ia meletakkan botol kecil di atas meja. Pangeran Zaid hendak mengambilnya karena ingin tahu. 

“Ini bukan sembarang botol,” sergah Pangeran Rasyid menggenggam lagi botolnya. 

“Dalam botol ini ada ramuan ajaib. Satu tetes saja bisa menyembuhkan penyakit apa pun. Dan bila diusapkan ke kulit dengan cinta yang tulus, bisa mengembalikan seseorang menjadi muda lagi.”

Pangeran Rasyid menyimpan lagi botol itu dalam jubahnya. 

“Hmm... bagaimana kalau kita lihat dulu keadaan Haura saat ini dengan bola kristalmu. Siapa tahu Haura ternyata sudah tak secantik dulu. Sia-sia nanti kita menemuinya,” usul Pangeran Rasyid. 

Ketiga pangeran itu memang hanya terpikat pada kecantikan wajah Haura. 

“Baiklah,” jawab Pangeran Hazim.  

Ia mengayunkan tangannya ke atas bola kristal. Di dalam bola itu muncul asap dan tampak keruh. Perlahan-lahan, muncullah gambar Haura. Ia terbaring di tempat tidur. Ayahnya dan seorang pria berdiri di tepi ranjang Haura. 

“Apakah tidak ada sesuatu yang bisa Anda lakukan, Tabib?” tanya Tuan Abdul Aziz pada pria di sampingnya. 

“Maafkan saya, Tuan. Saya sudah berusaha. Tapi rasanya kita tak punya banyak waktu lagi,” jawab Tabib. 

Tuan Abdul Aziz tampak sangat bersedih.

“Aduh, kasihan sekali Haura. Ramuan ajaibku ini pasti bisa menyembuhkannya. Tapi bagaimana ini. Tabib bilang waktunya tak banyak lagi. Padahal rumah Tuan Abdul Aziz masih jauh dari sini,” keluh Pangeran Rasyid. 

“Kalau begitu, kita naik karpet terbangku saja. Kita akan sampai ke sana dalam sekejap. Ayo!” ajak Pangeran Zaid sambil menggelar karpetnya. 

Mereka segera melompat duduk di atas karpet. Karpet itu pun langsung meluncur secepat kilat. Tak lama kemudian, mereka tiba di rumah Tuan Abdul Aziz. Mereka meminta izin pada pelayan untuk masuk. Mereka berkata mereka bisa menyembuhkan Haura. Pelayan mengantarkan ketiga pangeran itu ke kamar Haura. Tuan Abdul Aziz terkejut melihat kedatangan ketiga pangeran, padahal waktu yang ditentukan masih satu minggu lagi. 

“Tak perlu terkejut, Tuan. Kami kemari untuk menyembuhkan Haura. Izinkan saya melakukannya,” ujar Pangeran Rasyid. 

Tuan Abdul Aziz tak bisa berkata apa-apa. Ia mempersilakan Pangeran Rasyid. Pangeran mendekati Haura. Ia lalu mengeluarkan botol ramuan ajaibnya. Ia meneteskan ramuan itu ke dahi Haura lalu mengusapnya. Pangeran Rasyid lalu mundur. Perlahan-lahan, mata Haura terbuka dan mengerjap-kerjap. Tuan Abdul Aziz takjub. Ia sangat senang melihat putrinya siuman. Ia menghampiri Haura dan membantunya duduk. 

“Ini sungguh keajaiban!” seru Tuan Abdul Aziz senang. 

“Bagaimana keadaanmu, Sayang?”

“Aku merasa lebih baik, Ayah.”

Tuan Abdul Aziz pun memeluk putri kesayangannya. 

Ketiga pangeran lalu dipersilakan beristirahat. Masing-masing mereka disediakan ruangan khusus. Para pelayan memberi mereka jamuan dan melakukan apa pun yang mereka inginkan. Ketika makan malam, Tuan Abdul Aziz meminta mereka makan bersama. Ia ingin mengucapkan terima kasih kepada para pangeran. 

“Tak apa, Tuan. Semua ini demi kebaikan Haura. Masing-masing dari kami memang telah mendapatkan benda ajaib. Tapi tak bisa disangkal, bola kristal sayalah yang paling berjasa dalam peristiwa ini. Tanpa bola kristal ini, tak satu pun dari kami tahu kalau Haura sedang sakit. Tentu bola kristal saya ini menjadi benda yang paling menakjubkan dan saya yang paling pantas meminang Haura,” ujar Pangeran Hazim.

Kedua pangeran lain mendengus mendengar kesombongan pangeran Hazim. 

