CAMPUR ADUK

Tuesday, June 21, 2022

TELPON

Eko dan Budi duduk di depan rumah Eko, ya sambil menikmati minum kopi dan juga makan gorengan lah. Eko dan Budi sedang ngobrol asik, ya membicarakan tentang berita yang ada di Tv gitu. Tiba-tiba terdengar suara telpon berdering gitu. 

"Suara telpon," kata Budi. 

"Tunggu sebentar, ya Budi. Aku ada urusan sebentar. Telpon berdering itu," kata Eko. 

"Iya," kata Budi. 

Eko beranjak dari duduknya, ya masuk ke dalam rumah dan segera mengangkat telpon gitu. 

"Kayanya suara telpon itu. Seperti suara telpon di rumah atau di perusahaan, ya?" kata Budi berpikir panjang. 

Budi duduk dengan baik, ya sambil menikmati minum kopi dan juga makan gorengan lah. Eko bincang-bincang di telpon, ya cukup lama gitu. Ya pada akhirnya selesai juga gitu perbincangan Eko dengan temannya lewat telpon gitu. Eko pun ke depan rumah dan duduk bersama dengan Budi lah. 

"Eko ngomong-ngomong suara telpon kaya suara telpon di rumah atau di perusahaan gitu?" kata Budi. 

"Memang suara telepon di rumah," kata Eko. 

"Setahu aku Eko kan pake Hp, ya untuk urusan komunikasi, ya mengikuti perkembangan zaman gitu. Kok pake telpon di rumah kaya cerita orang kaya zaman dulu punya telpon di rumah gitu. Padahal kan Eko, ya orang tidak punya dan berusaha dengan baik punya gitu?" kata Budi. 

"Memang sih untuk urusan komunikasi, ya pake Hp mengikuti perkembangan zaman gitu. Sedangkan telpon itu, ya sebenarnya ada ceritanya," kata Eko. 

"Ada ceritanya?" kata Budi. 

"Telpon itu sebenarnya, ya awalnya telpon rusak yang mau di buang sama orang kaya dan juga tidak zaman lagi gitu pake telpon di rumah karena cenderung zaman sekarang, ya trenya punya Hp yang kaya di Tv gitu. Kebetulan aku berada di rumah orang kaya itu. Aku meminta telpon yang rusak gitu dengan tujuannya sih untuk nilai gaya-gaya aja kaya orang kaya punya telpon di rumah. Ya orang kaya itu ngasih sih telpon yang rusak. Setelah telpon di panjang di rumah berhari-hari. Aku jadi punya pikiran untuk memperbaikinya telpon tersebut. Ya aku usahakan dengan ilmu ku yang hanya lulusan SMA. Eeeee aku bisa sih memperbaikinya dengan baik telpon tersebut. Aku ingin menggunakan telpon itu jadi aku modifikasi, ya seperti sistem nya seperti Hp, ya pake kartu gitu jadi tidak menyambung ke kabel telkom, ya maklum aku kan orang tidak mampu, ya berusaha dengan baik mampu gitu. Hal hasil dari usahaku memodifikasi telpon dengan baik, ya berhasil. Aku bisa menggunakan telpon itu dengan baik," kata Eko. 

"Ooooo telpon itu di modifikasi sama Eko, ya sistemnya pake kartu kaya di Hp toh. Pinter Eko!" kata Budi. 

"Cuma kreatif saja. Dunia ini masih banyak orang pinter, ya contohnya : berita di Tv saja tentang orang-orang pinter di pemerintahan dan juga swasta gitu," kata Eko yang rendah diri. 

"Aku paham omongan Eko," kata Budi. 

"Emmmm," kata Eko. 

"Eko punya telpon di rumah, hasil kreatifnya Eko. Jadinya Eko bergaya kaya orang kaya punya telpon di rumah, ya tren zaman dulu gitu," kata Budi. 

"Emmmm," kata Eko. 

"Orang pinter itu mudah mendapatkan kerjaan. Ya mungkin Eko ada minat kerja di telkom. Kan Eko bisa memperbaiki dan memodifikasi telpon kaya sistem Hp, ya pake kartu gitu," kata Budi. 

"Kan aku sudah kerja di perusahaan. Ya jadi buruh gitu. Urusan kerja di telkom, ya aku tidak punya pikiran sih masuk kerja di telkom gitu," kata Eko. 

"Jadi jalanin hidup apa adanya sesuai dengan realita, ya Eko. Kerja jadi buruh di perusahaan?" kata Budi. 

"Begitu lah cerita hidup ku dan juga cerita hidup Budi. Kerja jadi buruh karena sebatas lulusan SMA," kata Eko. 

"Kalau kita berasal dari keadaan keluarga 
kaya, ya pasti kuliah. Sarjana di dapatkan. Kerjanya di kantor perusahaan yang megang jabatan tinggi atau kantor pemerintahan, ya jabatan tinggi sih. Ya ada nilai gengsi gitu," kata Budi. 

"Kenyataannya kan kita berasal dari orang tidak punya, ya berusaha dengan baik jadi orang mampu gitu. Semua berkat doa dan usaha yang keras banget gitu," kata Eko. 

"Memang semua berkat doa dan usaha yang keras, ya keluar dari persoalan kemiskinan yang ini dan itu," kata Budi. 

"Ya...kalau begitu kita main catur saja!" kata Eko. 

"Ok...main catur!" kata Budi. 

Eko mengambil papan catur di bawah meja, ya papan catur di taruh di meja lah. Eko dan Budi, ya menyusun dengan baik bidak catur di atas papan catur lah. Keduanya main catur dengan baik lah. 

JAKA SEGER DAN RARA ANTENG

Budi dan Eko duduk di depan rumah Eko, ya sambil menikmati minum kopi dan juga makan gorengan lah.

"Orang-orang yang kerja di acara Tv. Artis yang mengisi acara Tv dengan tujuannya menghibur penonton di rumah. Ya acara bermacam tema. Orang-orang itu ingin apa dari penonton seperti kita gitu Eko? Ya bahan obrolan gitu!" kata Budi.

"Mungkin pujian!" kata Eko.

"Pujian toh!" kata Budi.

"Contohnya : Berita Tv. Tentang Presiden Joko Widodo memuji Ibu Megawati. Presiden Joko Widodo berani memuji Ibu Megawati di khayalak umum. Sekedar pujian saja sih pandangan kita," kata Eko.

"Iya pujian itu lumrah. Karena biasanya aku memuji artis cewek yang aku lihat di fotonya di koran. Ya sekedar pujian gitu. Kalau di depan artis cewek, ya aku tidak berani ah. Takut ada yang marah gitu," kata Budi.

"Kalau kita memuji Ibu Megawati yang pernah memimpin negeri ini jadi Presiden. Ucapannya untuk Ibu Megawati. Terima kasih telah memberikan arahan baik bagi aku dan Budi, ya berdasarkan dari data-data perjalanan Ibu Megawawati. Ya artikel atau buku," kata Eko.

"Memang kita harus mengucapkan terima kasih memberikan arahan yang baik karena Ibu Megawati kan termasuk pemimpin yang membangun negeri ini. Sejarah jadi Presiden. Ya jadi bahan pembelajaran anak bangsa gitu," kata Budi.

"Menghormati pemimpin yang membangun negeri ini. Yaaaaa membangun negeri, ya sulit bagi kita yang hanya lulusan SMA. Bagi yang punya ilmu lulusan Universitas, ya ada mudahnya sih. Karena mereka semua bekerja sama dengan baik, ya demi satu tujuan NKRI. Ya kebaikan bersama hidup di negeri ini," kata Eko.

"Para Pahlawan itu berjuang dengan sekuat tenaga demi NKRI pada masa lalu. Generasi seperti kita menghormatinya dengan baik dan mengisinya dengan hal-hal baik," kata Budi.

"Merdeka," kata Eko.

"Jadi untuk orang-orang mengisi acara Tv. Ya pujiannya. Bagus acara yang di sajikan," kata Budi.

"Ya kalau begitu, ya kali ini aku yang main wayang yang terbuat dari daun sirih, ya menceritakan cerita rakyat!" kata Eko.

"Jadi aku jadi penonton yang baik. Ya nonton wayang yang di mainkan Eko!" kata Budi.

Eko mengambil wayang di kursi kosong, ya di mainkan dengan baik banget gitu. Budi, ya nonton dengan baik.

Isi cerita yang di ceritakan Eko, ya pake wayang gitu :

Jaka Seger dan Rara Anteng adalah sebuah legenda yang beredar di kalangan masyarakat Jawa Timur, Indonesia. Legenda yang mengisahkan tentang percintaan antara Jaka Seger dan Rara Anteng ini menerangkan tentang asal-usul Gunung Brahma (Bromo) dan Gunung Batok, serta asal-usul nama suku Tengger, yaitu sebuah suku yang tinggal di sekitar Gunung Bromo. Bagi suku Tengger, Gunung Bromo merupakan gunung yang suci. Itulah sebabnya, setiap setahun sekali, yaitu setiap bulan Purnama pada bulan ke-10 tahun Saka, mereka melaksanakan upacara yang dikenal dengan Yadnya Kasada. Konon, keberadaan upacara tersebut juga diyakini berasal dari cerita Jaka Seger dan Rara Anteng ini. 

