CAMPUR ADUK

Tuesday, June 21, 2022

TELPON

Eko dan Budi duduk di depan rumah Eko, ya sambil menikmati minum kopi dan juga makan gorengan lah. Eko dan Budi sedang ngobrol asik, ya membicarakan tentang berita yang ada di Tv gitu. Tiba-tiba terdengar suara telpon berdering gitu. 

"Suara telpon," kata Budi. 

"Tunggu sebentar, ya Budi. Aku ada urusan sebentar. Telpon berdering itu," kata Eko. 

"Iya," kata Budi. 

Eko beranjak dari duduknya, ya masuk ke dalam rumah dan segera mengangkat telpon gitu. 

"Kayanya suara telpon itu. Seperti suara telpon di rumah atau di perusahaan, ya?" kata Budi berpikir panjang. 

Budi duduk dengan baik, ya sambil menikmati minum kopi dan juga makan gorengan lah. Eko bincang-bincang di telpon, ya cukup lama gitu. Ya pada akhirnya selesai juga gitu perbincangan Eko dengan temannya lewat telpon gitu. Eko pun ke depan rumah dan duduk bersama dengan Budi lah. 

"Eko ngomong-ngomong suara telpon kaya suara telpon di rumah atau di perusahaan gitu?" kata Budi. 

"Memang suara telepon di rumah," kata Eko. 

"Setahu aku Eko kan pake Hp, ya untuk urusan komunikasi, ya mengikuti perkembangan zaman gitu. Kok pake telpon di rumah kaya cerita orang kaya zaman dulu punya telpon di rumah gitu. Padahal kan Eko, ya orang tidak punya dan berusaha dengan baik punya gitu?" kata Budi. 

"Memang sih untuk urusan komunikasi, ya pake Hp mengikuti perkembangan zaman gitu. Sedangkan telpon itu, ya sebenarnya ada ceritanya," kata Eko. 

"Ada ceritanya?" kata Budi. 

"Telpon itu sebenarnya, ya awalnya telpon rusak yang mau di buang sama orang kaya dan juga tidak zaman lagi gitu pake telpon di rumah karena cenderung zaman sekarang, ya trenya punya Hp yang kaya di Tv gitu. Kebetulan aku berada di rumah orang kaya itu. Aku meminta telpon yang rusak gitu dengan tujuannya sih untuk nilai gaya-gaya aja kaya orang kaya punya telpon di rumah. Ya orang kaya itu ngasih sih telpon yang rusak. Setelah telpon di panjang di rumah berhari-hari. Aku jadi punya pikiran untuk memperbaikinya telpon tersebut. Ya aku usahakan dengan ilmu ku yang hanya lulusan SMA. Eeeee aku bisa sih memperbaikinya dengan baik telpon tersebut. Aku ingin menggunakan telpon itu jadi aku modifikasi, ya seperti sistem nya seperti Hp, ya pake kartu gitu jadi tidak menyambung ke kabel telkom, ya maklum aku kan orang tidak mampu, ya berusaha dengan baik mampu gitu. Hal hasil dari usahaku memodifikasi telpon dengan baik, ya berhasil. Aku bisa menggunakan telpon itu dengan baik," kata Eko. 

"Ooooo telpon itu di modifikasi sama Eko, ya sistemnya pake kartu kaya di Hp toh. Pinter Eko!" kata Budi. 

"Cuma kreatif saja. Dunia ini masih banyak orang pinter, ya contohnya : berita di Tv saja tentang orang-orang pinter di pemerintahan dan juga swasta gitu," kata Eko yang rendah diri. 

"Aku paham omongan Eko," kata Budi. 

"Emmmm," kata Eko. 

"Eko punya telpon di rumah, hasil kreatifnya Eko. Jadinya Eko bergaya kaya orang kaya punya telpon di rumah, ya tren zaman dulu gitu," kata Budi. 

"Emmmm," kata Eko. 

"Orang pinter itu mudah mendapatkan kerjaan. Ya mungkin Eko ada minat kerja di telkom. Kan Eko bisa memperbaiki dan memodifikasi telpon kaya sistem Hp, ya pake kartu gitu," kata Budi. 

"Kan aku sudah kerja di perusahaan. Ya jadi buruh gitu. Urusan kerja di telkom, ya aku tidak punya pikiran sih masuk kerja di telkom gitu," kata Eko. 

"Jadi jalanin hidup apa adanya sesuai dengan realita, ya Eko. Kerja jadi buruh di perusahaan?" kata Budi. 

