CAMPUR ADUK

Wednesday, June 23, 2021

TERLARANG

Dono duduk di ruang tamu, ya sedang baca buku dengan baik banget. Kasino dan Indro di ruang tengah sedang nonton Tv.

"Kasino," kata Indro.

"Apa?" kata Kasino.

"Aku masih penasaran," kata Indro.

"Penasaran apa?" kata Kasino.

"Tentang cewek. Ya cewek itu jujur apa tidak di dalam dirinya cantik ketika bercermin memandangin dirinya?" kata Indro.

"Di bilangin. Aku ini cowok tulen. Urusan itu aku tidak tahu lah!" kata Kasino.

"Gimana ya?!" kata Indro yang bingung.

"Saran aku ke Dono aja. Mungkin Dono tahu yang sebenarnya!" kata Kasino.

"Dono kan cowok juga. Pasti tidak tahulah," kata Indro.

"Kan Dono bisa mendengarkan suara Roh. Pastinya tahulah. Kemarin kan mungkin Dono lagi sibuk mengetik di leptop jadi tidak ingin mengasih tahu gitu," kata Kasino.

"Iya juga ya. Kalau begitu aku tanya Dono ah!" kata Indro.

Indro beranjak dari duduknya di ruang tengah ke ruang tamu. Kasino tetap santai nonton Tv di ruang tengah. Indro duduk di sebelah Dono.

"Dono," kata Indro.

"Apa?" kata Dono sambil menghentikan baca bukunya.

"Don. Aku ingin ingin tahu tentang cewek. Ya cewek itu jujur apa tidak di dalam dirinya cantik ketika bercermin memandangin dirinya," kata Indro.

"Ooooo kecantikkan di dalam dirinya cewek toh," kata Dono.

"Maksudnya itu Don...kecantikan di dalam dirinya cewek, ya jujur apa tidak tuh cewek kalau ketika bercermin gitu?" kata Indro.

"Gimana ya?!" kata Dono berpikir panjang.

"Pasti bilang tidak tahu. Sebenar tahu...cuma tidak ingin memberi tahu," kata Indro.

"Ya...gimana ya?!" kata Dono masih berpikir panjang.

"Kan Dono bisa mendengarkan suara Roh. Jadi bisa di beri tahu kebenarannya tentang jauh di dalam diri cewek itu cantik apa enggak?!" kata Indro.

"Memang aku bisa mendengar suara Roh. Sebenarnya sih. Lebih baik aku bilang tidak tahu. Jadi misteri lah," kata Dono.

"Kenapa Don?" kata Indro.

"Anggap saja.....terlarang gitu," kata Dono.

"Kata terlarang ini tidak boleh di bongkar toh," kata Indro.

"Emmmm," kata Dono.

"Ya sudahlah Don. Aku harus menghapuskan rasa penasaran aku!" kata Indro.

"Emmmm," kata Dono.

"Nonton Tv lagi!" kata Indro. 

"Iya," kata Dono.

Dono melanjutkan baca bukunya. Indro kembali ke ruang tengah untuk nonton Tv bersama Kasino.

"Gimana di kasih tahu Dono apa enggak?" kata Kasino.

"Terlarang kata Dono!" kata Indro.

"Ooooo terlarang toh. Aku mengerti. Tetap misteri," kata Kasino.

"Iya," kata Indro.

Indro dan Kasino, ya fokus nonton Tv yang acaranya bagus gitu. Dono tiba-tiba berhenti baca bukunya dan berkata "Kecantikan di dalam diri cewek itu tercermin dari budi pekerti yang baik yang di ajarkan orang tuanya. Lebih jauh lagi di dalam diri cewek itu tidak boleh di bicarakan.....terlarang."

Dono melanjutkan baca bukunya dengan baik banget.

CERMIN

Dono, Kasino dan Indro di ruang tengah sedang asik nonton Tv yang acara bagus banget gitu, ya musik gitu. Dono tetap mengetik di leptopnya, sambil melirik tontonan di Tv lah. Memang alunan musik yang bagus membuat suasana jadi senang keadaanya gitu. Paling penting sih penyanyi yang menyanyi di panggung pertunjukkan di Tv.........cantik dan ganteng gitu. 

"Don berhentilah mengetik!" kata Indro.

Dono berhenti mengetik di leptopnya.

"Lagi ada ide jadi di ketik dengan baik," kata Dono.

Dono melanjutkan mengetiknya.

"Biarkanlah Dono mengetiknya. Seperti biasa membuat cerita yang ini dan itu!" kata Kasino.

"Acara Tv lagi bagus baget gitu," kata Indro.

"Aku sambil nonton sih. Melirik gitu," saut Dono sambil mengetik gitu.

"Ya sudahlah aku serius nonton Tv-nya!" kata Indro.

"Emmmmm," kata Kasino.

Acara musik di Tv berlangsung dengan baik banget. Kasino dan Indro menonton acara Tv dengan baik banget gitu.

"Kasino," kata Indro.

"Apa?" kata Kasino.

"Cewek itu suka cowok jujur apa pembohong?" kata Indro.

"Cewek suka cowok yang jujur dan tidak suka cowok yang pembohong," kata Kasino.

"Gimana dengan tulisan Dono, ya mau jujur di tulisan bisa saja di bilang pembohong kan?!" kata Indro.

"Kalau itu tanya sama Dono. Kenapa ke aku?!" kata Kasino.

"Don....gimana omongan tadi. Denger nggak?!" Indro.

Dono berhenti mengetik di leptopnya.

"Aku denger omongan Indro. Sebenarnya tergantung dari pembaca yang menilainya. Aku mau di bilang jujur tidak masalah. Aku mau di bilang pembohong tidak masalah. Toh tujuan aku membuat cerita di Blog, ya hoby bercerita saja!" kata Dono.

"Kalau begitu sih...tergantung pembaca sih," kata Indro.

"Emmmmm," kata Kasino.

"Oooo iya Kasino. Cewek itu bisa saja berbohongkan dalam pernyataan cinta kepada cowok?" kata Indro.

"Itu sih bisa sih," kata Kasino.

"Di depan jujur di belakang bisa berbohong toh," kata Indro.

"Emmmmm," kata Kasino.

"Cewek itu sering bercermin kan?!" kata Indro.

"Iya lah untuk melihat kecantikan dari wajahnya itu," kata Kasino.

"Berarti. Cewek harus menilai dengan baik dirinya jujur apa tidak tentang kecantikan di dalam dirinya itu kan?!" kata Indro.

"Kalau itu  jawabannya tidak tahu. Aku bukan cewek. Aku cowok tulen!" kata Kasino.

"Dono juga cowok. Jadi jawabannya tidak tahu juga. Ya sudahlah...jawabannya penuh dengan tanda tanya besar banget," kata Indro.

"Fokus nonton Tv!" kata Kasino.

"Iya," kata Indro.

Indro dan Kasino, ya fokus nonton Tv yang acaranya bagus banget gitu. Dono masih sibuk mengetik di leptopnya, ya sambil melirik tontonan Tv yang acara bagus banget.

HADIAH ISTIMEWA

Nia teman baiknya Rara. Nia memang minjem buku cerita sama Rara, ya karena buku cerita yang di pinjem itu menarik dari judul cerita kemunginan isinya juga menarik. Nia penasaran dengan isi cerita buku yang ia pinjam dari Rara itu. Nia ingin membaca isi buku yang ia pinjam. Di kamarnya. Nia duduk dengan baik sambil memegang buku. Nia membuka bukunya dan segera membaca bukunya dengan baik juga.

Isi buku yang di baca Nia :

Zulaikha berlarian di sekitar tenda-tenda sukunya. Matahari bersinar terik sepanjang hari. Debu pasir yang beterbangan karena angin terasa pedih di mata. Namun semua itu tak sedikit pun mengurangi keceriaannya. Ia lalu masuk ke salah satu tenda yang paling besar. 

“Ayah!” serunya menghampiri seorang lelaki yang sedang duduk di atas permadani.

Zulaikha adalah putri Ali bin Ahmad. Pria itu pemimpin rombongan suku Arab Badui yang sedang menetap di dekat oase. Sudah beberapa bulan mereka bermukim di sana. Suku Arab Badui hidup berkelana di padang pasir. Mereka biasanya menggembala domba, kambing, dan unta. Domba dan kambing dipelihara untuk dijual. Sedangkan unta digunakan untuk berkendara dan mengangkut barang. Mereka tinggal di dalam tenda-tenda berwarna hitam. Tenda itu dibuat dari bulu kambing atau domba yang dipintal. Karena jarang bertemu orang di luar kelompoknya, suku Arab Badui senang bila bertemu dengan musafir. Mereka terkenal ramah kepada musafir yang melewati pemukimannya. 

“Ada apa, Putriku?” tanya Ali kepada Zulaikha. 

“Aku melihat seseorang akan melintas!” jawab Zulaikha antusias. 

“O ya? Mari kita lihat!” 

Ali berdiri dan mengenakan sorbannya. Tangan mungil Zulaikha menggandeng ayahnya keluar tenda.

“Lihat itu, Ayah!”

 Ali mengamati dari kejauhan. Ia melihat awan kekuningan bergerak dari arah utara. Putrinya benar. Awan yang mereka lihat sebenarnya hanyalah kumpulan debu pasir. Debu-debu itu yang bergerak naik karena tersaruk kaki manusia atau binatang yang berjalan. 

“Sepertinya tak lama lagi ia akan sampai ke sini,” ujar Ali. 

“Ayo, kita tunggu di dalam tenda saja!” lanjutnya sambil menggamit lengan Zulaikha. 

Putri kecilnya itu tampak girang sekali. Zulaikha memang senang bila bertemu dengan para musafir. Musafir terkadang singgah sejenak di pemukiman suku Arab Badui. Zulaikha pasti akan meminta mereka bercerita. Zulaikha paling sering bertanya tentang kota asal mereka. Juga kota-kota yang telah mereka singgahi. Bagi Zulaikha, cerita mereka ibarat dongeng yang indah. Ia belum pernah melihat kota dengan rumah-rumah besar dari batu, apalagi menemukan taman yang hijau, sungai yang berkilauan, dan laut biru yang dingin. Setiap hari, selama bertahun-tahun, yang dilihat Zulaikha hanyalah hamparan pasir dan oase kecil. Melalui mulut para musafir itulah, ia menemukan keasyikan yang baru. Ketika musafir itu semakin dekat, Ali memanggil pelayannya. Pelayan-pelayan itu datang dengan tergopoh-gopoh.

“Ada apa, Tuan?”

“Sebentar lagi ada musafir yang akan datang melewati pemukiman kita. Tolong sambut dia dan siapkan jamuan untuknya.” 

“Baik, Tuan.”

Salah seorang dari pelayan itu keluar. Zulaikha diam-diam mengikutinya dari belakang. Zulaikha melihat pelayan ayahnya menundukkan kepala. Ia memberi salam kepada seorang lelaki yang memegang tali kendali kuda. Lelaki itu membalas salamnya dengan menundukkan kepala juga.

“Masuklah, Tuan! Pemimpin rombongan kami ada di dalam. Anda bisa beristirahat dan bercakap-cakap dengannya,” ujar pelayan. 

Pelayan itu mengambil tali kendali kuda dan mengikatnya di dekat ternak mereka. Begitu lelaki musafir itu masuk ke dalam tenda, Ali bin Ahmad langsung menyambutnya dengan ramah. Ia mempersilakannya duduk. Zulaikha bergegas meloncat ke pangkuan ayahnya. Ia tak ingin melewatkan cerita yang dibawa oleh musafir itu. Di hadapan mereka sudah terhidang roti gandum dan susu kambing. Ada juga beberapa kerat daging manis untuk suguhan. 

“Terima kasih untuk sambutan terbaik Anda, Tuan. Saya Ammar, utusan dari Syekh bin Nadi,” ucap si musafir memperkenalkan dirinya.

“Dengan senang hati, Tuan. Sungguh kehormatan bagi kami utusan dari syekh besar bersedia singgah di tempat kami,” balas Ali bin Ahmad. 

Sudah lama ia mendengar nama besar Syekh bin Nadi yang terkenal akan kebaikan dan kesalehannya.

“Saya memang mendahului rombongan Syekh bin Nadi untuk menemui Anda. Syekh bin Nadi dalam perjalanan ke selatan dan bermaksud mengunjungi suku Anda.” 

“O ya? Berapa lama lagi beliau sampai di sini?” tanya Ali. 

Ia merasa senang memiliki kesempatan bertemu Syekh bin Nadi. 

“Kira-kira dua atau tiga hari lagi.” 

Zulaikha menyimak pembicaraan ayahnya dan utusan Syekh bin Nadi. Ia masih belum tahu siapa syekh yang dibicarakan ayahnya dan musafir itu. 

“Kalau begitu, istirahatlah Anda di tenda kami sambil menunggu rombongan tiba.”

“Terima kasih atas kebaikan Anda, Tuan Ali.” 

Utusan itu lalu diantar pelayan ke tenda lain yang biasa dipakai untuk para tamu. 

“Ayah, siapa Syekh bin Nadi?” tanya Zulaikha begitu ia tinggal berdua saja dengan ayahnya. 

“Dia syekh besar, Putriku. Syekh bin Nadi adalah bangsawan yang kaya raya, namun ia sangat dermawan. Ia juga seorang yang saleh. Ia sering pergi ke tempat-tempat yang jauh untuk mengajak orang berbuat baik. Semasa mudanya dulu, ia pernah menolong kakekmu saat akan dirampok. Kakek pernah bercerita pada Ayah. Karena itu, Ayah selalu mengingatnya. Ayah senang bila bisa bertemu dan mengucapkan terima kasih padanya,” jelas Ali bin Ahmad panjang lebar. 

Zulaikha mengangguk-angguk. Ia terkesan pada cerita ayahnya. Ia pun ingin bertemu dengan orang yang pernah menolong kakeknya dulu. Berita kedatangan Syekh bin Nadi segera menyebar. Sudah menjadi kebiasaan suku Arab Badui untuk mempersiapkan hadiah bila ada tamu penting datang berkunjung. Mereka ingin memberikan sambutan dan pelayanan terbaik. Peristiwa seperti ini sangat jarang terjadi. Semua orang sedang sibuk mempersiapkan hadiah masing-masing. Zulaikha juga sibuk. Ia sibuk memerhatikan hadiah apa yang akan diberikan orang-orang di sukunya kepada Syekh bin Nadi. Ia masuk ke setiap tenda dan menanyai setiap orang apa yang akan mereka hadiahkan. 

“Keluarga kami akan menghadiahkan terompah dari kulit domba. Ibuku sendiri yang menjahitnya,” ujar Hasan. 

Ia teman bermain Zulaikha. 

“Kau sendiri memberi hadiah apa?” tanya Zulaikha penasaran.

“Aku? Tentu saja terompah itu. Aku ikut membantu Ibu membuatnya,” kilah Hasan.

“Berarti itu bukan pemberianmu sendiri,” balas Zulaikha.

“Aku, kan, masih kecil,” ucap Hasan membela diri.

Ia lalu berlari meninggalkan Zulaikha dan masuk ke dalam tendanya. Zulaikha risau. Semua orang sudah memiliki hadiahnya masing-masing, tapi ia tak memiliki apa pun untuk diberikan pada Syekh bin Nadi. Ia tak mungkin memberikan boneka kainnya yang sudah lusuh karena terlalu sering digunakan bermain. Zulaikha menghampiri ibunya. Wanita itu juga sedang sibuk menyiapkan hadiah di tendanya.

“Ada apa, Sayang? Biasanya kau bermain sepanjang hari? Kenapa lesu begitu?” tanya sang ibu melihat anaknya yang tampak tidak bersemangat. 

Zulaikha melemparkan dirinya ke permadani. Ia duduk di antara kain-kain lembut yang bertumpuk-tumpuk. 

“Aku sedang bingung, Bu.”

“Apa yang membuatmu bingung?”

“Aku ingin memberi hadiah pada Syekh bin Nadi. Tapi aku tak punya sesuatu pun yang layak untuk kuhadiahkan. Lihatlah semua orang sibuk menyiapkan hadiah. Ibu juga.” 

Ibu Zulaikha tersenyum. Ia duduk mendekati putrinya. Ia tahu betul watak Zulaikha. Ia selalu ingin melibatkan diri dalam peristiwa apa pun. 

“Sayang, tak perlu bersedih seperti itu. Coba angkat wajahmu,” ucap sang ibu menghibur.

Ia memegang dagu Zulaikha dan menaikkannya ke atas. 

“Sekarang tersenyum. Ayo, tersenyum!” goda sang ibu.

