CAMPUR ADUK

Monday, December 31, 2018

DANAU DI BUKIT TAK BERPENGHUNI

Perkenalkan nama aku Asmita Permata Dewi panggilanku Dewi. Aku tinggal di kota Semarang bersama keluargaku di sebuah desa terpencil. Aku sangat penasaran dengan Danau Yang Ada di balik bukit dekat rumahku. Karena tetanggaku selalu memperbincangkan tentang Danau tersebut, Teman temanku juga begitu, tak ada yang berani melewati Danau itu tersebut padahal danau tersebut sangat indah pemandangannya.

Konon katanya setiap orang yang melewati Danau itu dia akan merasa ketakutan dan tak akan lagi pergi ke danau itu lagi. Aku tidak mengerti mengapa hal itu bisa terjadi. Tetapi aku tak pernah percaya tentang mitos tersebut malahan aku ingin sekali melewati Danau tersebut.

Suatu hari aku bermain dengan Nita, Bagas dan Angga. Aku bercerita banyak kepada mereka termasuk tentang Danau tersebut. “Aku masih heran dengan Danau yang ada di Balik Bukit itu.” Tanyaku kepada Nita yang tengah asyik makan kue donat. “Sebenernya aku juga punya pikiran seperti itu, mana mungkin Danau sebagus itu mempunyai misteri yang sangat menakutkan” kata Nita. “Udah ah jangan bahas Danau itu lagi aku takut tau!” bentak Bagas. “Bagas bagas.. kamu itu kok penakut sih kayak bencongan aja” Canda Angga dan disusul tawa aku dan Nita.

“Tapi aku masih penasaran sama Danau itu.” Aku menyambung percakapan mereka. “Gimana kalau kita pergi kesana aja, tentunya kalian penasaran kan?” kata Nita. “Tapi aku takut, disana banyak hantu yang akan membunuh kita” seperti biasa Bagas ini sangat ketakutan dan lucunya Bagas sampai memeluk Angga. “Apaan sih Gas, meluk meluk segala”. Udah udah gimana kalau besok pagi kita kesana bareng bareng, mau nggak? kalau kalian mau harus bawa senter, bekal dan tenda untuk menginap disana..” kataku. “OK SIAPA TAKUT” kata Angga dan Nita bebarengan. “Aku yang takut tau” kata Bagas tetapi kami tidak menghiraukannya.

Keesokan harinya kami berkumpul di Pos Kamling Di Desa kita. Pukul 07.23 kami berangkat meninggalkan Desa kami Menuju Danau yang katanya menyeramkan itu. Sesampainya disana kami takjub dengan indahnya pemandangan di Danau itu. Sangat indah dan menarik untuk dipandang tapi mengapa orang orang sekitar tidak tahu betapa indahnya Danau yang Dikira sangat angker dan menakutkan itu. “Wah indah sekali pemandangannya sampai sampai aku ingin tinggal disini,” Kata Nita.

Kami menuruni bukit dan mencari tempat untuk mendirikan tenda, belum sampai 10 menit kami menemui tempat yang cocok untuk bermalam. Setelah mendirikan tenda kami langsung menyiapkan api unggun, disitulah Aku dan Nita merasakan ada yang aneh di sekitar kita. “Wi kamu ngerasa nggak kalau suhunya menurun drastis, dingin banget padahal api unggun udah nyala?” Kata Nita berbisik. “Iya nih aku juga ngerasa tapi jangan bilang sama Bagas dan Angga nanti mereka panik dan takut.” “Ok, gimana kalau kita langsung masuk tenda aja biar Mereka nggak tau apa yang sebenarnya terjadi” kata Nita memberi solusi. “Iya kamu betul, Bagas Angga kita masuk tenda yuk udah malem lagi” kataku menahan rasa takut. “Tapi aku belum ngantuk” kata Bagas. “Ayo tidur besok pagi aja lanjutin!” kataku dengan nada agak kesal. “Iya iya aku tidur nih jangan marah dong”.

Kami masuk ke tenda masing masing. Saat tengah malam aku dan Nita terbangun karena Tenda sebelah yang ditempati Bagas dan Angga Ada yang Aneh. Aku dan Nita lihat dari Tenda kami ada bayangan hitam yang menuju Tenda mereka dan sepertinya bayangan hitam itu ingin menculik Bagas dan Angga. Tetapi kami langsung memberanikan diri ke luar tenda untuk melihat siapa yang menuju tenda mereka. Saat kami menengok ke tenda sebelah aku langsung menghidupkan senter dan aku tunjukkan kepada orang iku tetapi orang itu langsung hilang tanpa jejak. Aku dan Nita ketakutan sampai sampai tidak bisa tidur dengan tenang kami gelisah dan takut gimana kalau orang itu balik lagi dan menculik Bagas, Angga, Aku dan Nita?.

Keesokan harinya Aku, Angga, Nita dan Bagas menuju ke danau untuk mencari ikan didanau. Saat kamu mencari ikan tersebut Angga mendapatkan ikan mujair yang cukup besar. Anehnya ikan itu menatap Angga dengan tajam seolah olah ingin menerkam mangsanya. aku dan Nita sangat takut dan tidak berani bilang apa apa, untungnya Angga tidak tahu kalau ikan itu melotot ke arahnya.

Pagi pun berganti siang waktunya kami mengemaskan barang barang untuk kembali pulang, “hore kita pulang ke rumah deh” kata Nita gembira. Tetapi saat kita menyiapkan barang, ada yang mencubit pinggang Bagas, Bagas takut dan menyalahkan Angga. “Angga jangan gitu dong, aku takut nih” kata Bagas. “Apanya sih, aku nggak ngapa ngapain kok, jangan asa nuduh dong” Kata Angga, Kayaknya dia sedikit emosi. “Ada apa sih kok ribut melulu?” kata Nita Mencari tahu. “Ini nih Bagas fitnah aku kalau aku yang nyubit pinggangnya padahal enggak” kata Angga. Aku sama Nita udah ngerasa takut dan mencoba menenangkan Angga dan Bagas juga menenangkan diri sendiri. “Kita harus cepat cepat pulang nih” kataku mencoba menenangkan mereka yang gelisah. “Iya Iya, Aku juga udah ngerasa takut nih” kata Bagas.

Setelah mengemaskan barang, kami pulang melewati bukit yang pernah kita lewati untuk datang ke Danau ini. Saat kami mulai menanjaki bukit itu, ada yang melempar sepucuk kertas ke kepala Nita. Nita langsung membaca, isi surat itu “JIKA KALIAN INGIN MATI, DATANGLAH KESINI UNTUK KEDUA KALINYA UNTUK MENJADI KORBAN SELANJUTNYA”. tulisan itu menggunakan darah yang segar dan baunya sangat menyengat. Saat kami menengok ke belakang untuk mencari tahu siapa yang melempar kertas ini, kami menemukan 3 orang yang tengah berdiri di tengah tengah mayat yang udah mati, ada yang membusuk dan baunya sangat tajam sampai sampai kami mau muntah, tapi kami tahan. Kami sangat ketakutan dan kami lari dan ingin cepat cepat pulang ke rumah.

TAMAT


Karya: Etha Berliana Rida

AKU YANG LAIN

Aku berumur 14 tahun. Aku duduk di kelas 3 SMP. Aku tidak tau sejak kapan keanehan ini dimulai, tetapi beberapa hari ini seperti ada orang yang membuat kehidupanku terbagi dua.

Aku dan Lizara bersahabat sejak aku masuk ke smp. Waktu itu aku ingin sekali mengajak lizara ke bioskop. Oleh karena itu aku datang ke rumah liza untuk mengajaknya ke bioskop. Setelah sampai di rumahnya, aku langsung mengajaknya untuk pergi bersamaku.

“Liz, besok temenin aku yu” Tanyaku.

“Mau kemana, baru tadi siang kita main, masa besoknya main lagi” jawabnya mengejutkanku.

“Main? Tadi siang aku ke rumah sodara aku”

“Ah, jangan bercanda deh, orang tadi kita maen ke taman kota”

“Gak kok, aku gak pernah ngajak kamu main ke taman kota, apalagi tadi siang. gak mungkin banget”

“bener, aku gak bohong. Kan pas di kantin kamu sendiri yang ngajakin aku”

“aneh banget yah. ini seperti jadi teka teki di hidupku”

Sejak saat itu, aku dan lizara sering bertengkar karena menurutnya aku tidak pernah menepati janji yang aku berikan padanya. padahal aku selalu menepati janji yang aku berikan. tetapi ketika aku memintanya untuk menyebutkan janji yang aku berikan padanya. Dan!!! Ternyata yang dia sebutkan, tidak pernah kuberikan sebelumnya.

Oh tuhan, siapa yang telah mempermainkan kehidupanku. Aku seperti merasakan satu lagi kehidupan yang menyerupaiku. Aku merasakan adanya aku yang lain. yang menjalani hidupnya di kehidupanku.


Karya: Putri Valdi

NAGA SABANG & DUA RAKSASA SEULAWAH

Pada suatu masa saat pulau Andalas masih terpisah menjadi dua pulau yaitu pulau bagian timur dan pulau bagian barat, kedua pulau ini di pisahkan oleh selat barisan yang sangat sempit.Diselat itu tinggal lah seekor naga bernama Sabang.Pada masa itu di kedua belah pulau tersebut berdiri dua buah kerajaan bernama Kerajaan Daru dan Kerajaan Alam. Kerajaan Daru dipimpin oleh Sultan Daru berada di pulau bagian timur dan kerajaan Alam dipimpin oleh Sultan Alam berada dipulau bagian barat. Sultan Alam sangat adil dan bijaksana kepada rakyatnya dan sangat pintar berniaga sehingga kerajaan Alam menjadi kerajaan yang makmur dan maju. Sedangkan Sultan Daru sangat kejamkepada rakyatnya dan suka merompak kapal-kapal saudagar yang melintasi perairannya.