Alkisah, di sebuah rumah sederhana di lereng Gunung Bromo, seorang laki-laki setengah baya sedang duduk menunggu istrinya yang akan melahirkan anak kedua mereka. Laki-laki itu adalah Raja Majapahit yang meninggalkan negerinya dan membuat sebuah dusun di lereng Gunung Bromo bersama beberapa orang pengikutnya karena kalah berperang melawan putranya sendiri. Wajah laki-laki itu tampak begitu pucat dan hatinya diselimuti perasaan cemas melihat istrinya terus merintih menahan rasa sakit.

Saat tengah malam, buah hati yang mereka nanti-nantikan pun lahir ke dunia. Namun anehnya, bayi yang berjenis kelamin perempuan itu tidak menangis seperti halnya bayi-bayi pada umumnya.

“Dinda! Bayi kita seorang perempuan,” kata mantan Raja Majapahit itu.

“Tapi Kanda, kenapa Dinda tidak mendengar suara tangis putri kita?” tanya permaisurinya yang masih terbaring lemas.

“Jangan khawatir, Dinda! Putri kita lahir dengan normal dan sehat. Lihatlah, wajah putri kita tampak bersinar! Dia bagaikan seorang titisan dewa,” ujar mantan Raja Majapahit itu sambil menimang-nimang bayinya yang mungil di depan istrinya.

Pasangan suami-istri itu tampak begitu bahagia mendapat anak. Mereka pun memberi nama bayi itu Rara Anteng, yang berarti seorang perempuan yang diam atau tenang.

Pada saat yang hampir bersamaan, di tempat lain yang tidak jauh dari rumah Anteng dilahirkan, juga lahir seorang bayi laki-laki dari pasangan suami-istri pendeta. Suara tangis bayi yang baru lahir itu sangat keras sehingga memecah kesunyian malam di lereng Gunung Bromo itu. Bayi itu tampak sehat dan montok. Oleh kedua orang tuanya, bayi itu diberi nama Jaka Seger, yang berarti seorang laki-laki yang berbadan segar.

Waktu terus berlalu. Kedua bayi itu pun tumbuh menjadi dewasa. Jaka Seger tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan tampan, sedangkan Rara Anteng tumbuh menjadi gadis yang cantik nan rupawan. Berita tentang kecantikan Rara Anteng pun tersebar hingga ke mana-mana dan menjadi pujaan setiap pemuda. Sudah banyak pemuda yang datang meminangnya, namun tak satu pun yang diterimanya. Rupanya, putri mantan Raja Majapahit itu telah menjalin hubungan kasih dengan Jaka Seger dan cintanya tidak akan berpaling kepada orang lain.

Pada suatu hari, kabar tentang kencantikan Rara Anteng juga sampai ke telinga sesosok raksasa yang tinggal di hutan di sekitar lereng Gunung Bromo. Raksasa yang menyerupai badak itu bernama Kyai Bima. Ia sangat sakti dan kejam. Begitu mendengar kabar tersebut, Kyai Bima pun segera datang meminang Rara Anteng. Jika keinginannya tidak dituruti, maka ia akan membinasakan dusun itu dan seluruh isinya. Hal itulah yang membuat Rara Anteng dan keluarganya kebingungan untuk menolak pinangannya. Sementara Jaka Seger pun tidak dapat berbuat apa-apa karena tidak mampu menandingi kesaktian raksasa itu.

Setelah sejenak berpikir keras, akhirnya Rara Anteng menemukan sebuah cara untuk menolak pinangan Kyai Bima secara halus. Dia akan mengajukan satu persyaratan yang kira-kira tidak sanggup dipenuhi oleh raksasa itu.

“Baiklah, Kyai Bima! Aku akan menerima pinanganmu, tapi kamu harus memenuhi satu syarat,” ujar Rara Anteng.

“Apakah syarat itu! Cepat katakan!” seru Kyai Bima dengan nada membentak.

Mendengar seruan itu, Rara Anteng menjadi gugup. Namun, ia berusaha tetap bersikap tenang untuk menghilangkan rasa gugupnya.

“Buatkan aku danau di atas Gunung Bromo itu! Jika kamu sanggup menyelesaikannya dalam waktu semalam, aku akan menerima pinanganmu,” ujar Rara Anteng.

Dengan penuh percaya diri dan kesaktian yang dimilikinya, Kyai Bima menyanggupi persyaratan itu dan menganggap bahwa persyaratan itu sangatlah mudah baginya.

“Hanya itukah permintaanmu, wahai Rara Anteng?” tanya raksasa itu dengan nada angkuh.

“Iya, hanya itu. Tapi ingat, danau itu harus selesai sebelum ayam berkokok!” seru Rara Anteng mengingatkan raksasa itu.

Mendengar jawaban Rara Anteng, raksasa itu tertawa terbahak-bahak, lalu bergegas pergi ke puncak Gunung Bromo. Setibanya di sana, ia pun mulai mengeruk tanah dengan menggunakan batok (tempurung) kelapa yang sangat besar. Hanya beberapa kali kerukan, ia telah berhasil membuat lubang besar. Ia terus mengeruk tanah di atas gunung itu tanpa mengenal lelah.

Rara Anteng pun mulai cemas. Ketika hari menjelang pagi, pembuatan danau itu hampir selesai, tinggal beberapa kali kerukan lagi.

“Aduh, mampuslah aku!” ucap Rara Anteng cemas, “raksasa itu benar-benar sakti. Apa yang harus kulakukan untuk menghentikan pekerjaannya?”

Rara Anteng kembali berpikir keras. Akhirnya ia memutuskan untuk membangunkan seluruh keluarga dan tetangganya. Kaum laki-laki diperintahkan untuk membakar jerami, sedangkan kaum perempuan diperintahkan untuk menumbuk padi. Tak berapa lama kemudian, cahaya kemerah-merahan pun mulai tampak dari arah timur. Suara lesung terdengar bertalu-talu, dan kemudian disusul suara ayam jantan berkokok bersahut-sahutan.

Mengetahui tanda-tanda datangnya waktu pagi tersebut, Kyai Bima tersentak kaget dan segera menghentikan pekerjaannya membuat danau yang sudah hampir selesai itu.

“Sial!” seru raksasa itu dengan kesal, “rupanya sudah pagi. Aku gagal mempersunting Rara Anteng.”

Sebelum Kyai Bima meninggalkan puncak Gunung Bromo, tempurung kelapa yang masih dipegangnya segera dilemparkan. Konon, tempurung kelapa itu jatuh tertelungkup dan kemudian menjelma menjadi sebuah gunung yang dinamakan Gunung Batok. Jalan yang dilalui raksasa itu menjadi sebuah sungai dan hingga kini masih terlihat di hutan pasir Gunung Batok. Sementara danau yang belum selesai dibuatnya itu menjelma menjadi sebuah kawah yang juga masih dapat disaksikan di kawasan Gunung Bromo.

Betapa senangnya hati Rara Anteng dan keluarganya melihat raksasa itu pergi. Tak berapa lama kemudian, Rara Anteng pun menikah dengan Jaka Seger. Setelah itu, Jaka Seger dan Rara Anteng membuka desa baru yang diberi nama Tengger. Nama desa itu diambil dari gabungan akhiran nama Anteng (Teng) dan Seger (Ger). Mereka pun hidup berbahagia.

Setelah bertahun-tahun mereka hidup menikmati manisnya perkawinan dan kehidupan berumah tangga, tiba-tiba muncul keresahan di hati mereka.

“Dinda, sudah bertahun-tahun kita menikah, namun belum juga dikaruniai anak. Padahal kita sudah mencoba berbagai jenis obat,” keluh Jaka Seger kepada istrinya.

“Sabarlah, Kanda! Sebaiknya jangan terlalu cepat berputus asa. Kita serahkan saja semua kepada Tuhan Yang Mahakuasa,” bujuk Rara Anteng.

Baru saja istrinya selesai berucap, tiba-tiba Jaka Seger mengucapkan ikrar, “Jika Tuhan mengaruniai kita 25 anak, aku berjanji akan mempersembahkan seorang di antara mereka untuk sesajen di kawah Gunung Bromo.”