Zulaikha bukan tersenyum malah meringis. Ibunya tertawa. 

“Dengarkan Ibu. Orang dewasa memang sedang sibuk mempersiapkan hadiah. Tapi anak-anak, tak harus memberi hadiah juga. Orang-orang tua mereka sudah mewakilinya. Kau mengerti?”

“Tapi aku ingin memberi hadiah sendiri, Bu. Aku tidak ingin diwakili.”

“Kalau begitu kau harus berusaha sendiri. Temukan apa yang ingin kau hadiahkan untuk Syekh bin Nadi. Lalu segera persiapkan.” 

“Nah, itu dia masalahnya. Dari tadi aku sudah berpikir dan mencari, tapi belum ketemu juga, Bu.”

“Ya sudah, tak perlu pusing. Kau bantu saja Ibu menyiapkan hadiah untuk Syekh bin Nadi. Sama saja kau ikut memberi hadiah, bukan?” ujar sang ibu berusaha menghibur. 

“Ah, Ibu. Bukan begitu maksudku,” ucap Zulaikha kesal. 

Ia benar-benar ingin memberi sebuah benda dari dirinya sendiri. Zulaikha berlari keluar dari tenda ibunya. Zulaikha pergi ke oase. Ada batu besar di pinggir telaga itu. Ia duduk di sana. Zulaikha menangis. Ia sangat sedih karena merasa tak memiliki sesuatu pun yang berharga untuk dihadiahkan. Tiba-tiba seseorang menepuk lembut bahu Zulaikha. Zulaikha menengok. Seorang lelaki berpakaian serba putih berdiri di hadapannya. Wajahnya bersih dan memancarkan sinar. Zulaikha menghapus air matanya. Ia tersenyum ramah pada Zulaikha.

“Tuan siapa? Saya belum pernah melihat Anda. Apakah Anda musafir?” tanya Zulaikha keheranan. 

Ia tak mengenali lelaki itu. 

“Aku Amin. Lalu, kau siapa, gadis kecil? Mengapa menangis?” lanjut lelaki bernama Amin itu balik menanyai Zulaikha. 

“Saya Zulaikha binti Ali bin Ahmad. Anda melihat saya menangis?” ujar Zulaikha tersipu. 

Zulaikha pun menceritakan sebab musabab dirinya menangis. 

“Oh, begitu ceritanya. Sekarang, jangan menangis lagi, ya. Kau pasti akan mendapatkan sesuatu untuk kau hadiahkan pada Syekh bin Nadi. Esok hari, datanglah lagi ke tempat ini. Tempat di mana air matamu berjatuhan di pasir. Kau akan menemukan hadiah itu.”

“Sungguh? Apa, ya, kira-kira?” Amin hanya tersenyum. 

“Apakah Anda yang menaruhnya agar saya bisa mengambilnya?” tanya Zulaikha lagi. 

“Lihat saja besok. Sekarang pulanglah! Hari hampir gelap,” jawab Amin.

 Zulaikha menurut. Ia berjalan pulang ke tenda sukunya. Zulaikha tak sabar menanti esok hari. Ia penasaran hadiah apa yang akan ia temukan. Zulaikha tak mau menceritakan kejadian tadi sore pada siapa pun. Ia tak ingin mendapatkan ejekan ketika ternyata besok tak ada hadiah apa pun yang ia temukan. Ia langsung masuk ke tendanya. 

“Zulaikha, ke mana saja kau? Ibu khawatir sekali. Hari sudah hampir gelap,” tanya sang ibu cemas.

“Zulaikha hanya duduk-duduk di dekat oase, Bu. Maafkan Zulaikha sudah membuat Ibu khawatir.” 

Ibu menarik Zulaikha dalam pelukannya.

“Apakah putri Ibu masih sedih?” Zulaikha menggeleng. 

Ibunya tersenyum lega. 

“Sekarang bersihkan badanmu. Sebentar lagi kita makan bersama.” 

“Baik, Bu.”

 Zulaikha lebih banyak diam saat makan malam bersama ayah dan ibunya. Padahal, biasanya ia banyak bicara. “Anak Ayah, kok, tak ada suaranya?” goda Ali bin Ahmad. 

Malam itu mereka makan roti gandum dan daging domba yang dibakar. Zulaikha tak bersemangat mengunyah makanannya. 

“Tak apa, Ayah,” jawab Zulaikha.

Gadis kecil itu terus memikirkan ucapan Tuan Amin yang tadi ia temui di oase. 

“Bagaimana dengan hadiahnya?” kini Ali bertanya pada istrinya. 

Zulaikha menegakkan telinganya. Ia pun ingin tahu. 

“Gulungan kain sutra untuk Syekh bin Nadi sudah siap, Ayah. Sudah kupastikan tidak ada yang cacat. Tadi sudah kubuka dan kugulung kembali.” 

Ali mengangguk puas. 

“Tadi putri kecil Ayah juga bilang ingin memberi hadiah,” lanjut sang ibu. 

“O ya? Apa yang ingin kau berikan untuk hadiah, Sayang?” tanya Ali. 

“Aku belum tahu, Ayah,” jawab Zulaikha, “tapi sepanjang malam ini aku akan berdoa supaya besok aku punya hadiah untuk Syekh bin Nadi.” 

Ali tertawa kecil mendengar celoteh anaknya itu.

“Ya, Sayang. Berdoalah. Ayah juga akan berdoa untukmu,” ujar Ali menyemangati Zulaikha.

Zulaikha tersenyum lalu menghambur ke pelukan ayahnya. Sang ibu senang melihat anaknya kembali seperti biasanya. Malam itu, Zulaikha berdoa sebelum berangkat tidur. Ia ingin tidur nyenyak dan segera mendapati hari sudah pagi. Tapi, tidurnya malah gelisah. Zulaikha terjaga sepanjang malam. Ia lalu berdoa lagi sampai kelelahan dan tertidur. Saat fajar menyingsing, Zulaikha terbangun. Tanpa cuci muka ia langsung berlari ke luar tenda. Suasana masih hening, tapi Zulaikha tak takut. Ia berlari menuju ke oase. Ia ingin mencari tahu hadiah yang dikatakan Tuan Amin. Zulaikha terhenti di bongkahan batu tempatnya duduk kemarin. Ia ingat betul tak ada sebatang pohon pun yang tumbuh di dekat batu itu. Namun, kini di hadapannya menjulang pohon tinggi. Batangnya lurus tanpa cabang. Di bagian atas pohon tersebut barulah tampak daun-daun yang menempel pada tangkai daun. Daun pohon itu panjang menyirip dan runcing di bagian ujung. Dari tangkai-tangkai daun muncul tandan-tandan buah yang menjulur. Buah-buahnya kecil berwarna kecoklatan. Zulaikha takjub. Inikah hadiah yang dikatakan Tuan Amin kemarin? Zulaikha segera kembali ke tenda dan mencari ayahnya. Ia ceritakan kejadian yang dialaminya kemarin sore. 

“Tapi di oase itu tak ada sebatang pun pohon besar, Zulaikha,” ujar Ali masih belum percaya.

“Zulaikha tak pernah berbohong. Ayah harus melihatnya sendiri biar Ayah percaya.”

“Baiklah, kita ke sana sekarang.” 

Ali berjalan di sisi putrinya. Tangan Zulaikha menyeret Ali untuk bergegas. Ia tak sabar menunjukkan pohon hadiahnya kepada sang ayah. Saat melihatnya sendiri, Ali hampir tak percaya. Kemarin ia sendiri yang menggiring domba-dombanya pulang setelah meminum air di oase. Ia belum melihat pohon itu. Mana ada pohon tumbuh besar dalam satu malam. Ali memanjat pohon itu dan memotong salah satu tandan buahnya. Setelah turun, ia lalu mencicipinya bersama Zulaikha. 

“Manis sekali rasanya. Semanis anak Ayah!” puji Ali. Zulaikha tersipu. 

“Sekarang Ayah percaya, kan?” Ali menggangguk.

“Seharusnya kita juga menyambut dan memberi Tuan Amin hadiah seperti Syekh bin Nadi,” gumam Zulaikha. 

“Tapi tak ada yang tahu ia mampir ke sini selain dirimu, Zulaikha. Ini berkah untukmu. Tuhan mengabulkan doamu. Kau mendapatkan hadiah istimewa untuk Syekh bin Nadi.” 

“Iya, Yah. Aku sangat gembira! Aku ingin berterima kasih pada Tuan Amin bila bertemu lagi dengannya.” 

Ali mengangguk.

“Ayo, kita bawa tandan buah ini untuk suguhan nanti!” Ali memanggul tandan buah yang ia potong kembali ke tendanya. 

Sore harinya, Syekh bin Nadi tiba di pemukiman Arab Badui. Ia disambut dengan sukacita. Satu per satu anggota suku Arab Badui menemuinya untuk menyerahkan hadiah. Ada perhiasan emas, sutra, pedang baja, dan masih banyak lagi. 

“Syekh, ini putri kecil saya, Zulaikha. Ia ingin memberikan hadiah untuk Anda,” ujar Ali. 

“O ya? Saya senang sekali. Terima kasih, gadis kecil yang baik.” 

Zulaikha tersenyum. 

“Mari, saya antar ke tempat hadiah itu berada,” lanjut Ali. 

Ia, Zulaikha, serta Syekh bin Nadi dan beberapa orang pengikutnya berjalan ke oase. Sambil berjalan, Ali meminta Zulaikha sendiri yang menceritakan tentang hadiahnya. Zulaikha mengisahkannya dengan antusias. Ketika sampai di oase, mereka mendekati pohon hadiah Zulaikha. 

“Ini dia hadiah untuk Anda, Syekh,” ujar Zulaikha polos. 

“Buah pohon ini sangat manis. Ayah telah memetiknya untuk Anda,” lanjut Zulaikha.

Syekh Bin Nadi tersenyum. 

“Ya, ini adalah hadiah paling berharga dari semua hadiah yang saya terima. Hadiah istimewa ini muncul dari keinginan dan ketulusan hati yang dalam. Terima kasih, Zulaikha,” ucap Syekh bin Nadi. 

“Saya akan menceritakan padamu tentang pohon ini. Kau ingin tahu?” tanya Syekh bin Nadi pada Zulaikha. Zulaikha langsung mengangguk mantap. 

“Ini adalah pohon kurma. Pohon yang sanggup tumbuh di gurun yang kering. Buahnya bisa dimakan. Daunnya bisa dijadikan atap atau diambil seratnya untuk dipintal. Tangkai daunnya dipakai untuk bahan bakar memasak. Pohonnya yang rimbun memberi naungan yang teduh. Dan kayunya bisa dipakai membuat perkakas.” 

Zulaikha terkesima mendengar penjelasan Syekh bin Nadi. 

“Lalu?” tanyanya. 

Syekh bin Nadi tertawa. 

“Kau suka mendengar cerita rupanya? Kalau begitu kita lanjutkan di tenda.”

Zulaikha sangat senang.  Mereka kembali ke tenda untuk makan dan beristirahat. 

“Apa lagi yang Anda tahu tentang pohon kurma, Syekh?” tanya Zulaikha tanpa malu-malu. 

Ia anak yang cerdas dan punya rasa ingin tahu yang besar. 

“Ada lagi yang istimewa dari pohon kurma. Saat ia tumbuh dari biji, yang ia tumbuhkan pertama kali bukanlah tunas daunnya. Biji kurma akan menumbuhkan akarnya dulu. Terus tumbuh ke bawah sampai menemukan sumber air. Setelah itu, baru ia tumbuhkan tunas daunnya. Itulah mengapa pohon kurma tidak tumbang meski diterjang badai di gurun. Akarnya kuat menancap ke bumi.”

Zulaikha mengangguk-angguk. Semakin kagum dengan pohon kurma yang istimewa.

“Begitu juga hidup, Zulaikha. Ketika kebaikan berakar kuat dalam hati manusia, maka ia tak akan goyah dengan godaan apa pun. Kelak, ketika kau dewasa. Kau pasti akan semakin mengerti. Teruslah menjadi anak yang baik, ya,” nasihat Syekh bin Nadi. 

Zulaikha tersenyum. Ia puas bisa memberikan hadiah untuk tamu besar ayahnya. Ia juga puas telah mendapatkan kisah pohon kurma yang istimewa.

***

 Nia menghentikan baca bukunya.

"Cerita yang bagus. Pinter yang membuatnya," pujian Nia.

Nia menutup buku tersebut dan di taruh buku di meja. Nia keluar dari kamarnya dan langsung ke dapur untuk membantu ibu yang sedang memasak di dapur gitu.

Tuesday, June 22, 2021

ABAL-ABAL

Kasino dan Indro di ruang tengah sedang nonton Tv. Acara Tv yang di tonton berita seputar ini dan itu, ya menarik di tonton gitu. Dono sedang asik baca buku di ruang tamu. Acara Tv memang masih memberitakan tentang covd-19 karena topik utama yang di beritakan karena program kerja pemerintah untuk menanggulangi penyakit  dan pemberian vaksin untuk meningkatkan kekebalan tubuh manusia dengan tujuan sih kesehatan rakyatnya di jamin dengan baik sama pemerintahan yang implementasi program kerjanya.

"Kasino," kata Indro.

"Apa?" kata Kasino.

"Berita utama tetap covid-19, ya?" kata Indro.

"Kenyataannya memang begitu," kata Kasino.

"Ooooo iya Kasino. Apa yang di tulis di Blog Dono sama saja.....abal-abal saja jika di nilai...kan?!" kata Indro.

"Kalau di nilai abal-abal sih tidak ada masalah Blog Dono. Cuma sekedar cerita doang. Beda dengan berita di Tv itu, ya di tulis juga di jaringan internet yang ini dan itu...lebih cenderung nilai ekonomisnya sih....uang. Penghargaan di nilai ekonomis dengan baik," kata Kasino.

"Manusia tetap di nilai dari nilai ekonomis. Uang menakar semua nilai suatu harga sebuah karya tulis di Blog dengan baik. Hidup jadi ironis banget," kata Indro.

"Kenyataannya memang begitu," kata Kasino.

"Tetap saja Dono telah puas membuktikan kebenaran ini dan itu," kata Indro.

"Kalau Dono telah puas dengan karya tulisnya di Blog. Berarti karyanya bernilai lebih tinggi dari apa pun. Karena ekonomis atau uang tidak di perhitungkan lagi," kata Kasino.

"Tetap saja hidup itu di jalanin dengan menggunakan uang," kata Indro.

"Kalau menjalankan kehidupan memang pake uang lah. Beli beras harus pake uang. Emangnya kita harus jadi pencuri demi mendapatkan beras...tujuannya agar tidak kelaparan gitu. Banyak wejangan orang tua dari statusnya Ulama sampai Presiden sekali pun harus mendapatkan jalan rezeki dengan jalan kebaikan gitu...halal," kata Kasino.

"Memang sih menjalankan kehidupan ini di suruhnya untuk mendapatkan rezeki dengan jalan yang baik...halal. Tetap susah juga kadang, ya karena berkompetisi dengan orang-orang yang mengejar kekayaan ini dan itu demi hidup jauh dari kemiskinan ini dan itu," kata Indro.

"Prinsip yang kita pake...kan sederhana. Agar tidak terlalu ngoyo banget untuk jadi kaya raya. Agar hidup jadi tenang. Sebagai teman kan, ya bisa di bilang saudara sih. Saling tolong menolog untuk meringankan beban hidup ini. Contohnya : Jika Dono dapet rezeki lebih di bagi ke kita kan. Begitu juga aku dan Indro, ya kalau dapet rezeki lebih di bagi ke Dono," kata Kasino.

"Saling melengkapi dalam kehidupan ini. Hidup jalannya jadi mudah," kata Indro.

"Hanya waktu saja yang akan memisahkan kita semuanya," kata Kasino.

"Maksudnya...kematian...kan Kasino?!" kata Indro.

"Kematianlah yang memisahkan dari jalan pertemanan atau saudara," kata Kasino.

"Ya Takdir kehidupan ini, ya di terima dengan baik," kata Indro.

"Emmm," kata Kasino.

Kasino dan Indro, ya fokus nonton Tv dengan baik karena acara memang bagus banget. Dono di ruang tamu masih asik baca bukunya.

Monday, June 21, 2021

KISAH SEPASANG PENDEKAR KEMAYORAN

Dono di ruang tamu mengambil buku di meja dan segera di baca judul buku "Kisah Sepasang Pendekar Kemayoran."

Dono membuka buku dengan baik dan segera membaca buku dengan baik.