Sudah lama Sultan Daru iri kepada Sultan Alam dan sudah sering pula dia berusaha menyerang kerajaan Alam namun selalu dihalangi oleh Naga Sabang, sehingga keinginannya menguasai kerajaan Alam yang makmur tidak tercapai. Maka pada suatu hari dipanggil lah penasehat kerajaan Daru bernama Tuanku Gurka, “Tuanku Gurka, kita sudah sering menyerang Kerajaan Alam tetapi selalu dihalangi oleh naga Sabang, coba engkau cari tahu siapa orang yang bisa mengalahkan Naga itu”, perintah Sultan Daru. “Yang mulia, Naga Sabang adalah penjaga selat Barisan. Kalau naga itu mati maka kedua pulau ini akan menyatu karena tidak ada makhluk yang mampu merawat penyangga diantara kedua pulau ini selain naga itu”, jelas Tuanku Gurka. “Aku tidak peduli kedua pulau ini menyatu, aku ingin menguasai kerajaan Alam”, jelas Sultan Daru. “Ada dua raksasa bernama Seulawah Agam dan Seulawah Inong, mereka sangat sakti”, kata Tuanku Gurka. “Seulawah Agam memiliki kekuatan yang sangat besar sedangkan Seulawah Inong mempunyai pedang geulantue yang sangat cepat dan sangat tajam”, tambah Tuanku Gurka.

Maka tak lama kemudian datanglah kedua raksasa tersebut menghadap Sultan Daru untuk menyampaikan kesangupan mereka bertarung menghadapi naga Sabang. Tak lama kemudian dikirimlah utusan kepada naga Sabang untuk memberi tahu bahwa kedua raksasa itu akan datang bertarung dengannya. Naga Sabang sedih mendengar berita tersebut dan segera menghadap Sultan Alam, “ Sultan Alam sahabatku, sudah datang orang suruhan Sultan Daru kepada ku membawa pesan bahwa dua raksasa Selawah Agam dan Seulawah Inong akan datang melawanku”, Jelas sang Naga kepada Sultan Alam. “Mereka sangat kuat, aku khawatir akan kalah”, kata sang Naga. “Kalau saja aku terbunuh maka kedua pulau ini akan menyatu, bumi akan berguncangan keras dan air laut akan surut, maka surulah rakyatmu berlari ke gunung yang tinggi, karena sesudah itu akan datang ie beuna, itu adalah gelombang yang sangat besar yang akan menyapu daratan ini”, pesan sang Naga. Sultan Alam menitikkan air mata mendengar pesan dari naga sahabatnya,” Baiklah sahabatku, aku akan sampaikan pesanmu ini kepada rakyatku.

Maka pada waktu yang sudah di tentukan terjadilah pertarungan yang sengit antara naga Sabang dan kedua raksasa di tepi pantai. Sultan dan rakyat kedua kerajaan menyaksikan pertarungan seru tersebut dari kejauhan. Pada suatu kesempatan raksasa Selawah Inong berhasil menebas pedangnya ke leher sang naga. Kemudian raksasa seulawah Agam mengangkat tubuh naga itu dan berteriak,” Weehh!”, sambil melemparkan tubuh naga itu sejauh-jauhnya, maka tampaklah tubuh naga itu jatuh terbujur di laut lepas.

Sejenak semua orang terdiam, kemudia sultan Alam berteriak sambil melambaikan tangan ke tubuh naga yang terbujur jauh di tengah laut, ”Sabaaaaang!, Sabaaaang!, Sabaaang!” panggil Sultan Alam. “Wahai Sultan Alam, tidak usah kau panggil lagi naga itu!, dia sudah mati …..itu ulee leue”, teriak Sultan Daru dari seberang selat sambil menunjukan kearah kepala naga sabang yang tergeletak di pinggir pantai.

Tiba-tiba kedua pulau bergerak saling mendekat dan berbenturan sehingga terjadilah gempa yang sangat keras, tanah bergoyang kesana-kemari, tak ada yang mampu berdiri, kedua raksasa sakti jatuh terduduk di pantai. Tak lama setelah gempa berhenti kemudian air laut surut sehingga ikan-ikan bergeleparan di pantai. Sultan Daru dan rakyatnya bergembira ria melihat ikan-ikan yang bergeleparan mereka segera memungut ikan-ikan tersebut, sedangkan sultan Alam dan rakyatnya segera berlari menuju gunung yang tinggi sesuai pesan dari naga Sabang.

Tak lama kemudian datanglah gelombang yang sangat besar menyapu pulau Andalas. Sultan Daru dan rakyatnya yang sedang bergembira dihantam oleh gelombang besar itu, kedua raksasa sakti juga dihempas oleh gelombang besar sampai jauh kedaratan. Rumah-rumah hancur, hewan ternak mati bergelimpangan, sawah-sawah musnah, desa dan kota hancur berantakan. Sedangkan Sultan Alam dan rakyatnya menyaksikan kejadian mengerikan tersebut dari atas gunung yang tinggi.

Sejak saat itu pulau Andalas menyatu di bawah pimpinan sultan Alam yang adil dan bijaksana. Mereka membangun kembali desa-desa dan kota-kota yang hancur, kemudian Sultan Alam membangun sebuah kota kerajaan di dekat bekas kepala naga, kota itu di beri nama Koeta Radja dan pantai bekas kepala naga itu di sebut Ulee leue (kepala ular). Sedangkan tempat kedua raksasa sakti itu terkubur diberi nama Seulawah Agam dan Seulawah Inong. Sedangkan pulau yang tebentuk dari tubuh naga di sebut pulau Weh (menjauh) atau pulau Sabang.


Karya: Wildan Seni

HARIMAU MAKAN DURIAN

Desa Kemingking Dalam merupakan termasuk wilayah kecamatan Taman Rajo, kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Daerah ini terkenal dengan berbagai macam hasil bumi salah satunya adalah durian. Di desa Kemingking Dalam, musim durian biasanya tiba satu atau dua tahun sekali dengan hasil yang berlimpah. Durian dari daerah ini terkenal karena bentuknya yang tidak terlalu besar namun memiliki rasa khas yang manis dan legit. Setiap musim panen tiba, masyarakat desa Kemingking Dalam akan berbondong-bondong menunggui durian yang runtuh di kebun mereka masing-masing. Mereka menjaga kebun ini bersama keluarga mereka baik di waktu siang maupun malam. Tetapi, ketika musim panen hampir usai dan buah yang ada di pohon tinggal sedikit, masyarakat desa Kemingking Dalam tidak akan lagi menunggui kebun mereka di malam hari. Berkenaan dengan kebiasaan ini, terdapat sebuah cerita di dalamnya.

Pada suatu masa ketika desa Kemingking Dalam masih merupakan desa dengan pemerintahan tersendiri dan raja-rajanya masih berkuasa. Rakyat hidup berdampingan dalam kedamaian dan kesejahteraan berkat pemimpin yang bijaksana. Namun, tiba-tiba segala kemakmuran itu terganggu dengan hadirnya seekor harimau besar dari negeri seberang. Harimau ini buas, bengis, dan lapar. Ia tidak hanya menghabisi ternak warga masyarakat, tetapi lambat laun harimau ini mulai menyerang manusia. Membuat belasan orang meninggal sedangkan puluhan lainnya luka-luka dengan cacat pada tubuhnya.

Melihat hal ini, Raja yang berkuasa di saat itu tidak dapat tinggal diam. Ia kemudian memerintahkan salah seorang prajuritnya yang paling sakti untuk mengatasi krisis yang terjadi di kerajaannya. Prajurit ini dengan patuh pergi mencari harimau untuk mengusir atau membunuhnya. Ketika berhadapan dengan sang harimau prajurit ini langsung menyerang dengan segala daya upaya yang dimilikinya. Namun sang harimau yang sangat besar dan kuat dapat dengan mudah mematahkan pedang dan tombak senjata sang prajurit serta melukai prajurit hingga terluka parah.

Mengetahui kondisinya yang tidak lagi memungkinkannya untuk bertarung secara maksimal, sang prajurit kemudian melarikan diri dari sang harimau dengan segenap kesaktiannya yang tersisa ia dapat menghindari pengejaran si harimau selama beberapa musim. Hingga akhir tahun itu tiba, cidera yang diderita sang prajurit masih belum pulih sepenuhnya. Ia masih belum sanggup untuk melawan sang harimau yang terus mengejarnya seorang diri. Hingga ketika itu sampailah sang prajurit di sebuah daerah yang masih merupakan bagian dari wilayah Desa Kemingking Dalam sekarang ini yang dipenuhi aroma manis dan tanahnya dipenuhi buah yang penuh duri.

Di tempat ini sang prajurit tidak dapat lagi melarikan diri dan ia telah bertekad untuk melawan sang harimau apapun taruhannya. Ketika sang harimau mendapati sang prajurit tidak lagi melarikan diri ia pun menyerang sang prajurit tanpa ampun. Mereka kemudian bertarung dengan seluruh kemampuan mereka. Hingga kemudian sang prajurit menyadari kehadiran buah yang permukaannya dipenuhi duri itu. Ia kemudian menggunakan buah yang di masa kini dikenal dengan nama Durian sebagai senjatanya. Sang prajurit melempar harimau jahat itu dengan durian terus menerus hingga harimau itu terluka parah dan menyadari bahwa ia telah kalah.

Saat hendak menghabisi sang harimau, harimau pun meminta ampun atas semua kesalahan yang telah ia lakukan di masa lalu. Ia pun berjanji kepada sang prajurit untuk tidak lagi menyerang warga asalkan ia diperbolehkan untuk melahap sebagian dari buah yang penuh duri yang tumbuh di tanah mereka itu. Karena rasa kasihan dan iba serta karena melihat kesungguhan dari sang harimau, maka sang prajurit pun membiarkan harimau untuk terus hidup dengan syarat ia tidak akan mendapat ampun lagi apabila ia melanggar janjinya pada sang prajurit.

Maka setelah sekian lama dalam pelarian kembalilah sang prajurit dengan kemenangan di pihaknya. Ia pun melaporkan segala yang terjadi kepada Rajanya dan meneruskan sumpah sang harimau kepada seluruh masyarakat untuk dihormati dan dipatuhi. Hingga sekarang, sumpah sang harimau terus dijaga oleh masyarakat desa Kemingking Dalam. Sehingga meskipun hutan desa Kemingking Dalam termasuk dalam wilayah kekuasaan harimau, harimau-harimau ini tidak pernah menampakkan diri ataupun menyerang warga. Mereka hanya muncul di waktu malam ketika musim durian hampir usai untuk melahap buah-buah terakhir yang telah diperjanjikan untuknya.