"Begitu lah cerita hidup ku dan juga cerita hidup Budi. Kerja jadi buruh karena sebatas lulusan SMA," kata Eko. 

"Kalau kita berasal dari keadaan keluarga 
kaya, ya pasti kuliah. Sarjana di dapatkan. Kerjanya di kantor perusahaan yang megang jabatan tinggi atau kantor pemerintahan, ya jabatan tinggi sih. Ya ada nilai gengsi gitu," kata Budi. 

"Kenyataannya kan kita berasal dari orang tidak punya, ya berusaha dengan baik jadi orang mampu gitu. Semua berkat doa dan usaha yang keras banget gitu," kata Eko. 

"Memang semua berkat doa dan usaha yang keras, ya keluar dari persoalan kemiskinan yang ini dan itu," kata Budi. 

"Ya...kalau begitu kita main catur saja!" kata Eko. 

"Ok...main catur!" kata Budi. 

Eko mengambil papan catur di bawah meja, ya papan catur di taruh di meja lah. Eko dan Budi, ya menyusun dengan baik bidak catur di atas papan catur lah. Keduanya main catur dengan baik lah. 

JAKA SEGER DAN RARA ANTENG

Budi dan Eko duduk di depan rumah Eko, ya sambil menikmati minum kopi dan juga makan gorengan lah.

"Orang-orang yang kerja di acara Tv. Artis yang mengisi acara Tv dengan tujuannya menghibur penonton di rumah. Ya acara bermacam tema. Orang-orang itu ingin apa dari penonton seperti kita gitu Eko? Ya bahan obrolan gitu!" kata Budi.

"Mungkin pujian!" kata Eko.

"Pujian toh!" kata Budi.

"Contohnya : Berita Tv. Tentang Presiden Joko Widodo memuji Ibu Megawati. Presiden Joko Widodo berani memuji Ibu Megawati di khayalak umum. Sekedar pujian saja sih pandangan kita," kata Eko.

"Iya pujian itu lumrah. Karena biasanya aku memuji artis cewek yang aku lihat di fotonya di koran. Ya sekedar pujian gitu. Kalau di depan artis cewek, ya aku tidak berani ah. Takut ada yang marah gitu," kata Budi.

"Kalau kita memuji Ibu Megawati yang pernah memimpin negeri ini jadi Presiden. Ucapannya untuk Ibu Megawati. Terima kasih telah memberikan arahan baik bagi aku dan Budi, ya berdasarkan dari data-data perjalanan Ibu Megawawati. Ya artikel atau buku," kata Eko.

"Memang kita harus mengucapkan terima kasih memberikan arahan yang baik karena Ibu Megawati kan termasuk pemimpin yang membangun negeri ini. Sejarah jadi Presiden. Ya jadi bahan pembelajaran anak bangsa gitu," kata Budi.

"Menghormati pemimpin yang membangun negeri ini. Yaaaaa membangun negeri, ya sulit bagi kita yang hanya lulusan SMA. Bagi yang punya ilmu lulusan Universitas, ya ada mudahnya sih. Karena mereka semua bekerja sama dengan baik, ya demi satu tujuan NKRI. Ya kebaikan bersama hidup di negeri ini," kata Eko.

"Para Pahlawan itu berjuang dengan sekuat tenaga demi NKRI pada masa lalu. Generasi seperti kita menghormatinya dengan baik dan mengisinya dengan hal-hal baik," kata Budi.

"Merdeka," kata Eko.

"Jadi untuk orang-orang mengisi acara Tv. Ya pujiannya. Bagus acara yang di sajikan," kata Budi.

"Ya kalau begitu, ya kali ini aku yang main wayang yang terbuat dari daun sirih, ya menceritakan cerita rakyat!" kata Eko.

"Jadi aku jadi penonton yang baik. Ya nonton wayang yang di mainkan Eko!" kata Budi.

Eko mengambil wayang di kursi kosong, ya di mainkan dengan baik banget gitu. Budi, ya nonton dengan baik.

Isi cerita yang di ceritakan Eko, ya pake wayang gitu :

Jaka Seger dan Rara Anteng adalah sebuah legenda yang beredar di kalangan masyarakat Jawa Timur, Indonesia. Legenda yang mengisahkan tentang percintaan antara Jaka Seger dan Rara Anteng ini menerangkan tentang asal-usul Gunung Brahma (Bromo) dan Gunung Batok, serta asal-usul nama suku Tengger, yaitu sebuah suku yang tinggal di sekitar Gunung Bromo. Bagi suku Tengger, Gunung Bromo merupakan gunung yang suci. Itulah sebabnya, setiap setahun sekali, yaitu setiap bulan Purnama pada bulan ke-10 tahun Saka, mereka melaksanakan upacara yang dikenal dengan Yadnya Kasada. Konon, keberadaan upacara tersebut juga diyakini berasal dari cerita Jaka Seger dan Rara Anteng ini. 