Isi buku yang di baca Dono :

Pada zaman dahulu, ketika Jakarta masih bernama Batavia dan masih dijajah Belanda, terjadi sebuah perampokan di rumah Babah Yong. Babah Yong merupakan keturunan etnis Tionghoa yang sangat kaya raya di daerah Kemayoran. Peristiwa perampokan itu menyebabkan kegemparan bagi masyarakat Kemayoran. Peristiwa ini akhirnya ditangani oleh pihak yang berwajib.

Seorang lurah dan pemimpin Belanda saat itu, Tuan Ruys, menyelidiki kasus perampokan di rumah Babah Yong. Tuan Ruys yang menyimpan dendam terhadap anak muda yang berama Asni langsung beranggapan bahwa Asni lah dalang dari perampokan tersebut. Asni adalah pemuda gagah perkasa, dia adalah seorang pemuda Kemayoran yang berani terhadap Belanda. Sikapnya yang tegas dianggap sebagai pembangkangan kepada Belanda. Menurut Asni, Belanda adalah kaum penjajah yang mesti angkat kaki dari daerahnya. Sehingga, Asni tidak segan-segan untuk tidak bersikap hormat terhadap Belanda yang berada di kampungnya.

“Aku sudah tau siapa pelakunya, pelakunya adalah Asni. Tangkap Asni sekarang juga !” perintah Tuan Ruys.

“Baik Tuan Ruys,” jawab sang lurah.

Seketika, Asni pun ditangkap di rumahya. Asni sempat memberontak dan menepis bahwa dia bukanlah dalang dari perampokan tersebut.

“Saya bukanlah perampok di rumah Babah Yong. Malam itu saya hanya berada di rumah !” jawab Asni dengan tegas.

“Anda sebaiknya kami bawa ke kantor untuk menemui Tuan Ruys. Ayo cepat !” kata petugas kepolisian Belanda sambil menodongkan senjata dan memborgol kedua tangan Asni.

Akhirnya, Asni mengikuti perintah mereka untuk menemui Tuan Ruys di kantornya. Asni pun sudah mengetahui bahwa Tuan Ruys tidak menyukai keberadaannya di Kemayoran. Setelah sampai di kantor Tuan Ruys, Asni ditodong dengan berbagai pertanyaan, agar Asni harus mengakui perbuatannya. Namun Asni tetap menyanggah tuduhan-tuduhan itu. Dia tetap mengatakan bahwa dirinya berada di rumah dan banyak saksi yang melihat dirinya di rumah. Pernyataan tersebut membuat Tuan Ruys geram dan menyuruh petugas opas untuk menjebloskan Asni ke dalam penjara. Terlebih, ketika Asni sempat membantah dengan suara yang keras sambil memukul meja Tuan Ruys. Tuan Ruys sangat geram dengan sikap Asni. Perlawanan Asni tidak sendiri. Ternyata, di luar kantor, banyak masyarakat Kemayoran yang membantah tuduhan Tuan Ruys. Mereka berteriak untuk membebaskan pemuda yang bernama Asni.

“Bebaskan Asni sekarang juga....! bebaskan Asni sekarang juga ....!” mereka serempak berteriak di luar gedung.

Melihat kejadian tersebut, Tuan Ruys keluar dari kantornya. “Ada apa kalian ?” tanya Tuan Ruys.

“Tuan Ruys, kami mengetahui bahwa Asni bukanlah pelakunya. Tadi malam, kami melihat Asni berada di rumahnya,” jelas salah satu warga Kemayoran.

“Ahhhhhh tidak mungkin,” sergah Tuan Ruys.

Namun, massa yang datang pada saat itu cukup banyak dan selalu meneriakan kalimat “Bebaskan Asni....bebaskan Asni...pemuda yang tidak bersalah.” Hal tersebut membuat Tuan Ruys merasa malu hingga akhirnya menimbang keputusannya untuk tidak menjebloskan Asni ke dalam penjara. Terlebih, tuduhan tersebut tidak ada bukti sama sekali.

Tuan Ruys menyuruh opas untuk membuka borgol di tangan Asni, sebagai tanda bahwa Asni dibebaskan. Namun, kebencian Tuan Ruys semakin memuncak, dia menghampiri Asni dengan perlahan.

“Asni, kamu boleh bebas saat ini. Tapi kamu harus bisa memenuhi syarat yang saya ajukan !” jelas Tuan Ruys sambil menatap kedua bola mata Asni.

“Syarat apa Tuan ?” tanya Asni sambil menatap wajah Tuan Ruys.

“Kau harus menangkap siapa perampoknya ! Jika tidak, kau akan kujebloskan lagi ke penjara,” kata Tuan Ruys.

Asni menyanggupi, dia akhirnya dibebaskan. Meskipun kesal dengan sikap Tuan Ruys yang semena-mena memenjarakan dirinya, dia pun penasaran terhadap siapa yang melakukan perampokan di rumah Babah Yong.

“Saya harus mengetahui siapa yang melakukan perampokan tersebut. Jangan-jangan bukan orang kampung sini,” gumam Asni.

Keesokan harinya, Asni berniat ke Kampung Marunda. Dia berjalan kaki ke kampung tetangganya untuk mencari infomasi mengenai siapa pelaku perampokan di rumah Babah Yong. Kampung Marunda adalah kampung tetangga dari Kemayoran.

Ketika sampai di perbatasan antara Kampung Kemayoran dengan Kampung Marunda, Asni dihadang oleh sekelompok orang. Sekelompok orang tersebut berasal dari Kampung Marunda. Asni tidak melihat orang-orang tersebut, hingga akhirnya sekelompok orang dari Kampung Marunda merasa kesal dengan sikap Asni.

“Hei, berani-beraninya kamu masuk tanpa meminta izin dari kami !” kata salah seorang penjaga Kampung Marunda kepada Asni.

“Maaf Bang, saya tidak melihat abang-abang semua,” jawab Asni.

“Ahhhh alasan, kamu sebenarnya ingin menyepelekan kami kan ?” sanggah salah satu dari mereka.

Akibat kesalahpahaman itu, terjadilah perkelahian antara Asni dengan penjaga kampung sebelah. Mereka berjumlah 5 orang dan siap menyerang Asni secara membabi-buta. Namun Asni memiliki keahlian bela diri yang tinggi. Asni dapat menangkis serangan-seragan dari mereka, pukulan dan tendangan Asni dapat membuat mereka roboh tidak berdaya. Penjaga Kampung Marunda akhirnya lari tunggang langgang karena Asni dapat mengalahkan mereka.

Mereka akhirnya mengadu kepada Kang Bodong, Kang Bodong adalah pendekar tersohor dan dianggap senior di Kampung Marunda. Mendengar kejadian tersebut, Kang Bodong akhirnya mencari pemuda yang berusaha masuk ke kampungnya. Sang pemuda itu ditemukan Kang Bodong tidak jauh dari tempat kejadian perkelahian.

Tanpa pikir panjang, Kang Bodong menyerang pemuda yang bernama Asni itu. Pukulan serta tendangan yang dilancarkan Kang Bodong hanya ditangkis oleh Asni. Asni tau, Kang Bodong adalah pendekar sepuh yang harus dihormati, untuk itu Asni tidak melakukan pukulan dan serangan terhadap Kang Bodong.

Kang Bodong akhirnya berhenti untuk melakukan serangan karena dirinya kehabisan tenaga setelah menghadapi Asni. Akhirnya Asni angkat bicara bahwa dirinya bermaksud datang ke Kampung Marunda untuk mencari siapa perampok di rumah Babah Yong.

Sebelum Kang Bodong menanggapi pernyataan Asni, munculah serangan tiba-tiba dari seorang gadis. Sang gadis menyerang Asni dengan cukup lincah dan gerakan silat yang menipu. Asni lumayan kewalahan dengan serangan seorang gadis itu. Namun, akhirnya Asni dapat menguasai serangan dari gadis tersebut. Terlebih ketika baju sang gadis sempat tersangkut di dahan pohon, Asni pun menebas dahan pohon itu hingga tubuh sang gadis dapat ditangkap oleh Asni.


“Lepaskan saya.... !” perintah sang gadis kepada Asni.

Asni hanya terpaku melihat rupa si gadis “cantik juga nih,” gumam Asni.

“Apa..?” tanya sang gadis dengan raut merah padam.

“Eh... ngga,” Asni pun malu dengan ucapannya tadi. Dia mulai salah tingkah.

“Mirah.... Mirah....,” seru Kang Bodong sambil tertawa. “Ternyata ada seorang pemuda yang bisa menaklukan ilmu silat putri saya.”

Asni terkejut, ternyata gadis itu adalah putri dari Kang Bodong yang bernama Mirah. Mirah adalah seorang pendekar wanita yang memiliki ilmu silat yag cukup tinggi. Di Kampung Marunda, belum ada yang bisa mengalahkan kemampuan silat Mirah.

“Asni, kau berhak untuk menikahi anak gadisku,” kata Kang Bodong sambil tersenyum.

Asni pun tertunduk malu, dia rupanya menaruh hati kepada gadis yang baru saja ditemuinya, Mirah. “Kalau Mirah mau, saya setuju saja,” jawab Asni sambil tertunduk malu.

“Saya sudah berjanji, jika ada pemuda yang mampu mengalahkan silatnya, maka pemuda itu berhak untuk menikahi Mirah,” lanjut Kang Bodong.

Mirah yang cantik dan pemberani semakin tertunduk malu. Demikian pula dengan Asni, dia tidak menyangka bahwa akan menemukan jodohnya di Kampung Marunda. Padahal, tujuan utamanya yaitu mencari kawanan perampok yang mencuri di rumah Babah Yong.

Kang Bodong akhirnya mengajak Asni untuk menceritakan perihal perampokan di rumah Babah Yong. Konon, Babah Yong terkenal hingga di luar daerah kemayoran. Mendengar penjelasan dari Asni, Kang Bodong akhirnya yakin bahwa pelaku perampokan adalah Tirta. Sebab Tirta dikenal sebagai berandalan Marunda yang sudah sejak lama berniat merampok rumah Babah Yong.

Beberapa waktu kemudian, pernikahan Asni dengan Mirah dilangsungkan. Banyak tamu undangan berdatangan, termasuk Tuan Ruys, lurah, dan Babah Yong. Ternyata Tirta juga ikut dalam pesta hajatan pernikahan Asni dan Mirah. Tirta ternyata memiliki niat buruk. Dia akan membunuh Asni karena telah mengetahui bahwa pemuda tersebut akan menangkapnya untuk di bawa ke opas Kemayoran.

Gerak-gerik Tirta akhirnya diketahui oleh Kang Bodong. Kang Bodong terus memperhatikan apa yang dilakukan oleh Tirta. Dengan pelan, Tirta mempersiapkan sesuatu di balik saku bajunya. Kang Bodong yakin bahwa di balik saku baju Tirta adalah pistol. Dengan sigap, Kang Bodong menghentikan gerakan Tirta, tarik-menarik terjadi antara Kang Bodong dengan Tirta. Hingga akhirnya, pistol tersebut mengeluarkan peluru dan menghujani salah satu tubuh mereka.

Suara senjata api tersebut menimbulkan keributan. Para undangan saling berlari menyelamatkan diri. Mereka berteriak dan terkejut mendengarkan ledakan pistol. Tidak disangka, ternyata peluru bersarang di tubuh Tirta. Akhirnya Tirta dilarikan ke rumah sakit. Karena kehabisan darah, Tirta meninggal dunia di perjalanan.

Setelah kematian Tirta, warga Kemayoran merasa aman, karena tidak ada lagi gangguan seperti perampokan dan pencurian. Terlebih ketika Asni dan Mirah telah menikah, Asni membawa istrinya ke Kemayoran. Sehingga Kemayoran memiliki sepasang pendekar yang merupakan suami istri, yaitu Asni dan Mirah.

***

Dono berhenti baca bukunya.

"Cerita yang bagus. Pandai yang membuat ceritanya," kata Dono.

Dono membaca hikmah yang dapat diambil dari cerita tersebut  "Jadilah orang yang pemberani menegakan kebenaran, maka suasana aman dan damai akan tercipta." 

Dono menutup bukunya dengan baik dan di taruh di meja.

"Main game ah!" kata Dono.

Dono mau main game di Hp-nya, tapi teringat dengan sinetron tentang suami yang kecanduan main game terus sampai lupa urusan rumah tangganya. Dono berpikir dengan baik banget.

"Aku belum menikah. Jadi tidak ada masalah main game. Kalau sudah menikah, ya mungkin di kurangin atau aku tinggalkan main game. Tanggungjawab ku membimbing istri dan anak dengan baik banget, ya kewajiban sebagai pemimpin rumah tangga yang baik," kata Dono.

Dono memahami benar dirinya, ya main gamelah di Hp-nya. Sedangkan Kasino dan Indro sedang nonton Tv di ruang tengah karena acara Tv bagus banget. Acara Tv yang di tonton, ya berita ini dan itu sih. 

"Oooo hari ini ulang tahun kota Jakarta toh!" kata Indro.

"Berita memberitakan seperti itu sih," kata Kasino.

"Selamat ulang tahun kota Jakarta," kata Indro.

"Aku...ikutan juga. Selamat ulang tahun kota Jakarta," kata Kasino.

"Kita ini kan orang pendatang yang tinggal di kota Jakarta. Jadi kita menghormati daerah yang kita tinggalin ini," kata Indro.

"Emmmm," kata Kasino.

"Kalau kita pindah ke kota lain. Ya di hormati juga sih," kata Indro.

"Emmmm," kata Kasino.

Kasino dan Indro fokus nonton Tv, ya acara menarik banget untuk di tonton sih.

YONG TU DAN BENIH TANAMAN DARI RAJA

Indro telah menyelesaikan kerjaanya, ya keluar dari kamarnya ke ruang tengah Indro duduk di ruang tengah ingin menonton Tv. Saat ingin menghidupkan Tv pake remot dan remot ada di meja, ya Indro memang melihat buku di meja. Biasa sih bukunya Dono. Indro tertarik dengan judul buku tersebut " Yong Tu Dan Benih Tanaman Dari Raja." 

Indro mengambil buku tersebut. 

"Kalau dari nama tokohnya kayanya ceritanya asalnya dari Korea. Artis Indonesia yang asal dari Korea siapa ya?" kata Indro.

Indro membuka buku sambil mengingat nama artis Indonesia yang asalnya Korea.

"Ooooo iya aku ingat. Artis Indonesia yang asalnya Korea....Lee Jeong Hoon. Artis di Indonesia ini banyak banget sih, ya kadang lupa sih," kata Indro.

Indro mulai membaca buku itu dengan baik banget.

Isi buku yang di baca Indro :

Pada zaman dahulu kala, berdirilah sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja. Raja tersebut mengalami gundah gulana. Dimana dia tidak memiliki anak laki-laki. Semua anaknya adalah perempuan. Dia berniat ingin mengangkat seorang anak laki-laki. Namun, dia berharap, agar anak laki-laki tersebut memiliki kepribadian yang baik serta penuh dengan kejujuran.

Sang raja akhirnya bermusyawarah dengan para penasehat, apakah yang harus dia lakukan untuk mencari anak angkat yang berhati jujur. Para penasehat raja menganjurkan agar sang raja menyelenggarakan sayembara untuk memilih rakyatnya yang patut diangkat menjadi seorang anak laki-laki. 

 Akhirnya, sang raja pun menyelenggarakan sayembara untuk memilih putra angkatnya. Sayembara tersebut terbilang cukup unik. Sang raja memberikan benih tanaman untuk ditanam kepada anak-anak muda di negeri itu. Banyak para pemuda yang berdatangan ke istana untuk mengambil benih tanaman yang telah ditanam di dalam pot tersebut. Mereka berharap agar menjadi anak angkat sang raja.

Salah seorang pemuda desa yang berama Yong Tu, ikut mengikuti sayembara tersebut. Dia juga menerima benih tanaman yang telah di tanam ke dalam pot.

“Dengarlah wahai sekalian, saya mengharapkan kalian untuk memelihara benih tanaman tersebut sehingga menjadi tanaman yang tumbuh lebat dan bagus. Dengan waktu yang telah disesuaikan, kalian akan berkumpul kembali untuk menunjukkan hasil tanaman yang telah kalian rawat tersebut. Jika kalian sukses merawatnya, kalian akan aku jadikan anak angkat sebagai penggantiku nanti !” seru sang raja di hadapan para pemuda.

Yong Tu pun membawa pulang benih tanaman tersebut ke rumahnya. Dengan telaten, dia merawat benih tersebut untuk menjadi sebuah tanaman yang bagus dan indah. Namun, benih tersebut tidak kunjung tumbuh. Padahal dia telah merawat tanaman tersebut satu bulan lamanya.