Karya: Prawitri Thalib 

LEGENDA ALUE NAGA

Suatu hari Sultan Meurah mendapat khabar tentang keresahan rakyatnya di suatu tempat, lalu beliau mengunjungi tempat tersebut yaitu sebuah desa di pinggiran Kuta Raja untuk mengetahui lebih lanjut keluhan rakyatnya.

"Tuanku banyak ternak kami raib saat berada di bukit Lamyong," keluh seorang peternak. "Terkadang bukit itu menyebabkan gempa bumi sehingga sering terjadi longsor dan membahayakan orang yang kebetulan lewat dibawahnya," tambah yang lainnya. "Sejak kapan kejadian itu?" Tanya Sultan Meurah. "Sudah lama Tuanku, menjelang Ayahanda Tuanku mangkat," jelas yang lain.

Sesampai di istana Sultan memanggil sahabatnya Renggali, adik dari Raja Linge Mude. "Dari dulu aku heran dengan bukit di Lamnyong itu," kata Sultan Meurah. "Mengapa ada bukit memanjang disana padahal disekitarnya rawa-rawa yang selalu berair," sambung Sultan Meurah. "Menurut cerita orang tua, bukit itu tiba-tiba muncul pada suatu malam," jelas Renggali, "abang hamba, Raja Linge Mude, curiga akan bukit itu saat pertama sekali ke Kuta Raja, seolah-olah bukit itu mamanggilnya," tambahnya. "Cobalah engkau cari tahu ada apa sebenarnya dengan bukit itu!" Perintah Sultan.

Maka berangkatlah Renggali menuju bukit itu, dia menelusuri setiap jengkal dan sisi bukit tersebut, mulai dari pinggir laut di utara sampai ke kesisi selatan, "bukit yang aneh, "bisik Renggali dalam hati. Kemudian dia mendaki bagian yg lebih tinggi dan berdiri di atasnya, tiba-tiba dari bagian di bawah kakinya mengalir air yang hangat. Renggali kaget dan melompat kebawah sambil berguling. "Maafkan hamba putra Raja Linge!" Tiba-tiba bukit yang tadi di pinjaknya  bersuara. Renggali kaget dan segera bersiap-siap, "siapa engkau?" Teriaknya. Air yg mengalir semakin banyak dari bukit itu membasahi kakinya, "hamba naga sahabat ayahmu," terdengar jawaban dari bukit itu dikuti suara gemuruh.

Renggali sangat kaget dan di perhatikan dengan seksama bukit itu yang berbentuk kepala ular raksasa walaupun di penuhi semak belukar dan pepohonan. "Engkaukah itu? Lalu di mana ayahku? Tanya Renggali. Air yang mengalir semakin banyak dan menggenangi kaki Renggali. "Panggilah Sultan Alam, hamba akan buat pengakuan!" Isak bukit tersebut. Maka buru-buru Renggali pergi dari tempat aneh tersebut. Sampai di istana hari sudah gelap, Renggali menceritakan kejadian aneh tersebut kepada Sultan.

Itukah Naga Hijau yang menghilang bersama ayahmu?" Tanya Sultan Meurah penasaran. "Mengapa dia ingin menemui ayahku, apakah dia belum tahu Sultan sudah mangkat?"  tambah Sultan Meurah. Maka berangkatlah mereka berdua ke bukit itu, sesampai disana tiba-tiba bukit itu bergemuruh. "Mengapa Sultan Alam tidak datang?" Suara dari bukit. "Beliau sudah lama mangkat, sudah lama sekali, mengapa keadaanmu seperti ini Naga Hijau? Kami mengira engkau telah kembali ke negeri mu, lalu dimana Raja Linge?" Tanya Sultan Meurah. Bukit itu begemuruh keras sehingga membuat ketakutan orang-orang tinggal dekat bukit itu.

"Hukumlah hamba Sultan Meurah," pinta bukit itu. "Hamba sudah berkhianat, hamba pantas  dihukum," lanjutnya. "Hamba sudah mencuri dan menghabiskan kerbau putih hadiah dari Tuan Tapa untuk Sultan Alam yang diamanahkan kepada kami dan hamba sudah membunuh Raja Linge," jelasnya. Tubuh Renggali bergetar mendengar penjelasan Naga Hijau, "bagaimana bisa kamu membunuh sahabatmu sendiri?" Tanya Renggali.

"Awalnya hamba diperintah oleh Sultan Alam untuk mengantar hadiah berupa pedang kepada sahabat-sahabatnya, semua sudah sampai hingga tinggal 2 bilah pedang untuk Raja Linge dan Tuan Tapa, maka hamba mengunjungi Raja Linge terlebih dahulu, beliau juga berniat ke tempat Tuan Tapa untuk mengambil obat istrinya, sesampai di sana Tuan Tapa menitipkan 6 ekor kerbau putih untuk Sultan Alam, kerbaunya besar dan gemuk.

Karena ada amanah dari Tuan Tapa maka Raja Linge memutuskan ikut mengantarkan ke Kuta Raja, karena itu kami kembali ke Linge untuk mengantar obat istrinya. Namun di sepanjang jalan hamba tergiur ingin menyantap daging kerbau putih tersebut maka hamba mencuri 2  ekor kerbau tersebut dan hamba menyantapnya, Raja Linge panik dan mencari pencurinya lalu hamba memfitnah Kule si raja harimau sebagai pencurinya, lalu Raja Linge membunuhnya.

Dalam perjalanan dari Linge ke Kuta Raja kami beristirahat di tepi sungai Peusangan dan terbit lagi selera hamba untuk melahap kerbau yang lezat itu, lalu hamba mencuri 2 ekor lagi, Raja Linge marah besar lalu hamba memfitnah Buya si raja buaya sebagai pencurinya maka dibunuhlah buaya itu. Saat akan masuk Kuta Raja, Raja Linge membersihkan diri dan bersalin pakaian ditepi sungai, lalu hamba mencuri 2 ekor kerbau dan menyantapnya tetapi kali ini Raja Linge mengetahuinya lalu kami bertengkar dan berkelahi, Raja Linge memiliki kesempatan membunuh hamba tetapi dia tidak melakukannya sehingga hamba lah yang membunuhnya," cerita naga sambil berurai air mata.

"Maafkanlah hamba, hukumlah hamba!" terdengar isak tangis sang naga. Mengapa engkau terjebak disini?" Tanya Sultan Meurah. "Raja Linge menusukkan pedangnya ke  bagian tubuh hamba sehingga lumpuhlah tubuh hamba kemudian terjatuh dan menindihnya, sebuah pukulan Raja Linge ke tanah membuat tanah terbelah dan hamba tertimbun di sini bersamanya," jelas sang naga.

"Hamba menerima keadaan ini, biarlah hamba mati dan terkubur bersama sahabat hamba," pinta Naga Hijau. "Berilah dia hukuman Renggali, engkau dan abangmu lebih berhak menghukumnya," kata Sultan Meurah. "Ayah hamba tidak ingin membunuhnya, apalagi hamba, hamba akan membebaskannya," jawab Renggali. "Tidak! Hamba ingin di hukum sesuai dengan  perbuatan hamba," pinta Naga Hijau. "Kalau begitu bebaskanlah dia!" Perintah Sultan Meurah.

Maka berjalanlah mereka berdua mengelilingi tubuh naga untuk mencari pedang milik Raja Linge, setelah menemukannya, Renggali menarik dengan kuat dan terlepaslah pedang tersebut namun Naga Hijau tetap tidak mau bergerak. "Hukumlah hamba Sultan Meurah!" Pinta Naga Hijau. "Sudah cukup hukuman yang kamu terima dari Raja Linge, putranya sudah membebaskanmu, pergilah ke negerimu!" Perintah Sultan Meurah.

Sambil menangis naga tersebut menggeser tubuhnya dan perlahan menuju laut. Maka terbentuklah sebuah alur atau sungai kecil akibat pergerakan naga tersebut. Maka di kemudian hari daerah di pinggiran Kuta Raja itu disebut Alue Naga, disana terdapat sebuah sungai kecil yang disekitarnya di penuhi rawa-rawa yang selalu tergenang dari air mata penyesalan seekor naga yang telah mengkhianati sahabatnya.


Karya: Wildan Seni 

LELAKI TUA DAN HEWAN PELIHARAANNYA

Di sebuah perkampungan terpencil, di sebuah rumah bata model Victoria, beribu-ribu meter jaraknya dari Jam Besar yang berdiri di alun-alun pusat kota, hiduplah seekor kucing jantan yang gemar menikmati masa muda dengan bermain bola di pelataran rumah. Sebenarnya dia masih keturunan Persia. Itu terlihat dari bulu-bulunya yang panjang, hidungnya yang pesek, tulang pipi yang menonjol, matanya yang lebar dan bulat. Dikombinasikan dengan tubuh berwarna abu-abu polos, kucing itu terlihat sangat imut serta menggemaskan.

Majikannya adalah seorang lelaki tua berusia lima puluh tahun yang hidup sebatang kara. Untuk mengisi masa tuanya, setelah kematian istrinya setahun yang lalu, dia lebih senang menghabiskan waktunya itu dengan berpetualang di hutan. Bagi orang awam, mata pria itu terlihat sudah rapuh, tetapi sebenarnya masih sangat tajam untuk mengamati.

Sebelum dia berangkat ke hutan, seperti biasa, dia mematut diri di depan cermin terlebih dahulu, sambil mempelintir kumis tebalnya, dia mengenakan kemeja flanel lusuh lengan panjang yang dilipat selengan, topi hitam yang ditekuk ujungnya, dan sepatu boots yang terbuat dari kulit buaya. Senapan laras panjang tercantel di bahunya, tak ketinggalan juga sebuah pancing panjang sudah berada di genggaman tangan kirinya. Di kampungnya, memburu hewan di hutan bukanlah hal yang dilarang -kecuali memperjualbelikan elang langka, ah itu sangat dikecam oleh warga.

Kucing itu bernama Toby. Lelaki tua selalu mengelus badannya sebelum dia pergi meninggalkannya, kali ini sambil menyelipkan beberapa patah kata, “Jaga rumah, Toby, Akan kubawakan ikan yang besar kau nanti.”