Begitu Jaka Seger selesai mengucapkan ikrar itu, tiba-tiba api muncul dari dalam tanah di kawah Gunung Bromo. Hal itu sebagai pertanda bahwa doa Jaka Seger didengar oleh Tuhan Yang Mahakuasa. Tak berapa lama kemudian, Rara Anteng pun diketahui sedang mengandung. Alangkah bahagianya hati Jaka Seger mendengar kabar baik itu. Sembilan bulan kemudian, buah hati yang telah lama mereka nanti-nantikan pun lahir ke dunia. Kebahagiannya pun semakin sempurna ketika mengetahui bahwa istrinya melahirkan anak kembar. Setahun kemudian, Rara Anteng melahirkan lagi anak kembar. Begitulah seterusnya, setiap tahun Rara Anteng melahirkan anak kembar, ada kembar dua dan ada pula kembar tiga, hingga akhirnya anak mereka berjumlah dua puluh lima orang.

“Terima kasih, Tuhan! Engkau telah mengabulkan doa hamba!” ucap Jaka Seger.

Jaka Seger bersama istrinya merawat dan membesarkan kedua puluh lima anak tersebut hingga tumbuh menjadi dewasa. Jaka Seger sangat menyayangi semua anaknya, terutama putra bungsunya yang bernama Dewa Kusuma. Karena terlena dalam kebahagiaan, ia lupa janjinya kepada Tuhan. Suatu malam, Tuhan pun menegurnya melalui mimpi.

“Mana janjimu, wahai Jaka Seger! Serahkanlah salah seorang putramu ke kawah Gunung Bromo!” seru suara itu dalam mimpi Jaka Seger.

Jaka Seger langsung tersentak kaget saat tersadar dari mimpinya.

“Ya, Tuhan! Aku telah lupa pada janjiku,” ucap Jaka Seger, “Aduh, bagaimana ini? Siapa di antara putra-putriku yang harus kupersembahkan, padahal aku sangat menyayangi mereka semua?”

Akhirnya, Jaka Seger bersama istrinya mengumpulkan seluruh putra-putrinya dalam sebuah pertemuan keluarga. Jaka Seger kemudian menceritakan perihal nazarnya itu kepada mereka. Wajah mereka pun serempak berubah menjadi pucat pasi. Apalagi ketika dimintai kesediaan salah seorang dari mereka untuk dijadikan persembahan.

“Ampun, Ayah! Ananda tidak mau menjadi persembahan di kawah itu. Ananda tidak mau mati muda,” sahut anak sulungnya keberatan.

“Dengarlah, wahai putra-putriku! Jika Ayahanda tidak menunaikan nazar ini, maka desa ini dan seluruh isinya akan binasa,” jelas Jaka Seger.

Dengan sigap, Dewa Kusuma langsung menanggapi penjelasan ayahandanya.

“Ampun, Ayah! Jika itu memang sudah menjadi nazar Ayah, Ananda bersedia untuk dijadikan persembahan di kawah Gunung Bromo,” kata Dewa Kusuma.

Jaka Seger tersentak kaget. Ia tidak pernah mengira sebelumnya jika putra bungsunyalah yang mempunyai keberanian dan kerelaan untuk dijadikan persembahan.

“Apakah kamu yakin dengan ucapanmu itu, hai Dewa Kusuma?” tanya ayahnya.

“Iya, Ayah! Ananda rela berkorban demi menyelamatkan dusun ini dan seluruh isinya,” jawab Dewa Kusuma, “tapi, Ananda mempunyai satu permintaan.”

“Apakah permintaanmu, Putraku?” tanya ayahnya.

Dewa Kusuma pun menyampaikan permintaannya kepada Ayah, Ibu, dan saudara-saudaranya agar dirinya diceburkan ke dalam kawah itu pada tanggal 14 bulan Kasada (penanggalan Jawa). Ia juga meminta agar setiap tahun pada bulan dan tanggal tersebut diberi sesajen berupa hasil bumi dan ternak yang dihasilkan oleh ke-24 saudaranya. Permintaan Dewa Kusuma pun diterima oleh seluruh anggota keluarganya.

Pada tanggal 14 bulan Kasada, Dewa Kusuma pun diceburkan ke kawah Gunung Bromo dengan diiringi isak tangis oleh seluruh keluarganya. Nazar Jaka Seger pun terlaksana sehingga dusun itu atau kini dikenal Desa Tengger terhindar dari bencana.

Cerita Jaka Seger dan Rara Anteng dari daerah Jawa Timur. Hingga kini, kawah yang memiliki garis tengah lebih kurang 800 meter (utara-selatan) dan 600 meter (timur-barat) ini telah menjadi obyek wisata menarik di kawasan Gunung Bromo. Untuk mengenang dan menghormati pesan Dewa Kusuma, masyarakat suku Tengger melaksanakan upacara persembahan sesaji ke kawah Gunung Bromo yang dikenal dengan istilah upacara Yadnya Kasada. Upacara yang juga merupakan daya tarik wisata ini dilaksanakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama, yaitu sekitar tanggal 14 – 15 di bulan Kasada (kepuluh) menurut penanggalan Jawa.

Pesen moral yang terkandung dalam cerita di atas adalah sifat rela berkorban demi kebahagiaan kedua orang tua dan demi keselamatan masyarakat umum. Sifat ini tergambar pada sifat dan perilaku Dewa Kusuma yang rela mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan keluarga dan seluruh penduduk Desa Tengger dari kebinasaan.

***
Eko cukup lama main wayangnya dan akhirnya selesai. Eko telah menjelaskan dengan baik cerita yang ia ceritakan. Budi memuji permainan wayang Eko dan ceritanya begitu. Eko menaruh wayang di kursi kosong lah. Eko dan Budi melanjutkan acara main catur dengan baik.

Monday, June 20, 2022

TIMUN EMAS


Budi dan Eko duduk depan rumah Budi, ya sambil menikmati minum kopi dan juga makan gorengan lah.

"Ada sebuah kata-kata yang jadi pikiran ku?" kata Budi.

"Kata-kata yang menggangu pikiran Budi. Cerita dong Budi, ya mungkin aku bisa mengurangi beban pikiran Budi!" kata Eko.

"Ada seorang pemuda. Ya lulusan sarjana S1. Pemuda itu menggeletakkan ijazah S1. Karena kebanyakkan orang itu, ya menggunakan ijazah untuk melamar kerjaan di pemerintahan atau swasta, termasuk kerjaan jadi staf di Universitas atau dosen gitu. Ya kalau dosen tuh pemuda yang pernah di ajarkan pada masa mahasiswa, ya kecewalah.....ijazah di geletakkan begitu saja, ya kenangan gitu. Pemuda itu berkata "Hidup ini butuh pembuktian. Ijazah kah apakah ilmu kah yang membuat manusia jadi sukses?" kata Budi.

"Oooooo kata-kata itu toh. Apakah ijazah apakah ilmu, ya membuat manusia sukses? Jawabanya Abdul!" kata Eko.

"Kok...Abdul, ya Eko?" kata Budi.

"Abdul itu membuktikan ilmunya, ya tidak menggunakan ijazahnya. Ya ijazah SMA punya Abdul di geletakkan saja, ya kenangan gitu. Abdul kan membangun usahanya, ya menggunakan ilmu. Jadi pembuktiannya manusia sukses itu.....Ilmu. Abdul itu, ya pinter," kata Eko.

"Iya juga ya. Ada kesamaan cerita cuma status pendidikan saja. Pemuda itu, ya membangun usaha dengan ilmunya," kata Budi.

"Pemuda itu membangun usahanya. Kalau berhasil dengan baik, ya sukses. Jadi dari usahanya itu menyerap tenaga manusia untuk di pekerjaan. Yang di cari pemerintahan orang-orang pinter yang membatu pemerintahan, ya mengurangi data pengangguran lah. Membangun usaha itu lah salah satu caranya," kata Eko.

"Omongan Eko benerlah. Sebenarnya cerita yang kita obrolin tentang pemuda, ya di ambil dari artikel yang aku baca tentang orang-orang sukses. Ya pemuda itu membangun usaha dengan ilmu. Dosennya, tahu kebenaran tentang mahasiswa yang pernah di ajarkannya, ya berhasil menjadi orang sukses. Dosennya bangga karena pembuktian pemuda itu, ya ilmu jawaban yang benar," kata Budi.

"Emmmm. Jadi cuma sekedar bahan obrolan saja kata-kata yang jadi beban di pikirkan Budi?" kata Eko.

"Ya iya lah Eko. Sekedar bahan obrolan. Kita kan cuma lulusan SMA, ya masih harus banyak belajar dari orang-orang sukses gitu," kata Budi.

"Aku paham omongan Budi," kata Eko.

"Kalau begitu aku mau cerita, ya pake wayang terbuat kardus bekas,  ya kreatif. Cerita rakyat!" kata Budi.

"Ya aku jadi penonton yang baik!" kata Eko.

Isi cerita yang ceritakan Budi :

Timun Mas merupakan cerita rakyat dari Provinsi Jawa Tengah. Mengisahkan tentang kehidupan Mbok Sirni beserta anak angkatnya, Timun Mas, dalam melepaskan diri dari raksasa. 