Sang ibu yang melihat Yong Tu sedang kebingungan akhirnya menyarankan agar mengganti wadah benih tanaman tersebut.

“Yong Tu, cobalah ganti wadahnya dengan wadah yang lebih luas. Mungkin wadah tersebut terlalu kecil untuk tanaman itu,” saran sang ibu.

Yong Tu akhirnya mengikuti saran ibunya. Dia mengganti wadah atau pot tanaman tersebut dengan wadah yang lebih besar. Malangnya, tanaman tersebut belum juga tumbuh. Yong Tu merasa sedih dengan hasil tanaman yang dirawatnya. Dia merasa gagal untuk merawat tanaman tersebut. Namun dia menyadari, mau tidak mau dia harus lapang dada untuk menghadapi kenyataan bahwa benih tanamannya tidak tumbuh.

Beberapa hari kemudian, hari yang ditetapkan pun telah tiba. Yong Tu akhirnya berangkat menuju istana sang raja. Sebelum berangkat, Yong Tu berpamitan dengan ibunya.

“Ibu, aku berangkat dulu. Benih tanaman yang aku rawat memang tidak tumbuh, dan mau tidak mau aku harus membawanya ke hadapan raja,” kata Yong Tu sambil tertunduk sedih.

“Tidak apa-apa nak, yang penting kamu telah berusaha merawatnya,” kata ibu Yong Tu sambil tersenyum.

Yong Tu akhirnya pergi ke istana. Sesampainya di istana, dia menemukan betapa banyak pemuda sepantarannya membawa tanaman yang sangat subur dan indah. Beberapa dari mereka bahkan terlihat mengejek Yong Tu yang hanya membawa sebuah pot yang berisikan tanah tanpa ditumbuhi oleh tanaman.

“Hei Yong Tu, apa yang kamu bawa ? raja tidak akan senang dan bahkan tidak akan mengangkatmu menjadi anaknya,” kata salah seorang pemuda menyapa Yong Tu sambil tersenyum mengejek.

“Ha... ha ha, kamu bernasib sial Yong Tu. Dengarlah, raja pasti merasa jijik dengan hasil tanamanmu,” kata pemuda yang lainnya.

Para pemuda tersebut tertawa terpingkal-pingkal mengejek Yong Tu. Yong Tu hanya terdiam. Dia hanya mematuhi perintah sang raja, itu saja. Hingga tibalah saatnya para pemuda berkumpul dalam sebuah lapangan di dekat istana. Sang raja akhirnya datang, memeriksa satu demi satu tanaman para pemuda tersebut. Wajah raja tampak tidak senang, bahkan terlihat sedikit marah.

Di sudut barisan paling belakang, tampaklah Yong Tu yang berdiri sambil tertunduk sedih. Raja akhirnya melihat Yong Tu. Dengan langkah perlahan, sang raja berjalan menuju seorang pemuda yang bernama Yong Tu.

“Kenapa kamu sedih wahai anak muda ? mana tanamanmu ?” dengan tenang, sang raja bertanya kepada Yong Tu.

“Begini baginda, hamba telah merawat tanaman ini dengan sepenuh hati. Namun, tanaman ini tidak bisa tumbuh sesuai dengan yang dikehendaki. Hingga akhirnya saya membawa benih tanaman tersebut tanpa ditumbuhi oleh tanaman,” jawab Yong Tu.

Paduka raja tampak tersenyum. Wajahnya kembali berseri-seri. Dia menatap Yong Tu penuh dengan bangga.

Dengan lantang, sang raja berkata “Aku telah menemukan siapa yang akan menjadi anak angkatku !”

Yong Tu dan semua hadirin yang mendengarkan serempak terkejut. Mereka tidak menyangka raja akan mengatakan demikian.

“Maaf paduka yang mulia, mana mungkin engkau mengangkat seorang anak muda yang telah gagal merawat tanamannya, hingga tidak satu pun tanamannya tumbuh dalam pot itu,” kata salah seorang pemuda.

Sang raja yang mendengarkan kritikan pemuda tersebut tersenyum lalu berkata “Tahukah kalian ? bahwa biji tanaman yang aku berikan kepada kalian di dalam pot itu telah kurebus sebelumnya ?, biji tanaman tersebut tidak mungkin tumbuh. Anak muda ini telah teruji kejujurannya.”

Semua peserta sayembara akhirnya terkejut. Mereka tertunduk lesu mendengar penjelasan dari sang raja, kecuali seorang pemuda yang bernama Yong Tu. Mereka menyadari bahwa mereka telah melakukan perbuatan dusta demi memenangkan sayembara. Kebohongan mereka akhirnya terbongkar. Mereka telah menggantinya dengan tanaman lain demi memenangkan sayembara.

Yong Tu akhirnya diangkat menjadi anak angkat sang raja. Yong Tu adalah seorang anak yang jujur. Di istana, Yong Tu akhirnya dididik untuk mengasah kecakapan sebagai seorang pemimpin. Meski demikian, Yong Tu tetap menjadi pemuda yang jujur dan disenangi oleh semua kalangan.

***

Indro berhenti baca bukunya.

"Cerita bangus. Pinter yang membuatnya," kata Indro.

Indro membaca dengan baik hikmah dari cerita yang ia baca "Kejujuran akan mendatangkan keberuntungan, dan kebohongan akan mendatangkan malapetaka."

Indro memahaminya dengan baik dan buku di tutup dengan baik, ya di taruh ke meja tuh buku. Indro mengambil remot di meja dan menghidupkan Tv. Dengan remot memilih chenel Tv yang acaranya menarik. Indro memilih chenel Tv yang menayangkan Drama Korea. Dengan santai Indro menonton Drama Korea yang bagus banget gitu. Kasino masih sibuk di kamarnya, ya urusan kerjaannya...pembukuan. Dono di dalam kamarnya, ya sedang mengetik di leptopnya dengan baik banget. 

KISAH SERIBU SATU MALAM

Selfi teringat dengan buku yang ia pinjem buku sama Rara, ya buku cerita gitu karena Selfi tertarik dengan judul cerita dan juga isinya juga. Selfi duduk di ruang tamu mau membaca buku dengan baik.

Isinya buku yang di baca Selfi :

Sudah cukup lama penduduk kerajaan hidup dalam kecemasan. Setiap malam para orang tua yang memiliki anak perempuan menangis. Semua ini karena ulah sultan mereka, Sultan Syahriar. Dahulu Sultan Syahriar sangat dihormati dan dicintai rakyatnya. Namun kini Sultan telah berubah menjadi seorang yang kejam dan berhati dingin. Setiap hari ia menikahi seorang gadis. Keesokan harinya ia mengirim gadis itu kepada algojo istana untuk diakhiri hidupnya. Tindakan Sultan menjadi teror bagi penduduk kerajaan. Perangai Sultan Syahriar berubah sejak istrinya berkhianat, padahal Sultan sangat mencintainya. Sultan bahkan menghujani istrinya dengan kemewahan. 

Setiap keinginannya dituruti dan semua kebutuhannya tak satu pun terlewatkan. Namun ternyata sang istri terlalu tamak. Semua kebaikan yang diberikan Sultan tak cukup baginya. Ia hendak membunuh Sultan dan merebut tahta kerajaan. Beruntung sebelum semua itu terjadi, Sultan mengetahuinya. Sultan menjadi kecewa. Ia kehilangan kepercayaan kepada wanita. Ia menganggap semua wanita culas seperti istrinya yang terdahulu. Karena itulah Sultan akhirnya menikahi para gadis hanya untuk satu malam saja. 

Perdana menteri dan para penasihat kerajaan sudah berusaha menasihati Sultan. Tapi tak satu pun dari mereka yang di dengar. Sultan tetap pada keputusannya. Bahkan ia tak segan mengirim algojo kepada siapa pun yang berani menentangnya. Akhirnya semua memilih diam. Perdana menteri menjadi orang yang paling bersedih. Di satu sisi ia tidak setuju dengan perbuatan Sultan, namun Sultan justru menugaskannya untuk mencari gadis yang akan dijadikan pengantin satu malam. Apalagi ia juga mempunyai anak perempuan. Ia bisa merasakan kesedihan para ayah yang kehilangan putrinya. Juga kecemasan para ibu akan nasib anak gadisnya. 

“Ayah, apa tidak ada cara untuk menghentikan tindakan Sultan?” tanya Sarah, anak tertua perdana menteri. 

Perdana menteri menggeleng lesu. 

“Bagaimana bila semua gadis di kerajaan ini telah habis di tangan algojo Sultan? Bagaimana bila yang tersisa hanya aku dan Dinar? Ayah juga akan mengirim kami kepada maut?”

Sarah terus mendesak ayahnya.

“Bagaimana mungkin seorang ayah rela kehilangan anaknya?” jawab Perdana Menteri balik bertanya.

“Ayah tetap sebagai perdana menteri atau pun tidak, tak akan bisa mengubah takdir bila memang kalian harus berhadapan dengan maut,” lanjutnya sedih. 

Sarah terus berpikir. Ia ingin menyelamatkan para gadis dari kekejaman Sultan. Ia tidak ingin mati konyol seperti gadis-gadis yang lain. Namun, ia tak mau melarikan diri dari tanah kelahiran yang dicintainya. Apalagi bila harus meninggalkan ayah dan keluarganya. Sarah memang gadis yang cerdas dan pemberani. Perdana menteri telah mengirimnya untuk belajar berbagai bidang ilmu. Sarah pernah belajar ilmu filsafat, sejarah, seni, bahkan kedokteran. Karena itu, pengetahuannya sangat luas. 

Perdana menteri sangat menyayanginya. Sedangkan adiknya, Dinar, seorang gadis pemalu yang cantik jelita. Tak seperti kakaknya yang selalu haus ilmu, ia lebih suka di rumah. Ia pandai menenun dan memasak. Selama ini, dialah yang menyiapkan semua keperluan ayah dan kakaknya. Kedua putri perdana menteri memang istimewa. Karena itu, perdana menteri tak mungkin sanggup kehilangan mereka. Setiap hari wajahnya diliputi kecemasan. Ia tak lagi tampak gagah karena menanggung beban berat dari Sultan. Ia merasa bersalah pada para penduduk kerajaan. Namun, ia pun harus mematuhi perintah Sultan bila ingin tetap hidup. Sarah sangat prihatin dengan keadaan ini.

“Ayah, saya ingin meminta sesuatu dari Ayah. Apakah Ayah mau memberikannya untuk saya?” tanya Sarah pada suatu hari.

“Jika Ayah bisa, tentu akan Ayah penuhi. Apa yang kau minta, Sarah?” 

“Aku bertekad untuk menghentikan tindakan Sultan yang meresahkan rakyat. Aku ingin membebaskan para ibu dan para gadis dari kecemasan akan nasib mereka.” 

“Bila kau bisa melakukannya, hal itu sangat baik, Sayang. Tapi bagaimana caramu melakukannya?” tanya perdana menteri pada putrinya itu. 

“Setiap hari Ayahlah yang harus menyediakan gadis untuk dinikahi Sultan. Karena itu, kumohon kerelaanmu, ajukanlah diri saya kepada Sultan.” 

Perdana menteri terkejut. Ia langsung naik pitam mendengar permintaan Sarah. Ia berdiri dari kursinya.

 “Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu?” teriaknya pada Sarah.

 “Apa yang telah membuatmu berpikir seperti itu, Sarah? Kau tahu apa yang akan terjadi padamu bila kau menjadi pengantin Sultan?” ucap perdana menteri penuh emosi.

“Saya tahu risikonya, Yah. Saya tidak takut dengan kematian. Setiap orang pasti akan mati entah dengan cara apa. Bila memang saya gagal dan harus mati, paling tidak saya telah mencoba melakukan hal yang mulia. Bila saya berhasil, saya telah memberikan pengabdian besar untuk kerajaan ini.” Sarah menjelaskan dengan penuh keyakinan.

“Ayah tetap tidak setuju. Bagaimana mungkin seorang ayah mengirim putrinya sendiri ke algojo yang kejam. Apa yang kau lakukan tak akan ada gunanya.” 

Perdana menteri tetap keberatan dengan permintaan Sarah. 

“Kalau kau tidak takut pada kematian, cobalah khawatirkan Ayah. Tindakan bodohmu akan membuat Ayah sedih dan menderita sepanjang hidup Ayah. Mengertilah, Sarah,” lanjut perdana menteri lalu pergi meninggalkan Sarah. 

Dinar yang mendengar percakapan ayah dan kakaknya datang mendekat. Sama seperti ayahnya, wajahnya pun tampak cemas. 

“Kak, apa Kakak yakin dengan tindakan Kakak? Jangan mengorbankan dirimu untuk hal yang sia-sia, Kak,” ujar Dinar berusaha menasihati kakaknya.

“Semua kulakukan bukan tanpa perhitungan, Dinar.” 

“Kalau memang Kakak punya cara untuk menghentikan Sultan, apakah tidak bisa Kakak lakukan tanpa menjadi pengantin Sultan?” tanya Dinar lagi. 

Sarah menggeleng. 

“Tak bisa, Dinar. Sultan tak lagi mau mendengar nasihat siapa pun. Bahkan nasihat Ayah sebagai perdana menterinya, juga nasihat para sesepuh kerajaan tidak ada yang dihiraukan. Harus dengan cara lain untuk menasihati dan menyadarkan Sultan.” 

“Tapi Ayah tak setuju dengan caramu. Lalu bagaimana?”

“Aku akan tetap berusaha menjadi pengantin Sultan. Kalau Ayah tak bersedia mengajukan diriku, aku akan menghadap Sultan sendiri.” 

Tekad Sarah rupanya sudah bulat. 

“Tapi, saat aku menjalankan rencanaku ini, aku butuh bantuanmu. Kau mau membantuku?” lanjut Sarah. 

“Apa yang harus kulakukan, Kak?”

“Nanti akan kuberi tahu bila saatnya tiba.” 

Sarah masih berusaha membujuk ayahnya sebelum memutuskan menghadap Sultan sendiri. Ia terus meyakinkan ayahnya bahwa upayanya akan berhasil. Sarah terus mendesak perdana menteri.

“Kenapa kau begitu keras kepala, Sarah?” ujar perdana menteri putus asa. 

Kemauan Sarah tak bisa ia halangi lagi.

“Maafkan Sarah, Ayah. Semua ini demi kebaikan rakyat yang juga Ayah cintai. Sarah akan menemui Sultan bila Ayah tidak berkenan mengajukan Sarah menjadi pengantinnya.” 

Perdana menteri menyerah. Dengan berat hati ia menuruti permintaan anaknya. Ia akan menemui Sultan untuk menyampaikan pengajuan diri Sarah. Perdana menteri sangat bersedih. Keesokan paginya, setelah Sultan mengirim istri terakhirnya kepada algojo, perdana menteri datang menemuinya. Sultan sudah menunggu-nunggu dengan tak sabar. 

“Sultan Yang Mulia, seorang gadis cendikia mengajukan dirinya untuk menjadi pengantin Anda.”

“O ya? Siapa dia, Perdana Menteri?”

“Sarah. Putri tertua saya,” ucap perdana menteri terbata-bata. 

Lidahnya terasa kelu mengucapkan nama putrinya sendiri di hadapan Sultan. Sultan merasa takjub mendengar berita tersebut. 

“Apa yang membuatmu rela mengorbankan putrimu sendiri, Perdana Menteri?” tanya Sultan ingin tahu.

“Ini adalah keinginannya sendiri, Baginda. Saya bahkan tidak bisa lagi menahan niatnya ini.” 

“Kau yang setiap hari bertugas mengantar istri-istriku kepada algojo istana. Kali ini, kau harus bersumpah tak akan mengkir dari tugasmu. Tetap kau sendiri yang harus mengantar putrimu ke algojo. Kalau kau tak menaati perintahku, nyawamulah yang melayang.” 

Ancaman Sultan semakin membuat perdana menteri sedih. 

“Baik, Baginda. Apapun risikonya, saya akan mematuhi Anda. Saya memang ayahnya. Tetapi saya adalah pelayan Anda,” jawab perdana menteri. 

Meskipun ia berucap demikian, sebenarnya terbersit niatan menyelamatkan Sarah. Karena Sarah begitu keras kepala, perdana menteri tadinya ingin menggantikan Sarah bila ia dikirim ke algojo. Ia sudah merencanakannya sejak awal tanpa memberi tahu Sarah. Dan tentu saja ia tak bisa berterus terang pada Sultan. 