Toby selalu bahagia melihat kepulangan majikannya, itu diungkapkannya dengan berlari ke taman depan begitu dia mendengar langkah kaki-kaki si tua. Bahkan ketika pria itu pulang dengan tidak membawa ikan pun, Toby tetap bahagia. Tetapi, lama-kelamaan, ada satu hal yang mulai melanda perasaan kucing itu: Kesepian. Sejak dilanda kesepian, dia jadi enggan untuk bermain bola di taman depan; dia berharap majikannya mengerti perasaannya, maka untuk mengungkapkannya dia memilih berdiam diri di dalam rumah sepanjang hari.

Seminggu kemudian, si majikan mulai dapat memahami apa yang dirasakan Toby. Berhari-hari dia pergi ke luar desa untuk mengunjungi sejumlah rumah temannya yang barangkali menjual seekor kucing. Seorang lelaki seumuran dengannya, Jim tua, yang dulu telah menjual Toby kepadanya, sudah tidak memiliki seeokor kucing lagi. Hasilnya pun sia-sia. Lelaki tua itu pun pulang dengan tangan hampa.

Keesokan hari, pada petang hari, Pak Morrison tua singgah ke rumahnya, setelah melakukan perjalanan panjang mencari anjingnya yang kabur. Kini anjingnya sudah berada di dekatnya lagi. Lelaki tua itu mengizinkan Morrison masuk ke rumah. Segera setelah selesai mempersiapkan sebuah kamar untuk Pak Morisson di lantai atas, dia mengizinkan tamunya untuk istirahat terlebih dahulu, lalu cepat-cepat dia turun ke bawah, mengambil Toby, dan membawanya serta ke hadapan anjing Golden Retriever yang diikat pada tiang di samping pintu halaman belakang. Tak ada sesuatu yang paling mengejutkan bagi lelaki itu selain mengetahui bahwa anjing itu tidak menyalak sama sekali.

Anjing itu tetap berebahan, dengan dagu menyentuh tanah. Suatu hal yang membuat Toby berani untuk duduk di sampingnya, dalam jarak aman, dan bukannya malah lari terbirit-birit.

Melihat Toby senang berada di dekatnya, kemudian lelaki tua meninggalkan mereka dan berjalan ke kamarnya di lantai bawah untuk berangkat tidur.

Keesokan harinya, ketika Morrison hendak berpamitan pulang, pemilik rumah cepat-cepat melontarkan pertanyaan. Dia bertanya apakah Pak Morrison menjual anjingnya. Mula-mula sang tamu dengan tegas menjawab tidak, tetapi setelah mendengar alasan-alasan yang diutarakan lelaki itu tentang keakraban sesaat Toby dan si anjing, dan bahwa kucing itu sangat membutuhkan seekor teman lantaran didera kesepian, si pemilik anjing segera mengiyakan dengan antusias karena heran mendengar keakraban mereka, mengingat banyaknya anjing-anjing yang dimilikinya. Maka, setelah terjadi transaksi jual-beli, dia lalu minta diri, mengayunkan kaki bersamaan dengan tongkatnya, meninggalkan rumah sahabatnya, dengan senang hati.

Anjing itu jantan, berwarna keemasan. Warnanya semakin tampak mengilap saat tubuhnya ditempa cahaya matahari—saat Toby dan anjing itu bermain bola bersama sang majikan di taman rerumputan halaman depan. Suatu ketika bola yang mereka mainkan jatuh di sungai kecil di samping halaman belakang; waktu itu bola yang dilemparkan oleh sang majikan jatuh dekat sungai, lalu, seperti lomba saja, mereka cepat-cepat berlari untuk mengambilnya. Tepat ketika si anjing berlari hendak mengginggit bola itu, tiba-tiba Toby makin menambah kecepatan larinya, dan secara tak sadar ia berhasil melewati musuhnya dari samping lalu, secara tak sadar pula, menendang bola itu hingga jatuh terbawa air. Laju sungai yang deras membuat bola terus meluncur. Sejak kejadian itu, si anjing jadi marah besar kepada Toby. Meski si lelaki tua telah membelikan bola baru untuk mereka, si anjing tetap marah pada Toby. Majikan itu hampir hafal aktivitas hewan peliharaan barunya, setiap hari anjing itu menghabiskan waktu sendirian di kandang belakang, ia tidur, lalu makan, berjalan mondar-mandir melihat sungai, dan mendekam kembali di kandang. Berbeda dengan rekannya, Toby justru menikmati hari-harinya dengan ceria; setiap pagi, setelah menghabiskan sarapan, ia bermain bola di halaman depan, sambil menjemur diri di bawah matahari. Ia lalu akan masuk rumah kembali tepat ketika matahari naik setinggi tombak. Dalam perjalanannya menuju kandang, kadang-kadang Toby sempat berhenti ketika tiba di depan sebuah pintu dapur yang berada di sudut. Seandainya seseorang berada di situ dan membuka pintu dapur itu, dia akan melihat keluasan taman belakang yang menghijau, berlatarkan sungai yang bergemericik airnya, juga sebuah jembatan kecil yang dibuat oleh pemilik rumah. Menyadari bahwa tak ada orang yang melakukan hal itu untuknya, maka ia segera meloncat ke meja dapur, lalu secepat kilat ia meloncat lagi ke atas sebuah almari. Ia menengok rekannya melalui kerangka angin-angin yang terpasang di dinding atas. Sebenarnya, jika dia ingin menengok anjing itu, dia bisa melakukannya secara langsung lewat samping kanan rumah, dengan memutar melewati jalan setapak di samping kanan rumah itu, lalu ia harus berhenti saat tiba di depan rerimbunan semak-semak. Tetapi, lantaran takut kepergok oleh si anjing, hal itu benar-benar tak pernah dilakukannya. Suatu ketika si majikan membawa pulang ikan banyak. Namun demikian, lantaran mengetahui anjing itu tetap marah kepadanya, maka dia lebih senang untuk memberikan kepada Toby, kemudian ikan yang tersisa diberikan untuk si anjing.

Di suatu senja yang cerah, saat burung-burung mulai pulang ke sarangnya, Toby duduk merenung di bawah sebuah pohon yang teduh di taman depan. Ia merenungkan masa depannya mengenai pertemanannya dengan si anjing; apakah ia akan terus-terusan seperti ini, tanpa komunikasi. Ketika ia hendak berjalan pergi ke dalam rumah, dari belakangnya, tiba-tiba muncul seekor ular berbisa yang panjangnya lebih dari satu meter. Mendengar suara gemerisik dari belakang, ia menengok dan, begitu mengetahui kehadiran seekor ular yang hendak memangsanya, berteriaklah kucing itu sekeras-kerasnya, hingga teriakan itu membuat si anjing yang sedang tidur seketika terbangun. Bingung, kaget, dan tak terbiasa menghadapi peristiwa seperti itu, kucing itu berlari tak keruan arah, ke sana ke mari, ke belakang mengelilingi kolam, lalu ke depan mengelilingi pohon, dan tetap diikuti oleh musuhnya -yang tak lain dan tak bukan merupakan seekor ular hitam mengilap yang semakin gesit mengejarnya. Si anjing tiba-tiba datang dan berlari lewat jalan setapak, lalu ia berhenti mendadak, seperti seekor kuda yang dikendalikan oleh koboi. Mengetahui bahwa ular tersebut tidak menyadari kehadirannya, dengan cepat si anjing berlari ke arah ular dan menerkam hewan melata tersebut tepat di kepalanya. Ia mencabik-cabik kepala ular itu hingga mati.

Ketika itulah lelaki tua pulang, sambil menenteng tas kresek hitam yang berisi banyak sekali ikan. Cepat-cepat dia bergegas ke belakang rumah, dan tak lama kemudian, dia sudah kembali lagi dengan menenteng sebuah jerigen kecil berisi minyak tanah. Dia lalu membuka tutupnya, menuangkannya ke tubuh si ular, dan segera menuntup kembali jerigen itu. Tangan kanannya yang kasar meraba saku celana, lalu mengeluarkan sebuah korek api. Dia mengambil satu batang, menggeretnya, dan menjatuhkannnya ke tubuh si ular. Mereka bertiga mundur sambil melihat api berkobar. Sejak kejadian itu, kedua hewan peliharaannya mulai terlihat rukun kembali. Keesokan harinya, juga di hari-hari berikutnya, lelaki tua dan hewan peliharaanya senantiasa terlihat bersemangat -lebih bersemangat- saat bermain bola kembali. Seandainya seseorang berada di situ, di halaman belakang, atau berdiri di jembatan kecil, niscaya, teman-teman, dia akan benar-benar melihat kebahagiaan itu.

Pesan Moral:

1. Tentang Keberuntungan: Kita harus membuang segala bentuk dendam, seperti Toby; belajarlah untuk mengembuskannya jauh-jauh lewat napasmu sebelum engkau tidur malam. Terkadang keberuntungan menghampiri mereka yang hidup dengan kelapangan, seperti Toby, ketika sang majikan membawa banyak sekali ikan, dia memilih untuk memberikan mereka kepada Toby, dan yang tersisa untuk si anjing yang tetap marah.

2. Tentang Persaudaraan: Lantaran beberapa alasan tertentu, atau kesalahan yang tak termaafkan, mungkin kita jadi sangat membenci saudara dekat kita. Tetapi ketika hidup mereka sedang dalam bahaya, seperti yang telah dialami Toby, kita harus segera menolong mereka, secepatnya, sebagaimana perilaku anjing tersebut.


Karya: Arif Syahertian

NENEK SUKARNI DAN PUTRI KERAJAAN

Pada suatu hari di sebuah desa, terdapat seseorang nenek yang sedang mencuci baju di pinggir sungai. Nenek tersebut bernama Sukarni. Sukarni bekerja sebagai petani ladang jagung dan singkong. Di siang yang terik, Sukarni sedang beristirahat di bawah pohon beringin. Tak lama kemudian ada seorang pemuda yang sedang membawa kotak yang cukup besar dan menghampiri nenek Sukarni.

“Nek.. Bolehkah saya meminta sedikit air?” Sang pemuda itu meminta air karena kehausan.

“Iya boleh.” Jawab Nenek Sukarni sembari memberi kendi yang berisi air.

“Apa yang kamu bawa itu?” Sang nenek mulai bertanya.