Alkisah, Mbok Sirni telah lama mendambakan seorang anak. Namun, hingga suaminya meninggal dunia, ia belum juga dikaruniai seorang anak. Meskipun kini Mbok Sirni telah tua, namun keinginannya untuk memiliki seorang anak tidaklah pudar. Ia berharap ada seseorang baik hati bersedia memberikan anak padanya untuk ia rawat. Suatu hari, datanglah seorang raksasa mendatangi Mbok Sirni. 

Tentu saja Mbok Sirni sangat ketakutan. Ia meminta si raksasa untuk tidak memakannnya. 

“Tuan raksasa, jangan makan hamba. Tubuh hamba kurus lagi sudah tua, rasanya pahit bila dimakan.” kata Mbok Sirni gemetaran.

“Memangnya siapa mau memakanmu hai ibu tua. Aku datang kemari untuk memberikan bibit-bibit mentimun. Tanamlah biji-bijian mentimun ini. Engkau akan mendapatkan apa yang sudah lama engkau inginkan. Sebagai ungkapan terima kasihmu nanti atas pemberianku, engkau harus membagi dua hasilnya denganku.” kata si raksasa.

Meskipun merasa kebingungan dengan pemberian raksasa, tapi Mbok Sirni menyanggupi untuk membagi dua hasilnya. Ia lantas menanam bibit-bibit mentimun itu di halaman rumahnya. Hanya berselang beberapa hari kemudian bibit tersebut telah tumbuh menjadi pohon mentimun juga berbuah. Diantara buah mentimun tersebut, ada satu mentimun berukuran besar berwana keemasan.

Mbok Sirni kemudian membelah buah mentimun sangat besar itu. Alangkah terkejutnya Mbok Sirni mengetahui bahwa di dalam mentimun terdapat seorang bayi perempuan sangat cantik jelita. Ia segera mengambilnya, memandikannya kemudian memberikannya pakaian. Mbok Sirni sangat bahagia karena keinginannya mendapatkan buah hati telah terkabul. Ia memberinya nama Timun Mas.

Waktu berlalu, Timun Mas telah tumbuh menjadi seorang anak gadis rajin suka membantu dan menyayangi ibunya. Mbok Sirni merawatnya baik-baik juga sangat menyayanginya. Suatu ketika Mbok Sirni pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar. Di tengah hutan Ia bertemu dengan raksasa yang dulu memberinya bibit timun mas. Sang Raksasa meminta Mbok Sirni menepati janjinya untuk membagi dua hasil tanaman bibit mentimun yang ia berikan. 

Mbok Sirni terlihat ketakutan. Mbok Sirni merasa tidak rela jika harus menyerahkan Timun Mas pada raksasa. Ia segera meminta waktu pada raksasa. Sang raksasa pun menyanggupinya. Si raksasa memberi waktu Mbok Sirni untuk menyerahkan Timun Mas setelah Ia berusia 17 tahun. Mbok Sirni segera pulang ke rumahnya. Ia masih punya waktu beberapa tahun untuk memikirkan cara menghadapi raksasa. 

Hingga suatu malam, Mbok Sirni bermimpi sangat aneh, dimana Ia mendapatkan perintah agar menemui pertapa sakti di Gunung Gundul. Keesokan harinya ia segera pergi ke Gunung Gundul untuk menemui pertapa sakti. Setelah bersusah payah mendaki Gunung Gundul, akhirnya Mbok Sirni berhasil menemui pertapa sakti tersebut. Pada pertapa sakti, Mbok Sirni menceritakan masalahnya. 

Mbok Sirni juga menceritakan mimpinya bahwa Ia harus menemui pertapa sakti untuk meminta tolong. Sang pertapa sakti bersedia membantu Mbok Sirni. Ia memberi Mbok Sirni, satu biji tanaman mentimun, jarum, sebutir garam, dan sepotong terasi. 

“Berikan benda-benda ini semua pada anakmu. Katakan padanya, jika Ia dikejar raksasa, maka lemparkanlah benda-benda tersebut secara berurutan, niscaya Ia akan selamat dari kejaran raksasa.” kata pertapa sakti pada Mbok Sirni. 

Mbok Sirni mengucapkan terima kasih, kemudian segera mohon diri. Sesampainya di rumah, Mbok Sirni kemudian menyerahkan barang-barang pemberian pertapa sakti pada Timun Mas. Mbok Sirni memberitahu Timun Mas, untuk melemparkannya secara berurutan jika kelak datang raksasa. Beberapa tahun kemudian, usia Timun Mas telah mencapai umur 17 tahun. Mbok Sirni merasa was-was karena teringat akan janjinya pada raksasa untuk menyerahkan Timun Mas. 

Ia tidak rela Timun Mas yang Ia rawat sejak kecil dimakan oleh raksasa. Pada suatu hari cerah, Mbok Sirni dan Timun Mas tengah bekerja di kebun. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh langkah kaki. Mbok Sirni sadar bahwa raksasa datang untuk mengambil Timun Mas. Mbok Sirni segera meminta Timun Mas untuk melarikan diri. Mbok Sirni mengingatkannya untuk melemparkan barang-barang pemberian pertapa sakti. 

“Cepat larilah kau nak! Raksasa datang kemari untuk memakanmu. Jangan lupa untuk melemparkan barang-barang pemberian pertapa sakti.” kata Mbok Sirni.

“Baik Mbok, aku akan lari sekarang.” kata Timun Mas seraya berlari ke arah hutan.

Di luar rumah, raksasa berteriak-teriak memanggil Mbok Sirni. 

“Hai nenek tua! Mana janjimu? Serahkan anakmu sekarang. Aku sudah tidak sabar untuk memakannya.” teriak raksasa pada Mbok Sirni.

Mbok Sirni segera keluar rumah kemudian berkata, “Hai raksasa, anakku telah pergi ke hutan menuju tempat tinggalmu. Ia sudah siap untuk menjadi santapanmu.”

Mata raksasa segera melihat ke hutan di sekeliling rumah Mbok Sirni. Ia melihat Timun Mas tengah berlari kencang. Tidak menunggu lama, raksasa segera mengejar Timun Mas. Meskipun jarak mereka jauh, namun raksasa mampu mendekati Timun Mas karena langkah kakinya sangat lebar. Mengetahui raksasa telah berada dekat dengannya, Timun Mas segera melemparkan sebutir biji mentimun ke arah raksasa. 

Kejadian aneh terjadi. Bibit mentimun itu segera tumbuh menjadi pohon mentimun sangat lebat lagi berbuah banyak. Raksasa kemudian mengulurkan tangannya mengambil buah-buah mentimun lantas memakannya sampai habis. Namun perut raksasa masih merasa lapar, Ia kembali mengejar Timun Mas. Timun Mas lalu melemparkan jarum ke arah raksasa. 

Kembali hal aneh terjadi. Jarum tersebut berubah menjadi hutan bambu sangat lebat rapat. Raksasa berusaha melewati hutan bambu tersebut. Kakinya terluka karena tertancap batang bambu tajam. Namun raksasa tidak memperdulikan lukanya. Ia terus mengejar Timun Mas. Timun Mas kemudian melemparkan sebutir garam ke arah raksasa. Segera saja sebutir garam tersebut berubah menjadi lautan sangat luas. 

Raksasa pun terpaksa berenang melewati lautan tersebut. Setelah berhasil menyeberangi lautan, napasnya tersengal-sengal karena sangat kelelahan. Melihat raksasa berhasil menyeberangi lautan, Timun Mas segera melemparkan sepotong terasi ke arah raksasa. Sepotong terasi itu kemudian berubah menjadi lumpur hisap sangat luas. Raksasa terhisap oleh lumpur tersebut. 

Ia berusaha keras untuk keluar dari lumpur mematikan tersebut namun apa daya tenaganya sudah habis saat menyeberangi lautan. Si Raksasa akhirnya tenggelam ke dalam lumpur hisap hingga tidak mampu keluar lagi. Timun Mas segera terduduk karena sangat kelelahan. Ia bersyukur karena si raksasa akhirnya bisa dilumpuhkan. Setelah tenaganya terkumpul kembali, Timun Mas pun pulang ke rumahnya menemui Mbok Sirni yang sudah ia anggap sebagai ibu kandungnya.

Mbok Sirni menunggu di rumah dengan sangat cemas. Ia sangat kuatir kalau raksasa berhasil memakan putri kesayangannya. Namun, betapa gembiranya Mbok Sirni melihat kepulangan Timun Mas. Mereka segera berpelukan sambil menangis bahagia. Akhirnya Mbok Sirni dapat hidup bahagia bersama putrinya, Timun Mas, tanpa gangguan dari raksasa.

***

Budi pun cukup lama main wayangnya dan akhirnya selesai juga. Wayang di taruh di kursi kosong. Eko memuji permainan wayang Budi, ya cerita juga sih. Ya keduanya melanjutkan acara dengan main catur lah.