Alkisah, di sebuah rumah sederhana di lereng Gunung Bromo, seorang laki-laki setengah baya sedang duduk menunggu istrinya yang akan melahirkan anak kedua mereka. Laki-laki itu adalah Raja Majapahit yang meninggalkan negerinya dan membuat sebuah dusun di lereng Gunung Bromo bersama beberapa orang pengikutnya karena kalah berperang melawan putranya sendiri. Wajah laki-laki itu tampak begitu pucat dan hatinya diselimuti perasaan cemas melihat istrinya terus merintih menahan rasa sakit.

Saat tengah malam, buah hati yang mereka nanti-nantikan pun lahir ke dunia. Namun anehnya, bayi yang berjenis kelamin perempuan itu tidak menangis seperti halnya bayi-bayi pada umumnya.

“Dinda! Bayi kita seorang perempuan,” kata mantan Raja Majapahit itu.

“Tapi Kanda, kenapa Dinda tidak mendengar suara tangis putri kita?” tanya permaisurinya yang masih terbaring lemas.

“Jangan khawatir, Dinda! Putri kita lahir dengan normal dan sehat. Lihatlah, wajah putri kita tampak bersinar! Dia bagaikan seorang titisan dewa,” ujar mantan Raja Majapahit itu sambil menimang-nimang bayinya yang mungil di depan istrinya.

Pasangan suami-istri itu tampak begitu bahagia mendapat anak. Mereka pun memberi nama bayi itu Rara Anteng, yang berarti seorang perempuan yang diam atau tenang.

Pada saat yang hampir bersamaan, di tempat lain yang tidak jauh dari rumah Anteng dilahirkan, juga lahir seorang bayi laki-laki dari pasangan suami-istri pendeta. Suara tangis bayi yang baru lahir itu sangat keras sehingga memecah kesunyian malam di lereng Gunung Bromo itu. Bayi itu tampak sehat dan montok. Oleh kedua orang tuanya, bayi itu diberi nama Jaka Seger, yang berarti seorang laki-laki yang berbadan segar.

Waktu terus berlalu. Kedua bayi itu pun tumbuh menjadi dewasa. Jaka Seger tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan tampan, sedangkan Rara Anteng tumbuh menjadi gadis yang cantik nan rupawan. Berita tentang kecantikan Rara Anteng pun tersebar hingga ke mana-mana dan menjadi pujaan setiap pemuda. Sudah banyak pemuda yang datang meminangnya, namun tak satu pun yang diterimanya. Rupanya, putri mantan Raja Majapahit itu telah menjalin hubungan kasih dengan Jaka Seger dan cintanya tidak akan berpaling kepada orang lain.

Pada suatu hari, kabar tentang kencantikan Rara Anteng juga sampai ke telinga sesosok raksasa yang tinggal di hutan di sekitar lereng Gunung Bromo. Raksasa yang menyerupai badak itu bernama Kyai Bima. Ia sangat sakti dan kejam. Begitu mendengar kabar tersebut, Kyai Bima pun segera datang meminang Rara Anteng. Jika keinginannya tidak dituruti, maka ia akan membinasakan dusun itu dan seluruh isinya. Hal itulah yang membuat Rara Anteng dan keluarganya kebingungan untuk menolak pinangannya. Sementara Jaka Seger pun tidak dapat berbuat apa-apa karena tidak mampu menandingi kesaktian raksasa itu.

Setelah sejenak berpikir keras, akhirnya Rara Anteng menemukan sebuah cara untuk menolak pinangan Kyai Bima secara halus. Dia akan mengajukan satu persyaratan yang kira-kira tidak sanggup dipenuhi oleh raksasa itu.

“Baiklah, Kyai Bima! Aku akan menerima pinanganmu, tapi kamu harus memenuhi satu syarat,” ujar Rara Anteng.

“Apakah syarat itu! Cepat katakan!” seru Kyai Bima dengan nada membentak.

Mendengar seruan itu, Rara Anteng menjadi gugup. Namun, ia berusaha tetap bersikap tenang untuk menghilangkan rasa gugupnya.

“Buatkan aku danau di atas Gunung Bromo itu! Jika kamu sanggup menyelesaikannya dalam waktu semalam, aku akan menerima pinanganmu,” ujar Rara Anteng.