“Oh ini ada kotak Nek.” Jawab pemuda tersebut.

“Isinya apa?” Sang nenek bertanya kembali.

“Isinya ada sebuah bayi.. Nenek mau membelinya?” Sang pemuda menawarkan seorang bayi.

“Bayi? Apa jenis kelaminnya?” Nenek Sukarni bertanya lagi karena merasa heran.

“Perempuan Nek.” Jawab pemuda tersebut.

Karena sang nenek hidup sendirian selama bertahun tahun, ia pun membeli bayi tersebut.

“Oke saya ingin membeli bayi tersebut.”

Sang pemuda itu pun membuka kotak dan mengeluarkan bayi yang berada di dalam kotak tersebut.

“Nih Nek bayinya.” Ucap pemuda sambil memberi bayi.

Sang nenek pun merasa bahagia karena setelah lama ia tinggal sendirian, ia pun hidup bersama anak perempuan yang ia beli dari seseorang. Sang pemuda tersebut pun kembali melanjutkan pekerjaannya yaitu melaut. Nenek itu sangat menyayangi dan mencintai anaknya. Mereka pun hidup bersama. Anak perempuan itu tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik, baik, dan sopan. Kecantikan anak nenek Sukarni menjadi bahan pembicaraan warga sekitar. Dan lama kelamaan berita kecantikan anak Sukarni itu pun menyebar luas sampai raja yang berada di sekitar wilayah tersebut mengetahuinya dan ingin melihat langsung bagaimana wajah anak tersebut.

“Tolong panggilkan anak Sukarni ke sini bersama Ibunya.” Raja memerintahkan stafnya.

“Baik yang mulia.” Jawab staf kerajaan dengan tegas.

Tak lama kemudian staf kerajaan pun kembali lagi untuk memberitahu sang raja kalau mereka sudah dalam perjalanan.

“Yang mulia, Nenek Sukarni dan anaknya sudah dalam perjalanan.” Ucap staf kerajaan.

“Terima kasih.. Lanjutkan tugasmu.” Jawab raja.

“Baik yang mulia.” staf kerajaan pun pergi untuk memantau Sukarni dan anaknya.

Tak lama kemudian staf kerajaan pun kembali memberi laporan.

“Lapor yang mulia, Nenek Sukarni dan anaknya sudah di halaman utama.” Ucap staf kerajaan.

“Bawa mereka ke hadapanku.” Jawab sang raja.

“Baik yang mulia.” Jawab staf kerajaan.

Staf kerajaan pun membawa nenek Sukarni dan anaknya ke ruang singgasana.

“Sukarni.. Apa benar ini anakmu?” Tanya sang raja.

“Benar yang mulia.” Jawab nenek Sukarni.

“Oh.. Jadi ini gadis yang menjadi bahan pembicaraan orang-orang.” Ucap sang raja.

“Dari mana kau dapat anak ini? Bukankah suamimu sudah meninggal 30 tahun yang lalu?” Sang raja merasa heran.

“Sebenarnya anak ini aku beli dari seorang pemuda yang menawarkan bayi. Karena aku selalu hidup sendirian.. Aku pun membeli bayi tersebut karena aku ingin merasakan hidup bersama seseorang.” Jelas nenek Sukarni.

“Apa ini?!! kau dapat karena membeli dari seorang pemuda.. Itu sudah melanggar peraturan!!” Sang raja mulai marah.

“Maafkan aku yang mulia.” Nenek Sukarni meminta maaf.

“Yang mulia tolong maafkan Ibuku.” Anak nenek Sukarani memohon agar sang raja memaafkan ibunya.

“Diam kau!! Untuk hukumannya anak ini harus dihukum mati!!” Sang raja menjatuhkan hukuman untuk anak nenek Sukarni.

“Tolong jangan hukum mati anakku.” Nenek Sukarni memohon pada raja.

“Ayah, tolong jangan hukum mati dia.. Karena kelak dia akan menjadi istriku.” Ucap sang pangeran.

“Menjadi istrimu?!! Ayah tidak sudi jika perempuan ini menjadi bagian dari kerajaan!!” Jawab sang raja.

Tak lama kemudian anak nenek Sukarni itu pun dibawa ke halaman utama untuk dihukum mati.

“Pengawal!! Bawa anak Nenek Sukarni ke halaman utama untuk dihukum mati!!!” Sang raja memerintahkan pengawalnya.

Warga yang tahu bahwa gadis yang menjadi kembang desa akan dihukum mati, langsung pergi ke kerajaan untuk melihat eksekusi mati. Anak nenek Sukarni diikat di atas tiang setinggi 500 meter. Para eksekutor pun sudah siap dan pada hitungan ketiga, tali itu pun putus dan anak nenek Sukarni langsung jatuh. Dengan sigap sang pangeran langsung ke halaman utama kerajaan dan menangkap anak nenek Sukarni tersebut. Semua orang yang menyaksikan pun langsung terkejut termasuk raja dan nenek Sukarni. Sang pangeran pun merangkul anak nenek Sukarni ke dalam kerajaan. Ketika sedang merangkul, pangeran melihat seperti ada kotoran di lehernya. Pangeran pun membersihkan kotoran tersebut namun anehnya kotoran tersebut tidak bisa hilang. Ternyata kotoran itu adalah tanda lahir. Tanda lahir itu sama dengan anak raja yang menghilang 17 tahun lalu.

“Ayah coba lihat ini.. Ada tanda lahir di lehernya. Tanda lahir ini sama dengan adikku yang menghilang 17 tahun yang lalu.” Sang pangeran memberitahu sang raja.

“Apa? Tak mungkin.” Raja terkejut.

“Iya.. Benar Yah coba lihat.” Pangeran membuktikannya.

“Ternyata benar kau anakku.” Ucap sang raja.

“Aku? Aku anak raja?” Anak nenek Sukarni merasa tidak percaya.

“Iya.. Kamu adalah anakku yang hilang 17 tahun lalu.” Jelas sang raja.

“Nenek Sukarni, terima kasih telah merawat anakku. Mungkin tanpamu anakku tidak akan kembali.” Sang raja berterima kasih kepada nenek Sukarni.

“Sama-sama. Aku juga senang bisa merawat anak secantik dia.” Ucap nenek Sukarni.

Warga pun sangat senang atas kembalinya putri raja yang sudah lama hilang. Untuk merayakan kepulangan putri kerajaan, sang raja pun menggelar pesta dan karnaval selama 7 hari 7 malam.

TAMAT

PETERNAK DAN KUCINGNYA

Pada suatu masa, hiduplah seorang peternak kuda dari suatu kerajaan China. Ia menjalani kehidupan dalam kesendirian, kecuali dengan banyak sekali kuda-kuda sehat yang sangat subur, membuatnya memiliki banyak sekali kuda untuk dijual. Dari sanalah, ia dapat menjalani dan menafkahi hidupnya sendiri, yakni dari pundi-pundi emas dari setiap kuda yang ia jual. Selain kuda, peternak itu juga memelihara seekor kucing berbulu putih sempurna yang sangat cantik, bernama Mao.

Namun sayang, kehidupannya yang terlihat baik-baik saja, acap kali terusik oleh oknum prajurit-prajurit jahat yang sering meminta secara paksa kuda-kuda yang ia jual. Tentu saja, hal semacam ini tidak boleh dilakukan prajurit kerajaan manapun. Tapi, memang kelompok oknum prajurit ini sering kali bertindak seperti preman di belakang prajurit lainnya. Mereka meresahkan penduduk desa, namun tak ada yang berani melawan.

Padahal, si peternak tahu, jika saja Jendral atau petinggi kerajaan mengetahui hal ini, pasti prajurit-prajurit itu akan dihukum berat. Namun, seperti yang telah disinggung, ia memilih diam saja karena sering diancam oleh para prajurit.

“Jika kau katakan hal ini pada siapapun, kami takkan segan-segan menghancurkanmu dan segala ternakmu!” Kata salah satu prajurit, di suatu hari. Setelah si peternak mengancam untuk mengadu.

Karena hal ini, sang peternak tak berani mengadukannya. Ia pun hidup dalam bayang-bayang ketakutan pada para prajurit selama lebih dari dua tahun. Setiap hari, ia tetap memberi pakan pada kuda-kudanya, kadang menjual kudanya dengan harga selayak mungkin, tapi kadang ia harus rela memberi kudanya secara gratis. Semua itu ia lakukan karena dipaksa oleh para oknum prajurit.

Akan tetapi, pernah sewaktu-waktu si peternak melawan. Karena Mao peliharaannya ditendang oleh salah satu prajurit, ia hampir menyerang salah satu prajurit dengan garpu rumput. Ketika para prajurit memaksa peternak untuk memberikan kuda terbaiknya waktu itu, Mao langsung melompat dan mencakar tangan berotot salah satu prajurit, dan mendesis hebat.

Karena merasa terganggu, si prajurit lantas menendang si kucing begitu saja, dan membuat peternak marah. Ia mengambil garpu rumput, mengarahkannya pada salah satu prajurit, dan berteriak “Jangan sentuh kucingku!”

Tapi prajurit itu berhasil menghindar. Ketika itu terjadi, rombongan prajurit lain seakan gelisah. Mereka memandang keluar peternakan, dan salah satunya berkata “Ini bisa memancing keributan! Ayo pergi dari sini!”

Dan salah satunya berkata “Kami akan kembali lagi nanti!”

Mereka pun, dengan nampak penuh kekhawatiran, ke luar dari peternakan menuju kota. Mereka juga menundukkan kepala mereka, ketika melewati salah satu prajurit bertubuh sangat besar yang sedang berjaga di desa. Peternak berpikir, mereka sengaja menutupi wajah mereka agar prajurit berbadan besar tak mengenal mereka. Mungkin sebelumnya, mereka punya masalah atau semacamnya. Tapi peternak merasa lega, ia setidak—tidaknya belum harus memberikan kuda terbaiknya. Ia berharap dan berdoa, agar dapat menjual kuda terbaiknya secepat mungkin.

Ia sadar Mao menghilang. Setelah para prajurit tak terlihat lagi, ia mencari Mao kucingnya. Ternyata kucing berbulu putihnya itu berjalan ke luar. Peternak, dengan tenang dan penasaran, mengikuti Mao dengan kesunyian. Mao melompat tinggi pada sebuah tembok, dan peternak memanggilnya, tapi sang kucing tak bergeming.. Tembok itu tipis dan tinggi, Mao melompat melalui tumpukkan kotak bekas pakaian tak terpakai di depannya. Peternak memanggil lagi, tapi Mao tetap melanjutkan jalannya.