Sunday, June 19, 2022

LUTUNG KASARUNG


Budi duduk di depan rumah sedang membaca koran, ya sambil menikmati minum kopi dan juga makan gorengan lah. Budi membaca berita di koran, ya dari urusan pemerintahan, partai politik, KPU, Olah raga, ya sampai artis yang beritanya ini dan itu. Pokoknya berita di koran, ya ok sip banget beritanya. Sama halnya sipnya berita di Tv gitu. Berarti yang buat berita di koran dan berita di acara Tv, ya orang-orang pinter lah. Sekitar lima belas menit baca koran. Eko dateng ke rumah Budi, ya Eko pun memarkirkan motornya dengan baik di rumah Budi lah. Eko duduk dengan baik bersama Budi. Ya Budi menaruh koran di bawah meja lah.

"Aku ingin pendapat Eko tentang sesuatu!" kata Budi.

"Tentang apa?" kata Eko.

"Orang tua menaruh harapan pada anak laki-lakinya. Karena musibah yang tidak di duga-duga, anak laki-lakinya meninggal dunia. Jadi bagaimana perasaan orang tua itu?" kata Budi.

"Karena aku belum jadi orang tua. Aku memberikan pendapat seperti ini. Ya karena musibah, ya harus menerima musibah itu dengan baik dengan perasaan ikhlas menerima kehilangan anak laki-lakinya yang di harapan pergi duluan untuk tidur selama-lamanya. Takdir," kata Eko.

"Harus bener-benar ikhlas. Takdir. Nama juga kematian. Manusia telah di tentukan umurnya sama Tuhan. Ya tinggal nunggu waktu penetapannya, ya harus meninggalkan dunia ini. Tua muda, ya wajar meninggal. Keputusan Tuhan mutlak," kata Budi.

"Emmmm," kata Eko.

"Kalau urusan cinta. Ya cerita cuma ada seperti ini, ya cowok harus berjuang mendapatkan cewek yang di sukai. Kalau sudah dapet cewek yang di sukai, ya berusaha setia dan menjaga baik cewek itu karena amanah dari orang tua cewek pada cowok sih," kata Budi.

"Membimbing dengan baik cewek yang di sukai. Cowok jadi pemimpin rumah tangga," kata Eko.

Abdul dateng ke rumah Budi, ya memarkirkan dengan baik motor Abdul di rumah Budi. Abdul pun duduk bersama Eko dan Budi.

"Karena Abdul sudah dateng. Jadi aku mau cerita rakyat pake wayang terbuat dari kardus bekas, ya kreatif!" kata Budi.

Budi mengambil wayang di kursi kosong.

"Ya aku jadi penonton yang baik!" kata Eko.

"Aku juga jadi penonton yang baik!" kata Abdul.

Budi memainkan dengan baik wayangnya, ya menceritakan cerita rakyat gitu.

Isi cerita yang di ceritakan Budi dengan wayang yang di mainkan :

Ya Lutung Kasarung adalah sebuah cerita rakyat dari Jawa Barat. Cerita Lutung Kasarung menceritakan legenda masyarakat Sunda tentang perjalanan Pangeran Guruminda dari Kahyangan yang diturunkan ke Bumi dalam wujud seekor lutung yang buruk rupa. Lutung Kasarung sendiri memiliki arti Lutung (sejenis monyet) yang tersesat. Di Bumi, Lutung Kasarung bertemu dengan putri Purbasari dari kerajaan Pasir Batang, yang diasingkan ke tengah hutan dan juga buruk rupa karena terkena sihir saudaranya yang pendengki, Purbararang. 

Alkisah, zaman dahulu ada sebuah kerajaan bernama kerajaan Pasir Batang, di daerah Jawa Barat sekarang. Kerajaan Pasir Batang dipimpin oleh seorang raja bernama Prabu Tapa Agung. Sang Raja bijaksana dan permaisuri memiliki tujuh orang putri yaitu Purbararang, Purbadewata, Purbaendah, Purbakancana, Purbamanik, Purbaleuih, dan si bungsu Purbasari. Putri sulung Prabu Tapa Agung, yaitu Purbararang, memiliki sifat buruk, kasar, sombong, kejam dan sering iri pada siapapun. 

Akibatnya penghuni istana dan juga rakyat Pasir Batang tidak menyukai Purbararang. Prabu Tapa Agung sering menegur putri sulungnya agar merubah sifat buruknya itu tapi Purbararang tidak pernah mengindahkan. Bertolak belakang dengan Si Sulung, putri bungsu yaitu Purbasari memiliki sifat baik, ramah, rendah hati, lembut lagi suka menolong orang lain. Prabu Tapa Agung sangat menyayangi Purbasari, si bungsu. 

Hal tersebut membuat Purbararang merasa iri dengan Purbasari. Setelah sekian lama memimpin kerajaan, tibalah waktunya bagi Prabu Tapa Agung untuk memikirkan pengganti dirinya. Ia memutuskan si bungsu Purbasari pantas menggantikan dirinya memimpin kerajaan Pasir Batang. Raja tidak mau menyerahkan tampuk kekuasaan pada putri sulungnya Purbararang. Karena memiliki sifat buruk, ia dianggap tidak pantas memimpin kerajaan. 

Sang Prabu khawatir, jika Purbararang memimpin kerajaan, maka kedamaian hidup rakyat Pasir Batang akan rusak. Sang Prabu memanggil seluruh putrinya juga seluruh pembesar kerajaan untuk menyerahkan tahta kerajaan Pasir Batang pada putri bungsunya, Purbasari. Prabu Tapa Agung berniat meninggalkan istana kerajaan Pasir Batang untuk memulai kehidupan baru sebagai pertapa.

“Wahai putri-putriku, seperti yang kalian ketahui, Ayahanda kini telah berusia lanjut. Ayahanda sudah tidak sanggup lagi mengurus kerajaan Pasir Batang. Telah tiba saatnya Ayahanda untuk melepaskan tahta kerajaan kepada salah satu dari kalian. Ayahanda mencintai kalian semua, tetapi Ayah pikir hanya ada satu orang yang layak menjadi raja di kerajaan Pasir Batang dan orang itu adalah Purbasari. Ayah harap semua pihak bisa menerima keputusan ini. Selanjutnya Ayah akan meninggalkan istana untuk memulai hidup baru sebagai pertapa.” kata Prabu Tapa Agung.

Purbararang sebagai putri sulung sangat marah terhadap keputusan ayahnya memberikan tampuk kekuasaan bukan pada dirinya, tetapi pada adik bungsunya. 

Sifat buruknya muncul. “Benar-benar keterlaluan! Aku adalah anak tertua sudah seharusnya Aku yang menerima tahta Pasir Batang. Kenapa harus Purbasari! Benar-benar keterlaluan!” kata Purbararang dalam hati. 

Sehari setelah pelantikan Purbasari sebagai Ratu Kerajaan Pasir Batang, Purbararang menghubungi tunangannya Indrajaya. Mereka berdua pergi meminta bantuan nenek sihir jahat untuk mencelakai Purbasari. Setelah bertemu nenek sihir jahat, disampaikanlah maksud kedatangan mereka.

“Nek, berikan kami mantra untuk mencelakai Purbasari agar tahta kerajaan Pasir Batang jatuh ke tanganku. 

Aku putri tertua jadi aku berhak mendapatkannya. Apapun yang Nenek minta pasti Aku beri.” Kata Purbararang pada nenek sihir. Nenek sihir jahat kemudian memberikan bubuk hitam pada mereka berdua. Nenek sihir jahat berpesan agar mereka berdua menyemburkan bubuk hitam tersebut ke seluruh tubuh Purbasari.

“Tuan Putri, taburkanlah bubuk hitam ini ke seluruh tubuh putri Purbasari. Tidak lama lagi tahta kerajaan Pasir Batang akan menjadi milik Tuan Putri.” kata nenek sihir.

Sesampainya di kerajaan, mereka berdua segera mencari kesempatan untuk menyemburkan bubuk hitam kepada Purbasari. Setelah berhasil menyemburkan bubuk hitam, di seluruh tubuh Purbasari termasuk wajahnya, muncullah bercak-bercak hitam sangat mengerikan. Seisi kerajaan tidak ada satupun yang mengetahui bahwa pelakunya adalah Purbararang.

“Oh Dewata, kenapa di tubuhku muncul bercak-bercak hitam. Apakah dosa hamba?” Purbasari menangis.

Purbararang mengatakan bahwa Purbasari telah dikutuk hingga memiliki penyakit mengerikan sehingga tidak pantas menjadi Ratu kerajaan Pasir Batang. Purbasari segera dicopot jabatannya sebagai Ratu Kerajaan Pasir Batang. Purbararang lantas mengambil tahta kerajaan Pasir Batang. Ia segera memerintahkan Uwak Batara Lengser dan para prajurit kerajaan untuk mengasingkan Purbasari ke hutan. Purbararang beralasan agar penyakitnya tidak menular pada orang lain. Sementara Uwak Batara Lengser selaku penasehat kerajaan tak mampu berbuat apa-apa selain menuruti perintah Purbararang.