“Kalau begitu, segera bawa putrimu menghadapku!” ujar Sultan. 

Perdana menteri pun berlalu. Ia pulang ke rumah untuk memberi tahu Sarah bahwa Sultan bersedia menerima permintaannya. 

“Sungguh, Ayah? Terima kasih, Yah!” ucap Sarah senang. 

“Tapi ingat, Sarah. Jangan sampai kau menyesali keputusanmu ini. Kau tak bisa mundur lagi walau selangkah.”

“Ya, Ayah. Tekadku sudah bulat. Kumohon, apa pun yang terjadi padaku, Ayah jangan bersedih. Masih ada Dinar yang akan menemani Ayah.”

“Ayah mana yang tidak akan bersedih?” jawab perdana menteri sedikit kesal. 

Sarah menerima kabar tersebut seolah-olah yang didengarnya adalah berita gembira. Padahal, berita itu sangat menyayat hati perdana menteri. Dinar pun bersedih. Namun ia yakin pada rencana kakaknya. Sarah pun segera masuk ke kamar adiknya. Ia ingin memberitahukan rencananya pada Dinar. Ia membutuhkan bantuan Dinar. Ia tak memberi tahu ayahnya kalau melibatkan Dinar dalam rencana berisiko ini. Ia tak ingin membuat ayahnya semakin khawatir. 

“Dinar, Sultan telah bersedia menerimaku,” ujar Sarah. 

Matanya berbinar-binar karena gembira. 

“Ya, Kak. Aku tadi mendengar percakapanmu dengan Ayah. Apa kau benar-benar sudah mantap?”

 Sarah mengangguk.

“Lalu apa rencanamu?” tanya Dinar lagi.

“Begini, Dinar. Saat aku menikah nanti, aku akan mengajukan permintaan terakhir pada Sultan.”

“Apa permintaan terakhir Kakak? Meminta Sultan mengakhiri kebiasaannya?” “Tidak. Sultan tak akan mengabulkan jika itu yang Kakak minta. Bisa-bisa ia langsung mengirim Kakak pada algojo.”

“Lalu apa yang akan Kakak minta?”

“Kakak akan minta kau diizinkan menginap di istana. Di kamar yang terdekat dengan kamar Sultan. Aku berharap semua berjalan sesuai rencana, ia mau memberi izin. Jika demikian, kuminta kau membangunkanku sesaat sebelum fajar tiba.”

“Untuk apa? Kakak akan melarikan diri?”

“Tidak. Ketuklah pintu kamar kami dan katakan kau ingin mendengar cerita dariku sebelum hidupku berakhir.” 

“Setelah itu?” 

“Setelah itu, kita akan lihat dulu apakah aku selamat atau tidak di hari itu. Kalau aku selamat, rencana berikutnya sudah siap dijalankan.” 

“Baiklah, Kak. Aku akan membantumu semampuku.” 

“Terima kasih, Dinar.”

Sarah tersenyum senang. Sarah pun kemudian disibukkan dengan rencana pernikahannya. Kali ini Sultan ingin menggelar pesta yang meriah. Yang ia nikahi bukan gadis biasa. Yang ia nikahi adalah putri perdana menteri. Sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan, ia membuat pesta khusus di pernikahannya kali ini. Namun bagi perdana menteri, pesta ini terasa seperti perayaan kematian. Sebuah pesta perpisahan antara dirinya dan Sarah. Rakyat terkejut mendengar berita dari istana. Sultan akan menikahi putri perdana menteri yang setiap hari mencarikan gadis dan mengirimnya ke algojo. Mereka hampir tak percaya. Mereka beramai-ramai mendatangi istana karena ingin mendapatkan kepastian berita tersebut. Dan mereka mendapati kebenaran. Sarah, putri perdana menteri, duduk di pelaminan bersama Sultan. Sultan tampak gembira. Namun, hadirin yang kebanyakan para bangsawan justru kurang bersemangat. Mereka hadir hanya untuk memenuhi undangan Sultan. Sebenarnya mereka ikut menanggung kesedihan yang dirasakan perdana menteri. Mereka yang memiliki anak gadis semakin khawatir. Mereka takut giliran itu akan sampai kepada anak-anak gadis mereka. Setelah pesta usai, Sarah ditinggalkan berdua dengan Sultan. Sarah memakai pakaian yang indah dan perhiasan yang gemerlapan. Semua itu pemberian Sultan. Tibalah saat Sarah menjalankan rencananya. Sarah duduk di kursi empuk di kamar Sultan. Sultan lalu menghampiri Sarah dan mengangkat kerudung yang menutupi wajahnya. Sultan kagum akan kecantikan Sarah. Namun Sarah justru sedang berlinangan air mata.

“Ada apa, Sarah? Kenapa kau menangis?” tanya Sultan. 

“Baginda, saya memiliki adik yang sangat saya sayangi. Saya sedih harus berpisah dengannya. Saya tahu akan seperti apa nasib saya esok hari. Karena itu, saya ingin menghabiskan malam tak jauh darinya.”

“Lalu?”

“Jika Baginda mengizinkan, saya mempunyai permintaan terakhir kepada Baginda.” 

“Apa itu? Kau ingin perhiasan? Pakaian yang indah? Jamuan yang lezat? Katakan.” Sarah menggeleng.

“Saya hanya minta Anda mengizinkan adik saya menginap di istana. Tempatkan dia di kamar terdekat dengan kamar ini agar saya merasa dekat dengannya.” 

Sultan terdiam dan tampak menimbang-nimbang. Permintaan Sarah memang tidak biasa. Sebelumnya, pengantin-pengantinnya lebih memilih perhiasan atau gaun indah yang bisa mereka tinggalkan untuk keluarga mereka setelah ia dikirim ke algojo. Namun Sultan tidak menaruh kecurigaan apa-apa. 

“Baiklah. Akan kusuruh pengawal menjemput adikmu,” ucap Sultan. 

“Terima kasih, Sultan.” Sarah senang. 

Sebagian kecil rencananya sudah berhasil. Kini ia bersiap untuk rencana selanjutnya. Tak lama kemudian, Dinar tiba di istana. Ia ditempatkan di kamar yang tak jauh dari kamar kakaknya. Ia pun diberikan pelayanan yang baik. Sarah sempat menemui Dinar sejenak, tetapi mereka tidak membicarakan rencana mereka. Sarah hanya mengucapkan selamat malam. 

“Jangan lupa, Sayang,” ujar Sarah sebelum ia keluar dari kamar Dinar. 

Sarah pun kembali ke kamar Sultan. Dinar semalaman terus terjaga. Selain karena tidak bisa tidur, Dinar juga tidak ingin terlelap ketika fajar tiba. Sebentar-sebentar ia menengok ke luar jendela. Dinar memeriksa apakah saatnya sudah tiba. Ketika bulan sudah hampir tak tampak lagi di langit, Dinar keluar dari kamarnya. Ia mengetuk pintu kamar kakaknya dan membisikkan sesuatu. 

“Kakak, jika kau tak tidur, kumohon temui aku. Sebelum matahari terbit, aku ingin mendengarkan cerita-cerita menarikmu. Ini terakhir kalinya aku bisa mendengarnya darimu.” 

Sarah yang juga terjaga semalaman mendengar suara adiknya. Ia pun membangunkan Sultan. Dinar mengulang permintaannya lagi. Dia akan terus mengulangnya hingga pintu kamar kakaknya terbuka.

“Sultan, apakah Anda mendengar bisikan Dinar di luar?” tanya Sarah. 

Sultan yang masih mengantuk mengangguk.

“Apakah Anda mengizinkan saya keluar menemuinya? Ia ingin mendengar cerita saya untuk terakhir kalinya,” pinta Sarah. 

“Ya. Baiklah.” 

Sarah sangat senang ternyata Sultan mengizinkannya. Separuh rencananya telah berjalan baik. 

“Apakah Sultan tak ingin mendengarnya juga?” tanya Sarah. 

“Aku masih mengantuk, Sarah,” jawab Sultan. 

“Baiklah, saya akan ke kamar Dinar agar tidak mengganggu Anda,” ucap Sarah. 

Sultan hanya ber-ehem saja. Sarah keluar kamar dan menemui Dinar. Mereka pergi ke kamar di mana Dinar menginap. Sarah pun memulai ceritanya. Sarah telah membaca ratusan buku. Ia telah memilih cerita-cerita terbaik untuk rencananya kali ini. Sarah tahu Sultan juga sangat senang mendengarkan cerita. Sultan bahkan sering memanggil pendongeng dari luar kerajaan untuk bercerita. Sarah mengetahui itu semua dari ayahnya. Ayahnyalah yang diberi tugas oleh Sultan untuk memanggil para pendongeng. Sarah yakin Sultan akan tertarik mendengar ceritanya. Sarah bercerita perlahan-lahan. Pintu kamar Dinar sengaja tidak ditutup. Sarah menghadap ke pintu. Sesekali ekor matanya melirik ke pintu. Ia ingin memastikan apakah Sultan sudah bangun dan mencarinya. Ternyata benar perkiraan Sarah. Saat Sarah keluar, Sultan ternyata terbangun karena penasaran dengan cerita Sarah pada adiknya. Sultan pun mengendap-endap ke kamar Dinar. Ia mencuri dengar cerita Sarah dari luar. Ketika matahari mulai terbit, Sarah mengakhiri ceritanya. Namun, Sarah sengaja tidak menyelesaikan kisahnya. Ia membiarkan cerita itu menggantung. 

“Matahari sudah terbit. Aku harus kembali kepada Sultan.”

 “Tapi ceritamu belum usai, Kak,” kata Dinar. 

“Ya. Sayangnya waktuku telah habis. Jika ada umur panjang, Kakak akan melanjutkan cerita ini untukmu.” 

Sarah pun meninggalkan kamar Dinar. Dinar tak tahu apa rencana Sarah berikutnya. Ia hanya berharap rencana kakaknya berhasil. Sultan yang mencuri dengar cerita sarah dari luar merasa kecewa. Ia penasaran dengan akhir kisah yang diceritakan Sarah.

“Yang Mulia, saya menjemput istri Anda untuk dibawa ke algojo istana,” ucap perdana menteri. 

Ia datang seperti biasanya untuk memenuhi tugasnya. Hari ini ia sudah bersiap menukar dirinya dengan Sarah untuk dibawa ke algojo. 

“Tidak hari ini, Perdana Menteri. Aku masih ada urusan dengan Sarah,” ujar Sultan. 

Perdana menteri sangat terkejut. Ia seakan bermimpi di siang hari. Nyawa putrinya selamat hari ini. Ia tak tahu apa yang telah dilakukan Sarah. Ia tak tahu urusan apa yang dimiliki Sarah dengan Sultan, tapi ia sangat bersyukur. Sarah pun gembira rencananya berjalan lancar. Setiap malam, Sarah mengajukan permintaan yang sama kepada Sultan seperti malam pertamanya. Sultan selalu menyanggupi permintaannya karena penasaran dengan cerita-cerita Sarah yang sangat menarik dan belum pernah ia dengar sebelumnya. Sarah pun sengaja tidak menyelesaikan ceritanya saat matahari terbit. Ia melanjutkan cerita itu di hari berikutnya dan menyambungnya dengan cerita baru. Telah berbulan-bulan Sarah selamat dari maut dengan cerita-ceritanya. Cerita yang dibawakan Sarah pun sarat dengan pesan kebaikan. Ia ingin Sultan sadar dengan sendirinya karena menangkap kebijaksanaan dalam cerita-cerita tersebut. Perdana menteri pun senang putrinya dapat terus bertahan hidup. Rakyat juga lega karena sudah lama tak ada lagi gadis yang menjadi korban Sultan. Suatu hari, Sultan memanggil Sarah. 

“Sarah, kuakui kau gadis yang cerdas. Mungkin kau tak tahu. Setiap malam aku mencuri dengar cerita-ceritamu. Kau telah membuatku percaya bahwa masih ada perempuan baik di dunia ini. Kau membuatku sadar kesalahan fatal yang telah kuperbuat sebelumnya. Aku ingin berterima kasih padamu,” ujar Sultan. 

Sarah tersenyum. 

“Aku akan memanggil juru tulis istana. Ceritakanlah kisah-kisahmu pada mereka agar mereka menulisnya. Aku berharap cerita-ceritamu bisa terhimpun menjadi sebuah buku untuk dibaca lebih banyak orang lagi agar mereka terhibur dan menemukan kebijaksanaan hidup.” 

Sarah sangat senang mendengar rencana Sultan. 

“Terima kasih, Sultan. Saya percaya Anda orang yang baik dan berjiwa luhur. Setiap orang bisa kembali ke jalan kebaikan bila ia mau.” 

“Satu lagi permintaanku, Sarah. Aku ingin kau menjadi permaisuriku selamanya sampai maut menjemputku.” 

Sarah tersenyum bahagia. Ia memenuhi permintaan Sultan. Mereka pun hidup dengan bahagia. 

***

Selfi berhenti membaca bukunya.

"Cerita yang bagus. Pinter yang buat ceritanya," kata Selfi.

Selfi menutup bukunya dan di taruh di meja. Selfi keluar dari rumah karena ada keperluan dengan Saskia.

Saturday, June 19, 2021

SANTAI DI RUMAH

Kasino di halaman belakang, ya seperti biasa di hari minggu.....merawat tanaman di potnya dengan baik banget. Dono dan Indro sedang nonton Tv di ruang tengah, ya berita gitu....seputar ini dan itu. Pokoknya itu berita di Tv, ya menarik untuk di tonton dengan baik banget.

"Don," kata Indro.

"Apa?" kata Dono.

"Kenapa artis sekarang ini sering main golf ya? Contohnya artis Nia Rahmadani," kata Indro.

"Hoby olahraga yang di jalanin dengan baik," kata Dono.

"Sama hal dengan aku hoby olahraga silat. Jadi di jalanin dengan baik banget," kata Kasino.

"Tujuan olahraga kan kesehatan," kata Dono.

"Golf...itu cenderung orang kaya yang menjalani. Suami artis Nia Rahmadani orang kaya," kata Indro.

"Mungkin sih saja," kata Dono.

Dono dan Indro tetap nonton Tv dengan baik karena acaranya bagus gitu. Beberapa saat kemudian. Kasino telah selesai merawat tanaman di potnya dengan baik. Kasino duduk sambil menikmati minum teh dan keripik singkong. Teh yang di minum Kasino, ya agak sedikit berbeda yaitu teh bunga karena tren di Tv ada tentang teh dari bunga. Kasino yang merawat tanaman di pot dengan baik, ya ada tanaman bunga gitu. Kasino memetik bunga dengan baik dan di olah menjadi teh. Kasino menikmati hasil kerja kerasnya itu.

"Emmmmm teh ini rasa enak dan juga harum bunga," kata Kasino.

Kasino terus menikmati teh yang enak tersebut sambil makan keripik singkong. Dono yang hobynya baca buku, ya buku yang habis di bacanya di geletakin di meja. Kasino memang melihat buku di geletakin di meja. Kasino memang tertarik dengan buku di meja dan segera mengambilnya. Buku itu di baca judulnya dengan baik sama Kasino "Tiori Politik".

Kasino menaruh lagi buku tersebut.

"Bacaannya Dono. Tiori Politik. Bidangnya Dono. Berat ah bacaannya. Kalau bacaannya cerita rakyat, ya ringanlah bacaannya. Mudah memahaminya dengan baik," kata Kasino.

Kasino masih menikmati minum tehnya dan juga makan keripiknya.

"Main game saja di Hp....aku!" kata Kasino.

Kasino main game di Hp-nya dengan baik banget. Dono dan Indro masih asik nonton Tv yang acaranya bagus banget.

"Don," kata Indro.

"Apa?" kata Dono.

"Masih mendengarkan suara Roh, ya Don?!" kata Indro.

"Masihlah. Kan aku pernah cerita dengan baik. Orang yang mendengarkan suara Roh itu pernah mengalami ujian kematian. Mati tidak jadi, ya selamat...hidup. Di ceritakan kebenaran ini dan itu. Aku ini temasuk golongan yang harus pulang ke rahmatullah," kata Dono.

"Oooo masih toh Dono mendengarkan suara Roh. Di bimbing dengan baik sama Roh," kata Indro.

"Sudahlah lebih baik fokus nonton Tv. Tidak perlu di bahas lebih jauh. Semuanya ada di dalam kitab Al-Quran!" kata Dono.

"Aku paham Don!" kata Indro.

Indro dan Dono, ya fokus nonton Tv karena memang acaranya bagus banget gitu. Kasino di halaman belakang, ya masih asik main game di Hp-nya.