“Kemana Mao pergi?” Tanya peternak pada dirinya sendiri.

Karena penasaran, ia pun mengikuti Mao. Ternyata Mao tak hanya berjalan melewati tembok tipis dan rawan itu saja. Ia juga melakukan hal berbahaya lainnya, seperti berjalan tanpa takut di hadapan seekor anjing pemburu yang dirantai, melompati kubangan lumpur yang cukup luas baginya, bahkan memanjat sebuah pohon tinggi. Ia mengambil sesuatu di atas sana, dan ia menatap peternak dengan menggigit sebuah pesawat kertas. Dengan sedikit keraguan, ia melompat dari ketinggian. Mao hanya bermain dan mencakar kertas itu, dan ketika ia merasa bosan, ia meninggalkannya.

Peternak pun berpikir, dan berbicara pada dirinya lagi, “Bodohnya kucingku, melintasi jalan berbahaya hanya untuk kertas tak berharga.” Ia pun membawa kucingnya kembali ke rumah.

Kemunculan bulan menandakan malam. Peternak masih memikirkan kejadian tadi siang. Kejadian di mana kucingnya sudi melewati tembok tipis, berjalan di hadapan seekor anjing, melewati kubangan lumpur, dan melompat naik-turun pohon tinggi hanya untuk kertas tak berguna. Akan tetapi, semakin ia memikirkannya, sesuatu yang berbeda melintas di kepalanya. Di detik kemudian, ia baru tersadar, ternyata dirinyalah yang selama ini sangat bodoh. Mao kucingnya melewati perjalanan menyusahkan untuk secercah kertas tak berguna. Walaupun harus melewati rintangan dan keraguan, tetapi ia tetap melakukannya. Sedangkan dirinya, sebagai manusia, tak mau memerjuangkan hal yang penting untuknya sendiri, dan lebih memilih diam dalam rasa kepengecutannya.

Ketika pikiran itu melintas di kepalanya, peternak berdiri dari tidurnya, dan ia berjalan ke luar rumah. Ia ke luar desa dan seorang prajurit penjaga malam bertanya, “Apa yang kau lakukan malam-malam begini?”

“Aku ingin memerjuangkan hakku.” Kata peternak, lantang.

“Hak apa yang kau maksud?” Tanya prajurit.

“Aku, peternak miskin di desa, sering ditindas oleh oknum prajurit yang meminta kuda-kuda yang kujual secara paksa. Aku ingin mengadukannya pada Raja!”

Mendengar itu, wajah prajurit itu menjadi merah dan terlihat sangat marah. Untuk sesaat, peternak ketakutan dan berpikir prajurit itu salah satu dari mereka yang sering ‘merampok’ kudanya. Namun setelahnya, ia baru tersadar ternyata prajurit itu adalah Jendral terkenal kerajaan. Ia sempat tak mengenalinya karena gelapnya hari. Jendral itu bernama Zhang Fei, yang mempunyai kumis tipis di kedua atas bibirnya.

Jendral itu berteriak “Akan kubantu kau mengadukan semuanya pada Raja! Dan mereka akan mendapat balasan setimpal!”

Esok harinya, Raja dan Jendral mencari tahu siapa-siapa oknum prajurit yang dimaksud. Setelah terbukti bersalah, mereka dipecat dan dihukum berat oleh kerajaan. Namun peternak, yang merasa hukuman mereka terlalu berat, dengan rendah hatinya berkata, “Maaf yang mulia, jika anda tidak keberatan, bolehkah hukuman mereka diganti saja?”

“Apa usulmu?” Tanya Raja, tersenyum.

“Jika boleh, buat saja mereka bekerja di kerajaan sebagai pesuruh dengan bayaran yang disesuaikan.”

Raja yang seakan kecewa, berkata “Hatimu terlalu baik peternak, tapi karena aku sangat menyukai kebaikanmu, akan kuikuti saranmu.” Dan Raja berbicara lantang pada para prajurit, “Mulai sekarang! Dan untuk dosa dua tahun kalian! Kalian akan bekerja untuk membantu ternak peternak yang baik ini dengan kerajaan yang akan membayar kalian secukupnya.”

Semua setuju dalam pengampunan itu, air mata terima kasih dan penyesalan para prajurit tercucur deras. Mereka memeluk lutut peternak yang merasa tak enak.

Mulai hari itu, para oknum prajurit yang menyesal semenyesalnya, bekerja untuk peternakan si peternak. Membuat si peternak berhubungan jauh lebih baik dengan para mantan prajurit. Mereka hidup dalam keakraban, bekerja untuk membangun hubungan yang dulu rusak, dan juga sebuah peternakan kuda.

Dua tahun berselang, dan masa hukuman mereka selesai. Namun, para mantan prajurit memutuskan untuk tetap bekerja pada peternak. Mereka berjanji akan membuat peternakan menjadi besar dan terkenal, bahkan di seluruh penjuru negeri.


Karya: Jaka Ahmad

PUTRI DUYUNG YANG BERUBAH WUJUD

Putri duyung adalah cerita dongeng yang mempunyai beperapa versi. Suatu hari ada seorang ibu yang membuang anak perempuanya yang bernama arum, zaman itu masih zaman kuno. Bayi itu ditemukan oleh seorang penyihir jahat dan ia merubah bayi perempuan itu menjadi putri duyung

5 tahun kemudian arum menjadi anak anak, suatu hari ia dikasih kalung oleh penyihir jahat, suatu hari ia main bersama duyng duyung lain lalu tiba tiba ada 3 hiu yang kelaparan, hiu itu hampir memakan arum tapi tiba tiba kalung pemberian penyihir itu bersinar dan membuat ombak besar dan membuat hiu hiu itu langsung lari ketakutan

“Yee arum hebat arum hebat!!” kata si teman teman duyung arum

Zaman kuno mulai berakhir, ketika itu sudah tahun 1503 secara tidak sengaja ia bertemu dengan manusia yang tampan, ia adalah anak dari raja alexsander gheraha yang bernama jordan gheraha, putra ke-2 raja alexsander, lalu arum bertemu lagi dengan jordan tapi saat itu badai besar dan kapal tenggelam tapi jordan selamat lalu arum pergi agar identintas tidak diketahui oleh jordan

Suatu hari arum meminta kepada penyihir agar menjadikannya seorang manusia

“Kamu bisa menjadi manusia dengan satu syarat yaitu mengembalikan kalung pemberianku apakah kamu bersedia?” kata penyihir sambil tertawa kata arum “Iya aku bersedia” lalu arum menjadi manusia dan menuju ke kerajaan, lalu arum bertemu dengan pangeran jordan, langsung pangeran jatuh cinta dengan arum

“Maukah kau menjadi pendamping hidupku?” dengan malu malu arum mengatakan “Iya pangeran aku bersedia menjadi pendamping hidupmu” tapi ternyata pangeran jordan sudah dijodohkan dengan sinta alexsa dan satu bulan kemudian ada peperangan besar antara kerajaan alexsander gheraha melawan kerajaan selatan di situ arum tertembak dan mengetahui hal itu jordan lari dan memeluk arum “Aku cinta kamu arum” kata sih pangeran sambil menangis. Akhirnya pangeran jordan juga tertembak dan mati bersamaan, sejak hari itu kerajaan terus memperingati hari kematian arum dan pangeran jordan.

Tamat


Karya: Tegar Diar Rohman

KARENA ADA HIKMAHNYA

Aku terus menatap tajam jalanan yang semakin padat kendaraan. Terik matahari mulai membakar kulitku. Aku kepanasan, kelaparan dan kebingungan. Hendak kemana sebenarnya aku ini, aku pun tak tahu. Kakiku mulai berjalan langkah demi langkah tak tahu arah. Hingga sampailah aku di pertigaan jalan. Aku bingung, akan memilih jalan yang mana. Jika aku memilih jalan lurus maka aku akan bertemu pak polisi, jika aku memilih berbelok ke arah kanan maka aku akan bertemu tukang sapu jalanan, dan jika aku berbelok ke sebelah kiri maka aku akan bertemu pengemis.

Hatiku mulai bimbang, memilih jalan manakah yang harus kutempuh. Jalan yang kuharapkan dapat memberikan kehidupan baru bagiku. Beberapa saat aku termenung hingga seseorang menepuk pundakku, seraya berkata “Ukhti hendak kemana?”, aku pun langsung membalikkan badan.

“Anti siapa?” tanyaku penuh penasaran dan sambil terus memandang wajah yang tak asing bagiku.

Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi entah dimana.

“Ukhti, ana Nisa. Gadis yang pernah anti tolong waktu ana kecopetan ketika ana baru pertama kali datang ke kota ini. Ukhti yang memberi ana tumpangan tempat tinggal di rumah ukhti, ukhti yang memberi makan ukhti dan lain lain. Alhamdulillah sekarang ana sudah bekerja di PT. XXXXX. Ukhti sekarang hendak kemana?” Jelasnya yang mengingatkan aku akan kejadian kurang lebih 5 tahun lalu.

“Ana kehilangan pekerjaan ukhti, PT tempat ana bekerja bangkrut. Ana diPHK ukhti”. Jelasku padanya dengan mata yang mulai menitiskan air mata.

“Astagfirullah… Tafaddolly ukhti, naik ke mobil ana saja. Insya Allah ana akan bantu ukhti sebagai tanda balas jasa ana ke ukhti.” ungkapnya dengan mata yang mulai berbinar-binar.