“Uwak Batara Lengser, bawalah Purbasari ke tengah hutan agar penyakitnya tidak menular pada orang lain.” begitu titah Purbararang sang penguasa baru kerajaan Pasir Batang.

“Baik Ratu. Hamba akan melaksanakan.” jawab Uwak Batara Lengser.

Sementara itu di Kahyangan tengah terjadi kehebohan. Penyebabnya adalah, Pangeran Guruminda enggan menikahi bidadari Kahyangan seperti permintaan Ibunya, Sunan Ambu. Ia hanya mau menikahi gadis yang memiliki kecantikan seperti kecantikan Ibunya. Sunan Ambu memang memiliki kecantikan luar biasa.

“Ibu, Bidadari kahyangan tidak ada yang secantik Ibu. Aku tidak mau menikah dengan bidadari kahyangan. Aku hanya mau menikahi wanita yang memiliki kecantikan seperti Ibu.” kata Pangeran Guruminda.

Sunan Ambu menjelaskan bahwa wanita secantik dirinya hanya ada di dunia manusia. Jika Pangeran Guruminda bersikeras ingin menikahi wanita secantik dirinya, maka syaratnya adalah, Pangeran harus mau turun ke dunia manusia. Ia harus menyamar sebagai seekor lutung. 

“Guruminda anakku. Wanita yang memiliki kecantikan seperti Ibu hanya ada di dunia manusia. Engkau harus mau turun ke bumi sebagai seekor lutung. 

Di dunia manusia namamu adalah Lutung Kasarung. 

Apakah engkau sanggup menjalaninya?” tanya Sunan Ambu pada pangeran Guruminda.

“Aku bersedia Ibu. Yang penting aku bisa menikah dengan wanita idamanku.” Pangeran Guruminda bersedia menjalani syarat menjadi seekor lutung karena penasaran ingin tahu siapakah gerangan gadis di dunia manusia yang memiliki kecantikan secantik Ibunya.

Setelah berubah menjadi seekor lutung, Pangeran Guruminda kemudian pergi melompat ke dunia manusia. Di dunia manusia, berkat kesaktiannya, Lutung Kasarung berhasil mengalahkan semua lutung-lutung. Dalam waktu singkat, Lutung Kasarung diangkat sebagai pemimpin bangsa lutung. Dari cerita-cerita yang ia dengar, Lutung Kasarung akhirnya mengetahui bahwa kerajaan Pasir Batang dipimpin oleh seorang Ratu jahat bernama Purbararang. 

Ia berniat memberikan pelajaran pada Ratu Purbararang. Lutung Kasarung kemudian bersiasat saat mengetahui bahwa Ratu Purbararang hendak melakukan perburuan hewan kurban di hutan. Ia sengaja membiarkan dirinya ditangkap oleh orang suruhan Ratu Purbararang. Singkat cerita, Lutung Kasarung ditangkap oleh orang suruhan Ratu Purbararang kemudian di bawa ke istana kerajaan Pasir Batang.

Di istana kerajaan, saat hendak dijadikan hewan kurban, Lutung Kasarung tiba-tiba mengamuk sejadi-jadinya hingga menimbulkan kerusakan dimana-mana. Para prajurit Pasir Batang gagal melumpuhkannya. Lutung Kasarung menunjukan permusuhan pada kerajaan Pasir Batang. Hanya kepada Uwak Batara Lengser saja ia terlihat menaruh hormat.

Mengetahui Lutung menaruh hormat pada Uwak Batara Lengser, Ratu Purbararang menyuruh Uwak Batara Lengser untuk menangkap Lutung Kasarung. “Uwak Batara Lengser, tangkaplah lutung buas itu, kemudian bawalah ke hutan tempar Purbasari tinggal.” titah Ratu Purbararang.

“Baik Ratu, Hamba laksanakan.” Uwak Batara Lengser kemudian berusaha menangkap Lutung Kasarung. 

Setelah berhasil ditangkap, Uwak Batara lengser kemudian membawa Lutung Kasarung ke hutan tempat Purbasari diasingkan. Purbararang berharap Lutung Kasarung ganas tersebut bisa dimanfaatkan untuk membunuh Purbasari. Sesampainya di hutan, Uwak Batara Lengser berpesan pada Lutung Kasarung bahwa di hutan tersebut ada Putri Purbasari, putri bungsu Prabu Tapa Agung. 

“Lutung, Purbasari adalah putri baik hati. Ia seharusnya menjadi Ratu Kerajaan Pasir Batang. Namun karena kekuatan jahat akhirnya ia diasingkan ke hutan. Tolong jaga beliau baik-baik. Maukah engkau menjaganya hai Lutung sakti?” kata Uwak Batara Lengser.

Lutung Kasarung menganggukkan kepalanya tanda setuju bahwa ia akan menjaga Putri Purbasari. Sejak saat itu Lutung Kasarung menjadi penjaga sekaligus sahabat Putri Purbasari. Kesedihan perlahan-lahan mulai hilang dari wajah Putri Purbasari karena telah memiliki sahabat yang selalu menghibur dan menjaganya. 

Lutung Kasarung juga selalu memenuhi kebutuhan makanan Purbasari. Lutung memerintahkan para lutung bawahannya untuk mencarikan buah-buahan. Seiring waktu rasa sayang timbul diantara keduanya. Putri Purbasari menyayangi Lutung Kasarung begitu pula sebaliknya. Tanpa disadari oleh Putri Purbasari, Lutung Kasarung memohon kepada ibunya di Kahyangan, Sunan Ambu, agar membuatkan Putri Purbasari sebuah taman indah juga tempat untuk mandi. 

Sunan Ambu kemudian mengirimkan para Pujangga Sakti serta Para Bidadari untuk membuat taman. Para bidadari juga membuatkan tempat mandi indah bagi Putri Purbasari. Tempat mandi Purbasari disebut Jamban Salaka. Pancurannya terbuat dari emas murni. Dinding serta lantainya terbuat dari batu pualam. Air untuk mandi berasal dari telaga sangat jernih. Para bidadari juga membuatkan pakaian untuk Purbasari, terbuat dari awan sangat indah.

“Terima kasih Lutung, Engkau membuatkan taman yang sangat indah, tempat mandi dan pakaian-pakaian indah ini untukku. Engkau memang sahabat terbaikku.” kata Purbasari.

Saat Putri Purbasari mencoba mandi di Jamban Salaka, keanehan pun terjadi. Bubuk hitam yang menempel di wajah dan tubuhnya hilang seketika. Lutung Kasarung pun sampai terkesima melihat kecantikan asli Putri Purbasari yang ia anggap secantik ibunya, Sunan Ambu. 

“Duhai Purbasari, engkau benar-benar cantik, secantik ibuku.” kata Lutung dalam hati.

Hilangnya penyakit Purbasari akhirnya terdengar hingga istana. Ratu Purbararang merasa heran, bagaimana caranya penyakit di tubuh Purbasari bisa hilang. Ia khawatir sembuhnya Purbasari akan mengancam tahtanya sebagai Ratu Kerajaan Pasir Batang. 

“Bagaimana bisa penyakit Purbasari sembuh. Siapa yang menyembuhkan penyakitnya? Aku harus segera bertindak karena sembuhnya penyakit Purbasari bisa mengancam tahtaku.” kata Purbararang dalam hati.

“Kakanda Indrajaya, mari kita pergi ke hutan tempat Purbasari untuk melihat keadaan adikku.” 

Ia kemudian mengajak tunangannya Indrajaya menuju hutan untuk menemui Purbasari. Benar saja, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Purbasari telah sembuh. Purbasari telah pulih kembali cantik seperti semula. Khawatir kehilangan tahta, Ratu Purbararang kemudian memberikan Purbasari sebuah tantangan. Ia menantang beradu panjang rambut. 

“Wahai Purbasari, mari kita beradu panjang rambut. Jika rambutku lebih panjang dari rambutmu, maka kepalamu akan dipenggal oleh algojo istana.” kata Purbararang. 

Setelah diadu ternyata rambut Purbararang masih kalah panjang dibandingkan rambut Purbasari. Masih belum mau kalah, Purbararang kemudian mengajukan tantangan kedua. 

“Jika tunanganmu lebih tampan dari tunanganku, maka engkau boleh mengambil tahta sebagai Ratu Kerajaan. Tapi jika tidak, maka kepalamu akan dipenggal oleh algojo kerajaan.” kata Purbararang.

Purbasari merasa kebingungan diberi tantangan tersebut. Semua orang sudah mengetahui ketampanan Indrajaya, tunangan Purbararang. Sementara ia sendiri tidak mempunyai tunangan. 