“Tapi, Tuan, mengetahui saja tentu tak akan ada gunanya. Saat kami tahu Haura sakit, kami masih sangat jauh dari rumah Anda. Belum tentu satu minggu berjalan akan sampai di sini. Berkat karpet terbang sayalah kami bisa tiba tepat waktu. Tentu karpet terbang saya yang paling istimewa di antara temuan para pangeran lainnya. Sayalah yang paling berhak meminang Haura,” kata Pangeran Zaid tak mau kalah. 

“Tapi ramuan ajaib sayalah yang telah menyembuhkan Haura, Tuan. Tanpa ramuan ajaib itu, kehadiran para pangeran di sini pun tak ada artinya untuk kesembuhan Haura. Benar, kan? Jadi sayalah yang seharusnya Anda terima menjadi menantu,” ujar Pangeran Rasyid penuh keyakinan.

Tuan Abdul Aziz bingung. Setiap pangeran punya jasa terhadap kesembuhan putrinya. Bila ia memilih salah seorang sebagai menantu, tentu tidak adil bagi pangeran yang lain. Bisa-bisa mereka marah dan memusuhi keluarganya. Apalagi mereka para pangeran yang mempunyai kekuasaan dan pasukan di kerajaannya masing-masing. 

“Saya sangat menghargai usaha Anda semua. Saya tak memungkiri setiap peran Anda bagi kesembuhan putri saya. Saya tak bisa memutuskan sekarang, siapa yang saya terima menjadi suami Haura. Istirahatlah dulu di rumah kami. Esok hari, kita bicarakan lagi masalah ini,” ujar Tuan Abdul Aziz.

 Ketika membicarakan masalah itu dengan putrinya, Haura pun bingung. Tuan Abdul Aziz lalu memanggil pelayannya yang paling setia untuk meminta pertimbangan. 

“Begini, Tuan. Ada seorang pria tua yang terkenal akan kebijaksanaannya. Bagaimana kalau kita undang dia untuk memberikan keputusan. Dengan demikian, bukan Anda atau Putri Haura yang akan dipersalahkan pangeran yang tidak terpilih. Mereka tak akan marah dan memusuhi keluarga Anda. Sayangnya, pria itu tinggal di negeri yang cukup jauh.”

“Kumohon datangkan ia. Jemputlah malam ini juga. Bawa kuda terbaikku agar kau bisa cepat sampai dan membawanya kemari,” pinta Tuan Abdul Aziz.

“Akan saya usahkan, Tuan,” jawab pelayannya segera pergi.

Berita tentang pemilihan menantu saudagar Abdul Aziz, menarik perhatian masyarakat. Mereka berduyun-duyun datang ke rumah Tuan Abdul Aziz untuk mencari tahu. Ketiga pangeran juga sudah menunggu-nunggu. Namun Tuan Abdul Aziz masih menanti kedatangan pelayannya beserta pria tua bijak dari negeri yang jauh. Lewat tengah hari, pelayan dan pria tua itu baru tiba. Setelah beristirahat sejenak, ia menemui Tuan Abdul Aziz dan para pangeran. Mereka menggelar acara itu di halaman rumah sehingga masyarakat bisa melihatnya. Haura pun dihadirkan di sana. 

“Baiklah, akan kita mulai pemilihan ini. Para pangeran yang terhormat, telah kuundang Tuan Ahmad, pria bijak dari negeri seberang untuk memberikan keputusan terbaik bagi kita. Kini, sampaikanlah satu per satu apa yang kalian bawa dari perjalanan kalian.” 

Para pangeran menceritakan perjalanannya dalam mendapatkan benda ajaib masing-masing. Mereka juga menceritakan perannya dalam menyembuhkan Haura. Mereka merasa menjadi yang paling berjasa dan membawa benda yang paling ajaib. Mereka meletakkan benda-benda yang dibawanya di meja untuk dipertunjukkan. 

“Begitulah, Tuan Ahmad. Saya merasa setiap pangeran telah memberikan persembahan terbaiknya. Setiap mereka juga mempunyai jasa terhadap kesembuhan putri saya. Ketiganya pun berniat meminang putri saya. Tentu berat bagi saya memutuskan semua ini. Bagaimana pendapat anda, Tuan?” tanya Tuan Abdul Aziz. 

Pria tua itu berdiri dan berdehem. Ia diam sejenak hingga suasana benar-benar hening. Semua yang datang penasaran dengan keputusan pria tua itu.

“Tuan Abdul Aziz, pertama-tama saya ucapkan terima kasih atas undangan Anda. Saya merasa sangat terhormat berada di sini.” 