Aku pun lekas masuk ke dalam mobilnya, kami berbincang-bincang panjang sekali. Sampai akhirnya ia mengabariku bahwa ada lowongan kerja di PT tempat ia bekerja. Alhamdulillah, setelah mengikuti berbagai test dan interview akhirnya aku keterima sebagai pegawai PT. XXXXX tersebut


Karya: Indri Wahyuniati

MISTERI DI AKHIR DESEMBER

Di tengah keramaian kota Jogja Jawa Tengah, sebuah mobil Avanza berwarna Silver melaju dengan kecepatan penuh menyalip mobil-mobil lain yang berlalu lalang di sekitarnya. Mobil itu tak lain adalah mobil yang ku kendarai bersama Tante Risti dan Nenek. Dengan tatapan kosong ku terawang keluar jendela melihat tetesan-tetesan air hujan yang mulai membasahi seluruh kota. Pagi ini suasana kota Jogja cukup ramai, akan tetapi dalam pandanganku suasana kota ini sangatlah sepi bak kota yang tak berpenghuni. Kini satu persatu semua kenangan masa lalu itu mulai berterbangan dan berputar-putar seperti komedi putar di kepalaku. Betapa dahulu sangat ku mencintai kota kelahiranku ini, kota dimana aku tumbuh besar bersama kedua orang tua yang sangat aku cintai. Namun kini semuanya tinggallah kenangan belaka, semua telah sirna seiring dengan berjalannya waktu dan bergantinya hari. Takdir telah merenggut kedua orangtuaku dengan begitu sangat cepatnya. Padahal aku masih sangat membutuhkan mereka dalam kehidupanku. Aku belum puas memeluk mereka, berkumpul bersama mereka, bercanda tawa, bahkan aku juga belum puas dimarahin mereka jika aku melakukan kesalahan. Tetapi mengapa takdir begitu kejam kepadaku?

Huuuft… pertanyaan itulah yang selalu ada dipikiranku dan sampai saat ini juga belum kudapatkan jawabannya.

Hujan semakin deras dan angin juga semakin berhembus kencang membelai cela-cela dedaunan yang kemudian menerpa ranting pohon yang tak berdosa. Berkali-kali ranting pohon itu diterpanya hingga pada akhirnya ranting itu pun jatuh lunglai tak berdaya ke tanah. Di saat itu pula aku tersadar bahwa aku melupakan satu hal yang mungkin adalah jawaban dari semua pertanyaanku selama ini. Perlahan lahan aku mulai mengingat kejadian pada malam itu, kejadian yang dimana sulit untuk bisa diterima oleh akal sehatku.

Kreeeeek…

Hembusan angin telah membuka pintu kamarku, dengan hati berdebar kucoba menoleh ke arah asal suara itu. Aku ternganga dan tercegang mendapati sesosok Makhluk menyeramkan menuju ke arahku, rambutnya panjang terurai, matanya putih polos tanpa pupil, raut wajah yang tak beraturan, kulit jemari-jemarinya kusut disertai kuku-kuku panjang bagaikan binatang buas. Bak tali tambang perlahan-lahan dia mulai mendekatiku dan semakin mendekat. Ingin ku menjerit dan berlari ke luar kamar, tapi Aku tak bisa!

Tubuhku bagaikan patung, terpaku! Apa yang terjadi denganku? Berkali-kali ku bertanya dalam hati. Entah bagaimana caranya tiba-tiba Makhluk itu sudah ada tepat di depanku. Tangannya mencengkram leherku, Aku tercekat tak bisa berucap. “Kenapa Aku begitu pasrah diperlakukan Makhluk ini sedemikian rupa? Bahkan mengeluarkan satu patah kata pun Aku tak mampu,” gerutuku dalam hati. Pintu kamarku terbuka lebih lebar lagi. Mama! Itu Mamaku bersandar di daun pintu dengan cemas.

“Chika, kamu kenapa sayang?” suara itu terdengar samar tapi lama-lama semakin jelas di telingaku. Perlahan ku membuka mata. “Mama…!!!” Teriakku kemudian memeluknya erat yang berada di sampingku sambil menangis terisak-isak.

“Ada apa sayang, kamu mimpi buruk lagi?” Tanya Mama, yang kemudian mengusap air mata di pipiku.

“He’em,” Aku mengangguk. “Aku mimpi buruk lagi dan kali ini mimpi itu seperti nyata,” Jelasku pada Mama, namun sepertinya Mama tak percaya dengan perkataanku.

“Sayang itu hanya mimpi, kamu tahu kan kalau mimpi itu hanyalah bunga tidur. Dia adalah hiasan yang mewarnai dunia tidur kita jadi semua tidak mungkin terjadi di kehidupan nyata. Udah sekarang kamu tidur lagi ya, ini masih larut,” pinta Mama.

Tapi, Aku memberontak “Tidak Ma, itu benar-benar nyata! Aku takut Ma, Aku takut, Makhluk itu…”

“udah-udah sayang,” sela Mama, “kamu kan sudah besar, kok masih penakut gitu. Mungkin tadi kamu lupa membaca do’a jadi kamu mimpi buruk. Sekarang kamu tidur ya, inget! Berdo’a dulu,” hibur Mama seraya tersenyum.

“Tidak Mau! Pokoknya Mama harus temenin Chika, Chika takut Ma,” rengekku kepada Mama. Ngotot!!

“Ya sudah Mama temenin, tapi kamu harus tidur lagi ya,” Mama mengalah. Setelah merasa sedikit tenang kucoba pejamkan mata dan berdo’a agar tidak bermimpi buruk lagi.

Kokok ayam telah membangunkanku, perlahan-lahan ku buka mata. Tapi apa yang kulihat! Wajah itu lagi. Makhluk berbaju putih kusam yang wajahnya tak beraturan, kali ini wajah itu berlumuran darah. Darah yang masih segar mulai mengalir membasahi wajahnya dan dia mulai mumbuka mulut dengan menampakkan taring tajamnya sambil berkali-kali meneteskan air liur bak binatang buas yang kelaparan dan ingin menerkam mangsa di depannya. Aaaaaaaa… Kuteriakkan suaraku sekuat tenaga. Tapi tak ada satu orang pun yang datang menolongku. Wajah itu dengan ganas mendekat kearahku. “Oh tidak, tidak, tidak…” kugeleng-gelengkan kepalaku. Dan…” Lho kok hilang? Kemana perginya Makhluk itu? Kenapa?” Perlahan ku buka mata, mimpi lagi?. “Huuhf…” Ku hembuskan nafas kelegaan. “Kenapa dia selalu menghantuiku? Apa salahku? Dan mau apa dia? Gerutuku dalam hati. Tak terasa keringat mengalir membasahi baju piyamaku. Aku beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk membasuh muka. Dan kemudian keluar menuruni tangga, langkah kakiku terhenti sebelum sampai di lantai bawah ketika tak sengaja ku dengar pecakapan antara Mama dan Papa.

“Pa, Mama kasihan sama Chika. Dia selalu dihantui Makhluk itu,” kata Mama.

“Iya Ma, Papa tahu tapi apa boleh buat ini semua sudah terlanjur,” Sahut Papa.

“Tidak Pa, ini semua belum terlanjur jika kita pergi dari rumah berhantu ini,” jelas Mama.

“Tapi Ma, itu semua tidak mungkin. Mama ingatkan bahwa Papa sudah berjanji dengan mendiang bapak, kalau kita akan menempati rumah ini sampai makhluk itu pergi dengan sendirinya.” Kata Papa dengan wajah sedih.

“Iya pa Mama mengerti akan semua itu, tapi sampai kapan hal seperti ini selalu terjadi pa?” Mama mulai emosi.

Papa hanya diam dan mulai angkat bicara. “Papa sendiri juga bingung Ma harus berbuat apa, jika kita semua pindah dari rumah ini aku khawatir akan ada suatu bahaya besar yang mengancam kita nanti. Yang pasti Papa tidak bisa meninggalkan rumah ini Ma!”

“Tapi kita tidak harus mempertaruhkan Chika juga kan pa? Jika hal ini terus terjadi Chika bisa despresi atau malah mungkin nyawanya bisa terancam. Apa Papa mau kehilangan anak kita satu-satunya?” Jawab Mama dengan nada marah dan mulai meneteskan air mata.

“Papa juga Tidak mau kalau hal itu sampai terjadi tapi kita harus bagaimana?” Papa mulai binggung. Mama dan Papa tak bersuara lagi, mereka diam dan menatap wajah satu sama lain. Beberapa menit kemudian akhirnya terdengar Papa mulai bicara lagi.

“Eh Ma, bagaimana kalau Chika kita pindahkan ke rumah Mbak Risti di Jakarta saja, disana juga kebetulan ada SMA yang cukup dekat, bukan?.” Usul Papa.

“Hmmm, ya Mama setuju. Mungkin itu lebih baik,” Mama sependapat.

Aku terkejut mendengar bahwa rumah ini berpenghuni. Jadi, ternyata semua mimpi itu benar-benar nyata. Akan tetapi Aku lebih terkejut lagi mendengar kesepakatan mereka yang akan memindahkanku ke Jakarta, kenapa semua ini bisa terjadi? Ini semua benar-benar sulit untuk dipercaya. Di satu sisi Aku lega tidak akan bermimpi buruk dan bertemu Makhluk itu lagi, tapi disisi lain Aku sangat sedih jika harus berpisah dengan kedua orangtuaku, Aku tidak tega meninggalkan mereka sendiri di rumah berhantu ini. Bagaimana kalau Makhluk itu berganti menghantui Papa Mama dan mungkin bisa mengancam nyawa mereka? aku takut mereka celaka hanya karena ingin melindungiku, sebenarnya apa yang diinginkan makhluk itu dariku? Ya Allah apa yang harus Aku lakukan, beri aku Petunjuk-Mu!

Lamunanku seketika buyar ketika kudengar suara Mama menyapaku.

“Sudah bangun sayang? Sekarang kamu turun terus kita sarapan bersama ya.”

“Iya Ma.” Kataku pura-pura tak mendengar percakapan mereka.

Kulangkahkan kaki menuruni tangga kembali menuju ke ruang makan. Aku duduk dan menatap wajah mereka dengan tatapan iba. Tak kusangka selama ini mereka telah menyembunyikan rahasia besar dariku. Akhirnya kulahap nasi goreng tanpa berselera, dalam keheningan Mama mulai bicara.

“Chika Mama dan Papa berencana memindahkan sekolahmu di Jakarta bersama Tante Risti, bagaimana menurutmu?” Suara Mama membuyarkan keheningan.

“Kok mendadak sih Ma, memang ada apa dengan sekolah Chika? Perasaan Chika Tidak pernah buat masalah dan nilai Chika juga baik-baik saja,” tanyaku sekedar basa-basi sok Tidak tahu!