Karena kebingungan, ia kemudian memegang tangan Lutung Kasarung, sahabat dekatnya. “Lutung Kasarung, engkau selalu menjadi sahabat dan menjagaku. Sudah seharusnya engkau menjadi suamiku.” kata Purbasari. Mendengar ucapan Purbasari, Purbararang tertawa terbahak-bahak. “Jadi Lutung buruk rupa adalah tunanganmu hai Purbasari.?” kata Purbararang sambil terbahak.

“Ya.” Purbasari menjawab singkat sambil menganggukkan kepala.

“Algojo, penggallah kepala Purbasari sekarang!” Purbararang memerintahkan algojo kerajaan untuk memenggal kepala Purbasari, karena tunangan Purbasari hanyalah seekor Lutung buruk rupa, tidak sebanding ketampanan Indrajaya, tunangannya.

Tidak tinggal diam, Lutung Kasarung segera duduk bersila. Matanya terpejam dan mulutnya komat-kamit. Tiba-tiba asap tebal menyelimuti tubuh Lutung Kasarung. Setelah asap tersebut hilang, Lutung Kasarung telah berubah wujud menjadi Pangeran Guruminda sangat tampan. Lebih tampan dari Indrajaya. Semua orang ditempat tersebut terperanjat kaget. Pangeran Guruminda lantas menjelaskan bahwa ia adalah Pangeran Guruminda dari Kahyangan. Ia sengaja turun ke bumi menyamar sebagai Lutung Kasarung. Ia juga mengatakan bahwa sesuai titah Prabu Tapa Agung, Ratu Kerajaan Pasir Batang yang seharusnya adalah Ratu Purbasari.

“Aku adalah Pangeran Guruminda dari kahyangan yang turun ke bumi menyamar menjadi seekor Lutung. Purbasari seharusnya menjadi Ratu Kerajaan Pasir Batang sesuai titah Raja Prabu Tapa Agung. Tapi Purbasari diguna-guna dan diasingkan ke tengah hutan oleh Purbarang.” kata Lutung Kasarung.

Akhirnya Ratu Purbararang mengaku telah kalah dalam taruhan tersebut. Dengan Demikian, Ratu Purbararang harus menyerahkan tahta kerajaan pada Purbasari. Tidak ada pilihan lain bagi Purbararang selain menyerahkan tahta kerajaan pada Purbasari. Ia meminta maaf atas semua kesalahannya.

“Maafkan aku adikku Purbasari, Kakak bersalah telah mengguna-gunai adik.” kata Purbararang terbata-bata.

“Tidak apa-apa Kak. Aku memaafkan semua kesalahan Kakak. Engkau tetaplah kakakku. Adik menyayangimu Kak.” Ratu Purbasari memaafkan kesalahan kakak sulungnya. 

Tidak lama kemudian Ratu Purbasari menikah dengan Pangeran Guruminda. Rakyat Kerajaan Pasir Batang kini hidup dalam damai karena dipimpin oleh Ratu Purbasari adil bijaksana.

*** 

Budi main wayang cukup lama, ya akhirnya selesai juga. Wayang di taruh di kursi kosong. Eko dan Abdul pun memuji permainan wayang Budi, ya begitu juga ceritanya. Ketiganya pun memutuskan main kartu remi lah, ya permainan kartu remi di jalankan dengan baik.

Saturday, June 18, 2022

SANGKURIANG


Budi dan Eko duduk di depan rumah Budi sambil menikmati minum kopi dan juga makan gorengan.

"Jadi cowok itu harus sabar menghadapi cewek yang belum bisa membuka hatinya," kata Budi.

"Ya cewek belum bisa membuka hatinya dengan alasan apa pun? Ya cowok harus bersabar lah. Tidak boleh memaksakan kehendak yang pada akhirnya bisa menyakiti cewek itu," kata Eko.

"Cewek itu kalau suka sama cowok yang di sukainya, ya harapan tinggi  ingin bersama cowok tersebut. Sampai-sampai bisa berubah jadi lebih baik, ya akhlaknya, berhijab," kata Budi.

"Memang ada karakter cewek seperti Budi omongin itu. Namanya juga hidup di masyarakat," kata Eko.

"Kalau begitu aku mau main wayang yang terbuat dari kardus bekas, ya kreatif gitu. Ceritanya cerita rakyat gitu. Cerita Sangkuriang!" kata Budi.

"Silakan Budi bercerita pake wayang terbuat dari kardus bekas, ya kreatif sih. Aku jadi penonton yang baik!" kata Eko.

Budi mengambil wayang di kursi kosong dan di mainkan dengan baik. Ya Eko nonton dengan baik.

Isi cerita yang di mainkan Budi pake wayang yang terbuat dari kardus bekas, ya kreatif :

Menurut cerita rakyat dari Jawa Barat, Sangkuriang, ya legenda  masyarakat di daerah tersebut, asal mula terbentuknya gunung Tangkuban Perahu dikaitkan dengan Legenda Sangkuriang. Dia adalah seorang pemuda yang ingin menikahi ibunya sendiri, Dayang Sumbi. Untuk menggagalkan pernikahan tersebut, Dayang Sumbi mengajukan syarat yang sangat berat yang membuat Sangkuriang marah dan menendang perahu hingga terbalik. Perahu terbalik inilah yang sekarang disebut Gunung Tangkuban Perahu. Ini cerita selengkapnya.

Konon pada zaman dahulu kala, ada seekor babi hutan di tengah kehausan. Di tengah hutan, babi melihat air yang terdapat di daun ubi hutan. Dia meminum air itu karena dia haus. Tanpa disadari, ternyata air tersebut adalah air seni Prabu Sungging Perbangkara. Dia adalah seorang raja yang terkenal dengan kesaktian mandragunanya. Karena meminum air kencing raja sakti, babi hutan itu hamil. Sembilan bulan kemudian dia melahirkan seorang anak manusia perempuan.

Raja Sungging Perbangkara diberitahu oleh rakyatnya bahwa babi hutan melahirkan seorang anak manusia perempuan. Raja Perbangkara segera menyadari bahwa babi itu pasti telah meminum air seninya. Dia segera pergi ke hutan untuk mencari babi hutan. Setelah dia menemukan bayi perempuan itu, dia kemudian membawanya kembali ke istana kerajaan. Raja memberinya nama Dayang Sumbi.

"Ah, ini bayi perempuan yang cantik. Aku akan membawanya ke kerajaan. Saya menamai bayi ini Dayang Sumbi.” kata Raja Sungging.

Waktu berlalu dengan cepat, Dayang Sumbi tumbuh menjadi seorang gadis cantik. Banyak bangsawan, raja, dan pangeran berlomba-lomba untuk menikahi Dayang Sumbi. Namun, semua usul itu ditolak mentah-mentah oleh Dayang Sumbi. Ternyata, penolakan tersebut justru menimbulkan perang antara pria yang melamarnya. Hal ini membuat Dayang Sumbi sedih. Merasa sedih, Dayang Sumbi kemudian meminta izin kepada ayahnya, Raja Sungging Perbangkara untuk diasingkan.

“Ayah, Sumbi tidak berniat menikah. Banyak pria yang melamarku tapi Sumbi menolak. Akibatnya, terjadi banyak peperangan. Sumbi sedih Ayah! Sumbi meminta izin untuk pergi ke pengasingan.” kata Dayang Sumbi.

Raja Sungging Perbangkara akhirnya mengizinkan Dayang Sumbi mengasingkan diri di sebuah bukit. Raja Perbangkara memberikan seekor anjing jantan bernama Tumang untuk menemani Dayang Sumbi.

"Baiklah kalau itu maumu. Ananda dapat mengasingkan diri ke bukit yang sepi. Bawa Tumang untuk menemani hari-harimu.” Raja Sungging mengizinkan.

Selama pengasingannya, Dayang Sumbi mengisi waktu luangnya dengan menenun kain. Suatu ketika, saat menenun, alat tenun jatuh. Dayang Sumbi malas mengambilnya. Dia kemudian mengucapkan pidato tanpa sadar. “Siapa saja yang mau mengambil alat tenun saya, jika dia laki-laki, dia akan menjadi suami saya. Jika dia seorang wanita, aku akan menjadikannya saudara perempuan."

Si Tumang, anjing yang menemaninya turun untuk mengambil peralatan tenun. Si Tumang kemudian memberikannya kepada Dayang Sumbi. Melihat Si Tumang mengambil alat tenunnya, Dayang Sumbi langsung merasa lemas. Dia sangat menyesali pidatonya. Tapi mau tidak mau dia harus menepati janjinya. Dayang Sumbi kemudian menikahi Si Tumang, anjingnya. Tumang bukan anjing biasa. Dia adalah Dewa yang melakukan pelanggaran, dikutuk menjadi anjing, lalu dibuang ke bumi. 