Dengan penuh percaya diri dan kesaktian yang dimilikinya, Kyai Bima menyanggupi persyaratan itu dan menganggap bahwa persyaratan itu sangatlah mudah baginya.

“Hanya itukah permintaanmu, wahai Rara Anteng?” tanya raksasa itu dengan nada angkuh.

“Iya, hanya itu. Tapi ingat, danau itu harus selesai sebelum ayam berkokok!” seru Rara Anteng mengingatkan raksasa itu.

Mendengar jawaban Rara Anteng, raksasa itu tertawa terbahak-bahak, lalu bergegas pergi ke puncak Gunung Bromo. Setibanya di sana, ia pun mulai mengeruk tanah dengan menggunakan batok (tempurung) kelapa yang sangat besar. Hanya beberapa kali kerukan, ia telah berhasil membuat lubang besar. Ia terus mengeruk tanah di atas gunung itu tanpa mengenal lelah.

Rara Anteng pun mulai cemas. Ketika hari menjelang pagi, pembuatan danau itu hampir selesai, tinggal beberapa kali kerukan lagi.

“Aduh, mampuslah aku!” ucap Rara Anteng cemas, “raksasa itu benar-benar sakti. Apa yang harus kulakukan untuk menghentikan pekerjaannya?”

Rara Anteng kembali berpikir keras. Akhirnya ia memutuskan untuk membangunkan seluruh keluarga dan tetangganya. Kaum laki-laki diperintahkan untuk membakar jerami, sedangkan kaum perempuan diperintahkan untuk menumbuk padi. Tak berapa lama kemudian, cahaya kemerah-merahan pun mulai tampak dari arah timur. Suara lesung terdengar bertalu-talu, dan kemudian disusul suara ayam jantan berkokok bersahut-sahutan.

Mengetahui tanda-tanda datangnya waktu pagi tersebut, Kyai Bima tersentak kaget dan segera menghentikan pekerjaannya membuat danau yang sudah hampir selesai itu.

“Sial!” seru raksasa itu dengan kesal, “rupanya sudah pagi. Aku gagal mempersunting Rara Anteng.”

Sebelum Kyai Bima meninggalkan puncak Gunung Bromo, tempurung kelapa yang masih dipegangnya segera dilemparkan. Konon, tempurung kelapa itu jatuh tertelungkup dan kemudian menjelma menjadi sebuah gunung yang dinamakan Gunung Batok. Jalan yang dilalui raksasa itu menjadi sebuah sungai dan hingga kini masih terlihat di hutan pasir Gunung Batok. Sementara danau yang belum selesai dibuatnya itu menjelma menjadi sebuah kawah yang juga masih dapat disaksikan di kawasan Gunung Bromo.

Betapa senangnya hati Rara Anteng dan keluarganya melihat raksasa itu pergi. Tak berapa lama kemudian, Rara Anteng pun menikah dengan Jaka Seger. Setelah itu, Jaka Seger dan Rara Anteng membuka desa baru yang diberi nama Tengger. Nama desa itu diambil dari gabungan akhiran nama Anteng (Teng) dan Seger (Ger). Mereka pun hidup berbahagia.

Setelah bertahun-tahun mereka hidup menikmati manisnya perkawinan dan kehidupan berumah tangga, tiba-tiba muncul keresahan di hati mereka.

“Dinda, sudah bertahun-tahun kita menikah, namun belum juga dikaruniai anak. Padahal kita sudah mencoba berbagai jenis obat,” keluh Jaka Seger kepada istrinya.

“Sabarlah, Kanda! Sebaiknya jangan terlalu cepat berputus asa. Kita serahkan saja semua kepada Tuhan Yang Mahakuasa,” bujuk Rara Anteng.

Baru saja istrinya selesai berucap, tiba-tiba Jaka Seger mengucapkan ikrar, “Jika Tuhan mengaruniai kita 25 anak, aku berjanji akan mempersembahkan seorang di antara mereka untuk sesajen di kawah Gunung Bromo.”

Begitu Jaka Seger selesai mengucapkan ikrar itu, tiba-tiba api muncul dari dalam tanah di kawah Gunung Bromo. Hal itu sebagai pertanda bahwa doa Jaka Seger didengar oleh Tuhan Yang Mahakuasa. Tak berapa lama kemudian, Rara Anteng pun diketahui sedang mengandung. Alangkah bahagianya hati Jaka Seger mendengar kabar baik itu. Sembilan bulan kemudian, buah hati yang telah lama mereka nanti-nantikan pun lahir ke dunia. Kebahagiannya pun semakin sempurna ketika mengetahui bahwa istrinya melahirkan anak kembar. Setahun kemudian, Rara Anteng melahirkan lagi anak kembar. Begitulah seterusnya, setiap tahun Rara Anteng melahirkan anak kembar, ada kembar dua dan ada pula kembar tiga, hingga akhirnya anak mereka berjumlah dua puluh lima orang.