Kemudian ia berkata, “Para pangeran, saya yakin dengan kisah-kisah Anda yang menakjubkan. Juga benda-benda ajaib yang Anda bawa. Serta betapa Anda telah berusaha menyembuhkan putri Tuan Abdul Aziz. Tapi di negara saya, para wanita mempunyai hak dan kebebasan memilih pasangannya sendiri. Karena dalam pernikahan itu, kebahagiaan merekalah yang dipertaruhkan.” 

Pria tua itu lalu berpaling pada Haura, “Jadi saya ingin menanyakan kepada Nona Haura, dengan siapa Anda ingin menikah?” 

Haura diam sejenak. Dia telah mengambil keputusan. Haura mengangkat kepalanya lalu bicara pada para pangeran, “Saya berterima kasih Anda semua telah menyelamatkan hidup saya. Saya sangat menghargai usaha Anda membawakan benda-benda terbaik ini. Namun pria tua ini adalah satu-satunya yang mengerti bahwa saya mempunyai hak dan kebebasan untuk memilih pasangan saya.” 

Haura lalu melanjutkan, “Jadi jika saya diperbolehkan memilih, saya akan memilih dia.” 

Putri Haura melangkah ke sisi Tuan Ahmad, pria bijak yang diundang ayahnya. Semua yang hadir, termasuk para pangeran dan Tuan Abdul Aziz sangat terkejut. 

“Tapi, bagaimana mungkin, Sayang?” tanya Tuan Abdul Aziz tak percaya. 

Ia tak bisa terima putri cantiknya memilih menikahi pria yang sudah tua. Haura lalu mengambil botol ramuan ajaib di meja. Ia meneteskan ramuan ajaib itu ke tangan Tuan Ahmad dan mengusapnya. Seketika kabut asap mengelilingi Tuan Ahmad. Perlahan-lahan kabut asap pun menghilang, yang tampak di sana bukan lagi pria tua. Dengan ramuan ajaib itu Tuan Ahmad kembali ke masa mudanya. Ia berubah menjadi pemuda yang gagah dan tampan. Raut wajahnya menunjukkan kesantunan dan kebijaksanaan. Ia tersenyum hormat kepada Haura. Tuan Abdul Aziz kini mengerti akan pilihan putrinya. Haura putri yang cerdas. Ia memilih Tuan Ahmad yang bijak menjadi pendampingnya. Ia pun tahu cara agar pilihannya dapat diterima. Haura memanfaatkan ramuan ajaib untuk mengembalikan kemudaan Tuan Ahmad. 

“Para Pangeran, Yang Mulia, saya mohon Anda bersedia menerima pilihan putri saya. Anda telah berjasa besar bagi keluarga kami. Kami tidak akan pernah melupakannya. Sebagai balas budi, kami akan memberikan tanah perkebunan yang kami miliki untuk kalian,” ujar Tuan Abdul Aziz. 

Para pangeran menerima keputusan itu dengan lapang dada. Mereka pun mendapatkan benda-benda ajaib mereka kembali. Mereka berniat pulang ke kerajaannya masing-masing. Haura dan Tuan Ahmad kemudian menikah dan hidup bahagia. Para pangeran juga menghadiri pernikahan Haura sebelum mereka kembali pulang. Tak lama kemudian, datang undangan dari para pangeran. Rupanya mereka telah mendapatkan jodoh mereka di negerinya masing-masing. Tak sulit bagi para pangeran untuk mendapatkan istri yang cantik dari kalangan bangsawan. Tapi mereka belajar dari pilihan Haura. Mereka memilih wanita-wanita yang baik dan cerdas sebagai pendamping. Para pangeran itu pun hidup dengan bahagia. 

***

Syifa selesai membaca bukunya.

"Cerita asal dari arab bagus banget. Pinter yang membuat ceritanya," kata Syifa.

Syifa menutup bukunya dan di taruh di meja.

"Kalau aku ambil dari cerita yang aku baca, ya memang cewek ingin mendapatkan cowok yang pinter dan bijaksana. Tentang masalah hubungan ku dengan Risky. Aku merasa yang baik untuk pendamping hidupku adalah Doni. Sifat Doni yang dewasa membuatku merasa nyaman gitu dari pada sifatnya Risky yang kekanak-kanakan," kata Syifa.

Syifa tetap harus menjalankan hubungan dengan Risky sudah terlanjur mengambil keputusan, ya menerima cinta Risky.....pacaran gitu. Kadang ada juga pemikiran, ya putus dari Risky karena jenuhnya hubungan. Syifa pun punya harapan besar sih bersama Doni, ya mengubah hubungan pertemanan menjadi hubungan cinta. Syifa beranjak dari duduknya di ruang tamu, ya ke kamarnya untuk mengerjakan tugas kuliah.