“Oh, Tidak ada apa-apa dengan sekolahmu Chika. Tapi menurut Mama dan Papa sekolah di sana pasti lebih baik untuk meningkatkan prestasimu,” sahut Mama.

“Iya lagian rumahnya Tante Risti kan dekat dengan rumah Nenek, jadi kamu bisa berkunjung ke rumah Nenek kapan saja,” tambah papa mencoba menyakinkanku.

“Tapi Ma, Pa, bagaimana kalau Chika kangen dengan Kalian? Terus teman-teman Chika di sini juga, Chika Tidak bisa berpisah dengan mereka. Belum tentu juga Chika di Jakarta mendapatkan teman-teman seperti mereka bukan?” Bantahku pada mereka tak mau kalah.

“Chika sayang, ini semua kita lakukan demi kebaikanmu. toh kamu bukan mau pindah keluar negeri, tapi ke Jakarta dan Jakarta dengan Jogja tidak begitu jauh, jadi seandainya kamu kangen dengan Mama, Papa dan teman-teman kamu, kan bisa berkunjung kesini atau sebaliknya Iya kan Pa?” kata mama sambil menyenggol lengan papa.

“Oh, tentu saja. Pokoknya kamu tinggal telfon saja jika ingin bertemu dengan Papa dan Mama nanti secepetnya kami akan mengunjungimu disana,” imbuh papa.

Dengan berat hati Akupun mengalah, toh jika aku lanjutkan percakapan ini ujung-ujungnya aku juga yang kalah “Ya Ma, Pa terserah kalian saja. Jika menurut kalian ini yang terbaik buat Chika, Chika bisa berbuat apa?” Jawabku dengan nada datar.

Seusai sarapan Aku dan Mama membereskan baju dan perlengkapan sekolahku, Papa telah mengurus kepindahanku hari ini juga. Kata Papa lebih cepat itu lebih baik, seperti dihipnotis aku tak bisa menentang keputusan Papa itu.

“Chika jangan sedih gitu, Mama dan Papa melakukan ini demi masa depanmu sayang,” hibur Mama sembari memelukku.

“Chika ngerti Ma, tapi Chika Tidak tega ninggalin Mama dan Papa di sini sendiri,” jelasku pada Mama.

“Tenang saja ya sayang, Mama dan Papa di sini pasti baik-baik saja. Jadi kamu Tidak usah cemas memikirkan hal itu, kamu percaya pada Mama kan?” kata Mama menyakinkanku. Aku hanya bisa mengangguk dan mempererat pelukkanku, seakan aku tak ingin melepaskan pelukkan ini untuk selamanya.

Aku berangkat ke Jakarta sore itu juga, Papa dan Mama mengantarkanku menuju ke Stasiun. Ingin rasanya ku meneteskan air mata tapi Aku tidak ingin Papa dan Mama malah sedih melihat Aku menangis. Aku harus tegar ini semua demi kebaikkanku juga. Papa dan Mama memelukku erat seperti kita tidak akan pernah bertemu saja. Ternyata firasatku itu benar pelukkan itu adalah pelukkan dan pertemuan terakhirku dengan mereka. Karena selang beberapa bulan tinggal di Jakarta tepatnya tanggal 30 desember, Aku mendengar kabar bahwa Papa dan Mamaku meninggal dalam kecelakaan ketika akan menjemputku di Jakarta. Denyut nadi dan jantungku seakan terhenti mendengar berita tersebut, Aku tak sanggup menerima kenyataan bahwa kedua orang tuaku telah tiada. Itu pukulan terberat dalam hidupku karena di hari dan di tanggal itu juga Aku menginjak usia yang ke 17 tahun. Aku tidak menyangka di Sweet Seventeen ini Akan mendapatkan kado yang sangat menyedihkan yang tak pernah sedikit pun kubayangkan dan kuinginkan dalam hidupku.



“Chika, Chika, Chika…” Seseorang menepuk-nepuk punggungku pelan, Aku pun tersadar. “Iya, tante ada apa?” Jawabku dengan nada kaget.

“Kita sudah sampai, ayo kita turun,” ajak Tante Risti yang kemudian membuka pintu mobil dan beranjak turun. Aku melihat bendera kuning berkibar di depan rumah dan itu membuatku semakin terpukul. “Seharusnya hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidupku bukan hari yang menyedihkan,” gerutuku dalam hati. Aku tidak sanggup menerima ini semua ini pasti mimpi, mimpi, mimpi… kugeleng-gelengkan kepala kemudian menangis dan berlari menuju rumah. “Papa, Mama…” Teriakku.

Semua orang menatapku dengan tatapan iba, Tante Risti dan Nenek menyusulku, “Chika, kamu Tidak boleh begini sayang. Kamu harus ikhlas menerimanya, ini semua sudah kehendak yang Maha Kuasa.” Tante Risti mencoba menghiburku. Ku dekap jenazah Papa dan Mama bergantian. “Kenapa kalian begitu cepat meninggalkanku. Papa dan Mama tahukan ini hari ulang tahun yang Chika tunggu-tunggu,” Hiks hiks hiks… Kataku tersedu-sedu. “Kamu yang sabar ya sayang.” Kata Nenek sembari memelukku.

Hujan yang sedari pagi membasahi kota Jogja hingga senja tiba belum menampakkan akan mereda. Namun hal itu tidak menghalangi pemakaman Papa dan Mama. Angin sayup-sayup membelai rambutku, gerimis tak henti-hentinya menetes di wajah yang kemudian mengalir bersama air mataku. Upacara pemakaman usai, satu persatu orang yang berta’ziyah meninggalkan pemakaman. Di tempat yang sunyi dan sepi itu tinggallah Aku dan Nenek yang Masih terpaku menatap nisan Papa dan Mama secara bergantian.

“Nek, apa semua ini nyata? Apa benar Papa dan Mama telah pergi untuk selamanya?” Aku mulai angkat bicara.

“Chika, ini semua nyata sayang bukan mimpi, kamu harus bisa menerima ini semua dengan lapang dada. Mungkin ini ujian dari Yang Maha Kuasa buat kita semua,” tutur Nenek.

“Aku mengerti Nek, Aku sudah mencoba menerima semua ini. Tapi Aku merasa aneh, ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku Nek. Apa mungkin ini ada hubungannya dengan Makhluk penghuni rumah kami?” Tanyaku yang kemudian membuat Nenek tercegang.

“Chika, apakah kamu sudah tahu semuanya?” Kata Nenek terkejut.

“Tahu apa nek?” Tanya ku penasaran.

“Kurasa ini saatnya kamu tahu semuanya, dahulu kakek buyut kamu melakukan pesugihan untuk menjadi orang kaya, sebagai imbalannya dia harus memberikan 1 tumbal tiap tahunnya sebagai gantinya. Dan jika anak keturunannya juga igin menjadi kaya raya mereka harus melakukan hal yang serupa. Semua saudara kakekmu memilih untuk meneruskan pesugihan itu kecuali kakekmu. Namun semua itu tidak mengubah kenyataan bahwa Makhluk itu masih tetap menggangu rumah peninggalan kakek buyutmu yang diwariskan kepada kakekmu. Hingga pada suatu hari kami mengetahui bahwa jika ingin terlepas dari jeratan makhluk itu kami harus bersaing melawan makluk itu bertahan di rumah kakek buyutmu, akan tetapi sampai kakekmu meninggal makhluk itu masih tetap mengganggu kami. Dan sebelum kakek kamu menghembuskan nafasnya yang terakhir, dia memberi amanah kepada ayahmu untuk menggantikannya berjuang mengalahkan makhluk itu.” jelas Nenek dengan raut wajah penuh penyesalan. Belum sempat Aku berkata tiba-tiba angin datang bagaikan badai dari kutub utara, Makhluk itu…! Aku tersentak. Wajah yang penuh dendam menampakkan taring tajamnya beserta air liur yang menetes membasahi tanah pemakaman. Makhluk itu berjalan ke arah Nenek, Aku berusaha berteriak pada Nenek dan mengajaknya lari. Tapi semuanya terlambat, ku lihat Nenek sudah dicengkram oleh Makhluk itu, dia menggigit leher Nenek. Darah bercucuran bersama air hujan yang kemudian membasahi nisan Papa Mama. Aku harus bagaimana? Nenek sudah meninggal, dan sekarang Aku sendiri di sini, Aku tersesat, Oh tidak… Aku takut Ya Allah tolong Aku!! Makhluk itu Masih memburuku, dan apa? Makhluk itu tiba-tiba sudah berada tepat di belakangku. “Aaaa…lepaskan Aku! Lepaskan! Papa Mama tolong Aku… Tidaaak…!!!” teriakku histeris.

Nafasku terengah-engah, aku tak dapat bernafas secara beraturan ketika kubuka Mata dan menatap sekelilingku, “ini Kamarku? Iya benar ini kamarku!” kataku dalam hati.

Teng… teng… teng… Kudengar jam berdentang dan itu menunjukkan bahwa sekarang tepat pukul 12 Malam. Aku terkejut mendapati Papa, Mama dan teman-temanku telah berdiri di depan pintu kamarku dengan membawa kue ulang tahun dan beberapa kado untukku.

“HAPPY BIRTHDAY…!!!” Kata mereka sambil meniup trompet. hatiku lega bercampur gembira ternyata semua kejadian-kejadian itu mimpi? Huhhff… mungkin Aku terbawa imajinasi akibat menonton banyak flm Horor sore tadi. Dengan hati gembira kupeluk Papa dan Mama, mereka mengucapkan selamat ulang tahun dan memberikan kado untukku. “Selamat ya sayang, ini kado dari Mama dan Papa buat kamu semoga kamu suka.” Aku sungguh bahagia menerima kejutan di hari ulang tahunku ini. Tak lupa kupeluk juga teman-temanku dan serentak mereka berkata “SWEET SEVENTEEN… SEMOGA DI UMUR YANG KE 17 TAHUN INI KAMU TAMBAH DEWASA YA…!!!” Kami pun tertawa “Hahaha…”.


Karya: Nur Widayanti

CAMPUR ADUK

BAD NEWS BEARS

Malam hari, ya bulan bersinar dengan baik. Setelah nonton Tv yang acaranya menarik dan bagus...tema cinta di chenel MDTV, ya seperti biasa s...

CAMPUR ADUK