“Terima kasih, Tuhan! Engkau telah mengabulkan doa hamba!” ucap Jaka Seger.

Jaka Seger bersama istrinya merawat dan membesarkan kedua puluh lima anak tersebut hingga tumbuh menjadi dewasa. Jaka Seger sangat menyayangi semua anaknya, terutama putra bungsunya yang bernama Dewa Kusuma. Karena terlena dalam kebahagiaan, ia lupa janjinya kepada Tuhan. Suatu malam, Tuhan pun menegurnya melalui mimpi.

“Mana janjimu, wahai Jaka Seger! Serahkanlah salah seorang putramu ke kawah Gunung Bromo!” seru suara itu dalam mimpi Jaka Seger.

Jaka Seger langsung tersentak kaget saat tersadar dari mimpinya.

“Ya, Tuhan! Aku telah lupa pada janjiku,” ucap Jaka Seger, “Aduh, bagaimana ini? Siapa di antara putra-putriku yang harus kupersembahkan, padahal aku sangat menyayangi mereka semua?”

Akhirnya, Jaka Seger bersama istrinya mengumpulkan seluruh putra-putrinya dalam sebuah pertemuan keluarga. Jaka Seger kemudian menceritakan perihal nazarnya itu kepada mereka. Wajah mereka pun serempak berubah menjadi pucat pasi. Apalagi ketika dimintai kesediaan salah seorang dari mereka untuk dijadikan persembahan.

“Ampun, Ayah! Ananda tidak mau menjadi persembahan di kawah itu. Ananda tidak mau mati muda,” sahut anak sulungnya keberatan.

“Dengarlah, wahai putra-putriku! Jika Ayahanda tidak menunaikan nazar ini, maka desa ini dan seluruh isinya akan binasa,” jelas Jaka Seger.

Dengan sigap, Dewa Kusuma langsung menanggapi penjelasan ayahandanya.

“Ampun, Ayah! Jika itu memang sudah menjadi nazar Ayah, Ananda bersedia untuk dijadikan persembahan di kawah Gunung Bromo,” kata Dewa Kusuma.

Jaka Seger tersentak kaget. Ia tidak pernah mengira sebelumnya jika putra bungsunyalah yang mempunyai keberanian dan kerelaan untuk dijadikan persembahan.

“Apakah kamu yakin dengan ucapanmu itu, hai Dewa Kusuma?” tanya ayahnya.

“Iya, Ayah! Ananda rela berkorban demi menyelamatkan dusun ini dan seluruh isinya,” jawab Dewa Kusuma, “tapi, Ananda mempunyai satu permintaan.”

“Apakah permintaanmu, Putraku?” tanya ayahnya.

Dewa Kusuma pun menyampaikan permintaannya kepada Ayah, Ibu, dan saudara-saudaranya agar dirinya diceburkan ke dalam kawah itu pada tanggal 14 bulan Kasada (penanggalan Jawa). Ia juga meminta agar setiap tahun pada bulan dan tanggal tersebut diberi sesajen berupa hasil bumi dan ternak yang dihasilkan oleh ke-24 saudaranya. Permintaan Dewa Kusuma pun diterima oleh seluruh anggota keluarganya.

Pada tanggal 14 bulan Kasada, Dewa Kusuma pun diceburkan ke kawah Gunung Bromo dengan diiringi isak tangis oleh seluruh keluarganya. Nazar Jaka Seger pun terlaksana sehingga dusun itu atau kini dikenal Desa Tengger terhindar dari bencana.

Cerita Jaka Seger dan Rara Anteng dari daerah Jawa Timur. Hingga kini, kawah yang memiliki garis tengah lebih kurang 800 meter (utara-selatan) dan 600 meter (timur-barat) ini telah menjadi obyek wisata menarik di kawasan Gunung Bromo. Untuk mengenang dan menghormati pesan Dewa Kusuma, masyarakat suku Tengger melaksanakan upacara persembahan sesaji ke kawah Gunung Bromo yang dikenal dengan istilah upacara Yadnya Kasada. Upacara yang juga merupakan daya tarik wisata ini dilaksanakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama, yaitu sekitar tanggal 14 – 15 di bulan Kasada (kepuluh) menurut penanggalan Jawa.