JAKA BUDUG DAN PUTRI KEMUNING

Kasino dan Indro asik nonton Tv di ruang tengah. 

"Kasino," kata Indro.

"Apa?" kata Kasino.

"Dalam hubungan cinta. Apakah sikap mengalah itu harus di lakukan?!" kata Indro.

"Mengalah demi orang yang kita cintai. Terkadang sikap itu harus di lakukan sih. Contoh : Indro main catur sama Saskia. Indro mengatur permainan untuk kalah gitu, ya agar Saskia menang. Jadi Saskia senang menang dari Indro," kata Kasino.

"Berarti sikap itu bisa membuat senang orang yang aku cintai toh," kata Indro.

"Tapi inget. Dalam kompetisi. Contoh : yang lagi populer. Kompetisi menyanyi dan juga masak...ada di Tv. Tidak boleh ada mengalah pada lawan termasuk orang yang kita cintai. Ya harus menanglah!" kata Kasino.

"Aku paham Kasino," kata Indro.

Indro dan Kasino, ya fokus nonton Tv lah karena acara Tv memang bangus banget. Sedangkan Dono di ruang tamu sedang asik membaca buku.

Isi buku yang di baca Dono :

Alkisah, di daerah Ngawi, Jawa Timur, tersebutlah seorang raja bernama Prabu Aryo Seto yang bertahta di Kerajaan Ringin Anom. Prabu Aryo Seto adalah seorang raja yang adil dan bijaksana. Ia mempunyai seorang putri yang rupawan bernama Putri Kemuning. Sesuai namanya, tubuh sang Putri sangat harum bagaikan bunga kemuning.

Suatu hari, Putri Kemuning tiba-tiba terserang penyakit aneh. Tubuhnya yang semula berbau harum, tiba-tiba mengeluarkan bau yang tidak enak. Melihat kondisi putrinya itu, Sang Prabu menjadi sedih karena khawatir tak seorang pun pangeran atau pemuda yang mau menikahi putrinya itu. Berbagai upaya telah dilakukan oleh baginda, seperti memberikan putrinya obat-obatan tradisional berupa daun kemangi dan beluntas, namun penyakit sang putri belum juga sembuh. Sang Prabu juga telah mengundang seluruh tabib yang ada di negerinya, namun tak seorang pun yang mampu menyembuhkan sang Putri.

Hati Prabu Aryo Seto semakin resah. Ia sering duduk melamun seorang diri memikirkan nasib malang yang menimpa putri semata wayangnya. Suatu ketika, tiba-tiba terlintas dalam pikirannya untuk melakukan semedi dan meminta petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar penyakit langka yang menimpa putrinya dapat disembuhkan.

Pada saat tengah malam, Sang Prabu dengan tekad kuat dan hati yang suci melakukan semedi di dalam sebuah ruang tertutup di dalam istana. Pada saat baginda larut dalam semedi, tiba-tiba terdengar suara bisikan yang sangat jelas di telinganya.

“Dengarlah, wahai Prabu Aryo Seto! Satu-satunya obat yang dapat menyembuhkan penyakit putrimu adalah daun sirna ganda. Daun itu hanya tumbuh di dalam gua di kaki Gunung Arga Dumadi yang dijaga oleh seekor ular naga sakti dan selalu menyemburkan api dari mulutnya,” demikian pesan yang disampaikan oleh suara gaib itu.

Keesokan harinya, Prabu Aryo Seto segera mengumpulkan seluruh rakyatnya di alun-alun untuk mengadakan sayembara.

“Wahai, seluruh rakyatku! Kalian semua tentu sudah mengetahui perihal penyakit putriku. Setelah semalam bersemedi, aku mendapatkan petunjuk bahwa putriku dapat disembuhkan dengan daun sirna ganda yang tumbuh di gua di kaki Gunung Arga Dumadi. Barang siapa yang dapat mempersembahkan daun itu untuk putriku, jika ia laki-laki akan kunikahkan dengan putriku. Namun, jika ia perempuan, ia akan kuangkat menjadi anakku,” ujar Sang Prabu di depan rakyatnya.

Mendengar pengumuman itu, seluruh rakyat Kerajaan Ringin Anom menjadi gempar. Berita tentang sayembara itu pun tersebar hingga ke seluruh pelosok negeri. Banyak warga yang tidak berani mengikuti sayembara tersebut karena mereka semua tahu bahwa gua itu dijaga oleh seekor naga yang sakti dan sangat ganas. Bahkan, sudah banyak warga yang menjadi korban keganasan naga itu. Meski demikian, banyak pula warga yang memberanikan diri untuk mengikuti sayembara tersebut karena tergiur oleh hadiah yang dijanjikan oleh Sang Prabu. Setiap orang pasti akan senang jika menjadi menantu atau pun anak angkat raja.

Salah seorang pemuda yang ingin sekali mengikuti sayembara tersebut adalah Jaka Budug. Jaka Budug adalah pemuda miskin yang tinggal di sebuah gubuk reyot bersama ibunya di sebuah desa terpencil di dalam wilayah Kerajaan Ringin Anom. Ia dipanggil “Jaka Budug” karena mempunyai penyakit langka, yaitu seluruh tubuhnya dipenuhi oleh penyakit budug. Penyakit aneh itu sudah dideritanya sejak masih kecil. Meski demikian, Jaka Budug adalah seorang pemuda yang sakti. Ia sangat mahir dan gesit memainkan keris pusaka yang diwarisi dari almarhum ayahnya. Dengan kesaktiannya itu, ia ingin sekali menolong sang Putri. Namun, ia merasa malu dengan keadaan dirinya.

Sementara itu, para peserta sayembara telah berkumpul di kaki Gunung Arga Dumadi untuk menguji kesaktian mereka. Sejak hari pertama hingga hari keenam sayembara itu dilangsungkan, belum satu pun peserta yang mampu mengalahkan naga sakti itu. Jaka Budug pun semakin gelisah mendengar kabar itu.

Pada hari ketujuh, Jaka Budug dengan tekadnya yang kuat memberanikan diri datang menghadap kepada Sang Prabu. Di hadapan Prabu Aryo Seto, ia memohon izin untuk ikut dalam sayembara itu.

“Ampun, Baginda! Izinkan hamba untuk mengikuti sayembara ini untuk meringankan beban Sang Putri,” pinta Jaka Budug.

Prabu Aryo Seto tidak menjawab. Ia terdiam sejenak sambil memperhatikan Jaka Budug yang tubuhnya dipenuhi bintik-bintik merah.

“Siapa kamu hai, anak muda? Dengan apa kamu bisa mengalahkan naga sakti itu?” tanya Sang Prabu.

“Hamba Jaka Budug, Baginda. Hamba akan mengalahkan naga itu dengan keris pusaka hamba ini,” jawab Jaka Budug seraya menunjukkan keris pusakanya kepada Sang Prabu.

Pada mulanya, Prabu Aryo Seto ragu-ragu dengan kemampuan Jaka Budug. Namun, setelah Jaka Budug menunjukkan keris pusakanya dan tekad yang kuat, akhirnya Sang Prabu menyetujuinya.

“Baiklah, Jaka Budug! Karena tekadmu yang kuat, maka keinginanmu kuterima. Semoga kamu berhasil!” ucap Sang Prabu.

Jaka Budug pun berangkat ke Gunung Arga Dumadi dengan tekad membara. Ia harus mengalahkan naga itu dan membawa pulang daun sirna ganda. Setelah berjalan cukup jauh, sampailah ia di kaki gunung Arga Dumadi. Dari kejauhan, ia melihat semburan-semburan api yang keluar dari mulut naga sakti penghuni gua. Ia sudah tidak sabar ingin membinasakan naga itu dengan keris pusakanya.

Jaka Budug melangkah perlahan mendekati naga itu dengan sangat hati-hati. Begitu ia mendekat, tiba-tiba naga itu menyerangnya dengan semburan api. Jaka Budug pun segera melompat mundur untuk menghindari serangan itu. Naga itu terus bertubi-tubi menyerang sehingga Jaka Budug terlihat sedikit kewalahan. Lama-kelamaan, kesabaran Jaka Budug pun habis.

Ketika naga itu lengah, Jaka Budug segera menghujamkan kerisnya ke perut naga itu. Darah segar pun memancar dari tubuh naga itu dan mengenai tangan Jaka Budug. Sungguh ajaib, tangan Jaka Budug yang terkena darah sang naga itu seketika menjadi halus dan bersih dari penyakit budug.

Melihat keajaiban itu, Jaka Budug semakin bersemangat ingin membinasakan naga itu. Dengan gesitnya, ia kembali menusukkan kerisnya ke leher naga itu hingga darah memancar dengan derasnya. Naga sakti itu pun tewas seketika. Jaka Budug segera mengambil darah naga itu lalu mengusapkan ke seluruh badannya yang terkena penyakit budug. Seketika itu pula seluruh badannya menjadi bersih dan halus. Tak sedikit pun bintik-bintik merah yang tersisa. Kini, Jaka Budug berubah menjadi pemuda yang sangat tampan.

Setelah memetik beberapa lembar daun sirna ganda di dalam gua, Jaka Budug segera pulang ke istana dengan perasaan gembira. Setibanya di istana, Prabu Aryo Seto tercengang ketika melihat Jaka Budug yang kini kulitnya menjadi bersih dan wajahnya berseri-seri. Sang Prabu hampir tidak percaya jika pemuda di hadapannya itu Jaka Budug. Namun, setelah Jaka Budug menceritakan semua peristiwa yang dialaminya di kaki Gunung Arga Dumadi, barulah Sang Prabu percaya dan terkagum-kagum.

Jaka Budug kemudian mempersembahkan daun sirna ganda yang diperolehnya kepada Sang Prabu. Sungguh ajaib, Putri Kemuning kembali sehat setelah memakan daun sirna ganda itu. Kini, tubuh Sang Putri kembali berbau harum bagaikan bunga kemuning.

Prabu Aryo Seto pun menetapkan Jaka Budug sebagai pemenang sayembara tersebut. Sesuai dengan janjinya, Sang Prabu segera menikahkan Jaka Budug dengan putrinya, Putri Kemuning. Selang berapa lama setelah mereka menikah, Prabu Aryo Seto meninggal dunia. Setelah itu, Jaka Budug pun dinobatkan menjadi pewaris tahta Kerajaan Ringin Anom. Jaka Budug dan Putri Kemuning pun hidup berbahagia.

* * *

Dono berhenti membaca bukunya.

"Cerita yang bagus. Pinter yang buat ceritanya. Tokoh Jaka Budug punya sifat pemberani dan pandai menepati janji. Pada akhirnya bisa mendapatkan Putri Kemuning," kata Dono.

Dono menutup bukunya dengan baik.

"Apa aku membuat cerita fantasi. Cerita Jaka Budug aku.....ubah menjadi versi sesuai keinginan aku, ya fantasi gitu?" kata Dono berpikir panjang.

Dono menaruh buku di atas meja. 

"Nonton Tv aja ah!" kata Dono.

Dono pindah duduknya ke ruang tengah, ya untuk nonton Tv bersama Kasino dan Indro. Dono duduk bersama Kasino dan Indro.

"Oooo iya. Aku ingin tanya. Permainan gitu. Sudah lama belum di mainkan lagi," kata Indro.

"Apa permainannya?!" kata Kasino.

"Apa permainannya?!" kata Dono.

"Seperti biasa saja sih. Pendapat. Apa pendapat Kasino dan Dono...tentang artis Via Vallen?!" kata Indro.

"Ooooo artis Via Vallen. Cantik!!!" kata Kasino.

"Aku sama dengan omongan Kasino," kata Dono menegaskan omongan Kasino.

"Jadi Via Vallen...cantik toh. Pujian toh. Bagaimana dengan lagu-lagunya?!" kata Indro.

"Lagu-lagunya Via Vallen. Bagus!!!" kata Kasino.

"Aku sama dengan omongan Kasino," kata Dono menegaskan omongan Kasino.

"Bagus toh. Pujian toh. Bagaimana dengan lagu dengan judul 'Ngalah' ?!" kata Indro.

"Pantes tadi bahas urusan kata mengalah....ada kaitannya dengan judul lagu 'Ngalah' toh. Ya pokoknya bagus tuh lagu!!!!" kata Kasino.

"Kalau aku sih. Ya lagunya Via Vallen...bagus lah!!!" kata Dono.

"Sama aku juga. Pujian saja......bagus!. Ya sudahlah fokus nonton Tv lagi !" kata Indro.

"Emmm," kata Kasino.

"Emmm," kata Dono.

Dono, Kasino dan Indro, ya fokus nonton Tv yang acaranya bagus banget gitu. 

Friday, June 18, 2021

KEINGINAN DHRUVA

Dono mau baca buku di ruang tamu. Eeeee ternyata tidak jadi, ya buku di taruh di meja. Dono masuk kamarnya dan segera mengetik di leptopnya karena dapet ide untuk membuat cerita. Kasino selesai urusan kerjaannya, ya keluar dari kamarnya. Saat di ruang tengah, ya memang Kasino melihat Indro asik nonton Tv. Kasino tidak ingin nonton Tv, ya ingin main game....jadi ke ruang tamu. Di ruang tamu Kasino melihat bukunya Dono di atas meja. Kasino tertarik ingin membaca buku jadi di ambil buku di meja. Kasino membaca judul buku tersebut "Keinginan Dhruva."

Kasino membuka buku dan segera membacanya dengan baik.

Isi buku yang di baca Kasino :

Penghuni istana, terutama raja, sedang bergembira. Pasalnya, permaisuri baru melahirkan seorang anak laki-laki, yang kelak akan menjadi putra mahkota. Anak laki-laki itu diberi nama Dhruva. Peramal istana mengatakan bahwa kelak keluarga raja akan hidup sangat bahagia. Sayangnya, kebahagiaan itu tidak disambut oleh salah satu selir raja. Ia merasa iri. Dengan segala kelicikannya, selir itu berhasil mengusir permaisuri dan Dhruva dari istana.

Permaisuri dan Dhruva pun harus tersingkir dan hidup di hutan. Dhruva yang masih sangat kecil, tak sempat mengenal ayahnya sendiri.

Beberapa tahun berlalu, Dhruva telah tumbuh. Ia mulai menanyakan tentang ayahnya.

“Seperti apa rupa Ayah, Bu?” tanya Dhruva suatu ketika.

“Ayahmu adalah laki-laki yang sangat baik, kuat, dan bijaksana,” balas Ibu Dhruva.

“Jika memang Ayah baik dan bijaksana, mengapa ia tega membuang kita ke hutan? Aku rindu pada Ayah, Bu,” ujar Dhruva.

Ibu Dhruva bingung. Ia tak mungkin menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Ia takut Dhruva akan menemui raja, dan merasa kecewa jika raja kembali mengusirnya.

“Suatu saat ketika kamu dewasa, kamu akan bertemu dengan ayahmu. Ayahmu adalah Dewa Wishnu,” ucap ibu Dhruva.

Mendengar jawaban ibunya, Dhruva semakin penasaran. Ia ingin menemui Dewa Wishnu.

“Aku tak mau menunggu hingga dewasa, Ibu. Aku ingin bertemu Ayah,” rengek Dhruva.

Ibu Dhruva ragu, tapi ia tak tega melihat anaknya terus merengek. Akhirnya, ia mengizinkan Dhruva menemui ayahnya. Dhruva pun pergi meninggalkan rumah untuk mencari Dewa Whisnu. Perjalanan yang sangat panjang, membuat Dhruva kelelahan. Ia pun beristirahat di bawah pohon rindang.

Saat itulah, Dewa Narada menemuinya. Ia penasaran dengan Dhruva, dan menanyakan apa keinginannya. Dhruva mengatakan bahwa ia ingin bertemu dengan ayahnya, yaitu Dewa Wishnu. Mendengar hal itu, Dewa Narada mengajak Dhruva ke rumahnya, Ia mengajari Dhruva cara berdoa dan bertapa.

Melihat Dhruva sangat bersungguh-sungguh dengan keinginannya, terketuklah hati Dewa Wishnu. Setelah sekian lama bertapa, Dewa Wishnu menemui Dhruva, dan menanyakan keinginannya.

“Aku ingin selalu dekat denganmu, Ayah. Aku juga ingin melihat ibuku bahagia,” jawab Dhruva.

“Aku akan mengabulkan keinginanrnu, anakku. Kamu akan selalu dekat denganku, sedangkan ibumu akan bahagia di istana,” ucap Dewa Wishnu.