Tak lama setelah menikah, Dayang Sumbi melahirkan seorang putra. Dia memberinya nama Sangkuriang. Seiring berjalannya waktu, Sangkuriang kini telah tumbuh menjadi anak mandraguna yang tampan dan sakti. Sejak kecil, Sangkuriang sudah sering berburu. Setiap pergi berburu, Sangkuriang selalu ditemani oleh Si Tumang. Dayang Sumbi tidak pernah menceritakan bahwa Si Tumang adalah ayah kandungnya.

Suatu hari, Sangkuriang sedang berburu di hutan mencari rusa ditemani oleh Si Tumang. Ibunya ingin memakan hati Kijang. Di tengah hutan, Sangkuriang melihat seekor rusa sedang makan. Ia segera memerintahkan Si Tumang untuk mengejar kijang tersebut. Namun anehnya, Si Tumang kali ini menolak perintah Sangkuriang, padahal biasanya ia sangat patuh. Melihat Tumang hanya diam, Sangkuriang menjadi marah. Sangkuriang mengancam akan membunuh Si Tumang jika tidak menuruti perintahnya. Namun, Si Tumang tetap menolak untuk mengejar kijang tersebut. Sangkuriang kehilangan kesabaran, Dia membunuh Si Tumang. Sangkuriang kemudian mengambil hati anjing malang itu untuk dibawa pulang.

Sesampainya di rumah, Sangkuriang memberikan hati Si Tumang kepada ibunya. Dayang Sumbi lalu memasaknya. Ia lalu memakan jantung Si Tumang. Setelah makan, dia bertanya kepada Sangkuriang tentang Si Tumang. Sangkuriang kemudian mengatakan yang sebenarnya, bahwa hati yang dimakan ibunya adalah hati Si Tumang. Mengetahui hal itu, Dayang Sumbi sangat marah. Ia mengambil gayung batok kelapa, lalu memukulkannya ke kepala Sangkuriang.

Dengan kepala terluka oleh pukulan ibunya, Sangkuriang meninggalkan ibunya, mengembara ke timur. Dia sangat marah pada ibunya. Sangkuriang berpikir bahwa ibunya lebih mencintai Si Tumang daripada dirinya.

Setelah kematian Sangkuriang, Dayang Sumbi menyesal memukul kepala Sangkuriang. Ia merasa bersalah karena tidak memberi tahu Sangkuriang bahwa Si Tumang adalah ayahnya. Dia kemudian naik untuk meminta pengampunan atas kesalahan yang telah dia lakukan kepada para Dewa. Dewa mengetahui tindakan Dayang Sumbi dalam menerima permintaan maaf Dayang Sumbi. Dewa kemudian menganugerahkan kecantikan abadi pada Dayang Sumbi. Dia menjadi berumur panjang tetapi masih terlihat cantik dan awet muda.

Selama bertahun-tahun Sangkuriang telah melakukan perjalanan tanpa tujuan yang jelas. Ia mengembara mengikuti kemanapun langkahnya berada. Tanpa sepengetahuannya, Sangkuriang berjalan mondar-mandir menuju tempat Dayang Sumbi berada. Saat bertemu dengan Dayang Sumbi, Sangkuriang terpesona dengan kecantikannya. Begitu pula dengan Dayang Sumbi yang terpesona dengan ketampanan dan kesaktian Sangkuriang. Keduanya sudah lama tidak bertemu hingga mereka tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya adalah ibu dan anak. Keduanya kemudian berencana untuk menikah.

Sebelum pernikahan, Sangkuriang ingin berburu terlebih dahulu. Sebelum berburu, Dayang Sumbi membantu mengikatkan ikat kepala di kepala Sangkuriang. Saat itulah Dayang Sumbi melihat bekas luka di kepala Sangkuriang. Dayang Sumbi sangat terkejut melihat bekas luka di kepalanya. Dia segera menyadari bahwa pria itu adalah anaknya sendiri. Dayang Sumbi kemudian meminta Sangkuriang untuk membatalkan pernikahan mereka. Dia menjelaskan bahwa mereka berdua adalah ibu dan anak. Namun Sangkuriang tidak memperdulikan penjelasan ibunya. Dia masih ingin menikahi Dayang Sumbi karena dia sangat cantik.

Mengetahui keinginan kuat Sangkuriang untuk menikah dengannya, Dayang Sumbi akhirnya siap untuk menikah. Tapi dia memberikan persyaratan yang sangat berat. "Tidak apa-apa jika kamu benar-benar ingin menikah denganku. Aku rela menjadi istrimu tapi syaratnya sangat berat.”

“Syarat apa yang kamu minta? Saya mampu membelinya." kata Sangkuriang.

"Baiklah. Anda harus membendung sungai Citarum dan kemudian membuat perahu yang sangat besar. Semuanya harus dilakukan dalam satu malam.” kata Dayang Sumbi.

"Baik, aku bisa mengatasinya. Aku akan menyelesaikannya dalam satu malam." Sangkuriang segera bekerja keras untuk menciptakan kondisi Dayang Sumbi. Sangkuriang menebang pohon besar. Dari kayu pohon, Dia membuat perahu besar. Ranting dan ranting pohon yang tidak Dia pakai, dia tumpuk. Tumpukan dahan dan ranting pohon itu kemudian menjelma menjadi Gunung Burangrang. Sedangkan tunggul atau pangkal pohon yang ditebangnya kemudian menjelma menjadi gunung. Sekarang dikenal sebagai Gunung Bukit Tunggul.

Tak lama kemudian, perahu besar permintaan Dayang Sumbi itu selesai dibangun. Kemudian ia pergi ke sungai Citarum untuk membendungnya menjadi sebuah danau. Untuk tugas menghancurkan sungai, dia memanggil makhluk halus yang pernah dia kalahkan untuk membantunya. Mengetahui kemajuan pekerjaan Sangkuriang dengan sangat cepat, Dayang Sumbi menjadi cemas. Dia harus menggagalkan pekerjaan Sangkuriang agar mereka berdua bisa membatalkan pernikahan mereka. Dia kemudian meminta bantuan Tuhan untuk memberinya jalan keluar dari masalahnya.

Dewa memerintahkan Dayang Sumbi untuk membentangkan kain putih yang ditenun agar matahari cepat terbit. Dayang Sumbi segera melakukan perintah Dewa. Tak lama kemudian Matahari terbit. Terbitnya matahari membuat makhluk halus yang sedang bekerja membendung Sungai Citarum membubarkan diri dan meninggalkan pekerjaannya. Sangkuriang sangat marah melihat matahari terbit. Ia tahu Dayang Sumbi telah berbuat curang agar fajar cepat tiba. Sangat marah, Sangkuriang kemudian merusak bendungan Sanghyang Tikoro. Sungai Citarum menyumbat aliran lalu terlempar ke timur yang kemudian berubah menjadi Gunung Manglayang. Air di danau itu surut. Masih belum puas, Sangkuriang kemudian menendang perahu besar yang dibuatnya hingga terlempar terbalik. Perahu besar itu kemudian menjelma menjadi Gunung Tangkuban Perahu.

Kemarahan Sangkuriang masih belum reda. Dia mengejar Dayang Sumbi. Dayang Sumbi lari ketakutan. Ia berlari menuju Gunung Putri. Tubuhnya kemudian menghilang dan berubah menjadi Bunga Jaksi. Sedangkan Sangkuriang terus mengejarnya hingga akhirnya sampai di Ujung Berung. Di Ujung Berung, jasad Sangkuriang kemudian menghilang ke alam gaib.

Gunung Tangkuban Perahu terletak di bagian utara Kota Bandung,  Provinsi Jawa Barat , pada jarak 30 km dari pusat kota. Gunung yang terbentuk sekitar 190.000 tahun yang lalu ini memiliki ketinggian 2.084 meter di atas permukaan laut dengan 13 kawah yang tersebar di area puncaknya. Dinamakan Gunung Tangkuban Perahu karena bentuknya yang menyerupai perahu terbalik. Ahli geologi berpendapat bahwa dataran tinggi Bandung adalah sisa-sisa Danau Besar. Danau tersebut terbentuk akibat letusan gunung berapi purba, yaitu Gunung Sunda, yang membendung aliran sungai Citarum. Gunung Tangkuban Perahu sendiri diyakini sebagai sisa dari Gunung Sunda yang masih aktif.

***

Budi cukup lama main wayangnya dan akhirnya selesai juga. Wayang pun di taruh di kursi kosong. Eko memuji permainan wayang Budi dan ceritanya, ya kaya dalang yang mainkan wayang di acara Tv, ya begitu juga ceritanya bagus. Budi paham omongan Eko dengan baik. Ya acara selanjutnya Eko dan Budi main catur dengan baik lah.

CAMPUR ADUK

BAD NEWS BEARS

Malam hari, ya bulan bersinar dengan baik. Setelah nonton Tv yang acaranya menarik dan bagus...tema cinta di chenel MDTV, ya seperti biasa s...

CAMPUR ADUK