Pesen moral yang terkandung dalam cerita di atas adalah sifat rela berkorban demi kebahagiaan kedua orang tua dan demi keselamatan masyarakat umum. Sifat ini tergambar pada sifat dan perilaku Dewa Kusuma yang rela mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan keluarga dan seluruh penduduk Desa Tengger dari kebinasaan.

***
Eko cukup lama main wayangnya dan akhirnya selesai. Eko telah menjelaskan dengan baik cerita yang ia ceritakan. Budi memuji permainan wayang Eko dan ceritanya begitu. Eko menaruh wayang di kursi kosong lah. Eko dan Budi melanjutkan acara main catur dengan baik.

Monday, June 20, 2022

TIMUN EMAS


Budi dan Eko duduk depan rumah Budi, ya sambil menikmati minum kopi dan juga makan gorengan lah.

"Ada sebuah kata-kata yang jadi pikiran ku?" kata Budi.

"Kata-kata yang menggangu pikiran Budi. Cerita dong Budi, ya mungkin aku bisa mengurangi beban pikiran Budi!" kata Eko.

"Ada seorang pemuda. Ya lulusan sarjana S1. Pemuda itu menggeletakkan ijazah S1. Karena kebanyakkan orang itu, ya menggunakan ijazah untuk melamar kerjaan di pemerintahan atau swasta, termasuk kerjaan jadi staf di Universitas atau dosen gitu. Ya kalau dosen tuh pemuda yang pernah di ajarkan pada masa mahasiswa, ya kecewalah.....ijazah di geletakkan begitu saja, ya kenangan gitu. Pemuda itu berkata "Hidup ini butuh pembuktian. Ijazah kah apakah ilmu kah yang membuat manusia jadi sukses?" kata Budi.

"Oooooo kata-kata itu toh. Apakah ijazah apakah ilmu, ya membuat manusia sukses? Jawabanya Abdul!" kata Eko.

"Kok...Abdul, ya Eko?" kata Budi.

"Abdul itu membuktikan ilmunya, ya tidak menggunakan ijazahnya. Ya ijazah SMA punya Abdul di geletakkan saja, ya kenangan gitu. Abdul kan membangun usahanya, ya menggunakan ilmu. Jadi pembuktiannya manusia sukses itu.....Ilmu. Abdul itu, ya pinter," kata Eko.

"Iya juga ya. Ada kesamaan cerita cuma status pendidikan saja. Pemuda itu, ya membangun usaha dengan ilmunya," kata Budi.

"Pemuda itu membangun usahanya. Kalau berhasil dengan baik, ya sukses. Jadi dari usahanya itu menyerap tenaga manusia untuk di pekerjaan. Yang di cari pemerintahan orang-orang pinter yang membatu pemerintahan, ya mengurangi data pengangguran lah. Membangun usaha itu lah salah satu caranya," kata Eko.

"Omongan Eko benerlah. Sebenarnya cerita yang kita obrolin tentang pemuda, ya di ambil dari artikel yang aku baca tentang orang-orang sukses. Ya pemuda itu membangun usaha dengan ilmu. Dosennya, tahu kebenaran tentang mahasiswa yang pernah di ajarkannya, ya berhasil menjadi orang sukses. Dosennya bangga karena pembuktian pemuda itu, ya ilmu jawaban yang benar," kata Budi.

"Emmmm. Jadi cuma sekedar bahan obrolan saja kata-kata yang jadi beban di pikirkan Budi?" kata Eko.

"Ya iya lah Eko. Sekedar bahan obrolan. Kita kan cuma lulusan SMA, ya masih harus banyak belajar dari orang-orang sukses gitu," kata Budi.

"Aku paham omongan Budi," kata Eko.

"Kalau begitu aku mau cerita, ya pake wayang terbuat kardus bekas,  ya kreatif. Cerita rakyat!" kata Budi.

"Ya aku jadi penonton yang baik!" kata Eko.

Isi cerita yang ceritakan Budi :

Timun Mas merupakan cerita rakyat dari Provinsi Jawa Tengah. Mengisahkan tentang kehidupan Mbok Sirni beserta anak angkatnya, Timun Mas, dalam melepaskan diri dari raksasa. 