ORANG PINTER

Dono di ruang tamu sedang asik baca buku dengan baik banget. Kasino dan Indro duduk di ruang tengah sedang asik nonton Tv, ya biasa berita seputar ini dan itu...pokoknya menarik untuk di tonton.

"Keadaan lingkungan sama aja ya di Tv," kata Indro.

"Pemerintah masih menanggulangi covid-19. Sebagai warga yang baik, ya di anjurkan di rumah saja. Jika ada kepentingan mendesak....baru deh keluar rumah," kata Kasino.

"Zaman telah maju. Walau keadaan masih menanggulangi covid-19. Sebenarnya mudah untuk menjalankan semuanya. Seperti kebutuhan sehari-hari sih, ya aku bisa beli di warung dekat sekitar sini. Jika aku mau nyetok makan satu minggu, ya aku ke pasar saja atau aku telpon teman aku untuk mengirim barang pesan aku itu," kata Indro.

"Kadang Indro memetik tanaman yang aku tanaman di pot dengan baik di halaman belakang. Kaya berita artis yang menanam tanaman di halaman belakang rumah, samping rumah, depan rumah dan terakhir di lantai atas rumah...yang ada tempatnya untuk menanam tanaman hidroponik," kata Kasino.

"Ada yang menanam di dalam rumah. Alatnya ada itu. Kaya lemari kecil untuk menanam hidroponik," kata Kasino.

"Kalau kreatif sih. Aku juga bisa membuatnya alatnya. Jadinya menanam di dalam rumah, ya tanaman hidroponik," kata Kasino.

"Mencontoh kan Kasino?!" kata Indro.

"Iyalah," kata Kasino.

Kasino dan Indro masih terus menonton berita di Tv, ya berita masih sih tentang PPKM Darurat yang di jalankan dengan baik. Kadang ada juga berita heboh yang ini dan itu...pokoknya menarik di tonton gitu.

"Dengan menggunakan kemajuan teknologi...ya jaringan online. Maka dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan baik," kata Indro.

"Mau mesen sesuatu tinggal pake online. Barang langsung di kirim. Kemudahan untuk bertransaksi dengan baik," kata Kasino.

"Kerja pun mudah. Contoh main saham. Duduk di rumah saja dan tinggal memeriksa jaringan saham dengan baik. Kalau ada masalah bisa di telpon atau dateng ke kantor....itu pun tidak terlalu sering banget," kata Indro.

"Apalagi kalau kerjaanya membuat aplikasi. Lebih banyak di rumah," kata Indro.

"Sama halnya orang-orang membuat buku. Cerita di buat di rumah dengan baik. Setelah jadi di kirimkan ke penerbit lewat jaringan online, ya internet. Mudah dengan kemajuan sekarang," kata Kasino.

"Kuliah juga mudah. Kuliah lewat online. Sampai pembutan skripsi. Wisudanya bisa saja online juga atau dateng ke kampus dengan menjalankan protokol kesehatan," kata Indro.

"Segala sesuatu bisa mudah kalau menggunakan teknologi dengan baik. Maka itu jadilah orang pinter yang bisa menggerakkan sektor perkembangan teknologi. Dunia digitalisai berjalan dengan baik. Ekonomi pun berjalan dengan baik. Bisa saja rencana pemerintah meningkatkan ekonomi dapat tercapai target dengan baik," kata Kasino.

"Orang pinter inilah yang dapat memajukan Indonesia," kata Indro.

"Emmm," kata Kasino.

Kasino dan Indro tetap asik nonton Tv, ya acaranya beritanya bagus gitu. Dono tetap asik baca buku di ruang tamunya.

"Oooo iya. Kasino kenapa Dono sering mengisi Blog-nya Dono cerita....Legenda Rakyat, Dongeng dan juga Fabel gitu?!" kata Indro.

"Kalau itu sih tanya Dono!" kata Kasino.

"Paling Dono....suka dengan cerita yang ia baca jadi di publikasikan di Blog-nya," kata Indro.

"Lumrah kan. Nama juga hoby," kata Kasino.

"Hoby nya Dono," kata Indro.

"Sudahlah tidak perlu di bahas lebih jauh. Fokus nonton Tv aja!" kata Indro.

"Iya," kata Kasino.

Kasino dan Indro, ya fokus nonton Tv yang acaranya berita yang memberitakan seputar ini dan itu...pokoknya menarik di tonton gitu.

CAMPUR ADUK

BAD NEWS BEARS

Malam hari, ya bulan bersinar dengan baik. Setelah nonton Tv yang acaranya menarik dan bagus...tema cinta di chenel MDTV, ya seperti biasa s...

CAMPUR ADUK