Dewa Wishnu lalu mengubah Dhruva menjadi sebuah bintang di langit, agar Dhruva selalu dekat dengannya. Tiba-tiba, ibu Dhruva dijemput oleh raja untuk kembali ke istana. Rupanya, raja baru mengetahui kelicikan selirnya. Selir itu pun dihukum oleh raja.

Ibu Dhruva juga baru tahu, jika Dhruva telah berubah menjadi bintang di langit. Setiap malam, ibu Dhruva melambaikan tangan ke bintang itu. Bintang itu pun berkelip membalas lambaian tangan ibunya. Bintang itu tak pernah berpindah arah, sehingga para nelayan menjadikan bintang itu sebagai penunjuk arah pada malam hari.

***

Kasino berhenti membaca buku.

"Cerita yang bagus. Pinter yang membuat ceritanya," kata Kasino.

Kasino membaca dengan baik pesan moral di tulis di buku "Jadilah anak yang baik dan tangguh, maka kelak kamu akan menjadi anak yang sukses dan bahagia."

Kasino memahami benar pesan moral tersebut. Buku di tutup sama Kasino dan di taruh di meja. Kasino pindah duduk, ya dari ruang tamu ke ruang tengah untuk menonton Tv. Di ruang tengah, ya Kasino duduk bersama Indro. Keduanya asik nonton Tv yang acaranya bagus gitu.

"Kasino," kata Indro.

"Apa?" kata Kasino.

"Zaman dulu. Banyak manusia menganut ajaran agama Hindu kan?!" kata Indro.

"Iya," kata Kasino.

"Mungkin. Leluhur kita....zaman dulu, ya menganut ajaran agama Hindu," kata Indro.

"Mungkin sih," kata Kasino.

"Dari proses pemahaman ini dan itu....sampai perkawinan. Maka pada akhirnya kita menganut agama Islam. Jadi kita harus menghormati agama Hindu, ya bisa saja agama itu di anut leluhur kita awalnya," kata Indro.

"Omongan Indro benarlah. Menghormati agama lain, maksudnya sih Hindu. Toleransi gitu," kata Kasino menegaskan omongan Indro.

"Kisah cerita ajaran Hindu itu menarik karena cerita para Dewa. Ya kaya cerita para Dewa Yunani yang di angkat ke film, ya jadinya bagus banget untuk di tonton kan. Hiburan kan!" kata Indro.

"Omongan Indro benar lagi. 1000 poin!" kata Kasino menegaskan omongan Indro.

"Ooooo iya Kasino. Main dukun itu masih ada kan?!" kata Indro.

"Di mana manusia membutuhkan kekuatan gaib. Ya pasti menjalankan jalan perdukunan. Sama cerita orang dulu. Cerita ada di film gitu," kata Kasino.

"Memperlancar usaha, ya kaya gitu dan paling penting mendapat jodoh yang diinginkan," kata Indro.

"Emmmm," kata Kasino.

"Zaman telah maju. Teknologi. Dengan belajar dengan baik, ya dapat mengembangkan usaha dengan baik jadinya kaya dan akhirnya bisa mendapatkan jodoh yang di inginkan," kata Indro.

"Pola berpikir orang pinter. Ya benarlah omongan Indro," kata Kasino menegaskan omongan Indro.

"Ya sudahlah. Fokus nonton Tv aja!" kata Indro.

"Emmmm," kata Kasino.

Kasino dan Indro, ya fokus nonton Tv karena memang acaranya bagus banget gitu. Sedangkan Dono di kamarnya sedang mengetik di leptopnya dengan baik banget.

KISAH KUCING KARKAL DAN BURUNG PUYUH

Kasino dan Indro di ruang tengah asik nonton Tv. Acara yang di tonton lawak gitu. 

"Kasino," kata Indro.

"Apa?" kata Kasino.

"Kenapa Dono membuat cerita dengan kebiasaan Dono yang baca buku cerita ya?!" kata Indro.

"Kalau itu sih tanya ke Dono-nya!" kata Kasino.

"Kata Dono sih. Sekedar bercerita saja," kata Indro.

"Seperti biasanya saja. Sekedar cerita saja," kata Kasino.

"Cerita yang di baca Dono. Ya di tulis di Blog, ya sesuai dengan apa yang di baca. Padahal Dono bisa membuat cerita itu sesuai dengan keinginan Dono," kata Indro.

"Maksudnya dirubah gitu?!" kata Kasino.

"Maksudnya itu..dirubah!" kata Indro.

"Kalau cerita dirubah...jadinya sih versi Dono yang mengubah cerita. Cenderung di buat cerita fantasi gitu," kata Kasino.

"Khayalan Dono..ya kan Kasino?!" kata Indro

"Iya," kata Kasino.

Kasino dan Indro, ya fokus nonton Tv karena memang acaranya bagus banget. Dono di ruang tamu sedang baca buku dengan baik banget. 

Isi cerita yang di baca Dono :

Disebuah gurun luas serta gersang hanya beberapa tumbuhan yang mampu hidup disana seperti rumput-rumputan dan jenis tumbuhan kaktus, kehidupan di gurun sangat sulit khususnya untuk para hewan, mereka harus berjuang mencari makanan yang jumlahnya terbatas, mencari minum yang hanya berada di oase dan juga mereka harus bersiap-siap kabur dari para pemangsa. Suatu hari seekor kucing sedang karkal berjalan di bebatuan mencari makanan, sudah lima hari perutnya tidak diisi namun sang karkarl tidaklah merasakan lapar yang sangat luar biasa karena dirinya telah terbiasa hidup digurun tanpa makanan selama 2 minggu. Karkal berjalan menuju sebuah oase yang letaknya tidak jauh dari tempatnya, sang karkal berharap ada seekor tikus maupun burung yang bisa ia tangkap disana.

Ketika sang karkal mendekati oase, hal pertama yang dia lakukan adalah mencari tempat untuk melihat keadaan oase dengan jelas, lalu sang karkal mengincar hewan yang sedang minum disana setelah mendapatkan calon hewan untuk dimangsa, sang karkal mengendap-endap di sela-sela rerumputan kering dan ketika posisi sang karkal telah tepat maka sang karkal langsung menerkamnya. Namun hal itu tidak terjadi karena ketika sang karkal mengendap-endap sebuah tulang yang dijatuhkan burung vulture dari udara mengenai kaki belakang sang karkal hingga membuat kaki sang karkal terluka. Hewan buruannya kaget melihat sang karkal menjerit lalu pergi, sedangkan sang karkal harus menahan sakit yang dia derita setelah sebuah tulang keras menghantam kaki belakangnya.

Tidak jauh dari oase seekor burung puyuh mendengar jeritan sang karkal, dia memutuskan untuk melihat apa sebenarnya yang telah terjadi kepada seekor karkal. Ketika sampai sang burung puyuh itu bertanya “Tuan kucing telinga panjang, apa yang terjadi padamu bagaimana bisa kakimu terluka seperti itu?” 

Sang karkal menjawab “Ketika sedang berburu sebuah tulang jatuh dari langit dan mengenai kaki belakangku, kini aku harus berjalan dengan 3 kaki karena satu kakiku sulit aku gerakan.” 

Burung puyuh itu merasa kasihan melihat keadaan karkal, tadinya burung puyuh tidak mau membantunya karena sang burung tahu bahwa sang karkal sering bermusuhan dengan burung puyuh namun hal itu tidak membuat burung puyuh meninggalkannya.

Akhirnya burung puyuh memberikan bantuannya kepada sang karkal 

“Tuan kucing telinga panjang, apa aku boleh membantumu?” kata sang burung puyuh.

“Kau ini sedang mengejekku ya, aku ini seekor kucing dan kau seekor burung bisa saja aku menangkapmu ketika kau membantuku,” jelas sang karkal pada burung puyuh.

“Hal itu tidak membuatku mengurungkan niatku membantumu, begini saja tuan telinga panjang selama aku mengobatimu kita lupakan permusuhan kita dan setelah kau sembuh baru kita boleh bermusuhan lagi bagaimana kau setuju?” jelas sang burung puyuh.

 “Baiklah lagi pula aku tak sanggup mengejarmu dengan kakiku yang seperti ini, aku setuju dengan usulanmu.”

Sang burung mengobati luka kaki kucing karkal hingga sembuh dan kini sang karkal mampu melompat dan berlari seperti biasa

“Kau telah mengobati lukaku burung yang tak bisa terbang, hingga aku mampu berburu lagi, wahai burung puyuh tadinya setelah aku sembuh aku akan langsung menyerangmu namun aku tidak akan melakukan sesuatu hal baik yang telah kau lakukan padaku meskipun kita adalah musuh, aku akan selalu mengingat jasamu,” kata sang karkal.

Sang kucing itu langsung meninggalkan burung puyuh sambil berlari dan meloncat-loncat ke bebatuan.

***

Dono berhenti baca bukunya.

"Cerita yang bagus banget. Pinter yang membuatnya," kata Dono.

Dono pun membaca pesan moral yang tertulis di buku.

"Kisah Kucing Karkal dan Burung Puyuh adalah tolonglah orang lain yang kesusahan walaupun dia sering berbuat tidak baik terhadap kita. Balaslah kebaikan dengan kebaikan pula," kata Dono.

Dono memahami pesan moral tersebut. Buku di tutup sama Dono dan di taruh di meja. Dono beranjak dari duduk dari ruang tamu ke ruang tengah, ya untuk menonto Tv. Kasino dan Indro masih asik nonton acara Tv yang bagus banget, ya lawak gitu. Donolah bersama Kasino dan Indro. Ketiganya nonton acara Tv yang bangus banget gitu.

Thursday, June 17, 2021

ALIBABA DAN GEROMBOLAN PERAMPOK

Dono, Kasino dan Indro selesai dari sholat jum'at segera pulang ke rumah. Sampai di rumah. Dono mengetik di kamarnya dengan baik. Kasino menonton Tv di ruang tengah, ya acara Tv yang di tonton berita seputar ini dan itu...pokoknya menarik di tonton saja. Indro di ruang tamu, ya ingin main game di Hp-nya. Saat melihat bukunya Dono di meja, Indro jadi tertarik gitu. Indro mengambil buku tersebut.

"Alibaba dan gerombolan perampok. Judul buku ini," kata Indro.

Indro mulai membuka buku tersebut dan membacanya dengan baik banget.

Isi buku yang di baca Indro :

Dahulu kala, hiduplah dua bersaudara di sebuah kerajaan di negeri Arab. Mereka adalah Kassim dan Alibaba. Kassim sehari-hari berdagang di pasar. Sedangkan adiknya, Alibaba, adalah seorang penebang kayu. Suatu hari, seperti biasanya Alibaba memotong kayu di hutan. Saat sedang mengayunkan kapaknya, Alibaba mendengar suara tanah yang berdebam karena kaki kuda. Alibaba berhenti sejenak untuk melihat siapa yang datang. Ia sangat terkejut ketika melihat puluhan orang berkuda mendekat ke arahnya. Alibaba segera berbalik dan mencari tempat sembunyi. Sayangnya, ia tak menemukan tempat yang cukup aman. Tanpa pikir panjang Alibaba segera memanjat pohon. Dahan dan daun menutupi tubuhnya sehingga tak terlihat dari kejauhan. Dari atas pohon, Alibaba mengamati orang-orang yang datang. Tak jauh dari pohon tempat Alibaba bersembunyi, orang-orang itu menambatkan kuda-kudanya. Mereka turun dari kuda. Masing-masing memanggul kantong yang besar, kecuali seorang pria bertubuh tinggi besar. 

“Hei! Cepat berkumpul di sini!” panggil pria tinggi besar itu. 

“Orang itu mungkin pemimpin kawanan ini,” gumam Alibaba dari atas pohon. 

Pria-pria lain langsung mendekat dan mengerumuninya. Dugaan Alibaba memang benar. Alibaba terus mengawasi mereka karena penasaran. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan. 

“Buah kurma buah ara, pintu gua cepat buka!” Pria tinggi besar itu berteriak lantang. 

Dalam sekejap, pintu gua terbuka. Rupanya pria itu telah memantrai batu-batu yang menutupi gua sehingga terbuka dengan sendirinya. Alibaba berusaha mengingat-ingat mantra yang diteriakkan pemimpin kawanan itu. Alibaba merasa pegal terus berada di atas pohon. Kawanan pria yang diintainya sudah cukup lama masuk ke dalam gua. Kaki dan tangan Alibaba mulai gemetar. Ia berniat turun dari pohon. Namun, tiba-tiba kawanan pria yang masuk ke gua satu per satu mulai keluar. Alibaba mengurungkan niatnya. Dia bertahan di atas dahan. Kawanan itu keluar sambil tertawa-tawa puas. Kantong-kantong yang mereka panggul sudah tak ada lagi. Mereka keluar dengan tangan kosong. 

“Kita bisa berpesta malam ini!” ujar salah seorang di antaranya. 

“Ya. Hasil yang kita dapatkan cukup banyak. Kita bisa beristirahat barang sebulan,” kata pria lain.

“Kalian benar. Ayo, kita rayakan! Kaki unta tak berkatup, pintu gua cepat tutup!” Pria tinggi besar itu meneriakkan sebuah mantra lagi. 

Batu-batu yang menutup gua bergerak sendiri kembali ke tempatnya. Anak buahnya segera menutupi pintu gua dengan daun kering dan semak-semak. Mereka kembali naik ke kudanya. Satu per satu kuda dipacu pergi meninggalkan gua di tengah hutan itu. Alibaba memastikan semua anggota kawanan itu sudah pergi meninggalkan gua. Perlahan-lahan ia turun dari tempat persembunyiannya. Alibaba mendekati pintu gua. Ia menyingkirkan semak dan dedaunan yang menutupinya. Pintu gua tertutup rapat. Batu-batu menutupinya hingga tanpa celah. Tak ada yang mengira bahwa di balik batu itu ada sebuah gua. Alibaba ingin mencoba masuk ke dalam gua. Ia memastikan tak ada orang lain di sana. Alibaba berusaha mengingat-ingat mantra untuk membuka pintu gua. Beberapa kali ia salah mengucapkannya. Pintu gua tak mau terbuka. 

“Buah kurma kaki unta, pintu gua cepat buka!” ujar Alibaba.

Ia menunggu-nunggu pintu gua terbuka. 

“Ah, salah lagi. Pintunya masih tertutup juga. Apa, ya, tadi mantranya? Kalau terlalu lama di sini aku bisa ketahuan,” gumam Alibaba cemas. 

“Akan kucoba sekali lagi. Kalau tak berhasil, lebih baik aku pulang saja sebelum orang-orang itu kembali.” 

Alibaba maju semakin dekat ke pintu gua. 

“Buah kurma buah ara, pintu gua cepat buka!” ucapnya perlahan.

Kali ini mantra Alibaba benar. Pintu gua mulai terbuka. Batu-batu yang menutup pintu gua satu per satu bergeser ke tepi. Alibaba tersenyum senang. Ia segera masuk ke dalam gua. Gua itu begitu gelap. Alibaba menyalakan salah satu obor yang tergantung di dinding gua. Agar aman, Alibaba memutuskan membaca mantra untuk menutup pintu gua. 

“Kaki unta tak berkatup, pintu gua cepat tutup!” Pintu gua pun kembali tertutup oleh bebatuan. 

Alibaba masuk semakin jauh ke dalam gua. Ia menyusuri lorong gua yang sempit, gelap, dan pengap. Hampir saja Alibaba membatalkan niatnya untuk melihat isi gua. Namun, Alibaba diliputi rasa penasaran yang besar. 

“Apa, ya, yang mereka simpan di dalam gua ini? Semoga bukan sesuatu yang menakutkan atau berbahaya,” gumam Alibaba dalam hati. 

Saat tiba di ujung gua, Alibaba terperangah. Ia kini berada dalam ruangan gua yang jauh lebih luas daripada lorong yang ia lewati sebelumnya. Yang lebih membuatnya takjub adalah barang-barang yang terkumpul di sana. Sinar obor yang dibawa Alibaba memantul dan membuat benda-benda berharga di hadapan Alibaba tampak berkilauan. Perhiasan-perhiasan emas, tumpukan koin dinar, pedang berlapis emas, permata-permata yang mahal, dan sutra-sutra yang indah terhampar di depannya. Alibaba hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya. 

“Orang-orang itu sepertinya para perampok dan semua barang berharga ini pasti hasil curian mereka. Akan berbahaya bila aku berlama-lama di sini. Lebih baik aku segera pergi,” kata Alibaba pada dirinya sendiri. 

Namun sebelum meninggalkan gua itu, Alibaba memenuhi kantong-kantong bajunya dengan beberapa perhiasan. Ia segera kembali ke rumah. Alibaba berlari sekencangnya sampai hampir kehabisan napas.