Alkisah, Mbok Sirni telah lama mendambakan seorang anak. Namun, hingga suaminya meninggal dunia, ia belum juga dikaruniai seorang anak. Meskipun kini Mbok Sirni telah tua, namun keinginannya untuk memiliki seorang anak tidaklah pudar. Ia berharap ada seseorang baik hati bersedia memberikan anak padanya untuk ia rawat. Suatu hari, datanglah seorang raksasa mendatangi Mbok Sirni. 

Tentu saja Mbok Sirni sangat ketakutan. Ia meminta si raksasa untuk tidak memakannnya. 

“Tuan raksasa, jangan makan hamba. Tubuh hamba kurus lagi sudah tua, rasanya pahit bila dimakan.” kata Mbok Sirni gemetaran.

“Memangnya siapa mau memakanmu hai ibu tua. Aku datang kemari untuk memberikan bibit-bibit mentimun. Tanamlah biji-bijian mentimun ini. Engkau akan mendapatkan apa yang sudah lama engkau inginkan. Sebagai ungkapan terima kasihmu nanti atas pemberianku, engkau harus membagi dua hasilnya denganku.” kata si raksasa.

Meskipun merasa kebingungan dengan pemberian raksasa, tapi Mbok Sirni menyanggupi untuk membagi dua hasilnya. Ia lantas menanam bibit-bibit mentimun itu di halaman rumahnya. Hanya berselang beberapa hari kemudian bibit tersebut telah tumbuh menjadi pohon mentimun juga berbuah. Diantara buah mentimun tersebut, ada satu mentimun berukuran besar berwana keemasan.

Mbok Sirni kemudian membelah buah mentimun sangat besar itu. Alangkah terkejutnya Mbok Sirni mengetahui bahwa di dalam mentimun terdapat seorang bayi perempuan sangat cantik jelita. Ia segera mengambilnya, memandikannya kemudian memberikannya pakaian. Mbok Sirni sangat bahagia karena keinginannya mendapatkan buah hati telah terkabul. Ia memberinya nama Timun Mas.

Waktu berlalu, Timun Mas telah tumbuh menjadi seorang anak gadis rajin suka membantu dan menyayangi ibunya. Mbok Sirni merawatnya baik-baik juga sangat menyayanginya. Suatu ketika Mbok Sirni pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar. Di tengah hutan Ia bertemu dengan raksasa yang dulu memberinya bibit timun mas. Sang Raksasa meminta Mbok Sirni menepati janjinya untuk membagi dua hasil tanaman bibit mentimun yang ia berikan. 

Mbok Sirni terlihat ketakutan. Mbok Sirni merasa tidak rela jika harus menyerahkan Timun Mas pada raksasa. Ia segera meminta waktu pada raksasa. Sang raksasa pun menyanggupinya. Si raksasa memberi waktu Mbok Sirni untuk menyerahkan Timun Mas setelah Ia berusia 17 tahun. Mbok Sirni segera pulang ke rumahnya. Ia masih punya waktu beberapa tahun untuk memikirkan cara menghadapi raksasa. 

Hingga suatu malam, Mbok Sirni bermimpi sangat aneh, dimana Ia mendapatkan perintah agar menemui pertapa sakti di Gunung Gundul. Keesokan harinya ia segera pergi ke Gunung Gundul untuk menemui pertapa sakti. Setelah bersusah payah mendaki Gunung Gundul, akhirnya Mbok Sirni berhasil menemui pertapa sakti tersebut. Pada pertapa sakti, Mbok Sirni menceritakan masalahnya. 

Mbok Sirni juga menceritakan mimpinya bahwa Ia harus menemui pertapa sakti untuk meminta tolong. Sang pertapa sakti bersedia membantu Mbok Sirni. Ia memberi Mbok Sirni, satu biji tanaman mentimun, jarum, sebutir garam, dan sepotong terasi. 

“Berikan benda-benda ini semua pada anakmu. Katakan padanya, jika Ia dikejar raksasa, maka lemparkanlah benda-benda tersebut secara berurutan, niscaya Ia akan selamat dari kejaran raksasa.” kata pertapa sakti pada Mbok Sirni. 

Mbok Sirni mengucapkan terima kasih, kemudian segera mohon diri. Sesampainya di rumah, Mbok Sirni kemudian menyerahkan barang-barang pemberian pertapa sakti pada Timun Mas. Mbok Sirni memberitahu Timun Mas, untuk melemparkannya secara berurutan jika kelak datang raksasa. Beberapa tahun kemudian, usia Timun Mas telah mencapai umur 17 tahun. Mbok Sirni merasa was-was karena teringat akan janjinya pada raksasa untuk menyerahkan Timun Mas. 

Ia tidak rela Timun Mas yang Ia rawat sejak kecil dimakan oleh raksasa. Pada suatu hari cerah, Mbok Sirni dan Timun Mas tengah bekerja di kebun. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh langkah kaki. Mbok Sirni sadar bahwa raksasa datang untuk mengambil Timun Mas. Mbok Sirni segera meminta Timun Mas untuk melarikan diri. Mbok Sirni mengingatkannya untuk melemparkan barang-barang pemberian pertapa sakti. 

“Cepat larilah kau nak! Raksasa datang kemari untuk memakanmu. Jangan lupa untuk melemparkan barang-barang pemberian pertapa sakti.” kata Mbok Sirni.

“Baik Mbok, aku akan lari sekarang.” kata Timun Mas seraya berlari ke arah hutan.

Di luar rumah, raksasa berteriak-teriak memanggil Mbok Sirni. 

“Hai nenek tua! Mana janjimu? Serahkan anakmu sekarang. Aku sudah tidak sabar untuk memakannya.” teriak raksasa pada Mbok Sirni.

Mbok Sirni segera keluar rumah kemudian berkata, “Hai raksasa, anakku telah pergi ke hutan menuju tempat tinggalmu. Ia sudah siap untuk menjadi santapanmu.”

Mata raksasa segera melihat ke hutan di sekeliling rumah Mbok Sirni. Ia melihat Timun Mas tengah berlari kencang. Tidak menunggu lama, raksasa segera mengejar Timun Mas. Meskipun jarak mereka jauh, namun raksasa mampu mendekati Timun Mas karena langkah kakinya sangat lebar. Mengetahui raksasa telah berada dekat dengannya, Timun Mas segera melemparkan sebutir biji mentimun ke arah raksasa. 

Kejadian aneh terjadi. Bibit mentimun itu segera tumbuh menjadi pohon mentimun sangat lebat lagi berbuah banyak. Raksasa kemudian mengulurkan tangannya mengambil buah-buah mentimun lantas memakannya sampai habis. Namun perut raksasa masih merasa lapar, Ia kembali mengejar Timun Mas. Timun Mas lalu melemparkan jarum ke arah raksasa. 

Kembali hal aneh terjadi. Jarum tersebut berubah menjadi hutan bambu sangat lebat rapat. Raksasa berusaha melewati hutan bambu tersebut. Kakinya terluka karena tertancap batang bambu tajam. Namun raksasa tidak memperdulikan lukanya. Ia terus mengejar Timun Mas. Timun Mas kemudian melemparkan sebutir garam ke arah raksasa. Segera saja sebutir garam tersebut berubah menjadi lautan sangat luas. 

Raksasa pun terpaksa berenang melewati lautan tersebut. Setelah berhasil menyeberangi lautan, napasnya tersengal-sengal karena sangat kelelahan. Melihat raksasa berhasil menyeberangi lautan, Timun Mas segera melemparkan sepotong terasi ke arah raksasa. Sepotong terasi itu kemudian berubah menjadi lumpur hisap sangat luas. Raksasa terhisap oleh lumpur tersebut. 

Ia berusaha keras untuk keluar dari lumpur mematikan tersebut namun apa daya tenaganya sudah habis saat menyeberangi lautan. Si Raksasa akhirnya tenggelam ke dalam lumpur hisap hingga tidak mampu keluar lagi. Timun Mas segera terduduk karena sangat kelelahan. Ia bersyukur karena si raksasa akhirnya bisa dilumpuhkan. Setelah tenaganya terkumpul kembali, Timun Mas pun pulang ke rumahnya menemui Mbok Sirni yang sudah ia anggap sebagai ibu kandungnya.

Mbok Sirni menunggu di rumah dengan sangat cemas. Ia sangat kuatir kalau raksasa berhasil memakan putri kesayangannya. Namun, betapa gembiranya Mbok Sirni melihat kepulangan Timun Mas. Mereka segera berpelukan sambil menangis bahagia. Akhirnya Mbok Sirni dapat hidup bahagia bersama putrinya, Timun Mas, tanpa gangguan dari raksasa.

***

Budi pun cukup lama main wayangnya dan akhirnya selesai juga. Wayang di taruh di kursi kosong. Eko memuji permainan wayang Budi, ya cerita juga sih. Ya keduanya melanjutkan acara dengan main catur lah.

CAMPUR ADUK

BAD NEWS BEARS

Malam hari, ya bulan bersinar dengan baik. Setelah nonton Tv yang acaranya menarik dan bagus...tema cinta di chenel MDTV, ya seperti biasa s...

CAMPUR ADUK