“Ada apa denganmu, Suamiku?” tanya istri Alibaba. 

Ia terkejut melihat suaminya datang sambil berlari. 

“Minumlah dulu, tenangkan dirimu.” 

Alibaba menghabiskan air minum yang dibawakan istrinya. Ia mengatur napasnya yang tersengal-sengal. 

“Apa kau dikejar binatang buas?” tanya istri Alibaba. Alibaba menggeleng. 

“Apa kau bertemu orang jahat?” tanya istrinya lagi. 

Kali ini Alibaba tak menjawab. 

“Lalu apa yang membuatmu terengah-engah seperti ini?” Sang istri semakin penasaran dengan tingkah suaminya. 

“Aku melihat sekawanan perampok saat menebang kayu di hutan,” jawab Alibaba. 

“Ha? Lalu apa yang mereka lakukan? Apa mereka melukaimu?” istri Alibaba tampak khawatir.

“Tidak. Mereka tidak melihatku. Aku bersembunyi.”

“Oh, syukurlah kalau begitu,” ujar istri Alibaba lega. 

Alibaba bangkit dari duduknya. Ia menutup semua pintu dan jendela rumahnya. Sang istri heran melihatnya. Alibaba lalu mulai merogoh kantong-kantong bajunya dan mengeluarkan perhiasan yang dibawanya. Sang istri terperangah.

“Dari mana kau dapatkan semua perhiasan ini?” Alibaba pun menceritakan kisahnya.

Perhiasan yang ia ambil dari gua sebenarnya tak banyak dibandingkan jumlah perhiasan yang ada di sana. Namun kehidupan sederhana yang ia jalani bersama istrinya selama ini membuat apa yang ada di hadapan mereka tampak luar biasa banyak.

“Lalu, mau kita apakan perhiasan-perhiasan ini? Aku tak mungkin memakainya. Orang akan curiga melihat perhiasan seindah ini melekat di tubuhku.”

“Ya, kau benar. Percuma juga kita berlama-lama menyimpannya. Tak akan memberikan manfaat apa pun untuk kita.”

“Bagaimana kalau kita jual saja? Kita bisa mendapatkan uang. Kita pakai uang itu untuk modal berdagang. Dengan begitu kau tak perlu bersusah payah lagi menebang kayu di hutan,” usul istri Alibaba.

“Aku setuju dengan usulmu.” 

“Tapi, Suamiku, perhiasan ini barang curian, bukan?” Alibaba mengangguk. 

“Dan kau mengambilnya dari para perampok. Bukankah sama saja kita mencuri?” Istri Alibaba tersadar barang-barang itu bukan hak mereka. 

“Kau betul. Kalau begitu begini saja. Anggap kita meminjam perhiasan curian ini. Kita jual. Uangnya kita pakai untuk modal. Setelah kita mendapatkan untung dan bisa menjalankan usaha kita sendiri, kita kembalikan uang ini kepada yang berhak.”

“Siapa yang berhak? Kita tak tahu perampok itu mencuri dari mana.”

Alibaba pun bingung. 

“Kita kembalikan ke baitul mal saja. Kita katakan yang sebenarnya pada bendahara kota nanti bila usaha kita sudah berjalan baik. Kurasa itu pilihan paling masuk akal.” 

Istrinya akhirnya setuju. 

“Kalau begitu, lebih baik kita timbang dulu emas-emas ini,” tambah Alibaba. 

“Kita tak punya timbangan. Aku akan pergi ke rumah Kassim dan meminjam timbangannya,” balas istrinya. 

“Pergilah. Tapi ingat, rahasiakan semua ini dari siapa pun termasuk Kassim dan istrinya,” pesan Alibaba.

Istrinya mengangguk. Istri Alibaba segera pergi ke rumah iparnya. Kassim berdagang gandum. Ia memiliki beberapa timbangan di tokonya. Ia pasti tak keberatan meminjamkan salah satu timbangannya. Namun, Kassim tak ada di toko saat istri Alibaba tiba di sana. Istri Kassim yang sedang berjualan di toko.

“Kakak, bolehkah aku meminjam salah satu timbanganmu?” 

“Untuk apa?” tanya istri Kassim.

“Ada beberapa barang yang ingin kutimbang.” 

Istri Kassim curiga. Ia lalu berkata, “Baiklah. Sebentar aku ambilkan. Segera kembalikan setelah kau selesai memakainya. Kami juga membutuhkannya.” 

Istri Kassim mengambil salah satu timbangannya. Namun, sebelum ia menyerahkan timbangan itu pada istri Alibaba, ia telah mengoles lem pada timbangan itu. Ia ingin tahu apa yang ditimbang oleh adik iparnya. Setelah istrinya tiba, Alibaba segera menimbang emas-emas yang dia dapatkan. 

“Aku akan menjual sebagian emas ini. Sisanya simpanlah dulu,” ujar Alibaba pada istrinya.

“Kenapa begitu?”

“Untuk berjaga-jaga bila ternyata usaha kita nanti kurang lancar. Setidaknya kita punya cadangan untuk modal berikutnya. Selain itu, orang pasti akan curiga kalau aku menjual emas sebanyak ini.”

Istrinya mengangguk setuju. Ketika Alibaba pergi menjual perhiasan emas, istrinya pergi mengembalikan timbangan yang ia pinjam. Ia sama sekali tak menyadari ada serpihan emas yang menempel di timbangan. 

“Terima kasih, Kak. Aku kembalikan timbanganmu.”

“Ya, taruh saja di situ,” ujar istri Kassim sambil melayani pembeli. 

Saat toko sedang sepi, istri Kassim buru-buru memeriksa timbangan yang dipinjam istri Alibaba.

“Pasti ada yang menempel di sini. Tadi aku sudah mengoleskan lem yang kuat,” gumamnya. 

Istri Kassim sangat terkejut menemukan serpihan emas menempel di timbangannya. Ia bertanya-tanya dari mana adik iparnya yang miskin itu mendapatkan emas, apalagi sampai perlu ditimbang. Istri Kassim menyimpan rasa ingin tahunya. Ia menunggu suaminya pulang untuk memberitahukan kabar itu. 

“Suamiku, aku punya kabar yang menarik untukmu,” kata istri Kassim tak sabar saat suaminya baru saja tiba. 

“Kabar apa?” Kassim meletakkan barang-barang yang ia bawa dari kota untuk dijual di tokonya.

“Masuklah dulu, akan kuceritakan kepadamu.”

Istri Kassim menarik lengan suaminya. Mereka masuk ke dalam rumah. Ia lalu menceritakan tentang emas yang menempel di timbangan yang dipinjam istri Alibaba.

“Emas? Mana mungkin Alibaba punya emas? Hidupnya saja susah. Tak tentu makan setiap hari,” ujar Kassim tak percaya. 

“Tapi ini buktinya!” Istri Kassim masih bersikukuh dengan pendapatnya. 

“Adikmu itu memang miskin. Tak mungkin punya emas yang sampai harus ditimbang dengan timbangan sebesar ini. Tapi siapa tahu dia baru saja menemukan harta karun,” lanjut istri Kassim. 

“Atau merampok?” kata Kassim dengan nada mengejek.

“Tak mungkin itu. Dia bukan orang seperti itu,” sangkal istri Kassim. 

“Ayolah, pergi dan tanyakan padanya! Siapa tahu kita bisa mendapatkan bagian emas seperti mereka,” bujuk istri Kassim. 

Kassim berpikir-pikir. Tak ada salahnya juga bertanya. Kalaupun Alibaba ternyata tak memiliki emas-emas itu, Kassim pun tak rugi apa-apa. Keesokan harinya Kassim pergi ke rumah Alibaba. Alibaba baru saja akan pergi ke kota untuk membeli barang-barang yang akan dijual lagi di pasar. 

“Kakak? Ada perlu denganku?” tanya Alibaba setelah mempersilakan kakaknya masuk ke rumahnya yang reyot. 

Tanpa basa-basi Kassim pun mengutarakan maksudnya. Ia menanyakan pada Alibaba tentang emas yang tertinggal di timbangan yang dipinjamnya. Tentu saja Kassim tidak bilang kalau timbangan itu sudah diberi lem oleh istrinya. Awalnya, Alibaba menolak memberi tahu Kassim. Alibaba saja tak berani mendekat ke gua itu lagi. Terlalu berbahaya jika sampai ketahuan para perampok yang menyimpan curiannya di sana. Tapi Kassim terus mendesaknya. Alibaba pun menyerah. Alibaba menceritakan semua yang dialaminya di hutan pada kakaknya, juga tentang gua dengan pintu bermantra dan barang curian yang ada di dalamnya. 

“Apa isinya hanya perhiasan emas?” tanya Kassim antusias. 

“Tidak. Ada sutra, barang-barang antik, dan benda berharga lainnya.” 

“Kalau begitu aku harus ke sana. Benda-benda itu seperti harta karun saja. Ayo, kau antar aku gua itu!” pinta Kassim. 

“Tidak! Aku tak mau ke sana. Para perampok bisa datang kapan saja. Mereka terlihat sangat bengis. Bisa-bisa kita tak pulang kalau sampai kepergok mereka.” 

“Kita intai saja dulu. Paling tidak tunjukkan saja gua itu padaku. Biar aku yang masuk sendiri.” 

Kassim lebih senang jika ia masuk ke gua itu sendiri. Dengan begitu ia tak perlu membagi harta di gua itu dengan Alibaba. Ia bisa memilikinya sendiri. Kassim memang seorang yang tamak. Alibaba akhirnya mau memenuhi permintaan Kassim. Ia mengantar Kassim sampai ke dekat gua. Mereka bersembunyi di semak-semak. Alibaba memberitahukan mantra untuk membuka dan menutup pintu gua pada kakaknya. 

“Ingat baik-baik. Jangan sampai salah!” pesan Alibaba. 

“Ya, ya, gampang sekali mantranya. Aku pasti ingat. Sekarang pergilah. Kembali pulang. Aku bisa sendiri.” 

Kassim mengusir Alibaba pulang. Ia tak sabar ingin memasuki gua penuh harta itu. Gua terlihat sepi. Tak ada tanda-tanda kehadiran para perampok di sana. Kassim berhasil mengucapkan mantra untuk membuka pintu gua. Namun, ia tidak berpikiran untuk menutup pintu gua itu selagi dia ada di dalam. Kassim membiarkan pintu gua terbuka. Ia berjalan masuk ke dalam gua sampai ke ujungnya. Kassim terkesima melihat barang-barang berharga terhampar di hadapannya. 

“Dengan harta sebanyak ini, aku tak perlu lagi bersusah payah bekerja. Semua ini tak akan habis dimakan sampai tujuh turunan,” ucapnya sambil terkekeh.

Kassim pun mengemasi harta para perampok ke dalam karung. Saking banyaknya, karung yang dibawa Kassim tak cukup untuk menampungnya. Kassim merasa sayang meninggalkan harta yang tersisa. Ia membongkar lagi karungnya dan menata ulang agar harta-harta itu bisa masuk semua di dalamnya. Ketamakan mengalahkan kewaspadaannya. Kassim begitu asyik dengan harta-harta itu. Ia tak menyadari ada suara gaduh di luar sana. Di luar, ternyata kawanan perampok baru saja tiba. Pemimpin mereka terkejut melihat pintu gua terbuka. 

“Siapa yang telah berkhianat? Pintu gua ini telah kuberi mantra. Tak ada yang tahu selain kawanan kita!” ujarnya marah. 

Pemimpin perampok memeriksa satu per satu anak buahnya. Tak satu pun yang absen. Mereka semua lengkap ada di sana. 

“Ini tidak mungkin. Siapa orang yang telah berusaha masuk untuk mencuri harta kita? Cepat periksa!” perintahnya. 

Dua orang anak buahnya yang bertubuh besar masuk ke dalam gua. Mereka berjalan mengendap-endap agar sasaran mereka tak menyadari kehadirannya. Mereka menemukan Kassim sedang memasukkan harta curian mereka ke dalam karungnya. Dengan mudah kedua anak buah perampok itu meringkus Kassim. Kassim sangat terkejut. Ia ketakutan melihat kawanan perampok yang bengis dan mengerikan. Badan mereka besar. Mereka pun membawa senjata tajam. Ada pedang, golok, dan belati yang tajam.

“Habislah aku,” ratap Kassim. 

Ia menyesal berlama-lama di dalam gua. Seharusnya dia tadi tak membongkar lagi karungnya tapi segera membawa harta itu pergi. Tapi sesal tak ada artinya lagi sekarang. Anak buah perampok menyeret Kassim menghadap pemimpinnya. Pemimpin kawanan perampok itu sangat marah. Ia tak mau ada orang lain yang tahu tempat persembunyian mereka. Ia pun memerintahkan anak buahnya menghukum Kassim. Sementara itu, istri Kassim sangat cemas di rumahnya. Sudah tiga hari Kassim tidak pulang. Ia pun menemui Alibaba dan menanyakannya. Alibaba mengatakan Kassim telah pergi ke gua untuk mengambil harta para perampok. 

“Tolonglah, Alibaba, cari kakakmu itu!” ucap istri Kassim sambil menangis. 

Alibaba menjadi iba. Ia pun pergi ke hutan mencari Kassim. Alibaba mengintai gua dari kejauhan. Ketika dirasa aman, ia mendekat ke gua itu. Alibaba terkejut menemukan Kassim tersungkur tak jauh dari pintu gua. Tubuhnya penuh luka. Ketika memeriksanya, ternyata Kassim sudah tak bernyawa. Para perampok pasti telah memergoki kakaknya. Alibaba sangat bersedih. Ia menyesal telah menceritakan tentang gua penuh harta itu pada Kassim. Tapi sekali lagi, sesal sekarang tak ada artinya. Alibaba pun menggendong kakaknya pulang ke rumah untuk dimakamkan. 

***

Indro selesai baca bukunya.

"Ceritanya bangus banget. Kalau tidak salah pernah di angkat film atau sinetron atau kartun ya?!" kata Indro.

Indro menaruh buku di meja. Indro tidak jadi main game di Hp-nya, ya pindah deh duduknya dari ruang tamu ke ruang tengah. Duduklah Indro di sebelah Kasino. Keduanya asik nonton Tv yang acaranya bagus banget gitu.

"Kasino," kata Indro.

"Apa?" kata Kasino.

"Ada orang yang beragama Islam kerja dengan orang China beragama Konghucu. Orang Islam itu mau ibadah, tapi ternyata tidak di bolehkan sama orang China yang agama Konghucu itu...gimana pendapat Kasino?!" kata Indro.

"Orang China yang agama Konghucu itu....ibadah atau tidak?!" kata Kasino.

"Orang China itu...ibadah sesuai dengan keyakinannya sih agama Konghucu," kata Indro.

"Melarang orang ibadah sesuai dengan keyakinannya. Padahal dirinya orang China itu ibadah sesuai dengan keyakinannya, tetap bodoh juga. Berarti...hukumannya di buat sama aja tidak boleh ibadah juga...orang China itu!" kata Kasino.

"Bodoh toh!," kata Indro.

"Cerita Indro itu pernah di angkat ke film, tapi cerita berbeda. Orang China beragama Kristen bekerja dengan orang China beragama Konghucu. Orang China beragama Kristen ingin ibadah, tapi di larang sama Orang China beragama Konghucu," kata Kasino.

"Melarang orang ibadah sesuai dengan keyakinannya. Padahal dirinya orang China itu ibadah sesuai dengan keyakinannya, tetap bodoh juga. Berarti bener omongan Kasino. Hukumannya tetap sama tidak boleh ibadah juga!" kata Indro.

"Semua itu persoalan kecil di masyarakat. Kurangnya pemahaman ilmu agama yang di pelajari atau di yakini dengan baik. Maka itu hal yang di takukin bisa berkembang menjadi besar. Timbullah konflik...berkepanjang. Perang pendapat, mungkin bisa lebih perang tindakan," kata Kasino.

"Ini semua cuma sekedar cerita saja dan ada ceritanya di masyarakat yang pernah merasakannya," kata Indro.

"Ya sudahlah tidak perlu di bahas lebih jauh lagi!" kata Kasino.

"Iya," kata Indro.

Indro dan Kasino, ya fokus nonton Tv karena memang acaranya bagus banget gitu.

CAMPUR ADUK

BAD NEWS BEARS

Malam hari, ya bulan bersinar dengan baik. Setelah nonton Tv yang acaranya menarik dan bagus...tema cinta di chenel MDTV, ya seperti biasa s...

CAMPUR ADUK